MIDNIGHT SUN
(Chapter 4)
Bleach © Tite Kubo
Warning : OOC, Typo, Don't Like Don't Read, Shounen-ai, RenIchi
.
.
.
Hujan….
Ichigo menatap gerimis dari balik jendela kamarnya. Ia masih duduk di atas tempat tidur tanpa ada niat untuk segera bersiap ke sekolah. Ia enggan. Hujan pagi ini seolah membawa kembali kenangan yang tidak bisa untuk dilupakan. Ini menyakitkan.
Pandangan Ichigo tidak lepas dari gerimis yang perlahan mulai menderas. Ia tidak perduli dengan waktu yang terus bergerak. Karena hari ini ia ingin sedikit mengenang masa lalu, meski sedikit demi sedikit mulai membawa sesak di dalam dadanya.
Suara ketukan di pintu membuatnya tersadar. Segera ia buka pintu bercat coklat tua itu.
"Onii-chan…" tampak Yuzu yang mengenakan baju berwarna hitam dan menatapnya dengan pandangan lembut.
Ichigo tersenyum kemudian mengangguk, tanda ia mengerti arti tatapan adiknya.
.
.
Hujan memang telah berhenti, namun masih menyisakan mendung tebal di langit Karakura. Ichigo menatap nisan di depannya dengan pandangan hampa. Entah seperti apa wajahnya sekarang. Ia menoleh ke kanan dan mendapati kalau Yuzu tengah terisak pelan sedangkan Karin hanya diam sambil merangkul pundak Yuzu erat. Ia kembali mengalihkan pandangan ke depan. Isshin, ayahnya, berlutut di hadapan nisan itu sambil sesekali mengelus batu hitam dengan ukiran nama 'Kurosaki Misaki' tersebut.
Ichigo memilih untuk meninggalkan mereka semua. Berjalan menjauhi area pemakaman yang menawarkan aura kesedihan yang begitu pekat. Jujur saja, ia mulai tidak tahan. Ia bawa kakinya semakin menjauh dan ketika menemukan sebuah bangku panjang, ia memutuskan untuk duduk di sana.
Dibiarkan angin memainkan rambut orange-nya hingga semakin berantakan. ia sudah tidak perduli akan apapun lagi. Sekarang yang ada di otaknya hanyalah kenyataan kalau hari ini adalah hari peringatan kematian ibunya. Orang yang paling penting dalam hidupnya. Waktu itu juga hujan. Sama seperti sekarang. Sama-sama menyakitkan. Ichigo menghela napas berat kemudian mulai memejamkan matanya, sampai suara berisik dari ponselnya membuat si rambut orange itu berjengit.
"Ada apa, Yuzu?" ujarnya seketika setelah menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu. Namun bukan suara lembut milik Yuzu yang menyapa telinganya, melainkan sebuah suara berat yang begitu familiar. Renji.
"Kau di mana?" suara Renji terdengar sedikit berbeda bagi Ichigo. Ichigo menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan itu, "di tempat biasa. Kau tahu kan sekarang hari apa?"
"Jangan kemana-mana, tunngu aku!" dan Ichigo langsung mematikan ponselnya. Ia mendengus kesal mendengar kalimat perintah itu. Tapi ia memilih untuk mematuhinya. Duduk dan menunggu sampai senpai rambut merah itu datang.
Sekali lagi ponsel hitamnya bergetar. Kali ini ada satu pesan yang masuk. Dari Yuzu. Adiknua itu mengatakan kalau dia, Karin, dan ayah mereka akan pulung duluan. Ichigo lalu mengetik balasannya. Setelah pesan singkat itu berhasil terkirim, dia kembali memasukkan ponsel itu ke saku celananya. Tiba-tiba pemuda berambut orange itu tersentak. Lagi-lagi gerimis turun menimpa tubuhnya, namun ia biarkan. Ia tidak mau atau tepatnya tidak bisa beranjak dari sana. Entah kenapa ia sendiri tidak mengerti.
Ichigo mendongak ketika menyadari gerimis tidak lagi membasahi tubuhnya.
"Baka!" bentakan itu segera ia dengar. Siapa lagi kalau bukan Abarai Renji. Ia bisa lihat penampilan senpai-nya itu 'sedikit' kacau. Dengan seragam yang berantakan dan Ichigo bisa melihat keringat mengalir di pelipis Renji, padahal udara hari ini dingin. Pemuda itu pasti berlari dari sekolah hingga ke sini. Ichigo tidak mengalihkan pandangannya dari sosok Renji yang memegang payung hitam yang entah ia dapat dari mana. Berusaha melindunginya dari terpaan hujan dan membiarkan dirinya sendiri jadi basah kuyup. Sepertinya sekarang perhatian Renji hanya terarah pada kohai-nya yang nampak kacau. Renji paham, kalau hari ini adalah hari yang paling menyakitkan bagi Ichigo. Namun ia juga tidak tahan untuk tidak mengeluarkan bentakan ketika melihat pemuda yang ia sayangi itu membiarkan hujan mengguyur tubuhnya. Ia tidak bisa melihat sosok Ichigo yang begitu rapuh saat ini.
Renji kemudian duduk di samping Ichigo, masih sambil memayungi Ichigo dan dirinya. Untuk beberapa saat yang diantara mereka hanyalah keheningan yang begitu janggal.
"Kau baik-baik saja?" Renji tidak tahu kenapa justru pertanyaan itu yang meluncur dari bibirnya.
