Half Demon
Disclameir : Naruto bukan milik saya tapi punya om-om keche berinisial MK.. ^^v
Pairing : SasuNaru.
Genre : romance/supranatural.
Warning : BL, ga jelas, alur di percepat biar pas #dilemparpiso, kalau ada typo tolong di maklum author ngetiknya setengah molor (kadang2), ff ngawur bikinan orang amatir yang ga pernah lepas dari ke OOC-an chara-nya, buat yang ga suka ama cerita saya di harapkan jangan memaksakan diri untuk membaca silahkan Klik back.
Bag 3 B ending.
Semua yang berada disana terkejut kecuali Naruto yang dalam keadaan tak sadar, Orochimaru dan juga Kabuto tampak tak berkutik di tempatnya mereka berdua tentulah tidak akan mengambil tindakan bodoh bila menerobos api hitam yang mengepung mereka.
''Lepaskan dia,'' Sasuke berujar lirih dengan wajah menunduk membuat kedua matanya tertutup poni rambutnya, ''LEPASKAN KEKASIHKU!'' teriaknya penuh amarah seraya menegakkan kembali wajahnya.
Tak hanya Orochimaru yang tersentak kaget Kakashi dan juga Iruka sangatlah terkejut kala melihat mata Sasuke berubah warna menjadi merah dengan ukiran aneh pada retinanya.
"O-Orochimaru-sama bukankah itu…''
''Kau benar Kabuto, itu adalah mangekyou sharingan, mata yang memiliki kekuatan luar biasa yang hanya dimiliki oleh klan terkuat di konoha, yaitu klan Uchiha.'' Jelas Orochimaru.
''Tapi bukankah klan itu sudah punah sejak berabad-abad yang lalu?"
''Ya, seharusnya memang begitu, tapi kau juga harus ingat Kabuto, tak ada yang tak mungkin di dunia ini, semua bisa terjadi termasuk bangkitnya kembali klan Uchiha karena saat pembantaian klan Uchiha dimasa lampau adalah salah satu dari klan itu sendiri.'' Jawab Orochimaru dengan sorot mata yang tak berhenti memandang takjub mata Sasuke.
''Klan Uchiha memang tidak pernah punah karena aku adalah salah satu keturunannya.'' Sasuke menyela di antara percakapan Orochimaru dan Kabuto.
''Aku sangat terkejut bisa kembali bertemu dengan keturunan Uchiha dan wajahmu mengingatkanku akan seseorang dimasalalu, seseorang yang membuatku memiliki ambisi terbesar, seseorang yang menjadi penghianat klannya sendiri, seseorang yang bernama Uchiha Itachi.'' Orochimaru menyeringai iblis kala mengucapkan sebuah nama yang memang tak asing ditelinga Sasuke.
''Jangan berani kau sebut nama aniki-ku dengan mulut ularmu itu.''
''Aniki, eh? Itukah sebutan untuknya dimasa sekarang. Apa kau merasa yakin dia adalah anikimu tanpa mengetahui hal yang sebenarnya.''
''Apa maksud ucapanmu? Meskipun aku tak begitu akur dengannya dia tetaplah aniki-ku.''
''Dengar bocah Uchiha, asal kau tahu aku dan Itachi hidup dimasa yang sama dimana kakek buyutmu mungkin juga belum lahir kedunia ini, klan Uchiha adalah klan yang selalu menjaga martabat dan menjunjung harga diri yang tinggi sehingga mereka terlihat antisosial dimata klan lain, suatu hari terjadi penyerangan di sebuah desa bernama konoha, kelompok asing itu bernama Bijuu mereka berjumlah sembilan orang, ketua mereka bernama Kurama Kyuubi.''
Flasback beberapa abad yang lalu
"Madara-sama, Bijuu kembali menyerang.'' Ucap seorang dengan pakaian kesatria tiba-tiba menerobos masuk kedalam sebuah ruangan dimana sosok pria tinggi sedang berdiri menghadap pada lambang kipas yang merupakan lambang kekuasaan klannya.
Uchiha Madara itulah namanya sosok dingin dan juga angkuh namun merupakan pimpinan di klan Uchiha, dia adalah sosok paling terkuat hingga di takuti oleh klannya sendiri dan juga klan lainnya.
''Lakukan penyerangan balik dan panggil Itachi menghadap padaku.'' Titahnya pada sang kesatria.
Kesatria itu mengangguk hormat lalu keluar dari ruangan milik Madara, tak lama sosok bernama Itachi datang lalu duduk bersimpuh di hadapan Madara.
''Saya datang menghadap, Madara-sama.'' Ucapnya dengan suara beratnya yang khas.
''Kau tahu para kelompok Bijuu kembali menyerang desa ini, aku ingin kau segera menanganinya.''
"Baiklah perintah anda akan saya laksanakan, saya permisi.'' Ucapnya lalu ia pun menghilang dalam sekejap dari ruangan Madara.
Ditempat para Bijuu menyerang.
