Genre: family, drama, romance
Pairing: Changmin x Jiyool, Yunjae (genderswitch Jae)
Warning:
Pairing utamanya adalah Changmin x Jiyool. Jika tidak menyukai pairingnya, sebaiknya tidak membaca.
Sequel
"Kyaa! Changmin Oppa!" Seorang gadis kecil berusia tujuh tahun berteriak kegirangan.
"Yunjoongie, ayo cepat tidur! Sekarang sudah malam. Besok kau harus pergi ke sekolah." Yunho mengomeli putri bungsunya.
"Ayah, aku ingin menonton penampilan Changmin Oppa. Aku baru selesai belajar dan mengerjakan PR. Biarkanlah aku menonton sebentar." Yunjoong memohon-mohon kepada ayahnya.
"Yunnie, biarkanlah Yunjoongie menonton sebentar saja. Ia ingin melihat penampilan idolanya di televisi." Jaejoong membujuk suaminya agar mengizinkan Yunjoong menonton sebentar sebelum tidur.
"Kau juga sama saja, Jae. Kau berteriak-teriak histeris saat menonton para idola itu. Kau bukan gadis remaja lagi, Jae." Sekarang Yunho mengomeli istrinya.
Jaejoong merasa tersindir. Sepertinya suaminya itu cemburu karena ia melihat pemuda-pemuda tampan di televisi. "Sayang, kumohon jangan marah! Cintaku hanya untuk dirimu. Apa kau tidak kasihan kepada Yunjoongie? Sejak tadi sore ia belajar dan belum sempat menonton televisi."
Yunho mencoba menahan emosinya. "Sekarang sudah malam. Tayangan di televisi bukan untuk anak kecil."
"Yunjoongie tidak menonton sendirian. Ada aku yang akan mengawasinya," balas Jaejoong.
Yunho tahu bahwa Jaejoong mencintainya dan tak akan berpaling kepada pria lain. Akan tetapi, tetap saja ia merasa cemburu istrinya itu mengidolakan para anggota grup idola yang masih muda. "Tidak, kau harus ikut aku ke kamar." Ia menarik lengan istrinya. "Yunjoongie, tidur sekarang juga!"
Yunho dan Jaejoong dikaruniai lagi dua orang anak, Yunjae anak laki-laki berusia dua belas tahun dan Yunjoong bocah perempuan berusia tujuh tahun. Sekarang Jiyool sudah berusia delapan belas tahun. Ia sudah lulus SMA dan baru saja diterima di fakultas kedokteran.
Jiyool adalah anak yang sangat cemerlang dalam hal akademis. Ia juga memiliki jiwa kepemimpinan dan aktif di organisasi sekolah. Tak jauh berbeda dengan Jiyool, Yunjae juga cemerlang dalam bidang akademis. Selain itu, ia juga sangat berbakat dalam bidang olahraga. Ia sangat berbakat dalam olahraga sepak bola. Ia menjadi kapten di tim sepak bola sekolahnya. Beberapa kali timnya menjuarai kompetisi sepak bola antar SD. Sekarang ia baru masuk SMP. Ia berencana untuk bergabung dengan tim sepak bola di SMP-nya.
Yunjae bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional. Cita-citanya itu didukung penuh oleh kedua orang tuanya, terutama sang ayah. Yunho memasukkannya ke sekolah sepak bola selain ke sekolah formal.
Yunho tidak pernah mengekang cita-cita anak-anaknya. Ia belajar dari kasus yang terjadi kepada istrinya. Istrinya sangat ingin menjadi seorang penyanyi. Akan tetapi, keadaan sangat tidak mendukung, sehingga akhirnya Jaejoong mengambil jalan yang salah untuk menggapai cita-citanya tersebut.
Yunho tidak ingin hal yang dialami oleh Jaejoong dialami juga oleh anak-anaknya. Selama ia mampu ia akan mendukung cita-cita sang anak.
Berbeda dengan kedua kakaknya, Yunjoong tidak terlalu cemerlang dalam bidang akademis. Nilai-nilainya untuk pelajaran eksak tidak terlalu bagus. Akan tetapi, bukan berarti ia bodoh. Yunho dan Jaejoong tidak pernah menganggap anak mereka bodoh. Setiap anak memiliki keistimewaannya masing-masing. Yunjoong sangat berbakat di bidang seni. Ia mewarisi bakat musik ibunya. Selain itu, ia juga pandai menggambar.
Dari sifat juga Yunjoong berbeda. Ia tidak sepenurut Jiyool dan Yunjae. Ia lebih manja dan kadang sedikit susah diatur. Mungkin karena ia adalah yang termuda, ada empat orang yang memanjakannya.
"Kau diomeli ayah lagi?" Jiyool meledek adik bungsunya saat adiknya itu memasuki kamar mereka. Mereka berbagi kamar agar Jiyool bisa mengajari adiknya yang memang kurang dalam hal pelajaran di sekolah.
Yunjoong menampakkan wajah cemberutnya. Ia memang sangat ekspresif.
Jiyool menghampiri adiknya itu dan duduk di samping adiknya di tepi tempat tidur. Ia tersenyum dan membelai rambut adiknya dengan penuh kasih sayang. "Kau jangan marah kepada ayah. Ayah mengomelimu karena ia sangat sayang kepadamu." Ia sangat mengenal sifat ayahnya yang overprotektif kepada dirinya dan kedua saudaranya, terutama kepada anak perempuan. "Ayah tidak ingin kau mengantuk saat belajar di dalam kelas."
"Aku hanya ingin menonton Changmin Oppa sebentar saja, hanya lima menit. Yang benar saja, lima menit saja tidak boleh. Huh!" Yunjoong menunjukkan kekesalannya. "Ayah kejam."
Jiyool terkekeh melihat tingkah lucu adiknya. "Ayah tidak kejam. Ia hanya ingin mengajarimu kedisiplinan. Ini memang sudah malam. Sudah waktunya anak-anak untuk tidur. Jika ia mengizinkanmu menonton selama lima menit, lain kali kau akan meminta lebih dari lima menit. Ini demi kebaikanmu juga, agar kau tidak mengantuk di sekolah." Ia membaringkan adiknya dan menyelimutinya. "Sekarang kau tidurlah!"
Yunjoong melirik sedikit ke arah meja belajar Jiyool. Ia masih melihat buku yang terbuka di sana. "Apa kakak tidak merasa lelah terus-menerus belajar?"
Jiyool menggeleng. "Suatu pekerjaan tidak akan terasa melelahkan jika kita melakukannya dengan senang hati." Ia berjalan menuju meja belajarnya untuk menutup bukunya. "Aku sudah selesai belajar. Aku juga akan tidur." Ia kemudian mematikan lampu di kamar mereka.
Jiyool berbaring di atas tempat tidurnya. Saat ia akan memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, ternyata ada pesan yang masuk. Ia membuka dan membaca pesan tersebut.
Changmin:
Apa kau sudah selesai belajar untuk malam ini?
Jiyool:
Ya, aku baru saja selesai. Aku baru saja akan pergi tidur.
Changmin:
Tadi kau sibuk belajar. Sekarang kau akan pergi tidur. Lalu kapan aku bisa mengobrol denganmu?
Kau sudah lulus tes masuk fakultas kedokteran. Mengapa kau masih belajar? Seharusnya kau bersantai-santai.
Jiyool:
Dunia kampus lebih berat. Aku harus mulai berlatih untuk menghadapinya. Aku tidak boleh berleha-leha.
Changmin:
Kau terlalu serius. Kapan kita bisa pergi berkencan?
Jiyool:
Hey, memangnya kau tidak takut oleh penggemarmu? Kau tidak bisa bebas berkencan dengan seorang gadis.
Changmin:
Kita bisa pergi berkencan secara diam-diam.
Jiyool:
Aku akan merasa seperti seorang penjahat jika harus mengenakan alat penyamaran.
Changmin:
Kita tidak punya pilihan lain selain berkencan dengan cara seperti itu.
Jiyool:
Aku tidak mau, lagipula ayahku pasti tidak akan mengizinkannya.
Ayahku sangat protektif. Ia tidak akan mengizinkan anak gadisnya pergi keluar berdua dengan seorang pria.
Changmin:
Ayahmu itu kolot sekali ya. Sekarang sudah abad ke-21. Zaman sudah sangat canggih. Masih saja ia melarang anak perempuannya pergi berkencan.
Jiyool:
Kau tidak boleh berkata seperti itu tentang ayahku. Bagaimana pun ia adalah orang yang sangat kukagumi. Aku sangat menghormatinya. Ia bersikap seperti itu juga demi kebaikan anak-anaknya. Ia tidak ingin hal buruk terjadi kepada anaknya.
Changmin:
Maafkan aku! Aku salah. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu mengenai ayahmu.
Hal buruk apa? Memangnya apa yang akan kulakukan kepadamu? Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku akan melindungimu dan kau akan sampai di rumah tanpa cacat sedikit pun.
Jiyool:
Bisa saja kita diikuti oleh penggemarmu dan mereka menyerangku.
Changmin:
Aku akan melindungimu. Mereka tidak akan bisa menyentuhmu, walaupun seujung rambut.
Jiyool:
Mudah sekali kau berbicara. Sudah ya, aku mau tidur.
Jiyool menonaktifkan ponselnya dan pergi tidur. Sudah tiga bulan ia menjalin hubungan dengan seorang pemuda, yaitu Shim Changmin. Changmin tidak lain adalah seorang penyanyi yang sedang populer saat ini, idola Yunjoong dan Jaejoong.
Changmin adalah anggota dari sebuah grup idola. Selain berkarir bersama grupnya, ia juga berkarir sebagai penyanyi solo dan bermain drama.
Jiyool bertemu dengan Changmin enam bulan lalu saat mengantar temannya untuk menonton konser Changmin dan grupnya. Ia sebenarnya tidak tertarik untuk mengidolakan selebriti. Ayahnya juga tidak mungkin mengizinkan dirinya untuk menonton konser malam-malam tanpa pengawalan.
Teman Jiyool sangat ingin menonton konser Changmin dan grupnya, tetapi ia tidak mempunyai teman untuk menonton bersama. Ia pun meminta Jiyool untuk menemaninya.
Jiyool tahu bahwa ia harus menolak permintaan temannya itu. Akan tetapi, ia tidak tega melihat temannya itu memelas kepadanya. Akhirnya, terpaksa ia menemani temannya itu untuk datang ke konser.
Teman Jiyool adalah penggemar yang cukup fanatik. Ia nekat menyusup ke belakang panggung untuk bertemu idolanya. Ia juga menyeret Jiyool bersamanya. Saat itulah Jiyool bertemu dengan Changmin untuk pertama kalinya.
Changmin terkesan melihat Jiyool. Gadis cantik itu tidak seperti penggemar lainnya yang agresif. Gadis itu sangat sopan dan sedikit pemalu di hadapan lawan jenis. Seketika ia jatuh hati kepada gadis itu.
Seminggu setelah datang ke konser, Jiyool terkejut karena tiba-tiba Changmin mengirim pesan di akun media sosialnya. Pemuda itu sampai mencari tahu akun media sosialnya di internet. Sejak saat itulah mereka mulai berkomunikasi dan tiga bulan lalu Changmin menyatakan perasaannya.
Jiyool kebingungan saat Changmin menyatakan perasaannya. Jujur saja ia juga menyukai pemuda itu. Namun, rasanya tidak mungkin mereka menjalin sebuah hubungan. Dunia mereka berbeda. Changmin adalah seorang selebriti yang memiliki jutaan penggemar di seluruh dunia, sedangkan ia hanyalah seorang gadis biasa. Saat itu ia juga sedang berkonsentrasi untuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi. Ia pun menolak cinta pemuda itu.
Changmin tidak putus asa saat Jiyool menolaknya. Ia merasa yakin bahwa Jiyool juga sebenarnya menyukai dirinya. Ia pun terus meyakinkan gadis itu untuk menjadi kekasihnya. Akhirnya, usahanya itu berhasil, Jiyool bersedia menjadi kekasihnya. Akan tetapi, tentu saja hubungan mereka ini tidak boleh mengganggu aktivitas keduanya.
.
.
.
Jiyool akhirnya memulai kehidupannya sebagai mahasiswa kedokteran di perguruan tinggi. Ia sangat antusias menyambut hal ini. Dengan cepat ia mendapatkan teman-teman baru di kampus. Ia memang ramah dan mudah bergaul. Selain itu, ia juga berwajah cantik. Ia menjadi populer dengan sangat cepat dan menjadi bunga kampus. Ia tidak hanya terkenal di jurusannya saja, tetapi juga di seantero kampus. Siapa yang tidak mengenal Jung Jiyool yang cantik dan juga sangat pintar?
Beberapa mahasiswa mulai mendekati Jiyool, bahkan seniornya. Namun, Jiyool sama sekali tidak menanggapi mereka dengan serius. Ia sudah mempunyai seseorang di hatinya.
