Naruto©Masashi Kishimoto
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
"EHHH…TEME DAN SAKURA-CHAN MENIKAH?!"
Teriakan Naruto yang menggelegar membuat Tsunade melemparkan botol Sakenya pada Naruto. Putra Minato itu masih tidak percaya dengan kabar yang di dengarnya, baik Sasuke maupun Sakura sama sekali tidak pernah terlihat berkencan. Dan sekarang, ia menerima berita kalau kedua sahabatnya itu akan menikah.
"T-Tapi… Aku tidak pernah melihat Teme dan Sakura-chan berkencan," gumamnya pada diri sendiri. Dia masih sedikit kaget dengan berita pernikahan dua sahabatnya yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Naruto mengernyit, "Apa mungkin mereka berkencan di malam festival kemarin, dan langsung memutuskan menikah?" Naruto menggeleng pelan, tidak mungkin secepat itu.
Tsunade menatap Naruto bosan, ia kembali meneguk sake entah botol keberapa siang itu. Wanita tua yang terlihat sangat awet muda ini tengah stres karena begitu banyak pekerjaan yang belum diselesaikannya, karena tidak ada Shizune maupun Sakura yang membantunya untuk sementara waktu.
"Keluarlah, Naruto," perintah Tsunade.
"Nenek!" seru Naruto, masih ingin tahu lebih lanjut akan hal ini, "bagaimana mungkin mereka menikah secepat ini, Teme juga tidak —"
"Jangan tanyakan padaku," potong Tsunade cepat. Dia memang tidak memberi tahu Naruto kejadian yang sebenarnya.
Naruto merengut, "Nenek…"
Tsunade menggeram, "Jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu, pergi tanyakan saja pada Uchiha," kesalnya.
Naruto menatap sekilas Tsunade, lalu meninggalkan ruangan tersebut dengan gerutuan yang ditujukan pada wanita pirang tersebut.
Tsunade mendesah lega melihat Naruto menutup pintu kantornya, lalu kembali menenggelamkan diri dengan selusin sake yang tersembunyi di laci meja kerjanya.
.
.
Sasuke sedikit terbatuk, debu-debu yang beterbangan membuat saluran pernapasannya sedikit terganggu. Iris kelamnya memandang Juugo yang sibuk dengan handuk di leher dan sebuah kemoceng di tangan kanannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan suara khasnya.
Juugo melirik Sasuke sekilas, lalu melanjutkan pekerjaannya membersihkan debu yang menempel di sekitar jendela, dan perabotan lainnya. "Untuk menyambut Sakura," jawabnya.
Sasuke mendengus, meninggalkan Juugo melanjutkan acara bersih-bersihnya. Sasuke kemudian masuk ke dalam kamarnya. Mata kelamnya memindai ruangan yang didominasi warna biru gelap, baik tirai jendela maupun warna cat dindingnya. Sasuke menghela napas, perlahan berjalan menuju ranjangnya dan berbaring terlentang.
Onyx kelamnya ia sembunyikan di balik kelopak matanya, ia ingin istirahat sejenak di hari yang sedikit panas ini. Matahari memang sudah tergelincir beberapa jam yang lalu, dan semakin condong menunjukkan waktu terus berjalan. Tidak butuh waktu lama untuk Sasuke memasuki alam bawah sadarnya.
.
Naruto berlari tergesa-gesa, dia harus secepatnya menemui Sasuke untuk meminta penjelasan. Ia tidak akan memaafkan pemuda itu karena tidak menyampaikan pernikahannya secara langsung padanya. Setelah selesai dengan Sasuke, ia berencana akan merajuk pada Sakura. Mungkin, ia bisa sedikit mendapat keuntungan nantinya.
Tapi ketika melewati kedai ramen, batinnya bergejolak. Dan setelah mengalami perdebatan yang sulit dengan dirinya sendiri, akhirnya ia memuutuskan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. mengenai Sasuke bisa ditunda, karena perutnya harus lebih di prioritaskan.
.
Suara ketukan membuat Sasuke terbangun. Menguap sejenak, ia kemudian turun dari ranjang untuk melihat siapa yang datang. Di depannya, berdiri Sakura dengan dua buah koper. Sasuke sedikit menepi, isyarat untuk menyuruh Sakura masuk.
"Terima kasih," gumam Sakura.