''Yaahaaa, aku tidak sabar melenyapkan mereka semua!" teriakan penuh semangat terdengar dari sosok pria yang bernama Shukaku Ichibi, dengan gaya-nya yang urakan dan suka seenaknya sendiri, Shukaku memang tak begitu di sukai oleh teman-temannya namun bukan berarti mereka membencinya karena memang mereka hanya tidak menyukai gaya dan sikapnya saja.
''Berisik Shukaku, kau membuat telingaku hampir tuli karena teriakanmu.'' Sergah seorang wanita cantik dengan bola mata unik yaitu kuning dan hijau berambut biru tua yang berkibar karena tertiup angin, ia bernama Matatabi Nibi.
"Sebaiknya jangan ada pertengkaran dulu disini, ingat apa yang diucapkan kakek Rikudo.'' Si penengah yang selalu kalem berambut putih itu bernama Kokuo Gobi, memiliki mata berwarna hijau dengan lingkaran merah dilingkar matanya, sosok yang sedikit misterius akan gender sebenarnya.
Si biang keributan dan si tukang marah pun akhirnya terdiam dan lebih memilih melanjutkan misinya menghancurkan rumah penduduk sekitarnya.
''Mana Kurama bukankah seharusnya dia ada disini?" tanya simata satu bernama Isobu Sanbi walau dikenal penyendiri namun ia selalu peduli pada rekan-rekan sebangsanya.
''Entahlah, aku tak melihatnya sejak tadi.'' Jawab Matatabi, Kurama Kyuubi adalah pimpinan para Bijuu sosok dengan balutan kimono orange khasnya berambut merah kekuningan serta iris yang sewarna batu ruby, sosok itu seharusnya bersama kelompoknya namun ia malah menghilang entah kemana.
"Huh paling juga dia sedang bersama pacarnya yang keriput itu.'' Celetuk Saiken, para Bijuu menoleh cepat kearah Saiken.
''Khe seorang Kyuubi memiliki pacar, dunia pasti sebentar lagi kiamat.'' Cemooh Shukaku yang memang jika berbicara selalu asal dan tanpa dipikir dulu.
''Kau belum tahu saja Shu, kalau kekasih Kurama itu sangat tampan." Shukaku terdiam kedua tangannya terkepal sangat kuat sesuatu dalam dirinya bergejolak panas, amarah atau cemburu entah yang mana gambaran yang cocok untuk suasana hatinya itu.
''Kita para bijuu bukankah dilarang untuk jatuh cinta, dan lihat apa yang terjadi pada pimpinan kita, dia jatuh cinta pada manusia."
''Tak ada yang mengatakan jika kita dilarang mencintai manusia," Matatabi kembali bersuara, ia pun menjedanya sejenak lalu melanjutkannya, "hanya saja yang menjadi kesalahan Kurama adalah dia jatuh cinta pada pemuda yang berasal dari klan Uchiha, klan terkutuk yang kapan saja bisa memusnahkan kita para bijuu.''
''Matatabi benar, kalau begitu aku akan terbang mencari Kurama. Kalian lanjutkan tugas kalian saja sesuai perintah kakek Rikudo." Comei yang sedari tadi hanya diam dan focus pada tugasnya pun akhirnya bersuara, ia pun berubah kedalam mode silumannya yaitu serangga daun berekor 7 dengan empat sayap yang terkepak dipunggungnya, secepat kilat Comei melesat ketempat dimana kemungkinan pemimpinnya berada.
.
.
"Minggir kriput, aku tak ada urusan denganmu!" teriak Kurama pada sosok Itachi yang menghadang jalannya, apa ada yang sempat berpikir jika jalan yang dilalui Kurama itu sempit dan hanya muat satu orang saja? Jawabannya salah, justru jalan itu sangatlah lebar namun bagaimana bisa seorang Kurama melewati Itachi jika sang keturunan Uchiha menghadangnya dengan menggunakan susano'o pastilah berapa orangpun yang dibawanya tak mampu melewatinya dengan mudah.
''Bisakah kau hentikan ini Kurama, sungguh aku tak ingin berhadapan denganmu apalagi jika harus membunuhmu.'' Ucap Itachi tak menghiraukan teriakan Kurama sesaat yang lalu.
''Khe jangan bermimpi kriput, aku tak peduli siapapun lawanku aku akan tetap menghabisinya sekalipun dia kekasihku sendiri.'' Kurama mengeluarkan kuda-kuda bertarungnya begitu pula dengan Itachi dan sedetik kemudian pertarungan keduanya pun berlangsung.
Kurama yang sedikit kewalahan akhirnya mengubah bentuk dirinya menjadi sosok siluman rubah berekor sembilan kekuatannya pun bertambah sembilan kali lipat dari sebelumnya namun itu tak membuat Itachi gentar pemuda berambut raven panjang itu pun semakin mengerahkan seluruh kemampuannya.
Beberapa menit kemudian Itachi berhasil disudutkan Kurama dengan kemampuan khusus yang dimilikinya Kurama berhasil menghancurkan susano'o Itachi, salah satu ekor Kurama bergerak hendak menghantam tubuh Itachi namun teriakan Comei membuatnya terpaksa mengurungkan niatnya ia pun membiarkan Itachi dan lebih memilih menghampiri rekannya.
