lagu yang mereka nyanyikan dipilih secara acak hanya karena musik dan suara mereka di lagu itu terdengar bagus banget!
terima kasih sudah melanjutkan membaca.
still. ichido no parto.
Mereka sampai di tempat karaoke hanya dalam waktu beberapa menit karena ada tempat karaoke di dekat Utaunoda Gakuen. Sayangnya mood Rin benar-benar kacau sekarang setelah berbicara dengan Neru. Dia benci Neru. Kenapa Neru harus mengatakan hal yang jahat lagi tentang Len-kun? Apa itu salah satu taktik yang digunakannya untuk membuat agar Rin membenci Len?
Rin menghela napas. "Aku sama sekali tidak mengerti."
"Soal apa?" tanya Len.
"Eh? Aah... maksudku... aku sama sekali tidak mengerti kalau ternyata sekolah memperbolehkannya muridnya untuk menjadi penyanyi," kata Rin sambil membuang muka. Dia tidak berani bertatapan dengan Len.
"Ehehee..." Gumi tersenyum lebar. "Mungkin itulah enaknya sekolah di Utanoda Gakuen. Kita bisa bertemu dengan artis favorit kita. Rin-chan, nanti kalau kau ingin masuk ke SMA, masuk ke Utanoda saja biar kita bisa bertemu dengan Miku-senpai."
"Miku-senpai?"
Gumi menganggukkan kepalanya dengan bersemangat. "Hatsune Miku, penyanyi sekaligus artis yang sangat berbakat sekali. Penggemarnya banyak sekali lho!"
Rin tersenyum. Pasti akan menyenangkan sekali kalau dia boleh melanjutkan SMA disini. Akan sangat menyenangkan kalau dia bisa bertemu dengan Len lagi. "Eh?"
"Kenapa?"
Tunggu dulu! Barusan Rin berpikir kalau dia ingin selalu bertemu dengan Len kan ya?
Rin melirik Len yang juga sedang memandangnya. "Ada apa?" tanya Len.
"Ti-tidak ada apa-apa." Rin meraih remote dan berpaling kepada Gumi. "Nee... Gumi-chan, lagu apa yang akan kau nyanyikan?"
"Aku ingin menyanyikan lagu 'Be Myself' milik Megumi Nakajima."
Gumi meraih microphone dan ketika lagu mulai dimainkan, dia segera berdiri dan berpose layaknya seorang artis.
Rin benar-benar terpukau dengan apa yang barusan dilihatnya. Gumi benar-benar hebat. Karismanya sebagai artis yang awalnya dia sembunyikan semua keluar dan dia bernyanyi dengan serius seakan sedang konser.
"Dia memang pintar bernyanyi sejak masih kecil. Kadang-kadang Gakupo dan aku mengiringinya dulu," sahut Len datar. Dia sama sekali tidak terpukau dengan suara indah Gumi.
"Len-kun benar-benar akrab dengan Gumi-chan ya..." gumam Rin. Ada sesuatu yang terasa sakit di dadanya.
"Yah, benar juga. Walaupun terpaksa. Rumahnya tepat di sebelah rumah Big Al."
"Jangan-jangan Len-kun menyukai Gumi-chan ya?"
Rin kaget saat Len tiba-tiba duduk dengan tegak sambil menatap wajahnya. "Hal seperti itu tidak mungkin sekali kan!"
Lagu Be Myself sudah selesai dan mendadak ruangan itu terasa sepi. "Bagaimana? Bagaimana?" tanya Gumi dengan senyum lebar.
"Bagus sekali! Rasanya aku ingin segera membeli album Gumi." Rin bertepuk tangan sambil menatap lurus ke arah Gumi. Dia tidak ingin melihat ekspresi di wajah Len.
"Sekarang Len-kun, kuperintahkan kau untuk bernyanyi!"
"Yang benar saja!"
"Ayolah! Aku tahu walaupun diam-diam, Len sebenarnya memiliki suara yang sangat bagus!" Gumi menyerahkan microphone dengan paksa. "Biar Rin-chan tahu kehebatan Len-kun!"
Len menerimanya dengan pasrah lalu saat dia ingin memilih lagu, tangan Gumi menghalanginya. "Biar aku yang pilih!" Gumi lantas mendorong Len untuk langsung maju ke depan.
