"Seijirou jangan sampai kelelahan, makan tepat waktu, dan langsung pulang!" nasihat Seijurou saat mereka akan berpisah ke kelas masing-masing.
"Iya kak, kau juga jangan kelelahan, dan makan tepat waktu, kau masih ada uang kan? Atau kurang?"
"Sialan anak ini belagu banget," kesal Seijurou mengundang tawa dari sanga adik.
"Pfttt ahahahaha." tawa Seijirou meledak membuat sang kakak makin kesal.
"Berhenti ketawa gak!" bentak Seijurou kesal dan mulai megkelitiki(?) Seijirou.
"Aduhduh iyaiya ahahahah iya berhenti ini berhenti ahahahah." Seijirou bukannya berhenti malah ketawa makin keras, membuat beberapa mahasiswa yang melihat heran, walaupun sudah sering melihat kebersamaan adik-kakak itu tetap saja heran. -fyi, Seijirou itu dingin banget dan nyeremin didepan orang lain, dia cuman jadi lembut dan hangat didepan Seijurou. Jadi ketika melihat orang yang selama ini tak pernah tersenyum, tertawa seperti itu membuat mereka agak heran.
"Ssstt... Seijirou kalau sama Seijurou jadi keliatan kayak orang lain ya.""Iya! Eh tau gak sih lo, kemaren kan gua gak sengaja nabrak dia eh anjir tatapan matanya itu loh bikin gua keringet dingin!""Iya emang auranya itu loh berat banget!""Kalau Seijurou sih gua gak heran dia ketawa begitu, soalnya dia mah kebalikannya Seijirou. Dia anaknya ramah, baik, murah senyum, beda banget sama Seijirou.""Seijirou brocon kali ah.""Yah anjir wkwkwkw iya kali ya dia kan overprotektif banget kalo soal Seijurou.""Hahahaha."
Yah kira-kira seperti itu gosipan anak-anak lain.
"Yaudah sana masuk kelas, aku mau keperpustakaan dulu," kata Seijurou saat melihat jam tangannya.
"Iya, hati-hati kak," balas Seijirou.
"Iyaa dah~."
Akhirnya Seijirou berjalan berlawanan dengan arah sang kakak, melewati koridor, dan segera berlari menaiki anak tangga dan berhenti didepan kelasnya.
Pelajaran panjang yang membosankan akhirnya selesai juga. Seijirou bergegas memasuki semua buku-bukunya dan jalan keluar, hendak menghampiri Seijurou sekedar melihatnya sebelum ia pergi bekerja. Sepertinya Seijirou benar-benar mengidap brother complex.
Seijirou melihat kelas sang kakak ternyata belum selesai, dia menunggu didepan terkadang melirik jam tangnnya dan terkadang memainkan hp nya sampai sebuah suara mengagetkannya.
"Akashi?" panggil sebuah suara membuat Akashi menoleh dan dahinya mengernyit, pasalnya ia tak mengenali siapa sosok di depannya itu. Seorang laki-laki tinggi, macho, lumayan tampan, dan kulitnya hitam terbakar sinar matahari.
"Siapa?" Seijirou bertanya.
"Kau lupa denganku? Astaga aku Aomine Daiki yang kemarin mengobati kakimu, oh! Kakimu sudah tak apa-apa?" tanya sosok itu.
"Ah! Kau yang mengobati luka Seijurou dengan asal-asalan hmmm?" Seijirou tersenyum menyeramkan dan mengeluarkan aura hitamnya, membuat Aomine menelan ludah karna orang yang dia lihat kemaren tak menyeramkan seperti ini.
"Eh? Tunggu! Pfttt ahahaha apa-apaan matamu itu Akashi? Kenapa kau hanya memakai softlens di satu mata? Kau sedang cosplay? Dan kenapa kau memotong ponimu seperti itu? Pftt ahahahah," kata Aomine menertawakan sosok didepannya.
"Hah?!" perempatan imajiner muncul dijidat Seijirou, dengan cepat ia mengeluarkan gunting merahnya dari saku celana. "Kau mau mati heh?!" hardik Seijirou sudah siap menusukkan guntingnya dan sudah sukses membuat Aomine banjir keringat.
"Yak cukup sampai disitu Sei-ji-rou," kata seseorang menahan tangan Seijirou yang hendak menusukkan guntingnya.
"Seijurou?! Akh," protes Seijirou yang sedetik kemudian memekik kesakitan saat lengannya dicubit.
