A Vocaloid Fanfiction

Disclaimer: Vocaloid © Yamaha

Warning: Yuri


It Exchanged

"Luka! Hei Luka, bangun!"
Seorang pemuda berambut merah muda tengah sibuk membangunkan adiknya, Luka, yang sedang bersembunyi di balik selimut.

"Dasar anak ini… sudah jam 7 juga masih saja enak-enakan tidur. Malah jam wekernya juga ikut dibanting pula. Huh, dasar…" ujarnya sambil membersihkan kepingan-kepingan jam weker yang pecah berserakan di lantai.
Akhirnya ditarik paksalah selimut yang sedari tadi menutupi tubuh adiknya dari kepala sampai ke kaki. Yang berada di dalam selimut pun spontan langsung kaget melihat sesosok makhluk menyeramkan (atau lebih tepatnya, kakaknya sendiri) tengah berdiri tepat di sebelah tempat tidurnya.

"Luki-nii? Su-sudah berapa lama di dalam kamarku?" tanya Luka panik.

"Sudah dari lima belas menit yang lalu. Tidurmu itu seperti nemuri-hime tahu! Lalu, mengapa pula sampai jam weker pun ikut kau rusakkan?"

"I-iya, maaf aniki. Aku tidak sengaja menjatuhkannya saat tidur," jawab Luka berbohong. Padahal ia sengaja membantingnya sendiri karena sudah muak mendengar suara bising dari jam weker tersebut.

"Alasan saja. Sudah, cepat sana mandi dan berangkat sekolah! Kau akan berangkat bersama teman barumu, bukan?"

"Berangkat sekolah… bersama?"

Sejenak Luka mengingat-ingat kejadian apa saja yang ia alami kemarin dan yah, ia hampir saja melupakan janjinya untuk berangkat sekolah bersama teman barunya, Miku. Ia menepuk dahinya.

"Oh iya! Hampir saja lupa, aku ada janji dengan Miku-san!"
Ia pun segera berlari ke kamar mandi diikuti oleh decakan sang kakak.

Setelah beberapa menit menghabiskan waktu di dalam kamar mandi dan mengenakan seragam sekolahnya, Luka menuruni tangga sambil berlari kecil menuju ruang makan. Pagi itu hanya ada dirinya dan kakaknya saja dalam rumah.

"Ibu dan ayah kemana, aniki?" tanya Luka heran.

"Ayah sudah berangkat ke bandara subuh-subuh bersama ibu," jawab Luki.

"Ke bandara? Untuk apa? Mereka mau pergi kemana"

"Haaah… untuk apalagi kalau bukan untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-20? Pakai acara jauh-jauh pergi ke Jeju Island pula. Padahal kan di rumah sendiri juga bisa," ujar Luki sambil menghela nafas.

"Begitu yah…" ujar Luka cuek sambil mengusap lensa kacamatanya dengan sapu tangan.

Luki memperhatikan sekilas wajah adiknya yang mulai berubah sejak mengalami masa pubertas. Luka terlihat sangat cantik menawan, terlebih saat ia sedang tidak mengenakan kacamatanya. Wajah tirusnya, mata emerald blue-nya yang indah, tubuh langsingnya yang mulai berbentuk, rambutnya yang bergelombang terlihat sangat lembut, semua ciri fisiknya didukung oleh sifat aslinya yang tenang dan pendiam. Oh, andaikan saja ia tidak ceroboh, Luki, kakaknya sendiri juga mungkin akan jatuh cinta kepadanya.

Luka segera memakai kacamatanya lagi. Ia sedikit memiringkan kepalanya saat melihat kakaknya tengah melamun dengan cengiran kuda terpajang di bibirnya.

"Aniki? Ngelamunin siapa pagi-pagi?"

Luki segera tersadar dari alam khayalannya.

"Oh, bukan apa-apa kok. Ayo, segera habiskan sarapanmu di meja makan!"

"Hai aniki…"

Setelah selesai menyantap sarapannya, Luka berpamit pada kakaknya lalu segera melesat ke rumah Miku.

Sementara itu Miku terlihat sedang menunggu seseorang di depan halaman rumahnya.

'Hhh… Luka lama sekali. Apa sebaiknya aku jalan duluan saja ya?' benaknya.

"Miku!"

"Oh, itu dia!"

