Einsamkeit
Chapter 3: Hegemoni.
APH HIDEKAZ HIMARUYA
Einsamkeit © Ludwig Beilschmidt/Germany/Doitsu
WARN: *mungkin* typo, human name used, minim riset, masih termasuk newbie di APH,ketidak jelasan alur juga genre cerita, dan pengetahuan-setahu-pelajar-saja, saya tak berpegang pada EYD, dan ini bukan fic yaoi. All about brotherly love.
Summary: Gilbert memikirkan kenapa ia masih saja diberi kehidupan. Padahal Jerman Timur maupun Kerajaan Prussia telah lama lenyap. "Terkadang, dunia yang diselimuti kedamaian tak akan merubah apapun menjadi lebih baik ataupun sebaliknya, West."
Ide cerita semata muncul di kepala saya. Kesamaan aspek cerita tak memiliki hubungan apa-apa dengan kenyataan. Saya hanya punya cerita, bukan tokoh beserta relasinya.
.
.
Ludwig pergi pagi-pagi sekali hari ini. Ia bilang ada rapat antar para personifikasi negara di Bern, Swiss. Ia berharap kalau adiknya ini bisa pulang dengan kepala selamat tanpa ada bekas tembakkan sedikitpun.
Sejak pembicaraan bodoh di Brandenburger Tor, Gilbert tidak pernah sekalipun mengangkat tema itu di hadapan Ludwig. Ludwig sudah lelah dengan pekerjaannya sebagai personifikasi negara. Ia tak perlu menambahnya sehingga Ludwig makin kesulitan kedepannya.
Ludwig kini tak ada di rumah. Ia juga otomatis tak mungkin bisa menghubungi Francis dan Antonio untuk sekedar menghabiskan pulsa. Gilbert menghela napas. Bukannya ia sudah biasa dengan keadaan seperti ini? Lenggang sekali hari ini. Ia bahkan tak tahu apa yang ingin ia lakukan sekarang.
Ia menengok ke arah televisi yang masih anteng. Ia belum sama sekali menyentuh televisi beberapa hari akhir ini. Hah, ia juga merasa tak enak sendiri kalau menjadi sibuk sendiri.
Apalagi kalau itu adalah hal yang akan mengubah seluruh takdirnya ke depan.
Gilbert memutuskan untuk menyalakan televisi. Sekedar mencari kesibukan baru.
Hanya butuh waktu beberapa detik sampai ia bisa mengatakan bahwa TV ini mulai berubah menjadi sangat tidak awesome. Gilbert sedikit membelalakkan matanya—atau lebih tepatnya menahan ekspresi kagetnya begitu ada sebuah acara pagi yang membahas tentang keberadaannya. Maksud mereka, tentang orang-orang yang menentang dan ingin mengembalikan kejayaannya—Prussia.
Di katakan bahwa para orang-orang Prussia itu sangat mengganggu kondisi dalam negri. Dengan dimulai dengan banyaknya demo-demo yang tak berakhir dengan tenang. Dan entah apa lagi yang akan terjadi selanjutnya nanti. Sang narasumber dengan seenaknya mengatakan bahwa orang-orang Prussia—tidak, cecungguk yang menginginkan kembalinya eksistensi Prussia yang menjadi negara yang memiliki kedaulatan secara sempurna. Tidak seperti keadaannya saat ini yang tak jelas seperti apa.
Gilbert menahan kepalan tangannya yang perlahan makin menjadi kuat. Tapi ia lebih memilih untuk menyimaknya beberapa saat lagi. Mungkin saja bukti-bukti ini bisa di gunakan ketika dirinya—Prussia kembali diakui oleh siapapun. Sebagai ganti tangannya yang tak bisa ia tinjukan pada orang tersebut, mata scarlet ruby milik Gilbert menatapnya setajam pisau Guilotinne yang bisa memisahkan kepala manusia dan badannya tanpa rasa sakit sekalipun.
Istilah Prussia di gunakan beberapa kali pada acara itu. Bisa di kata, Gilbert senang akhirnya namanya kembali di munculkan di media seperti televisi. Tapi ini hanya akan membuat imejnya makin buruk. Ia tak ingin di katakan seperti teroris yang ada di berita-berita. Ia langsung menggigit bibir bawahnya dan mematikan televisi. Ia hendak membanting remote hingga hancur tapi ia gagalkan karena ia terlalu malas untuk membeli remote lagi jika ia merusak yang ini.
'Manusia-manusia bodoh yang tak tahu balas budi. Mereka pikir, untuk siapa kami berperang dan mengorbankan banyak hal lainnya? Inikah balasan kalian padaku? Pada seseorang yang telah mengurus Jerman dari tempat ini bukan apa-apa?' Gilbert melangkah cepat pergi ke kamarnya untuk mengambil beberapa kertas kosong dan juga pulpen. "Aku akan menunjukkan mana yang sesungguhnya lebih rendah dari orang yang mengejek rakyatku."