Tangan Gumi dengan terampil segera mengetikkan judul lagu. Kemudian dia berteriak dengan suara tinggi, "aku pilih 'Paafuekuto Saakuru' ya!"
Lagu diputar dan Len bernyanyi dengan pasrah. Saat mendengar suaranya, tubuh Rin terasa membeku. Suara Len yang indah diiringi dengan irama melodi lagu yang terdengar manis.
"Bagaimana? Bagaimana?" Gumi nyengir lebar.
"Bagus sekali," bisik Rin yang matanya tidak bisa lepas dari mata Len.
"Kau menyukainya?"
"Tentu saja." Eh?
Mata Rin langsung terbelalak tak percaya dengan apa yang barusan dia katakan. "Maksudku Gumi-chan... maksudku..."
Len mengangkat sebelah alisnya sambil tetap bernyanyi. "Tenang saja," sahut Gumi santai. "Aku mengerti."
Wajah Rin merah padam. Dia bahkan tidak sanggup menoleh lagi ke arah Len.
"Tapi, Len itu cuma tertarik padaku karena rambutku pirang kan ya?"
"Pasti Akita Neru yang tadi berkata seperti itu," tebak Gumi. Dia tersenyum sinis begitu melihat ekspresi Rin berkata ya. "Neru memang begitu. Dia memang tidak ingin ada gadis lain di dekat Len. Hanya dia yang perlu ada."
Len masih bernyanyi dengan ekpresi penasaran karena melihat Gumi dan Rin berbisik-bisik. Walaupun begitu dia tetap terus bernyanyi.
"Kurasa Rin-chan, kalau memang setiap gadis yang berambut pirang akan didekati oleh Len, kurasa kau cukup jadi satu-satunya gadis berambut pirang yang dilihat oleh Len." Gumi mengedipkan sebelah matanya. "Kau cukup membuat dia menyukaimu kan? Benar kan kataku?"
"Apa sih yang dari tadi kalian bicarakan?" seru Len. "Aku benci sekali padamu, Gumi! Kau menyuruhku bernyanyi sementara tidak ada yang memperhatikanku!"
"Rin memperhatikanmu kok!"
Wajah Rin memerah. Rin merasa dia tidak akan bisa lagi membantah ucapan Gumi. Karena apapun yang dikatakan Gumi memang semua terasa benar.
"Kau cukup membuat dia menyukaimu kan?"
Setidaknya Rin tahu, dia sudah menyukai Len lebih dari rasa suka terhadap orang yang baru pertama kali dia temui.
Lagu selanjutnya kembali berputar. Gumi mengambil mic dari Len dan bernyanyi lagu 'dolce' dengan suara tenang dan ceria miliknya.
Matanya sibuk memperhatikan Rin yang menunduk dengan muka merah. Len duduk di sampingnya dengan gelisah. Gumi tahu, dia sudah cukup mengenal Len. Dan dia tahu persis mereka berdua sebenarnya sama-sama anak kecil yang harus dituntun menuju jalan pendewasaan mereka.
Setelah mereka selesai karaoke, Gumi dan Len berniat mengantar Rin pulang. Awalnya Gumi hanya menyuruh Len saja, tapi karena Len memelototinya dengan tajam, akhirnya mereka pulang bertiga. Rin justru merasa lega karena dia tidak perlu bersikap canggung. Dia merasa setiap kali berada di dekat Len, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Rasanya tenggorokannya selau terasa kering dan tercekat. Ingin kabur saja dari situasi seperti itu.
Dari tempat karaoke itu, mereka hanya tinggal berjalan kaki ke apartemen yang disewa oleh Rin dengan harga murah. Mereka bertiga, tentu saja berjalan kaki. Bahkan termasuk Len sekalipun yang skateboardnya dia bawa dengan tangan kanannya.
"Aku lapar. Kita makan dulu saja ya!" seru Len di tengah jalan seraya menunjuk gerobak takoyaki yang mengeluarkan asap lezat.
"Yah, boleh saja! Len yang bayar!" seru Gumi tanpa malu-malu.
"Hah? Bilang apa barusan?" Len menempelkan tangannya di telinga. "Aaah! Aku tidak bisa dengar apa-apa nih!"