Orang yang sedari tadi ia tunggu akhirnya muncul juga.

"Maaf, aku agak lama. Hah… hah…" ujar Luka dengan nafas tersenggal-senggal karena habis berlari.

"Gak apa kok Luka, yang penting kau sudah datang. Jalan pelan-pelan saja, masih 30 menit lagi kok."

"Benar juga ya… Ayo kita langsung berangkat saja, Miku!"

"Yak!" Miku menyetujui usul Luka dan langsung berangkat. Mereka saling bergandengan tangan sepanjang perjalanan.

Sesampainya di sekolah, mereka langsung menuju ke ruang loker dan meletakkan barang-barang mereka ke dalam loker masing-masing. Banyak orang yang berlalu-lalang di sekitar koridor tersenyum ramah dan menyapa Miku. Sama seperti hari kemarin, Miku masih saja menjadi pusat perhatian. Setelah itu mereka masuk ke kelas dan duduk di bangku mereka yang saling bersebelahan. Baik di ruang loker maupun di ruang kelas keadaannya sama saja. Miku yang menjadi pusat perhatian dan juga beberapa murid sudah mulai menyapa Miku dan menanyakan bagaimana kabarnya hari ini. Semuanya nampak ramah kepada Miku, demikian juga Miku yang selalu ramah kepada mereka. Di sisi ini, Luka seakan seperti pajangan saja. Tidak dihiraukan sama sekali.

'Miku benar-benar gadis yang sangat beruntung,' benak Luka.

Kriiiiiiiiing…

Bel pertanda mulai pelajaran sudah berbunyi. Seluruh siswa kembali masuk ke kelas untuk memulai pelajaran pertama. Tak lama kemudian, sensei memasuki kelas dan menerangkan pelajaran. Kebetulan pelajaran pertamanya adalah kimia, pelajaran favorit Luka.

Setelah selesai menerangkan pelajaran, sensei kemudian memberikan sebuah tugas individual. Tugas yang diberikan nampaknya tidak sulit bagi Luka. Ia bisa mengerjakan setiap soal dengan mudahnya. Tapi bagi beberapa murid yang lain, soal tersebut tidak semudah itu.

Seorang pemuda berambut biru yang duduk di depan Miku akhirnya menoleh ke belakang dan bertanya kepada Miku.

"Nee… Hatsune-san, kira-kira kau masih ingat tidak bagaimana cara mengerjakan soal nomor 5 ini? Aku agak bingung."

"Hmm… sebenarnya aku juga masih bingung sih, Kaito-san. Seingatku sih caranya benar seperti ini, lalu begini. Tapi masalahnya aku lupa langkah selanjutnya," ujar Miku kepada pemuda yang diketahui bernama Kaito itu.

"Aduh… bagaimana nih? Aku juga lupa lagi…"

Luka melirik sebentar soal yang dimaksud oleh Kaito, bermaksud membantu. Senyum lebar menghiasi bibirnya, karena ternyata soal yang dimaksud itu bisa ia kerjakan dengan mudah.

"Err… boleh aku membantu? Aku tahu bagaimana cara penyelesaiannya." Luka akhirnya angkat bicara.

"Benarkah? Wow, otakmu canggih juga ternyata!" mata Kaito langsung berbinar-binar.

"Ah, iya! Kaito-san lebih baik bertanya pada Luka saja. Ayo silahkan, Luka-san!" Miku ikut memperhatikan.

"Jadi caranya begini lalu dikalikan dengan 22,4, lalu dilanjutkan seperti ini…"

"Oh ya, sekarang aku mengerti. Terima kasih Megurine-san. Lain kali ajari aku lagi ya?" ucap Kaito sambil tersenyum lebar.

"Unn… Luka memang pintar, aku jadi terpesona. Hahaha…" goda Miku.

"Ah, nggak juga kok…" Luka tersipu.

Tak lama kemudian, bel istirahat pun berbunyi. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas. Miku pun berjalan keluar kelas sambil membawa kotak bentonya dan diikuti oleh Luka. Miku merentangkan tangannya keatas sambil mengambil nafas dalam-dalam.

"Hng… akhirnya bisa terbebas juga pelajaran kimia yang membosankan."

"Hahaha… kita ke kantin yuk. Aku sudah lapar."

"Ayo. Aku juga sudah lapar dari tadi."

