Gomenasai, saya updatenya se-windu sekali. Kadang juga se-dekade sekali -.-

-oo-

CHAPTER 4

-oo-

Disclaimer : Naruto tetep aja punya Pak Masashi Kishimoto and never be mine -.-

WARNING : AU, OOC, Typo, Gaje, Alur Secepat Kereta Express Hogwarts (?), etc

-oo-

".

Seorang pelayan meletakkan pesanan di meja Naruto dan Sakura. Pelayan itu juga memberi sebuah kertas dari Sasuke tadi. Sakura terkejut dan menoleh kearah kanan. Dia malu berat setelah menemukan 2 orang yang di kenalnya.

Pelayan yang tadi juga melakukan hal yang sama pada Ino dan Tenten. Mereka semua menoleh kearah yang dimaksud dalam kertas itu.

"Konbanwa, minna," sapa Hinata tersenyum. Mereka masih shock menemukan Hinata dan Sasuke. Tanpa kertas itu mereka tidak tahu. Tulisan cukup besar di kertas itu berisi ultimatum Sasuke.

Jangan pernah membohongi kekasihku lagi !

Kau pikir aku tak tahu kalau kau mau kencan?

Dan sekarang kami ada di meja nomor 11

Awalnya Hinata tidak setuju, tapi Sasuke meyakinkan. Otak Sasuke mungkin tidak beres karena mau-maunya membuat tulisan itu. Tapi itulah Sasuke, otaknya tak normal karena Hinata. Dan itu malah menjadi satu hal baik. Sasuke tahu mereka kencan setelah dia menguping Neji di sekolah tadi, lalu Hinata bilang jika temannya tak ada yang bisa menemani. Itulah kenapa Sasuke ingin mengerjai mereka. Dan kebetulan mereka ada di di satu tempat dengan kencannya dengan Hinata. Lebih mudah mengerjai.

"Mau bergabung dengan kami?" tawar Sasuke pada mereka karena dia tadi sengaja memilih meja yang besar. Siapapun yang melihat pasangan ini pasti iri. Lihat saja ! Bajunya couple, sama-sama punya wajah rupawan, gadisnya selalu menempel di pundak lelakinya. Sang pria selalu mengeratkan tangannya di pinggang kekasihnya.

"T-teme, kau disini juga?" tanya Naruto melepas canggung. Sekarang Sakura, Ino dan Tenten menunduk malu.

"Sejak kau belum datang, dobe." jawab Sasuke datar

"Mendokusai, baiklah kita gabung saja." ajak Shikamaru dan di ikuti yang lainnya.

"Oi Sasuke, bagaimana kau bisa minta izin pada paman Hiashi?" tanya Neji heran

"Oh itu, aku datang baik-baik jadi di izinkan." Sasuke tersenyum tipis

"Tapi tidak semudah itu minta izin pada ayahnya Hinata." imbuh Shikamaru. Dia tahu karena dulu sering main kerumahnya Neji.

"Uso!" Hinata menekan jidat Sasuke pelan

"S-Sasuke-kun meminta Fugaku-jiisan mengantar sampai rumahku. Agar mendapat izin dari Otou-sama." ucapan Hinata memicu tawa semuanya. Hinata terkikik dan mendapat cubitan Sasuke di pipi Hinata. Wajahnya memerah. Sasuke makin mengeratkan tangannya di pinggang kekasihnya itu.

'Wah, mereka romantis sekali' Lagi-lagi pemikiran yang sama dari Sakura, Ino dan Tenten.

Dari meja yang lain tampak seorang gadis mengamati mereka semua. Kedatangannya di kafe ini benar-benar menguntungkan. Dia menampilkan seringai tajam.

"Tsunade-sama pasti akan terkejut dengan info ini." gumam orang itu dan mengeluarkan ponselnya untuk mengambil foto pasangan muda-mudi itu. "Padahal mereka tak tahu dengan siapa mereka berpacaran."

-oo-

Mereka keluar dari kafe Madara pukul delapan malam. Selanjutnya mereka melanjutkan kencan ke tempat yang berbeda-beda.

"Aku jadi iri pada Sasuke dan Hinata," gumam Tenten terkekeh. Kali ini Neji dan Tenten hanya kencan di taman.

"Sini aku perlakukan seperti Sasuke ke Hinata." Neji menarik tubuh Tenten ke pelukannya. Tenten sedikit terkejut dan merona dengan perlakuan Neji, namun dia balik memeluk Neji.