''Ada apa kau mencariku, Comei?" tanya Kurama yang sudah kembali kewujud manusianya.
''Kau ini, seharusnya kau mendengarkan ucapan kakek Rikudo jika kita tak boleh berpisah apapun yang terjadi apa kau sudah lupa."
''Aku ingat hanya saja aku ingin bertindak sesuai keinginanku sendiri.''
''Ya ya, terserah padamu, ayo kita kembali tadi saat diperjalanan kesini aku mendapat pesan dari kakek Rikudo, beliau meminta kita untuk mundur.''
''Apa maksudmu?"
''Lakukan saja perintahnya, ketua.''
''Cih.''
.
.
"Kudengar kau dikalahkan monster itu, Itachi?" tanya Madara dengan nada dinginnya yang khas dan tanpa ekspresi dihadapan Itachi.
Pria itu begitu mendengar kabar jika Itachi tak berhasil mengalahkan lawannya langsung memanggil pemuda berambut raven panjang itu kehadapannya, Madara memang tipe orang yang akan secara to the point jika bicara tak peduli jika ucapannya akan menyinggung siapapun yang mendengarnya termasuk Itachi.
''Ya, seperti yang anda lihat saya terluka.'' Jawab Itachi tetap tenang walau ia tak memungkiri jika aura membunuh Madara mulai terasa.
''Sudah kuduga, bahkan kau yang terkenal jeniuspun tak mampu melawan para monster bijuu itu.'' Tukasnya tajam, Itachi tetap menunduk dengan wajah datarnya.
''Saya mohon maaf.'' Katanya tanpa melihat sosok Madara yang menatapnya penuh nafsu membunuh walau tak begitu kentara.
''Kau tahu arti dari kekalahanmu itu, Itachi?"
Itachi bungkam, bola matanya menatap lurus kebawah, ''Kalah berarti gagal dan gagal berarti 'mati'.'' Madara melanjutkan kalimatnya.
''Ya saya mengerti Madara-sama...'' Itachi berdiri dengan tangan yang menggenggam katananya, benda panjang dan tajam itu pun terayun lalu seketika terhunus menancap tepat dijantung pria bernama Madara itu, ''Karena bagi saya kegagalan saya adalah…"
Tubuh dengan kedua mata terbelalak itu tersungkur, ''Kematian anda.''
Itachi masih dengan tatapannya semula memandang tanpa rasa penyesalan tubuh yang kini sedang meregang nyawa, Madara memang dikenal sosok yang kejam dan juga kuat namun ia tak memiliki kekuatan apa-apa jika berhadapan dengan Itachi karena pemuda itu sudah mengetahui dimana titik lemah pria yang merupakan pemimpin klan Uchiha itu.
''Orang lemah seperti anda seharusnya tak perlu memimpin desa ini, karena sebentar lagi desa ini pun akan ikut lenyap bersama anda.'' Tepat diakhir kalimat Itachi, Madara pun menutup matanya.
Itachi keluar dari kediaman Madara ia sudah merencanakan semuanya dari awal, ia memang berniat menghancurkan desa dimana klan Uchiha berada, ia ingin membebaskan kutukan dari para leluhur Uchiha dan satu-satunya cara adalah dengan melenyapkan klannya sendiri.
.
.
Mayat-mayat klan Uchiha bergelimpangan disepanjang jalan, desa itu kini benar-benar sunyi ditambah bekas penyerangan para bijuu sebelumnya, Itachi dengan mata mangekyou sharingannya berdiri diatas tiang yang menjulang tinggi yang berada ditengah desanya.
''Desa ini benar-benar sunyi sekarang.'' Gumam Itachi seraya memperhatikan sekelilingnya.
''Sayangnya masih ada yang terlewatkan Itachi-san." Ucap seseorang dibelakang Itachi, pemuda itu memang menoleh pada sosok berwajah mirip ular sedang berdiri disebuah atap rumah dengan seringai aneh diwajahnya dia adalah Orochimaru, sosok pria dengan hobi anehnya memang sudah tak asing lagi dimata Itachi dan pria itu adalah pria yang sudah membunuh kedua orangtuanya saat ia masih kecil.
''Aku tak berniat membunuhmu Orochimaru, pergilah.''
''Kau memang selalu bersikap seperti itu, apa karena aku bukan tandinganmu?"
''Jika kau sudah tahu jawabannya maka pergilah dari hadapanku.''
''Bagaimana jika kukatakan aku bisa menjadi lawan yang sebanding denganmu jika aku menggunakan tubuh Madara Uchiha, apa kau akan percaya?" walau wajah Itachi datar namun tak menyembunyikan ekspresi terkejut dimatanya.
''Aku harus berterima kasih padamu, berkatmu aku bisa menggunakan tubuh Madara untuk kujadikan bahan penelitianku tapi sepertinya daripada melakukan itu lebih baik aku menggunakannya untuk melawanmu saja.'' Lanjut pria itu diiringi diiringi desisan ular.
