Haru Princess Vs Cool Prince
.
.
.
.
.
.
.
Uchiha Sasuke, Haruno Sakura
.
.
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
.
.
.
DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN! JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DLDR!
Selamat Membaca!
"Sakura?"
"..."
"Oi, Sakura!"
Sakura mengangkat kepalanya dari ponselnya dan memandang kakaknya yang sedang memandangnya.
"Ada apa, nii-chan? Nii-chan menggangguku."
"Kau itu, dari kemarin tidak berbicara apapun padaku dan terus memainkan ponselmu."
"Nii-chan mau membicarakan apa?" tanya Sakura.
"Pertama, kemana ponselmu? Kenapa Sasuke memberikan ponsel baru padamu?"
"Oh." Sakura mencoba berfikir. Dia tidak mungkin mengatakan jika ponselnya tinggal nama karena diinjak oleh kekasih gadungannya itu. "Ponselku hilang saat di sekolah, lalu Sasuke-kun membelikan yang baru untukku."
"Mattaku, kenapa kamu tidak mengatakannya pada nii-chan?"
Sakura tertawa garing, dia tidak tahu harus merespon seperti apa.
"Tapi, Sasuke-kun itu baik, ya." Mebuki muncul membawakan dua gelas susu hangat. "Dia mau repot-repot membelikan ponsel untukmu."
"Bukankah seharusnya pacar yang baik seperti itu ya, Kaa-chan?" Sakura membayangkan bagaimana menyebalkannya Sasuke di matanya.
"Hai', Hai', bukannya kamu harus mengerjakan tugas rumahmu?" tanya Mebuki. "Habiskan susu milikmu dan segera kerjakan tugas rumahmu."
"Hai'."
.
.
"Dia tidak seburuk yang aku pikirkan."
Sakura memandang Ino yang sibuk dengan ponselnya. Dia menggerakan jari jemarinya dengan cepat dan tiba-tiba berteriak seorang diri. Dalam hati Sakura menggumam, apakah gamers seperti Ino semua atau memang sahabatnya itu yang keterlaluan lebaynya, ya?
"Apa maksudmu?"
"Dia kemarin menanyakan kenapa kamu marah. Lalu, aku mengatakan jika ponselmu berisi data yang penting tentang ayahmu."
"Lalu, apa kamu mengatakan soal keluargaku?" tanya Sakura.
"Tidak." Ino meletakan ponselnya. "Mana mungkin aku mengatakan hal itu padanya. Aku tidak mungkin membongkar rahasia sahabatku sendiri."
Dan satu pelukan didapatkan Ino saat itu juga.
.
.
Sasuke menarik napas panjang dan memandang keluar jendela kelasnya. Dia teringat dengan pembicaraannya dan kakaknya, tentang keluarga Haruno. Dia tidak tahu, jika Sakura adalah salah satu anak broken home. Tidak. Dia dan Sakura sama, tetapi nasibnya lebih beruntung dari Sakura.
.
"Aniki, kamu mengenal Haruno Sasori, bukan?" tanyanya. "Ceritakan tentang ayah mereka."
"Kenapa kamu ingin tahu tentang ayah mereka?" Itachi duduk di samping adiknya. "Jangan bilang kamu menyakiti Sakura-chan?"
Sasuke mengalihkan pandangannya. Dia terlalu gengsi untuk mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi jika dia tidak mengatakan yang sesungguhnya pada kakaknya, dia yakin jika kakaknya akan mengejarnya hingga ujung dunia sekalipun.
"Aku merusak ponsel Sakura."
"Hah? Kau merusaknya?"
"Aku melihat pesan dari seseorang lelaki di ponsel Sakura, entah mengapa aku langsung menginjaknya hingga hancur berkeping-keping."
Dia membuka laci di meja nakasnya dan mengeluarkan ponsel milik Sakura yang hancur berkeping-keping.
"Lalu, apa hubungannya dengan ayah Sakura?"
"Ino bilang, jika ponsel itu berisi tentang data penting ayah mereka. Aku tidak bisa menghilangkan apa yang dikatakan Ino dan itu menyebalkan."
Itachi tidak bisa menahan senyumnya dan mengusap rambut Sasuke dengan lembut. Dia ingin tertawa terbahak-bahak namun dia mengurungkan niatnya. Bisa-bisa Sasuke akan mencekiknya dan nyawanya akan hilang dalam sekejap. Jadi, adiknya itu sedang merasa bersalah, heh?
Tetapi, tsunderenya itu yang membuat Itachi ingin tertawa terbahak-bahak. Dia pikir, saat adiknya memiliki seorang kekasih. Sikap dingin dan menyebalkannya itu akan hilang. Namun malah sebaliknya yang terjadi.