"Kyaa! Changmin Oppa tampan sekali!" Yunjoong sedang menonton acara musik di televisi dengan ibunya.
"Andaikan saja aku masih muda, aku pasti akan mengejar-ngejarnya." Jaejoong bersikap seperti seorang remaja putri. Ia sepertinya lupa akan usianya.
Jiyool hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku ibu dan adik bungsunya. Ia duduk di sebelah mereka. "Apa ibu ingin ayah marah lagi karena terbakar api cemburu?"
"Ayahmu tidak akan pernah bisa marah kepada ibu, lagipula ibu tidak serius mengidolakan mereka. Ibu hanya sedang mengisi waktu luang." Jaejoong selalu bisa menjinakkan Yunhonya itu.
Jiyool hanya tersenyum. Bagaimana kira-kira reaksi ibunya itu jika mengetahui bahwa pemuda yang diidolakan oleh sang ibu adalah kekasihnya? Ia kemudian melirik adiknya. Apakah adiknya itu akan marah jika mengetahui idolanya berpacaran dengan sang kakak?
"Aku pulang!" Yunjae baru pulang latihan sepak bola. Ia melihat ketiga perempuan di keluarganya sedang asyik menonton televisi. Ia juga menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bu, aku lapar."
"Makanan sudah tersedia di atas meja. Ambil saja!" Jaejoong sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
Yunjae merasa cemburu kepada para idola di televisi. Ia merasa tidak diperhatikan oleh sang ibu gara-gara mereka. "Apa hebatnya mereka?"
"Mereka sangat keren," ujar Yunjoong. "Apalagi Changmin Oppa, ia sangat tampan dan teriakannya sangat dahsyat."
"Ia terlalu tua untukmu. Kau masih berusia tujuh tahun," lanjut Yunjae.
"Changmin Oppa hanya perlu menungguku selama sebelas tahun sampai aku berusia delapan belas tahun. Setelah itu kami bisa menikah." Yunjoong tidak kehabisan kata untuk membalas ucapan Yunjae.
Jiyool merasa tertohok. Apakah adik perempuannya itu begitu terobsesi kepada Changmin? Bagaimana jika Yunjoong tahu bahwa ia berhubungan dengan Changmin? Apakah adiknya itu akan patah hati? Ia merasa sangat tidak tenang.
"Sebelas tahun lagi usianya 34 tahun. Ia sudah tidak muda lagi seperti sekarang. Apakah kau akan masih menyukainya?" timpal Yunjae.
"Ia masih akan tetap tampan walau usianya sudah kepala tiga. Mungkin ia justru akan menjadi semakin tampan." Yunjoong mulai membayangkan. "Lihat saja ayah kita, ia sudah berusia 45 tahun, tetapi ia terlihat sangat tampan. "Benar kan, Bu?"
Jaejoong merasa bangga. "Tentu saja. Bagiku ayah kalian adalah pria paling tampan nomor dua di dunia."
"Nomor dua? Jadi, menurut ibu Shim Changmin itu lebih tampan daripada ayah? Ibu keterlaluan. Aku akan mengadukan ibu kepada ayah." Yunjae protes kepada ibunya.
"Eh, kau jangan salah paham dulu." Jaejoong berkata kepada putranya. "Tentu saja yang paling tampan adalah putra kesayangan ibu."
Yunjae tersipu malu. Ia merasa malu dipuji oleh ibunya di hadapan kedua saudara perempuannya.
"Huh! Mengapa ibu mengatakan hal itu?" Yunjoong merasa tidak terima. "Sekarang kakak akan menjadi besar kepala dan akan mengolok-olokku."
"Sudah, kalian jangan bertengkar." Jaejoong menengahi Yunjae dan Yunjoong. "Sesama saudara harus saling menyayangi, bukannya bertengkar. Tadi ibu membuat kue. Ayo sebaiknya kita makan kue! Bukankah Yunjae sudah lapar?" Ia memimpin anak-anaknya ke ruang makan.
"Asyik! Ibu membuat kue. Kue buatan ibu selalu enak." Yunjoong bersorak. Ia sudah tidak merasa kesal lagi.
.
.
.
"Bu, kapan ibu mulai menyukai ayah? Rasanya jatuh cinta seperti apa?" Jiyool mencuri-curi kesempatan untuk berbicara berdua dengan ibunya saat kedua adiknya asyik memakan kue.
Jaejoong terdiam sejenak. Anak-anaknya tidak tahu lika-liku kisah cintanya dengan Yunho. "Saat jatuh cinta, perasaan kita serasa terbang ke atas awan. Rasanya membahagiakan, tetapi jatuh cinta juga kadang menyakitkan jika keadaan tidak sesuai dengan yang kita harapkan."
Jiyool bersandar pada bahu ibunya. "Ibu menikah dengan ayah pada usia muda. Saat itu apa yang ibu rasakan? Mengapa ibu memutuskan untuk menikah semuda itu? Pasti kalian sedang dimabuk cinta saat itu, sehingga kalian tidak ingin berpisah dan memutuskan untuk menikah."
Jaejoong membelai kepala Jiyool. "Kau sudah tahu bukan bahwa ibu meninggalkanmu selama lima tahun?"
Jiyool mengangguk. "Ibu masih sangat muda saat itu. Aku tidak marah dan memaklumi hal itu. Masih ada cita-cita yang ingin ibu capai."
Jaejoong merasa sedih mengingat masa lalunya. Betapa buruk dirinya saat itu.
"Bu, apakah ibu tidak akan marah jika aku menyukai seseorang?" tanya Jiyool hati-hati.
"Mengapa ibu harus marah? Siapa pun tidak bisa mengatur perasaanmu, bahkan kita pun tidak bisa memilih siapa yang harus kita sukai," ujar Jaejoong. "Ada apa kau tiba-tiba menanyakan hal itu? Apa jangan-jangan putri ibu ini sedang jatuh cinta?"
"Ah, tidak!" Jiyool langsung menyangkalnya. Ia menjadi salah tingkah. "Aku hanya ingin tahu saja. Aku kan sudah cukup umur untuk mengetahui hal semacam ini."
Jaejoong tersenyum. "Tidak apa-apa jika memang kau sedang menyukai seseorang."
"Tidak, Bu, tidak." Jiyool terus menyangkal.
"Kau sudah dewasa, Nak! Kau jangan memendamnya sendiri. Jika kau ingin berbagi dengan ibu, ibu akan mendengarkanmu," ujar Jaejoong.
Jiyool tertunduk malu. Ingin sekali ia menceritakan perasaannya saat ini kepada sang ibu, tetapi ia bingung bagaimana mengatakannya. Ia malu.
"Menyukai seseorang itu tidak salah, selama itu tidak berdampak negatif," tambah Jaejoong.
Jiyool menggigit bibirnya. Jujur saja dirinya akhir-akhir ini ia menjadi sulit untuk berkonsentrasi karena bayangan sang kekasih selalu melintas di kepalanya.
.
.
.
Jiyool dilanda dilema. Perasaannya itu mulai mengganggunya. Ia sulit untuk berkonsentrasi saat mengerjakan apa pun. Jika terus dibiarkan, prestasi akademiknya akan terganggu.
"Akhir-akhir ini kau sering melamun. Ada apa?" Jaejoong menyadari perubahan pada diri putri sulungnya. "Apa kau sedang ada masalah?"
Jiyool merasa bingung. Haruskah ia bercerita kepada ibunya? "Bu, perasaanku ini sangat menggangguku. Aku merasa sangat tidak nyaman. Bagaimana aku mengatasinya?"
Jaejoong mengerti apa yang sedang dialami putrinya itu. Putri sulungnya itu sedang jatuh cinta. Pada saat-saat seperti ini perannya sangat dibutuhkan.
"Aku khawatir prestasi akademikku akan rusak," lanjut Jiyool.
Jaejoong tidak tahu bagaimana mengatasi masalah yang dialami oleh Jiyool. Ia jatuh cinta kepada Yunho setelah mereka menikah, sehingga perasaannya itu tidak mengganggu kehidupannya, justru dengan jatuh cinta kepada suaminya itu, ia menjadi pribadi yang lebih baik. Beda orang, beda juga masalah yang dihadapi. "Apa ia juga memiliki perasaan yang sama kepada dirimu? Sudah sejauh apa hubungan kalian?"
Jiyool terkejut. Ibunya bisa menebak hal yang sedang dirasakan dan dialaminya. Ia mengangguk. Ia tidak bisa lagi menyembunyikannya dari sang ibu. "Kami sudah menjalin hubungan lebih dari tiga bulan. Akan tetapi, ia sangat sibuk, sehingga kami belum mempunyai kesempatan untuk bertemu lagi."
"Astaga!" Jaejoong terkejut oleh pengakuan Jiyool. Ternyata putrinya itu sudah menjalin hubungan dengan seorang pemuda selama itu dan ia tidak tahu. "Mengapa kau baru memberi tahu ibu?"
"Aku takut ibu marah," ujar Jiyool takut-takut.
"Tentu saja ibu tidak akan marah, Sayang." Jaejoong membelai kepala putrinya. "Justru ibu harus tahu agar ibu bisa memantaunya, agar kalian tidak melewati batas."
Jiyool menggeleng. "Kami tidak melakukan apa-apa. Kami hanya mengobrol lewat aplikasi chatting."
Jaejoong memicingkan matanya. "Jangan katakan bahwa kau berkenalan dengannya di dunia maya."
Jiyool menggeleng lagi, kali ini lebih cepat. "Tidak, Bu. Kami bertemu di dunia nyata. Akan tetapi, karena kesibukan, kami hanya bisa mengobrol di dunia maya."
"Memang apa pekerjaannya, sampai-sampai ia tidak bisa bertemu dengan kekasihnya sendiri?" Jaejoong menatap putrinya penuh curiga.
Jiyool menggigit bibirnya. "Ibu tidak akan suka jika ibu mengetahuinya."
Jaejoong mulai berpikiran negatif. Apakah putrinya itu mengencani seorang penjahat? "Katakan kepada ibu! Ibu tidak ingin hal yang buruk menimpamu."
Jiyool sangat bingung. "Err..."
"Ayo, Sayang! Katakan kepada ibu!" Jaejoong merasa sangat khawatir.
"Ia adalah seorang idola, Bu." Jiyool memejamkan matanya. Ia bersiap-siap untuk dimarahi ibunya.
"Apa?" Jaejoong berteriak histeris.
"Nyonya, ada apa? Mengapa nyonya berteriak?" Para asisten rumah tangga di kediaman Keluarga Jung berdatangan menghampiri Jaejoong.
"Tidak, tidak apa-apa." Jaejoong mencoba untuk menguasai dirinya. "Kalian bisa lanjutkan kegiatan kalian."
Jiyool terlihat ketakutan. "Apa ibu marah kepadaku?"
Jaejoong menarik nafas panjang dan menghembuskannya. "Di mana kau bertemu dengannya? Selama ini kau sibuk dengan sekolahmu dan kegiatan organisasi."
"Aku datang ke konsernya." Jiyool berterus terang.
Jaejoong menatap putrinya penuh curiga. Seingatnya Yunho tidak pernah mengizinkan putrinya itu pergi menonton konser tanpa ditemani oleh anggota keluarga. "Apa kau sudah mulai berani berbohong kepada ayah dan ibu?"
Jiyool menggeleng. "Saat itu aku hanya mengantar temanku. Aku berada di sana tidak lama."
Apakah selama ini ia dan suaminya terlalu mengekang anak-anak mereka? Jaejoong mencoba untuk mengintrospeksi diri. Anak yang terlalu dikekang akan berbohong dan suatu saat akan membangkang.
"Siapa pemuda itu? Anggota EXO, atau mungkin Bigbang?" tanya Jaejoong.
Ini adalah pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab oleh Jiyool. Ia terdiam cukup lama. "Aku belum siap memberi tahu ibu."
Jaejoong semakin khawatir. "Apakah ia memiliki imej yang baik sebagai idola?"
"Err... sejauh ini imejnya sangat baik," jawab Jiyool sedikit ragu. Ia baru enam bulan mengenal Changmin. Ia tidak boleh terlalu yakin terlebih dahulu.
Jaejoong tahu banyak mengenai dunia hiburan. Ia pernah terjun di dalamnya. Tidak selalu yang diperlihatkan di depan kamera adalah yang sebenarnya. Imej idola biasanya dibentuk oleh agensi. Setiap artis mempunyai konsep masing-masing.
"Sudah kuduga, ibu pasti tidak akan menyukainya." Jiyool tampak bersedih.
"Dengan siapa pun kau berpacaran kau tetap harus berhati-hati dan menjaga diri." Jaejoong tidak ingin menunjukkan ketidaksukaannya pada profesi kekasih anaknya itu.