"Kita juga bisa romantis." imbuh Neji mengecup kening Tenten.

"Tapi mereka sangat cocok. Ne Neji, besok kita beli baju couple ya?" pinta Tenten memohon pada Neji.

"Terserah lah." jawab Neji tersenyum tipis.

"Tapi aku pilih warna pink." balas Tenten manja. Nafas Neji berhenti sebentar membayangkan dia memakai baju berwarna rambut Sakura itu. Dia jadi bergidik ngeri. Tenten menyadari ketegangan Neji dan sedikit menahan tawanya.

"Tenanglah, aku tidak akan beli yang warna pink." Neji akhirnya bisa sedikit lega.

"Tenten~" panggil Neji. Tenten mendongak dan terkejut. Bibirnya langsung menempel pada bibir Neji. Tenten memejamkan matanya membalas ciuman Neji.

-oo-

Naruto mengajak Sakura ke sungai indah di Konoha. Pemandangannya sangat indah dengan air menyemprot dari tepi jembatan. Naruto menarik Sakura dan memeluknya serta memberi ciuman di puncak kepalanya. Sakura tersentak tapi dia langsung tersenyum menenggelamkan wajah meronanya di dada bidang Naruto.

"Aku tak bisa seromantis Sasuke. Dia memang sangat romantis dengan Hinata. Aku merasa iri." kata Naruto sambil terkikik.

"Mereka sangat cocok, apa itu karena mereka sudah melakukannya?" tanya Sakura menerawang

"Melakukan apa?" tanya Naruto polos

"A-ah tidak" jawab Sakura malu-malu dan mengeratkan pelukannya.

"Kurasa aku ingin kencan denganmu terus-menerus." ucap Naruto nyengir. Sakura tersenyum tipis mendengarnya. Naruto melepas pelukan Sakura lalu menangkupkan tangannya di pipi Sakura. Sepertinya Sakura tau apa yang akan dilakukan Naruto, perlahan wajah mereka mendekat dan akhirnya berciuman mesra.

-oo-

"Ne Shika~" panggil Ino

"Mendokusai. Apa pirangku?" tanya Shikamaru. Ino sedikit blushing

"Aku capek sampai kapan kau tidur di pangkuanku hah?" Ino merasa kakinya kesemutan.

"Ck mendokusai~" Shikamaru masih betah di pangkuan Ino. Tapi Ino jadi kesal punya pacar tidak 'sweet'

"Apa cuma aku yang punya pacar yang sama sekali tak ada romantis-romantisnya?" ucap Ino sewot. Shikamaru bangkit dari 'bantal'nya. Dia kaget saat Ino tiba-tiba memeluknya.

"Aku juga ingin di perlakukan seperti Hinata tadi. Sasuke yang dingin saja romantis, masa kamu yang hangat tidak bisa?" ucap Ino merona. Shikamaru sedikit tersipu dengan ucapan Ino.

"Mendokusai~" Shikamaru mengangkat dagu Ino. Pandangan mereka bertemu. Ino takjub dengan mata onyx Shikamaru, begitu pula Shikamaru seperti terhipnotis dengan mata aquamarine milik Ino.

"Kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri, tidak usah iri." Shikamaru menasehati Ino sebelum melumat bibir Ino. Bukit Konoha jadi saksi keromantisan mereka.

-oo-

"S-Sasuke-kun aku tidak nyaman dengan baju yang kau belikan ini." ucap Hinata bergerak tak nyaman. Tadi sore Sasuke memaksa Hinata memakai baju couple yang di belinya.

"Hn, lepas saja." balas Sasuke datar. Hinata yang mendengarnya langsung blushing.

"T-tidak. D-dasar hentai!" kata Hinata menyilangkan tangan di depan dadanya

"Kenapa? Aku sudah melihat dan merasakannya." balas Sasuke menyeringai puas dan mendapat pukulan-pukulan ringan bertubi-tubi di bahunya. Wajah Hinata berubah pias.

"Lagian kita kan sudah melaku-"Hinata kali ini mendaratkan pukulannya lebih keras. Sasuke malah terkikik melihat tingkah Hinata.

"Aku akan melakukannya lagi jika kita sudah menikah." imbuh Sasuke lembut. Hinata menghentikan pukulannya dan dia pun tersenyum.

"A-apa kau yakin sampai bisa menikahiku? A-apa kau akan tetap setia padaku?" tanya Hinata menunduk.