"Sakura dan dirimu tidak berbeda jauh. Kita sama-sama berasal dari keluarga Broken Home."
Sasuke membulatkan matanya, dia memandang kakaknya dengan pandangan tidak percaya.
"K-kau bercanda, kan?"
"Untuk apa aku bercanda? Ayah mereka suka sekali mabuk-mabukan dan main perempuan. Ayahnya pengangguran dan tidak bisa mencukupi kehidupan mereka, Sasori selalu menjadi korban kekerasan luapan emosi ayah mereka hingga akhirnya, ayah mereka pergi untuk meninggalkan mereka.
Mungkin jika Sasori akan merasa lega, tetapi Sakura masih sangat kecil. Dia membutuhkan kasih sayang seorang ayah dan baginya, ayahnya pergi bukan karena hal itu. Namun, ketika dia mengetahui kebenarannya, dia membenci ayah mereka.
Pernah suatu hari, ayah mereka datang dan Sakura mengamuk. Aku tahu, jika Sakura sangat membenci ayahnya, tetapi dia tidak bisa untuk membenci ayahnya."
Sasuke meremas ponsel milik Sakura yang hancur berkeping-keping sebelum membulatkan tekadnya.
.
.
.
"Sakura, pangeranmu sudah menunggu."
Sakura yang sedang memasukan bukunya ke dalam tasnya menolehkan kepalanya. Dia bisa melihat Sasuke berdiri di depan kelasnya.
"Kalau begitu aku duluan, Ino. Jaa-"
Berlari menghampiri kekasihnya, mereka pulang dengan jalan beriringan. Sasuke mengeluarkan sebuah koin dan memberikannya pada Sakura.
"Aku haus, belikan aku minum."
"Hah?"
"Cepatlah. Aku haus."
Sakura mengambil koin dari tangan Sasuke dan membalikan badannya. Dia pikir Sasuke sudah berubah setelah memberikannya ponsel, ternyata masih sama saja. Dia hanya dianggap sebagai pesuruh, menyebalkan.
Menuju mesin minuman yang berada lumayan jauh. Sakura mencoba menekan tombol jus tomat, namun dia tidak sampai. Tombol itu terlalu tinggi hingga membuatnya tidak sampai menyentuhnya.
"Ah menyebalkan!" Sakura menggaruk belakang kepalanya. Sasuke suka sekali jus tomat, dia pasti tidak mau tahu alasannya dan akan ngambek. Jika Sasuke ngambek, itu akan terasa menyeramkan.
"Ingin ini, nona?"
Sebuah tangan menekan tombol jus tomat dan minuman yang diinginkannya keluar. Sakura memandang seorang pemuda yang berdiri di sampingnya dengan senyum lima jari miliknya.
"Terima kasih.."
"Oh, namaku Naruto. Uzumaki Naruto!"
Sakura memperhatikan pemuda itu. Naruto tampak sedikit urakan dengan rambut kuning jabrik miliknya yang diberi ikat kepala. Baju seragamnya dikeluarkan dan dua kancing teratas kemejanya dilepas. Dimatanya, Naruto tampak seksi.
"Namaku Haruno Sakura."
"W-whoah!" Naruto menunjuknya dan membuatnya terkejut. Dia memandang sekelilingnya. Takut-takut jika ada orang aneh yang menyelinap.
"A-ada apa, Naruto-san?"
"Kau dari Konoha High School?"
"Heh?"
Sakura memiringkan kepalanya. Dia pikir, Naruto yang heboh seperti itu akan berteriak maling. Ternyata, bertanya soal sekolahnya. Dia sudah parno duluan dan ternyata itu hanya hal sepele.
"Aku juga memiliki sahabat yang bersekolah disana. Apa kamu mengenal-"
"Kenapa lama sekali, Sakura?"
Menolehkan kepalanya, Sakura bisa melihat Sasuke yang berjalan mendekat.
"Sasuke-kun? Maaf, aku sudah membelikanmu jus tomat." Sakura menghampiri Sasuke dan memberikan kaleng minumannya.
"Lama sekali."
"Maaf, aku kan sudah minta maaf."
Naruto yang berdiri tidak jauh dari mereka terdiam. Tangannya perlahan terangkat dan menunjuk kearah Sakura, sejenak Sakura merasa ketakutan.
"Te-teme?!"
"Dobe?"
Naruto berlari menghampiri Sasuke dan langsung merangkul pundaknya.
"Kau tidak pernah menghubungiku, Teme! Sombong sekali!"
