-Prev Chapter-
Bibirnya serasa gatal ingin mengungkapkan apa yang dia rasakan pada perempuan mungil ini. Ia ingin Kyungsoo memberikan perhatian padanya. Tapi ia tak bisa melakukannya. Bisa mati di tangan Sehun ia nanti. Otaknya terus menolak untuk bertindak gegabah namun tampaknya bibirnya tak bisa diajak bekerja sama. Ia tidak tahan.
"Apa noona sudah punya kekasih?" Jongin bisa melihat Kyungsoo yang menolehkan kepalanya perlahan untuk menatapnya. Mereka saling menatap satu sama lain untuk beberapa detik.
Jongin bisa merasakan desiran aneh pada dadanya. Jantungnya berdegub tanpa bisa dikendalikan. Merasakan perasaan baru yang aneh ini membuat Jongin gugup. Ia menelan ludah sebelum akhirnya memberanikan dirinya mengucapkan kata ini. Kata yang bahkan tidak memiliki efek apapun jika diucapkan pada orang lain.
"Aku rasa aku menyukaimu, noona."
Miss Introvert
A story line by Swagchane
Warning!
This Character is belong to me (Except EXO members of course)
Alur dan kemasan cerita terlahir dari otak nista saya.
Pairing:
Kai-Soo | Hun-Han
Sorry for the typos. No EYD.
Don't be a plagiarist. Don't be a siders.
Enjoy!
Kyungsoo menatap Jongin dengan mata bolanya. Jongin sendiri tidak bisa mengartikan maksud dari tatapan itu. Apakah ia marah? Kaget? Benci? Atau malah menyukainya? Baiklah, coret saja pilihan terakhir, itu sepertinya sangat mustahil.
"Lalu?"
Oh, baiklah. Jongin tak pernah berfikir kalau Kyungsoo akan merespon ucapannya seperti itu. Tentu saja kalau Jongin suka pada noona dingin ini, lalu kenapa? Ah, bodoh sekali dia. Jongin hanya mampu menunjukkan cengirannya kemudian mengalihkan pandangannya, fokus menyetir.
Kecanggungan mulai terjadi. Tidak, sebenarnya hanya Jongin saja yang merasa canggung karena melakukan hal bodoh seperti tadi. Ia menghela nafas panjang berusaha mengabaikan kelakuan bodohnya.
Akhirnya mereka sampai di supermarket tempat Kyungsoo biasa berbelanja. Tepat setelah Jongin memarkirkan mobilnya dengan baik, tanpa babibu Kyungsoo segera turun tanpa memperdulikan Jongin.
Jongin menghela nafas panjang dan menghembuskannya dalam berat. Dengan cepat ia mengejar Kyungsoo dan berjalan perlahan dibelakangnya. Harusnya ia bisa dengan mudah merangkul bahu gadis mungil idamannya ini namun sayangnya, ia tak bisa. For seriously, ini bukan Kim Jongin. Astaga~ kepribadiannya berubah total bila dekat noona ini.
Langkah kecil itu terhenti diikuti dengan milik Jongin dibelakangnya. Kyungsoo menoleh menatap Jongin kurang suka. "Jangan ikuti aku seperti seorang stalker."
"Aku bukan stalker." Jongin tergelak. Nyatanya kejadian ini seperti déjà vu pada malam itu, malam dimana ia terpesona pada suara maupun fisik perempuan ini.
"Jangan ikuti aku lagi kalau begitu." Kyungsoo berbalik. Baru saja berniatan meninggalkan Jongin disana namun tampaknya Jongin lebih gesit, ia segera menyejajarkan tubuhnya di sebelah Kyungsoo. Jongin menunjukkan senyuman termanisnya.
"Kalau berada di sisimu, tidak apa kan, noona?"
Kyungsoo menatap Jongin sebentar kemudian mengendikkan bahunya dan berjalan terlebih dahulu. "Yah, lebih baik daripada menjadi stalker."
Jongin sendiri tak mampu menyembunyikan senyumnya. Kyungsoo membiarkan Jongin untuk ada di sisinya. Walaupun nyatanya Kyungsoo hanya membiarkannya berjalan di sebelahnya namun Jongin memiliki artian lain dan Kyungsoo mempersilahkannya. Ah~ rasanya- melegakan.
"Kenapa kau tersenyum aneh seperti itu?"
"Eh?" Seketika senyuman Jongin luntur. Ia menoleh salah tingkah pada perempuan mungil itu. Ah, benar-benar memalukan. "Tidak ada."