"Aku tidak pernah merasa sebahagia ini, tak pernah segila ini, dan hanya kau Hyuuga Hinata yang bisa membuatku seperti itu." ujar Sasuke seraya memeluk erat Hinata. Wajah Hinata menjadi panas mendengar ucapan Sasuke yang terbilang gombal.

-oo-

Hari ini tanpa kesengajaan Ino, Sakura dan Tenten bisa berangkat bersamaan. Ada rasa canggung lebih tapatnya malu diantara mereka. Tidak ada yang membuka percakapan pagi itu.

"N-ne, apa kita tidak meminta maaf pada Hinata?" Tenten akhirnya buka suara.

"A-ah iya, kita kan sudah membohonginya." sambung Sakura berusaha memecah kecanggungan.

"Ayo kita ke kelas, siapa tahu Hinata sudah datang." Ino ikut mencairkan suasana.

"Hei, itu Hinata sudah datang." Sakura menunjuk kearah depannya diikuti pandangan kedua temannya.

"Hinata, tunggu!" panggil Ino

"E-eh kalian." Sapa Hinata seraya tersenyum.

"Hinata, kami mau minta maaf soal kemarin yang sudah membohongimu." Ujar Tenten dengan muka kusut.

"Kami menyesal, maafkan kami." Sambung Ino dengan muka memelas.

"Iya Hinata, kami tidak berniat melakukannya. Maaf ya." Pinta Sakura tersenyum kecut.

"S-sudahlah aku sudah memaafkan kalian kok, lupakan saja." Balas Hinata tersenyum.

"Kau memang sahabat terbaik kami." Mereka semua berpelukan layaknya teletubies.

"Sebelum masuk kelas, ayo kita ke kantin dulu." ajak Ino gembira

"Yosshhh!" Mereka berempat menuju kantin dengan iringan tawa.

Ting ting ting (anggep aja bel sekolah-sekolah Jepang)

Niat ke kantinpun gagal, akhirnya mereka menuju kelas dengan lesu.

-oo-

"Ah, aku jadi teringat sesuatu." seru Sakura sesaat setelah mendudukkan bokongnya di bangku tempat duduknya.

"Hah, apa?" tanya Ino menaikkan sebelah alisnya. Untung saja pagi ini waktunya Anko-Sensei, jadi mereka bisa ngobrol ataupun bergosip ria karena guru berkucir kuda itu biasa terlambat.

"Sekarang terbuka saja. Gini, aku jadi penasaran siapa sih yang membocorkan kalau kita penyusup waktu itu?" Tanya Sakura sedikit mengerutkan dahinya. Ekspresi wajah Ino sedikit berubah.

"Iya iya, kata Neji waktu aku ketahuan katanya di beritahu anggota rahasianya." Tenten ikutan penasaran.

"K-kalian juga sama? D-dan pada akhirnya dapat hukuman?" tanya Hinata serius diikuti anggukan Sakura dan Tenten, sedangkan Ino hanya diam.

"M-mungkin Shikamaru yang bilang, karena waktu aku ikut reuninya ayah, ternyata temannya ayah itu ayahnya Shikamaru. Dan dia juga disana." Ino agak kikuk mengingat bagaimana dia ketahuan.

"Heeeh! Kok tidak pernah jujur sama kita?" tanya Sakura dengan nada sedikit tinggi.

"Jangan nyalahin aku dong! Lagian kalian juga tidak bilang kalau udah ketahuan trus juga pacaran sama mereka." Ino tak mau kalah dan di salahkan.

"Sudah-sudah, mending cerita aja bagaimana kita bisa ketahuan. Kok tepat sekali kita bisa bareng sama cowok-cowok itu. Nah dari Hinata dulu, bagaimana proses ketahuanmu dengan Sasuke?" Tenten menyenggol pinggang Hinata dengan jahil. Yang di senggol hanya menahan panas di wajahnya.

"E-eto, w-waktu i-itu aku diajak main kerumah sama Mama Mikoto-"

"Siapa Mama Mikoto?" Ino menyela pembicaraan Hinata.

"M-mamanya Sasuke-kun." jawab Hinata malu-malu. Sementara ketiga temannya saling pandang seakan-akan mengartikan 'kok sudah dekat dengan keluarganya'

"W-waktu itu hari ultahnya Itachi-niisan, t-tapi Sasuke malah mengajakku ke kamar lalu dia mendapat p-pesan dan a-akhirnya ketahuan." sambung Hinata menjelaskan dengan memegangi pipinya. Tak luput, ketiga temannya juga merasa sedikit hangat mengingat mereka tahu apa yang di lakukan Hinata dan Sasuke meski hanya menguping pembicaraan Hinata di telepon.