Gilbert membiarkan tangannya menulis. Kata orang-orang, menulis bisa juga bertujuan untuk mempersiapkan rencana masa depan seseorang. Benar. Gilbert sedang menulis rencananya. Beberapa diantaranya yang bersifat anarkis.
Banyak hal yang ia tulis. Salah satunya adalah hal yang akan ia lakukan kurang lebih esok atau dua hari lagi. Tapi baginya, cukup beberapa detik saja, ia sudah bisa mendapatkan apapun yang ia mau. Ia langsung membacanya dengan sangat penuh kebanggan. Sasarannya selanjutnya.
Inggris memang licik pada China(1). Tapi mau di kata apa, hal itu memang benar adanya.
Kekuatan sebuah negara, juga sebagai kelemahan dari sebuah negara.
.
.
"Jadi, langsung saja." Gilbert menaruh cangkir kopinya yang baru saja ia minum sedikit. "Apa kalian bisa melakukannya?"
Hans dan beberapa orang lainnya saling bertatapan agak ragu. Mereka tak bisa membantah dan mengatakan 'tak ada yang bisa'. Konsekuensinya, mungkin saja Gilbert bisa marah sangat besar pada mereka jika hal itu terjadi.
Gilbert membahas tentang sebuah topik yang luar biasa. Ia mengatakan bahwa ia akan memulai serius karena pemerintah Jerman sendiri menganggapnya dan orang-orang yang berada di bawah hegemoninya hanyalah sampah masyarakat.
Maka, ia akan mengambil alih kekuatan militer Jerman. Masa-masa luar biasa tentu sudah Gilbert lewatkan dengan segala penuh penderitaannya. Makanya, bukan suatu hal yang susah baginya untuk mengatur seperti apa militer yang sangat pas untuk idealismenya ini.
Hegemoni, Gilbert menyebutnya seperti itu. Kekuatan kharisma serta hegemoni-nya lah yang membantu banyak dalam hal ini. Ia bisa saja memerintahkan seluruh kekuatan militer Jerman berada di bawah kendalinya. Satu-satunya penghalang adalah bagaimana caranya menyampaikan pidato singkat nan penuh suara kharismanya itu bisa terdengar hingga ke pelosok-pelosok negara bagian.
Di butuhkan kemampuan hack untuk memanipulasi jaringan yang ada dan saling dikomandoi olehnya. Sayangnya, mungkin ia tahu bahwa orang-orang yang fanatik dengan Prussia ini tak ada yang beruntung dalam bidang teknologi seperti ini.
"Kalau kalian nggak bisa, juga gak apa-apa. Yang kita butuhkan hanyalah pertahanan dasar untuk melindungi semua warga Prussia." Gilbert menunjukkan jarinya menuju salah satu bagian dari markas militer sasarannya. "Kita akan bersiap-siap pagi-pagi sekali. Sekitar jam 3 kita akan coba menyusup ke sana. Dan masalah pidatoku, aku akan langsung pergi ke ruang informasi untuk merebut speaker yang ada di sana."
"Apa Anda berkeyakinan kuat kalau misi ini akan selesai dengan sempurna?" Hans mengangkat tangan dan bertanya. Gilbert mengangguk dan dibalas dengan 'oh,' ria dari Hans.
"Kita harus mulai serius jika pemerintah tak merespon kita dengan serius." Gilbert menggebrak meja dan membuat orang-orang lainnya terkaget. "Mereka hanya menganggap kita, orang-orang minoritas sebagai pengganggu saja! Kita tak boleh membiarkannya. Dengan kembalinya kejayaan Prussia, semua aspek yang akan memakmurkan rakyat akan kembali berdiri. Kita akan tetap dianggap sebagai 'tidak ada' jika kita tidak melakukan hal ini. Ambil pisau, pedang, atau senapan kalian. Kita harus mengubah sejarah ini! Kita harus mengubah Eropa ini! Kita harus mengubah dunia yang kotor ini!"
Hegemoni. Gilbert yakin kalau kata-katanya ini dapat membuat mereka menjadi kembali bersemangat. Tentu juga dalam ruang jangkauannya. Dari pandangan mata, Gilbert tahu sekali mana saja yang benar-benar berani dan mana yang tidak terlalu berani. Tapi sudahlah. Kalau pemerintahannya sudah terbentuk, ia bisa membuang orang-orang seperti itu.
"Kita akan berkumpul kembali di sini jam 3 pagi. Kurang lebih kita akan sampai di markasnya pada jam 4 atau 5 pagi. Aku memperkirakan misi ini akan memakan waktu sampai jam 8 pagi. Bersiaplah. Siapapun yang telat, aku tak akan memberikan ampunan. Kalian akan di tinggal di sini. Cukup. Itu untuk hari ini. kalian bisa bubar." Gilbert mengakhiri rapat kecilnya ini dan ia tetap duduk di posisi yang sama. Karena ia yakin pasti ia akan di hujani beberapa pertanyaan tentang misi yang ini.