"Ka- kakak sakit~"
"Makanya! kau harus memanggilku kakak! Apa susahnya sih! Dan kenapa kau mengeluarkan guntingmu hmmm mau bunuh siapa kamu?" tanya Seijurou dengan senyum andalannya untuk menenangkan Seijirou. Dia perlahan menarik gunting dari tangan Seijirou yang dilepaskan dengan rasa tak rela. "Ini sudah gunting keberapa yang kusita darimu heh?" kesal Seijurou dan langsung memasukkan gunting itu kedalam sakunya.
"Hmph! Salahkan orang dim ini yang mengataiku seenaknya!" adu Seijirou. Seijurou menolehkan kepalanya dan mendapati seseorang yang baru dikenalnya kemarin.
"Aomine?!"
"Y-yo A-Akashi," sapa Aomine terbata-bata ia masih takut-takut karna ditatap tajam oleh Seijirou.
"?" Seijurou yang melihat tingkah aneh Aomine lantas menoleh menatap Seijirou yang sedang menatap tajam Aomine. "Seijirou jangan menatap orang lain seperti itu!" kata Seijurou memperingatkan dan membuat Seijirou menunduk cemberut.
"Maafkan adikku ya, dan ada apa?" tanya Seijurou.
"Tak ada apa-apa hanya ingin menyapamu, dan dia adikmu? Kalian mirip sekali, dan maaf ya aku sudah berkata tidak sopan tadi," sesal Aomine mengingat perkataannya.
"Hmph," dengus Seijirou mengalihkan pandanganya. "Kak aku mau berangkat kerja. Jangan pulang malam-malam!" kata Seijirou lalu mencium pipi Seijurou singkat yang membuat Aomine membelalakan matanya dan segera berbalik pergi.
"Sugoii dia menciummu didepan umum," kata Aomine memperhatikan Seijirou yang berjalan menjauh.
"Hahahaha maaf ya dia memang seperti itu, tapi dia adik yang baik kok. Dan soal cium memang kami membiasakan diri seperti itu, sekedar memberitahu bahwa kami akan selalu ada untuk masih-masing dan untuk menyampaikan rasa sayang kami," jelas Akashi. "Maaf jika itu menjijikan," lanjutnya dan Aomine dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Tidak! Itu bagus! Memang harusnya seperti itu, aku suka kok melihatnya :) apalagi dia sangat nurut padamu," kata Aomine.
"Hahahaha memang satu-satunya yang akan ia dengarkan didunia ini mungkin hanya aku," kata Seijurou sembari tersenyum lembut, membuat Aomine yang melihatnya jadi sedikit memerah.
"Ah iya mau jalan-jalan sebelum pulang?" tanya Aomine.
"Boleh," balas Seijurou berbinar.
"Hahahaha kau imut sekali sihh," kata Aomine mencubit pipi Seijurou, dan mereka tertawa bersama.
"Apakah teman baru yang dikatakan Seijurou semalam orang itu?" tanya Seijirou pada dirinya sendiri.
"Hmmm~ untuk sekarang aku lihat saja dulu, toh Seijurou terlihat senang," lanjutnya tersenyum mengingat sang kakak.
Ditempat lain, Akashi Seijurou dan Aomine Daiki sedang berjalan bersama melewati jalanan dengan tumpukan daun momiji dan ginko yang berguguran.
"Uwaaahhh Seiji- eh- maaf Aomine aku terbiasa pergi kemana-mana selalu dengan Seijirou," jelas Seijurou.
"Hmm tak apa :)" kata Aomine mengerti. "Kau suka musim gugur eh Akashi?" tanya Aomine.
"Iya! Musim gugur daun-daun berjatuhan, daun-daun berubah warna, itu sangat-sangat indah Aomine!" jelas Seijurou antusias.
"Pfttt ahahahaha mukamu seperti bocah lima tahun yang baru pertama kali tamasya, apa-paan blink-blink dimatamu itu?" tawa Aomine melihat ekspresi wajah Seijurou yang memang seperti anak kecil ditambah wajahnya yang imut.
"Apa katamu?!" kesal Seijurou melempari Aomine dengan daun-daun yang berguguran disepanjang jalan.
"Hey hey! Akashi hentikan hahahaha."
"Tak mau weekkk," kata Seijurou menjulurkan lidahnya.
"Awas kau ya!" kata Aomine mulai membalas.
"Ahahahahaha." mereka kembali tertawa mengabaikan orang-orang yang mungkin terganggu dengan kebisingan yang mereka ciptakan.
"Haaaahhh aku capekkk," keluh Seijurou sembari mendudukan diri di bangku taman.
"Sama hh hh hh," sahut Aomine yang terlihat ngos-ngosan dan ikut duduk disamping Seijurou.