"B-bagaimana denganmu, Sakura-chan?" tanya Hinata menyadarkan mereka bertiga.

"Kalau aku sih tanpa sengaja bertemu Naruto di toko baju. Aku juga di belikan baju yang aku pakai semalam itu. Kalian tahu tidak, ibunya Naruto itu sangat cantik. Ayahnya juga sangat tampan, jauh lebih tampan dari Naruto." Sakura menjelaskan dengan menutup matanya dan tersenyum sendiri lalu meneruskan ceritanya

"Lalu aku diantar Naruto pulang tapi kami mampir dulu ke bioskop dan disitulah aku ketahuan." tambah Sakura tanpa menghilangkan senyuman ataupun semu merah di wajahnya.

"Hei jidat wajahmu merah tuh." goda Ino pada Sakura dan mendapatkan pukulan bogem Sakura.

"Tenten, giliranmu." ucap Sakura tersenyum lebar, menurutnya sangat menyenangkan mengetahui rahasia teman-temannya.

"Waktu itu aku baru saja mengambil peralatan ninja yang aku pesan, tiba-tiba Neji berhenti di depanku dan memberi tumpangan. Kelihatannya dia mau ke suatu tempat tapi pada akhirnya dia ikut kerumahku. Di rumahku lah aku ketahuan bahwa aku penyusup." ujar Tenten sedikit tersipu.

"M-mungkin Neji-niisan akan menjemputku di rumah Sasuke-kun." sahut Hinata sedikit berpikir.

"Untung saja ada Tenten, kalau tidak mungkin kekasihmu sudah hancur karena kakakmu, Hinata." Ino terkikik.

"Tapi sepertinya hati kakakmu luluh pada gadis bercepol ini." Sakura terkekeh mendapati Tenten merona. Hinata tertawa kecil.

"Nah, sekarang si biang kerok. Ayo jelaskan, awal semua ini kan darimu babi." timpal Sakura pada Ino. Ino sendiri menatapnya sebal.

"Hah, baiklah. Aku ikut reuni teman lama ayah, awalnya aku tidak mau sih. Waktu sampai di tempat reuni, aku kaget bukan main karena dari belakang aku menemukan Shika sedang duduk disana. Dasarnya Shika itu berotak encer, dia memancing ayah. Yah, kalian juga tahu kalau ayah memberitahu dimana aku sekolah dan genk ANBU ini." hanya Ino yang tidak merona menceritakan kronologinya.

"Apa dia menciummu di depan ayahmu, Ino?" goda Sakura yang sukses membuat Ino blushing.

"Lihat, wajahmu seperti kepiting itu loh." Sakura tertawa, dia senang bisa membalas perkataan Ino tadi. Ino hanya merengut diikuti iringan cekikikan dari Tenten dan Hinata.

"Hei, sebelum dia menceritakan kalau sebenarnya aku ini penyusup, aku bawa dia menjauh. Gimana kalau dia bilang sama ayah dan teman-teman ayah, reputasi sekolah kita dan juga kita sendiri kan hancur." cerocos Ino yang aslinya cerewet.

"S-senang bisa mendengar kalian bercerita yang sebenarnya." balas Hinata tersenyum tipis.

"Lalu bagaimana dengan misi kita?" tanya Tenten seperti ketakutan. Semua terdiam, membayangkan betapa mengerikannya kepala sekolah mereka itu.

"Sakura, Hinata, Ino, Tenten. Kalian ditunggu Tsunade-sama di ruang ANBU." ucap seseorang tiba-tiba. Mereka berempat menoleh dan segera bergegas.

"Baik. Kami permisi dulu Anko-Sensei." ujar Sakura berpamitan diikuti ketiga temannya.

-oo-

Empat orang siswa tampak malas mengikuti pelajaran. Lihat saja! Shikamaru tertidur, Sasuke melipat tangan di dadanya dengan tatapan 'mayat', Neji menyisir rambut dan Naruto bermain game di ponselnya. Gurunya terlihat nyentrik dengan balutan baju berwarna hijau itu masih asyik berolahraga sendiri. Sedangkan siswa yang lain sudah kewalahan mengikuti gerakan dari penasehat kepala sekolah itu. Kecuali satu orang siswa yang disebut-sebut anak dari Guy-Sensei, Rock Lee.