Sasuke kemudian menyuruh Sakura menaruh pakaiannya di lemari yang telah disediakan, lalu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dengan agak kaku, Sakura mulai mengeluarkan seluruh pakaian serta barang-barangnya. Ia merasa aneh karena ini bukan kamarnya.
Para tetua memang menyuruh Sakura untuk pindah ke rumah Sasuke, entah alasan apa yang mendasari hal itu. Dan mau tidak mau, Sasuke maupun Sakura harus mematuhinya. Tentu saja, Sakura sempat menolak sebelumnya, tetapi tentu saja para tetua tidak mendengarkan keberatannya.
Sakura menghela napas lalu menutup pintu lemari yang terbuat dari kayu mahoni tersebut. Melirik sekilas ke pintu kamar mandi, Sakura lalu keluar dari kamar Sasuke untuk membantu Juugo yang tengah membersihkan dapur.
.
Merasakan chakra Sakura keluar dari kamarnya, Sasuke keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk yang melilit di pinggangya. Pemuda itu memang sengaja keluar setelah Sakura pergi dari kamarnya.
Uchiha mendesah lega, tubuhnya terasa segar. Mengambil kemeja biru dan celana panjang hitam, kemudian mengenakannya dalam sekejap. Melirik pada ranjangnya, Sasuke mendesah lalu mencabut seprai beserta bedcovernya. Karena kebiasaannya hidup sendiri sekian lama, tidaklah sulit bagi Sasuke untuk memasang benda-benda tersebut. Dia memandang puas hasil kerjanya, kemudian keluar dari kamar.
.
"Aku tidak tahu, orang sepertimu ternyata suka bersih-bersih." Sakura tersenyum geli melihat Juugo yang sebagian besar pakaiannya kotor.
Juugo hanya tersenyum tipis, "Ini sedikit menyenangkan," jawabnya. Menggeser meja dan kursi lalu mengaturnya agar terlihat lebih rapi.
Sakura ikut membantu, "Kenapa tidak kau letakkan di dekat jendela," sarannya.
Juugo memandang ke arah jendela besar yang langsung menampilkan pemandangan belakang rumah Sasuke. Pemandangan yang terlihat asri, dengan kebun kecil yang ditumbuhi bunga-bunga liar namun tampak menawan. "Boleh juga."
Mereka berdua kembali mengatur meja dan kursi ke samping jendela. Kini ruangan tersebut terlihat lebih luas dan nyaman. Sakura juga menyarankan Juugo untuk menaruh karpet di pojok ruangan, di dekat jendela yang satunya.
"Ruangan ini terlihat lebih besar dari sebelumnya," komentar Juugo, menatap puas dengan hasil kerjanya dan Sakura.
Sakura mengangguk, "Setelah ini, apa lagi?"
"Karena akan ada anggota baru, " Juugo melirik Sakura, "jadi aku ingin sedikit merapikan dapur," ungkapnya.
Sakura tersenyum kaku, "Aku akan membantu." Gadis itu merasa sedikit tidak enak pada Juugo.
.
Sasuke yang baru keluar dari kamarnya, melangkah menuju dapur untuk mencari minuman. Keningnya sedikit mengernyit ketika melihat keadaan dapur yang sangat berantakan. Piring dan gelas berserakan di atas meja dan lantai, begitu juga dengan wajan dan alat-alat masak lainnya. "Apa yang kalian lakukan?" Sasuke bertanya dengan suara datar khas miliknya.
Sakura langsung menoleh, lalu tersenyum ragu saat tatapannya bertemu dengan iris onyx Sasuke. "Kami hanya membersihkan dapur, dan menata ulangnya agar sedikit lebih rapi," jawabnya gugup. Takut pemuda itu marah karena telah mengacak-acak dapurnya.
"Apa kau butuh sesuatu, Sasuke?" tanya Juugo. Dia bisa merasakan kegugupan dari gadis disampingnya.
Sasuke hanya bergumam, "Hn." Kemudian meninggalkan dapur. Dia mengurungkan niatnya untuk mencari minuman.
Sakura dan Juugo saling menatap sejenak, kemudian mengangkat bahu dan melanjutkan pekerjaan mereka.
.
.
Sasuke mendesah bosan, iris kelamnya menatap malas lapangan tempat tim tujuh biasa berlatih dulu.
"Halo Sasuke-kun."
