Disclaimer:Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger, Theodore Nott/Daphne Greengrass.
Warning: Typo(s). Multichapters. AU-HighSchool. OOC.
Enjoy!
.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19
.
Chapter 4: Dilema
Theo mengucek-ucek matanya dengan tidak percaya. Barusan dia melihat—apa?
Padma Patil tengah berciuman mesra dengan Dean Thomas di dekat kantin—apa?
Theo mengacak rambutnya dengan tidak percaya. Apa yang terjadi kini?
Sekolah ini sekarang penuh gosip. Gosip dia dengan Daphnelah—langsung dia pelototi siapapun yang berani bertanya apapun dengannya—gosip Draco dengan Fleur lah, gosip Ron dengan Lavender, gosip Harry dengan Loony atau siapapun, Theo tidak peduli namanya—dan gosip Padma dengan si Thomas. Yang baru akan dia selidiki kebenarannya ….
Yang baru saja dia temui di sini. Di dekat kantin, saat bel pulang. Entah kenapa hatinya ada seperti lubang menyayat—
"Halo, Nott," sapa Dean girang, menggandeng Padma yang membuang muka. Theo mendengus. Permainan macam apa ini?
"Tidak bersama Greengrass, eh?" tanya Dean, kepalanya celingak-celinguk ke segala arah. Theo ingin sekali menonjoknya sekarang juga. Tangannya sudah mulai terkepal di sampingnya. Tapi masih dia tahan.
"Yuk, Dean, kita pergi saja. Serasa berbicara dengan patung," sindir Padma kelewat sinis, lalu menggandeng Dean lebih erat lagi dan cepat-cepat pergi dari situ.
Sialan, batin Theo. Sialan. Sungguh sialan. Brengsek. Keparat. Theo meninju salah satu tembok yang ada di sebelahnya. Brengsek. Keparat. Sialan. Kata-kata itu diulang Theo terus menerus.
Dulu saat dia jadian sama Padma, dia menyesal tidak pernah menciumnya semesra itu—bahkan terkadang-kadang memikirkan Daphne—what the hell is this.
Dan sekarang, dia sungguh menyesal. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Ya, memang terlambat—
"Hoy, Theo! Dicari ke mana-mana, juga. Hari ini ada ekskul pendalaman bahasa Prancis, tahu?" seru Hermione dari belakang Theo, membuat Theo terkejut dan segera menoleh ke belakang. Benar saja—di sana sudah ada kelima kawannya yang memandangnya dengan tatapan bertanya-tanya.
"Tadi aku lihat si Padma Patil sedang bergandengan dengan Tho—OUCH! Harry! Sakit, tahu!" Ron berjengit kesakitan, mengelus-elus tangannya yang dicubit Harry kelewat kencang. Harry menatapnya tajam.
"Aku sudah tahu," jawab Theo datar, terlalu datar. Lalu tanpa berkata apa-apa, dia melewati mereka berlima dan segera diteriaki Hermione—yang sebelumnya sudah memelototi Ron terlebih dahulu—
"TUNGGU, THEO!"
Harry, Draco, dan Blaise melotot ke arah Ron bersamaan.
"Apa salahku?" tanya Ron dengan polosnya, menatap mereka bertiga bergantian.
"Lupakan," sahut Draco dengan tatapan malas-malasan, lalu berjalan pergi, mau pulang. Hari ini dia tidak ada ekskul futsal, berarti Harry juga—yang sebenarnya disesali Harry karena tidak bisa berbincang banyak dengan Luna Lovegood hari ini. Harry menyusul Draco di belakangnya, hendak pulang juga.
Sekarang tinggal Blaise dan Ron. Ron masih menatapi Blaise dengan bingungnya.
"Blaise, tolong jelaskan—"
"Lupakan," sahut Blaise, lalu berjalan menuju lapangan basket. Ron mendengus. Apa salahnya?
"BLAISE! TUNGGU!"
.
.
Theo menatap aneh pada Hermione. Akhir-akhir ini, Hermione sedikit berubah. Dia tidak tahu, tetapi sepertinya, Hermione agak diam dan tidak secerewet dulu.
Sejak seminggu yang lalu. Sejak Draco mengajak Fleur ke pesta dansa Hogwarts, yang minggu depan diadakannya—
Sebuah pemikiran menghantam Theo.
Hermione—menyukai Dracokah?
Tapi Hermione sudah menjadi kekasih Viktor Krum, hampir seluruh murid-murid tahu, yah, kecuali beberapa adik kelas.
Tapi, semenjak seminggu yang lalu—Hermione benar-benar berubah.
Seperti ada yang ditutup-tutupi.
Maka, ketika Professor Flitwick sedang menghadap papan tulis, Theo memanggil Hermione, tahu kalau Hermione anaknya sangat serius ketika belajar, dia memanggil sedikit kencang, walaupun dia duduk di bangku sebelah Hermione sekalipun.
"Sssstt—Hermione!" bisik Theo. Hermione menoleh, dengan tatapan 'apa?' dan merasa sedikit terganggu karena konsentrasinya dipecahkan—
Theo segera merobek kertas dengan asal, menulis dengan cepat, lalu segera memberikan kepada Hermione.
Hermione mengernyitkan dahi.
Aku perlu bicara padamu setelah ekskul. Jangan mengelak. Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu. Tidak usah balas.
Masih dengan tatapan bingung dan tidak percaya, Hermione menoleh lagi ke arah Theo, tetapi pria itu sibuk mencatat apa yang dibahas Professor Flitwick.
Hermione menjadi resah.
.
.
"Fleur—" desak Cho Chang. Daritadi pertanyaannya belum dijawab oleh temannya yang sangat cantik ini. Mereka sedang istirahat dalam ekskul cheerleadersnya.
Fleur menoleh ke Cho dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa kau sulit sekali menjawab pertanyaanku? Antara dua jawaban, kan? Ya atau tidak," desak Cho lagi, kali ini dengan tatapan memelas.
"Aku tidak mau menjawabnya," sahut Fleur, lalu meneguk air putih dingin yang ada dalam tasnya. Cho menoleh ke arah Fleur dengan tatapan tidak percaya.
"Berarti jawabannya ya," kata Cho. Fleur masih diam. Sampai dia berkata—
"Memangnya kenapa kalau ya? Kenapa kalau tidak?" Fleur menjawab dengan tatapan menantang, mengangkat sebelah alis.
"Kalau ya, berarti memang itu alasanmu menolak laki-laki yang selama tiga tahun ini mengincarmu terus. Tapi kalau tidak—mengapa? Mengapa kau menerima ajakan si Malfoy?"
Ugh. Fleur berjengit kesal. Kenapa sih Cho dilahirkan pintar dan ingin tahu?
"Sekali lagi, Fleur—kau menyukai si Malfoy itu, ya atau tidak?"
