SEVEN DAYS.
.
.
.
Main Pairing: NamJin
Characters: BTS members
.
.
All casts belong to themselves, and this story was inspired by a japanese movie/drama with the same title. I changed some plots here and there to fit the characters.
*this is my very first published Namjin's fanfics. And i still have many of them on my laptop lol. This story only going to be around 7 chapters like the title, so enjoy!
.
.
THURSDAY
Beep. Beep. Beep.
Alarm itu berbunyi beberapa kali, sampai di deringannya yang ketiga akhirnya Namjoon membuka mata, tangannya terulur menekan tombol dismiss di ponselnya. Ia mendudukan dirinya dan bersandar di kepala ranjangnya memikirkan kejadian kemarin sore.
'Bagaimana kalau hari ini semua berubah?'
Kakinya ia gerakan ke kamar mandi, bersiap-siap untuk pergi kesekolah.
'Bagaimana kalau ia menganggap semua ini hanya main-main?'
Namjoon menghela nafas, ia tak menyadari bahwa dirinya sudah berjalan menuju stasiun, pikirannya terus saja berputar dengan kejadian kemarin. Ia benar-benar khawatir, bagaimana jika Seokjin berubah dan menjauhinya karena ciuman kemarin. Ia sendiri tak tahu, otaknya seolah tak berfungsi dan tanpa ia sadari ia menciumnya, bahkan dua kali.
Bagaimana jika Seokjin hyung tak mau menemuiku lagi? Bagaimana—'
"Selamat pagi." Namjoon tersentak menemukan dirinya sudah keluar dari pintu stasiun dan menemukan Seokjin berdiri disebelahnya.
"Pagi, hyung." Dirinya menatap Seokjin canggung.
"Kau sedikit pendiam hari ini." Ujar yang lebih tua. Namjoon hanya mengangguk, "Ada sedikit hal yang mengganggu pikiranku" jawabnya.
Seokjin memberikan senyumnya, "Eits, jangan berpikiran macam-macam. Juga jangan berpikiran aku akan memberikanmu morning kiss. Karena yang kemarin itu hanya ketidaksengajaan." Ia melipat tangannya di dada. "lagipula itu salahmu." Tambahnya.
Namjoon tertawa, entahlah ia sedikit lega Seokjin tidak menjauhinya. "Itu bukan ketidaksengajaan hyung, itu jebakan."
"Maksudmu?"
Namjoon hanya tersenyum sebagai jawaban, 'iya, aku yang terjebak olehmu.'
Untuk sekian kalinya, waktu istirahat mereka habiskan berdua di atap sekolah. Menikmati angin sejuk dan suasana yang sepi, untungnya siswa-siswi lain memang jarang sekali mengunjungi atap sekolah.
"Ah aku mengantuk. Aku susah tidur kemarin malam" Seokjin menguap dan mengusak rambutnya kebiasaan dirinya ketika mengantuk.
"Tidur saja hyung, masih ada cukup waktu sebelum kelas selanjutnya dimulai."
"Aku terus-terusan tidur didepanmu, waktu dibioskop juga aku tidak sengaja tertidur." Seokjin sendiri agak malu dengan tingkahnya yang bisa-bisanya ketiduran di kencan pertama mereka.
"Tak masalah."
Seokjin tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di atas paha Namjoon, "Kalo begitu aku mau tidur, kau jadi bantalku ya."
"Eh, hyung... tapi" Namjoon sungguh kaget.
Seokjin menepuk-nepuk paha Namjoon, "Eyy. Pahamu otot semua... keras sekali."
"Bagaimana lagi... aku kan bukan perempuan."
"Iya aku tahu." Seokjin menyamankan dirinya dan menutup mata, mencoba untuk tidur. Tetapi ia tiba-tiba teringat sesuatu. Pria itu langsung mendudukan dirinya membuat Namjoon kaget untuk kedua kalinya.