Benar saja. Ada banyak pertanyaan dari yang sepele seperti tentang siapa yang akan memberikan makan pagi hingga yang meragukan kemungkinan keberhasilan misi ini. Gilbert tahu, kalau mereka ini masih termasuk lemah. Masih termasuk orang-orang yang takut mati. Orang-orang yang masih sayang pada dunia. Tapi ia tak mendengar keluhan seperti itu dari Hans. Memang ia tak pernah salah dalam memilih orang. Hans, sosok perfeksionis yang bisa ia gunankan untuk bergerak secara bebas.
Ketika pertanyaan-pertanyaan itu sudah selesai dijawab, ia baru sadar kalau ini hampir waktunya malam datang. Walaupun ini masih tanggal 12 September, ia tetap akan pulang sebelum waktu malam tiba. Ia tak ingin mengambil banyak resiko ketika ia pulang terlalu larut malam.
Gilbert mengeratkan syalnya. Ia tak ingin sakit ketika besok. Hari penting dalam sejarahnya akan terukir lagi. Ia sudah berjanji, bahwa ia akan mengembalikan kejayaan dari sebuah kerajaan yang tak memiliki teritori begitu luas tapi sangat punya banyak pengaruh. Prussia. Mata Gilbert menunjukkan cahaya yang penuh sorot keyakinan akan hari esok.
.
.
Gilbert mengenakan seragamnya yang berwarna prussian blue. Tak luput Iron Cross yang tergantung di lehernya. Pagi yang cukup sadis baginya adalah hari ini. Tapi, jika ia tak menggunakan hari ini, kapan ia akan mendapat kesempatan besar seperti ini lagi?
Kemarin, kalau tidak salah ada sekitar 10 orang yang mengikuti rapat kecil di kafe milik Hans. Tapi hari ini, yang hadir hanya 3 orang saja. Gilbert menghela napas. Memang yang namanya revolusi itu bukan pekerjaan yang bisa di lakukan semua umur terutama orang tua 'ya? Terbukti dengan orang-orang yang menjadi pengikut Gilbert rata-rata memilki usia sekitar 30 keatas. Hanya Hans yang merupakan pemuda berumur 20-an dan seorang wanita dengan hati pemberani luar biasa bernama Hannah. Gilbert jadi teringat dengan salah satu saudara Ivan yang mengerikan bernama Natalia.
Angin musim gugur dingin ia rasakan membelai rambut albino milik Gillbert. Saat ia masih di akui dulu, ia sangat sering merasakan angin sesegar ini tiap hari. Dimana ia harus terbangun pagi-pagi sekali dan bersiap untuk mengangkat senapan ke arah tentara musuh, tepatnya. Hah,... ia merasakan lagi-lagi dirinya sudah cukup lama dan menjadi tua untuk kembali merasakannya.
Gilbert membuyarkan ingtannya begitu mengetahui mobil ini sudah berhenti. Memang markas militer masih belum terlihat. Tapi suatu hal yang fatal jika ia memasukkan juga mobil ini dalam pekaranagan markas militer.
"Baiklah. Aku akan jalan duluan. Kalian bersiap dengan senapan itu dan juga pisau kecil yang aku berikan. Ikuti saja kemana aku pergi. Jangan terlalu terburu-buru. Tujuan utama kita adalah ruang informasi dan aku akan berbicara lewat speaker. Sebelum aku sampai di ruang informasi, mungkin akan terjadi hal-hal yang sangat tidak di inginkan. Karena itu tetaplah bersiap siaga. Kalian bersiap-siap saja kalau ada hal-hal yang tak di inginkan terjadi. Aku yakin kalau yang ini akan berjalan dengan mulus. Gott mit uns(2). Ayo kita mulai."
Gilbert langsung melompat dari mobil bak buka. Ia mengeratkan sarung tangan hitamnya dan mempercepat langkahnya menuju pos penjanga paling luar. Penjanga malam kali ini tetap sigap meski keadaan sepertinya sangat sunyi senyap nan tak berbahaya.
Gilbert mendekati pos itu dan menyapanya dengan salam militer. Penjaga yang berjumlah sekitar 5 orang itu membalasnya dan bertanya siapa dirinya. "Tunduklah pada kejayaan Prussia yang akan bangkit! Jerman sudah mencapai batas akhir penuh kebobrokkan yang tak akan bisa terselamatkan, termasuk kalian, para penjaga negeri ini."
Hegemoni. Hanya butuh waktu beberapa detik dan mereka langsung menjawab 'iya'. Mereka langsung keluar dari pos penjaga dan mengambil senjatanya masing-masing. 'Aku tak pernah menyangka akan semudah ini mengambil alih kekuasaan mereka.'