Onyx-nya bergeser ke atas pohon, dimana berdiri pemuda dengan senyum yang selalu hadir di wajahnya. Sai, pemuda yang menggantikan dirinya di tim tujuh. Uh, memikirkan sosok dirinya digantikan di tim tujuh membuatnya sedikit tidak suka.
Masih dengan senyumnya, Sai menghampiri Sasuke dan duduk bersandar di pohon yang sama dengan keturunan Uchiha terakhir itu. "Jadi, apa alasanmu menikah dengan Sakura?" tanya Sai tanpa basa-basi. Mengingat ia memanggil Sakura dengan namanya, menandakan kalau Sai serius saat ini.
Sasuke mendengus, ia sudah menduga akan ditanya tentang hal ini. "Bukan urusanmu!"
"Ah ya, kau memang benar." Sai masih menampakkan senyumannya, "Semoga saja keputusanmu kali ini tidak keliru."
Sai tahu, pasti ada sesuatu di balik pernikahan Sasuke dan Sakura. Meskipun ia mencoba untuk tidak peduli, tetapi ada sesuatu yang membuatnya ingin tahu dan memastikan kalau semuanya akan baik-baik saja. Menjadi bagian dari tim tujuh, sedikit tidak membuatnya mengerti apa itu sebuah ikatan yang selalu ingin dijaga oleh Naruto. Dan Sai merasa, ingin ikut menjaga ikatan tersebut, walaupun ia tidak berada di lingkaran mereka.
Sasuke sedikit tertegun mendengar perkataan Sai, ia sangat tahu keputusannya kali ini kemungkinan besar adalah suatu kesalahan. Tetapi ia akan memastikan kalau keputusannya kali ini benar, entah bagaimana caranya. Dan salah satu alasannya menerima pernikahan ini adalah karena gadis yang diusulkan adalah Sakura, jika gadis lain ia pasti akan menolak menta-mentah. Ditambah rencana para tetua jika ia tidak bersedia untuk menikah dengan Sakura, kemungkinan besar gadis itu tidak akan berada di Konoha lagi.
.
Angin lembut membelai rambut kedua pemuda yang sekilas nampak serupa, mereka berdua masih bergelut dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang membuka suara, sampai suara cempreng nan ngebas hampir merusak telinga mereka.
"Sasuke-teme!"
Sasuke mendelik tidak suka pada Naruto yang berlari ke arahnya, ia bisa memastikan kalau pemuda rubah itu akan menanyakan hal sama seperti Sai.
"Teme! Kenapa tidak bilang-bilang mau menikah dengan Sakura-chan! Kenapa juga aku harus tahu dari si nenek tua itu?!" Naruto langsung memborbardir Sasuke dengan pertanyaan. Pemuda calon hokage itu mencengkram erat kerah kemeja yang dikenakan Sasuke. "Seharusnya aku yang akan menjadi orang pertama tahu tentang berita yang membahagiakan ini," rajuknya dengan wajah yang dibuat-buat.
"Lepaskan dobe!" Sasuke melepas paksa tangan Naruto yang mengepal erat di kemejanya.
Naruto masih merajuk, "Kau jahat~" tuduhnya. Masih dengan wajah sok terluka yang sangat didramatisir.
Sasuke memandang Naruto tajam, "Hentikan! Kau terlihat menjijikkan."
Naruto cemberut, "Teme tidak asik, ah~"
Sai yang sedari memperhatikan uniknya interaksi antara Sasuke dan Naruto sedikit bingung, bukan karena kekonyolan Naruto tapi tentang ketidak tahuan Naruto tentang pernikahan Sasuke dan Sakura. Dia semakin yakin, pasti ada sesuatu yang melandasi pernikahan tiba-tiba ini.
.
.
"Istirahatlah Juugo, aku akan mengambilkanmu minuman." Sakura menyuruh Juugo untuk duduk di kursi meja makan, lalu mengambilkannya sekotak jus melon segar.
Mau tidak mau, Juugo patuh. "Seharusnya kau yang istirahat, kondisimu pasti belum pulih benar," ungkap Juugo, merasa tidak enak pada Sakura.
Sakura mendesah, "Yah, lebih baik kita sama-sama istirahat."
Mereka berdua sangat menikmati sensasi ketika jus dingin tersebut melewati tenggorokan, terasa sangat menyejukkan dan dahaga mereka langsung sirna.
Kini, dapur telah bersih dan rapi. Baik Juugo maupun Sakura merasa sangat puas dengan hasil kerja mereka.