Saat Luka dan Miku hendak melangkah ke kantin, tiba-tiba seorang pemuda menghampiri mereka. Pemuda itu adalah Shion Kaito yang tadi bertanya pada mereka di kelas.

"Hei, kalian mau ke kantin ya? Boleh aku ikut?" tanya Kaito.

"Eh, ada Kaito-san. Boleh kok. Kami malah senang ada teman lain yang mau bergabung," jawab Miku sambil tersenyum.

"Oh, bagus deh. Soalnya jarang-jarang aku pergi ke kantin dengan ditemani gadis-gadis energic seperti kalian," ujar Kaito sekaligus memuji.

"Ahaha, Kaito-san bisa saja memuji…" balas Miku sambil tertawa kecil.

"Haha… tapi itu memang kenyataannya kok. Lagipula sepertinya kalian orang yang baik. Mulai sekarang aku jadi teman kalian ya? Boleh kan?"

"Ya, tentu saja Kaito-san boleh jadi teman kami. Benar kan Luka?" ujar Miku dengan penuh semangat.

"I-iya, tentu saja," jawab Luka singkat walaupun ia agak kaget dengan pernyataan Kaito barusan.

Luka memang tidak memberikan tanggapan lebih saat Kaito bilang ingin bergabung bersama mereka, tapi sebenarnya ia sangat senang menyadari bahwa temannya bertambah satu lagi. Ia mengubah jalan pikirannya bahwa selamanya ia akan selalu sendiri, karena kini ia telah memiliki Miku dan juga Kaito, kedua teman barunya di sekolah. Sepertinya Luka mulai terbiasa dengan suasana baru ini.

Mereka bertiga pun langsung menuju ke kantin. Mereka duduk di salah satu bangku panjang sesampainya di kantin.

"Jadi Megurine-san ini orangnya pendiam ya?" Kaito memulai pembicaraan.

"Iya nih. Luka jangan diam melulu donk…" ujar Miku membenarkan.

"Aku tidak tahu harus membicarakan apa," ujar Luka tanpa menoleh ke arah mereka.

"Ya kamu kan bisa membahas soal pelajaran, hobi, aktivitas sehari-hari, atau ngobrolin tentang pacar juga boleh. Hahaha…" balas Kaito.

"Aku bukan tipe orang yang suka membahas soal pacar-pacaran, Kaito-san…" ujar Luka yang hendak menyantap bekalnya. "Itadakimasu!"

"Yah… Luka, sikapmu itu terlalu dingin seperti es krim. Hehehe… Itadakimasu!" Kaito ikut menyantap bekal yang dibawanya, begitu pula Miku. "Itadakimasu!"

"Oh iya Miku," kali ini untuk kedua kalinya Luka mengangkat topik pembicaraan. Menyebabkan aktivitas menyantap makanan mereka terhenti untuk sementara. "Dari kemarin waktu aku menghampiri rumahmu sepertinya sepi sekali, tidak ada orangnya. Apa memang keadaannya seperti itu setiap hari?"

Air muka Miku menjadi melankolis ketika Luka bertanya mengenai hal itu.

"Ada masalah apa Hatsune-san? Megurine-san?" Kaito ikut masuk ke dalam topik.

"Eh, m-maaf Miku… a-aku bertanya di saat yang kurang tepat ya?" Luka menjadi sedikit panik.

"Tidak apa kok Luka. Kau benar, setiap hari rumahku memang selalu kosong. Kedua orang tuaku sering pulang larut malam dan sekarang sedang pergi ke negeri seberang selama 3 bulan penuh. Kakakku juga jarang pulang ke rumah. Kemarin saja kakak tidak pulang ke rumah karena sepertinya ia harus menginap di studio," jelas Miku sedih.

"Begitu ya masalahnya? Hatsune-san kasihan sekali. Pasti rasanya sepi sekali bila di rumah tidak ada siapa-siapa," tanggap Kaito turut prihatin.

"Iya, kedua orang tuaku juga hari ini sedang berada di luar negri. Tapi kalau seperti Miku, 3 bulan penuh seperti itu, mungkin aku juga akan merasa kesepian di rumah. Apalagi jika aniki tidak ada."

