Angel or Demond?
Author : Dragneel Sedeeng
Disclaimer : Saya cuman Author baru yang berani-beraninya minjem karakter milik Masashi Kishimoto-Sensei
OOC, mohon maaf atas banyaknya typo
Genre : Family, Mistery (maybe)
Rate aman dibaca kok ( T ) yang penting gak nyampe M
Pair : [NaruHina] Neji Hyuuga
Warning: Mungkin 80% jalan cerita yang kalian tebak itu salah XD
Chapter 4
.
.
.
.
Menurutku hari ini terasa membosankan. Bagaimana tidak, dua gadis di depanku ini selalu membicarakan Dia. Sudah dua hari belakangan topik mereka selalu sama. Bukannya aku menguping, tapi memang pada dasarnya lantunan kata-kata mereka dengan sendirinya masuk ke indra pendengaranku. Keh, sepertinya mereka tampak menikmati perbincangan yang mungkin tidak ada habisnya.
"Kau tahu, expresinya begitu menjijikkan waktu itu." aku benar-benar bosan mendengar kalimat Shion yang terus saja di ulang seperti kaset rusak.
'Sebegitu banggakah dirimu melihat Dia menangis di depan semua orang, heh?'
Aku jadi teringat kejadian dua hari yang lalu. Hari dimana aku terakhir kali mendapatkan bogeman maut darinya. Sialan! Seumur-umur hanya Dia yang berani memukulku seperti itu. Benar-benar gadis yang sama sekali tidak manis! Aneh! Cewek brutal! Tidak seksi!
Bicara tentang cewek brutal itu, semenjak perdebatannya dengan bibi Tsunade aku sudah tidak pernah melihat batang hidungnya lagi. Dengar-dengar Ia sudah dikeluarkan dari Sekolah ini. Mungkin saja. Akan tetapi, saat terakhir kali melihatnya aku menyadari keanehan darinya. Aku melihat dengan jelas, karena aku selalu mengamatinya tanpa berpaling sedikitpun. Aku juga melihatnya... Ia terus memandangi_
"Tapi itu lebih baik kan? Dengan begitu aku masih bisa memberi pelajaran untuknya."
Suara Shion lagi-lagi masuk dalam indra pendengaranku untuk kesekian kali. Entah apalagi yang mereka perbincangkan kali ini, aku terlalu fokus untuk memikirkan Hina_eh? Sial! kenapa gadis brutal itu memenuhi otakku saat ini?
Aku mendengus dan menopang daguku dengan malas. Keh, lebih baik aku memasuki perbincangan mereka. Meskipun aku malas melakukannya.
"Memangnya siapa lagi yang kau bully, Shion?"
"Tentu saja Hinata." jawabnya singkat. Kedua sudut bibirnya tertarik simpul ke atas setelah menyebut nama Hinata. Eh? Hinata? bukankah..
"Bukankah Ia sudah dikeluarkan?"
Alih-alih untuk menjawab, Shion hanya mendengus kasar. Ia terlihat kesal. Entahlah, memang ada yang salah dari pertanyaanku?
"Ya ampun Naruto! Bibi Tsunade hanya mencabut beasiswanya saja, kau tahu?" Sakura ambil bagian. Ia mengganti posisi duduknya dan menopang dagu. Manik emerald-nya seperti menatapku bosan. Baiklah, apakah pertanyaanku memang salah?
"Belakangan ini kau menjadi aneh dan sering melamun. Apa ada sesuatu yang mengganggumu, Naruto?" Shion menggeser kursinya agar lebih dekat dengan posisiku. Ia menempelkan telapak tangannya di dahiku, "Hmmm..Tidak demam." lanjutnya.
Aku menepis tangannya dengan sedikit kasar, "Memangnya aku seperti orang sakit?" jujur saja aku risih dengan sikap Shion yang seperti ini. Perlakuannya terhadapku sangat bertolak belakang dibandingkan masa kecilnya.
Aku jadi teringat saat pertama kali bertemu dengan Shion. Waktu itu aku masih berusia Sepuluh tahun. Shion kecil menatapku sinis saat kedatanganku sebagai tamu undangan makan malam di rumah mewahnya. Itu bukanlah undangan makan malam biasa, melainkan salam perkenalan dari keluarga Shion karena bibi Tsunade akan mengadopsiku sebagai anak angkat. Namun aku menolak dengan entengnya. Menyesal? Ya.. aku sempat menyesali penolakanku atas kebaikan bibi Tsunade. Entahlah.. waktu itu aku merasa tidak pantas dan tidak percaya diri melihat kehidupan keluarga 'Senju' yang begitu mewah. Aku hanya anak 'buangan' yang dibesarkan di panti asuhan sejak lahir. Selain itu_
"...to.. Naruto..!"