Ichigo sedikit mencibir, "tentu saja aku baik-baik saja! Memangnya kenapa?"
"Jangan coba membohongiku lebih dari ini, Ichi. Kau pikir berapa lama aku mengenalmu?"
"Dan jangan memaksaku lagi, Abarai!" balas Ichigo ketus.
"…"
Hujan semakin menderas, begitu juga dengan waktu yang beranjak menuju sore. Namun mereka tetap diam di sana. Namun, tiba-tiba sebuah kalimat membuat Ichigo menoleh untuk menatap ke dalam mata Renji, "kau boleh menangis di depanku."
"Hah?" sedetik kemudian tawa hambar terdengar dari bibir Ichigo. "Kau kira aku selemah itu? Aku tidak akan…"
Ichigo tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat tanpa ia menyadari ada air yang mengalir di pipinya. Bukan air hujan. Itu air matanya. Ichigo buru-biru memalingkan wajahnya, "ck! Sial!"
"Dasar keras kepala!" ujar Renji sambil menepuk kepala Ichigo pelan.
"Aku bukan anak kecil! Lepaskan tanganmu dari kepalaku, Renji!" Ichigo tetap menoleh ke arah lain, namun walaupun ia berkata demikian, dibiarkannya tangan Renji menepuk kepalanya perlahan. Ia suka sentuhan ini. menenangkan.
Renji menurunkan tangannya dari kepala Ichigo dan tepat saat itu hujan mulai sedikit mereda, meyisakan gerimis. Renji menutup payung yang sedari tadi melindungi tubuh mereka dan meletakkan benda itu di sampingnya.
"Sudah sore, aku antar kau pulang." Renji berdiri dan sedikit merapikan seragamnya.
"Ini semua salahku…." Suara lirih itu membuat Renji kembali mendudukkan dirinya.
Ia sedikit menghela napas kesal, "sudah berapa kali aku bilang, jangan menyalahkan dirimu terus. Itu kecelakaan!"
"Tapi kecelakaan itu karena aku! Kalau saja waktu itu Kaa-san tidak menyelamatkanku, pasti semua itu…"
"Aku bilang cukup, Ichigo!" tanpa sadar Renji membentak pemuda orange yang tengah memandangnya dengan tatapan yang sulit dimengerti. "Sekarang kita pulang!" Renji menarik tangan Ichigo, membawa pemuda itu mengikuti langkahnya.
Menurut, hanya itu yang bisa Ichigo lakukan.
"Renji…"
"Apa?" jawab Renji tanpa melepaskan pegangannya.
"Gomen."
"Sudahlah! Aku sudah biasa direpotkan olehmu, Baka-kohai."
Kali ini Ichigo tidak bisa menahan senyumannya, "arigatou, untuk semuanya."
"Ya."
Renji tiba-tiba menghentikan langkahnya kemudian berbalik, menatap Ichogo, intens.
"Apa?" tanya Ichigo dengan wajah bingung.
"Jangan seperti ini lagi. Aku mohon."
Ichigo kemudian berujar pelan, "tenang saja."
Renji tersenyum lega, "tapi kau boleh menangis di depanku. Jangan terus-terusan bersikap sok kuat, Baka-kohai."
"Aku bukan laki-laki cengeng, Baka-senpai!"
Sebuah seringai menyebalkan bermain di bibir Renji, "benarkah? Lalu siapa tadi yang menangis di hadapanku, hm?"
Wajah Ichigo memerah menahan malu sekaligus kesal, "urusai!"
"Hey! Tunggu, Ichigo!"
Renji segera menyusul Ichigo yang meninggalkannya dengan langkah lebar.
Akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah Ichigo saat hari mulai gelap. Dan sekali lagi mereka seolah enggan untuk bicara. Renji nampak menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal untuk menutupi rasa canggung yang mulai terasa menyebalkan.
"Besok kau ke sekolah 'kan?"
Ichigo hanya mampu mengangguk sebagai jawaban.
Hening.
"Ya sudah, aku pulang dulu kalau begitu. Salam untuk adik dan ayahmu."
"Ya. Sampai besok, Renji."
"Sampai besok."
Renji telah berjalan beberapa langkah, namun ia menghentikan langkahnya dan berbalik.
Ichigo mengerutkan keningnya heran, "ada apa lagi?"
"Oyasumi." Ucap Renji dengan suara lirih.
Ichigo sedikit terkejut, tapi ia memblas ucapan Renji dengan sedikit senyum, oyasumi, Renji."
Dan Renji pun segera melanjutkan langkahnya. Pulang.
.
.
T.B.C
AN :
Apa ini! *headbang* chapter aneh lagi...
Um... di sini critanya Renji berusaha nenangin Ichigo yang merasa bersalah karena kematian ibunya. Gomen kalau readers ga ngerti, karena saya sendiri juga ga begitu ngerti dengan cerita ini *digampar*
Yosh! Mohon bantuannya kalau ada typo, ect..
Balesan ripiu :
aRaRaNcHa : hehehe sinetron banget ya ^^! Yah mudah mudahan chapter ini bisa bikin Cha puas, terima kasih sudah jadi peripiu setia saya
aoisakura : sankyuu sudah meripiu. Salam kenal aoi-san
CcloveRuki : makasih udah ripiu hehehe. Ini saya sudah update, silahkan dinikmati (?)
Yoshioka Beillschmidt : maksih ripiunya ^^. Ya, di sini Ichi yang jadi Uke..
Mind to RnR, minna-san?