"Jika Yunjoong ingin menjadi seorang idola, apakah ayah dan ibu akan mengizinkannya?" Jiyool menggunakan adiknya untuk membela diri.
"Kami akan mendukung anak-anak kami selama itu baik bagi kalian semua. Kami akan menjaga Yunjoong dengan baik, meskipun ia terjun ke dunia hiburan," jawab Jaejoong.
"Itu artinya tidak semua orang yang berkecimpung di dunia hiburan itu buruk, bukan?" lanjut Jiyool.
"Dalam semua profesi pun ada yang baik dan ada yang buruk, hanya saja kita tidak tahu mana yang baik atau yang buruk," balas Jaejoong. "Sebaiknya kau tidak memberitahu ayahmu mengenai hal ini dalam waktu dekat. Kau tahu sendiri bagaimana protektifnya dia kepada anak-anaknya. Jika ada apa-apa, kau harus memberi tahu ibu."
.
.
.
"Sudah ya, aku lelah belajar sejak tadi." Yunjoong merasa bosan diajari oleh kakak tertuanya. Ia memainkan ponselnya.
"PR-mu belum selesai dikerjakan. Selesaikan terlebih dahulu, baru kau boleh bermain," tegas Jiyool.
Yunjoong merengut. "Semakin lama kakak menjadi semakin mirip dengan ayah. Huh!"
Jiyool mengambil ponsel dari tangan Yunjoong. "Jika kau malas belajar, aku akan meminta ayah untuk menyita ponselmu." Ia mulai memeriksa ponsel milik adiknya. "Anak kecil sepertimu seharusnya tidak diberi ponsel. Kau tidak membutuhkannya." Ia melihat banyak foto kekasihnya di dalam ponsel milik adiknya. "Apa kau sangat mengidolakan Choikang Changmin?"
"Tentu saja, ia sangat keren. Jika besar nanti, aku ingin menikah dengannya." Yunjoong berangan-angan.
"Lulus SD saja belum, sudah memikirkan pernikahan." Jiyool tidak menyukai perkataan adiknya. Ia tidak ingin berebut lelaki dengan adiknya. Ia sangat mengkhawatirkan hal tersebut. Ia takut adiknya terluka jika mengetahui hubungannya dengan sang idola. Ia sangat menyayangi adiknya, tetapi ia juga mencintai kekasihnya.
"Sepertinya kakak tidak suka jika aku mengidolakan Changmin Oppa. Memangnya Changmin Oppa punya salah apa kepada kakak? Memangnya ia merugikan kakak? Saling mengenal saja tidak." Yunjoong merasa bahwa kakak perempuannya ini menyebalkan.
Jiyool merasa tersindir. Tentu saja ia mengenal orang yang dimaksud.
"Jangan-jangan kakak juga diam-diam mengidolakannya, tetapi kakak terlalu gengsi untuk mengakuinya," tuduh Yunjoong.
"Tidak!" Jiyool langsung menyangkal perkataan adiknya.
"Selama ini kakak selalu menjadi kebanggaan ayah dan ibu. Kakak selalu tekun belajar dan berprestasi di sekolah. Tidak ada waktu untuk menggemari idola," lanjut Yunjoong. "Bagi kakak seakan-akan menggemari seorang idola adalah sebuah dosa besar."
Jiyool tertegun. Selama ini ia memang berpikir bahwa mengagumi seorang idola dari kalangan selebriti adalah sebuah kesia-siaan. Ia selalu menjadi kebanggaan kedua orang tuanya. Ia merasa dituntut untuk selalu tampil sempurna dan berprestasi, padahal kedua orang tuanya sama sekali tidak menuntut hal itu.
"Aku merasa iri kepada kakak dan Kak Yunjae. Kalian berdua selalu membuat ayah dan ibu bangga." Yunjoong tampak bersedih. "Sedangkan apa yang bisa kulakukan? Aku hanya bisa melakukan hal-hal tak berguna."
Jiyool memeluk Yunjoong. "Kau tidak boleh berkata seperti itu. Ayah dan ibu juga bangga kepadamu. Kau selalu menjuarai lomba menyanyi dan menggambar. Ayah dan ibu menyayangi kita bertiga sama besarnya, tidak ada yang paling diistimewakan atau pun dianaktirikan."
"Akan tetapi, nilai raporku tidak sebagus kalian," ujar Yunjoong.
"Kecerdasan seseorang tidak bisa hanya dinilai dari nilai rapornya. Tidak semua orang harus pandai matematika, harus ada juga yang pandai dalam bidang seni. Bagaimana jadinya jika di dunia ini semua orang hanya pandai matematika, tidak ada yang menekuni bidang lain?" Jiyool berusaha untuk membesarkan hati adiknya.
Yunjoong mengangguk tanda mengerti. Ia kini tidak bersedih lagi.
.
.
.
Changmin:
Besok aku tidak memiliki agenda apa pun. Aku bebas seharian.
Bagaimana jika kita pergi berkencan? Aku ingin kita bisa seperti pasangan lain, bisa pergi berkencan.
Jiyool:
Aku ada kuliah sampai sore.
Changmin:
Kalau begitu, kita berkencan malam hari saja.
Jiyool:
Tidak bisa. Ayah tidak akan mengizinkanku pergi ke luar malam-malam.
Changmin:
Baiklah. Kapan kira-kira kau mempunyai waktu luang? Aku akan mencoba menyocokkannya dengan jadwalku.
Jiyool:
Jadwalku penuh sampai akhir bulan.
Changmin:
Bagaimana dengan akhir pekan? Apakah kau sibuk juga?
Jiyool:
Akhir pekan adalah waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Seluruh anggota keluargaku berkumpul pada akhir pekan. Biasanya kami pergi ke tempat rekreasi.
Changmin:
Baiklah. Aku akan sabar untuk menunggu kesempatan untuk bertemu denganmu. Bulan depan aku sudah mulai mempromosikan album baru kami.
Jiyool merasa sedih. Ia ingin sekali bertemu dengan kekasihnya itu. Mereka baru sekali bertemu secara langsung. Namun, keadaan tidak memungkinkan bagi mereka untuk bertemu dalam waktu dekat.
.
.
.
"Nanti malam ayah dan ibu harus menghadiri pesta yang diadakan oleh teman ayah. Kalian bertiga baik-baik saja di rumah ya." Yunho memberi tahu anak-anaknya pada saat sarapan bersama keluarganya. "Jiyoolie, tolong jaga adik-adikmu! Jangan biarkan mereka menonton televisi sampai larut malam!"
Pikiran Jiyool melayang jauh. Kedua orang tuanya tidak akan ada di rumah malam ini. Itu artinya ia bisa pergi ke luar tanpa sepengetahuan orang tuanya.
"Jiyoolie, apa kau mendengarkan ayah?" Yunho menyadarkan Jiyool dari lamunannya.
"Ya, tentu saja aku mengerti, Ayah," sahut Jiyool. "Ayah dan ibu tenang saja. Aku akan menjaga adik-adikku dengan baik."
"Bagus, kau memang selalu bisa ayah andalkan." Yunho sangat memercayai putri sulungnya itu.
.
.
.
Ayah dan ibu tidak ada di rumah malam ini.
Jiyool mengirim pesan kepada Changmin di sela-sela istirahat.
Changmin:
Oh ya? Lalu itu apa artinya?
Jiyool:
Ayah dan ibu tidak akan tahu jika aku pergi menemuimu malam ini.
Changmin:
Apa kau serius? Bukankah selama ini kau selalu menaati orang tuamu?
Jiyool berpikir sejenak. Selama ini ia selalu menjadi anak penurut. Sekali-kali mungkin tidak apa-apa dirinya berbuat nakal. Orang tuanya tidak akan tahu. Ia sangat ingin bertemu dengan kekasihnya. Jika ia melewatkan kesempatan malam ini, entah kapan mereka akan bisa bertemu.
Sekali saja melanggar tidak apa-apa.
Changmin:
Aku akan menunggu di taman yang ada di dekat rumahmu.
.
.
.
Jiyool merasa sangat tidak tenang. Ia merasa sangat gugup. Tidak ada satu pun materi kuliah yang masuk ke dalam kepalanya hari ini. Ia memikirkan rencana nanti malam.
"Jam berapa kalian akan pulang?" Jiyool bertanya kepada ibunya yang sedang berdandan.
"Ibu tidak tahu, tergantung ayahmu. Tergantung ia akan bertemu dengan siapa di sana," jawab Jaejoong. Ia kemudian menoleh kepada putrinya. "Tumben sekali kau bertanya."
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu." Jiyool mulai salah tingkah.
Jaejoong merasa sikap putrinya itu tidak biasa, tetapi ia sama sekali tidak mempunyai pikiran negatif. Jiyool adalah anak yang bertanggung jawab.
.
.
.
"Yunjae dan Yunjoong, jangan nakal ya! Patuhi kakak kalian! Jangan membuatnya kesal!" Yunho berpesan kepada kedua anak termudanya. Kedua anaknya itu sering bertengkar dan membuat rumah berantakan.
"Baik, Ayah!" jawab Yunjae dan Yunjoong serempak.
"Sayang, kami titip adik-adikmu ya." Jaejoong mencium pipi Jiyool, kemudian kedua anaknya yang lain.
"Baik, Bu." Ada sedikit perasaan bersalah di dalam hati Jiyool.
.
.
.
"Sekarang kerjakan PR kalian dan kemudian tidur!" Jiyool berkata kepada adik-adiknya.
"Mengapa tiba-tiba kakak menjadi galak sekali?" Yunjae merasa heran.
"Ayah dan ibu menitipkan kalian berdua kepadaku. Aku bertanggung jawab atas kalian saat ini. Aku harus memastikan bahwa kalian tidak berbuat nakal." Ada perasaan berdosa pada diri Jiyool. Ia bersikap keras kepada adik-adiknya hanya agar ia bisa menjalankan rencananya.
"Biasanya juga kakak tidak segalak ini. Ini bukan pertama kalinya ayah dan ibu meninggalkan kita di rumah," protes Yunjae. Anak yang satu ini memang sangat kritis.
"Selama ini kalian kurang disiplin. Aku merasa bahwa aku harus lebih tegas lagi kepada kalian," balas Jiyool.
"Tidak masuk akal." Yunjae memutar bola matanya.
"Kak Jiyool sama sekali tidak asyik," timpal Yunjoong.
"Sudah, jangan banyak bicara! Kerjakan saja PR kalian! Lebih cepat selesai, lebih baik." Jiyool bersikap otoriter. "Jika kalian nakal, aku akan melaporkan kalian kepada ayah dan ibu."
Sebenarnya ada perasaan bersalah pada diri Jiyool. Tidak biasanya ia bersikap keras kepada adik-adiknya. Ia bahkan selalu membela kedua adiknya itu jika mereka dimarahi oleh orang tuanya karena berbuat nakal. Ia sangat menyayangi kedua adiknya itu. Hanya demi Changmin ia berubah.
Jiyool memaksa adik-adiknya untuk segera tidur agar ia bisa pergi ke luar. Setelah ia merasa yakin bahwa adik-adiknya sudah tidur, ia mengganti pakaiannya. Udara di luar cukup dingin. Ia mengenakan sweater dan jaket tebal.
Jiyool harus melewati penjaga keamanan di gerbang rumah mereka. "Aku harus pergi ke toko swalayan untuk membeli sesuatu."
"Nn. Jiyool tidak perlu repot-repot pergi ke toko swalayan sendiri, biar saya yang membelikannya untuk nona." Salah seorang penjaga keamanan menawarkan bantuan.
"Ah, tidak usah. Tokonya tidak terlalu jauh. Aku juga ingin melihat-lihat barang lain," ujar Jiyool.
"Kalau begitu, saya akan mengantar nona. Sekarang sudah malam," kata penjaga keamanan itu lagi.
"Tidak usah. Sekarang belum terlalu malam. Jalanan masih ramai." Jiyool sedikit kerepotan menghadapi penjaga keamanan di rumahnya. "Kalian laksanakan tugas kalian saja, tidak usah mengkhawatirkanku. Aku hanya pergi sebentar."
"Baiklah kalau begitu." Dengan ragu-ragu para petugas keamanan mengizinkan Jiyool untuk keluar sendirian.
Jiyool merasa sangat gugup. Ia belum pernah berjalan malam-malam sendirian.
Sampailah Jiyool di taman yang ada di dekat rumahnya. Ia melihat Changmin sedang duduk di bangku taman untuk menunggu dirinya. "Changmin Oppa!" Dengan riang ia berlari menuju arah kekasihnya.
.
.
.
Yunjae belum mengantuk. Ia ingin bermain game di komputernya. Biasanya ia bisa bersenang-senang saat orang tuanya tidak ada di rumah. Kakaknya tidak pernah melarangnya untuk bermain game atau menonton pertandingan sepak bola pada malam hari.