"Aaaaaa!" semua menoleh ke sumber suara, termasuk Shikamaru yang terbangun karena teriakan itu.

"Ada apa Naruto?" tanya Guru Guy setelah menyelesaikan senam angsanya, ini nih guru paling nyeleneh.

"A-ah, bukan apa-apa sensei." jawab Naruto nyengir lebar.

"Ya sudah kalian boleh istirahat." perintah Guy-sensei pada anak didiknya.

"Oi Naruto kau tadi kenapa?" tanya Kiba yang tiba-tiba duduk di dekatnya.

"Mendokusai~ Pasti dia kalah tuh!" celetuk Shikamaru sambil memejamkan matanya kembali.

"Ihihihi, Shikamaru kau benar sekali." Naruto malah cekikikan.

"Dasar dobe! Baka dobe!" ucapan Sasuke bikin Naruto jengkel.

"Dia benar Naruto, kau ini payah!" tambah Kiba mengejek.

"Kau sendiri lebih payah Kiba, dasar pecinta anjing rabies." balas Naruto tak mau kalah. Begitupun seterusnya mereka beradu mulut. Kiba itu sering disebut bahwa dia kembarannya Naruto, muka tak serupa tapi tingkat kecerewetannya sama.

"Kalian ini, ramai terus. Berisik! Aku mau ke kantin." ujar Neji berintonasi mirip Sasuke, datar.

"Tunggu Neji." cegah Sasuke pada Neji

"Hm, apa?"

"Bagaimana jika gadis kita mengetahuinya?" pertanyaan Sasuke sukses membuat semua orang yang mendengarnya melongo.

"Apa maksudmu?" tanya Neji sedikit mengalihkan pandangannya.

"Kita semua tahu bahwa kita-"

"Rahasiakan apa yang seharusnya menjadi rahasia." tukas Neji memotong pembicaraan Sasuke

"Mendokusai~ ini juga menyangkut adikmu." sambung Shikamaru mengikuti arah pembicaraan mereka., sementara Naruto dan Kiba masih cengo.

"Sebenarnya aku tak ingin Sasuke membohonginya, tapi demi kebaikan, apa boleh buat. Karena akupun sama halnya dengan kalian." jawab Neji seadaanya. Sasuke menghela nafas.

"Aku sendiri sebenarnya tak mau ada kebohongan dalam hubungan, sayang sekali kita semua melakukannya. Mendokusai~" Shikamaru menghela nafas pelan kemudian berjalan kearah Neji. Mereka berdua akhirnya bersamaan menuju kelas tanpa meneruskan niat ke kantin.

"Aaa, ternyata yang kalian bahas masalah itu ya. Aku juga takut jika Sakura-chan mengetahuinya. Aku terlanjur jatuh cinta padanya. Aku hanya mencintainya." Naruto menjambak rambutnya penuh frustasi.

"Baka dobe, otakmu saja tak pernah merespon pembicaraan kami." Tak berapa lama Sasuke pun mengikuti jejak dua rekannya tadi. Naruto yang masih gelisah akhirnya melangkahkan kakinya menuju kelas juga.

"Oi kalian jangan seenaknya meninggalkan aku." Ucap Kiba marah-marah lantaran mereka seakan-akan tak menganggapnya.

Sesampainya di kelas, Naruto masih bergumam sendiri. Ketiga sahabatnya hanya memutar bola mata mereka.

"Bagaimana ini, bagaimana ini, aaa! Tidak mungkin mereka memberitahunya."

"Tenanglah dobe, mereka tak akan tahu." Sasuke mulai kesal dengan Naruto jika sudah frustasi

"Benar juga, mana mungkin mereka tahu." tambah Neji sedikit menerawang

"Sungguh, aku sama sekali tak menyukai yang pertama itu. Tapi aku yakin jika kali ini aku benar-benar jatuh cinta." ujar Sasuke serius

"Memang dulu kita hanya bermain-main tanpa ada perasaan, tapi kali ini aku merasa berbeda." balas Neji

"Aku benar-benar mencintai Sakura. Shikamaru, Sasuke, Neji kalian hanya mencintai kekasih kalian saat ini kan?" tanya Naruto berapi-api. Ketiga temannya hanya mengangguk dengan keringat dipelipis mereka karena tingkah Naruto.

"Baiklah, ayo kita buat kesepakatan dengan yang pertama." tambah Naruto masih dalam mode 'berapi-api'

"Berurusan dengan gadis itu sungguh merepotkan." ucap Shikamaru sesaat sebelum tertidur.