"Hidoiiyoo!" Gumi memukul Len dari belakang. "Bagaimana menurutmu, Rin-chan?"
"Eh? Ah, ya tentu saja." Rin mengeluarkan ponselnya untuk melihat jam. Sudah jam tujuh. "Tapi, tidak baik makan makanan seperti itu sebelum makan malam."
"Jadi, kau mau kita makan malam dulu?" tanya Len sambil menatap wajah Rin.
Jantung Rin berdegup saat mata mereka bertemu. "Ya, kalau kalian mau, aku bisa memasak makan malam. Yah, belum tentu enak sih. Menurutku bisa dibilang masih bisa dimakan."
"Yeeei! Len, dengar ya, kau itu sangat beruntung karena bisa makan masakan Rin-chan. "
"Kau tahu, mengingat kata-kata itu, aku ingat pengalaman pertamaku mencoba masakanmu, Gumi. Yaah, rasanya benar-benar luar biasa." Mata Len menerawan jauh. "Saat itu aku merasa aku akan terbang ke langit dan tidak akan kembali lagi."
"Ap-ap-apa yang terjadi, Len-kun?"
Gumi sudah menunjukkan kepalan tangannya di depan wajah Len. Senyum aneh muncul di wajah Len. "Hmm, kalau mau dijelaskan secara rinci sih, sebetulnya tidak terjadi apa-apa sama sekali. Aku hanya ingin mengatakan itu saja." Len lalu berjalan mendahului Rin. "Ayolah, aku lapar sekali!"
Rin tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. Tekadang sikap Len tidak bisa ditebak. Kadang dia terlihat seperti anak kecil, kadang juga terlihat begitu dewasa. Rin penasaran apa ada sisi lain Len yang masih bisa dilihatnya. Sementara itu Gumi sibuk memikirkan suatu cara untuk mendekatkan mereka berdua.
"Onee-chan..." Rin menoleh dan melihat Yuki Kaai, anak tetangga di apartemen sebelahnya, sedang berdiri di depan pintu apartemennya sambil memegang boneka beruang.
"Adiknya Rin-chan ya?"
"Bukan, dia anak tetangga sebelah. Ada apa, Yuki-chan?"
"Kenapa Onee-chan ada dua?"
Rin melirik Len yang berdiri di belakangnya. "Etoo... dia ini teman Onee-chan."
"Benarkah benarkah?" Yuki tersenyum manis. "Onii-chan, aku Yuki Kaai, Yuki-chan. Lalu lalu, Onee-chan yang berambut hijau, Nee-chan benar-benar manis!"
"Terima kasih, Yuki-chan." Gumi tersenyum dan aura bintangnya mendadak keluar. "Aku Kamui Megumi."
"Etoo... Megumi-onee-chan?"
"Gumi-chan saja." Tangan Gumi mengusap kepala Yuki dengan lembut.
Len mengamati penampilan Yuki dari atas sampai bawah. Lalu Rin merasa dia bisa menebak pikiran Len. Cara bicara Yuki tidak sesuai dengan umurnya. Teralu dibuat-buat dan Len merasa mual melihatnya.
"Lalu lalu, Onii-chan ini, namanya siapa?" Gumi langsung menyikut tangan Len dan memberikan tatapan yang berbunyi: perkenalkan dirimu bodoh! Atau aku akan melemparkanmu dari jendela!
"Aku Mikagane Len. Senang bertemu denganmu, Yuki-chan."
"Ah, aku tahu! Kalian berdua mirip sekali kan ya? He-eh, katanya kalau bertemu dengan orang yang mirip sekali dengan kita, ada artinya."
"Artinya?" Len mulai tertarik.
Rin sibuk membuka pintu dan masuk duluan ke apartemennya. Tapi suara Yuki masih terdengar dari dalam.
"Artinya Onii-chan akan tertimpa kesialan yang luar biasa dahsyatnya. Seperti sekarang ini, muka Onii-chan yang seperti ini juga merupakan tanda kesialan!"
Ada aura kegelapan yang muncul dari belakang Rin. Len sudah mengikutinya masuk dengan wajah kelam penuh emosi. Gumi berjalan tepat di belakangnya yang sedang menahan tawa.