Yunjae tidak menyalakan lampu kamarnya terlalu terang. Kakaknya tidak boleh tahu bahwa ia masih terjaga.
.
.
.
Changmin membawa Jiyool berkeliling Kota Seoul dengan menggunakan sepeda motor. Para penggemar sudah mengetahui semua mobil yang ia miliki. Terlalu berisiko jika ia membawa kekasihnya berkencan dengan mobil.
Jiyool memegang pinggang Changmin dengan canggung. Ia tidak pernah sedekat ini dengan seorang pemuda sebelumnya.
"Akhirnya kita bisa pergi berkencan," ujar Changmin.
Jiyool tidak membalas. Detak jantungnya tak beraturan.
Changmin membawa Jiyool ke sebuah taman yang cukup jauh dari keramaian. Di sana sudah ada manajernya yang berjaga-jaga. "Sepertinya di sini cukup aman."
Jiyool merasa sangat gugup. Akhirnya ia bertemu dengan pujaan hatinya. Ia belum pernah pergi berkencan sebelumnya.
Changmin melihat kekasihnya sangat kaku dan bersikap canggung. "Tenang saja, tidak akan ada yang memperhatikan kita. Manajerku sudah mengamankan tempat ini."
Bukan hanya itu yang Jiyool takutkan. Ia merasa telah berbuat hal yang salah. Ia merasa tidak tenang.
"Apa kau tidak ingin bertemu denganku?" tanya Changmin. Seharusnya kekasihnya itu merasa senang karena akhirnya mereka bisa bertemu.
Jiyool tersenyum tipis. "Tentu saja aku senang." Selama ini ia selalu memikirkan pemuda itu, berharap untuk bertemu. Malam ini keinginannya bisa terwujud.
Changmin kebingungan menghadapi gadisnya itu. Jiyool adalah gadis yang tidak biasa. Gadis itu bersikap malu-malu di hadapannya, berbeda dengan mantan-mantan kekasihnya atau para penggemarnya. "Bagaimana kuliahmu? Apakah lancar-lancar saja?"
Jiyool mengangguk pelan. Sebenarnya kuliahnya tidak terlalu baik. Kekasihnya itu mengganggu konsentrasinya dalam belajar. Namun, tentu saja ia tidak bisa mengatakan hal itu kepada Changmin.
"Uhm, apa kau sudah makan malam?" Changmin bingung membuka pembicaraan dengan Jiyool.
Jiyool mengangguk lagi. "Sudah."
Changmin memikirkan topik lain untuk dibicarakan. "Bagaimana kabar keluargamu?"
"Mereka baik-baik saja." Jiyool mengeluarkan buku catatan kecil dari dalam saku jaketnya. "Adik perempuanku adalah penggemarmu. Maukah kau memberikan tanda tanganmu? Aku akan memberikannya kepada adikku pada hari ulang tahunnya."
"Oh, benarkah?" Changmin dengan senang hati membubuhkan tanda tangannya di atas kertas yang disodorkan oleh Jiyool. "Siapa nama adikmu?"
"Yunjoong, Jung Yunjoong," jawab Jiyool.
Changmin menambahkan tulisan di dekat tanda tangannya, 'Selamat ulang tahun, Yunjoongie!'. "Memang kapan ia akan berulang tahun?"
"Hari Minggu. Kami sekeluarga akan pergi bertamasya untuk merayakannya." Jiyool memberi tahu Changmin.
"Wah, sepertinya menyenangkan!" komentar Changmin.
Jiyool mengangguk lagi. "Kami semua sangat menyayangi Yunjoongie. Ia membuat rumah kami penuh dengan keceriaan. Ia adalah anak yang sangat periang dan cerewet."
"Memangnya kau tidak?" tanya Changmin.
Jiyool tersipu malu. "Orang-orang mengatakan bahwa aku adalah orang yang terlalu serius. Mungkin karena aku adalah anak sulung."
"Ya, kau memang sangat serius." Changmin setuju dengan pernyataan Jiyool.
"Apakah itu buruk? Apakah kau tidak menyukainya?" Jiyool khawatir Changmin akan meninggalkannya karena sifatnya itu.
"Tidak, itu bukanlah hal yang buruk. Kau berbeda dengan gadis-gadis yang kukenal. Aku hanya bingung bagaimana harus bersikap kepadamu," jujur Changmin.
"Maafkan aku." Jiyool merasa tidak enak kepada Changmin. "Memangnya tipe perempuan seperti apa yang kau sukai? Mengapa kau memilihku?"
"Aku menyukai sifatmu yang tenang. Kau terlihat dewasa. Kau adalah gadis yang unik." Changmin memberi tahu Jiyool.
"Banyak gadis yang seperti diriku." Jiyool tersipu malu. "Tidak ada yang istimewa pada diriku."
"Mungkin memang banyak, tetapi aku tidak banyak mengenal gadis sepertimu," balas Changmin. Ia mulai membawa suasana menjadi tidak canggung lagi. Ia mulai merasa nyaman mengobrol dengan Jiyool. Kekasihnya itu hanya perlu 'dipanaskan' agar tidak canggung lagi. Mereka saling menceritakan pribadi masing-masing.
"Maaf kita harus berkencan dengan cara diam-diam seperti ini." Changmin tidak bisa memberikan kencan yang manis untuk kekasihnya.
"Tidak apa-apa." Jiyool tersenyum sangat manis.
Jantung Changmin berdegup melihat senyuman manis gadis itu. Sepertinya ia memang jatuh cinta kepada gadis itu.
Pada awalnya Changmin tidak terlalu serius untuk menjalin hubungan dengan Jiyool. Jiyool hanyalah salah satu gadis yang pernah ia temui. Ia melakukan pendekatan kepada Jiyool melalui media sosial hanya untuk mengisi waktu luang dan menghilangkan rasa bosan, untuk menghilangkan penat yang diakibatkan oleh pekerjaannya.
Changmin merasa penasaran dengan gadis yang ia temui di belakang panggung konsernya. Ia pun mencari-cari akun media sosial gadis yang bernama Jung Jiyool itu.
Diawali dengan niat iseng, Changmin kini benar-benar jatuh hati kepada gadis itu. Jiyool adalah gadis baik-baik dari keluarga yang terpandang. Ia bahkan merasa rendah diri dan tidak layak untuk mendapatkan gadis itu. Pantaskah pemuda seperti dirinya mendapatkan gadis seperti Jung Jiyool? Ia memang tampan, populer, dan berbakat. Siapa yang tidak tahu Shim Changmin alias Choikang Changmin atau Max Changmin? Ribuan gadis pasti mengantre jika ia membuka lowongan untuk menjadi kekasihnya. Namun, semua itu bukanlah jaminan bahwa ia merupakan pria yang baik untuk dijadikan kekasih, apalagi untuk Jung Jiyool.
Jiyool mulai bisa tertawa. Kekasihnya itu ternyata orang yang sangat menyenangkan. Lingkungan pergaulan mereka sangat berbeda. Ia sempat khawatir mereka tidak akan bisa saling menyesuaikan diri. Kini ia tidak perlu merasa khawatir lagi.
"Aku harus pulang. Orang tuaku pasti sedang berada di perjalanan pulang." Jiyool melirik jam tangannya.
"Apa kau pergi diam-diam?" tanya Changmin.
Jiyool menghela nafas. "Aku menyuruh adik-adikku untuk tidur lebih awal. Aku juga membohongi para penjaga keamanan di rumahku. Aku mengatakan kepada mereka bahwa aku hanya pergi ke luar sebentar untuk membeli sesuatu."
Changmin merasa sedikit bersalah. Gadisnya itu sampai harus berbuat seperti itu demi bertemu dengannya. "Baiklah, aku akan mengantarmu pulang." Ia menarik tangan Jiyool.
Jiyool memandangi tangan mereka yang berpegangan. Ia tersipu malu. Pipinya terasa menghangat.
.
.
.
"Maaf, tadi aku bertemu dengan temanku di jalan. Kami mengobrol cukup lama." Jiyool meminta maaf kepada para penjaga keamanan di rumahnya.
"Syukurlah anda baik-baik saja, Nona. Kami baru saja akan pergi untuk mencari anda karena anda belum kembali juga."
"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku menyesal." Jiyool merasa bersalah. "Apakah ayah dan ibuku sudah pulang?"
"Belum, tuan dan nyonya belum pulang."
Jiyool bisa bernafas lega. "Syukurlah. Jika mereka tahu, aku pasti akan diomeli. Mereka sangat protektif, apalagi ayah. Tolong jangan beritahu mereka bahwa aku pergi ke luar malam-malam."
"Tenang saja, Nona. Kami tidak akan memberi tahu tuan dan nyonya."
"Terima kasih."
.
.
.
Yunjae mendengar suara pintu rumahnya dibuka. Apakah kedua orang tuanya sudah pulang? Akan tetapi, ia sama sekali tidak mendengar suara mobil mereka. Siapa yang membuka pintu? Ia merasa penasaran.
Jiyool merasa lega karena ia selamat sampai di rumah. Changmin mengantarnya sampai seratus meter dari gerbang depan rumahnya. Para penjaga keamanan di gerbang tidak boleh melihatnya bersama Chamgmin. Malam ini ia senang sekali. Hatinya berbunga-bunga.
"Kakak dari mana?" Yunjae merasa yakin bahwa yang ia lihat adalah bayangan kakaknya.
Tubuh Jiyool mematung seketika. "Aku baru saja dari toko, membeli... itu... urusan perempuan."
Yunjae mengerti yang dimaksud oleh kakaknya. Namun, tetap saja ia merasa bahwa kakaknya itu mencurigakan. "Bukankah dua minggu lalu kakak juga menstruasi? Sekarang belum selesai juga?"
Jiyool panik. Apa yang harus ia katakan kepada adiknya?
"Dua minggu lalu kakak tidak mau ikut berenang karena sedang datang bulan. Aneh sekali sampai sekarang belum selesai," lanjut Yunjae.
"Belakangan ini aku stres karena tugas kuliah, sehingga siklusnya tidak teratur. Sudah ya, aku sudah mengantuk. Selamat malam! Sebaiknya kau juga tidur. Jika ayah dan ibu sampai tahu bahwa kau belum tidur, kau akan diomeli." Jiyool berusaha melarikan diri dari adiknya.
Yunjae masih saja merasa curiga kepada kakaknya. Mengapa kakaknya itu terlihat gugup? Jiyool tidak perlu gugup jika pergi ke luar hanya untuk membeli pembalut wanita. "Apa kehidupan kampus sekeras itu, sehingga kakakku yang sangat pintar itu sampai stres?"
.
.
.
Jiyool menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia hampir saja ketahuan oleh Yunjae. Untung saja Yunjoong sudah tidur dengan nyenyak. Jika adiknya yang satu itu juga bangun, ia berada dalam bahaya.
Setelah mengganti pakaiannya dengan baju tidur, Jiyool memeriksa ponselnya. Changmin mengiriminya pesan.
Changmin:
Apa kau sudah sampai di kamarmu dengan selamat?
Jiyool:
Aku tertangkap basah oleh adik laki-lakiku saat masuk ke dalam rumah.
Changmin:
Benarkah? Lalu apa yang kau katakan kepadanya?
Jiyool:
Aku katakan saja kepadanya bahwa aku pergi ke luar untuk membeli sesuatu.
Changmin:
Apa ia percaya begitu saja?
Jiyool:
Ya, tentu saja.
Changmin:
Syukurlah. Sekarang sudah malam. Selamat tidur! Sampai jumpa di alam mimpi!
.
.
.
Pada Sabtu sore Keluarga Jung pergi ke daerah di pinggiran kota untuk bertamasya sambil merayakan ulang tahun Yunjoong yang kedelapan. Mereka mengunjungi sebuah tempat wisata di pinggiran Kota Seoul. Mereka akan berkemah di sana selama satu malam dan pulang pada Minggu sore.
Yunho menyewa dua buah tenda untuk keluarganya, satu untuk dirinya dan Jaejoong, satu lagi untuk anak-anaknya.
"Wah, sepertinya di sana ada yang sedang syuting!" Yunjae memberi tahu ayahnya. Mereka berdua sedang mengumpulkan kayu bakar untuk api unggun.
Yunho melihat ke arah yang ditunjuk oleh putranya. "Wah, bahaya! Jangan sampai ibu dan adikmu tahu bahwa artis pujaan mereka sedang berada di sini."
"Tempat syuting mereka tidak terlalu dekat dengan tenda kita. Sepertinya aman, asalkan ibu dan Yunjoong tidak pergi terlalu jauh dari tenda kita," ujar Yunjae. "Kita harus mencegah ibu dan Yunjoong untuk melihat mereka."