Teriakan yang aku ketahui milik Shion barusaja menyadarkanku dari nostalgia,
"Iya,iya! Aku mendengarmu! Tidak perlu berteriak seperti itu!" aku balas berteriak sembari menutup lubang telingaku sendiri.
"Benarkah?" Shion mengangkat sebelah alisnya. Ia lebih mendekatkan wajahnya di hadapanku.
"Hm." aku mengangguk mantap. Meskipun aku memang tidak tahu apa yang terjadi.
Mengesampingkan semuanya sejenak, aku menatap keluar jendela. Ah.. langit begitu cerah siang ini. Kali ini aku ingin menghabiskan waktu istirahatku untuk tidur_
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Cepat pergi sekarang."
Aku menoleh ke arah Shion, "Eh..?"
'Pergi?'
Keh, memangnya aku harus pergi kemana?
Shion mendengus, "Huh.. sudah kuduga kau memang tidak mendengarkanku, Naruto. Ino bilang Ibuku memanggilmu ke ruang Guru." telunjuk Shion menunjuk ke arah gadis berkuncir kuda yang berdiri tidak jauh dari Sakura. Ck! Benar kata Shion, akhir-akhir ini aku jadi sering melamun. Aku juga tidak sadar sejak kapan Ino sudah ada disini.
.
.
.
Menikmati sekaleng soda di atap Sekolah bukanlah hal yang buruk. Merasakan hembusan angin yang lumayan kencang ini membuatku sedikit lebih rilex. Bibi Tsunade yang berdiri tepat di sampingku juga terlihat menikmati suasana seperti ini. Beberapa kali aku meliriknya yang menyeruput soda sedikit demi sedikit, berharap bibi Tsunade segera angkat bicara.
"Bagaimana jika kita meminum soda di atap Sekolah, Naruto? Akan lebih baik jika aku bicarakan disana." kira-kira sepuluh menit yang lalu bibi Tsunade berkata seperti itu ketika aku memenuhi panggilannya ke ruang Guru. Tentu saja aku penasaran tentang apa yang ingin dibicarakannya hingga mengajakku ke atap Sekolah.
Sekali lagi aku meliriknya yang sudah tidak meminum soda itu lagi. Tangannya menggenggam erat pagar pembatas yang hanya setinggi kurang lebih satu meter. Ck, aku bahkan tidak sadar sejak kapan bibi Tsunade sudah tidak membawa kaleng soda.
"Ini.. tentang Hinata." kalimat yang meluncur tiba-tiba itu sedikit membuatku terjingkat, memang. Mungkin kaleng soda ini akan terjun bebas ke bawah jika aku tidak segera memegangnya erat.
"Hinata?" tentu saja aku memastikan apakah pendengaranku masih berfungsi dengan baik atau tidak.
Bibi Tsunade mengangguk mantap, "Hyuuga Hinata. " di lihat dari manapun mimik mukanya terlihat serius. Beberapa helai rambutnya tertiup angin, membuat Ia harus menyelipkannya ke belakang telinga.
"Pertama kali melihatnya, aku sudah merasa aneh. Hingga aku bertanya ke Shion, siapa sebenarnya Dia." bibi Tsunade melanjutkan kalimatnya tanpa memberiku kesempatan untuk bicara. Ia mengurut pelipisnya sendiri; suatu kebiasaan darinya, memang.
"Lalu?" untuk bagian ini aku merasa sedikit bersemangat untuk bertanya. Cih, entahlah. Aku akui, perkataan bibi Tsunade tentang 'siapa Hinata' itu memang mebuatku antusias untuk segera mengetahui jawabannya. Gadis beriris seperti Lavender, gadis yang satu-satunya berhasil melumpuhkanku dengan bogeman mautnya. Keh, terdengar miris memang.
"Dia mempunyai kakak Laki-laki. Mereka berdua seorang Hyuuga. Dan itu... sangat menggangguku." Terangnya, sempat mengernyitkan alis kearahku.
Aku hanya bisa menggaruk kepala, "Aku tidak paham apa yang ingin bibi katakan. Tapi, bukankah sejak awal Ia memang mempunyai kakak dan bermarga Hyuuga? Memangnya ada apa dengan namanya?" mungkin semua orang yang berada di posisiku saat ini akan bertanya hal yang sama sepertiku.
Tidak ada lagi jawaban darinya. Namun aku masih dengan sabar menunggunya bicara. Jika angin bisa terlihat, mungkin aku bisa melihat mereka saat ini sedang menertawai kami yang hanya diam seperti orang bodoh. Keh, kadang aku terlalu berfikir dramatis.
Aku menyeruput soda yang ada di genggamanku. Sial, ternyata hanya kaleng kosong yang ku hisap saat ini. Dengan sedikit kesal aku melemparnya asal ke halaman Sekolah, berharap ada siswa lain yang mungkin tertimpa kaleng sodaku di bawah sana. Hehe.. mungkin itu akan menjadi hal yang lucu, menurutku.