"Sakura-san," panggil Juugo setelah menghabiskan jusnya.
"Apa kau mau kuambilkan lagi?" tanya Sakura. Merujuk pada minuman yang telah habis milk Juugo.
Juugo menggeleng, "Tidak," jawabnya. "Ada yang ingin kutanyakan," terangnya.
Sakura tersenyum, "Apa itu?"
"Kurasa ada yang aneh dengan chakra anda Sakura-san. Apakah anda baik-baik saja?"
"B-Benarkah?" Sakura tersenyum gugup, "mungkin karena kondisiku belum pulih sempurna," alibinya. Tidak mungkin 'kan ia menceritakan keadaan yang sebenarnya.
Juugo memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut, meskipun ia tahu kalau Sakura hanya berbohong.
"Oh ya, Juugo." Sakura mencoba untuk mencari bahasan lain, "Apa kau bisa menganggapku sebagai temanmu?" tanyanya.
Juugo mengangguk.
"Karena kita teman, kau harus memanggilku dengan Sakura saja. Dan juga, jangan bicara terlalu formal begitu."
Juugo tersenyum, "Baiklah, Sakura."
.
.
"Dasar dewan sialan!"
Tsunade menggeram kesal, botol sake ditangannya kini telah remuk. Wajahnya memerah karena mabuk dan marah.
Shizune yang tengah menggendong Tonton tidak berani mendekat pada mentornya. Suasana hati sang hokage saat ini sedang sangat buruk. "Aku tidak tahu apa yang ada di pikirkan orang tua itu," gumam Shizune. "Lalu, apa yang akan kau lakukan Kakashi?" tanyanya pada pria bertopeng yang sedang tenggelam dalam buku mesumnya.
Kakashi mendesah, "Entahlah." Meskipun ia terlihat sedang asik tenggelam dengan bacaannya, tapi sejujurnya pria itu menyembunyikan perasaan kaget dan marah dengan berita yang barusan ia dengar dari hokage. "Tidak akan kubiarkan mereka semena-mena pada anak-anakku," ujarnya penuh kepastian tanpa mengalihkan pandangannya dari buku kesayangannya.
Shizune melirik Kakashi, lalu menatap Tsunade prihatin. Dia tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat suasana lebih baik.
.
.
Akhirnya, Sasuke bisa lepas dari Naruto setelah memberikan sogokan dengan sepuluh mangkuk ramen. Sasuke tahu, Naruto yang sekarang tidak sebodoh yang terlihat. Lambat laun, pemuda maniak ramen itu pasti akan tahu kalau pernikahannya dengan Sakura semata-mata sudah diatur oleh oleh tetua desa. Kenapa sekarang hidupnya terasa begitu rumit. Dulu, yang ada di pikirannya hanya balas dendam. Tapi sekarang, ada begitu banyak hal yang ia pikirkan, meskipun ia berusaha untuk tidak peduli tetapi tetap saja tidak bisa.
"Sasuke-kun…"
Suara feminim membuatnya menghentikan langkah. Sasuke melihat Sakura tengah berlari pelan ke arahnya.
Tersenyum gugup, Sakura menghampiri Sasuke yang di luar dugaan berhenti karena panggilannya. "Apa kau bisa meminjamkanku satu ruangan untuk penelitian medisku, nanti?" tanyanya penuh harap.
Sasuke hanya menatap Sakura datar seperti biasa, ia bisa melihat baju gadis kotor di bagian depannya, juga rambut pink-nya sedikit berdebu. "Lakukan sesukamu," katanya kemudian.
Sakura tersenyum lebar, "Terima kasih, Sasuke-kun." Setelah pamit, Sakura berlari kecil menuju tempat tinggalnya. Meskipun sekarang kemampuan medisnya sudah tidak ada sama sekali, tetapi setidaknya ia masih bisa membantu Tsunade untuk membuat obat dan penawar racun.
Sasuke masih berdiri di sana, melihat punggung Sakura yang perlahan menghilang di balik kerumunan dengan tatapan yang sulit diartikan.
.
.
Naruto berbaring nyaman di reumputan, angin sore membelai lembut rambutnya yang sudah agak panjang yang menutupi pelipisnya. Langit terlihat sangat biru, dihiasi awan kemerah-merahan. Mengheela napas beberapa kali, Naruto kembali memejamkan matanya.