Gilbert dan beberapa pengikutnya berjalan menelusuri koridor, dimana orang-orang yang ada banyak orang-orang yang menentangnya masuk lebih dalam. Mereka tetap menganggap Gilbert orang asing yang tak jelas asal usulnya dari mana. Datang dan seenak udelnya masuk ke markas militer bukanlah suatu tata krama yang diajarkan siapapun. 'Merekalah rakyatku. Aku yang harus menyelamatkan mereka dari kehancuran ini.'
Orang-orang, atau lebih tepatnya para prajurit yang baru saja bangun atau bertugas makin banyak yang mengancam Gilbert. Tak sedikit darinya yang langsung menghunuskan tinjunya namun di tangkis oleh prajurit yang tunduk padanya. Mereka yang sudah sekali meninju, tak berani lagi untuk meninju Gilbert dan orang-orangnya. Alasannya? Dari tatapan mata saja sudah terlihat sangat menakutkan. Tak biasanya teman mereka ini menatap mereka dengan tatapan sangat dingin nan mengancam nyawa ini. Dan itu terjadi pada siapapun yang melawan Gilbert.
Gangguan yang makin lama terasa sangat menyebalkan akhirnya berhenti begitu ia memasuki ruang informasi. Gilbert, dengan pengetahuan tentang ruang ini yang datang dari mana, langsung menyalakan speaker dan menyampaikan kata-kata penuh kharisma dan hegemoni-nya.
"Tunduklah pada kejayaan Prussia! Tak akan ada lagi yang akan menyelamatkan kalian dari kehancuran negeri yang sudah bobrok ini! Bangunlah dari pandangan buta kalian terhadap manipulasi sejarah! Selama ini kita telah di bodohi dengan pemerintahan yang tenang. Tidak tahukah kalian tentang para leluhur yang menderita? Apa kalian menyia-nyiakan perjuangan mereka membangun negara yang bahkan sama sekali tak berterima kasih pada Prussia!? Jerman ini!? Malulah kalian, wahai generasi yang dibutakan sejarah! Bangkit dan luruskan barisan kalian untuk mengubah negeri ini makin lebih baik dibawah naungan Prussia!"
Kata-kata simpel, tapi dengan kekharismaan milik Gilbert, tentu dengan mudahnya membuat para prajurit yang mendengarnya langsung merasa patuh padanya. 'Semudah inikah?' bisik hati Gilbert. Ia sedikit menyunggingkan senyumannya. Kini ia semakin dekat dengan tujuannya. 'Ludwig... lihatlah ini. Aku akan semakin diakui di dunia ini.'
Gilbert menengok kembali ke arah beberapa orang yang memang di tugaskan menjaga ruang ini. Mereka terlihat tahu Gilbert hendak memberikan sebuah instruksi. Pikiran mereka sudah berubah dengan mendengarkan sedikit pidato dari lantang seorang Gilbert Beilschmidt. "Bisakah kalian menyiarkan perkataan singkatku ini ke markas-markas lainnya? Terutama yang dulunya adalah bagian dari Jerman Timur?"
"Baiklah!" beberapa orang itu langsung tersibuk sendiri mengurus alat-alat yang entah kegunaannya untuk apa. Yang Gilbert tahu, alat-alat itu ada hubungannya untuk mengedarkan sebuah perintah dari satu speaker ke speaker yang lainnya.
"Kita pulang." Gilbert menepuk pundak Hans. Hans sendiri masih terpaku karena kata-kata Gilbert. Ia terlihat kagum dan tak bisa berkata apa-apa untuk perkataan Gilbert. Ia gelagapan begitu menyadari Gilbert sudah menyuruhnya untuk pulang. "Kita sudah selesai, Hans. Ayo pulang."
.
.
Malam datang membawa dinginnnya angin musim gugur. Gilbert menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya. Ia berpikir kalau hari ini saja ia sudah selelah ini, bagaimana dengan hari esok? Mungkinkah ia tetap bisa bertahan dengan tingkat kelelahan yang sudah pasti akan perlahan menaik?
Tapi, sekalipun ia merasa lelah, ia tetap merasakan kalau ada sesuatu dalam dirinya yang bertambah kuat. Gilbert sendiri tak tahu mengapa hal itu terjadi. Yang penting, ia harus memikirkan apa lagi rencana berikutnya yang akan ia laksanakan. Ia sudah tak bisa lagi berleha-leha. Tak ada waktu lagi untuk sekedar beristirahat lagi. Ia harus bergerak cepat sebelum ada yang lainnya yang mencoba untuk menghentikannya.
Sekalipun itu seorang Ludwig Beilschmidt.