"Hahahaha sudah lama aku tak bermain seperti ini dengan orang lain," kata Seijurou lirih sembari menatap angkasa luas.
"Eh?"
"Ya selama lebih dari 10 tahun belakangan aku hanya memiliki Seijirou, bukannya tak ada yang mau main denganku hanya saja mereka terlalu takut untuk berurusan dengan Seijirou," jelas Seijurou, Aomine mengangguk mengerti, ia baru bertemu selama kurang dari 5 menit tapi ia sudah mengerti bahwa anak satu itu sedikit 'sakit'.
"Kau pasti tau kan kalau dia sedikit 'sakit'. Disini," kata Seijurou menunjuk kepalanya sembari tersenyum.
"Iya, kalau boleh tau kenapa?"
"Itu... Aku sungguh belum pernah menceritakan hal ini pada siapapun. Jadi saat kami kecil Seijirou itu anak yang manis, manis sekali dan ceria, namun saat itu orang tua kami meninggal karna kecelakaan, kamipun tinggal di panti asuhan, dan saat itu kami juga pindah sekolah. Dan disekolah baru ini ada beberapa anak yang mengganggu Seijirou mereka mengejek mata Seijirou, aku tak terima dan melawan mereka semua, tapi karna kalah jumlah dan mereka lebih besar dariku, aku kalah begitu saja hahahaha lalu ntah bagaiman untuk pertama kalinya aku melihat Seijirou seperti orang lain, ia jadi menyeramkan dan dia juga bisa menghajar anak-anak nakal itu sampai babak belur. Awalnya aku takut dengan Seijirou sampai-sampai aku menjauhinya, astaga alangkah jahatnya diriku dulu," jelas Akashi tersenyum kecut.
"Lalu saat itu aku melihat dia kembali diganggu anak-anak itu, dia melihatku dengan tatapan terlukanya dan bahkan dia tak melawan saat dipukuli, saat itu aku merasa sangat-sangat bersalah lalu aku berlari melindunginya dengan diriku. Setelah itu aku meminta maaf padanya, dan lalu aku tak ingat lagi karena kata Seijirou aku tak sadarkan diri selama 3 hari. Yah jadi semenjak saat itu kami menjadi sangat dekat dan aku mulai menerima sosok Seijirou yang baru, toh dia seperti itu karna ingin melindungiku," jelas Seijurou tersenyum.
"Ohh kau tak punya orang tua. Maaf aku tak tahu," sesal Aomine.
"Hahaha tak apa,"
"Lalu setelah itu?"
"'Stelah itu' apa lagi?"
"Cerita lagi dong aku kan ingin tahu," kata Aomine.
"Yah lalu ibu panti memarahi kami, dan saat SMA kami keluar dari panti dan mencoba hidup sendiri, saat itu aku bekerja untuk membiayai sekolah dan kehidupan kami, tapi karna terjadi suatu hal Seijirou menggantikanku bekerja, dan sejak kuliah ia jadi semakin sibuk dengan kerjanya, yah dia memang genius bahkan walaupun belum lulus sudah banyak orang-orang yang memanggilnya untuk bekerja. Akupun begitu tapi Seijirou bersikeras melarangku bekerja. Jadi, yah aku sedikit-sedikit membantunya jika ia membawa pulang pekerjaannya, maka aku yang akan menyelesaikannya," kata Seijurou.
"Heeehhh~ memang adikmu kerja apa?"
"Dikantor sebagai sekertaris direktur," jelas Seijurou bangga.
"Waahhh sugoii," puji Aomine.
"Iyakan?! Seijirou memang luar biasa," kata Seijurou tersenyim-senyum.
"Kau juga tak kalah luar biasa Akashi," celetuk Aomine.
"Hahaha tentu saja memang kau pikir aku siapa," kata Seijurou sembari memasang tampang angkuh yang jatuhnya imut dimata Aomine.
"Hahahaha dasar anak ini," kata Aomine gregetan dan mengacak-acak surai Seijurou.
Ditempat lain.
"HUATCHIII!!" Seijirou bersin dengan kerasnya, membuat beberapa karyawan sampai terlonjak kaget.
'Siapa yang ngomongin aku?' batin Seijirou menggosok-gosok hidungnya.
"Seijirou! bawakan berkas untuk meeting selanjutnya, kutunggu diruang biasa," kata sang direktur.
"Baik pak!" jawab Seijirou, dan bergegas menyiapkan berkas yang dibutuhkan.
Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 dan Seijirou masih berkutat dengan pekerjaannya, sedangkan Seijurou dirumah sedang mengerjakan berbagai tugas kampusnya dan tugas Seijirou.