"Aku yang akan menjaga ibumu. Kau jaga adikmu. Untung saja Jiyool tidak seperti mereka berdua. Kita akan kewalahan jika Jiyool juga mengidolakan artis itu." Yunho membagi tugas dengan putranya.
.
.
.
"Anak-anak, makanan sudah siap!" Jaejoong memanggil anak-anaknya untuk makan. Ia memasak sup ikan dan beberapa makanan pelengkap lainnya. Ia dibantu oleh Jiyool.
Yunjae dan Yunjoong berlarian menghampiri ibunya yang sedang menghidangkan makanan di atas sebuah meja kayu besar.
"Mengapa kau hanya memanggil anak-anak? Aku tidak dipanggil, hmm?" Yunho mulai menggoda istrinya. Ia memeluk istrinya dari belakang.
"Tidak dipanggil juga kau akan datang sendiri," jawab Jaejoong malu-malu. "Lepaskan! Anak-anak melihat kita."
"Tidak apa-apa. Anak-anak akan senang orang tuanya terlihat akur." Yunho terkekeh.
Jiyool merasa malu sendiri melihat tingkah kedua orang tuanya. Ia sudah dewasa. Ia akan merasa malu melihat adegan romantis kedua orang tuanya.
"Yunho!" Jaejoong melepaskan diri dari pelukan suaminya. "Bagaimana jika anak-anak meniru kelakuanmu itu kepada orang lain?"
.
.
.
Sebelum makan, Yunho memimpin doa. Mereka kemudian makan siang bersama.
Yunjae sangat senang menjahili adiknya. Ia mengambil ikan dari atas piring Jiyool.
"Ibu, Kak Yunjae mengambil ikan milikku," rengek Yunjoong.
"Yunjae, ikannya masih banyak. Mengapa kau mengambil ikan milik adikmu?" tegur Yunho.
Jaejoong mengambilkan ikan yang baru untuk Yunjoong. "Makan saja yang ini. Yang ini lebih besar." Ia mengerling ke arah putranya. "Sekalian ibu pisahkan juga duri-durinya."
Yunjoong menjulurkan lidah ke arah Yunjae. Ia merasa senang karena ia telah dimenangkan oleh kedua orang tuanya.
"Jiyoolie, mengapa kau hanya mengambil sedikit makanan?" Yunho melihat piring Jiyool. Porsi makanan yang diambil Jiyool sangat sedikit.
Jiyool memang sengaja mengurangi porsi makannya. Ia takut menjadi gemuk. Kekasihnya adalah seorang selebriti, pasti sering dikelilingi oleh gadis-gadis cantik bertubuh langsing. Ia takut kekasihnya itu berpaling darinya. Semenjak menjadi kekasih Changmin, ia menjadi sangat memperhatikan penampilannya.
"Asyik, jatah makanku menjadi lebih banyak!" seru Yunjae.
Jaejoong mengerti mengapa putri sulungnya itu hanya makan sedikit. Sudah lama ia menyadarinya. Saat membantunya memasak pun putrinya itu tidak terlalu fokus dan sering memeriksa ponselnya.
.
.
.
Saat kedua adiknya bermain di luar bersama sang ayah, Jiyool lebih memilih untuk diam di dalam tenda. Ia mengobrol dengan Changmin.
Changmin:
Apakah kau sudah makan?
Jiyool:
Sudah, aku makan bersama keluargaku.
Changmin:
Makan apa?
Jiyool:
Sup ikan.
Changmin:
Wah, pasti rasanya enak sekali! Aku di sini hanya makan nasi kotak.
Kami sedang membuat video musik untuk lagu terbaru kami.
Jiyool:
Pasti kali ini juga video musiknya keren. Video musik kalian selalu keren. Konsepnya selalu berbeda dengan grup lain.
Sejak berkenalan dengan Changmin, Jiyool mencari tahu segala sesuatu tentang pemuda itu. Ia juga mendengarkan semua lagu milik Changmin dan grupnya, termasuk menonton video musik mereka.
"Jiyoolie, mengapa kau tidak bergabung bersama adik-adikmu di luar?" Jaejoong mengkhawatirkan Jiyool. Putri sulungnya itu banyak berubah.
Jiyool segera mematikan layar ponselnya. Ia khawatir ibunya akan membaca percakapannya dengan Changmin.
Jaejoong duduk di tepi tempat tidur Jiyool. "Ada apa? Biasanya kau selalu bersemangat. Apa kau ada masalah? Saat tadi membantu ibu memasak juga kau tidak berkonsentrasi. Kau terus saja melihat ponselmu. Apa itu pacarmu?"
Jiyool bingung bagaimana menjawab pertanyaan ibunya. Ibunya tidak akan bisa dibohongi. Ia mengangguk.
"Anak ibu sudah besar ya." Jaejoong tersenyum. "Kapan kau akan mengenalkannya kepada ibu?"
Jiyool terdiam sebentar. Ia menatap ibunya cukup lama. "Nanti jika saatnya tepat."
"Kau baik-baik saja, bukan?" tanya Jaejoong. "Apa kau sedang berdiet? Apa kau berdiet untuknya?"
"Bu, apa aku gemuk?" Jiyool balik bertanya. "Pasti banyak gadis cantik di sekelilingnya."
"Jika ia sungguh-sungguh mencintaimu, ia tidak akan meninggalkanmu hanya karena tubuhmu berisi," jawab Jaejoong. "Tidak, kau sama sekali tidak gemuk. Kau justru akan terlihat tidak sehat jika lebih kurus."
Jiyool tidak gemuk, tetapi juga tidak kurus. Dengan tubuhnya yang sekarang ini ia terlihat sehat.
"Apakah kau merasa terbenani karena mempunyai kekasih seorang selebriti?" tanya Jaejoong. Ia tahu bagaimana kehidupan selebriti. Mereka tidak bisa bebas berkencan. Menjadi kekasih seorang selebriti harus banyak bersabar dan bermental baja, apalagi seorang anggota grup idola yang sedang berada di puncak popularitas.
"Lumayan," jawab Jiyool jujur. Ia merasa tidak tenang.
"Mungkin kau harus melepaskannya jika kau tidak kuat," ujar Jaejoong. "Aku tidak ingin hidupmu menjadi berantakan karena itu."
"Aku sangat menyukainya, Bu." Jiyool enggan putus dengan kekasihnya.
"Ya, ibu mengerti. Akan tetapi, kau harus tahu batasannya. Jangan sampai kau menderita karena mencintai seseorang." Jaejoong tidak ingin Jiyool seperti Yunho, mencintai seseorang terlalu besar sampai mengorbankan banyak hal. Belum tentu pemuda yang dicintai oleh Jiyool juga mencintai putrinya itu sama besar. Jiyool masih sangat muda. Jalannya masih panjang. "Kau tidak usah berdiet lagi. Jika ia meninggalkanmu hanya karena tubuhmu berisi, ia tidak patut untuk kau pertahankan."
Seorang ibu hanya ingin anaknya bahagia. Jiyool mengerti hal itu. Sang ibu sangat mengkhawatirkannya. Namun, siapa yang bisa mengatur kepada siapa kita akan jatuh cinta? Jika ia bisa memilih, ia akan lebih memilih seorang pria yang berasal dari dunia yang sama dengannya, teman kuliahnya, atau mungkin seniornya di kampus.
.
.
.
Changmin tidak percaya bahwa ia ditinggal oleh rekan-rekannya dan para kru saat ia sedang pergi ke toilet. Bagaimana ia akan pulang? Dompet dan ponselnya ia tinggalkan di dalam mobil.
Changmin melapor pada petugas pengelola tempat wisata. Ia juga meminjam telepon untuk menelepon manajernya. "Mengapa aku ditinggal?"
"Kami mengira kau sudah berada di dalam mobil. Kami baru menyadarinya bahwa kau tidak ada setelah setengah jalan."
"Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku ingin pergi ke toilet?" Changmin terlihat kesal. "Saat aku kembali, kalian sudah tidak ada."
"Kau pergi ke toilet lama sekali. Jarak waktu kau pergi ke toilet dengan kepulangan kami cukup lama."
"Banyak orang mengantre di toilet. Aku harus menunggu sampai sepi." Sebagai seorang selebriti Changmin tidak bisa bebas pergi ke toilet umum. Ia akan dikenali oleh orang-orang.
"Kami sudah hampir sampai. Jalanan menuju ke sana pasti sudah gelap dan sepi. Kau menginap saja di sana. Aku akan menjemputmu besok pagi."
Terpaksa Changmin harus menginap di sana. Ia mencoba untuk memesan tempat untuk menginap, tetapi kamar di penginapan sudah penuh, begitu juga dengan tenda di area perkemahan. Ia terpaksa harus menginap di kantor pengelola tempat wisata.
Changmin berbaring di atas sofa di ruang tamu yang ada di kantor pengelola tempat wisata. Ia juga dipinjami bantal dan selimut. Betapa mengenaskan nasibnya saat ini, seorang selebriti papan atas Korea Selatan harus menginap di kantor pengelola tempat wisata. Ia mencoba untuk memejamkan matanya, tetapi ia mendengar sesuatu, sebuah nyanyian yang sangat merdu. Ia menjadi penasaran siapa gerangan yang sedang menyanyi.
.
.
.
Keluarga Jung berkumpul di depan api unggun. Mereka menghabiskan waktu dengan bercengkerama. Mereka adalah keluarga yang sangat harmonis dan bahagia.
Yunjoong menunjukkan kebolehannya dalam bernyanyi di hadapan keluarganya. Ia tidak malu-malu bernyanyi sambil menari. Semuanya bertepuk tangan untuknya. "Terima kasih para penggemarku sekalian! Aku akan menyanyikan lagu berikutnya." Ia berakting seakan ia adalah seorang penyanyi profesional yang sedang mengadakan konser. "Semuanya, ayo kita menyanyi bersama-sama!"
Changmin tidak bisa tidur di atas sofa di kantor pengelola tempat wisata. Ia pun memutuskan untuk mencari tahu siapa gerangan yang menyanyi dengan seindah itu. Ia terus melangkah ke arah sumber suara. Dari kejauhan ia melihat sebuah keluarga sedang berkumpul di depan api unggun. Suara nyanyian tersebut berasal dari sana. Ia tersenyum. "Ternyata yang menyanyikannya hanya seorang anak kecil." Ia terkagum-kagum kepada anak kecil itu. Anak sekecil itu sudah memiliki teknik menyanyi yang sangat baik. Bagaimana jika anak itu besar nanti? Pasti anak itu akan menjadi seorang penyanyi yang sangat hebat.
Changmin merasa kesepian di kantor pengelola tempat wisata sendirian. Sepertinya tidak ada salahnya ia menyapa keluarga tersebut. Ia pun berjalan semakin mendekati perkemahan keluarga tersebut. "Selamat malam! Bolehkah aku bergabung bersama kalian?"
Tubuh Jiyool membeku seketika melihat siapa yang datang. Ia tidak menyangka bahwa kekasihnya itu akan datang ke tempat itu juga.
"Aku datang kemari karena mendengar suara anak kalian. Suaranya sangat bagus." Changmin belum menyadari kehadiran Jiyool di sana. Keadaan di sana gelap. Pencahayaan hanya berasal dari api unggun.
Perlu beberapa detik bagi Keluarga Jung untuk menyadari siapa yang datang. Gawat! Susah payah aku mencegah istri dan anak bungsuku untuk mendekati tempat syutingnya. Mengapa justru ia yang datang kemari? Yunho belum merespon Changmin.
"Aah, Changmin Oppa!" Akhirnya Yunjoong menyadari bahwa yang datang adalah idolanya. Ia berteriak histeris.
Changmin tersenyum kikuk. Ia tidak menyangka bahwa reaksi anak kecil bersuara indah itu akan seheboh itu.
Yunjae hanya saling pandang dengan ayahnya. Mereka seolah mengatakan 'usaha kita sia-sia'.
Jaejoong cukup tahu diri. Ia tidak bereaksi berlebihan seperti Yunjoong, apalagi ia melihat raut wajah suaminya yang berubah masam. Suaminya itu juga mengeratkan pelukan pada pinggangnya. Ia pun berbisik kepada sang suami. "Tenang saja, aku hanya milikmu. Kita kedatangan tamu. Kita harus memperlakukan tamu kita dengan baik." Ia mengingatkan suaminya.
Setelah diingatkan oleh istrinya, barulah Yunho merespon Changmin. "Tentu saja kau boleh bergabung bersama kami." Ia memaksakan senyumannya. "Apakah kau sendirian di sini?"
Changmin tersenyum kikuk. "Ya, aku sendirian. Aku ditinggal oleh teman-temanku dan para kru setelah pengambilan gambar untuk video musik. Perkenalkan namaku adalah Shim Changmin. Senang berkenalan dengan kalian."