-oo-

Di ruang ANBU, para gadis gelisah menunggu pimpinan mereka. Pintu terbuka, terlihat seorang wanita berambut pirang panjang memasuki ruangan itu.

"Bagaimana hasil penyelidikan kalian?" pertanyaan yang dari tadi mereka khawatirkan akhirnya di lontarkan juga

"Gomenasai Tsunade-sama, kami belum mendapat informasi apapun." jawab Sakura tegas namun sebenarnya sangatlah gugup

"Tak biasanya kalian pulang tanpa hasil." tanya Tsunade menaikkan sebelah alisnya. Semua menelan ludah dengan berat.

"A-ano, disana pengawasannya cukup ketat. Beri kami waktu lagi Tsunade-sama." Tenten menjawab sekenanya.

"Aku tak tahu dengan kalian kali ini, tapi sepertinya kalian mempunyai suatu rahasia." Tsunade memicingkan matanya.

"Tidak Tsunade-sama, dalam misi kali ini kami cuma kurang berusaha keras. Kami akan memperbaiki usaha kami." ucap Ino mantap walau tangannya sudah gemetar cukup kentara.

"Baiklah, aku beri kalian waktu 3 hari lagi. Dan sekarang kalian boleh pergi dari sini." ujar Tsunade pada anak didiknya. Keempat gadis tersebut langsung keluar ruangan yang penuh intimidasi itu.

"Hmm, sepertinya ada yang aneh dengan mereka." gumam Kepala Sekolah KGG itu.

"Kurasa sudah saatnya tim yang lain mengirimkan informasi."

Tok Tok Tok

"Masuk."

"Saya mendapatkan informasi, Tsunade-sama." ucap seorang gadis yang pernah mengamati kencan Hinata dkk waktu itu.

"Tentang apa?" tanya Tsunade antusias

"Tentang tim kedua anda." jawab gadis itu, Tsunade hanya manggut-manggut

"Oh begitu, baru saja aku akan memanggilmu. Apa yang kau dapat?" tanya Tsunade penuh keingin tahuan. Gadis itu menyodorkan ponselnya. Tsunade sedikit terkejut.

"Jadi mereka malah berpacaran ya," ucap Tsunade sambil mengetuk dagunya lalu raut wajahnya terlihat sedikit berubah.

"Bukankah mereka ini-"

"Benar Tsunade-sama." perkataan Tsunade sudah di serobot gadis itu

"Kurasa para gadis tak tahu yang sebenarnya." ujar Tsunade menganalisis

"Ternyata kalian lengah hanya karena para lelaki. Kupastikan mereka mengetahui kebenarannya." imbuh Tsunade dengan sedikit seringai.

"Apa tidak apa-apa, Tsunade-sama?" tanya gadis itu

"Aku tidak ingin mereka gagal seperti pasukanmu. Dan lagi-lagi para lelaki itu yang menggagalkannya." Gadis di hadapan Tsunade hanya diam seribu bahasa.

"Terimakasih infonya, kau boleh keluar. Dan tolong panggilkan Shizune." perintah Tsunade.

"Baik." Seketika gadis itu pergi meninggalkan ruang tersebut.

"Tak kusangka, tim Sakura pun juga jatuh cinta pada para lelaki yang juga meluluhkan hati tim pertama." gumam Tsunade sambil memijit keningnya.

Tok Tok Tok

"Masuk!"

"Ada apa Tsunade-sama?" tanya wanita berambut hitam pendek.

"Shizune, kita harus membuat rencana baru." terang Tsunade tanpa basa-basi

"Apakah Sakura dan yang lainnya juga sama seperti tim terdahulu?" tanya Shizune serius. Tsunade hanya mengangguk.

"Dan kau tahu, mereka juga para lelaki yang sama." Shizune terlihat sekali kalau dia sedang kaget.

"Aku mengirim pasukan kedua dan ternyata sama mengecewakannya dengan yang pertama."

"Lalu apa rencana anda?" tanya Shizune sedikit tertahan

"Ini akan lebih mudah untuk menjebak mereka. Hahaha." Tsunade menjadi sedikit mengerikan di mata Shizune, dia hanya bergidik.

"Kita juga meminta tim pertama mengikuti rencanaku." tambah Tsunade menyeringai

"Tapi Tsunade-sama apa tidak keterlaluan?" Shizune bertanya dengan keraguan.