"Namjoon."
"Astaga hyung, ada apa?"
"Ada seseorang dikelasku yang pernah menjadi kekasih seminggumu." Seokjin tiba-tiba teringat Yoongi. "Namanya Min Yoongi, kau ingat?" Tanyanya.
Namjoon mengangguk. Ia memang mengingat beberapa orang yang pernah ia kencani. Apalagi ia tak banyak mengencani laki-laki. Jadi ia cukup ingat Yoongi.
"Ah sudah kuduga, sifat unik Yoongi memang akan sulit dilupakan" celetuk Seokjin mengingat teman nyentriknya itu. "Apa kau sering menghubunginya?" Tanyanya lagi penasaran.
"Aku tidak pernah menghubungi lagi orang yang pernah kukencani."
Entah kenapa jawaban Namjoon membuat Seokjin terdiam.
"Tapi mungkin mereka masih suka menghubungimu, kan?"
Namjoon menggeleng, "Aku tak tahu, aku tidak pernah menjawab panggilan dari nomor yang tak dikenal."
Seokjin terdiam lagi beberapa detik sebelum ia mengatakan dengan lirih, "Jadi... kau menghapus semua nomor orang yang kau kencani setelah hubungan kalian berakhir. Bukankah... itu kejam?"
Namjoon tak langsung menjawab, pandangannya ia alihkan untuk menatap Seokjin yang berada disisinya.
"Bukankah, seorang kekasih tidak akan suka jika kekasihnya menghubungi orang lain yang pernah dikencaninya?"
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Pikiran Seokjin dipenuhi oleh kemungkinan Namjoon yang akan memutuskan semua kontak dengannya begitu hubungan mereka berakhir, dan itu berarti tinggal dalam hitungan hari. Apa ketika mereka berakhir diakhir pekan ini, Namjoon akan menghapus kontaknya juga lalu bertingkah seolah mereka tak saling kenal?
Drrt.. Drrt. Drrt.
Namjoon merogoh ponsel disakunya yang bergetar, muncul seorang nama yang dikenalnya disana. Ia melirik Seokjin yang masih menunduk tak mengeluarkan suaranya. Panggilan itu berhenti tapi kemudian muncul lagi hanya selang beberapa detik.
"Hyung, aku akan menjawab panggilan sebentar." Ujarnya sambil berjalan beberapa langkah dari tempat Seokjin duduk.
Langsung terdengar suara perempuan yang sangat dikenalnya begitu ia menekan tombol hijau di ponselnya.
"Namjoon. Minjoon benar-benar lelaki paling buruk.—"
"—aku bahkan menghubunginya duluan tetapi dia tetap marah padaku."
"Apakah kau meminta maaf dengan benar?" Seokjin bisa mendengar suara Namjoon, karena memang posisinya tidak terlalu jauh.
"Kenapa aku yang harus meminta maaf? Kau berada dipihaknya?"
Namjoon menghela nafas, "Dipihaknya? Kau yang berselingkuh Jinnie, Ini bukan salahku."
Seokjin langsung menoleh mendengar nama Jinnie. Ia sempat mendengar beberapa rumor yang mengatakan bahwa Namjoon memang pernah menjalin hubungan dengan Jinnie, entahlah siapapun gadis itu. Ia jadi teringat gadis yang mengantar Namjoon di hari dirinya mengajak Namjoon berpacaran.
Seokjin sendiri tak mengerti, kakinya tanpa diduga melangkah menghampiri Namjoon dan langsung merebut ponsel laki-laki itu.
Namjoon sendiri hanya berdiri kaku begitu Seokjin merebut ponselnya, terlalu kaget. Ponsel itu bergetar lagi ditangan Seokjin.
Seokjin meremas tangannya marah, ia melempar ponsel itu kembali ke arah Namjoon.
"Kau dengan mudahnya menghapus semua nomor orang yang menyukaimu. Tapi kau menyimpan nomor orang yang kau sukai. Apa maksudnya itu?" Teriaknya marah.