"Changmin Oppa, aku adalah penggemarmu." Rasanya Yunjoong ingin menangis karena bahagia. Di hari ulang tahunnya yang tinggal beberapa jam lagi ia bertemu dengan idolanya. Ini adalah kado terindah untuknya.
"Perkenalkan aku Jung Yunho. Ini adalah istriku, Jaejoong. Mereka bertiga adalah anak-anak kami, Jiyool, Yunjae, dan Yunjoong." Yunho memperkenalkan seluruh anggota keluarganya kepada Changmin.
Changmin akhirnya menyadari bahwa keluarga yang ia datangi adalah keluarga kekasihnya. Ia juga akhirnya menyadari bahwa sang kekasih berada di sana. Seharusnya ia tidak datang kemari. Ini adalah keputusan yang salah.
"Oppa, bolehkah aku meminta tanda tanganmu?" Yunjoong langsung beraksi.
Dengan senang hati Changmin mengabulkan permintaan penggemarnya itu. Yunjoong memang seperti yang diceritakan oleh Jiyool, ceria dan periang.
Jiyool berencana untuk menghadiahi adiknya tanda tangan Changmin. Namun, Yunjoong sudah mendapatkannya sendiri dari Changmin. Ia tidak bisa memberikan tanda tangan itu sebagai hadiah ulang tahun untuk Yunjoong. Sekarang ia tidak punya kado untuk diberikan kepada adiknya itu.
Changmin berhati-hati dalam bersikap di hadapan Keluarga Jung, apalagi di hadapan Yunho. Pria itu adalah ayah dari kekasihnya.
Suasana menjadi semakin ramai oleh kedatangan Changmin. Yunjoong meminta Changmin untuk berduet dengannya. Rasanya ini bagaikan mimpi.
Walaupun ia adalah seorang selebriti, Changmin bersikap sangat ramah. Dengan mudah ia bisa mengambil hati Yunjae yang sebelumnya tidak menyukai dirinya. Dengan cepat ia menjadi akrab dengan adik laki-laki kekasihnya itu.
"Apa hyung bisa bermain sepak bola?" Yunjae merasa senang karena ia diajari bermain gitar oleh Changmin.
"Sedikit. Aku lebih suka bermain bulu tangkis dan bola basket," jawab Changmin.
Yunho masih belum bisa menyukai Changmin. Ia merasa pemuda tersebut telah merebut perhatian keluarganya. "Untung masih ada kau." Ia duduk di sebelah Jiyool yang sejak tadi diam saja.
Jiyool tersenyum kikuk. Entah bagaimana reaksi ayahnya jika sang ayah mengetahui hubungannya dengan pemuda itu.
"Pemuda itu terlihat cukup ramah dan rendah hati untuk ukuran seorang selebriti yang sedang berada di puncak popularitas," komentar Yunho.
Jiyool tidak berani berkomentar. Ia takut salah bicara.
"Mengapa kau diam saja? Akhir-akhir ini kau menjadi lebih pendiam. Ada apa?" Yunho teringat akan Jaejoong yang pendiam dulu. Jangan sampai Jiyool juga seperti itu. "Jangan menyimpan semuanya sendirian! Jika kau memiliki masalah atau menginginkan sesuatu, katakan saja! Ayahmu ini tidak pandai membaca isi hati wanita. Isi hati wanita adalah sebuah misteri."
Jiyool bersandar pada bahu sang ayah. "Aku sayang ayah."
Yunho memeluk bahu putrinya. "Ayah juga sangat menyayangimu, Nak. Ada apa? Tumben sekali kau bersikap manja seperti ini."
Jiyool menatap wajah ayahnya. "Ayah, suatu saat aku pasti akan meninggalkan ayah. Apakah ayah akan rela untuk melepaskanku?" Ia terlihat serius.
Yunho merasa sedih mendengar ucapan putrinya. Putri kesayangannya itu sudah dewasa. Mungkin tidak lama lagi putrinya itu akan diambil oleh pria lain. Ia harus siap untuk merelakan Jiyool pergi. "Asalkan kau pergi bersama pria yang baik, aku pasti akan dengan tenang melepasmu."
"Pria seperti apa yang menurut ayah baik?" tanya Jiyool.
"Pria yang sangat mencintaimu dengan tulus." Yunho semakin merasa sedih.
"Bagaimana ayah tahu bahwa ia benar-benar tulus mencintaiku?" tanya Jiyool lagi. "Apakah harus seperti ayah?"
Yunho tidak yakin bahwa ia akan menemukan seorang pria yang mencintai putrinya seperti ia mencintai Jaejoong. Ia bahkan menyebut dirinya sendiri bodoh. Adakah pria sebodoh dirinya?
"Mengapa kalian hanya diam saja? Ayo bergabung bersama kami!" Jaejoong 'menyeret' suami dan putri sulungnya untuk ikut menyanyi bersama.
Jiyool tidak ikut menyanyi. Ia hanya memandangi wajah menawan kekasihnya. Apakah Changmin mencintainya dengan tulus, seperti yang dimaksud oleh ayahnya? Ia sedang jatuh cinta kepada pemuda itu. Ia takut sang ayah tidak merestui hubungan mereka.
Changmin menyadari bahwa Jiyool memandang ke arahnya. Sesekali ia juga mencuri pandang ke arah Jiyool.
.
.
.
"Sekarang sudah larut malam. Sepertinya aku sudah harus undur diri. Kalian pasti ingin beristirahat." Changmin merasa tidak enak karena telah mengganggu acara Keluarga Jung.
"Oppa, jangan pergi dulu! Tunggulah sebentar lagi! Ulang tahunku kurang dari satu jam lagi. Aku ingin oppa berada di sini saat aku merayakan ulang tahunku," rengek Yunjoong.
Changmin kebingungan. Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus memenuhi keinginan penggemarnya itu? Akan tetapi, ia juga merasa tidak enak kepada Tn. Jung dan Ny. Jung.
"Ayah, tolong jangan biarkan Changmin Oppa pergi sekarang!" Yunjoong memohon kepada ayahnya.
Yunho tidak tahan melihat wajah Yunjoong yang memelas. Hatinya luluh seketika. "Putri bungsuku ini sebentar lagi berulang tahun. Apakah kau mau tinggal sebentar untuk merayakan ulang tahunnya? Kumohon!"
Changmin tidak bisa menolak karena Yunho yang memintanya. "Baiklah. Dengan senang hati aku menerima undanganmu, Tn. Jung."
"Asyik!" Yunjoong bersorak kegirangan. "Terima kasih, Ayah!" Ia mencium pipi ayahnya.
.
.
.
Waktu menunjukkan tengah malam. Hari telah berganti. Yunjoong telah resmi berusia delapan tahun. Ia merasa bahagia karena bisa merayakan hari ulang tahunnya bersama keluarga dan idolanya.
Jaejoong mengeluarkan kue yang telah ia persiapkan sebelumnya. Terdapat delapan buah lilin yang menandakan usia Yunjoong. "Ayo tiup lilinnya, Sayang!"
Yunjoong menutup matanya dan membuat permohonan. Ia kemudian meniup lilin ulang tahunnya.
"Sekarang waktunya kau untuk memotong kue." Jaejoong juga sudah menyiapkan pisau pemotong kue dan piring kecil.
Yunjoong memotong kue ulang tahunnya dengan semangat. Potongan pertama berukuran cukup besar. Ia melihat ke sekelilingnya. Kepada siapa ia akan memberikan potongan kue pertamanya? Tahun ini ia merayakan ulang tahunnya bersama idolanya. Apakah ia berikan saja potongan kue pertama itu kepada Changmin? "Ini untuk ibu dan ayah. Aku tidak bisa memilih salah satu di antara kalian berdua."
"Terima kasih, Sayang!" Yunho dan Jaejoong mencium pipi putri bungsu mereka.
Yunjoong kemudian memberikan potongan kue berikutnya untuk Jiyool, kemudian Yunjae, dan terakhir untuk Changmin. Walaupun ia sangat mengidolakan Changmin, tetap saja keluarga adalah yang utama baginya.
"Sayang, yang lainnya mendapatkan masing-masing satu potong kue, mengapa kami hanya mendapatkan satu potong untuk berdua?" tanya Jaejoong heran.
"Yunjoongie adalah anak yang sangat pengertian. Ia ingin kita makan kue sepotong berdua, saling menyuapi." Yunho mulai menggombal.
Seketika wajah Jaejoong merona. Ia merasa malu. Untung saja tidak ada yang bisa melihat perubahan rona wajahnya.
Setelah memakan kue. Yunjoong mulai menerima kado ulang tahunnya. Ia mendapatkan satu set peralatan melukis dari ayahnya dan sebuah harmonika dari ibunya. Yunjae memberikannya buku cerita, sedangkan Changmin yang tidak mempersiapkan apa-apa memberikan gantungan kunci miliknya kepada Yunjoong.
"Mana kado ulang tahun dari Kak Jiyool?" Hanya Jiyool yang belum memberikan kado ulang tahun untuk Yunjoong.
Jiyool tidak bisa memberikan tanda tangan Changmin sebagai kado ulang tahun adiknya, seperti yang ia rencanakan sebelumnya. "Sebentar, aku akan mengambilnya di dalam tenda."
Tidak lama kemudian Jiyool kembali dari dalam tenda. "Ini hadiah ulang tahun untukmu. Ambilah!"
Yunjoong terpana melihat hadiah yang disodorkan oleh Jiyool kepadanya. "Bukankah ini adalah boneka kesayangan kakak? Mengapa kakak memberikannya kepadaku? Kakak selalu membawanya ke mana pun kakak pergi. Apa kakak rela memberikannya kepadaku?"
Jiyool tersenyum tulus kepada adik bungsunya. "Boneka itu memang sangat berharga bagiku. Akan tetapi, kau jauh lebih berharga daripada boneka itu. Kau adalah adikku yang sangat kusayangi." Ia memeluk adiknya. "Barang yang sangat istimewa hanya bisa diberikan kepada orang yang sangat istimewa."
"Terima kasih, Kakak!" Yunjoong membalas pelukan kakaknya. "Aku berjanji bahwa aku akan menjaga boneka ini dengan baik."
Jaejoong menitikkan air mata melihat kedua putrinya. Boneka beruang usang pemberian ibunya itu telah menghubungkan keluarganya. Ia merasa bangga kepada anak-anaknya yang menyayangi satu sama lain.
Changmin ikut terharu melihat betapa harmonisnya Keluarga Jung. Di matanya keluarga itu sangat sempurna. Mereka mengasihi satu sama lain. Acara ulang tahun sudah selesai. Ia benar-benar undur diri.
"Kau menginap di mana?" tanya Jaejoong.
Changmin tersenyum kaku. "Aku tidak mendapatkan penginapan di sini. Aku tidur di kantor pengelola tempat wisata."
Jaejoong merasa kasihan kepada Changmin. Ia menyikut suaminya pelan.
Yunho mengerti tanda yang diberikan oleh Jaejoong. Ia harus menuruti kemauan istrinya. Jangan sampai ia membuat wanitanya itu kesal. Ia tidak ingin apa yang sudah ia rencanakan untuk malam ini gagal karena istrinya marah kepadanya. "Aku bisa meminjamimu kantung tidur jika kau mau."
Changmin tidak menyangka bahwa Yunho akan meminjamkan kantung tidur untuknya. "Terima kasih. Kau sangat baik, Tuan."
.
.
.
"Yunnie, jangan! Nanti anak-anak bisa dengar."
"Mereka tidak akan mendengarnya. Tenda mereka tidak terlalu dekat dengan tenda kita. Ayolah, Sayang!"
"Ini di tempat terbuka."
"Kita berada di dalam tenda, Sayang. Apanya yang terbuka?"
"Bisa saja ada yang mengintip."
"Ini sudah lewat tengah malam. Semua orang sudah tidur. Kapan lagi kita bisa bercinta di dalam tenda? Kita belum pernah melakukannya."
Changmin tidak bisa tidur. Tn. Jung dan Ny. Jung berisik sekali. Mungkin sebentar lagi ia akan mendengar suara desahan dari dalam tenda mereka. Ia kagum kepada pasangan suami istri itu, walaupun mereka sudah bukan anak muda lagi dan sudah memiliki tiga orang anak, mereka masih saja mesra. Apakah ia dan istrinya kelak bisa seperti Tn. Jung dan Ny. Jung itu?
Entah mengapa terlintas di pikiran Changmin tentang pernikahan. Itu semua gara-gara Tn. Jung dan Ny. Jung. Mereka berdua membuat iri saja.
Changmin tidak pernah memikirkan tentang pernikahan sebelumnya. Ia bahkan tidak ingin menikah. Ia ingin fokus pada karirnya yang sedang menanjak. Pernikahan hanya akan menghambatnya.
"Kau mau ke mana?" Jiyool yang juga belum bisa tidur melihat adik laki-lakinya terbangun.