Orochimaru menjentikkan jemarinya lalu muncul sebuah peti mati berukuran besar, peti itu terbuka lalu terlihatlah sosok madara yang sudah tak bernyawa dalam peti itu, ada satu hal yang membuat Itachi heran kenapa dengan begitu mudahnya ia bisa membunuh Madara padahal walau kenyataannya ia memang lebih kuat dari pria itu setidaknya Madara pastilah melakukan perlawanan saat itu.
''Aku sudah mengamati tingkah lakumu sejak lama dan aku pun mulai tahu apa yang akan kamu lakukan terhadap klanmu sendiri untuk itulah aku mulai melakukan penelitian dan menciptakan suatu cairan yang disebut racun, yang dimana aku membuatnya tak memiliki rasa maupun bau, racun yang bisa melumpuhkan kekuatan seseorang untuk sementara waktu ketika orang itu meminumnya.''
Itachi dalam hatinya membenarkan apa yang diucapkan Orochimaru karena ia memang sudah muak dengan semua aturan yang ada pada klannya terlebih ia sudah menentukan akan berada dimana nasibnya nanti setelah ini.
''Kau pikir mana mungkin orang sekuat Madara Uchiha bisa dengan mudahnya kau bunuh jika tanpa ada penyebabnya kan, karena sejak awal Madara memang sudah tak berdaya dan ia menyadari itu untuk itulah dia menyuruhmu untuk menghadapi para bijuu yang menyerang.'' Sambung Orochimari masih dengan seringai anehnya.
"Lalu apa tujuanmu sebenarnya Orochimaru? Jika kau menginginkan mata milik klan Uchiha kenapa kau tidak ambil saja mata milik pria dalam peti itu.''
''Awalnya kupikir memang aku menginginkannya tapi ternyata ada satu hal yang jauh lebih kuinginkan daripada sharingan.''
''Apa itu?"
''Kekuatan abadi rubah ekor sembilan, Kurama Kyuubi.''
Kedua bola mata Itachi berubah saat sebuah nama yang sangat dikenalnya diucapkan oleh pria ular itu, ia marah dan tak terima jika kekasihnya kini yang menjadi incaran manusia ular didepannya, ia pun memulai kuda-kuda menyerangnya.
Orochimaru begitu melihat pergerakan Itachi pun mulai menyiapkan kode menyerang dengan jasad Madara yang akan ia hidupkan melalui jurus edo tensei yang diam-diam dipelajarinya, dan selanjutnya pertarungan antara Itachi dan edo tensei Madara pun dimulai.
.
Itachi kewalahan, Madara Uchiha memanglah kuat walau ia kini hanyalah mayat hidup namun kekuatannya masih lah sama ketika sosok itu masih hidup, tapi Itachi tak menyerah begitu saja ia pun mengeluarkan segenap kemampuannya, ditengah pertarungannya dengan Madara versi mayat hidup itu Itachi hampir saja kalah jika saja sosok itu tak muncul dihadapannya.
''Khe, jadi hanya segini kemampuan sorang Uchiha Itachi.'' Ucap sosok itu dengan nada mengejek, Itachi tak membalasnya ia hanya menyunggingkan senyumnya seperti biasa.
''Apa kau sangat mengkhawatirkanku hingga tiba-tiba muncul disini, Kyuu?"
''Ya aku memang mencemaskanmu bodoh, kau itu dasar kriput bodoh, idiot, brengsek.'' Hinanya bertubi-tubi namun Itachi tahu jika dibalik umpatan kasar Kyuubi, Bijuu dalam mode manusia itu sebenarnya sangatlah mengkhawatirkannya.
"Arigatou, ayo kita lawan mereka bersama-sama.'' Katanya membuat Kyuubi mematung dan hal itu pula telah membangkitkan rasa bersalah dalam dirinya karena sudah menyerang Itachi saat ia dan kelompoknya menyerang desa klan Uchiha beberapa waktu yang lalu.
Petarungan sengit pun kembali terjadi, dengan digabungkannya kekuatan Itachi dan Kyuubi, Madara pun berhasil dikalahkan dan tinggalah Orochimaru seorang diri.
''Kalian memang pasangan yang hebat kuakui kalian sangat kuat.''
''Tak perlu banyak bicara, akan kuhabisi kau.'' Kurama maju hendak menyerang Orochimaru yang tampak tenang didepannya, namun belum sempat ia melesat lebih jauh Itachi sudah lebih dulu menyerangnya.
''"Jangan itu percuma saja, sebaiknya kita biarkan dia.'' Cegah Itachi mengundang kerutan didahi Kyuubi.
''Kenapa kau membiarkannya hidup?"
''Aku tidak bilang jika akan membiarkannya hidup.''
''Maksudmu?"
"Karena aku ingin ia merasakan rasanya terbakar hidup-hidup.'' Jelasnya, kedua mata Itachi kembali berubah membentuk mangekyou sharingan disusul dengan darah yang mengalir dari kelopak mata kirinya.
''Amaterasu.''
Orochimaru terbelalak saat mendapat serangan mendadak namun cepat bagai kilat melesat kearahnya, api hitam yang disebut amaterasu itu kini mengelilinginya hingga tak ada celah sedikitpun untuk pria berwajah ular itu lolos.