"Untuk apa aku menghubungimu, dobe?"
"Teme.. dobe.."
Mereka berdua menatap Sakura yang terdiam di tempatnya. Naruto menatap Sakura dengan pandangan bertanya sedangkan Sasuke dengan pandangan tidak mengerti.
"Wahahahahaha! Julukan macam apa itu? hahahha! Kalian seperti sepasang homo yang serasi!"
Sasuke merasakan wjaahnya memanas dan menatap Sakura dengan pandangan membunuh miliknya. Sedangkan Sakura mundur selangkah demi selangkah ketika melihat pandangan menakutkan milik Sasuke.
"A-aku hanya bercanda, hehehe. Sungguh." Sakura menatap Naruto. "Na-Naruto-san, tolong aku."
"Tunggu dulu. Kalian pacaran?" tanya Naruto.
"Eh?" Sakura mengedip-ngedipkan matanya.
"Tidak. Dia hanya pembantuku."
"Jahat sekali, Teme! Jangan menyebutnya pembantumu hanya karena dia mengataimu seorang homo."
"Urrusai!"
Sakura merasakan perutnya terasa melilit. Dia ingin sekali tertawa dengan keras melihat bagaimana ekspresi Sasuke dan panggilan alay milik keduanya.
"Pe-perutku sakit."
"Rasakan itu!"
Naruto memandang Sasuke dan Sakura secara bergantian. Dia belum pernah melihat Sasuke seperti ini, mungkin dia akan menanyakannya pada Sakura nanti. Karena tidak mungkin, dia menanyakannya pada Sasuke. Karena dia yakin, pangeran tsundere itu tidak akan menjawabnya dengan jujur.
"Teme, temani aku main game. Aku ingin main pachinko."
"Tidak mau."
"Ayo, temani aku!" Naruto menyeret Sasuke dan menolehkan kepalanya. Dia tersenyum lebar kepada Sakura. "Aku pinjam si bodoh ini dulu, Sakura-chan! Jaa-nee!"
Sakura melambaikan tangannya dengan senyum lebarnya. Akhirnya, pacar jadi-jadiannya itu pergi. Dia tidak bisa membayangkan jika hari ini disuruh membawa tas milik Sasuke yang beratnya setengah mati.
Dia merasa Naruto seperti malaikat yang menolongnya dari raja neraka.
.
.
Sakura memutar-mutar bolpointnya dan menutup bukunya. Besok dia ada ulangan biologi dan dia harus belajar, tetapi entah mengapa rasa malas menghampirinya. Matanya memandang ponselnya dan tiba-tiba rasa isengnya kembali kumat.
Dia menghidupkan ponselnya dan mengetikan sebuah pesan.
Haruno Sakura : Yo Teme, sedang apa? :v
"Pfftt.." Sakura memegang perutnya yang terasa sakit. Masih terbayang jelas bagaimana keduanya terlihat seperti sepasang homo yang serasi. Apalagi dia bisa melihat ekspresi malu Sasuke yang sangat langka.
Ponselnya bergetar dan Sakura membaca pesan yang masuk.
Uchiha Sasuke : Aku akan membunuhmu besok!
Tawanya terdengar keras ketika membaca pesan balasan Sasuke. Dia bisa membayangkan ekspresi marah milik kekasih gadungannya. Rasanya dia memiliki kebiasaan baru untuk menggoda Sasuke.
"Sakura? Kamu baik-baik saja?"
Pintu kamarnya diketuk dan dia bisa mendengar suara kakaknya.
"Aku baik-baik saja, nii-chan." Sakura menyeka air mata di sudut matanya.
"Ada seseorang yang mencarimu."
Sakura mengedip-ngedipkan matanya.
"Mencariku?"
.
Sakura berjalan keluar kamarnya dan menemukan seseorang berdiri di depan pintu rumahnya. Pemuda berambut kuning dengan posisi membelakanginya. Dia menjadi sedikit waspada dan berjalan mendekatinya.
"Siapa?"
Naruto menolehkan kepalanya dan tersenyum lima jari pada Sakura.
"Yo, Sakura."
"Naruto?! Kau membuatku terkejut saja!" Sakura mengelus dadanya. "Ada apa?"
"Aku hanya ingin berbicara denganmu." Naruto tersenyum. "Bagaimana dengan kedai ramen paman Teuchi?"
"Boleh. Aku akan mengambil jaketku dulu." Sakura mengambil jaketnya dan memandang kakaknya yang sedang menonton televisi. "Nii-chan, aku akan ke kedai ramen paman Teuchi sebentar. Aku akan kembali."
"Hati-hati, Sakura."