Hah. Kalau memikirkan adiknya, semangatnya secara drastis menciut. Pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya yang menanyakan mengapa dirinya begitu pun sudah tak terhitung berapa banyak. Gilbert lebih memilih untuk tak memikirkan Ludwig. Setidaknya, untuk sementara saja. Hatinya selalu tak merasa enak begitu mengingat Ludwig.
Gilbert berguling-guling di ranjangnya. Sedikit perasaan senang menyambutnya. 'Aku sudah makin maju! Aku akan segera dianggap menjadi negara yang memiliki eksistensi lagi seperti dulu! Ah, aku benar-benar tak mau lama-lama menunggu hal itu terjadi.' Senyumnya mengembang. Ia membayangkan suatu saat bisa bergabung dalam rapat personifikasi negara-negara. Atau ia sedang berada dalam kunjungan kerja ke negara-negara yang ada di dunia. Ataupun disaat hal-hal konyol nan kecil terjadi seperti tim sepakbolanya masuk ke jajaran tim sepak bola yang akan muncul di Piala Dunia. 'Betapa menyenangkannya jika aku benar-benar menjadi sebuah negara yang diakui semua orang.'
Gilbert kembali berguling-guling. Tapi ia berhenti begitu mendengar sebuah suara telepon masuk. Ia lantas mencari-cari handphone-nya dan melihat siapa yang menelponnya. West. Nama yang tertera di layar handphone itu mendadak membuat Gilbert sedikit sedih. Entah mengapa, begitu ia melihat atau memikirkan Ludwig, ia menjadi kesal dan sedih sendiri. Ia sedikit bingung untuk mengangkatnya atau tidak. Pada akhirnya, ia memilih untuk menjawabnya. Sayang kalau Ludwig sudah susah payah menyempatkan waktu untuk menelpon malah ia tak jawab hanya karena dirinya galau tak tahu ingin menjawabnya atau tidak.
"Ada apa, Lud—"
"BRUDER!" suara Ludwig yang begitu berat nan keras itu membuat Gilbert langsung menjauhkan handphone-nya beberapa sudut dari telinga Gilbert. "Aku dengar ada masalah yang lumayan serius di bagian militer. Apakah kakak baik-baik saja disana? Aku khawatir kalau ada oknum-oknum yang dengan seenak udelnya menembak kakak menggunakan senajatanya."
Ludwig masih melanjutkan komat-kamitnya mengkhawatirkan kakaknya dan juga kondisi negaranya. Ludwig cukup panjang berkomat-kamit. Dan akhirnya sang Prussia merasa dirinya di kacangin. Tapi, toh, setidaknya inilah Ludwig yang sebenarnya. Ludwig yang selalu khawatir dengan hal-hal apapun sekalipun itu bernilai kecil.
"Sepertinya aku nggak tega kalau kau begini."
"Ah, kakak ngomong apa? Maaf kalau aku berbicara sangat panjang dan tidak memberikan kakak waktu sebentar untuk berbicara." Gilbert terkekeh. Sudah lama sekali Ludwig tak bersikap kikuk. Meskipun disaat gugup seperti ini juga, seorang Ludwig tetap menggunakan bahasanya yang setingkat langit.
"Bukan apa-apa kok, West. Lagipula, kau sama sekali tak boleh berkhawatir ria pada Gilbert yang awesome ini. Aku tidak apa-apa kok. Orang awesome sepertiku tak mungkin bisa terluka sesentipun!" ujar Gilbert dengan sangat bangga. Terdengar suara helaan napas lega Ludwig. "Lalu bagaimana dengan rapat hari ini? Apa kau mendapatkan hasil yang maksimal?"
"Tidak begitu. Walaupun pada awal dan beberapa saat menjelang rapat terakhir berjalan lancar. Tapi yang kali ini cukup parah pertengkaran mereka. Alfred dan juga Ivan bertengkar kecil tapi terlihat sangat mengerikan. Entah mengapa, aku punya firasat buruk akan hal ini." Gilbert tetap mengangguk-angguk kecil mendengarnya. Memang Ivan dan Alfred sempat bertengkar luar biasa hebat walaupun mereka pernah menjadi teman di blok Allied.
"Ho... aku juga berharap tak akan terjadi apa-apa diantara mereka. Yang ku khawatirkan adalah posisi negara kita yang dekat dengan Rusia. Kalau saja terjadi apa-apa, kemungkinan besar Jerman juga bisa mendapatkan efeknya dalam hitungan hari, jam, bahkan detik."
Ludwig mengangguk-angguk dan berdiam sebentar. Ia sedang mencari topik apa lagi yang akan ia bicarakan. Tapi, buntu. Selalu saja ketika ia menelpon seseorang yang penting, pasti ketika berbicara di luar topik yang sudah ia tentukan akan berujung buntu seperti ini. Tapi, sekilas, ia mendapatkan ilham untuk menanyakan hal ini langsung pada orangnya—Gilbert.