"Aku kangen Seijirou/Seijurou," batin mereka bersamaan.
Cklek
Pintu apartement atas nama Akashi terbuka. Sesosok anak manusia masuk dengan tampang kusut nenyiratkan rasa kelelahan, pakaiannya pun acak-cakan kemejanya yang sudah keluar kemana-mana, dasi yang miring, laluia menyalakan lampu dan melihat jam yang menunjukan pukul 02.00 dini hari. Sosok itu segera pergi kekamarnya dan mendapati sosok yang hampir serupa dengannya sedang tertidur dimeja belajar dengan buku-buku berserakan.
"Astaga anak ini sudah kubilang jangan sampai kelelahan," batin sosok itu.
"Kak? Seijurou? Bangun hey pindah kekasur sana," kata sosok itu menggoyang-goyangkan sedikit tubuh sosok yang tertidur bernama Seijurou itu.
"Nghh~ Seijirou kau sudah pulang?"
"Iya maaf aku pulang telat banget," kata Seijirou.
"Hmm :)" Seijurou hanya tersenyum dan berdiri mengacak surai sang adik.
"Kau sudah makan?" tanya Seijurou sembari membereskan buku-bukunya.
"Sudah tadi pas makan malam," kata Seijirou.
"Itukan sudah beberapa jam yang lalu. Kau lapar tidak?"
"Lapar sih."
"Yasudah sana mandi, aku mau memanaskan makanan dulu," kata Seijurou berlalu pergi setelah mengelus surai sang adik lembut.
"Oke," jawab Seijirou dan segera melesat kekamar mandi.
Seijirou keluar dari kamar hanya menggunakan kaos longgar dan celana pendek, lalu berjalan kearah meja makan, ia sudah lebih segar setelah mandi.
"Nah gitu kan cakep, pftt hahahaha mukamu tadi kayak gembel tau gak! Udah muka berkilauan kayak kilang minyak, baju acak-acakan, rambut kusut, udah mirip gembel tokyo tower tau gak hahahahaha," ledek Seijurou sukses menampilkan perempatan imajiner dikepala sang adik.
"Kakak masih pengen makan kan? Atau mau kubuat pingsan sampai 6 hari? Hmmm," kata Seijirou seraya tersenyum menyeramkan.
"Pfttt hahahaha sekarang malah jadi setan todai," ledek Seijurou makin menjadi.
"Kakak~" rengek Seijirou manja.
"Gausah sok manja! Kan jadi gak tega mau ngeledekin."
"Onii-chaaannn~" rengek Seijirou makin manja.
"Oke, kalah deh kalah! Udah ah jangan manggil sama masang muka imut gitu!" kata Seijurou dan langsung duduk.
"Kkkk~" terdengar Seijirou terkikik karna berhasil mengalahkan kakaknya.
"Ittadakimasu" kata mereka berbarengan dengan tangan bertangkupan.
Setelah selesai makan, mereka segera kembali kekamar untuk kembali tidur. Seijurou membersihkan tempat tidur, dan Seijirou sedang mengecek beberapa e-mail di hpnya.
SETTT
Seijurou merebut hp dari tangan Seijirou, dan menyimpannya dimeja nakas dekat tempat tidur mereka.
"Kakak!"
"Udah malem adikku, sekarang cepat naik tempat tidur dan tidurlah! Ok?" ujar Seijurou memberi penekanan disetiap kata-katanya, membuat Seijirou hanya bisa meneguk ludah.
"Cepet tidur!" kata Seijurou saat dia sudah naik ke tempat tidur. Seijirou menghela nafas lalu ikut naik ketempat tidur -fyi, tempat tidur kembar Akashi itu spring bed ukuran king size.
Seijurou menoleh menatap Seijirou yang sudah akan tidur.
"Oyasumi" kata Seijurou mengangkat sedikit kepalanya dan mencium pipi Seijirou. Tangannya bergerak memeluk sang adik.
"Hmmm Oyasumi onii-chan," balas Seijirou dan menyamankan diri dipelukan sang kakak.
"Kami-sama, semoga kami bisa selalu bersama." doa mereka sebelum akhirnya jatuh tertidur.
Jarum jam menunjukan pukul 09.00 dan sang surya sudah tampil gagah diangkasa. Namun kedua anak kembar kesayangan kita masih enggan membuka matanya. Mereka makin saling merapatkan diri, menyamankan diri dipelukan masing-masing.
Baiklah kita biarkan mereka sebentar lagi, aku tak ingin menggangu moment kebersamaan mereka yang akan menghilang :v *spoiler:v*
.
.
.
Tbc...
