Balasan review
tuan Uchiha : mm iya salam kenal soal rated M nya nnti kedepannya ada adegan lime nya kok tenang saja hehe
tamu : hehe masih kependekkan yah? Iya coba liat yg ini masih pendek kah?
Mako : huhu sebenernya author jg ga tega jadiin sasu-chan jdi playboy, ini si sai muncul nih
cukup cuap cuap nya
ini dia kelanjutannya
.
.
.
.
.
.
Disclaimer this fic belongs to me but the character belongs to Masashi Kishimoto
Warning!
Rated M
OOC, typos, AU
.
.
.
Dan memang Sasuke telah meninggalkan kesan yang baik pada Sakura.
Dia baik, pikir Sakura
Tampan dan ah, dia tak berusaha untuk merayu seperti waktu sebelumnya. Walaupun agak menjengkelkan.
Bayangkan, dia chef? Aneh bukan? Belakangan ini Tenten dan aku bercanda tentang kencan dengan chef, tiba-tiba saja aku bertemu chef, chef yang handal, chef yang tampan pikirku sambil tersenyum memegang kertas yang berisi nomor telepon di tangannya
.
Sasuke menaruh kantong besar berisi daging kelinci di motornya dan meluncur di sela-sela kesibukan lalu lintas. Ia terlambat. Padahal ia sudah disuruh cepat-cepat tapi tetap saja menyempatkan diri untuk berbincang dengan gadis tadi.
Sesaat kemudian ia memarkirkan motornya di belakang gedung berwarna putih, lalu membawa kantong kertas kelincinya melalui pintu berdaun ganda menuju ruangan besar penuh uap dan hawa panas, ini dapur Templi, salah satu restoran Italia mewah yang terkenal di Konoha.
''Kau terlambat'', kata kepala dapur mengingatkan.
''Jalanan macet'', tukas Sasuke sambil berlalu menyerahkan kantong kelinci itu.
Sasuke mengambil sepasang sarung tangan. Semua gelas di restoran ini terbuat dari kristal, sehingga memerlukan perlakuan khusus, salah satunya harus dicuci dengan tangan.
Sasuke tahu ia seharusnya berhati-hati saat mencuci tapi pikirannya terbang entah kemana memikirkan resep ramen apa yang cocok diberikannya pada gadis yang ditemuinya di Daizo tadi.
Mencuci gelas memang pekerjaan yang membosankan, terlebih dengan keadaan Sasuke yang sedang jatuh cinta. Sasuke bersiul untuk mengurangi kebosanannya sekaligus untuk menarik perhatian temannya, Sai, yang sedang membuat zabaione-semacam puding susu manis dari Italia.
''Hei, Sai, sst. Aku sedang jatuh cinta''.
''Baguslah'', kata Sai sambil berkonsentrasi pada hidangannya.
''Tapi itu bukan berita. Kemarin kau juga jatuh cinta.'' Tukas Sai
''Ini lain, gadis Suna-sepertinya. Pink dan manis.''
Sai mendengus
''Sai bagaimana cara memasak ramen yang enak?'' tanya Sasuke
Pertanyaan itu karena tentang masakan, bukan tentang wanita membuat Sai menengokan kepalanya ke arah Sasuke sekilas. Ia memang tak setampan Sasuke, kulitnya tampak lebih pucat dari Sasuke. Dan matanya cenderung menghindari tatapan orang lain. Hanya terfokus pada satu hal, masakan, seperti yang ia lakukan sekarang.
''Ramen bukan keahlianku, kau tahu-maksudku aku adalah juru masak masakan Italia'' tegas Sai
''Ya tapi apa salahnya kau memberitahuku tentang resep ramen sederhana yang kau ketahui tanpa harus mempelajarinya seperti kau mempelajari resep pudingmu itu'', kata Sasuke sambil menunjuk puding yang sedang ditangani Sai.