Mengetahui hal itu, pikiran Luka terhadap keadaan sosial Miku langsung berubah. Di sekolah ia memang populer dan menjadi pusat perhatian di kelas, tapi sebenarnya Miku adalah seorang gadis yang kesepian. Miku tidak pernah merasakan kehangatan dari sebuah keluarga, sedangkan Luka masih bisa merasakan perhatian dari ibunya yang setiap pagi memperhatikan kebutuhannya sebelum berangkat ke sekolah, kasih sayang ayahnya yang bekerja keras untuknya, juga perhatian dari kakaknya yang tegas namun terkadang suka usil. Yah, satu hal lagi yang membuat Luka menyadari bahwa ia tidak sendirian. Tapi memang, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna sekalipun itu adalah seorang yang populer seperti Hatsune Miku.

Sepertinya Luka mulai menaruh rasa simpati terhadap Miku. Tapi di sisi lain ia merasa bersalah pada Miku sebab ia telah membuatnya merasa kesepian.

"Yang kuat ya, Miku. Kau tidak sendirian kok kau masih punya teman-teman, masih punya aku," hibur Luka.

"Dan juga masih ada aku!" Kaito ikut memberi semangat.

Miku tersenyum miris. "Arigatou minna-san…"

"Lalu, kemarin kau bilang kau baru menemukan seorang teman yang baik lagi. Lalu kata-katamu terputus di kata 'sejak'. Memangnya ada kejadian apa sebelumnya dibalik kisah hidupmu itu?" tanya Luka lagi.

Pertanyaan terakhir Luka membuat Miku mengingat masa lalunya lagi. Wajahnya seketika berubah mendung.

"Itu ya…"

Luka pun menjadi salah tingkah karena ternyata pertanyaan terakhirnya malah membuat Miku semakin merasa sedih.

"E-eto… tidak dijawab sekarang juga tak apa Miku. A-aku hanya ingin tahu" ujar Luka gelagapan.

Mereka pun melanjutkan menyantap makan siang dengan hening.

"Aku jadi merasa bersalah…" bisik Luka kepada Kaito yang duduk di sebelahnya.

"Bukan salahmu kok. Justru kau baik karena memperhatikan sahabatmu sampai segitu detilnya," ujar Kaito sambil tetap menyantap makan siangnya.

"Hnn…" Luka hanya mengangguk sedikit.

Setelah selesai menyantap makan siang mereka, Kaito yang selesai duluan langsung membereskan kotak bentonya dan hendak beranjak dari bangku kantin.

"Minna-san, aku sudah selesai. Aku naik ke kelas duluan ya?" ujar Kaito.

"Aku juga sudah selesai. Miku sudah selesai belum? Mau ikut naik?"

"Aku sudah selesai, tapi kalian naik duluan saja. Aku akan segera menyusul," ujar Miku sambil mengalihkan pandangannya dari kedua sahabatnya itu.

Kaito dan Luka hanya menatapnya dengan pandangan heran. Perubahan sikap Miku saat ini memang sulit ditebak.

"Hmm… baiklah. Jangan sampai telat ya, Miku…" ujar Luka sambil berlalu, diikuti oleh Kaito.

Tak terasa bel tanda masuk pelajaran selanjutnya sudah berbunyi. Seluruh siswa kembali masuk ke kelas dan duduk di bangku masing-masing. Luka sendiri sudah sedari tadi duduk di bangkunya. Ia terus menatap bangku kosong di sebelahnya yang merupakan bangku Miku. Ia begitu khawatir karena Miku belum kunjung kembali ke kelas. Ia berharap Miku akan segera kembali dengan sikap ceria dan easy going-nya yang seperti biasa. Ia masih merasa bersalah pada Miku atas kejadian yang tadi.

Kaito yang melihat Luka seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan Luka saat ini. Ia mencoba meyakinkannya bahwa Miku akan baik-baik saja.

"Tenang saja Luka, tidak usah dipikirkan lagi. Miku akan baik-baik saja. Mungkin ia hanya sedikit stress."

"Hhh… aku sudah berusaha tenang, Kaito-san. Tapi tetap saja aku masih bimbang. Tidak biasanya ia seperti ini."

"Iya, aku mengerti. Tapi kau juga jangan berfirasat buruk dulu. Siapa tahu Miku mempunyai alasan tersendiri mengapa ia bersikap seperti itu."

"Hnn…" Luka hanya mengangguk pelan.

