MIKO
.
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kisimoto
.
.
Warning: abal, typo, OCC dan lain sebagainya
.
Main Pair : SakuxOro, HinaxNaru, SakuxSasu, NejixTen, SasuxIno, Hinaxgaara
Dan lain sebagainya, suka hati author lah
.
.
.
Selamat Membaca
.
.
.
.
Chapter 4
.
.
.
Hinata pov
.
.
Aku mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekatiku, aku tahu bahwa sejak tadi diluar sana telah terjadi sebuah keributan dan pastilah keributan itu disebabkan oleh seseorang yang berjalan mendekatiku itu.
Tapi aku tidak peduli dan tetap menatap patung dewa matahari yang ada didepanku ini, sambil berdoa bahwa prajurit-prajurit yang ada diluar sana baik-baik saja termasuk juga Anikiku. aku bertanya-tanya dalam hati, akankah itu Kuro dan apakah aku akan mati saat ini? Tapi apabila itu Kuro dan ia berniat untuk membunuhku maka aku akan pasrah.
"Apa kau Kuro?" tanya ku akhirnya tanpa membalikan badanku menghadapnya
"Bukan" ucapnya terdengar begitu dingin dan juga datar
Entah kenapa aku sedikit lega mendengar perkataanya itu dan dari suaranya saja aku bisa memastikan bahwa seseorang yang masih berjalan mendekatiku itu adalah seorang perempuan. "Lalu?" tanyaku lagi ingin tahu.
"Kau akan tahu saat kau melihat mataku" jawabnya yang nampaknya ia sudah berada tepat dibelakangku, aku sedikit mengernyit heran dengan jawaban yang dilontarkannya itu tapi kemudian aku putuskan untuk membalik badanku, kudongakan kepalaku guna melihat wajah dan juga matanya.
Perempuan itu terlihat begitu cantik apalagi dengan rambut berwarna merah mudanya, apakah itu rambut asli? Sungguh itu terlihat seperti bunga Sakura, lalu aku tatap kedua mata emeraldnya yang entah kenapa seperti tidak ada cahaya kehidupan di kedua bola mata tersebut.
Emeraladnya bertemu dengan Lavenderku, saat aku fokuskan tatapanku pada kedua emerald itu, aku melihat dua sosok bayangan dalam kedua bola mata itu dan aku terhanyut kedalamnya. Dan entah bagaimana ini terjadi, tiba-tiba saja aku berada disebuah tempat yang tidak pernah kutahui sebelumnya, tempat ini seperti sebuah padang rumput yang sangat luas, lalu kulihat ditengah-tengah padang rumput tersebut terdapat sebatang pohon bunga sakura yang sangat besar. pohon itu benar-benar indah, apalagi kelopak sakura yang bermekaran dengan lebatnya, benar-benar cantik.
Hingga tanpa sadar aku melangkah mendekati Pohon Sakura tersebut, saat aku berada beberapa meter dari Pohon itu, aku melihat dua sosok manusia yang tengah berhadapan disebalik pohon itu, karena penasaran, aku pun mengintip mereka dengan bersembunyi dibelakang pohon.
Ternyata ditengah-tengah mereka terdapat sebuah sumur tua yang sangat aneh, aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, aku hanya dapat melihat apa yang tengah mereka lakukan.
Aku melihat seorang pria berambut hitam panjang mulai berjalan pelan menuju seorang perempuan berambut merah muda panjang yang ada didepan pria itu, dengan sambil membawa sebilah pedang yang terlihat sudah berlumuran darah.
Saat pria itu berusaha mendekati, gadis berambut merah muda yang juga mengenakan kimono Miko itu terlihat begitu terkejut dan raut mukanya terlihat begitu terluka.
'Jleeb' dan detik berikutnya aku membelalakan kedua bola mataku, begitu melihat apa yang dilakukan oleh pria itu, dia menusukan katana yang dibawanya tepat dijantung gadis tersebut. Dengan reflek aku menutup mulutku dengan kedua tanganku.
Lalu tiba-tiba saja semua pemandangan yang ada dihadapanku tadi menghilang dan digantikan dengan dua bola mata berwarna emerald.
Semua kejadian yang berputar beberapa saat yang lalu, tentang seorang Miko yang dibunuh oleh seorang pria itu, membuatku tersadar akan sebuah legenda tentang seorang Miko suci yang dahulu kala berhasil menyegel Kuro, akan tetapi karena sebuah penghianatan yang dilakukan oleh pria yang dicintainya itu, segel Kuro pun terlepas dan sang Miko suci itu tewas dengan membawa sebuah dendam bersamanya. Dan kilasan yang baru saja aku alami itu, menyadarkanku akan satu fakta bahwa gadis yang saat ini berdiri tepat didepanku itu adalah "Haruno Sakura" lontarku terkejut sambil menutup mulutku dengan kedua tanganku.