"Bisakah ini menjadi rahasia? Hanya kita berdua.. termasuk.. Shion?" tanpa menolehpun aku sudah tahu siapa yang berbicara. Namun tetap saja aku tidak bisa untuk tidak menoleh kearahnya.
'Rahasia? Sebenarnya apa yang terjadi?' beberapa pertanyaan muncul di kepalaku.
Bibi Tsunade menatapku serius. Suaranya memang terdengar samar, tapi telingaku masih bisa menangkapnya. Aku mengernyit, "Kenapa_"
"Kamulah yang bisa membantuku, Naruto!" dengan cepat bibi Tsunade memotong kalimatku yang belum selesai. Kedua tangannya memegang erat kedua pundakku, gemetar.
'Kenapa kau harus merahasiakannya dari Shion?'
"Ba..baiklah." melihat expresi bibi Tsunade saat ini membuat perasaanku lunak. Sejak pertama kali bertemu dengannya, baru kali ini aku melihatnya seperti orang asing. Bibi Tsunade yang biasanya bersifat tegas dan penuh ambisi. Juga seorang Ibu yang sangat penyayang dan kadang terlihat lembut. Seseorang yang begitu baik terhadapku selama ini, yang sudah ku anggap seperti Ibu kandungku sendiri.
'Kenapa kau harus ketakutan seperti ini, Bibi?'
Jeda diantara kami kembali terulang. Bibi Tsunade memejamkan matanya sejenak. Saat ini kedua tangannya kembali memegang erat pagar pembatas yang terbuat dari besi itu. Ia mengambil nafas dalam, memandang hamparan langit yang luas.
"Hyuuga... adalah satu-satunya nama keluarga bangsawan elit yang sangat disegani masa itu. Banyak Perusahaan-perusahaan besar yang meliriknya untuk bekerja sama." jeda sejenak, Bibi Tsunade merapihkan rambutnya yang tertiup angin. "Hal itu semata-mata untuk mencakup keuntungan besar dengan menggunakan nama Hyuuga." Ia memperjelas. Aku mengikuti arah pandangannnya yang ternyata tertuju pada gerombolan burung yang sedang terbang bebas di ketinggian.
"Hingga saat itu.. Delapan tahun yang lalu, bangsawan Hyuuga di bantai habis-habisan."
"Di.. bantai?"
Bibi Tsunade mengangguk singkat, "Yang tersisa hanya mereka... Kakak dan adik itu... Dan.. di Mansion Hyuuga itu..." lanjutnya, meskipun sedikit menggantung kalimatnya.
"Kakak dan adik? Maksud Bibi, Hinata Hyuuga dan Neji Hyuuga?" aku menyela untuk memastikan. Tidak peduli tebakanku benar atau salah, aku merasa jika memang merekalah yang Bibi maksud. Mungkin karena aku mulai bersimpati pada 'mereka' saat mendengar penuturan bibi Tsunade. Tentu saja, aku bisa merasakan bagaimana sakitnya hidup tanpa adanya orang tua. Tidak akan ada yang menyambutmu ketika kau pulang. Tidak ada seorang Ibu yang akan mengomel jika bolos Sekolah, seperti para Ibu pada umumnya. Tidak ada Ayah yang membimbing jika kita melakukan kesalahan. Tidak ada tempat untuk.. pulang..
'Apakah... Gadis itu juga merasakan rasa sakit sepertiku?'
"Benar." bibi Tsunade mengangguk. Ia mengambil nafas dalam untuk melanjutkan, "Dan.. Satu tahun setelah insiden itu, dua saudara tersebut terbunuh!"
"Eh?!" aku tersentak. Lelucon macam apa ini? Baru saja bibi Tsunade membuatku bersimpati, dan sekarang Ia membuatku terkejut.
"Hinata Hyuuga dan Neji Hyuuga! Mereka telah meninggal sekitar tujuh tahun yang lalu!" hanya perasaanku atau apa, suaranya terdengar parau di tengah-tengah nada tinggi yang diucapkan bibi Tsunade.
"Mustahil. Lalu siapa Neji dan Hinata yang sekarang? Apa bibi tidak salah menyebut nama? Atau mungkin nama mereka saja yang kebetulan sama." Aku berusaha berfikir real. Pertanyaan yang terus saja ku lontarkan membuat bibi Tsunade menaikkan sebelah aku terlalu terburu-buru dalam bertanya.
Mengambil nafas panjang, "Kebetulan? Apa menurutmu di dunia ini ada nama dan status yang sama persis? Aku tahu semuanya tentang Hyuuga."
'Apa yang kau ketahui tentang Hyuuga, bibi?'
Bibi Tsunade menatapku intens. "Apa kau juga lupa bagaimana Ia menatapku terakhir kali waktu itu?" lanjutnya.