"Aku akan menemani Changmin Hyung. Kasihan ia tidur di luar sendirian." Yunjae mengangkut bantal dan selimutnya.
Jiyool merasa senang karena Changmin bisa akrab dengan keluarganya. Namun, tetap saja ia takut akan reaksi keluarganya jika mereka mengetahui hubungannya dengan Changmin. Akankah mereka masih menyukai Changmin?
Changmin terkejut saat Yunjae mendekatinya. Ia mengira bahwa ada binatang liar yang menghampirinya. "Mengapa kau tidak tidur?"
"Aku ingin menemani hyung." Yunjae berbaring di sebelah Changmin. Ia membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.
"Di sini dingin. Kau tidur saja di dalam. Aku tidak apa-apa tidur sendirian," ujar Changmin.
"Biarkan saja anak-anak perempuan yang tidur di dalam tenda. Kita laki-laki tidur di luar saja," balas Yunjae.
Changmin terkekeh. "Jika bisa, aku lebih memilih untuk tidur di dalam tenda."
"Tidak boleh. Di dalam ada kakakku. Kau tidak boleh tidur dalam satu tenda dengan kakakku," ujar Yunjae.
Changmin berhenti terkekeh. Ucapan Yunjae tersebut justru membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Ia kembali melirik tenda Tn. Jung dan Ny. Jung. Sekarang apa yang sedang mereka berdua lakukan? "Kakakmu itu pendiam ya."
"Tidak juga. Ia cukup cerewet," komentar Yunjae.
"Akan tetapi, kulihat ia pendiam," balas Changmin.
"Mungkin karena ada hyung di sini. Ia belum pernah bertemu selebriti sebelumnya." Yunjae mengira-ngira.
"Benarkah?" Perasaan Changmin melambung.
"Entahlah. Mungkin saja. Akan tetapi, akhir-akhir ini kakak memang menjadi lebih pendiam dari biasanya," jawaban Yunjae sangat jujur dan polos. Ia sama sekali tidak menaruh curiga kepada Changmin.
"Ada apa? Apa yang terjadi kepada kakakmu?" Changmin mencoba mencari informasi lebih banyak mengenai Jiyool dari Yunjae.
"Aku tidak tahu. Mungkin ia stres. Ia pernah mengatakan bahwa ia stres. Aneh sekali. Selama ini ia adalah siswa yang berprestasi. Bagaimana bisa ia menjadi stres hanya karena tugas kuliah?" Yunjae bercerita.
Changmin tidak tahu bahwa Jiyool merasa stres dengan kuliahnya. Gadis itu tidak mengatakan hal itu. "Apa kakakmu sudah mempunyai kekasih? Mungkin saja ia sedang jatuh cinta."
Yunjae tertawa pelan. "Banyak pemuda yang mengincar kakakku, tetapi tak ada satu pun dari mereka yang dilirik oleh kakak."
"Mengapa? Apa mereka semua jelek?" tanya Changmin penasaran.
"Kakak ingin fokus dengan kuliahnya. Kakakku itu orang yang sangat serius. Ia sudah merancang masa depannya." Yunjae menjelaskan kepada Changmin.
"Jatuh cinta kan tidak bisa direncanakan," kata Changmin.
"Kakak adalah orang yang konsisten dan berkomitmen. Jika ia sudah merencanakan sesuatu, ia akan disiplin menjalankannya," balas Yunjae.
"Kapan rencana kakakmu untuk mempunyai kekasih?" Changmin menginterogasi Yunjae.
"Aku tidak tahu persis," jawab Yunjae. "Setidaknya ia tidak berencana untuk mempunyai kekasih sampai lulus kuliah."
Changmin menjadi bingung. Bukankah ia dan Jiyool adalah sepasang kekasih? Selama ini Jiyool menganggapnya sebagai kekasih, bukan? "Mungkin saja kakakmu sekarang sudah punya kekasih, tetapi ia menyembunyikannya."
"Mungkin juga." Yunjae berpikir. "Akan tetapi, mengapa ia harus menyembunyikannya?"
"Mungkin ia malu karena ia harus melanggar hal yang telah direncanakannya atau bisa juga ia takut kepada ayahmu," ujar Changmin.
"Ayah memang sangat tegas, tetapi ia tidak mungkin menghalangi keinginan anaknya," balas Yunjae.
"Mungkin saja kekasih kakakmu itu tidak masuk kriteria menantu idaman yang diinginkan oleh ayahmu," kata Changmin lagi.
"Memangnya ayah ingin menantu seperti apa?" Yunjae juga tidak tahu.
"Mana kutahu," balas Changmin. "Menurutmu apakah ayahmu akan merestui jika kakakmu menikah dengan seorang selebriti sepertiku?"
Yunjae menatap Changmin. "Apa hyung berminat untuk mendekati kakakku?"
Changmin terdiam sejenak. Ia sudah melakukan hal itu dan ia berhasil. "Kira-kira kakakmu akan menyukai orang sepertiku tidak ya?"
"Sepertinya tidak," jawab Yunjae polos. "Hyung bukan tipe kakak."
Changmin dibuat syok oleh jawaban Yunjae. "Memangnya kakakmu suka tipe pria yang seperti apa?"
"Aku tidak tahu. Mungkin pria yang serius seperti dirinya." Yunjae mengira-ngira. "Sebaiknya hyung tanyakan sendiri saja kepada kakak."
"Mana mungkin aku menanyakan langsung kepadanya," balas Changmin.
"Jadi, hyung benar-benar menyukai kakak?" tanya Yunjae serius.
Changmin dibuat syok lagi oleh Yunjae. "Memangnya aku mempunyai peluang untuk mendapatkan kakakmu?"
"Aku, ibu, dan Yunjoongie menyukai hyung. Hyung bisa mendapatkan dukungan dari kami bertiga." Ucapan Yunjae membesarkan hati Changmin.
"Lalu bagaimana dengan ayahmu? Ia tampak menakutkan." Dukungan dari ketiga anggota keluarga yang lain tidak akan berguna jika ia tidak bisa menaklukkan ayah Jiyool.
"Ayah memang terlihat tegas dari luar, tetapi ia sangat lembut di dalam. Ia adalah orang tua yang penyayang." Yunjae sangat bersyukur mempunyai ayah seperti Yunho. "Coba saja hyung dekati ayah."
Changmin masih takut untuk mendekati Yunho. Entah mengapa aura pria itu sangat menakutkan baginya. Pria itu adalah tipe ayah yang sangat protektif kepada keluarganya.
.
.
.
Changmin dijemput oleh manajernya pagi-pagi sekali. Ia mempunyai jadwal yang padat hari ini. Ia berpamitan kepada Keluarga Jung. Sebelum ia pergi, ia mencuri kesempatan untuk berbicara berdua dengan Jiyool. "Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik."
"Kau tidak perlu khawatir. Aku di sini bersama keluargaku," balas Jiyool.
Benar juga yang dikatakan oleh Jiyool. Changmin menjadi salah tingkah. "Kapan kita bisa bertemu lagi?"
"Aku tidak tahu. Nanti aku akan mengabarimu." Jiyool melihat ibunya mendekat. "Sebaiknya kau segera pergi."
Changmin tidak ingin cepat-cepat berpisah dengan Jiyool. Ia masih ingin melihat kekasihnya itu. Namun, ia segera 'diseret' oleh manajernya.
.
.
.
"Apa saja yang kau lakukan di sana setelah kami pergi? Mengapa kekasihmu itu ada di sana juga?" Manajer Changmin mengenali Jiyool.
"Aku menghabiskan malam bersamanya," canda Changmin.
"Apa?" Manajer Changmin terkejut.
Changmin tertawa karena telah berhasil mengerjai manajernya. "Tenang saja. Keluarganya juga ada bersama kami."
"Apa yang kau lakukan bersama keluarga mereka? Apa kau sengaja tertinggal agar bisa menemui keluarga dari gadis itu?" Manajer mencurigai Changmin.
"Aku tidak tahu bahwa mereka ada di sana. Aku tidak sengaja bertemu dengan mereka," jawab Changmin.
"Apa mereka tahu mengenai hubunganmu dengan gadis itu?" tanya manajer Changmin. Ia sangat mengkhawatirkan artisnya itu.
"Tidak, mereka belum tahu," jawab Changmin lagi.
"Belum? Apa itu artinya kau bermaksud untuk memberi tahu mereka?" Sang manajer benar-benar khawatir. Raut wajahnya menegang.
Changmin menghela nafas. "Cepat atau lambat mereka harus tahu."
"Sebaiknya jangan," saran sang manajer. "Aku tidak ingin kabar hubunganmu dengan gadis itu tersebar."
"Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Kasihan kekasihku itu. Kami terlihat seperti penjahat, kencan secara sembunyi-sembunyi." Changmin menjelaskan kepada manajernya.
"Kau adalah seorang selebriti, Changmin. Ingat itu! Kau dan grupmu sedang berada di puncak popularitas. Jika berita kencanmu sampai tersebar, bukan hanya kau yang akan merasakan dampaknya, melainkan grupmu juga. Kau harus memikirkan nasib rekan-rekan segrupmu juga." Sang manajer menasihati Changmin.
Changmin terdiam. Ya, ia harus memikirkan rekan-rekan segrupnya. Mereka berjuang bersama-sama hingga sampai pada posisi ini. Ia tidak boleh mengkhianati teman-teman seperjuangannya. Lain cerita jika ia tidak tergabung ke dalam sebuah grup.
Changmin merasa bingung. Ia tidak bisa memperlakukan anak gadis orang seperti itu, kencan diam-diam, gelap-gelapan, dipenuhi perasaan tidak tenang karena takut diketahui oleh publik. Ia ingin memberikan kencan yang indah kepada kekasihnya. Gadis seperti Jiyool bagaikan berlian. Ia harus memperlakukannya dengan pantas, apalagi Keluarga Jung adalah keluarga yang sangat terhormat. Ia telah menghina keluarga itu dengan memperlakukan anak gadis mereka dengan tidak layak.
Di sisi lain Changmin memiliki tanggung jawab kepada grupnya. Susah payah mereka membangun karir dari bawah. Ia tidak boleh menghancurkannya dalam sekejap. Para penggemar di Korea Selatan sangat fanatik. Seakan-akan mereka berhak untuk mengendalikan hidup idola mereka. Para artis diperbudak oleh para penggemarnya sendiri. Hidup mereka seakan-akan telah dibeli oleh para penggemar. Mereka harus mengabdikan hidup mereka untuk penggemar.
.
.
.
"Bu, aku punya sebuah rahasia." Yunjae berbisik kepada ibunya.
"Apa?" Jaejoong merasa sangat penasaran.
"Changmin Hyung menyukai kakak." Yunjae tidak sabar untuk berbagi hal ini dengan ibunya.
Jaejoong memandang putranya dengan serius. "Kau jangan mengada-ada. Siapa yang mengatakannya kepadamu?"
"Ia sendiri yang mengatakannya kepadaku." Yunjae membanggakan dirinya. "Ia menanyakan banyak hal mengenai kakak."
Jaejoong masih tidak percaya akan apa yang dikatakan oleh Yunjae, tetapi anaknya itu bukan pembohong. "Oh, ya?"
"Apa ibu tidak merasa senang?" heran Yunjae. "Pemuda itu adalah Shim Changmin, idola para wanita, termasuk ibu-ibu.'
"Aku senang saja jika ia menyukai kakakmu," komentar Jaejoong. "Akan tetapi, ayahmu pasti tidak akan setuju."
"Mengapa?" Yunjae tidak mengerti. "Changmin Hyung adalah orang yang baik. Aku saja langsung menyukainya saat bertemu, padahal sebelumnya aku sangat tidak menyukainya."
"Ia adalah seorang selebriti. Tentu saja ia sangat pandai menjaga imejnya." Jaejoong berkata kepada putranya.
"Jadi, ibu berpikir sikap baiknya itu hanya pura-pura?" Yunjae menuntut penjelasan dari ibunya.
"Tidak, tentu saja tidak. Ibu tidak ingin menuduh orang sembarangan. Akan tetapi, kita tidak tahu apakah ia benar-benar menyukai Jiyool atau hanya bercanda," ujar Jaejoong. Ia menjadi semakin penasaran siapa kekasih putrinya yang juga seorang selebriti.
.
.
.
Jaejoong memanggil Jiyool ke kamarnya. Ia ingin berbicara berdua saja dengan putrinya itu. "Jiyoolie Sayang, sudah lama kita tidak berbicara berdua. Apa ada yang ingin kau ceritakan kepada ibu?"
Jiyool menggeleng. "Tidak ada. Semuanya baik-baik saja." Ia berbohong. Nilai tugasnya tidak terlalu memuaskan bagi dirinya yang perfeksionis.
"Yang benar?" tanya Jaejoong lagi. "Bagaimana kabar kekasihmu itu? Apakah hubungan kalian masih berlanjut?"