Sai yang tadinya membungkuk kini menegakkan badannya, menatap Sasuke, ''Memangnya ada apa? Kenapa kau bisa tertarik dengan masakan?'', tanya Sai
''Entahlah...'', kata Sasuke mengangkat bahunya
Samar-samar terdengar suara berdenting dari balik pintu ayun yang menuju ruang makan restoran. Ada yang baru saja mengetuk gelas dengan pisau.
''Sana balik kerja'', kata Sai
''Gawat!''
Sasuke buru-buru mengenakan seragam. Celana panjang hitam, baju putih, dasi hitam, dan jas hitam.
Ketika Sasuke mengatakan pada Sakura bahwa ia chef, ia berbohong, jauh dari sebenarnya, ia bukan chef. Sasuke pelayan restoran, pelayan pemula, begitu rendah sehingga bahkan seorang tukang cuci boleh memerintahnya.
Hari ini awal bulan, tepat setiap awal bulan Restoran Templi di Konoha diadakan sebuah upacara-bukan upacara bendera tentunya-lebih tepat disebut meeting daripada upacara, karena yang akan dilakukan para staf dan pelayan Templi hanyalah mengisi buku pemesanan tempat. Para staf berdiri membentuk setengah lingkaran, berpuluh-puluh bahkan ratusan surat ditumpahkan ke atas meja bundar. Satu per satu surat itu dibuka dan di berikan pada Asuma, yang membaca isinya, memberi anggukan atau gelengan, dan menyerahkannya pada salah satu dari dua pelayan di sebelahnya. Pelayan di sebelah kiri bertugas membuang surat yang ditolak sedang pelayan di sebelah kanan bertugas mencatat nama pemesan yang suratnya diterima. Tugas Sasuke hanyalah membawa kantung-kantung berisikan surat yang tertolak, untuk dibuang tentunya.
Aneh memang, di restoran lain, pemiliknya lebih memilih melayani pemesanan tempat via telepon karena lebih cepat, dan tentu saja tidak perlu repot-repot ''upacara''. Tetapi bukan Jiraya namanya kalau ia memilih menggunakan cara pintas seperti itu, menurutnya Templi hanya memasak untuk orang-orang yang dewasa dan sensitif, tidak sembarangan orang bisa masuk dan merasakan masakan di restorannya. Hal ini lah yang mungkin menjadikan para pelanggan berbondong-bondong mengirimkan surat pemesanan tempat, jangan harap kau bisa masuk bila tak memesan tempat sebelumnya, Templi restoran Italia nomor satu di Konoha, mungkin juga alasan ini yang menjadikan ketatnya persaingan untuk memesan tempat di Templi. Tuan Jiraya bukanlah orang yang suka mempersulit keadaan, tapi untuk urusan satu ini... jenis kertas pun menjadi penentu keberhasilan proses pemesanan tempat, mengenai uang, jangan sekali-kali berpikir untuk memasukkan uang ke dalam amplop, banyak orang yang mencobanya, dan berakhir dengan wajah dingin Tuan Jiraya saat lembaran uang melayang jatuh dari amplop, uang tersebut diberikan pada pelayan seperti Sasuke dan yang lainnya, sedang suratnya langsung masuk ke tempat sampah tanpa dibaca terlebih dahulu. Tuan Jiraya terkenal tidak peduli pada uang dan itu sebabnya di menu ia tidak mencantumkan harga, dan makan malam berdua di Templi bisa membuat kekayaan anda berkurang lima ratus euro.
.
.
.
Ketika urusan pemesanan tempat selesai, jam sudah menunjukkan hampir pukul 12.00, dan para pelayan bersiap di posisi masing-masing. Jiraya selalu membanggakan bahwa jumlah pelayan di Templi melebihi jumlah tamu dengan perbandingan dua banding satu. Kalau tamu menjatuhkan garpu, garpu itu akan ditangkap sebelum menyentuh lantai dan dengan sama cepatnya akan diganti dengan garpu baru.