Hanya di bibir. Gemuruh pada dada Jongin menyeruak tiap kali ia bersama Kyungsoo. Apalagi sekarang, mereka berbelanja bersama seperti pasangan suami-istri baru, ngh- oh ya, hentikan membayangkan hal yang tidak-tidak Jogin. Bisa dipastikan, kalau kau tidak berhenti sekarang maka senyummu akan makin merekah dan Kyungsoo akan makin berfikir kalau kau itu aneh.
Setelah membiarkan kakinya berkeliling mengikuti langkah Kyungsoo, kaki mungil itu terhenti. Raut wajahnya nampak bingung. Ia menatap Jongin dengan raut wajah gusar seperti ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa. Kyungsoo seakan memberi isyarat tapi Jongin tidak tahu maksudnya. Semburat merah muncul pada kedua pipi tembamnya. Ia menggigit bibirnya takut-takut. Oh tidak noona, bibir seksimu itu jangan kau gigit. Lebih baik jika Jongin yang menggigitnya. Astaga, Jongin harus menahan diri untuk ini.
Namun raut wajah yang seakan meminta Jongin untuk menciumnya itu berubah drastis menjadi masam. Ia menatap Jongin tidak suka. "Bisakah kau pergi?!"
Alis Jongin bertaut tidak suka. "Kenapa?"
"Pergi saja, tidak usah banyak tanya! Tunggu aku di mobil." Sesegera mungkin Kyungsoo membalikkan badannya, berusaha menutupi kecanggungan aneh yang ia perbuat.
Jongin menghela nafas panjang. Yah, sudahlah. Mungkin Kyungsoo sedang PMS. Tunggu, PMS? Jongin menatap rak di hadapannya. Pembalut? Oh ya, kemudian ia tertawa kecil. "Baiklah akan aku tungg di mobil."
Yah setidaknya Jongin tahu kalau Kyungsoo tidak benar-benar marah padanya dan seketika senyumnya mengembang tanpa bisa dicegah. Kyungsoo menganggapnya seperti seorang laki-laki.
Sehun menatap Luhan yang tengah terbaring tak berdaya beserta infus yang ada di sekelilingnya. Rasanya sangat sakit, entah kenapa rasa sakit itu tiba-tiba menjalar dengan cepat ketika melihat orang yang paling kau sayang terbaring lemah tak sadarkan diri seperti ini. Sehun menghela nafas panjang.
Apa mereka sudah menghubungi orang tua Luhan? Jika sudah, Sehun yakin mereka sedang dalam perjalanan menuju Korea. Kabar bagusnya, Sehun bisa bertemu dengan calon mertuanya nanti. Sedang kabar buruknya, Luhan akan dibawa pulang ke China karena Sehun yakin orang tua Luhan tidak akan membiarkan apa-apa terjadi pada Luhan lagi. Luhan adalah anak tunggal jadi tidak heran orang tuanya begitu menyayanginya.
Sebaliknya, jika mereka belum menghubungi orang tua Luhan, ia bisa merawat Luhan sampai gadis ini sembuh. Waktunya bersama Luhan akan menjadi lebih banyak dan ia akan semakin dekat dengan gadis ini. Bolehkah ia bersikap egois kali ini saja? Hanya kali ini, Sehun rasa tidak apa.
Sebelum melangkahkan kakinya keluar ruangan, Sehun menyempatkan dirinya mengusap perlahan pipi Luhan. terasa dingin. Sehun rasa kalau saat ini Luhan sangat rapuh dan ia harus menjaganya. Ia berjanji tidak akan membiarkan Luhan terluka lagi.
"Eomma…" Ucap Sehun begitu ia memasuki kamar rawat ayahnya. Nyonya Oh yang dari tadi membicarakan sesuatu yang sepertinya kurang penting –bersama tuan Oh- mendongakkan kepalanya. Wanita itu bisa melihat Sehun yang juga menatapnya dengan tatapan melas.
Nyonya Oh menautkan kedua alisnya memperlihatkan jelas kerutan yang mulai muncul di kedua dahinya. "Hm, kenapa raut wajahmu seperti itu?"
Sehun tak langsung menjawab. Ia masuk dan berjalan perlahan menuju jendela. Ia terdiam, bisa melihat taman yang indah di bawah sana. Sedetik kemudian otaknya kembali berfikir, apa yang harus ia katakan pad orang tuanya? Apa ia harus langsung mengatakan untuk tidak menghubungi orang tua Luhan ataukah perlu basa-basi dulu? Tapi bagaimana jika mereka sudah menelponnya? Sehun harus bagaimana?!