Tak lama kemudian Miku masuk ke kelas dengan tampang lesu. Seisi kelas tentu saja ikut menatapnya dengan heran. Miku berjalan perlahan menuju tempat duduknya di sebelah Luka dan kemudian duduk disitu sambil tetap menundukkan kepalanya.

"Tuh, benar kan apa yang kubilang? Miku pasti kembali," bisik Kaito kepada Luka.

"Iya sih. Tapi perhatikan deh wajahnya, tampak tidak bersemangat," balas Luka setengah berbisik.

Luka beralih menatap Miku dengan seksama. "Miku, kau baik-baik saja?" tanya Luka khawatir.

"Iie… nandemonai desu."

"Kau yakin kau tidak apa-apa? Kalau kau ada masalah ceritakan saja kepadaku. Mungkin aku bisa membantumu."

"Tidak ada yang dapat membantuku," ujar Miku yang membuat Luka semakin khawatir.

"Miku, maafkan aku…"

"Bukan salahmu. Sudah lupakan saja. Ini urusanku, bukan urusan siapa-siapa."

Pernyataan Miku barusan membuat Luka sedikit kaget. Ia tidak pernah menyangka masalah Miku bisa segitu beratnya sampai-sampai Miku bersikeras untuk menutupinya. Luka hanya bisa bersabar menunggu keterbukaan Miku. Mungkin sampai sepulang sekolah, pikirnya.

Akhirnya sensei pun masuk ke kelas dan pelajaran selanjutnya pun dimulai.

Jam pelajaran demi jam pelajaran sudah berlalu. Sampai jam istirahat terakhir pun Miku masih tetap menutupi masalahnya. Tapi paling tidak Miku bisa kembali tersenyum lagi walaupun terkesan miris. Akhirnya bel tanda pulang sekolah pun berbunyi.

"Beri salam!"

"Arigatou-sensei!"

Seluruh siswa pun berhamburan keluar kelas. Hanya tinggal Miku, Luka, dan Kaito saja yang masih di dalam kelas.

"Kalian belum mau pulang?" tanya sensei.

"Sebentar saja kok, sensei. Sebentar lagi juga mau pulang," jawab Kaito.

"Hmm… Sebaiknya kalian cepat pulang. Langit sudah mulai mendung. Orang tua kalian pasti mencemaskan kalian," ujar sensei sambil berlalu.

"Hai sensei…" balas Kaito.

Setelah sensei keluar, Kaito mengajak Miku dan Luka untuk pulang bersama.

"Kalian pulang lewat jalan yang mana?" tanya Kaito.

"Rumah kami sama-sama ke arah barat," ujar Luka.

"Sayang sekali, rumahku tidak searah dengan rumah kalian. Tapi tak apa lah, aku bisa pulang sendiri. Jaa nee, Megurine-san, Hatsune-san!" pamit Kaito sambil melambaikan tangannya.

"Jaa nee!" balas Luka dan Miku.

Miku dan Luka pun segera berjalan menuju rumah.

"Luka, boleh aku ke rumahmu sebentar saja?"

"Oh, boleh. Memangnya kenapa Miku?"

"Aku bosan di rumah sendirian. Lagipula kalau bersama Luka, aku merasa nyaman," ujar Miku sambil tersenyum lemah. Wajah Luka langsung bersemburat merah. Tapi begitu melihat wajah Miku yang masih terlihat sedih, ia kembali merasa khawatir.

Akhirnya mereka telah sampai di rumah Luka yang berukuran sedang dan halaman yang tidak terlalu luas, tidak seperti rumah Miku. Tapi berhubung Luki, kakak Luka masih belum pulang kuliah, dan orang tua Luka juga masih belum pulang dari bulan madu mereka, rumah Luka juga masih terlihat sepi. Luka mengambil kunci dari tasnya dan segera membuka pintu rumahnya. Ia mempersilahkan Miku untuk masuk dan duduk di sofa di ruang utama.

"Yap, inilah rumahku. Tapi anggap saja ini rumahmu sendiri. Memang sih tidak sebesar rumahmu, tapi setidaknya aku nyaman tinggal disini," ujar Luka sambil melepaskan kacamatanya dan meletakannya di meja kecil di sebelah sofa. Miku memperhatikan wajah natural Luka dengan seksama. Wajahnya aslinya yang tidak memakai kacamata ternyata lebih cantik daripada yang Miku duga. Ia tersenyum kecil.