''Apa ini?" gumamnya ia pun menyentuh api itu lalu tanpa diduga tangannya langsung terbakar.
''Amaterasu adalah api hitam yang tak akan mudah dipadamkan selain itu kehebatan dari amaterasu adalah api itu akan cepat membakar apapun yang menyentuh atau tersentuh olehnya.''
Penjelasan Itachi kontan membuat Orochimaru kalang kabut, pria ular itu pun langsung mematahkan lengan atasnya namun naas api hitam itu kini merambat menuju kakinya.
'Sepertinya ini tidak akan ada habisnya aku harus secepatnya keluar dari tubuh ini.' Batin Orochimaru, mulut pria ular itu terbuka lebar lalu dari dalam mulutnya muncullah ular berbentuk aneh melompat lalu menjauhi area api amaterasu.
''Apa itu wujud aslinya?" tanya Kyuubi.
''Sepertinya memang begitu.''
''Untuk kali ini aku mengaku kalah tapi ingat suatu saat nanti aku pasti akan memiliki kekuatan rubah itu.'' Ucapnya sebelum menghilang tanpa jejak.
Keduanya terdiam menatap kearah depan tepat dimana Orochimaru menghilang, ''Apa dia akan kembali?"
''Entahlah, tapi mahluk sepertinya pasti selalu memiliki segudang kelicikan untuk melaksanakan niatnya itu.''
''Kakek Rikudo berkata padaku jika aku harus berhati-hati terhadapnya karena orang itu memang sudah mengincar kekuatanku sejak lama." Paparnya.
Itachi menarik tangan pria yang dicintainya itu lalu merengkuhnya dalam pelukannya, ''Sampai kapan pun aku akan melindungimu.'' Kyuubi tak menolak ataupun memberontak ia terdiam dan perlahan membalas pelukan itu.
Sementara itu sosok Orochimaru kini tampak mengeram kesal. ''Kali ini kalian mungkin menang tapi aku pastikan suatu saat nanti kalian yang akan kukalahkan dan kau rubah kekuatanmu pasti akan jatuh ketanganku.''
Flashback off
Sasuke antar percaya dan tidak dengan cerita yang baru saja didengarnya namun selama ini ia memang kerap menangkap banyak keanehan dari kakak lelakinya itu.
''Aku ingin bertanya padamu Uchiha, sejak kapan kau mewarisi sharingan?"
''Sejak aku kehilangan kekasihku untuk yang pertama kalinya.'' Jawab Sasuke, banyak hal yang dilaluinya selama ini untuk bisa menemukan sebuah informasi tentang kekasihnya dan juga keluarganya membuatnya hampir putus asa dan terkadang ia pun merasa amarahnya selalu tersulut secara tiba-tiba jika saja usahanya untuk menemukan Naruto tak membuahkan hasil dan saat itulah keanehan pada matanya mulai muncul.
"Jadi kau benar-benar mencintai setengah siluman ini ya.''
''Jangan menyebutnya setengah siluman, kekasihku adalah manusia.''
''Tapi kenyataannya memang seperti itu, dia sudah bersatu dengan siluman rubah ekor sembilan sejak usianya 12 tahun, apa kau sama sekali tak tahu tentang itu?"
''Ya, aku memang tak tahu, tapi aku tetap akan mengambilnya darimu manusia ular." Sasuke bergerak cepat kearah Orochimaru berada saat ia akan menyerang seberkas cahaya berwarna putih melesat kearahnya, pandangan matanya berubah silau sehingga membuatnya harus mengucek kelopak matanya agar cahaya putih itu tak terlalu menyilaukan pandangannya.
Sasuke terkejut tempat dimana ia berdiri saat ini bukanlah hutan dimana ia dan manusia ular bernama Orochimaru itu hendak bertarung.
''Dimana ini?"
''Kau berada didimensi kami Sasuke.'' Ucap sebuah suara yang sangat dikenal olehnya, Sasuke berbalik dilihatnya dua orang yang salah satunya sangat dikenal olehnya selama ini.
''Aniki?"
''Hahaha maaf Sasuke, sebenarnya aku bukanlah kakakmu.''
''Apa maksudmu?"
''Ya, selama ini aku berbohong jika aku adalah kakakmu, keluargamu hanya memiliki anak tunggal yaitu kau sedangkan aku hanya memanipulasi semuanya."
Penjelasan Itachi membuat Sasuke menganga tak percaya, jadi benar apa yang dikatakan pria ular itu.
''Kau sebenarnya adalah reinkarnasi ku, karena itulah kekuatanku menurun padamu.''
''Lalu apa tujuanmu menarikku kealam ini?"
"Karena aku hanya ingin menyampaikan sebuah pesan padamu, Sasuke kau harus tahu jika selama ini aku hidup karena memenuhi janjiku pada sosok disampingku."
''Siapa dia?" tanya Sasuke dengan mata menyipit, sosok disamping Itachi sama sekali tak mengeluarkan suara namun sorot mata tajamnya mengingatkannya pada sosok kekasihnya.