"Masalah orang tua Luhan, bagaimana?" Suaranya terdengar begitu lirih dan tak bersemangat.
"Oh, mereka sangat khawatir tentu saja."
Sehun menahan nafasnya.
"Salah satu keluarganya akan datang, mungkin sekarang dalam perjalanan kemari."
Astaga, jangan bilang mereka akan membawa Luhan pergi.
"Sayangnya orang tua Luhan sedang sakit jadi mereka tidak bisa ikut kemari. Mereka meminta tolong pada eomma untuk menjaga Luhan."
Obsidian Sehun membola. "Mereka tidak akan membawa Luhan kembali ke China?"
Kali ini tampaknya tuan Oh yang menjawab. Ia mengangguk Lemah. "Sepertinya keluarga Luhan disana sedang ada masalah, krisis ekonomi, sakit atau yah, entahlah. Appa tidak ingin mencampuri urusan mereka lebih dalam. Tapi begitu eomma mu ini menawarkan bantuan, Ibu Luhan tampaknya sangat bersyukur. Tidak keberatan kan kalau kami akan merawat Luhan sampai dia sembuh nanti?"
Tidak, tentu saja tidak. Sehun tidak akan pernah keberatan untuk itu. Senyumnya mengembang tanpa bisa dicegah. "Aku akan menjaganya sampai dia bangun nanti."
Ada sedikit raut keterkejutan pada wajah Nyonya dan tuan Oh. "Kau mengenalnya?"
"Ya." Sehun menimbang-nimbang ataukah ia harus menceritakan kalau Luhan adalah gadis incarannya atau tidak. "Kami cukup dekat."
Nyonya Oh tersenyum penuh arti melihat gelagat anaknya yang sedikit aneh itu. Ia pernah merasakan saat-saat remaja jadi ia tahu betul apa yang anak laki-lakinya itu rasakan. "Kau menyukai Luhan, kan?"
Dalam sekejap tawa tuan Oh pecah melihat anaknya berusaha menyembunyikan salah tingkahnya. Sehun tampak seperti pencuri kecil yang sedang tertangkap. Yah, orang sedang jatuh cinta. Tak lama kemudian tawa itu terhenti. "Appa minta maaf atas apa yang terjadi padanya, Sehun."
Sehun mengangguk dan tersenyum kecil. "Tidak apa. Bukan salah appa."
Deritan pintu dengan lantai berbunyi. Sehun menolehkan kepalanya mendapati Kyungsoo dan Jongin disana. Ia menatap Jongin tak suka. Kenapa mereka bersama?
"Noona baru dari mana?" Suara husky Sehun memecah keheningan sementara ruangan itu.
"Eomma menyuruhnya mengambilan barang-barang appa."
Sehun tak berniat membalasnya. Ia terdiam terlebih untuk berfikir. Benar, kalau dia harus menjaga Luhan, maka ia tak bisa menjaga noonanya. Kalau begini Jongin akan seenaknya sendiri mendekati Kyungsoo. Sehun menghela nafas lelah dan menghembuskannya dengan berat. Ia menatap Jongin dengan wajah dongkolnya sebentar kemudian memutuskan untuk keluar ruangan tanpa berucap sepatah katapun.
Jongin yang menyadari gelagat aneh Sehun megikutinya keluar ruangan. Ia bisa melihat Sehun tertunduk lesuu memejamkan matanya sambil menghela nafas panjang berkali-kali. Jongin mendekatinya, menyentuh perlahan bahunya.
"Bagaimana keadaan Luhan?"
Sehun menggeleng. "Parah. Aku bahkan tidak bisa melihat wajah cantiknya karena terhalang alat bantu pernafasan."
Senyum kecil menghiasi wajah rupawan Jongin. Ia beberapa kali mengusap punggung Sehun yang menurutnya tampak kecil sekarang. Jongin tahu apa yang dirasakan Sehun. Rasanya tidak enak. Begitu…
Menyesakkan.
"Aku sangat yakin kau tahu sewaktu aku kecil aku adalah anak yang cengeng."
Jongin tertawa kecil. "Yah, tidak diragukan lagi."
Obsidian Sehun mulai menerawang. "Kyungsoo noona yang selalu menjagaku saat aku yang lemah in dijahili, ditertawakan dan dibully. Yah, dia yang selalu menjaga dan membelaku. Itulah kenapa aku begitu menyayanginya. Seiring berjalannya waktu aku tumbuh menjadi lebih kuat dan besar. Aku selalu berjanji pada diriku sendiri akan selalu menjaga noona sebagai bentuk terima kasih.