Persis pukul 12.15 Tuan Jiraya melakukan inspeksi harian di ruang makan, untuk memastikan tidak ada alat makan yang melanggar dari aturan yang seharusnya.
Setelah itu ia kembali ke tempat sucinya, dapur. Bagai pasukan perang yang sudah mengambil posisi pertahanan paling sempurna, staf dan pelayan Templi menunggu dalam keheningan datangnya tamu pertama di pintu utama.
Pukul 14.30 kebisingan di dapur menyamai mesin-mesin yang terawat baik di pabriknya. Para chef bekerja bagaikan kesetanan, jari-jari mereka menari anggun, menyayat, mengiris, memotong, dan mencampur. Mereka bekerja hampir tanpa bersuara, tak terdengar teriakan atau bahkan sumpah serapah, padahal mereka bekerja dibawah tekanan dan dikejar waktu tentunya.
Jiraya mengelola dapurnya secara tradisional, dengan pasukan yang terdiri atas lima tingkat. Di puncaknya adalah dirinya sendiri, sang chef de cuisine, dengan seorang chef kepala, Kakashi, sebagai tangan kanan Jiraya. Kakashi mengatur tingkat-tingkat di bawahnya-para sous chef dan chef de partie. Para sous chef bertugas memindahkan makanan ke piring, memberi saus, menghias, dan memeriksannya, sementara para chef de partie, masing-masing memegang tanggung jawab atas bagian dapur yang berbeda. Saucier untuk urusan daging, entre metier untuk sayuran, garde manger untuk hidangan dingin, dan patissier untuk hidangan penutup. Di bawah mereka ada para asisten spesialis. Lalu yang paling rendah adalah commis, yang mengerjakan apapun yang diperintahkan pada mereka oleh siapa pun yang merasa perlu memerintah mereka.
Sai, belum lama ini ia dipromosikan menjadi patissier. Pojok dapur yang menjadi tanggung jawabnya-agar hiasan gula yang rumit terlindungi dari hawa panas dapur-tapi dua sampai tiga kali sehari Tuan Jiraya memeriksa tempatnya agar berjalan sebagaimana mestinya.
Sai tidak punya banyak waktu untuk memastikan hasil kerjaannya baik atau tidak. Jam 15.00, ketika kesibukan para chef lain mulai berkurang, ia masih disibukkan untuk membuar karamel, mengocok, melipat, menciptakan karya-karya seni dari gula, krim, dan es yang memanjakan indra perasa seperti disulap lenyap begitu saja tanpa meninggalkan rasa kenyang begitu masuk ke perut. Konsentrasinya begitu penuh, sehingga baru beberapa waktu kemudian ia menyadari sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi.
Sejak tadi, suara-suara yang lebih ribut dari biasanya menerobos masuk dari ruang makan. Setiap kali pelayan keluar masuk lewat pintu ayun, gemuruh suara tawa dan percakapan keras ikut masuk, yang disadari Sai hanya suara-suara tersebut pasti telah mempengaruhi suasana hati Tuan Jiraya-sang chef de cuisine.
Pertama kali suara-suara tersebut menembus masuk, Tuan Jiraya mengangkat kepala mendengarkan baik-baik, sebelum kembali bekerja tanpa berkomentar. Tapi beberapa menit kemudian, sorakan bergemuruh terdengar. Jiraya tampak bereaksi, sejurus kemudian ia membuang masakan rumit dari kaki babi dan truffle-sejenis jamur yang tumbuh di dalam tanah dan berbentuk seperti kentang-yang sedang ia kerjakan ke tempat sampah dan memulainya lagi dari awal. Sang chef de cuisine hebat seperti Jiraya, sangat jarang harus mengulang pekerjaannya. Sekarang sebelah mata setiap anggota di dapur melirik ke arah master mereka dan sebelah lainnya ke pekerjaan masing-masing. Kesalahan-kesalahan, kekeliruan-kekeliruan kecil dalam penilaian dan ketepatan waktu mulai terjadi. Chef kepala, Kakashi, menolak lebih dari satu masakan ketika diserahkan padanya untuk disetujui, menambah besarnya tekanan para chef lain yang sudah berkeringat karena semakin banyak pekerjaan yang tertunda.