Dan keterkejutanku ini dibalas dengan senyuman samar dari gadis itu. Tidak salah lagi gadis cantik yang tepat berada didepanku itu adalah sang Miko suci itu.
.
.
End Hinata pov
.
.
Seorang pemuda berambut coklat panjang tengah menatap tajam pada kekkai yang ada dihadapannya, raut muka dari pemuda tersebut menunjukan sebuah kegelisahan yang amat dalam.
"Neji" seru sebuah suara dari arah belakangnya
"Apa yang terjadi?!" tambah orang itu lagi dengan sedikit terengah, sementara pria yang dipanggil Neji itu masih diam, dan tanpa mengalihkan pandangannya dari kekkai didepannya.
"Apa Hokage hanya mengirimu saja Shikamaru?" kata Neji kemudian.
"Tidak, sebentar lagi yang lainnya datang kemari" jawab pemuda bermarga Nara tersebut.
"Sebenarnya apa yang terjadi Neji?" tanyanya lagi.
"Ada seorang gadis yang tiba-tiba saja masuk kekuil, lalu dia berhasil menyerang para prajurit penjaga sendirian. Bahkan kemampuanku pun tidak sebanding dengannya dan nampaknya dia bukan gadis biasa" jelas Neji panjang lebar.
"Gadis" gumam Shikamaru
"Apakah gadis itu berambut merah muda?" tanya Shikamaru, yang nampaknya teringat kembali akan pertemuannya dengan seorang gadis berambut merah muda di hutan Nara tadi.
Mendengar pertanyaan dari pemuda Nara tersebut, membuat sang Hyuuga terkejut, "Bagaimana kau tahu?" ucapnya sambil memandang kearah Shikamaru.
"Aku sempat bertemu dengannya tadi dan aku rasa dia bukanlah orang yang berbahaya" balas Shikamaru.
Balasan dari pemuda Nara tersebut membuat Hyuuga Neji mengernyit heran dan menatap Shikamaru dengan pandangan bertanya.
Mendapatkan pandangan menuntut seperti itu membuat Shikamaru sedikit grogi, sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal ia pun berusaha menjelaskannya lagi.
"Yaa... asal kau tahu, gadis itu yang menolong Hokage ke-3 dari serangan Kuro" katanya tenang.
Setelah mendengar penjelasan dari pemuda Nara yang ada disampingnya itu, setidaknya telah sedikit membuatnya tenang. Akan tetapi raut wajahnya masihlah terlihat begitu tegang.
'Aku harap Hinata baik-baik saja' pikirnya risa.
" Maaf kami terlambat" ucapan cempreng dari seorang pria, membuat Neji dan juga Shikamaru menolehkan kepalanya kebelakang dan mendapati tiga sosok pemuda yang merupakan rekan mereka itu.
" Lagi-lagi karena sebuah kekkai, kita jadi tidak berdaya!" kesal seorang pemuda berambut pirang dengan goresan kumis kucing dikedua pipinya. "Yaa.. kau benar Naruto" sahut pemuda berambut coklat jabrik dengan tato segitiga merah dikedua pipinya.
"Hn.. apa yang terjadi?" tanya seorang pemuda yang nampaknya terlihat lebih pandai dari kedua pemuda tadi.
"Seperti yang kau lihat Sasuke, seorang gadis menerobos masuk kuil kami dan dia berhasil mengalahkan seluruh penjaga termasuk diriku lalu ia membuat kekkai mengurung Miko-sama bersama dirinya" jelas Neji tanpa memandang Sasuke dan fokus pada kekkai yang ada didepannya.
"Dan aku tidak tahu, gadis itu Kuro atau bukan" tambahnya lagi.
"Gadis yang dimaksud Neji, aku rasa dia adalah gadis yang sama dengan gadis yang menolong Hokage ke-3 waktu itu" timbrung Shikamaru. Dan ucapannya membuat Sasuke, Naruto dan juga Kiba memandangnya terkejut.
.
.
Lavendernya masih menatap tak percaya pada sesosok gadis cantik berambut merah muda sepinggang itu, memang ia sudah sering kali melihat hal-hal yang tak masuk akal didunia ini, tapi tetap saja ia masih merasa aneh serta tak percaya pada hal-hal itu.
Apalagi pada gadis yang ada didepannya itu, menurut legenda yang ia percayai, gadis itu seharusnya sudah mati sejak 50 tahun yang lalu, tapi bagaimana mungkin gadis itu sekarang berdiri tepat dihadapannya dan juga berbicara kepadanya, terlebih lagi ia masih terlihat seperti gadis berumur 20'an, bukankah seharusnya ia sudah tua.
"Bagaimana mungkin?" gumam Hinata lirih.
"Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini Hinata" ucap gadis itu tenang dan juga dingin, kedua emeraldnya mengunci kedua lavender yang ada dihadapannya.
"Apa kau menerima takdirmu sebagai seorang Miko suci?" tanyanya.
"A-ku..aku" jawab Hinata gugup, lalu kemudian ia menundukan kepalanya tanpa menyelesaikan ucapannya.
"Apa kau takut Hinata?" tanya gadis itu lagi, dan pertanyaanya itu membuat Hinata kembali mengangkat kepalanya dan menatap tepat dikedua emerald milik Sakura.
"Aku tidak takut" ucap Hinata yakin.
"Hanya saja aku ragu" lirihnya lagi.
"Ragu?" tanya Sakura dengan memandang heran kearah Hinata yang kini kembali menundukan kepalannya menyembunyikan wajahnya diantara rambut indigo panjangnya.
"Aku hanya ragu, apakah aku biasa menjadi seorang Miko dan apakah aku bisa mengalahkan Kuro sendirian" gumam Hinata yang masih dengan menunudukan kepalanya.
Mendengar gumaman putus asa dari Hinata membuat Sakura paham akan apa yang dirasakan oleh gadis berambut indigo itu.
Diulurkan tangannya ke dagu Hinata lalu ia naikan dagu Hinata dengan tangannya itu, sehingga membuat Hinata mendongak memandang emerald miliknya.
"Aku akan mengajarimu semua yang aku tahu tentang seorang Miko, dan aku tidak akan membiarkanmu melawan Kuro sendirian" ucap Sakura yang membuat kedua lavender yang ditatapnya melebar sempurna.
"Dimanapun kau berada, aku akan selalu ada disetiap langkahmu" tambah Sakura diiringi dengan sebuah senyuman tulus dibibirnya.
Perkataan dari gadis berambut merah muda tersebut mampu mengusir kegundahan yang dirasakan oleh Hinata sejak ia tahu bahwa dirinya seorang Miko suci. Hingga tanpa sadar Hinata tersenyum lembut sambil memegang dadanya yang terasa begitu tenang.
"Dan yang perlu kau lakukan" mendengar ucapan Sakura yang terasa digantung, membuat Hinata kembali memfokuskan pandangannya pada gadis dengan rambut seindah musim semi itu. "Hanyalah menerima uluan tanganku" lanjut Sakura sambil menjulurkan tangannya kearah Hinata dan dengan sabar menanti sambutan tangan milik Hinata.
Hinata melihat uluran tangan yang terbuka untuknya, selama ini ia selalu merasa bahwa ia berjuang sendirian, ia takut akan kegagalan serta kematian yang menantinya, ia bingung dan tak tau apa yang harus ia lakukan dan akhirnya dewa menurunkan seorang malaikat untuk membantunya dan ia tidak akan menyia-nyiakan bantuan itu. Dengan penuh keyakinan serta harapan dalam dirinya, ia pun menyambut uluran tangan itu sambil menatap kedua emerald itu dengan tatapan yakin dan percaya.
.
.
.
"Haaahhhh... aku sudah tidak tahan lagi, aku akan menerobos masuk!" seru Naruto dengan mulai mengambil ancang-ancang dan bersiap lari menerobos Kekkai yang ada didepannya itu.
Tindakan gegabah dari pemuda berambut pirang itu, sontak saja membuat terkejut ketiga rekannya yang lain. "NARUTOOO!" teriak mereka bersamaan.
'Gubrakk' tiba-tiba saja Kekkai yang akan diterobos oleh Naruto tersebut menghilang dengan sendirinya dan hal ini membuat Naruto membentur pintu masuk pada bangunan tersebut.
.
.
'Gubrakk' suara benturan yang cukup keras itu membuat Hinata mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut, didapatinya sesosok pemuda berambut pirang jabrik tengah tersungkur dengan tidak elitnya, dimana sang pemuda tersebut jatuh tengkurap menimpa pintu kayu yang telah roboh karena didobraknya itu.
"Ittai" ringisnya pelan sambil mencoba untuk berdiri dari posisi jatuhnya.
"Hinata-Sama" dan belum sempat si pemuda berambut pirang itu berdiri dengan kokohnya, dia sudah jatuh lagi akibat didorong oleh seorang pemuda berambut coklat panjang.
"Syukurlah anda baik-baik saja" kata pemuda itu lagi. "Kuro tadi, apakah melukai anda Hinata- Sama?" tanyanya sambil berjalan mendekati gadis bernama Hinata tersebut.
"Kuro?" ulang Hinata heran, setahunya disini tidak ada Kuro sama sekali. Dan dia baru ingat bahwa disini ada roh Miko Suci, pastilah Kakaknya itu mengira bahwa Roh Miko Suci itu adalah Kuro.