Pikirannya dipenuhi tentang pernikahan Sasuke dan Sakura. Naruto tahu, ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua sahabatnya yang sudah dianggap seperti saudara itu. Mereka berdua tidak pernah terlihat bersama, baik Sasuke maupun Sakura juga masih terlihat agak kaku jika tengah berbicara satu sama lain. Tidak seperti dulu, saat mereka masih genin sebelum Sasuke memutuskan untuk pergi ke Orochimaru. Kalau boleh jujur, Naruto merindukan kekonyolan dan kebodohannya dulu. Saat dirinya dan anggota tim tujuh lainnya menjalani misi bersama. Ketika semuanya terasa begitu—
"Naruto…"
Naruto membuka matanya, pandangannya langsung tertutup oleh sosok gadis dengan rambut pirang panjang yang berdiri tepat di atas kepalanya. "Hee… Shion?" Secepat kilat, ia langsung duduk. "Bagaimana kau bisa berada disini? Apa yang kau lakukan di Konoha?" Dia benar-benar terkejut dengan kedatangan Shion.
Gadis yang memiliki warna mata lavender pucat itu tersenyum manis, "Aku kesini ingin menagih janjimu, Naruto-kun."
"He… janji?" Naruto mengernyit bingung, ia mencoba menggali ingatan mengenai janjinya pada Shion. Tapi-tapi satu-satunya janji yang ia ingat adalah janji seumur hidupnya pada Sakura yang telah ia tepati.
Shion mengambil tempat di samping Naruto, ia menggerutu dalam hati. Dia sanat yakin, Naruto pasti tidak ingat perkataannya dahulu. dia masih saja bodoh, pikirnya. "Kau pasti lupa, 'kan. Dasar bodoh!"
Naruto mendelik tidak terima perkataan Shion, "Aku tidak bodoh, hanya lupa," ujar Naruto membela diri.
Shion mendengus, kemudian berdiri sambil berkacak pinggang. "Kau," tunjuk Shion, "kau bilang untuk membantuku…" Shion menoba untuk mencari kata-kata yang tepat, "menjaga dan merawat miko-miko selanjutnya." Sedikit blur kemerahan menghiasi pipi ranumnya.
Naruto tersenyum lebar, lalu berdiri dan merangkul Shion. "Ah, tentu saja. Aku akan menepati janjiku," katanya dengan cengiran khasnya.
Shion berpikir sejenak, apakah pemuda pirang bodoh ini benar-benar mengerti maksud ucapannya. Menghela napas pelan, Shion kemudian tersenyum tipis. "Akan kupastikan itu, bodoh!"
Naruto mendesah, "Apa kau bisa tidak memanggilku bodoh," pinta Naruto, "sebentar lagi aku akan menjadi hokage," tuturnya bangga.
Shion memutar matanya, "Fakta," katanya mengangkat bahu, "Sakura juga bilang begitu."
"Hah~ kalian berdua sama saja," gumamnya rendah.
Shion terkekeh, "Ayo!"
.
.
Uchiha Sasuke menatap Sakura intens, sedangkan gadis yang menjadi objek tatapannya hanya tersenyum gugup.
"Apa itu?"
Sakura tersenyum kaku, "I-Ini untuk penelitian medis," jawabnya.
Tanpa bertanya lebih lanjut lagi, Sasuke sedikit menyingkir dari pintu rumahnya, memberikan akses bagi gadis itu. Setelah mnegucapkan terima kasih, Sakura kemudian berjalan sedikit limbung karena barang-barang yang dibawanya. Tangan kiri dan kanannya masing-masing membawa dua kantung plastik berisi berbagai jenis daun dan tumbuhan obat yang baru dibelinya. Sakura juga membawa tas punggung yang pebuh dengan buku-buku medis.
Sasuke mendengus melihat Sakura terlalu memaksakan dirinya, dan tanpa berkata apapun ia mengambil empat buah kantung plastik yang dijinjing Sakura.
"Terima kasih."
Setelah sampai di sebuah ruangan yang berukuran sekitar 4x5 meter, Sasuke kemudian menaruh barang-barang Sakura di tengah ruangan tersebut. "Kita harus bertemu dewan nanti malam," Sasuke mengingatkan Sakura kemudian meninggalkan gadis itu.