"Menurutmu ada yang salah dengan wajahku?" teriak Len dengan suara tinggi.
"Ten-tu saja... a-da." Gumi menarik napas, berusaha mengontrol dirinya sendiri. "Buktinya Akita Neru menyukaimu kan? Artinya ada sesuatu yang salah... ah bukan... sesuatu yang teramat salah." Dia tertawa lagi setelah mendengar kata-katanya sendiri.
"Yuki-chan memang selalu mengatakan apapun yang ingin dia katakan. Kurasa dia hanya main-main soal yang tadi itu, Len-kun." Rin meletakkan tasnya di atas kursi panjang berlengan di depan televesi. "Kalian berdua duduk saja sementara aku menyiapkan makan malam."
"Uwaah... Rin-chan sudah siap jadi ibu rumah tangga rupanya..." Gumi langsung berhenti tertawa dan duduk di kursi. Senyum lebar terbentuk di bibirnya. "Len-kun benar-benar beruntung karena bisa memiliki calon istri seperti Rin-chan."
"Lihat, ada orang yang kelaparan disini sehingga bicaranya melantur!"
"Len-kun no BAKA!"
Rin berjalan ke dapur sambil menahan senyum. Ini pertama kalinya apartemennya ramai dikunjungi. Dia merasa sangat senang karena bisa bertemu dengan dua orang yang begitu ramai dan penuh tawa itu. Setidaknya malam ini dia tidak perlu makan sendirian lagi.
Di ruang tengah, Gumi melirik Len yang masih tenang-tenang saja. "Nee..."
"Apa?" Len masih sibuk membaca majalah olahraga yang tergeletak di atas meja ruang tengah Rin.
"Kau tidak berniat membantunya?" bisik Gumi. Dia mengedipkan sebelah matanya ketika Len menoleh ke arahnya.
"Kau juga tidak membantunya kan?"
Gumi memukul punggung Len dengan kekuatan yang cukup membuat Len mengernyitkan dahinya. "Maumu apa?"
"Supaya kalian bisa lebih dekat, inilah saat yang tepat! Kau harus membantunya di dapur."
"Hah? Bukannya dia malah akan merasa sangat aneh kalau aku membantunya?"
Tanpa aba-aba, Gumi segera menarik tangan Len dan membawanya ke dapur tempat Rin sedang memotong daun bawang.
"Riiiin-chaaaaan..." panggil Gumi.
Rin menengadahkan kepalanya. "Ada apa, Gumi?"
"Kau tahu, barusan Len bilang padaku kalau..."
"Memangnya kapan aku mengatakan..." protes Len yang langsung terputus saat Gumi meremas tangannya dengan kuat.
"Makanya Rin-chan, mau kan dibantu oleh Len?"
Wajah Rin memerah. "Tentu saja. Tunggu sebentar ya, aku ambilkan apron terlebih dahulu." Rin membuka lemari dan mengeluarkan apron berwarna kuning, sama seperti yang dipakainya sekarang.
Len memasang apron itu di tubuhnya dengan pasrah. Dia tidak punya pilihan lain selain menurukan tingkat kekerenannya di dapur atau ditinju oleh Gumi. Lalu, terjadilah kejadian yang tidak ada siapapun yang berani menyangkanya.
"Ini apa?" seru Len panik.
"Eh? Apa? Itu... itu telur goreng bukan?" Rin menunjuk penggorengan dimana ada sesuatu yang tidak berbentuk berwarna kuning kecoklatan.
Gumi terkikik geli saat Len mengangkat penggorengan—menarik sumpit—mencuil sedikit telur goreng itu—memasukkannya ke mulut dan ekspresinya langsung berubah. "Jangan cuma tertawa, Gumi!"
"Habisnya Len persis seperti ibu rumah tangga." Gumi menarik napas dalam-dalam lalu mengangkat tangannya dengan ekspresi muka kecewa. "Aah! Baiklah-baiklah. Nee Rin-chan... lebih baik kita nonton televisi saja dan meninggalkan Len-kun memasak sendirian."
"Eh? Tapi..." Rin melihat Len sudah sibuk memecahkan telur dan bersiap memasaknya. Benar-benar kelihatan terampil.