"ahh..dia bukan Kuro Nii-san, dia ini-" ucapanya terhenti saat ia menyadari bahwa gadis yang diyakininya sebagai Roh Miko Suci itu sudah tidak ada lagi disampingnya dan tangan dingin yang ia pegang tadi sudah tergantikan dengan udara kosong di ruangan ini.
"Aduhh...sialan kau Neji! Kenapa kau mendorongku?!" seruan protes dari pemuda yang tadi jatuh tersungkur itu, membuat kedua saudara yang tengah asyik mengobrol tersebut mengalihkan pandangan kepada sosok pemuda itu.
"Aa..aku tidak sengaja" jawab Neji datar tanpa ras bersalah sedikit pun.
"Apa..kau bilang!" kesal Naruto yang kini mulai muncul perempatan didahinya.
"Dimana gadis itu?" tanya seorang pemuda berambut nanas, yang baru saja menginjakan kaki didalam ruangan tersebut.
"Benar, sepertinya tidak ada siapa-siapa dan Miko-sama terlihat baik-baik saja" timburng pemuda berambut coklat jabrik.
"Hn" tambah si pemuda berambut donker.
"Hinata-sama, apakah tadi ada seorang gadis berambt merah muda yang masuk kesini?" tanya Neji pada Hinata.
"I..ya" jawab Hinata. "Apakah dia Kuro?" tuntut Neji.
"Bukan" jawab Hinata Mantab. Dan jawaban mantab darinya itu membuat keempat pemuda yang ada diruangan itu memfokuskan pandangan serta pendengaran mereka pada Hinata.
"Dia adalah Haruno Sakura, Miko suci yang sudah berhasil menyegel Kuro 50 tahun yang lalu dan dia datag menemuiku adalah untuk membantuku" Jelas Hinata panjang lebar, membuat keempat pemuda tersebut terkejut bukan main.
"Hahaha...jangan konyol Hinata, Miko yang berhasil menyegel Kuro 50 tahun yang lalu itu, dia sudah meninggal setelah ia menyegel Kuro" sangah pemuda berambut coklat ia jabrik, nampaknya pemuda itu sangat akrab dengan Hinata terbukti dari cara ia memanggil gadis Miko tersebut.
"Kiba, tolong sopan santun mu itu" tegur Neji malas, agaknya pemuda ini pastilah sudah terlalu sering menegur pemuda berambut coklat itu.
"Ya.. itu benar, dan dia itu adalah ROH" balas Hinata dengan sedikit penekanan pada akhir kalimatnya.
"ROH?" ulang Kiba dan Naruto bersamaan.
"yah.. tidak mengherankan sih, dia terlihat sangat merepotkan" ucap Shikamaru dengan menguap.
"Aa" Dukung Neji.
"Hn...tapi apa yang sebenarnya yang dia inginkan? Kita tetap harus berhati-hati" kata pemuda berambut donker.
"ya..Sasuke benar, tidak pasti dia ada dipihak kita atau tidak, jadi kita tetap harus berhati-hati" kata Shikamaru.
'Tapi ini berurusan dengan hantu...seram..' batin Naruto bergidik ngeri.
.
.
.
Sementara itu disebuah desa yang dipenuhi dengan kegelapan dan makhluk Kuro, berdirilah sebuah Istana yang begitu suram dan didalam Istana itu dihuni oleh sang pengendali kegelapan itu.
"Dia telah kembali" bisik sebuah bayangan hitam pada sesosok pria berambut hitam panjang yang tengah berdiri menghadap jendela, pria itu memiliki aura hitam yang sangat kuat bahkan melebihi Kuro itu sendiri dan baju perang yang ia kenakan menambah kesan mengerikan pada dirinya.
"Aku tahu itu" balas pria itu dengan dingin.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Dia pasti kembali karena ingin membalas perbuatanmu itu bukan"
"Dia tidak akan bisa" ucap sang Pria yang mulai meninggikan suaranya.
"HAHAHAH...kau takut Orochimaru, aku bisa merasakannya, HAHAHAH..kau takut"
'Zrashhh' sebuah ayunan pedang menebas bayangan hitam tersebut menjadi dua, akan tetapi kemudian bayangan tersebut dapat menyatu lagi.
"Aku tidak takut, Aku pasti akan membunuhnya lagi!" desis Orochimaru.
.
.
.
TOBECONTINUE
Yaaa... akhirnya selesai juga chapter 4 ini, setelah berbulan-bulan aku kehilangan mood untuk melanjutkan ficku yang satu ini, akhirmnya aku menemukan kembali semangatku dalam menuls sekali lagi terimakasih bagi yang sudah mereview serta memberi masukan dichap yang sebelumnya ya.. dan terimakasih juga karena sudah membaca fic ku yang gaje ini.
.
.
Akhir kata saya ucapkan
Mohon kritik dan sarannya, serta jangan lupa tinggalkan review ya..