Sakura melepaskan tas punggungnya menimbulkan suara gedebuk. Dia meregangkan punggungya yang terasa sedikit sakit. Menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, Sakura tersenyum. Sepertinya ia harus berterima kasih pada Juugo nanti karena telah membersihkan ruangan ini.
.
Sasuke keluar dari kamar mandi dengan air yang masih menetes dari ujung-ujung rambutnya. Dia kemudian menyalakan lampu kamar, karena memang sudah mulai petang. Setelah mengenakan kemeja putih dan celana hitam, Sasuke bergegas keluar dari kamar untuk mencari Sakura. Dan seperti dugaannya, Sakura masih berkutat dengan bacaannya.
"Mau sampai kapan kau bermain di sana?" Sasuke berdiri dengan handuk yang menutupi kepalanya.
Sakura mengernyit, kemudian terkejut. "M-Maaf, aku lupa," ujarnya sambil membereskan buku-bukunya.
Sakura berjalan di belakang Sasuke, mengikuti pemuda itu menuju kamarnya. Sakura merasa sangat gugup, apa ia harus mandi di kamar Sasuke? Tentu saja, semuanya pakaiannya juga sudah berada di sana. Dan dia juga harus mulai tinggal serumah dengan Sasuke, tentu saja atas perintah dewan.
"Mandilah, satu jam lagi kita sudah harus berada di kamar," kata Sasuke memerintah.
"Baiklah Sasuke-sama," gumam Sakura kemudian meluncur ke kamar mandi.
.
.
Sakura duduk dengan kepala menunduk, di sampingnya Sasuke hanya menatap malas para dewan yang duduk mengelilingi meja bundar.
"Kenapa kalian memanggil kami kesini?" Sasuke bertanya tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Sabar Uchiha, kami masih menunggu seseorang." Salah seorang dari anggota dewan Konoha menjawab.
Sasuke mendengus, "Ini sudah setengah jam lebih."
"Sabarlah sedikit Sasuke -kun," saran Sakura di sampingnya. Ia kemudian meminta maaf kepada para dewan.
Melihat hal itu, Sasuke mendelik kesal pada Sakura. "Jangan melakukan hal yang tidak perlu," katanya.
"Kau sendiri berlagak seperti gadis yang tengah mengalami periode bulanan," gerutunya kesal dengan nada yang sengaja direndahkan.
Sasuke menatap tajam Sakura, tetapi gadis itu langsung melengos menghindari tatapannya.
.
.
"Yang benar saja!" desis Sakura. Gadis itu menghentakkan kakinya kesal, mendengar semua perintah para dewan untuknya. Bagaimana mungkin para dewan sialan itu mengendalikan hidupnya seperti ini. "Sialan," geramnya.
Tidak jauh beda dengan Sakura, Sasuke juga tengah marah dan kesal. Tetapi tidak ditunjukkannya secara nyata. Pertemuan tersebut hanya berlangsung satu jam, tetapi keputusan sepihak para dewan membuatnya geram. Dia tahu dirinya memang seorang penghianat, tetapi Sakura. Sasuke melirik Sakura, ia bisa melihat kemarahan dan kepedihan yang jelas dari gadis itu. Tapi kalau ia mundur dari pernikahan ini, Sasuke tidak pernah berpikir atau membayangkan akan menikah dengan gadis asing yang tidak dikenalnya. Dan memang, satu-satunya gadis yang cukup dekat dengannya hanyalah Sakura. Dan jangan lupa, jika ia menolak perintah tetua dan para dewan, mereka pasti akan melanjutkan rencana cadangan mereka untuk Sakura.
Tsk, kuso!
.
.
Tbc
.
.
Hah~ akhirnya fic ini kelar juga meski hasilnya kurang memuaskan, ngetik di tengah webe begini emang sesuatuXD
Maaf kalau updatenya begitu lama, saya benar-benar minta maaf karena janjinya diusahakan secepatnya. Tapi ini -_- sekali lagi maaf. Dan untuk chap ini, saya pribadi merasa kurang puas karena ceritanya cman berputar-putar saja (alias gak maju-majuXD). Untuk next-chapnya, saya bikin sasusaku udah nikah. Abis gak terlalu ngerti gimana pernikahan tradisional jepang, khekhe.
Oy, mohon maaf mengenai typo(s). Saya tidak negcek ulang fic ini.
Terima kasih juga untuk kalian yang sudah membaca dan memberikan riview untuk chap sebelumnya.
Mind to Riview?