"Apa urusanmu? Lagipula, itu hanya pesta dansa, kan?" tanya Fleur, akhirnya, dengan nada ketus dan naik beberapa oktaf. Tetapi Cho tidak peduli. Dia sudah lama bersahabat dengan Fleur dan dia tahu tingkah laku sahabatnya ini.
"Urusanku adalah, karena aku sahabatmu, dan walaupun itu hanya pesta dansa, tetapi kau tidak biasa langsung menerima ajakan itu." Cho menekankan kata sahabat. Fleur masih bergeming, tidak mau menjawab. Dia menatap ke arah depan, lurus-lurus, tetapi tidak fokus apa yang ditatapnya.
"Fleur Delacour—"
"Oke, Miss Chang yang cantik dan ramah, diam."
Cho mengernyitkan dahinya. Dia sedang meminta jawaban dan dia disuruh diam. Apa pula ini?
"Kalau begitu aku simpulkan sendiri bahwa jawabannya ya—"
"Antara ya dan tidak."
Oke. Empat kata yang membingungkan dan membuat Cho menganga tidak percaya.
"Menga—"
"Jangan tanya mengapa dan jangan tanya-tanya soal itu lagi."
Dan tepat saat Fleur berkata begitu, peluit Madam Hooch—pengajar mereka, berbunyi kencang menandakan istirahat selesai dan lanjut latihan.
Cho mengeluh. Gagal mendapat informasi.
.
.
"Jadi, apa yang kau sembunyikan dari kita?" tanya Theo, setelah ekskul mereka hari ini selesai. Hermione mendesah. Mereka sudah mau jalan pulang berdua. Tapi tatapan Hermione bertemu dengan Fleur yang sedang latihan cheerleader, yang membuat moodnya tambah anjlok.
Hermione segera memalingkan muka dan menoleh ke arah Theo. Walaupun berat mengatakannya—ya sudahlah.
"Aku, dan Viktor putus."
"Kenapa?" tanya Theo lagi. Dengan nada suara yang tidak bisa ditutupi bahwa itu penasaran sekali.
"Aku yang memutuskannya—"
"Kapan? Kenapa kau memutuskannya?"
"Seminggu yang lalu, aku—"
Theo sudah menduga bahwa dugaannya tepat sasaran. Seminggu yang lalu. How smart are you, Theo.
"Kenapa?" potong Theo tidak sabar, setelah menunggu kalimat Hermione yang tidak kunjung-kunjung selesai.
"Aku—aku—"
Theo mendengus. Walaupun dia tahu dia sendiri ada masalah, tetapi setidaknya Hermione juga sahabatnya dan dia berhak, atau berkewajiban, untuk membantu sahabatnya sendiri.
"Kau tidak mau cerita padaku?" ujar Theo, pura-pura ngambek. Hermione langsung menggelengkan kepala beberapa kali.
"Bukan, bukan begitu—bukan—tidak, Theo—ini, sulit dijelaskan—"
Oh ya ampun. Kadang Theo bingung kenapa para wanita sulit mengatakan hal yang sepele.
Tetapi apa yang ingin dikatakan Hermione sepele atau tidak—Theo tidak tahu dan merasa harus tahu.
"Hermione, kau tahu kau bisa bercerita apapun yang ingin kau ceritakan. Termasuk hal terburuk sekalipun."
"Termasuk hal terburuk sekalipun," ulang Hermione dengan nada ragu-ragu. "Sebenarnya—"
Hermione menghela napas. Susah sekali menceritakannya, walaupun kepada Theo, salah satu sahabat kepercayaannya. Salah satu orang yang tidak seperti ember bocor dan tidak bawel. Yang paling pendiam di antara yang lain.
Kali ini Theo menunggu dengan sabar.
"Sebenarnya, aku—"
Sekarang Theo menghembuskan napas tidak sabar. Tiba-tiba handphonenya berdering.
Theo melihat nama yang meneleponnya. Blaise Z.
"Halo?"
"Halo, Theo, kau sudah pulang?"
"Sudah, kenapa?"
"Ah, sayang sekali. Ada bukuku yang ketinggalan di sekolah. Ya sudahlah, besok saja—"
"Belum terlalu jauh dari sekolah kok, Blaise. Buku apa? Di mana saat kau tinggalkan?"
"Ah! Kau baik sekali, Theo. Buku sejarah, di kantin, meja seperti biasa. Terima kasih!"
"Kau harus membayarku untuk ini, Blaise—"
Tetapi Blaise sudah menutup teleponnya. Theo mendengus lagi. Menoleh ke arah Hermione yang kelihatannya masih ragu-ragu.
"Ya sudahlah," kata Theo akhirnya. Gadis itu mendongakkan kepalanya. "Besok saja, ceritakan sekalian sama yang lain. Aku harus mengambil buku Blaise dulu. Kau pulang saja dulu—"
"Eh, tapi—"
"Bye!"
Sebenarnya, Hermione merasa seratus kali lipat lebih ragu bercerita kepada empat orang yang lainnya. Apalagi ada Draco di sana.
.
.
Keesokan harinya, Hogwarts Senior High School, sebelum masuk sekolah.
Hermione menghela napas entah keberapa kalinya hari ini. Yah, mereka memang sahabatnya, tetapi, apakah dia harus menceritakan alasannya untuk memutuskan Viktor?
"Aku tahu kalian ingin mendengar ceritaku, tetapi tidak usah memelototiku seperti itu," ujar Hermione dingin, terutama kepada Theo yang daritadi menatapnya terus menerus dengan tatapan tanya dan heran.
"Baiklah—"
"Kau sudah mengatakan baiklah hari ini sebanyak lima belas kali, Hermione. Oh, tidak. Sekarang jadi enam belas kali," sindir Blaise. Hermione melotot ke arahnya.
"Baiklah—"
Hermione menghela napas lagi.
"Aku putus dengan Viktor. Oke. Itu saja. Tidak ada pertanyaan lagi, kan? Aku ke perpustakaan saja. Bye!"
"'Mione! Belum ada yang menjawab!" seru Harry, menarik lengannya kembali duduk. Entah perasaan Hermione saja atau apa, dia merasa daritadi yang paling diam hanya Draco. Sepertinya dia tidak terlalu peduli dengan cerita Hermione—
Masa bodoh, batin Hermione berkata. Toh sahabat-sahabatku yang lain masih mau mendengarkan. Kalau dia tidak mau dengar, ya silakan pergi.
"Nah, apa alasanmu memutuskan dia?" tanya Theo, mengulang pertanyaan kemarin.
Kini Draco memandangnya tertarik.
"Nah, betul tuh, 'Mione. Apa alasanmu?" tanya Ron juga, ikut-ikutan Theo.
Entah kenapa lagu If You're Not The One – Daniel Bedingfield terus mengalun dalam pikirannya. Hari itu, saat itu, kejadian itu—
Hermione merasa seperti blank. Walaupun udara di luar dingin, tetapi dia tetap berkeringat. Memandang gelisah satu persatu sahabat-sahabatnya, tetapi melewati bagian Draco.