''Dia adalah Kyuubi, kekasihku. Dan aku hidup karena dia hidup." Sungguh penjelasan yang ambigu dan bertele-tele.
''Sebaiknya kau katakan apa inti dari kalimatmu itu baka aniki." Sasuke yang mulai merasa jengkel akhirnya meninggikan suaranya.
''Seperti yang kau dengar dari Orochimaru, jika Naruto adalah setengah siluman dia memiliki kekuatan dari siluman rubah ekor sembilan, dan kekasihku inilah yang mentransfer kekuatannya pada Naruto hingga pemuda itupun harus menjadi sebagian dari diri Kyuubi.''
''Aku mengerti jadi intinya Naruto sudah bukan manusia lagi sepenuhnya lalu kau menyeretku kemari untuk menjelaskan semuanya agar aku tak menjauhinya begitu.''
''Ya kau benar.''
''Lalu bagaimana kau bisa hidup sampai sekarang mengingat kau itu sebenarnya berada jauh berabad-abad yang lalu?"
"Itu berkat kekuatan Kyuubi, ia adalah rubah yang memiliki kekuatan untuk tetap membuatnya awet muda dan hidup sekian ratusan tahun, dan aku pun menerima kekuatan itu hingga kau lahir dan tumbuh, namun kekuatan itu tak bertahan lama karena ada efek sampingnya kekuatan Kyuubi akan melemah tepat saat purnama kesembilan untuk itulah ia memerlukan tumbal untuk tetap membuatku bertahan hidup, banyak hal pahit yang kami alami terutama para warga yang mengetahui keberadaan Kyuubi mereka selalu memburu kami hingga suatu hari sebuah desa mengalami masa krisis dan saat itulah kami memanfaatkan keadaan itu hingga kami tak perlu merasa kesulitan mencari tumbal anak berusia sembilan tahun.''
"Ada seorang anak kecil datang padaku lalu meminta pertolongan bagi desanya, dan aku memberikan sebuah jalan dengan syarat jika mereka harus menyerahkan anak laki-laki berusia sembilan tahun sebagai tumbalnya tepat saat malam purnama kesembilan, dan semuanya berlanjut hingga saat bocah bernama Naruto itu datang sebagai tumbal untuk menggantikan adiknya, saat itulah aku mulai merasa lelah dengan apa yang kulakukan selama ini.'' Kyuubi yang semula hanya diam saja ikut menceritakan kisahnya.
''Jadi kau tak mengambil nyawa Naruto karena dia berusia diatas sembilan tahun dan kau malah memberikan kekuatanmu padanya?"
''Ya kau benar, setelahnya aku menghilang.''
''Lalu akupun ikut menghilang, maaf aku membuat tou-san dan kaa-san khawatir, sampaikan salam sayangku pada mereka.''
Sasuke tak tahu harus bersikap apa ia sedih jika harus kehilangan sosok yang selama ini menjadi panutannya, walau terkadang ia merasa kesal pada sikap Itachi yang selalu mendapat perhatian dan pujian dari sang ayah namun ia tetap menyayangi sosok kakaknya itu.
''Kau adalah reinkarnasiku dan Naruto adalah jelmaan dari Kyuubi dimasa sekarang, kau harus berjanji akan menjaga dan melindunginya sebagaimana yang kulakukan pada Kyuubi, gunakan semua kekuatanmu untuk membunuh pria ular itu, kau mengerti.''
''Aku mengerti aniki, terima kasih.'' Untuk pertama kalinya selama ia hidup Sasuke mengucapkan kalimat terima kasih pada kakaknya.
''Kami pergi dulu.'' Kemudian semuanya kembali kekondisi semula dimana ia berpijak ditanah berumput yang berada didalam hutan.
Ada yang aneh ia seperti merasa berada diantara dua kaki besar dan saat mendongak ia terkejut melihat raksasa berwarna ungu berdiri dengan kokohnya, 'Itu adalah susano'o salah satu kekuatan yang pernah kumiliki dan kau pun kini memilikinya gunakan instingmu untuk membuatnya bergerak lalu seranglah pria ular itu.' Bisik sebuah suara dan ia tahu jika itu merupakan petunjuk dari Itachi.
Sasuke menuruti bisikan itu dan benar saja sesuai dengan apa yang dipikirkannya raksasa itu mulai menyerang kearah depan tepatnya kearah Orochimaru dan Kabuto berada, pedang susano'o terangkat tinggi lalu melesat dan membelah kepungan api amaterasu, Orochimaru yang merasa menemukan celah untuk keluar pun akhirnya bergerak secepat mungkin.
"Ayo kita lari Orochimaru-sa...'' Kabuto memberi pengarahan untuk jalan yang akan dilaluinya untuk melarikan diri namun naas ia lebih dulu dihadang Kakashi.
''Tak akan kubiarkan penjahat sepertimu lolos.'' Ucap sang detective seraya menodongkan sebuah pistol yang entah ia miliki sejak kapan, Iruka pun ikut membantu pria dengan bekas luka melintang dihidungnya itu pun kini sibuk memborgol kedua tangan Kabuto.
''Nah sekarang giliran Sasuke-sama yang mengalahkan pria ular itu.'' Ucap Kakashi.