"Tidak. Ini cukup memberi pelajaran para gadis. Biarkan mereka merasakan sakit karena lelaki." ucap Tsunade tersenyum penuh kemenangan.

-oo-

"Moshi-moshi."

"Hari ini kau sibuk?"

"Tidak, apa kita akan kencan?"

"Tidak juga, aku hanya ingin meneleponmu."

"Dasar rusa tak tahu diri. Huhh, kau ini menyebalkan."

"Dan kau juga merepotkan." Ino hanya mengumpat mendengar ucapan kekasihnya itu.

"Tapi karena itulah aku mencintaimu." Ino yang awalnya ingin marah-marah entah kenapa mendapat sedikit gombalan Shikamaru dia malah menjadi malu-malu.

"A-aku juga mencintaimu." balas Ino bersemu merah.

"Gadis itu mudah sekali terkena rayuan, mendokusai~" Wajah Ino tambah memerah, bukan karena malu-malu tapi kali ini karena marah.

"Apa katamu Shikamaru? Berarti kau tidak benar mencintaiku? Iya kan? Jawab Shikamaru? Jawab?" teriak Ino di telepon hampir saja tangisnya meledak.

"Tenang Ino, aku benar mencintaimu, sungguh." Gelagat Shikamaru menunjukkan kalau dia sedang bingung berusaha menenangkan Ino yang mulai marah-marah. Padahal salahnya sendiri membuat Ino marah.

"Uso, usooooo!" Ino langsung menutup teleponnya dan kembali bersama teman-temannya.

"Ada apa Ino-chan?" tanya Hinata lembut. Mereka semua menghentikan langkah kakinya.

"Mukamu kusut sekali Pig, ada masalah?" ganti Sakura yang bertanya

"Shikamaru ya?" Tenten pun ikutan bertanya pada gadis berambut blonde itu. Ino hanya mengangguk pelan

"Aku tak yakin Shikamaru itu mencintaiku." ucap Ino menahan tangisnya.

"Tenanglah Ino, dia-"

"Hei, mau bareng?" Semua menoleh ke arah suara di belakang mereka. Mereka sedikit kaget terutama Ino.

"S-Shika?" panggil Ino masih kaget

"Mau pulang bareng?" tanya Shikamaru tersenyum tipis, kali ini dia berjalan mendekati Ino.

"T-tapi bagaimana bisa kau ada disini?" Ino balik bertanya seolah tak percaya kekasihnya ada di hadapannya.

"Aku sudah mengikutimu sejak aku meneleponmu dan aku hanya mengetesmu tapi aku tak tahu jika ternyata membuatmu sedih. Maaf." jawab Shikamaru sambil mengalihkan pandangannya.

"Shikaa~" Mata Ino berbinar-binar, rasa marah dan kesal di hatinya berubah menjadi perasaan senang. Tanpa aba-aba Ino memeluk lengan kekasihnya dan berjalan mendahului teman-temannya.

"Oh iya, maaf ya, sepertinya aku tak bisa pulang bareng kalian." ucap Ino senang dan menjulurkan lidahnya pada Sakura. Sakura hanya mencibir.

"Awas kau yaa." jari-jari Sakura sudah gemertak dan membuat Ino tertawa sambil berlari menggandeng Shikamaru.

"Mendokusai~" Shikamaru hanya pasrah mengikuti Ino, dia melihat Ino saat tertawa dan baginya itu sangat menyenangkan.

Tenten, Hinata dan Sakura kembali meneruskan perjalanannya. Sebenarnya hari ini mereka sepakat untuk berjalan bersama tapi sepertinya Ino sudah tidak menyepakatinya.

Kring Kring

Ponsel Tenten berbunyi cukup keras, mode silentnya sudah di ganti semenjak di depan gerbang sekolah tadi.

"Ya ada apa Neji?" tanya Tenten to the point. Berbeda dengan Ino yang menjauh, Tenten tetap menjawab teleponnya di dekat Hinata dan Sakura

"Apa Sakura bersamamu?" Tenten sedikit tak suka dengan pertanyaan Neji.

"Kenapa?" tanyanya sewot

"Tenang, aku bersama Naruto. Kita pulang bareng ya?" pinta Neji

"Tidak bisa, hari ini kita udah janjian pulang bareng kok." tukas Tenten

"Dan bagaimana jika kita sudah di belakang kalian?" Tenten segera menoleh dan menemukan dua sosok yang dimaksud berada agak jauh di belakang mereka. Dan mulai berjalan mendekat.