"Sebenarnya—"
Theo mendengus kesal. Tapi Hermione tidak memperdulikan.
"Sebenarnya, aku—"
Yang lain memandangnya penasaran.
"Aku tidak mencintainya."
Hening.
Hermione sendiri tidak menyangka dirinya akan menjawab sejujur itu.
Apa yang baru saja dikatakannya?
Dan jawabannya itu akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan...
"Lalu mengapa kau menerimanya?"
Pertanyaan standard dan pertanyaan paling logis setelah pengakuannya tadi. Ya, pertanyaan yang keluar dari bibir Draco itu sangat logis.
Hermione mengangkat alis.
"Itu bukan urusanmu," jawabnya, dengan nada menantang. Tidak memperdulikan tatapan Draco yang mengintimidasi.
"Yah, Hermione. Itu urusan kami. Yang aku tahu kau sangat bahagia dengannya—"
"Aku memang bahagia. Tapi aku tidak mencintainya. Mengerti tidak sih?"
"Lalu mengapa kau menerimanya?"
Pertanyaan itu lagi. Dan tidak mungkin Hermione menjawabnya dengan: "Oh, itu sengaja untuk membuat Draco Malfoy cemburu, tetapi dia lebih tertarik dengan Delacour daripada aku, jadi sepertinya usahaku sia-sia dan memutuskan Viktor malam itu."
Masih hening.
Draco mengangkat alisnya, masih dengan tatapan menantang.
Tapi Hermione tidak punya pilihan lain.
"Membuat pria yang kusukai cemburu."
Singkat, jelas, dan padat. Penjelasan yang membuat semua di meja itu ternganga. Dan sekali lagi—Hermione menyesali jawabannya. Jawabannya akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan lagi. Salah satu pertanyaan standardnya, "Siapa pria yang kau sukai?" dan Hermione tidak akan mau menjawab itu.
"Siapa pria yang kau sukai?"
Dan pertanyaan standard itu masih dikeluarkan oleh Draco. Hermione mendengus secara tak sadar. Apa pedulimu? batin Hermione lagi. Lagipula, kalau dia mengatakannya, percuma saja, toh Draco sepertinya benar-benar naksir Fleur—
Mengabaikan pertanyaan Draco, Hermione melanjutkan.
"Tetapi, moment terburuknya adalah, aku memutuskannya saat dia mau melamarku—"
"OH! SAYANG SEKALI, HERMIONE!" seru Ron kencang, membuat beberapa siswa menoleh ke meja mereka. Hermione melototi Ron.
"Dan aku tidak mau menyakitinya lebih lanjut lagi. Tetapi sepertinya dia juga mulai menjaga jarak denganku. Smsku tidak pernah dibalas dan teleponku tidak pernah diangkat—"
Tetapi Theo tidak perlu menjadi jenius untuk mengetahui siapa pria yang ditaksir Hermione. Waktu kejadiannya saja sudah pas.
Theo baru menyadari bahwa dia memiliki kemampuan analisis yang hebat. Theo tersenyum sendiri.
"Aku tahu."
Dengan perkataan menggantung seperti itu, Theo menuju ke kelas dengan perasaan ringan—
Tetapi menjadi tidak ringan setelah di hadapannya terhadap Pansy and the Gang. Iya, Pansy yang itu. Pansy Parkinson dengan tiga pengikutnya yang lain. Termasuk Daphne Greengrass.
"Permisi." Theo segera lewat begitu saja setelah mengucapkan sepatah kata itu.
"Hey, kami masih ada urusan denganmu, Nott." Pansy menarik tangan Theo dengan seringai licik. Theo mual melihatnya.
"Apa maumu?" Theo bertanya dengan nada menantang, tidak memperdulikan Daphne yang menatapnya dengan tatapan memelas.
"Kau seharusnya sadar, bahwa Daphne di sini sangat mencintaimu—dan sepertinya kau membutuhkan pasangan dansa setelah Patil memutuskanmu, bukannya begitu?" jelas Pansy lagi, dengan seringai lebih lebar.
"Maaf, aku sudah punya pasangan dansa." Theo melepaskan pegangan Pansy dengan kasar, membuat Pansy mengaduh, lalu Theo pergi dengan langkah yang lebih lebar daripada tadi, mau cepat-cepat pergi dari tempat memuakkan itu. Cepat-cepat pergi dari pandangan Daphne.
Pergi meninggalkan perasaan Daphne yang terluka, hancur.
Tetapi Theo sepertinya tidak peduli.
Sepertinya.
Karena jauh di dalam lubuk hatinya, dia peduli.
.
.
Hermione gelisah dengan perkataan Theo tadi. Aku tahu. Maksudnya apa? Tahu bahwa Hermione menyukai siapa?
Tetapi Hermione tidak pernah memberitahukan rahasia terbesarnya itu kepada siapa-siapa. Kecuali kepada dirinya sendiri.
Hermione dan Draco berjalan berdampingan dalam diam. Mereka sekelas, kan—tapi mereka berdua tidak mengobrol seperti biasanya.
"Apa maumu, Draco?" tanya Hermione akhirnya, memandang balik tatapan Draco yang masih dengan penuh tanya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi."
"Oh, abaikan saja. Toh walaupun aku menjawab, kau tidak akan peduli."
"Aku peduli."
"Aku tahu. Tapi kau tidak akan peduli untuk kelanjutannya."
"Aku peduli untuk kelanjutannya," ujar Draco tidak mau kalah. Keras kepala. Sama seperti gadis yang berada di depannya.
"Mengapa kau, sangat, sangat, sangat ingin tahu?" tanya Hermione akhirnya, dengan nada yang sedikit kasar.
Mereka berdua berhenti berjalan dan saling menatap satu sama lain. Seumur Hermione bersahabat dengan Draco, baru kali ini dia berdebat dengan Draco. Ya, baru kali ini berdebat.
"Ya, karena aku peduli."
"Mengapa kau peduli?"
"Karena aku ingin tahu."
"Oh, jawaban logis untuk seorang juara dua di kelas seperti Draco Malfoy." Hermione memutar bola matanya kesal.
"Dan mengapa kau tidak ingin memberitahuku?"
"Karena nantinya kau tidak akan peduli."
"Aku sudah bilang, bahwa aku peduli—"
"Hentikan perdebatan konyol ini. Aku ingin segera masuk ke kelas kimianya Professor Snape sebelum aku dihukum."
Draco mengejar Hermione, masih penasaran. Rasa penasaran yang masih menjalar di seluruh tubuhnya.
"Kalau begitu, sebutkan ciri-cirinya. Kelas berapa? Lebih tampan dariku atau tidak? Atau ... salah satu dari sahabat kitakah?"