''Yah, semoga saja ia bisa mengalahkannya lalu menyelamatkan Naruto-sama.'' Timpal Iruka ia menatap cemas tubuh anak yang menjadi tanggung jawabnya itu.
Orochimaru meraung keras karena ekor yang melilit tubuh Naruto kini terputus hingga tubuh Naruto agak terpental jauh, sosok ular itu terlihat geram dari mulutnya kini keluar sebilah pedang yang cukup panjang.
''Kau akan mati ditanganku, Uchiha!" teriaknya tak lama berselang sosok Orochimaru kembali berubah bahkan tingginya kini menyamai susano'o milik Sasuke, ular itu pun melilit susano'o milik Sasuke namun Sasuke tak tinggal diam susano'o miliknya mencengkram leher ular besar itu sementara siular semakin kuat dengan lilitannya.
Sasuke kewalahan tenaganya seolah terkuras tinggal sedikit lagi ia bisa mengalahkan ular itu, 'Apakah ini batasanku.' Batinnya, iris mata hitam Sasuke menyiratkan rasa lelah ia yakin jika sebentar lagi akan ambruk dan benar saja tubuhnya hampir saj limbung jika tak ditahan oleh sesuatu, ya sebuah tangan dengan cahaya keemasan membantu keseimbangan Sasuke.
''Naruto..." lirihnya pelan, sosok kekasinya kini berdiri disampingnya dengan keadaan berbeda.
"Aku akan membantumu Sasuke, maaf karena sudah melibatkanmu.'' Ucapnya dengan senyum manis yang terpatri dibibirnya, senyum yang untuk pertama kali dilihat oleh Sasuke sejak pertama kali mereka bertemu.
''Sudah menjadi tugasku untuk melindungimu.''
''Ya untuk itulah aku akan membantu, ayo kita lawan bersama-sama.'' Mengangguk, ia seolah menemukan semangat baru.
Tubuh Naruto kini berubah menjadi mode bijuu lalu dengan gabungan kekuatan dari Sasuke ia mampu bergabung dengan susano'o milik Sasuke akhirnya lilitan ular besar itu melonggar dengan kibasan ekor sembilan Naruto ular itu berhasil dilemparkan pada jarak yang lumayan jauh, gabungan susano'o bijuu itu kembali mengayunkan seraya melesat cepat kearah ular besar itu lalu membelahnya menjadi dua disusul tembakan bola bijuu yang benar-benar melenyapkan tubuh ular besar itu hingga berkeping-keping.
Sepasang kekasih itu kini sudah kembali dalam keadaan semula, keduanya saling melempar senyum lalu berpelukan.
''Kau hebat Sasuke.'' Puji Naruto.
''Tidak, aku hampir saja kalah jika bukan kau yang membantu, aku mencintaimu Naruto."
"Aku..juga mencintaimu Sasuke, maaf atas sikapku tadi."
"Aku sudah tahu semuanya, untuk itu jangan khawatirkan hal itu lagi.'' Naruto mengangguk dipelukan kekasihnya, Sasuke yang melihat kearah depan tampak terkejut sekilas lalu tersenyum penuh arti, didepan sana ia melihat sosok Itachi dan Kyuubi tengah melambaikan tangan padanya lalu perlahan menghilang bersamaan dengan angin sore yang berhembus.
'Arigatou aniki dan juga kekasihmu, berkat kalian kami bisa melewati ini semua.' Batinnya.
''Naruto-sama anda baik-baik sajakan, apa ada yang terluka?'' tanya Iruka, wajahnya terlihat panik.
''Aku baik-baik saja sensei.''
"Syukurlah, ayo kita pulang. Apa anda ingin ikut?" tanya Iruka pada Sasuke.
''Ya, aku sekalian ingin bertemu dengan paman dan bibi juga Deidara.'' Ujarnya mereka bertiga pun berjalan menuju rumah kecil didepan sana, sementara itu Kakashi masih sibuk mengurus Kabuto ia sengaja tak ikut karena menunggu para polisi datang untuk membawa Kabuto kerumah tahanan.
.
.
"Lama tak berjumpa Sasuke-kun, bagaimana kabarmu?" tanya Kushina seraya menaruh secangkir air diatas meja tepat didepan Sasuke, wanita itu kemudian duduk disamping suaminya.
''Aku baik-baik saja bibi, bagaimana kabar kalian selama ini?"
''Kami cukup senang tinggal disini.'' Jawab Minato.
''Ngomong-ngomong darimana kamu bisa datang ketempat ini?" tanya Deidara yang juga ikut berkumpul disana.
''Tentu saja aku memiliki informan yang bisa dipercaya.'' Jawab Sasuke matanya mengerling sekilas pada Kakashi yang berada disudut lain bersama guru private Naruto, sepertinya pria bermasker itu sedang sibuk merayu guru private itu.
''huh dasar Uchiha menyebalkan.'' Gerutu Deidara, Sasuke sama sekali tak tersinggung walau mendengarnya.
''Paman , bibi, bolehkah jika saya meminta restu dari kalian?"