"Apa kakak..." suaranya berhenti sejenak. Rasanya tenggorokannya tercekat. Salivanya mengalir untuk mengaliri tenggorokkan yang mengering mendadak. Keberaniannya yang sudah ia susah payah kumpulkan sekarang tercerai berai. Tapi, ia harus menanyakannya. Harus. "Apa kakak... memiliki renca..."
Gilbert membelalakkan matanya. Ludwig menelan salivanya kembali. Ia terlalu takut ketika ia menanyakan hal itu, kakaknya akan dengan sangat marah menutup jaringan telepon dan melakukan hal yang tak bisa ia sangka di hari esok. Beberapa negara juga telah menanyakan hal ini padanya. Meski pada ujungnya, Ludwig tak punya jawaban apapun untuk pertanyaan mereka. Termasuk Antonio dan Francis, duo makhluk yang gilanya tak pernah koit ini juga menunjukkan rasa khawatirnya yang luar biasa begitu bersangkutan dengan Gilbert.
Ini sudah terlalu lama. Gilbert tak suka menunggu terlalu lama. Meski ia bisa menebak, kemungkinan besar adiknya tak ingin melanjutkan perkataannya di karenakan dirinya terlalu takut untuk menanyakan suatu hal yang sangat berat nan besar. "Ludwig, jujurlah. Apa yang ingin kau bicarakan. Mungkin kalau kau berbicara baik-baik, aku juga dapat menerimanya dengan baik-baik. Utarakan saja apa yang ingin kau bicarakan padaku. Aku yain itu adalah hal yang begitu berat dan kau tak sanggup membicarakannya dengan kata-kata yang penuh blak-blakkan."
Ludwig bingung. Ia tak ingin menyakiti perasaan siapapun kalau ia berkata langsung. Apalagi, kurang lebih, ia mengetahui kalau kondisi psikolog kakaknya sedang terombang ambing. Berbohong. Itulah pilihan kedua Ludwig selain berkata jujur pada Gilbert. Meski ia tahu kalau hal itu termasuk menunda kebenaran untuk muncul dan menyelesaikan masalah dengan cepat.
"Aku tidak jadi menanyakannya, bruder. Aku pikir, mungkin lebih baik jika aku menanyakannya ketika aku sudah pulang dari tugas. Jadi aku bisa berbicara face to face dengan kakak. Jadi lebih leluasa."
"Baiklah." Gilbert menjawab tanpa harus berpikir apa-apa lagi. "Kalau begitu, selamat malam. Jangan tidur terlalu malam atau matamu akan seperti panda, West!"
Beberapa detik kemudian, Ludwig menutup telepon itu. Hah, begitu Gilbert menjadi orang rumahan dan hidup di kelilingi barang-barang elektronik, ia mengkhawatirkan berapa tarif pulsa yang harus di bayar Ludwig untuk menelponnya. Siapapun tahu, kalau menelpon orang berbeda teritori negara akan dikenakan tarif yang luar biasa mahal.
Gilbert kembali terpikir. Hal macam apakah yang Ludwig sembunyikan sampai-sampai ia tunda untuk bertanya. Apakah tentang koleksi birnya yang diminum Gilbert beberapa waktu yang lalu? Tidak. Tidak. Ludwig tak akan semudah itu marah hanya karena koleksi birnya diminum(baca:curi). Atau sesuatu yang lebih penting dari itu...? Ah, kini perasaan bersalahnya kembali mengaliri darahnya. Sungguh menyesakkan memiliki rasa yang tak enak ini. Gilbert meremas baju kemejanya sendiri.
Pandangannya beredar pada kawasan kamarnya ini. Tak banyak benda yang di perlihatkan. Selain beberapa buku, sangkar Gilbird, juga beberapa foto yang dengan rapihnya ia beri frame.
Foto?
Ada banyak foto yang Gilbert potret semenjak ia pertama kali mendapatkannya sekitar tahun 1930-an. Dimana kamera pada saat itu masih lumayan berat. Ia perhatikan satu demi satu foto yang ada. Banyak sekali kenangan jika ia kembali mengingatnya satu per satu. Sesekali ia terkekeh. Sesekali ia memberikan senyuman sedihnya. Sesekali ia memberikan hormat pada foto tersebut. Dan sesekali ia merasa ada sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Foto yang Gilbert ambil dengan meminta bantuan orang yang ada di jalan trotoar. Saat itu Gilbert sedang berjalan-jalan di sekitar Tembok Berlin tahun 70-an. Tembok yang sudah kokoh ini makin memperkuat juga mempertegas perlakuan Uni Sovyet terhadap negara-negara kapitalis. Fotonya yang tengah berpose dengan Tembok Berlin dari kejauhan. Menyakitkan. Siapapun yang mendekati tembok itu akan segera di tembak mati. Ia tak ingin membuat kehebohan karena dirinya tak mungkin mati dengan satu tembakkan konyol.