Hermione diam, melangkahkan kakinya dua kali lipat lebih cepat daripada tadi. Draco tidak menyerah, masih membuntuti Hermione.
"Hermione, kau tidak akan telat karena hanya menjawab pertanyaanku sambil berjalan cepat seperti itu, lagipula kelas akan dimulai lima menit lagi—"
Hermione masih tidak menjawab. Entah perasaannya saja atau tidak, kelasnya hari ini terasa jauh sekali walaupun dia melangkah lebih cepat dari biasanya.
"HERMIONE!" seru Draco akhirnya, tidak sabar. Menarik tangan Hermione dengan erat, Hermione merasa tangannya ingin patah—
"Lepaskan!"
Hermione tidak mau menyerah begitu saja. Dia berusaha melepaskan tangannya dari Draco—tetapi tentu saja tenaga Draco lebih kuat darinya.
"Tidak akan aku lepaskan sebelum kau menjawab pertanyaanku tadi."
"Bagaimana kalau aku tidak mau menjawab?"
"Oh? Kalau begitu kita berdua akan telat di kelas Professor Snape, untuk pertama kalinya." Draco menyeringai licik, merasa dirinya menang. Tapi Hermione tetaplah Hermione, gadis keras kepala dan sifatnya yang bossy.
"Draco, ini tidak lucu. Tiga menit lagi kita kan masuk!"
"Cepat menjawab lebih baik, Hermione. Katakan saja langsung, siapa pria yang kau maksud?"
Hermione masih pantang menyerah. Dia masih berusaha melepaskan tangannya dari Draco. Dan cara terbaiknya...
Mengigit lengan Draco.
"AW!"
Berhasil. Hermione segera berlari dari tempat itu. Tetapi, sepertinya dia kalah cepat dari Draco—
"Hermione. Pilih jawab atau kau kucium sekarang juga."
"APA?!"
Draco menyeringai lagi.
"Tidak dua-duanya, Draco. Lepaskan peganganmu ini! Dua menit lagi, astaga ... aku tidak mau mendapat hukuman dari dia!"
"Aku tidak peduli. Kau tinggal menjawab, apa susahnya sih?"
Hermione diam, berpikir keras...
Sebelum ada sesuatu yang lembut yang ada di dalam bibirnya. Iya, bibirnya.
BIBIR!
Hermione mengerang pelan dan segera mendorong Draco sejauh mungkin.
"Brengsek!"
"Bukannya tadi aku sudah bilang, kalau kau tidak mau menjawab, akan kucium—"
"Tidak begitu caranya, MALFOY!"
"Oh, begitu? Atau mau lagi?"
"Brengsek!"
Draco mulai mendekati Hermione lagi. Dan sepertinya Hermione telah kalah.
Intinya: jawab atau dicium lagi.
"Oke! Akan kujawab, dan kau! Jangan bergerak dari tempatmu!" Hermione mengacungkan salah satu buku tebalnya yang baru dia keluarkan dari tasnya. Draco mengangguk patuh, dan berjarak dua meter dari Hermione.
"Yang kusukai—adalah—"
"Jawab atau kucium lagi, Hermione."
.
.
.
"Kau."
.
.
.
Draco stuck di tempatnya berdiri, tidak berkata apapun atau bergerak semilimeter pun. Dia benar-benar terlihat konyol. Tapi mulutnya menganga lebar.
"Barusan kau bilang apa, 'Mione?" tanyanya tak percaya. Hermione hanya mengangkat bahu, lalu segera beranjak ke kelasnya dengan berlari, tidak memedulikan Draco Malfoy yang dia tinggalkan tadi.
Hermione masuk ke kelas dengan takut-takut. Sungguh, dia tidak pernah setakut ini—
"Miss Granger." Professor Snape menatapnya tajam. Hermione menunduk, tidak berani menatap Professor yang paling killer di Hogwarts ini.
"Terlambat lebih dari dua menit, tidak bisa mengikuti pelajaranku lagi. Bukannya aku sudah menyebutkan pelajaran itu dari awal?" Professor Snape berkata lagi, dengan ciri khasnya dengan nada yang datar, tetapi menusuk.
"Ma—maaf, Professor—tadi, saya—" Ergh. Hermione membayangkannya sudah pusing. Merlin. Dia wakil ketua OSIS dan murid terpintar di angkatannya, dan terlambat di kelas Professor Snape?
Dan Hermione merasakan di belakangnya ada sesuatu—atau seseorang? Yang sedang terengah-engah—
Hermione menghela napas. Kalau dugaannya benar, orang di belakangnya adalah seorang pria dengan rambut pirang-platina, dagu runcing, mata kelabu dan berkulit pucat.
Draco Malfoy.
"Kencan yang menarik sebelum pelajaran Kimia, eh? Kalian tidak boleh mengikuti pelajaranku hari ini. Tulis di kertas HVS sebanyak lima puluh kali: aku tidak boleh terlambat karena berkencan. Tulisan harus rapi dan dapat dibaca. Nilai dikurangi sepuluh masing-masing. Dan, jangan menyela perkataanku, Miss Granger. Untuk soal ulangan minggu depan, punya kalian berdua akan dibuat dua kali lipat dari biasanya."
"Tapi, Professor—"
BLAM!
Pintu ditutup tepat di depan hidung Hermione. Hermione mengernyit kesal.
"Ini semua gara-gara kau, Draco!" Hermione menunjuk ke arah Draco dengan kesalnya. Dia sudah hampir menangis. Bayangkan! Bahkan dia biasanya datang lebih awal. Gara-gara mayat hidup di hadapannya ini!
Ergh.
Tapi Draco hanya nyengir tak bersalah. Seolah jabatannya sebagai Ketua OSIS diabaikannya begitu saja mendapat hukuman dari Professor Snape.
"Seharusnya aku harus menyalahkanmu, Hermione. Biasanya Professor Snape tidak akan menghukumku sekeji ini ... aku kan murid kesayangannya. Tapi, ya sudahlah. Oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku lagi, Hermione Granger. Tadi kau bilang apa?"
"Dan aku tidak akan mengulanginya lagi, Draco Malfoy." Hermione dengan kasar mengobrak-abrik tasnya, berharap ada kertas HVS di sana. Dan ajaibnya, ada. Entah darimana dia mendapatkan kertas itu.
"Kalau aku tidak salah dengar, tadi kau menjawab 'kau', itu berarti aku, ya?"
"Diam." Hermione mengeluarkan salah satu bolpoin bertinta hitam, dan segera menulis 'aku tidak boleh terlambat karena berkencan' walaupun dia bergidik jijik dalam bagian berkencan.
Tulisan yang dibuatnya serapi mungkin. Dan dia mengerjakannya di depan kelas. Ya, di depan kelas. Duduk di lantai.