Semuanya menatap aneh pada Sasuke kecuali Naruto, ia hanya diam saja sambil mengamati ekspresi keluarganya –kembali kemode awalnya.
"Kau ingin meminta restu untuk apa, Sasuke-kun?"
"Saya ingin melamar Naru-nii untuk menjadi is-suami saya.'' Jawabnya, pasangan suami-istri didepannya terkejut bukan main sementara Deidara hanya bersikap biasa saja karena ia memang sudah tahu tentang perasaan Sasuke pada anikinya.
''Kau tahu apa yang sedang kau ucapkan anak muda?" tanya Minato tajam, ia sebenarnya tak mempermasalahkan soal siapa yang akan mejadi pasangan hidup anaknya namun ia hanya ingin melihat apakah Sasuke benar-benar tulus saat mengucapkannya.
''Saya tahu dan sangat mengerti paman, saya sudah mencintai Naru-nii sejak masih anak-anak dulu, awalnya saya pikir mungkin ini hanya perasaan biasa namun setelah semakin lama saya tumbuh perasaan ini pun semakin terasa, dan saya sangat terpuruk saat tahu jika kalian pergi dari konoha padahal saya berniat melamarnya ketika saya lulus SMP.'' Tuturnya panjang lebar, Minato terdiam memikirkan setiap perkataan Sasuke, pemuda itu terlihat serius dan tidak main-main dengan ucapannya.
Tak ada yang berani bersuara untuk menyela dua orang yang terlihat sedang dalam pembicaraan serius itu, Deidara masih diam sedangkan Kushina menatap was-was kearah suaminya takut jika suaminya tiba-tiba mengamuk, sedangkan pasangan KakaIru ah~ sudah lupakan mereka karena mereka sedang berada didunia milik berduanya.
''Apa jaminannya jika semua ucapanmu itu dusta?"
''Saya bersedia paman hukum seberat-beratnya lalu menghilang dari kehidupan Naru-nii selamanya jika itu memang sampai terjadi.''
Minato beranjak dari tempatnya, ia berbalik lalu melangkah beberapa langkah, kepalanya menoleh dengan sudut mata yang mengarah pada Sasuke, ''Aku memberimu restu, tapi kau harus ingat dengan apa yang kau ucapkan anak muda.'' Minato pun melanjutkan langkahnya, sejujurnya pria itu merasa lega dan berharap Naruto hidup bahagia bersama pasangan hidupnya yaitu Sasuke.
Kushina menangkup kedua tangannya didada, ia merasa lega karena suaminya mau menerima Sasuke sebagai menantunya, sama halnya dengan anak bungsunya Kushina dari awal sudah tahu tentang perasaan Sasuke pada anak sulungnya.
''Selamat ya aniki, Sasuke, sebentar lagi kalian akan menjadi pasangan. Dan ingat apa yang dikatakan Tou-san padamu Sasuke.
"Naru-chan, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, kaa-san hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Sasuke-kun jaga Naru-chan kami ya.''
"Pasti bibi, aku akan menjaga Naruto dengan baik, aku juga akan menghubungi tou-san dan kaa-san di Ame untuk membicarakan hal ini.''
''Tentu, kami semua mengharapkan kedatangan orangtuamu juga.''
''Uhm, soal pernikahan kami, aku ingin memakai kimono.'' Naruto ikut bersuara.
''Ya untuk hal itu kuserahkan padamu.'' Ucap Sasuke yang kini beralih menatap Naruto.
.
.
Sasuke dan Naruto berdiri berdampingan diatas sebuah bukit yang tepat mengarah pada tata surya didepannya, matahari akan tenggelam sebentar lagi dan keduanya tak akan menyia-nyiakan moment itu.
''Akhirnya setelah banyak hal yang kulalui aku bisa secepatnya memilikimu.'' Ucap Sasuke, Naruto menoleh kearahnya dengan cepat.
''Aku..juga begitu.''
''Kupikir paman tak akan menyetujui kita, kau lihat wajah sangarnya, aku bahkan hampir kehabisan nafas.'' Kekeh Sasuke.
''Ya, tou-san hanya terlalu mencemaskanku.'' Ujar Naruto pelan.
"Hn, aku tahu karena itu aku sungguh-sungguh dengan ucapanku karena jika aku melakukan kesalahan aku tak akan bisa melihatmu lagi dan aku tak inginkan hal itu.''
''Aku akan selalu berada disisimu, Sasuke."
''Begitu juga denganku.''
Dan diiringi matahari yang tenggelam awal untuk kehidupan yang baru untuk keduanya pun akan dimulai dengan sesuatu yang baru dihari esoknya.
The End
Akhirnya setelah sekian lama ff ini bisa finis juga, mohon maaf jika endingnya g jelas kurang memuaskan dan sebagainya, author emang payah klo bikin ending yang keche, buat bagian adegan bertarungnya moga ga pada ilfeel berjamaah ye... dan buat chap terakhir ini author harap kalian mau memberikan kesan terakhir kalian untuk ff aneh ini..
Sekian dan terima kasih, sampai jumpa lagi di ffauthor yang lainnya ya.. byeee..