Pelayan masuk, diiringi gemuruh suara dari ruang makan, sorakan itu lagi. Jiraya menghentikan pekerjaannya dan bertanya pada pelayan yang baru masuk tadi. ''Apa itu?'' tanyanya dingin.
Si pelayan tak perlu bertanya apa yang dimaksud Jiraya. ''Meja satu. Pesta ulang tahun.''
''Berapa orang?''
''Delapan orang.''
Jiraya mulai berjalan pergi. Sambil meluruskan topi, ia menuju ke ruang makan.
.
.
Di ruang makan, pesta ulang tahun mendadak terdiam. Jiraya menyapu seluruh penghuni meja satu dengan tatapan matanya yang dingin. Dilihatnya makanan yang tidak habis disantap dan deretan gabus tutup botol, tanda sudah terlalu banyak wine kualitas terbaik yang diminum tanpa memperdulikan santapan yang tak dihabiskan. Jiraya benci itu. ''Kalian pergi,'' tegasnya. ''Sekarang. Semua. Pergi dari sini.'' Ia berbalik dan berjalan kembali ke dapur.
Seseorang tertawa, mengira itu hanya lelucon, tapi tawanya langsung berhenti ketika ia menyadari chef itu serius. Satu lusin pelayan, di pimpin Asuma, maju mendekat dengan sikap sopan ke meja pelanggar aturan tersebut.
Perlahan, tanpa ribut kelompok itu berdiri dan pergi, setiap orang diantar keluar seorang pelayan, bagai narapidana. Sasuke mendapati dirinya mengawal gadis-yang berulang tahun-yang sekarang bersimbah air mata.
''Maaf,'' gumamnya pada si gadis. ''Chef sedang stres.'' Ia menepuk lengan si gadis. ''Dan dia memang menyebalkan,'' tambahnya mengatakan kebenaran.
Tamu-tamu tersebut mundur teratur dan akhirnya masuk ke mobil mereka, kemudian menjauhkan diri dari Templi.
.
.
.
Gangguan itu menyebabkan pelayanan makan siang langsung menyambung ke persiapan makan malam tanpa jeda. Sepanjang sore para chef mengiris, merajang, mengaduk, dan membumbui tanpa istirahat, berusaha mengembalikan suasana hati Tuan Jiaya.
Pukul 20.00 suasana tenang telah kembali di Templi. Tamu-tamu pertama malam itu mulai menyantap hidangan mereka dengan penuh konsentrasi tamu-tamu berkelas itu menyantap perlahan, seperti mengapresiasikan kerja keras para chef.
Tiba-tiba terdengar ponsel milik seseorang berdering. Begitu mendengarnya, Sasuke langsung tahu itu miliknya. Lagi pula, ia sekarang ingat bahwa tadi pagi ia terlalu sibuk memikirkan si gadis pink sehingga lupa mematikan ponselnya waktu masuk ke restoran. Pelanggar peraturan seperti itu akan segera dipecat dari pekerjaan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hehehehehe gomenne minna Dii baru bisa update sekarang, sibuk, trus juga lagi buntu ide, ada alasan malas juga sepertinya tapi Dii gak berencana untuk hiatus kok.
Gimana chapter ini? Mohon koreksinya ya *nunduknunduk* oya chapter kali ini lebih fokus ke restoran tempat Sasu-Sai mengabdi #halah abis Dii masih bingung soal resep apa yang bakal dikasih Sasu-chan buat gadis pink nya, jadi porsi Sasu-Saku kali ini lebih sedikit, mungkin chapter depan :D
kalo para reader masih bingung soal penggambaran restorannya silahkan di tanya, mudah2an Dii bisa kasih penjelasan lewat cerita di chapter yang lain hehe
Jaaaa~~