Sasori mengikuti adiknya yang pergi menjauh. Akhir-akhir ini adiknya sering sekali pergi dengan lelaki tampan. Terkadang dia menjadi khawatir dengan adiknya.
.
"Paman! Ramen porsi besar dengan ekstra daging!" Naruto berteriak. "Jadi, kamu mau apa, Sakura-chan?"
"Tidak usah, Naruto. Aku tidak lapar."
"Oh, baiklah jika begitu."
Ramen pesanan Naruto datang dan pemuda berambut jabrik itu langsung memakannya.
"Oh ya, Naruto. Bagaimana kamu bisa tahu rumahku?" tanya Sakura.
"Apa sih yang aku tidak tahu." Naruto tersenyum bangga. "Sakura-chan, apa hubunganmu dengan Sasuke?"
"Oh, hubunganku?" Sakura menopangkan dagunya. "Kenapa kamu tidak tanyakan pada Sasuke-kun saja?"
"Itu tidak mungkin. Dia tidak akan mungkin jujur padaku."
"Ceritanya panjang Naruto," ucap Sakura. "Aku hanya berpacaran pura-pura dengan Sasuke-kun."
"Hah? Masa? Aku tidak percaya." Naruto memandang Sakura. "Padahal kamu sangat cantik, Sakura-chan. Kamu terlihat sangat cocok dengannya."
"Tapi, sepertinya aku sungguhan menyukainya."
"Benarkah itu? Aku juga merasa jika Sasuke lebih hidup saat bersamamu." Naruto memandang mangkuk ramennya. "Paman! Aku mau tambah!"
"Kira-kira, tipe wanita yang disukai Sasuke seperti apa?"
"Oh. Aku tidak tahu."
"Hah?"
Sakura memandang Naruto dengan pandangan tidak percaya.
"Meski aku dan Sasuke sudah berteman sejak kami kecil, tapi dia tidak pernah berpacaran."
"Tidak mungkin."
"Aku serius, Sakura-chan," ucap Naruto. "Dia memang kelihatannya saja tampan, tapi dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun."
Naruto menyeruput ramennya.
"Sudah tenang saja, Sakura-chan. Aku yakin jika Sasuke pasti akan menyukaimu juga."
.
.
.
.
Sakura menopangkan dagunya dan memandang keluar jendela di sampingnya. Dia sengaja duduk di dekat jendela dan matanya memandang angin yang bergerak begitu tenang. Jendelanya dia buka agar angin yang bertiup bisa masuk.
Dia ragu akan apa yang dikatakan Naruto. Tidak mungkin Sasuke menyukainya, dia meragukan apa yang dikatakan Naruto. Tetapi, melihat bagaimana wajah Naruto saat mengatakannya, wajah itu begitu yakin.
Tetapi, dia yang tidak yakin dengan apa yang dikatakan Naruto.
"Sakura. Oi. Sakura."
Sakura menolehkan kepalanya ketika melihat Ino menatapnya.
"Ada apa, Ino?"
"Sasuke mencarimu."
Sahabatnya benar. Dia bisa melihat Sasuke berdiri di depan kelasnya dan menarik perhatian beberapa siswi. Sasuke memang tampak gagah dan menawan, tetapi dimatanya kekasih gadungannya itu tetap saja menyebalkan.
"Oh, ada apa, Sasuke-kun?" tanya Sakura menghampiri kekasihnya.
"Berikan bekalmu."
Sakura mengedip-ngedipkan matanya. Gagal fokus dengan apa yang dikatakan Sasuke.
"Eh?"
"Apa kamu tidak dengar? Berikan aku bekalmu."
Sebenarnya, Sakura tidak paham dengan maksud dari Sasuke. Jadi, dia melangkahkan kakinya menuju bangkunya dan mengambil kotak bekal miliknya.
"Memangnya mau kau apakan, Sasuke -kun?"
Sasuke tidak menjawab dan mengambil kotak bekal di tangan Sakura.
"Aku lapar dan aku tidak membawa bekal. Kantin ramai sekali."
"Hei! Chotto matte, Sasuke-kun."
Sakura menghentakan kakinya kesal ketika kekasih gadungannya itu pergi membawa bekalnya dengan acuh tak acuh.
"Teme sialan! Aku membencimu!" Sakura berteriak di depan kelasnya dan tidak mempedulikan sekitarnya.
Sasuke yang mendengar teriakan Sakura membalikan badannya.
"Aku mencintaimu juga, jidat!"
.
.
"Ino, dosa apa aku memiliki kekasih gadungan seperti itu."
Ino yang ada di sampingnya menolehkan kepalanya dan menarik napas panjang.