Tapi Draco tidak segera menjalankan hukumannya itu. Berarti, kalau dia tidak salah lagi—Hermione Granger mencintai dirinya. Ehm. Tapi dia harus tetap cool dan tidak meneriakkan hatinya yang sedang bersorak-sorak gembira.
"Ehm." Draco berdehem, berusaha memecahkan keheningan yang ada. Tetapi Hermione cuek saja—terus berusaha agar hukumannya berjalan dengan baik.
"Ehm." Lagi. Tapi Hermione masih tidak merespon.
"Hermione, aku—ehm, sebenarnya—aku, aku juga—"
"Draco? Hermione? Apa yang kalian lakukan di sini? Berduaan—di depan kelas?"
Hermione menahan napas. Kalau dari suaranya, orang ini adalah—
"Theo," sahut Draco dengan nada tidak senang. Omongannya baru saja diinterupsi oleh makhluk yang sedang kerepotan membawa tumpukan-tumpukan kertas di pelukannya.
Hermione perlahan-lahan mendongakkan kepalanya ke atas.
"Oh, Theo, sedang apa kau di sini? Aku, yeah—sedang mendapat hukuman—dari, Professor Snape—"
"Apa? Kau dapat hukuman?! Yang benar saja!" Theo berseru tidak percaya, hampir menjatuhkan tumpukan-tumpukan kertas yang ada di tangannya. "—aku sedang disuruh Professor McGonagall untuk membawa kertas ulangan ini ke kelasku dari ruang guru, yeah, untuk membagikannya ke anak-anak."
Dan tiba-tiba pintu terbuka. Pintu kelas yang tepat ada di belakang Hermione Granger dan Draco Malfoy.
"Bertambah satu lagi rupanya. Mr. Nott dari kelas XI-IPS-1, eh? Berteriak-teriak di depan kelas, bercakap-cakap dengan muridku yang sedang kuhukum, pula. Nilaimu dikurangi lima karena kelancangan sikapmu, Nott. Dan Mr. Malfoy, kurasa kau belum mengerjakan tugasmu. Nilaimu kukurangi lima lagi."
"Tapi, Professor—"
BLAM!
Pintu ditutup tepat di belakang Hermione. Masih terasa pintu itu di belakang punggunggnya. Draco hanya melongo tidak percaya. Mengapa Professor Snape begitu tega menghukum murid kesayangannya yang satu ini?
"Mengerikan," desis Theo, lalu segera berlalu. Tapi dia segera mendapat pertanyaan besar yang ada di kepalanya.
Draco Malfoy dan Hermione Granger berduaan dihukum oleh Professor Snape. Jika tidak boleh mengikuti kelas Professor Snape, maka pelanggaran yang dilakukan oleh mereka hanyalah antara satu: terlambat lebih dari dua menit.
Theo memang bukan murid yang pintar, tetapi ingatannya masih cukup untuk menangkap perkataan Professor Snape di awal tahun ajaran.
Pertanyaannya: apa yang dilakukan oleh kedua murid teladan, sekaligus pasangan Ketua OSIS – Wakil Ketua OSIS, sampai terlambat, di kelas Professor Snape pula?
Theo menaikkan alisnya, lalu menyimpulkan sendiri. Berusaha menyimpulkan, tepatnya. Dia tidak bisa membenarkan perkiraannya.
Bahwa sebenarnya kedua sahabatnya itu sedang memendam perasaan yang sama satu sama lain, saling mengungkapkan sehingga terlambat?
Ataukah salah satu dari mereka 'memaksa'?
.
.
Istirahat. Hari ini Harry Potter sedang tidak ingin ke kantin. Sedang tidak ingin berceloteh ria dengan teman-temannya. Tidak—dia sedang tidak bermusuhan dengan mereka. Harry langsung keluar dari kelas tanpa menunggu Blaise Zabini yang menatapnya dengan terheran-heran. Harry hanya ingin bertemu dengan adik kelasnya yang berada di X-IPA-1 itu. Dia ingin mencari jawaban dari Luna Lovegood.
Tujuan pertamanya adalah kelas X-IPA-1.
Harry menoleh-noleh ke sekeliling ruangan. Tetapi sepertinya tidak ada. Maka, dia menanyai seorang siswa yang baru saja keluar. Siapa namanya? Creevey. Ya, Colin Creevey.
"Halo, err—Creevey. Hng, aku ingin mencari Luna Lovegood. Apakah kau tahu di mana dia?"
"Harry Potter!" seru Colin senang. "Tunggu sebentar," lanjutnya. Harry hanya mengernyit bingung. Apakah Colin akan menarik Luna keluar dari tasnya?
Tidak. Colin mengambil bolpoin dan sebuah buku.
"Minta tanda tanganmu, Harry Potter! Aku fans beratmu—"
Harry hanya menghela napas. Setelah menandatanganinya—dia bertanya lagi. "Err, apa kau tahu di mana Luna Lovegood?"
"Luna Lovegood, ya ya—biasanya dia berada di kelas atau di perpustakaan, Harry. Tak apa kan aku panggil begitu?"
"Yeah, tidak apa—thanks, Colin," Harry mulai beranjak dari situ. Tapi samar-samar dia mendengar teriakan Colin— "Kalau membutuhkan bantuan, ke sini saja lagi, Harry!"
Harry hanya tersenyum kecil.
Harry melangkahkan kakinya menuju perpustakaan sekolah. Agak jauh dari kelas X-IPA-1. Tapi yah, demi Luna Lovegood.
Dia mengetuk pintu perpustakaan, lalu masuk ke dalamnya. Tidak terlalu ramai, yeah—jaman sekarang anak-anak memang lebih hobi ke kantin daripada ke perpustakaan mencari ilmu. Harry berpura-pura mencari buku—Madam Pince, si penjaga perpustakaan, sangat galak. Jadi jika dia hanya ke sini dengan alasan mencari Luna untuk meminta jawaban ajakan pesta dansa, dia akan langsung diusir.
Perpustakaan tidak begitu luas, namun entah kenapa Harry sulit sekali mencari Luna, padahal perpustakaan sepi. Dan akhirnya—dia melihat perempuan dengan rambut pirang panjang, membaca buku serius sekali.
Harry duduk di hadapannya, dengan mengambil salah satu buku asal, agar tidak dicurigai Madam Pince. Tetapi sepertinya Luna tidak menyadarinya, dia masih sibuk membaca.
Harry menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia ingin memanggil Luna, tapi takut berisik.
"Ssst—Luna," bisik Harry. Luna mengangkat kepala dari bukunya dengan tenang. "Ya, Harry?"
OH ASTAGA! Bahkan dia tidak terkejut Harry tiba-tiba di depannya?
Harry mengernyitkan dahinya.
"Kamu tidak kaget aku di sini?"
"Aku sudah mengetahui kamu masuk perpustakan dari tadi, Harry. Tapi aku sedang membaca, dan ini perpustakaan. Aku tidak mungkin memanggilmu dengan teriak-teriak..."