Tapi, dilihat dari manapun, foto ini menunjukkan sebuah keadaan yang sangat menyesakkan dirinya.
Ia tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk menentang si kepala Kolkol itu pun tak bisa. Padahal ia hanya ingin menemui Ludwig dan berkomunikasi untuk beberapa menit saja.
Gilbert menghempaskan tubuhnya kembali. Cukup. Ia cukup frustasi. Setiap kali ia melakukan sesuatu untuk merubahnya, pasti akan seperti ini. Rasanya, ia seperti memang benar-benar bersalah untuk melakukan sesuatu yang memang untuk dirinya sendiri seperti mengembalikan eksistensi Prussia.
"Gott, apa kau terus menghukumku karena apa yang ku perbuat ini selalu salah? Kumohon, berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku ingin kembali seperti dulu. Bukankah kau tetap membiarkanku hidup untuk hal itu? Kau pasti selalu memberikan alasan bagi setiap nyawa yang ada di dunia ini 'kan? Biarkan aku mencoba mencari arti dari kehidupanku. Tolonglah. Sekali saja." Gilbert mengepalkan kedua tangannya. Tak ia sangka begini hasilnya. Ia hanya ingin tetap ada. Tapi, seperti inikah caranya?
"Aku akan mencoba sekali saja."
Gilbert mengadahkan kembali tangannya, berharap menggapai sesuatu. Ia kembali melihat telapak tangannya. Kosong. Tak ada apa-apa. Jawaban. Harapan. Semuanya tak ada. "Baiklah. Kalau itu maumu. Aku akan tetap maju. Aku akan tetap membangun negeri ini lebih baik. Aku akan memimpin negeri ini. Aku di ciptakan untuk itu. Tak akan ada siapapun yang bisa menghalangiku. Akan ku singkirkan siapapun yang menentang dan membangkang di hadapanku. Akulah yang akan menguasai Eropa. Perjanjian Postdam(3) memang sudah patah. Tapi bukan berarti aku tetap memafkannya begitu saja. Semua orang begitu menjunjung tinggi Austria, Prancis, Rusia di Perang Tujuh Tahun(4), dan meremehkan negeri kecil seperti Prussia? Lancang sekali!"
Gilbert kembali duduk. Ia mengambil kertas berisi catatan rencana yang akan ia lakukan selanjutnya. "Aku akan tetap hidup. Sampai takdir menyuruhku untuk tidur selamanya." Gilbert mengambil pulpen dan mencentang bait pertama yang tertulis:
MILITER.
Selanjutnya, ia melingkari dengan kuat bait kedua. Sebuah rencana lanjutan yang sangat luar biasa.
SANSSOUCI(5)
.
.
TBC
(1)Inggris ngerasa perdagangannya dengan China itu diam2 merugikan pihaknya. Oleh karena itu, diam2 inggris menyusupkan candu ke China. Dan ketika Kaisar Qing mengetahui hal ini, ia memprotes keras. Perang Candu(1840-42 dan 1856-60) pun terjadi. Kalo kata guru IPS saya(waktu itu ketahuan ngebuka2 buku sejarah dunia perpus yang tebelnya 4 jari), Perang Candu itu di buat Inggris untuk memperlemah kekuatan China. Sementara, kekuatan China(tepatnya sebuah negara) terletak pada pemudanya. Makanya dirusak pemudanya. Lalu bisa dengan mudahnya di rusak negaranya. Saya jadi inget ama indonesia tercinta ini. banyak pemudanya yg terjerumus ke hal yang percuma. Sayang tuh kalo australia langsung nyerang kita disaat seperti ini. indonesia langsung koit nanti.
(2)Gott Mit Uns (Ger): Tuhan bersama kita. Semacam slogannya Prussia.
(3)Jerman kalah di PD 2. Dan hal itu memaksa Jerman untuk menandatangani Perjanjian Postdam. Ada beberapa hasil dari perjanjian yang satu ini. termasuk juga dengan terbelahnya Jerman menjadi 2 bagian, barat dan timur.
(4)secara, dari teritori, Austria, Prancis, dan Rusia itu sama2 kuat, luas, dan juga bersatu. Sementara pemberontak (Prussia) waktu itu bukan apa2 dari segi teritori. Sekutu Prussia itu inggris juga cukup jauh dari prussia. Saya sih berterima kasih pada jaman itu nggak ada makhluk macem Napoleon Bonaparte di tentara musuh Prussia. Malah Prussia punya Old Fritz yang membawa Prussia pada kejayaannya.