"Jujur saja, aku tidak suka saat kau ingin mendekatiya." Jongin terdiam, membiarkan Sehun melanjutkan ucapannya. "Kau bukan tipe laki-laki yang baik untuk noona. Kita berdua tahu itu. Bar, wanita, bir an sex bukan hal yang tabu untukmu sedangkan Kyungsoo noona belum pernah sama sekali berhubungan dengan hal-hal itu. Terlebih lagi kau tak pernah memiliki hubungan serius dengan seseorang. Bagaimana bisa aku membiarkan noona dekat dengan laki-laki seperti itu? semakin kau ingin mendekatinya, semakin banyak kau akan mendekatinya. Karena kau adalah sahabatku, aku minta ini baik-baik. Jauhi Kyungsoo noona."
Jongin tak menjawab. Ia ingin membela dirinya sendiri dan membantah ucapan Sehun tapi ia tak bisa. Sehun benar. "Aku mengerti."
Sehun bisa melihat senyuman palsu yang Jongin tunjukkan. Walaupun Jomgin berusaha menyembunyikannya tapi Sehun tahu kalau dia sedang berusaha menutupi kekecewaannya dibalik senyuman itu. Apa Jongin bersungguh-sungguh?
"Aku akan pulang kalau begitu. Tak ada yang bisa aku lakukan disini. Sampaikan salamku pada Luhan kalau dia terbangun nanti." Tepat setelah anggukan kecil pada kepala Sehun, Jongin melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit.
Gelap
Sunyi
Tak ada niatan sedikitpun bagi Jongin untuk menyalakan penerangan di kamarnya. Rasa aneh di dadanya membuatnya malas melakukan apapun. Ia terus berbaring terlentang di atas kasur empuknya sambil mencermati bangunan pepohonan yang jatuh diatas langit-langit kamarnya.
Perasaan aneh apa lagi ini? kenapa begitu mengganjal? Kenapa rasanya begitu sesak? Oh ayolah, ia hanya ditolak Sehun –dalam artian untuk mendekati noonanya-. Harusnya Jongin tak perduli tapi kali ini berbeda. Otaknya seakan dipenuhi dengan sesuatu abstrak yang membuat jantungnya serasa ditimpa dengan ribuan batu. Kenapa sensitif sekali?
Sehun benar, dia bukan laki-laki yang baik. Memperlakukan banyak wanita layaknya mainan yang bisa dimaikan atau di buang jika ia bosan. Benar-benar laki-laki yang berengsek.
"Hah! Astaga-" Suaranya terdengar parau dan serak.
Ia menutupi kedua matanya dengan salah satu lengannya. Suara-suara Sehun tak henti-hentinya bergema di otaknya. Dia memang tidak pernah serius pada seorang wanita karena Jongin pikir mereka semua sama. Hanya saja Pandangannya itu berubah ketika Kyungsoo muncul. Jongin tak tahu apa yang membuatnya tertarik namun satu hal yang ia tahu. Kyungsoo itu…
Berbeda.
Mungkin saja ini hanya ketertarikan sementara karena Jongin belum pernah menemukan spesies wanita seperti Kyungsoo. Kalau benar, sepertinya lebih baik dia menjauh seperti yang dikatakan Sehun. Lagipula Sehun juga benar-benar tidak suka melihatnya dekat dengan Kyungsoo. Tunggu, tapi bagaimana kalau ketertarikan itu tidak bersifat sementara?
"Arrrggh!" Jongin menelungkupkan badannya. Lucu? Sangat! Jongin sudah berubah 180 derajat menjadi pribadi yang lain hanya karena seorang wanita. Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan sebuah pesan masuk. Jongin membukanya. Cahaya ponsel itu seketika memberikan penerangan yang berarti bagi kamar yang gelap itu, membuat kedua obsidian Jongin harus menyipit untuk beradaptasi.
Song Chaera
Oppa, kami mengadakan pesta malam ini. Apa kau mau datang? Sudah lama sekali kau tidak bergabung bersama kami. Datanglah, kami akan benar-benar senang kalau kau datang.
Helaan nafas –sekali lagi- terdengar pada ruangan yang gelap itu. Jongin bangkit dari tidurnya. Menyibukkan diri dalam pesta dan menyembuhkan kembali sifat Jongin yang dulu sepertinya terdengar lebih baik daripada tidak melakukan apapun.