"Itu salahmu karena mencoba membohongi Sasori-nii."
"Huaaaa! Aku benci anak ayam itu, Ino."
"Jangan menangis seperti itu." Ino menarik napas panjang. "Sudah, nanti aku belikan roti untukmu pada saat istirahat kedua."
Sakura tidak bisa menahan air matanya dan memeluk Ino.
"Kau sahabat yang baik, Ino."
"Hai' hai'"
.
"Sekian pelajaran harini, kita akan lanjutkan minggu depan."
Sakura meletakan kepalanya diatas meja dengan wajah yang pucat. Dia belum sarapan dan sekarang bekalnya diambil oleh pantat ayam sialan itu. Malangnya nasibnya.
"Aku akan ke kantin." Ino menatap sahabatnya dengan pandangan prihatin dan melangkahkan kakinya keluar dari kelas.
Sakura sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi. Perutnya keroncongan dan dia ingin makan sesuatu. Kemudian emeraldnya memandang Ino yang datang membawa sebuah kantung plastik.
"Ino, kenapa cepat sekali? Kantinnya sepi?"
"Tidak. Saat aku keluar dari kelas, Sasuke langsung memberikan ini padaku."
Sakura menerima kantung plastik yang diberikan Ino dan memandang isinya. Sebuah onigiri, sandwich dan juga sekotak susu. Ternyata, kekasih gadungannya itu perhatian juga.
"Mou, dasar menyebalkan."
Di balik dinding kelas Sakura, seseorang menggulum senyumnya.
.
.
.
.
"Yak! Maju! Tendang bolanya!"
Seorang pemuda membalik buku yang dibacanya dan mengacuhkan teriakan heboh sahabatnya yang sedang menonton televisi di apartemennya.
"Bodoh! Kenapa kau mengopernya kepada lawan! Sialan!"
"Oi, Dobe. Apa yang kau lakukan di apartemenku?" tanya Sasuke.
"Bibi Mikoto bilang dia akan ke supermarket bersama dengan Itachi-nii, jadi dia memintaku untuk menemanimu."
"Mattaku. Sudah aku katakan jika aku bukan anak kecil." Sasuke mengabaikan sahabatnya itu dan melanjutkan acara membaca bukunya.
"Oi, Teme. Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Hn."
"Bagaimana perasaanmu pada Sakura-chan?"
Sasuke mengangkat kepalanya dan memandang Naruto yang tetap memfokuskan matanya pada pertandingan bola di televisi.
"Kenapa kau menanyakan itu?"
"Aku hanya ingin tahu."
"Aku hanya main-main dengannya, dia lucu dan unik. Aku suka sekali melihat wajahnya saat tersipu-"
Bugh!
Sebuah pukulan mendarat di wajah milik Sasuke. Pemuda berambut emo itu memandang Naruto dengan pandangan tajam miliknya.
"Apa masalahmu, Dobe?"
"Apa masalahku? Kau benar-benar tidak berubah! Jika kau memang hanya mempermainkan Sakura-chan, lebih baik tinggalkan saja dia. Dia terlalu baik untukmu."
"Kenapa kau membelanya?"
"Kau-"
Naruto memukuli Sasuke bertubi-tubi hingga pemuda itu jatuh dan Sasuke sama sekali tidak melawan. Naruto bagaikan orang kesetanan malam itu, dia memukuli Sasuke hingga babak belur.
"Brengsek! Sejak kapan kamu memiliki hobi menyakiti wanita hah?! Aku tidak mengenal sahabatku yang bodoh seperti ini!"
Setelah lelah memukuli Sasuke. Naruto mendudukan dirinya di samping Sasuke dan menatap Sasuke yang hanya berbaring menatap langit-langit ruang keluarganya.
"Aku tahu kamu mencintainya, Teme."
"Jangan sok tahu, dobe."
"Aku akan pulang."
Naruto berjalan keluar dan mengeluarkan sebatang rokok dari saku celananya. Dia menghidupkannya dan mengepulkan asapnya ke udara.
"Mattaku. Tsunderenya itu keterlaluan."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Yoyo. Kembali lagi bersama Saku disini! Adakah yang inget fict ini.. Udah berapa abad ya? *plak
Pokoknya kalo ada typo mohon dimaafkeun ya.. Maklumlah, penulis kadang gak jauh-jauh dari typo. Ini juga ngetiknya pake hp karena Saku lagi sakit :( gak kuat liat laptop gitu wakakakaka..
Yaudah, pokoknya tinggalkan Review yang banyak yaaaa! Sampai jumpa di chap selanjutnya!
Salam hangat,
-Aomine Sakura-