"Oh," kata Harry akhirnya. Berhadapan dengan Luna memang sedikit lebih rumit dibanding berhadapan dengan Hermione, sahabatnya. Terkadang dia harus mengerti jalan pikiran Luna.
"Ehm, Luna?" panggil Harry lagi. Luna menoleh lagi. "Ya?"
Harry menggaruk-garuk kepalanya lagi, menimbulkan bunyi berisik. Madam Pince melotot galak kepadanya. Harry nyengir, lalu menoleh ke Luna lagi.
"Hmm—bagaimana atas jawaban—"
"Hei kamu yang berkacamata dan berambut hitam berantakan yang daritadi digaruk-garuk terus! Kalau tidak mau baca, keluar!"
Harry hanya melayangkan tatapan maaf, lalu berpura-pura segera membuka bukunya. Buku apa ini? Harry tidak tahu. Dia hanya asal ambil. Yang penting ada buku. Sementara Luna tersenyum geli dibalik bukunya.
"Luna, bagaimana atas jawaban yang ajakan pesta dansa itu? Umm—sebenarnya, kalau tidak mau tidak apa-apa sih—" sebenarnya kalau tidak mau, aku jadi sedih dan patah hati.
Luna tersenyum, menurunkan bukunya.
"Apa yang akan kamu lakukan kalau aku menerimanya? Kalau aku menolak?"
Ergh. Kadang Harry suka frustasi sendiri dengan pertanyaan yang diberikan Luna. Dia tidak mungkin mengungkapkan perasaannya secepat itu, kan?
"Kalau kamu menerima, ya aku senang. Kalau kamu menolak, ya tidak apa-apa sih..." kalau kamu menerima, aku melonjak-lonjak senang. Kalau kamu menolak, aku bunuh diri.
"Aku mau, Harry," jawab Luna akhirnya, senyum merekah di bibirnya. Hangat.
Harry ingin meloncat ke dalam jurang sekarang juga. Terlalu senang. Terlalu gembira.
Tapi sebenarnya, Harry tidak punya keberanian untuk meloncat ke dalam jurang.
"Trims, Luna!" Harry berkata kelewat kencang, lupa kalau dia masih berada di dalam perpustakaan. Anak-anak di dalamnya sudah melayangkan tatapan kesal ke arahnya.
Beda anak-anak, beda yang jaga.
"KAMU, YANG DARITADI CENGAR-CENGIR, KELUAR!"
Harry nyengir lagi, lalu secepatnya keluar dari perpustakaan.
Harry Potter baru merasakan kebahagiaan yang sebegitu dalamnya hari ini.
.
.
"Mana Harry?" tanya Theo, setelah sampai di kantin. Tetapi yang ditanya hanya sibuk sendiri.
Iya, sibuk. Sibuk dalam artian tidak-sibuk-sibuk-banget. Ron mengunyah makanan dengan asyiknya, menyeruput jus, makan lagi. Blaise sedang memandangi kakak-kakak kelas yang lewat, malah kadang-kadang digombalin. Hermione masih sibuk dengan hukuman yang diberikan Professor Snape. Berulang kali dia membuang kertas HVSnya. Biasanya dengan alasan, kurang rapi.
Nah, kalau Draco, beda lagi. Daritadi melamun. Kadang melamun, kadang menengok ke arah Hermione, lalu langsung membuang muka kalau kepergok sama Hermione sendiri.
Theo jadi bingung sama hubungan mereka berdua. Apa sih yang mereka inginkan? Mengungkapkan perasaannya saja susah, padahal saling suka satu sama lain. Oh, sekali lagi, Theo tidak perlu menjadi jenius untuk mengetahui 'ada apa' dengan kedua sahabatnya ini.
Yeah—Theo sibuk mengurusi urusan hubungan sahabatnya tetapi tidak mengurusi hubungannya sendiri. Hubungannya lebih rumit dari Draco dan Hermione, kalau mau tahu itu.
Dia mengatakan bahwa mereka berdua mengungkapkan perasaan saja susah, padahal dia sendiri tidak ada bedanya. Theo juga bingung sebenarnya ada siapa di dalam lubuk hati terdalamnya.
Dia tidak bisa mengelak bahwa dia masih mencintai Daphne. Apapun yang terjadi, dia masih memperhatikan gadis itu. Kadang bahkan menatapnya tanpa disadari oleh gadis itu. Sebegitu kelihatannyakah perhatiannya sehingga Padma memergokinya?
Padma...
Gadis berkulit gelap keturunan India itu sepertinya sudah tidak terlalu memperhatikannya lagi. Yeah, dia sudah punya Dean Thomas, kan?
Semakin pikirannya mencari, menjelajah, dan meneliti. Dia semakin tahu ... bahwa perasaannya kepada Padma hanyalah suka dan kagum semata. Tidak lebih. Tidak seperti perasaannya kepada Daphne Greengrass.
Gadis yang dari awal tahun sudah dia sayang dan dia cinta.
Theo hanya berpikir bahwa dengan berpacaran dengan Padma maka pikiran dan hatinya akan teralihkan. Namun semakin hari, bukannya teralihkan tetapi malah semakin kepikiran. Semakin memikirkan bahwa Padma adalah Daphne, kenyataannya adalah bukan.
Dan dia tidak mau semakin terpuruk dengan mimpi yang tidak akan menjadi kenyataan.
Theo benci harus dilema seperti ini. Dia mencintai Daphne sepenuh hati, jika gadis itu mau melepas hubungannya dengan Pansy and the Gang yang tidak jelas itu. Gang yang jelas-jelas dibuat untuk memusuhi sahabatnya, Hermione Granger.
Theo juga tidak tahu apa salah Hermione sehingga mereka berempat begitu bencinya dengan Hermione.
Theo hanya menginginkan yang terbaik. Tetapi memang lebih baik mementingkan kepentingan sahabatnya daripada kepentingan dirinya yang tak kunjung terwujud. Pengharapan yang sia-sia.
Theo tahu jika Daphne juga membalas perasaannya. Theo tahu, dan dia tidak mau perasaan itu berubah. Tetapi apa yang dia lakukan semua, juga karena Daphne.
"Woy, kok pada melamun sih?" Ron memecah keheningan, menoleh satu persatu ke arah sahabatnya. Iya, dari yang tadi hanya memandangi kakak kelas atau mengerjakan hukuman, semuanya jadi bengong. Sibuk dengan alur pikiran sendiri-sendiri.
Draco mendengus kesal. "Aku tidak melamun. Kau keasyikan makan sehingga tidak mengetahui apa yang sedang aku lakukan."
"Oh, yang benar saja—" Mata Ron menyipit tidak terima. Tetapi sedetik kemudian dia menyadari, "—di mana Harry?"
Theo ingin menggorok Ron saat itu juga.