"Kenapa... kau marah hyung?"
"Kenapa?!" Seokjin mengusak rambutnya kasar. "Karena saat ini statusku adalah kekasihmu, apa salahnya dengan itu?!" Seokjin menatap Namjoon kemudian pergi meninggalkan lelaki itu dengan perasaan yang tak menentu.
Namjoon menatap kepergian Seokjin dengan nanar. Ia merasakan ponselnya bergetar lagi menunjukan nama yang sama. Dirinya terduduk begitu saja di lantai atap.
"Kau menangis?" Tanyanya begitu menjawab panggilan itu dan terdengar isakan dari seberang.
"Kenapa tidak memaafkannya saja?" ia kemudian menghela nafas. "Ia hanya berselingkuh darimu satu kali, setahun yang lalu. Dan kau sudah membalaskan dendammu dengan berselingkuh darinya juga kan?" jelasnya.
"satu kali atau lebih, itu sama saja." Terdengar isakan disana.
"Ya... dan itu tidak bisa dimaafkan, ya kan? Karena kau mencintai kakakku lebih dari siapapun."
"Aku selalu iri padanya, mendapatkan cintamu sebegitunya."
"Itu karena kau bodoh. I Love You, Namjoon." Ujar gadis itu. Namjoon tersenyum.
"I Love You, too. Tapi..."
.
.
.
Namjoon berjalan keluar gerbang sekolahnya. Hatinya berkecamuk memikirkan bagaimana caranya untuk meminta maaf pada Seokjin. Ia melihat lelaki yang menjadi kekasihnya saat ini berdiri didekat gerbang.
'Apa hyung menungguku?'
Belum sempat ia menyapanya, Seokjin sudah menyapanya duluan. "Hai." Sapa Seokjin sambil melemparkan sebotol air mineral kearahnya.
Namjoon cukup takjub dengan perubahan mood Seokjin yang cepat.
"Hyung..."
"Ayo kita pulang bersama." Ajaknya dengan senyuman yang membuat Namjoon terpesona.
Mereka berjalan menuju stasiun melalui taman yang kemarin mereka lewati. Namjoon meneguk air yang tadi Seokjin berikan, menawarinya pada Seokjin yang juga memang terlihat kehausan.
"Aku minta maaf." Ujar Seokjin sambil memberikan botolnya kembali pada Namjoon.
"Aku tidak tahu, kenapa tadi aku bisa menjadi marah." Sambungnya. Melihat Namjoon belum mengeluarkan suara iapun meneruskan "Lagipula kita ini kan hanya berpacaran sementara, aku sendiri bingung kenapa aku malah marah-marah padamu. Aku kan tak berhak."
Namjoon tersenyum sambil menatap Seokjin. "Tak apa hyung, tidak seharusnya kau yang meminta maaf. Lagipula aku tipe orang yang suka diikat seperti itu, aku suka." Ujarnya dengan senyumnya penuh arti.
Sementara jauh di tempat lain, ada gadis yang terus memandangi ponselnya. Kata-kata dari orang yang dihubunginya tadi masih terngiang di telinganya.
"Dasar bodoh" celetuk gadis itu.
.
.
"Aku selalu iri padanya, mendapatkan cintamu sebegitunya."
"Itu karena kau bodoh. I Love You, Namjoon." Ujar gadis itu
"I Love You, too. Tapi..."
"Apa?" ada sedikit jeda disana.
"Aku tidak akan menjawab panggilanmu lagi..."
"...seperti kau yang selalu menomorsatukan kakakku,—"
"—aku sudah menemukan seseorang. Melebihimu Jinnie. Seseorang yang benar-benar aku cintai."
A/N: AAAAAAAAAK, BYEEEE~ Chapter selanjutnya nunggu aku update ff aku yang lain dulu yaaa hehehe