"Sudahlah. Ayo sini!" Gumi menarik Rin yang masih memakai apron untuk duduk di ruang duduk. "Len itu, walaupun wajahnya kelihatan benar-benar keren dan tampan, sebenarnya dia itu pintar sekali melakukan pekerjaan rumah tangga," bisik Gumi.
"Benarkah?"
"Iya iya. Len itu selalu pintar dalam mengerjakan apapun. Aku dulu sangat iri padanya. Tapi, kau tahu Rin-chan, disaat yang sama aku juga sangat kasihan padanya." Wajah Gumi berubah lagi.
"Kenapa memangnya, Gumi-chan?"
Gumi tiba-tiba tersenyum lagi. "Lihat, ibu rumah tangga yang satu ini bahkan memasang dengan kecepatan yang sangat tinggi!"
Len sudah berdiri dengan wajah penuh kekesalan. "Jangan mempermainkan aku, Gumi!" geram Len. Dia menarik napas panjang lalu melihat ke arah Rin. "Maaf ya kalau aku sudah bersikap seenaknya."
Rin merasa ada tatapan sedih di wajah Len barusan yang langsung menghilang saat Gumi berkata, "Ayo kita makan!"
Mereka duduk kursi yang ditata di sekitar meja berbentuk persegi panjang yang cukup untuk empat orang. "Itadakimasuuu!" seru Gumi sambil mengangkat tangannya.
Rin cukup terkejut saat melihat meja makannya sudah tertata rapi. Ada telur goreng yang sudah ditata rapi dengan potongan tomat dan taburan nori di atasnya. Nasinya sudah ditempatkan di dalam tiga mangkuk kecil. Bahkan Rin tidak pernah makan dengan meja seperti ini.
"Aah, aku tidak tahu apa rasanya akan enak atau tidak," sahut Len.
Rin mengambil sepotong telur dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasanya tentu saja rasa telur yang digoreng matang sempurna. Aroma norinya benar-benar tercium. "Sugggggokuu oiiishiiiyooo, Len-kun."
Mata Len melebar terkejut. Gumi lagi-lagi tersenyum. "Arigatou..."
"Ano nee Len-kun..." bisik Rin. "Gomenne... seharusnya kan aku tidak perlu merepotkanmu padahal aku yang mengajak supaya kita makan malam di rumahku, tapi ternyata aku malah menyusahkan Len... aku benar-benar..."
"Tidak!" kata Len dengan tegas. "Aku justru sangat senang karena ini pertama kalinya aku memasakkan sesuatu untuk seseorang dan... dipuji..." Wajahnya berubah merah.
"Kau tahu, Rin-chan," sahut Gumi. "Yang terpenting dari makan malam adalah kita makan bersama-sama. Benar bukan?"
"Itu benar sekali." Rin tersenyum dengan sedih. "Semenjak ibuku meninggal, aku dan ayah tidak pernah makan bersama-sama lagi."
"Syukurlah kalau begitu kan?" Len tersenyum pada Rin dengan penuh kelembutan. "Kau sudah berusaha dengan sangat keras."
Rin sangat merasa senang saat mendengar kata-kata itu. Dia terus-terusan saja menatap Len yang sudah mulai sibuk makan. Tenggorokannya terasa kering. Dia merasa sangat senang walaupun dia tidak tahu bagaimana cara memberitahukannya pada Len. Akhirnya, setelah Rin bisa mengatur perasaannya, dia baru bisa menelan makan malamnya.
"Terima kasih banyak, Rin-chan!" sahut Gumi dengan senyum lebar. Sudah pukul setengah sembilan malam dan mereka sudah harus pulang secepatnya.
"Kau tahu, aku tidak mau dimarahi Gakupo soal ini!" kata Len dengan ketus. "Pokoknya kau yang harus bertanggung jawab atas semua ini!"
"Yaaaaa! Aku mengerti, Len-kun."
Tepat saat Len melangkah keluar, Yuki tiba-tiba keluar dari apartemennya dengan piyama dan sandal tidur. Sorot mata Len berubah dingin. Dia memberikan isyarat kepada Gumi untuk segera keluar sehingga dia tidak perlu bicara dengan anak menyebalkan itu.
"Onii-chaaaan... kalian sudah mau pulang ya?" tanya Yuki dengan gaya manisnya.