"Aku daritadi menanyai kalian,tapi kalian semua sibuk sendiri." Theo mendengus. Merasa tidak dihargai.
"Tadi dia juga tidak menungguiku, dia langsung keluar. Aku kira dia langsung ke kantin," celetuk Blaise. Semua menoleh kepadanya.
"Mungkin dia ingin mencari Lovegood." Hermione terkekeh. Bisa jadi perkataannya benar, kan? Lagian kalau tidak mencari Luna Lovegood, dia ke mana lagi?
"Hello, guys."
Semua yang di meja mendengus bersamaan. Menoleh ke arah sumber suara.
"Harry Potter," ujar Draco datar. Harry nyengir, cengegesan—lalu segera duduk di antara Theo dan Ron.
"Tadi ada urusan sebentar. Apa yang aku lewatkan? Sepertinya tadi sedang berdebat."
"Mendebatkan kau." Ron mendecih. Harry nyengir lagi. Dia sudah cukup bahagia dan tidak mau diperburuk dengan bertengkar bersama teman-temannya.
"Kau kebanyakan nyengir, mate," ujar Blaise. Harry tersenyum lebar.
"Lagi jatuh cinta." Hermione tersenyum pengertian pada Harry. Harry memberi jempol kepadanya.
"Si Loony—Luna Lovegood itu ya?" tanya Ron. Harry mengangguk-angguk semangat.
"Kasihan juga adik Ron yang daritadi menatapmu penuh harap," kata Theo, menggedikkan dagu ke arah Ginny Weasley yang sedang menatapnya intens. Harry bergidik jijik.
"Aku tidak suka dengan perempuan yang modalnya hanya mencari kepopuleran saja, seperti dia, apalagi gabung di gang gak jelas itu."
Dan segera disetujui oleh Ron. Sepertinya dia sudah benci tingkat maksimal ke adiknya.
"Kau juga, Draco. Apa tidak kasihan pada si Parkinson yang daritadi memelototimu seperti ingin dilahap sekarang juga?" Theo memancing Draco berbicara. Di dalam hati dia menyeringai senang. Ekspresi Draco dan Hermione sekarang langsung berubah.
"Dia kan digosipkan dengan si Delacour," celetuk Ron.
Nah. Kena. Pas.
Draco hanya melotot tajam.
"Aku tidak peduli dengan Parkinson dan Delacour."
"Oh ya? Delacour kan pasangan dansamu. Kau yang mengajak, terus diterima. Untuk pertama kalinya! Dan kau bilang itu tidak peduli?"
"Hanya pesta dansa, kan? Seperti kau dan Hermione, Theo. Layaknya teman."
"Yeah, teman tapi mesra."
"Aku bahkan tidak berbicara lagi dengannya semenjak mengajaknya ke pesta dansa."
"Oh, kau berharap bisa berbicara dengannya lagi?"
"Hentikan." Hermione melerai. Dia tidak mau ada keributan di meja ini. Nada dari kedua cowok ini sudah mulai meninggi, tanda-tanda pertengkaran.
Draco dan Theo diam. Blaise, Ron dan Harry harus kagum dengan kemampuan Hermione yang bisa melerai mereka begitu cepat.
"Theodore Nott, aku ingin berbicara denganmu."
Suara gadis. Theo menoleh ke belakang. Dia mengira pendengarannya salah, tetapi ternyata tidak.
"Pergilah, Theo," kata Hermione lembut.
Theo menggeleng. Dia sedang tidak ingin berbicara dengan gadis ini.
"Theo, kau harus menyelesaikan urusanmu." Ini kata Harry. Harry mungkin sudah sedikit lebih dewasa. Karena tingkah Luna Lovegood, mungkin?
Theo menyerah. Mengikuti gadis itu ke manapun dia membawanya pergi.
.
.
"Apa?" Theo bertanya malas-malasan. Gadis itu membawanya ke koridor kosong.
"Theo, aku ingin ke pesta dansa bersamamu."
Kalaupun itu bisa, Daphne, batin Theo dalam hati. Theo menggeleng.
"Aku sudah punya pasangan dansa," jawab Theo. Terlihat sinar kebahagiaan di mata Daphne menghilang.
"Siapa?" tanyanya, dengan nada harap-harap cemas.
"Hermione."
"Oh, astaga! Mengapa kau sangat dekat sekali dengannya?! Dia kan sudah punya pacar!" seru Daphne tidak percaya. Selalu ini akhirnya yang menjadi permasalahan. Kecemburuan yang tidak berarti. Untuk apa cemburu sementara Theo bukan kekasihnya?
"Pertama, Daphne. Jaga ucapanmu. Aku dekat dengannya karena aku bersahabat dengannya. Yang kedua, dia sudah putus dengan Krum."
Daphne melotot tidak percaya.
"Jadi, karena dia putus dengan Krum, kau mau mendekati dia setelah putus dengan Patil, begitu?"
"Daphne Greengrass! Aku tidak punya perasaan apapun terhadap Hermione!"
"Seperti aku percaya saja, Theo."
"Lagipula apa urusanmu?" bentak Theo, lebih kasar. "Kau bukan siapa-siapaku dan aku bukan siapa-siapamu. Kau tidak berhak melarangku dengan siapa aku berpasangan di pesta dansa atau siapa yang aku dekati saat ini. Urusi saja urusanmu sendiri."
Daphne terlihat seperti ingin menangis tetapi ditahannya.
"Kita—kau tahu, Theo? Aku. kau—kita—seharusnya sudah menjadi sepasang kekasih. Seharusnya kita sudah bisa berbahagia dari tahun lalu, seharusnya—tetapi semenjak kau berteman dengan Granger itu, semua berubah, Theo—"
"Ini tidak ada hubungannya dengan Hermione, Daphne Greengrass. Asal kau tahu, yang salah bukan dia, tapi kau sendiri. Kau mengambil keputusan untuk berteman dengan Parkinson itu. Dan, aku tidak mau persahabatanku rusak karena cinta yang belum pasti di masa High School seperti sekarang."
"Jadi, menurutmu, cinta yang kuberikan kepadamu hanyalah cinta yang tidak pasti? Apa sih maksudmu, Theo? Apa belum cukup kau menyiksaku selama ini, dengan berpacaran dengan Padma Patil? Berdekatan dengan Granger? Mengapa kau tidak mau sedikit saja mengerti perasaanku? Kenapa?"
Untuk kali ini Theo menatap mata gadis di hadapannya dengan tatapan mendalam.
"Aku tidak ingin mengubah persahabatanku yang indah. Persahabatan akan selalu menjadi memori yang tidak terlupakan. Di satu sisi, aku juga menginginkan cinta yang terbalas."
Daphne menatapnya dengan tatapan tanya.
"Aku juga mencintaimu, Daph."
Theo mengecup kening Daphne, lalu pergi dengan langkah yang berat.