Meskipun sedikit tertohok dengan kalimatnya, namun aku pikir hal itu ada benarnya. Aku duduk bersandar di pagar pembatas, berusaha serileks mungkin. "Yah.. aku bisa melihatnya yang memandang bibi Tsunade seolah Ia membenci Bibi." jawabku tanpa berfikir panjang. Keh, aku malas berdebat dengan Ibu dari Shion ini.
"Aku tahu.. karena itu aku merasa tidak tenang."
Aku mendongak ke arah bibi Tsunade yang berdiri tak jauh di sebelahku. Kali ini Ia memejamkan matanya cukup lama. Hingga Ia melirikku sejenak, "Aku juga sudah mendatangi alamat rumah mereka kemarin."
Aku tidak mengira jika bibi Tsunade sudah melakukan hal sejauh itu.
"Lalu?" aku mulai bosan dengan arah pembicaraan ini. Keh, memangnya kenapa Ia begitu peduli tentang Hyuuga? Maksudku, biarlah ini menjadi urusan 'Hyuuga' itu sendiri kan? Atau mungkin bibi Tsunade masih tidak terima dengan perbuatan Hinata ke Shion?
'Lalu, kenapa kau memintaku untuk merahasiakannya ke Shion?'
"Alamat rumah mereka tidak benar. Mereka mencatat alamat rumah orang lain dalam buku Kesiswaan."
Perkataan bibi Tsunade membuatku tercengang. Aku segera berdiri mendekati bibi Tsunade, "Kenapa?" ucapku, ragu.
Nama yang sama persis, adik-kakak, alamat rumah yang dipalsukan. Kedengarannya aneh memang, tapi ini membuatku berfikir bahwa Hinata dan Neji yang saat ini mungkin ada hubungannya dengan Hyuuga yang diceritakan bibi Tsunade.
Dan jika memang Neji dan Hinata yang sekarang adalah Neji dan Hinata yang diceritakan bibi Tsunade, lantas kenapa mereka memalsukan alamat rumahnya? Maksudku, jika ingin memalsukan identitas, kenapa mereka juga tidak memalsukan namanya? Tapi.. bukankah Neji dan Hinata yang diceritakan bibi Tsunade sudah meninggal tujuh tahun yang lalu? Keh! Konyol sekali.
'Apa yang kau rahasiakan, ne Hinata?'
"Untuk itu, Naruto_"
"Aku tahu, Bibi. Aku cukup mencari tahu siapa mereka sebenarnya kan?" aku tersenyum simpul bisa mengetahui apa yang sebenarnya bibi Tsunade inginkan. Aku juga sudah mencerna semua apa yang disampaikan bibi Tsunade kepadaku. Tapi tetap saja ini membuatku merasa ganjil.
"Tapi sebelum itu, bolehkah aku bertanya satu hal kepada Bibi?"
Bibi Tsunade mengangkat sebelah alisnya. Jika diingat lagi, aku baru menyadari jika posisi bibi Tsunade sama sekali tidak berubah sejak tadi. Ia terus memegang erat pagar pembatas itu.
"Apa?" jawabnya singkat.
"Tanda di pergelangan tangan bibi Tsunade." mungkin ini terlalu mendadak untuk dipertanyakan. Terlebih ini sangat menyimpang dari semua yang kita bicarakan tadi.
"Eh?!"
"Darimana bibi mendapat tanda itu?" tanyaku memperjelas.
Angin masih saja setia berhembus. Bibi Tsunade terdiam, tidak menjawab sepatah katapun. Hingga aku berdeham singkat, mengubah suasana yang menurutku agak canggung ini. Keh, aku benar-benar merasa menyesal kenapa menanyakan hal itu. Mungkin pertanyaanku sangat mengganggu privasinya.
Aku memasukkan tanganku ke saku celana, berjalan meninggalkan bibi Tsunade tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Kau tidak harus menjawabnya, Bibi." ucapku sambil berlalu.
"Ini kudapatkan sejak lahir, Naruto."
Aku menoleh kearahnya yang sudah tersenyum lembut kepadaku, "Begitu, ya.." aku membalas simpul senyumnya dan mengangkat tanganku ke atas, mewakili kata-kata untuk 'bertemu lagi besok'.
.
.
.
.
.
.
.
To be Continued
Sebelumnya saya minta maaf jika tidak konsisten dalam menulis fanfic ini. Saya terlalu dikejar waktu hingga lupa menyelesaikan fanfic ini (alasan lama XD).
Terima kasih sudah mau membuang waktunya untuk membaca karya abal saya..
Terima kasih sudah suka rela mereview, favorite, dan follow.
oh ya... Hinata gak jatuh cinta ke Nruto kok.. upsss,,, bocoran
thanks ..
:D
=Dragneel sedeeng=