"Ada apa? Kok senyum-senyum begitu?" tanya Luka heran.

"Tidak, bukan apa-apa…" ujar Miku berbohong.

Miku kemudian beralih memperhatikan sekeliling rumah Luka. Ia melihat begitu banyak foto keluarga terpajang di dinding rumah Luka dan juga terdapat foto keluarga besar Luka yang terlihat begitu hangat. Foto-foto yang tidak pernah terpajang sama sekali di dinding rumah Miku.

"Kau sebenarnya sangat beruntung Luka," ujar Miku.

"Hmm… ya, aku menyadari hal itu." Luka menundukkan kepalanya.

"Soal yang tadi siang, sebenarnya…" Miku memulai ceritanya. Luka, yang merasa penasaran sekaligus lega karena akhirnya Miku mau terbuka juga, mendengarkan cerita Miku dengan seksama.

"… dulu, waktu aku masih kelas 1 SMP, aku mempunyai sahabat yang setipe dengan Luka. Namanya Haku. Ia selalu menyendiri dan selalu saja menyalahkan dirinya jika terjadi sesuatu yang buruk. Ia juga berhati lembut. Bedanya ia tidak sekuat Luka, ia sering sakit-sakitan," Miku menyampaikan masa lalunya.

"Lalu?"

"Sampai suatu hari, aku dibully oleh para gangster di sekolah seperti kejadian yang kualami kemarin itu. Haku yang lemah ingin melindungiku dari serangan mereka. Ia rela menyerahkan dirinya kepada mereka asalkan mereka mau melepaskan aku dan mereka pun menyetujuinya. Mereka melepaskan aku, tapi sebagai gantinya, Haku lah yang harus menjadi tumbalnya."

Suara Miku mulai bergetar.

"Saat itu aku hanya bisa melihat Haku dipukuli dan dilecehkan tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku ingin berteriak minta tolong, tetapi rasanya tenggorokanku tercekat."

Miku menitikkan air matanya.

"Keesokan harinya Haku tidak masuk sekolah. Aku sudah berkali-kali mencoba menghubunginya dan menanyakan bagaimana kabarnya, tapi ia selalu menjawab tidak apa-apa. Tapi… seminggu setelah kejadian itu… terdengar kabar dari orang tua Haku bahwa Haku telah bunuh diri sehari sebelum aku mengetahuinya. Dan lebih buruknya lagi… aku dilarang orang tuaku untuk pergi ke makam Haku. Aku memang tidak bisa melakukan apapun untuk membalas kebaikan Haku. Aku sungguh tidak berguna!"

Setelah mengungkapkan akhir dari ceritanya tersebut, Miku langsung menangis sejadi-jadinya.

"Miku…" Luka memeluk Miku dengan erat, mencoba menenangkannya. Ia ikut meneteskan air matanya.

"Hiks… Luka, kau terlalu baik untukku. Setiap kali kau berbuat baik kepadaku, kau selalu mengingatkanku pada Haku. Hiks… Kenapa Luka? Kenapa masih ada orang sebaik dirimu di dunia ini?" ujar Miku sambil terus menangis dalam pelukan hangat Luka.

"Tabahlah Miku… Haku sudah tenang di alam sana. Aku tahu memang berat untuk melupakan teman sebaik dirinya, tapi saat ini kau masih punya teman-teman yang baik kan? Seperti aku, Kaito, juga teman-teman yang lain…" ujar Luka sambil mengelus lembut rambut Miku.

"Luka… berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku selamanya," ucap Miku lirih.

"Iya, Miku. Aku janji."

Dan mereka pun tersenyum lembut satu sama lain sambil terus berpelukan. Tapi tanpa mereka sadari, ada orang selain mereka yang terus menguntit mereka dari belakang, entah darimana dan bagaimanaa cara orang itu masuk ke dalam rumah Luka. Orang itu berjalan perlahan dari belakang, menghampiri Luka dan Miku. Ia merentangkan kedua tangannya ke depan, dan dengan cepat menutup kedua mata Luka dengan kedua tangannya itu.

Miku yang terkejut menyadari keberadaan orang asing di rumah Luka itu pun langsung merasa ketakutan dan berkeringat dingin.

"Lu-luka, di belakangmu!"

~~~ To Be Continued ~~~


Review Please! :D