Mata Daphne berkaca-kaca.
Aku tidak ingin mengubah persahabatanku yang indah. Persahabatan akan selalu menjadi memori yang tidak terlupakan. Di satu sisi, aku juga menginginkan cinta yang terbalas.
Same with me, Theo, Daphne membatin.
Dia juga sudah bersahabat dengan Pansy Parkinson. Walaupun orangnya memang tidak terlalu menyenangkan.
Dia juga tidak ingin mengubah persahabatannya, walaupun tidak bisa dikategorikan persahabatan indah.
Di satu sisi, dia juga menginginkan cinta yang terbalas.
Mereka berdua tidak tahu mereka diintip oleh seorang siswi yang kebetulan lewat.
Dan siswi itu merasa biasa saja. Merasa yakin dengan perasaannya sendiri, maka dia mengabaikan adegan itu.
Toh, dia sudah putus dengan Theo. Dan dia tidak menyesali keputusan itu.
.
.
Draco merasa bahwa dia harus membicarakan hubungan mereka berdua, ya, mereka berdua, dia dan Hermione, secepatnya.
Perasaan mereka berdua sama untuk satu sama lain, dan selama ini tidak ada yang peka juga.
Draco hanya ingin Hermione tahu bahwa Draco juga mencintainya.
Dan dia ingin hubungan mereka berkembang lebih jauh lagi, lebih dari ini, lebih dari sekedar teman ataupun sahabat yang biasa mencurahkan curahan hati masing-masing.
Maka, di sini dia sekarang, mencegat Hermione agar tidak pulang, karena hari ini hari Sabtu dan tidak ada ekstrakulikuler apapun.
Semua teman-temannya sudah pulang. Hermione mengernyit kesal ke arah Draco.
"Apa maksudmu menyuruhku di sini, berduaan denganmu saja? Belum cukup hukuman dari Professor Snape yang mengatakan kita berkencan?"
"Hermione, dengarkan aku."
Hermione berhenti bicara. Tetapi tidak dapat menutupi perasaan kesal yang merambat di seluruh tubuhnya. Dia harus belajar untuk ulangan Kimia minggu depan!
"Apa perasaanmu terhadapku?" Draco menunjuk dirinya sendiri. Hermione melotot.
"Bukan urusanmu."
"Jawab atau kucium seperti tadi lagi."
Hermione mengernyit jijik.
"Suka. Sebagai teman, tentunya. Kita kan sudah bersahabat selama satu tahun, kan? Dengan Ron, Harry, Blaise, Theo. Dan tidak ada perasaan lain."
"Oh ya?"
"Minggir, Draco, aku mau pulang." Hermione berusaha pergi, tetapi tangannya masih digenggam erat-erat oleh Draco.
"Kau bohong."
"Tidak."
"Draco, aku ada janji dengan orang tuaku hari ini untuk jalan-jalan bersama menikmati weekend. Dan jika aku terlambat sampai rumah, maka orang tuaku akan marah dan aku akan bilang bahwa kau yang membuatku terlambat."
"Aku tidak peduli."
Tiba-tiba Hermione mengambil handphone dari tasnya, dan segera menekan tombol hijau di sana.
"Mum?"
"…"
"Oke, Mum. Aku akan segera kembali. Ada tugas yang belum kuselesaikan."
"…"
"Tenang Mum. Pasti jadi kok. Aku pulang sekarang."
"…"
"Oke, bye."
Hermione segera mengembalikan handphonenya ke tas dan melotot ke arah Draco.
"Dengar, kan? Aku sudah disuruh pulang."
Draco mendengus.
"Besok harus kau jawab."
"Besok Minggu dan aku tidak sudi datang ke sekolah, serajin-rajinnya aku."
"Akan aku sms atau aku telepon terus menerus."
"Terserah kau sajalah. Aku ingin pulang sekarang."
Draco melepaskan genggaman tangannya. Membiarkan Hermione pergi.
Hermione tersenyum puas. Sebenarnya tidak ada acara weekend bersama orang tua, apalagi telepon yang tadi. Itu hanya dikarangnya saja ...
Agar ia bebas dari pertanyaan Draco yang membuatnya sulit menjawab.
.xOx.
TO BE CONTINUE
A/N: Hello!~
Balasan review:
Cla99: ahh.. makasih banyak atas dukunganmu. Iya, saya pikir udah nggak ada yang minat lagi sama ff ini, pengen di discontinue tadinya, tapi masih ada yang review.. masih kuat.. *apaan*
hmm, untuk pairnya ya. Sebenarnya yang mau dibikin mainpair itu dramione sama theodaphne. Tapi entah kenapa harryluna sering muncul.. untuk typo yang jam 7 itu, iya, itu typo, 6 sama 7 kan deket, mangap yaa u,u kalau panjangan lagi.. ini adalah usaha terbaik saya untuk memanjangkan chapter ini (?) mangap lagi …..
BlueDiamond13 & Cherry-19: Haiio! Makasih yaa udah dukung, muahuehuahue u,u ini next chapnya. Ini memang Dramione kok. Kan saya sendiri dramioneshipper..
Ochan malfoy: emang tembok bisa digaruk? *ikutan garuk tembok #eh. Draco nggak sama Fleur kok, tenang aja.. *civokz(?)*
Lebih pendekkah? Iya, emang lebih pendek. Agak maksa lagi. Ceritanya sepotong-potong begitu. Argh, maafkan daku ;_; terima kasih yang sudah mereview!
Hello ...
Well, pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih buat para readers yang sudah me review, fav, follow.
BlueDiamond13: Thank you very much usulmu, sayangg! Saya lupa menggantinya sekitar chapter 3 atau 4. Ada ide sperti itu juga, tetapi kelupaan. Ah, sekali lagi terima kasih atas usulmu ..
Ochan malfoy: huahua. Draco emang hobinya civokz2. Apalagi civokz(?) Hermione *eh. Nah, untuk perasaan Theo dsb, ada di chapter ini yaa..
Cherry, shizyldrew, diya1013, caca, dan mione malfoy: thanks udah suka dan bilang kerenn x)) ini dia chap selanjutnya! Hehe
Cla99: supaya bikin penasaran, hihi x)) nah, biar gak penasaran, baca ini deh:p
Megu takuma: haiyaa, udah di follow sekarang? Hehe:p ini lanjutannyaa..
Sintha malfoy: Yap, sebenarnya selain kamu, saya sendiri yang bikin pair Theo-Daphne greget sendiri. Serius, geregetan. Tapi akhirnya di chap ini saya bikin mereka berdua mengungkapkan perasaan masing-masing..
Dan, seperti usul BlueDiamond13, mulai chapter ini chara utamanya adalah Hermione & Draco. (Tadinya Hermione dan Pansy)
Gosh. Sudah saya perpanjang ... semoga saja tidak bertambah buruk.
Review? :D