(5)ini hanya ide gila saya. Istana Sanssouci/Sanssouci itu istananya Old Fritz di musim panas. Saya selalu berangan ini rumah ramai dengan anak-anak tapi begitu tau Old Fritz ga punya keturunan, saya down sendiri.(Gil, ayo ramein ini tempat dengan konser sapu klub musik W gakuen) udahlah. Old Fritz juga pernah ngadain konser flute-nya disini. Saya jadi penasaran kalo dia main flute itu kayak gimana.
Star-BeningluvIndonesia: Huwa...!? apa salah aku senpai? Aku nggak percaya ini fic bisa bikin senpai sebegitunya.
Aha,.. ndak apa-apa kok^^.
WAAAAAAAAAS!? SAYA NGGAK PERNAH NENTUIN PRUSSIA BEGITU(!?). SAYA HANYA NGIKUTIN KEPALA SAYA AJA. Btw, Prussia juga OTP saya~
Ah, baiklah. Aku perbaiki juga untuk chapter2 kedepan. Makasih ya senpai^^/
Demon D. Dino: AAAAIIHHH! Terima kasih banyak udah ngeliat dari awal, senpai!
Aku juga biasanya liat2 ff dari handphone+berjamur di deket wi-fi rumah.
Ah, Gilbert memang selalu awesome kapanpun. What? Saya jadiin dia tokoh antagonis? Nehi. Kalaupun sekarang disuruh bikin tugas akhir (bikin cerpen) saya bingung cara ngebikin tokoh itu antagonis/protagonis. Saya bahkan jelek pas pelajaran tentang nentuin watak tokoh cerpen. Saya hanya ngasih alasan kuat bagi Gil dan Luddy. Sisanya ya berjalan sesuai cerita. Saya ga tega kalo Gil jadi jahat. T^T kasian dia.
Ngek. Saya pengen naro kentang dengan tenang di makam Old Fritz dulu baru Jerman boleh ancur.
Aih, senpai bisa aja ngebaca pikiran saya*kedip2 ga jelas*. Saya punya inspirasi jalan cerita ini akan berakhir kayak PD*sensor*. Ohohoho... saya suka sekali nyari perhatian dengan update ff kok~
Yak. Selesai. Dan saya sudah sadar. Saya baru nyelesaiin ini seminggu setelah seharusnya update. Saya minta maaf karena minggu kemarin dan minggu ini tugasnya super padat. Saya sampe begadang paling cepet itu jam 1 paling lama itu jam 4.30 pagi(sekolah jam 6 lewat pulang jam 4 sore). Hampir ga ada waktu untuk ngebuka laptop bahkan sekedar untuk main game.
Bahkan untuk ngebuat tugas akhir bikin cerpen, saya kena WB. Padahal ini tugas buat seorang author ffn harusnya mudah.
Saya curcol sebentar ya. Saya pernah iseng ngebuka2 buku IPS kelas 8 pas lagi bikin tugas super sparta ampe jam setengah 5 pagi itu. dengan tujuan awal kali aja ada tulisan tentang Kesultanan Banten. dan yang saya temukan adalah nama Prussia. Awalnya seneng tuh. Ditambah di sampingnya juga ketulis nama Prancis dan Spanyol. Dan yang bikin saya down adalah... Yang disana ditulis ada di wilayah Polandia dan Rusia. Oh, saya ingin ngangkat bambu runcing dan jadi pengikut Prussia. Demi apa, kenapa nggak ada Berlin!? Padahal Berlin itu dulu punya Prussia! Demi...(balas dendam ama bukunya dengan nyoret2 gambar Prussia sehalaman).
Dan saya ngasih penjelasan, saya nggak bisa bikin prussia itu jadi antagonis. Karena saya sendiri masih ga paham dengan teori tokoh antagonis/protagonis di pelajaran bahasa indo. Saya sendiri juga beranggapan semua orang itu punya kebenaran, tentu menurut mereka masing-masing. Sekalipun itu saya yang sering disalahin ama anak sekelas karena sering ga mau gabung ama mereka. Saya punya alasan. Penjahat punya alasan mencuri. Diktaktor punya alasan untuk menjadikan sebuah negara kuat. Dan manusia ga bisa seenaknya mendoktrin ini benar atau salah. Kecuali kalau hal itu emng udah di beritahu tuhan menurut agama masing-masing. Hal itu wajar, termasuk pada Gil maupun Ludwig disini.
Saya mungkin akan agak lama update(padahal udah punya draft chapter selanjutnya. Keren banget itu draft dimata saya). Karena juga minggu depan ada UAS. Ditambah sekolah saya sekolah swasta jadinya ujiannya ada yg dari sekolah dan dari diknas. Asem. MTK juga.
Ah, terima kasih udah kesini. Yang Silent reader juga makasih. Kalau berkenan untuk memberikan keripik dan sarapan(kritik dan saran) silahkan isi di kolom review. Asal jangan nge bash ga jelas. Saya tak luput dari kesalahan karena saya makhluk kasar bukan makhluk halus.
Salam,
Fathrui99.