"Y-ya... seperti itulah kira-kira..." Len memelototi Gumi agar mereka segera pergi dari sana .
Gumi justru ingin berlama-lama karena dia sendiri ingin melihat Len dipermainkan oleh anak kecil.
"E...eto... gomenne onii-chan. Yuki-chan tadi tidak bermaksud untuk melukai perasaan onii-chan." Yuki menarik baju seragam Len dengan mata berair. "Yuki-chan tidak bermaksud buruk."
"Ya ya ya." Len melepaskan tangan Yuki dari bajunya. "Aku sudah mengerti."
"Onii-chan, sebenarnya tadi Yuki-chan belum selesai berbicara."
Len memberikan pandangan meminta pertolongan pada Gumi yang hanya dibalas oleh senyuman. Rin sendiri merasa sangat kasihan, tapi Gumi melarangnya untuk membantu Len dengan gerakan mulut tanpa suara, "onegai, Rin-chan!".
"Apa... yang... ingin... kau... katakan?" Len memasang senyum palsu dan merapatkan giginya sendiri untuk menahan kekesalannya.
Yuki menarik tangan Len supaya Len menunduk lalu dia membisikkan sesuatu kepada Len. Ekspresi Len berubah dari muram ke ekspresi senang yang disembunyikannya dengan sangat tidak ahli sehingga siapapun pasti tahu kalau dia sedang merasa senang.
"Begitulah, onii-chan." Yuki tersenyum dengan menunjukkan giginya yang putih. "Menurut pendapatku seperti itu."
Len akhirnya menunjukkan senyumnya pada Yuki. Dia mengusap kepala Yuki dengan lembut. "Arigatou nee, Yuki-chan."
"Apa yang baru saja dikatakannya?" seru Gumi penasaran.
Mata Len meliriknya sekilas lalu seakan bersikap tidak ada apa-apa, dia berpaling kepada Rin. "Terima kasih untuk makan malamnya, Rin-chan."
"Justru aku yang harus berterima kasih."
Len tertawa dengan ramah. "Sampai bertemu di sekolah besok, Rin-chan." Dia menoleh kepada Yuki. "Selamat tidur, Yuki-chan. Mimpi indah."
"Araa! Maksudmu, semoga kau memimpikanku, benar kan, Len?"
"Terserahlah!" Len sudah berjalan lebih dulu meninggalkan Gumi di belakang.
"Dia benar-benar merasa senang ya... Menyebalkan! Eh, Rin-chan, sampai bertemu di sekolah! Oyasuminasai, Rin-chan, Yuki-chan."
"Oyasuminasai, Gumi-chan." Rin menundukkan kepala dan saat kepalanya terangkat, Gumi sudah mengejar Len.
"Syukurlah ya, Nee-chan!" sahut Yuki dan dia menghilang masuk ke pintu apartemennya.
Rin menutup pintunya dengan perasaan campur aduk. Yang jelas, sampai sekarang, rasa bahagia yang aneh itu masih menyergap hatinya, memblokir semua pikiran negatif dan menyebabkan efek Rin yang selalu ingin tersenyum.
Setelah itu, Rin melemparkan badannya di atas sofanya lalu menatap langit-langit apartemennya. Dia tersenyum sambil menutup mata. "Senyum Len itu tidak baik buat hati, kurasa aku harus mengingatnya baik-baik."
terima kasih.
ngomong-ngomong soal Yuki Kaai, aku sendiri belum pernah dengar suara dan lagunya secara langsung.
karakter dia sebagai anak manis memang udah darisananya. tapi akan lebih bagus kalau sedikit efek 'anakjahil' ditambahkan ke karakternya.
kalau ditanya apa Rin mulai suka Len, hmm, itu bisa pertanyaan yang cukup bagus karena memang pada dasarnya kalau digambarkan secara tidak langsung, ada sesuatu di diri mereka yang lain yang merasa tertarik pada yang lainnya...
Len pintar masak... yah, dia tipe anak laki-laki yang bisa menyelesaikan segala jenis pekerjaan rumah. dia harus belajar mengurusi dirinya sendiri. bahkan karakter Big Al sebagai pamannya juga jarang berada di rumah.
*ketawa* ini masih belum selesai kok. entah apa harus senang atau tidak. *ketawa*