Kyungsoo merapikan rangkaian bunga yang menghias indah meja di sebelah ranjang rawat tuan Oh. Ia bosan sekali akhir-akhir ini. Ia sudah mencoba melamar pekerjaan di beberapa perusahaan namun masih belum ada panggilan untuk melakukan wawancara. Menunggu itu menyebalkan. Tak ada yang bisa ia lakukan. Jadi ia memilih untuk datang ke rumah sakit selagi eommanya bekerja.
Sedikit saja ia merasa kesepian. Padahal biasanya ia terbiasa dengan kesendirian seperti ini tapi nyatanya kali ini berbeda. Rasanya sedikit hampa.
Mungkin karena kemarin ada seseorang yang menemaninya seharian sehingga kesendirian itu tidak terlalu terasa. Seorang bocah yang dengan lancangnya mengatakan kalau menyukainya. Mana mungkin Kyungsoo bisa mempercayai ucapannya semudah itu. Mereka bedua bahkan hanya beberapa kali bertemu. Ah sudahlah. Lagipula kenapa harus memikirkan bocah itu.
Kyungsoo tersiam sebentar kemudian terlonjak membuat tuan Oh berjengit kaget. "Astaga appa! Aku melupakan ponselku!"
Tuan Oh mengusap dadanya perlahan. "Kau mengageti appa. Yasudah, ambil saja."
"Apa tidak apa aku tinggal sendiri?" Tuan Oh hanya mengangguk.
"Masih banyak perawat disini yang akan menjaga appa." Kyungsoo kembali tersenyum dan mengangguk. Ia segera mengambil tasnya. "Aku akan segera kembali."
Kyungsoo sedikit merutuki kebodohannya yang pelupa seperti ini. Mungkin saja gen keluarga mengingat Sehun juga sering meninggalkan barang-barangnya. Sebenarnya kalau dalam keadaan biasa ia akan membiarkan saja ponselnya tertinggal di rumah tapi kalau ada pesan masuk yang memintanya melakukan wawancara untuk pekerjaan barunya nanti, bisa repot kalau tidak cepat-cepat dibaca.
Oh ya, masalah Sehun, ia belum bertemu dengan adik kesayangannya itu hari ini. akhir-akhir ini ia juga bertingkah sangat aneh. Jarang sekali pulang ke rumah dan lebih suka menghabiskan waktunya dengan anak yang mengalami kecelakaan bersama appa waktu itu. Sikapnya itu aneh sekali dari Oh Sehun yang biasanya. Padahal ia selalu saja cuek kalau berurusan dengan orang asing. Apa Sehun sebenarnya sudah mengenal anak itu?
"Ah!" Kyungsoo memekik kecil saat tiba-tiba angina berhembus kencang menerbangkan daun-daun yang berserakan di tanah. Kyungsoo sendiri berusaha melindungi wajah dan matanya dari debu yang berterbangan. Ia berusaha merapikan rambutnya yang berantakan tertiup angina. Dan saat itu tatapan mereka bertemu.
Kyungsoo bisa melihat Jongin yang berdiri di depan pagar rumahnya dalam keadaan yang berantakan. Rambutnya sama sekali tidak tertata rapi, bajunya juga, belum lagi raut wajahnya yang tampak menyedihkan, menatap perempuan mungil dihadapannya dengan pandangan yang memilukan. Tunggu, ada apa dengan bocah ini? Dia tampak benar-benar kacau.
Kyungsoo terdiam ketika Jongin melangkahkan kakinya mendekat. Saat mereka berhadapan seperti ini entah kenapa ia tampak begitu kecil.
Dalam kedipan mata, Jongin merengkuh tubuh mungil Kyungsoo, membawanya pada sebuah pelukan hangat. Kyungsoo terdiam, terlalu shock untuk mendapatkan perlakuan seperti itu.
Hanya sebentar sebelum pada akhirnya Jongin melepas pelukannya dan dengan cepat mendaratkan bibirnya diatas bibir tebal Kyungsoo, melumatnya perlahan memberikan sebuah sensasi aneh.
Kyungsoo membola.
Jongin menciumnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Oke, maaf ada sedikit typo di chapter sebelumnya cuman gabisa aku ganti. Yah, makasih buat salah satu guest yang teliti banget bacanya. Maaf atas typonya ya, semoga kalian paham maksud terdalam yang ingin saya sampaikan/?
fav/follow/review
fav/follow/review
sankyu~