"Tenten, kenapa?" tanya Sakura heran lalu dia mengikuti arah pandangan Tenten. Dia sendiri juga sangat terkejut.

"Hai~"

"Hm~"

"N-Naruto?"

"N-Neji?" ucap Sakura dan Tenten bersamaan kemudian saling pandang. Sedangkan Hinata hanya diam saja.

"Kalian kok juga ada disini?" tanya Tenten heran.

"Hihihi, kejutan bukan?" kata Naruto tak lupa dengan cengiran lebarnya.

"Ayo pulang bareng." ajak Naruto langsung saja

"Tidak mau, bagaimana Hinata nanti, kau mau tanggung jawab jika-"

"Daijoubu, Sakura-chan, Tenten-chan kalian pulang saja bersama Neji-niisan dan Naruto-kun." potong Hinata seraya tersenyum.

"Tapi-"

"Tenang Tenten, adikku ini orang yang kuat kok." ucap Neji sambil mengelus puncak kepala Hinata.

"Kita pulang dulu ya. Gomen ne Hinata." pamit Sakura, dia sebenarnya tak enak dengan temannya itu. Hinata hanya mengangguk.

"Kita juga ya." Tenten pun merasa tak enak hati dengan Hinata. Mereka melanjutkan jalan masing-masing. Namun Hinata masih belum beranjak dari tempatnya.

"Kalian ini bagaimana? Masa ninggalin Hinata?" omel Sakura pada Neji dan Naruto.

"Tenang saja Sakura-chan, pasti teme juga menyusulnya." jawab Naruto santai.

"Hari ini kenapa kalian mengikuti kami?" giliran Tenten yang bertanya pada dua lelaki itu.

"Apa tidak boleh pulang bareng?" Neji balik bertanya.

"Tapi kita kan tak searah."

"Itu bukan urusan, aku hanya ingin pulang bareng." Sekarang dua gadis itu terdiam.

"Haaa, aku lupa, Naruto ayo kembali, kita kan harus belok disana!" teriak Sakura tiba-tiba menarik lengan Naruto dan mengajaknya berlari.

"Ahhh kau benar Sakura-chan." Naruto juga ikut berteriak.

"Tenten, Neji, kita pisah disini yaa?" Sakura berteriak dari kejauhan. Naruto hanya tersenyum pada mereka. Neji dan Tenten hanya tertawa kecil melihat tingkah teman-temannya.

Sementara itu, Hinata masih berjalan sendirian. Dia merasa kesal karena dia pulang sendiri, iri rasanya melihat teman-temannya pulang bareng kekasih masing-masing. Tanpa sengaja dia menghentak-hentakkan kakinya. Dia berpikir kalau Sasuke juga mengikutinya namun sampai sekarang belum menemukan keberadaan kekasihnya itu. Hinata mengambil ponselnya karena menyadari ada getaran. Wajahnya ceria melihat ternyata Sasuke yang menelepon. Dia berharap akan mendapat kejutan seperti ketiga temannya.

"M-Moshi-moshi Sasuke-kun." ucap Hinata bahagia

"Hinata, aku tak bisa memberimu kejutan pulang bareng seperti yang lain."

"K-kenapa?" tanya Hinata kecewa. Kekecewaannya kentara sekali.

"Gomen, aku sedang sibuk." jawab Sasuke dengan nada sedikit berat.

"D-daijoubu." kata Hinata lemah

"Jaga dirimu di jalan, hati-hati."

"Iya~" sambungan telepon terputus bersamaan dengan Hinata menghela nafas.

GREPP

"Emmphh, Emmpphh." Tiba-tiba Hinata disergap dari belakang, mulutnya di bungkam dengan tangan orang yang menyergapnya. Hinata meronta tapi tak berhasil lepas dari orang itu.

-oo-

TBC

-oo-

Makin kesini makin gaje aja nih -.-

Udah updatenya lama, nggak memuaskan lagi. Nyebelin nggak tuh XD

Sulit banget nulis nggak pakek humor, yah satu ato dua pasti nyelip lah huahaha

Kira-kira siapa saja sih tim/pasukan pertama itu? Hayo di jawab, ntar nggak dapat hadiah kok XD

Trus siapa yang menyergap Hinata? Hmm, siapa ya, apa iya Donald Trump XD *plak

Ripiu dong, udah lama nggak dapat review nih *KawaiiNoJutsu *Buumm

Arigatou, Review onegaishimasu ^_^