Jiyool merasa gugup ditanya perihal kekasihnya oleh sang ibu. "Baik-baik saja."
"Sayang, apa ibu boleh tahu siapa kekasihmu itu?" tanya Jaejoong hati-hati.
Jiyool terdiam. Ia bingung bagaimana harus menjawabnya. Apakah ia harus berterus-terang saja kepada ibunya?
Jaejoong melihat raut ketakutan di wajah putrinya. "Kau tidak perlu takut, Sayang. Aku adalah ibumu. Jika kau tidak percaya kepadaku, siapa yang akan kau percayai?"
Jiyool menggigit bibirnya. Ia merasa ragu. "Lelaki itu..."
Jaejoong tidak sabar untuk mendengar jawaban putrinya. Ia menyiapkan mentalnya. Semoga saja bukan artis yang ia benci.
"Changmin," lirih Jiyool.
Jaejoong tidak terlalu jelas mendengar suara Jiyool. Sayup-sayup ia mendengar nama 'Changmin'. "Apa? Changmin? Suaramu tidak jelas."
Jiyool mengangguk lemah. Ia tidak berani menatap ibunya. Ibunya pasti tidak akan mengizinkannya untuk berpacaran dengan pemuda itu karena ada jutaan penggemar yang harus dihadapi.
Jaejoong merasa syok, tetapi ia tetap tersenyum kepada putrinya. "Tidak apa-apa. Ibu sama sekali tidak marah."
Jiyool mengangkat kepalanya. Ia memberanikan diri untuk menatap wajah ibunya. Senyuman ibunya itu sangat menyejukkan.
"Ibu terkejut, sangat terkejut," jujur Jaejoong. "Ibu sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda itu adalah Max Changmin. Bagaimana kau bisa menjadi kekasihnya?"
Jiyool merasa bahwa tidak ada gunanya lagi ia menyembunyikan semua itu dari sang ibu. Ia menceritakan semuanya kepada Jaejoong, mulai dari pertemuannya dengan Changmin di belakang panggung.
Jaejoong mendengarkan cerita putrinya dengan seksama. Banyak hal yang mengejutkan yang selama ini ia tidak tahu. Putrinya itu begitu rapi menyimpan rahasia, benar-benar ciri khas Jung Jiyool. Ia tetap terlihat tenang.
Jiyool merasa lega setelah menceritakan semuanya kepada Jaejoong. Ia merasa bebannya berkurang. Ia tidak perlu memikulnya sendiri lagi.
"Ibu tidak keberatan kau berpacaran dengannya. Akan tetapi, apa kau merasa nyaman menjalaninya? Ada jutaan penggemar yang harus kau hadapi. Apa kau akan sanggup untuk menjalaninya? Kau tak akan bisa menjalani hubungan yang normal dengannya." Jaejoong sangat mengkhawatirkan Jiyool. Dunia hiburan sangat kejam. Sekali saja melakukan kesalahan, penggemar akan berbalik meninggalkanmu. Ia tahu bagaimana rasanya dan ia tidak yakin Changmin akan berani untuk mengambil risiko itu hanya demi gadis biasa seperti putrinya.
"Aku tahu, Bu. Akan tetapi, aku sangat menyukainya. Aku tidak ingin mengakhiri hubungan kami. Aku akan mencoba bertahan dengan kondisi ini," ujar Jiyool.
Jaejoong merasa kasihan kepada putrinya. Jalan yang dipilih putrinya itu tidaklah mudah. Ia hanya bisa mendoakan dan mendukung putrinya secara moral. Semoga saja pilihan putrinya itu tidak salah.
.
.
.
Sudah sebulan Changmin tidak bertemu dengan kekasihnya itu. Jiyool tidak juga memberikan kabar kapan mereka bisa bertemu. Ia sudah sangat merindukan kekasihnya itu. Entah mengapa ia nekat untuk menemui kekasihnya itu di kediaman Keluarga Jung. Ia masih tidak bisa percaya bahwa saat ini ia berdiri di depan gerbang kediaman Keluarga Jung.
"Maaf, anda siapa dan ada kepentingan apa?" penjaga keamanan menghampiri Changmin.
"Aku..." Tubuh Changmin gemetaran. "Aku Shim Changmin. Aku ingin bertemu dengan Tn. Jung." Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan setelah bertemu dengan Yunho.
Sekarang adalah hari Minggu. Seluruh anggota Keluarga Jung sedang berkumpul di rumah. Penjaga keamanan menelepon ke dalam rumah untuk menanyakan apakah tamu yang bernama Shim Changmin diperbolehkan masuk atau tidak.
.
.
.
"Siapa yang datang, Ayah?" tanya Jiyool.
"Artis itu, Shim Changmin. Katanya ia ingin bertemu denganku. Aku tidak tahu mengapa ia ingin bertemu denganku." Yunho merasa bingung. Ia merasa tidak ada urusan dengan pemuda itu.
Detak jantung Jiyool menjadi sangat kencang. Mengapa kekasihnya itu ingin menemui ayahnya?
Jaejoong yang sedang berada di sana juga merasa cemas. Ia melihat wajah putrinya yang memucat. Ia menggenggam tangan Jiyool untuk memberikan dukungan moral.
.
.
.
"Ada apa kau ingin bertemu denganku?" Yunho bertanya kepada tamunya dengan raut wajah dingin.
Changmin tersenyum kaku. Ia sendiri juga tidak mengerti mengapa ia datang kemari. "Aku ingin bertemu putrimu." Ia merutuki kebodohannya. Mengapa ia mengatakan hal itu?
Yunho mengerutkan keningnya. "Yang mana? Untuk apa?" Raut wajahnya masih terlihat sangat dingin. Setiap calon menantu pasti akan ketakutan menghadapi calon mertua seperti dirinya.
"Yunjoongie. Ya, Yunjoongie. Aku ingin mendengar suara merdunya lagi." Changmin tidak berani untuk menjawab 'Jiyool'.
"Akhir pekan adalah waktu untuk berkumpul bersama keluarga." Yunho merasa bahwa tujuan Changmin datang ke rumahnya tidak terlalu penting. Ia merasa terganggu.
"Oh, kalau begitu, aku mohon maaf. Maaf aku telah mengganggu acara keluarga kalian." Changmin berpamitan kepada Yunho. Tidak seharusnya ia datang kemari. "Kira-kira kapan aku boleh menemui putrimu?"
Yunho mulai berpikiran negatif kepada Changmin. Apakah pemuda itu pedofil dan tertarik kepada putri bungsunya yang baru berusia delapan tahun? "Apa kau tertarik kepada putriku?"
Changmin terkejut oleh pertanyaan Yunho. Bagaimana Tn. Jung bisa tahu? Apakah Jiyool memberitahu ayahnya? Ia ragu-ragu untuk menjawabnya. "Ya."
Wajah Yunho berubah pucat. Ia memandang horor ke arah Changmin. Ia harus melindungi putrinya. "Dasar pedofil! Keluar kau dari rumahku sekarang juga!"
Changmin langsung berlari meninggalkan ruang tamu Keluarga Jung. Ia ketakutan melihat Yunho yang dikuasai amarah. Ia tidak menyangka bahwa reaksi Tn. Jung akan seperti itu.
"Oppa!" Yunjoong melihat Changmin keluar dari rumahnya saat ia bermain bersama kakak-kakaknya di kebun. Ia tidak tahu bahwa Changmin datang ke rumahnya. Ia langsung berlari ke arah Changmin dan memeluk idolanya itu.
"Yunjoongie, jangan dekati dia!" Yunho berteriak histeris. Ia segera menarik Yunjoong menjauh dari Changmin. "Dasar pedofil! Jangan dekati putriku!"
Jaejoong terkejut mendengar suaminya berteriak-teriak. "Ada apa, Sayang? Mengapa kau berteriak?"
Yunho menyerahkan Yunjoong kepada Jaejoong. "Bawa Yunjoongie ke dalam! Idolamu ini seorang pedofil. Ia mengatakan bahwa ia menyukai putri kita."
Jaejoong mengerti situasi yang terjadi. Suaminya itu pasti salah paham. Yang dimaksud oleh Changmin pasti Jiyool, bukan Yunjoong. "Kau pasti salah paham. Tidak mungkin ia adalah seorang pedofil."
"Kau masih membelanya? Jangan karena ia adalah idolamu, lantas kau membelanya. Yunjoongie bisa menjadi korbannya." Yunho tidak habis pikir.
"Tenang, Sayang. Aku membelanya bukan karena aku adalah penggemarnya. Kita bisa membicarakannya baik-baik. Kau tidak boleh sembarangan menuduh orang." Jaejoong mencoba untuk menenangkan suaminya.
"Aku tidak sembarangan menuduh. Ia sendiri yang mengatakan bahwa ia menyukai putri kita." Yunho bersikeras.
"Apa ia mengatakan bahwa ia menyukai Yunjoong? Putri kita bukan hanya Yunjoong," balas Jaejoong.
Yunho terdiam. Ia memang tidak menyebutkan nama Yunjoong saat bertanya kepada Changmin.
"Ibu benar, Ayah," timpal Yunjae. "Yang Changmin Hyung maksud pasti kakak, bukan Yunjoongie."
Yunho menjadi bingung. Mengapa putranya juga berkata seperti itu? Ada apa ini?
Tamatlah riwayat Changmin. Kini semua anggota Keluarga Jung tahu bahwa ia menyukai Jiyool.
Yunho menatap Changmin dengan serius. "Apa yang dikatakan oleh Yunjae itu benar? Jadi, kau datang kemari untuk menemui Jiyool?"
Apa yang harus Changmin katakan kepada Yunho? Haruskah ia mengakuinya daripada ia dituduh pedofil? "Aku... Aku menyukaimu, Tuan. Aku sangat mengidolakanmu." Ingin sekali Changmin menampar dirinya sendiri. Jawaban macam apa itu? "Kau adalah ayah yang baik, bertanggung jawab, dan sangat melindungi keluargamu. Kau adalah pria yang hebat. Aku ingin belajar banyak darimu."
Jiyool merasa sedikit kecewa kepada Changmin. Kekasihnya itu tidak berani untuk berkata jujur di hadapan ayahnya, pengecut.
Yunho menatap Changmin dengan tajam. Ia mulai berpikir yang bukan-bukan mengenai Changmin. Anak muda itu pasti memiliki maksud terselubung.
Jaejoong menepuk bahu suaminya. "Seharusnya kau senang karena kau punya seorang penggemar. Bersikap baiklah kepadanya. Beri ia kesempatan." Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membantu putrinya.
.
.
.
Yunho selalu menuruti saran dari istrinya. Ia mencoba untuk bersikap baik kepada Changmin. "Aku tidak mengerti mengapa kau mengidolakanku." Ia masih tidak menyukai Changmin.
Jika ada waktu luang, Changmin mencari-cari alasan untuk menemui Yunho. Ia mencari-cari alasan untuk datang berkunjung ke rumah Keluarga Jung agar bisa melihat Jiyool.
Changmin:
Mengapa kau selalu berwajah masam setiap aku datang ke rumahmu? Apa kau tidak senang bertemu denganku?
Jiyool masih merasa kecewa kepada Changmin. Ia mulai meragukan perasaan Changmin kepadanya. Jika Changmin benar-benar mencintainya, pemuda itu akan berani berterus terang kepada ayahnya.
Sampai kapan kita akan menyembunyikan hal ini dari ayah?
Changmin:
Maafkan aku! Aku memang kekasih yang tidak baik. Kau pasti merasa lelah menjalani hubungan seperti ini denganku.
Bisakah kau bersabar sebentar lagi? Aku sedang berusaha untuk mengambil hati ayahmu.
Jiyool tersenyum pada layar ponselnya. Ia merasa lebih lega karena ternyata Changmin berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendekati ayahnya. Kini ia merasa yakin bahwa Changmin serius menjalin hubungan dengannya.
Changmin:
Ayahmu itu sangat sulit untuk ditaklukkan ya. Apakah ia selalu seperti itu?
Jiyool:
Ia memang kurang suka berurusan dengan orang-orang yang berkecimpung di dunia hiburan.
Changmin:
Mengapa? Apa ia berpikir bahwa pekerjaan kami adalah pekerjaan yang hina?
Jiyool:
Tidak, bukan begitu. Kumohon kau jangan tersinggung.
Menjadi seorang artis bukanlah hal yang hina. Yunjoongie saja bercita-cita untuk menjadi seorang penyanyi.
Changmin:
Lalu mengapa?
Jiyool:
Apa kau tahu bahwa ibuku pernah menjadi seorang penyanyi?
Ayahku juga pernah mempunyai saham di agensi hiburan. Menurutnya industri hiburan sangat rumit, termasuk orang-orang di dalamnya.
Changmin:
Dunia bisnis memang seperti itu, tidak hanya bisnis hiburan.
Jiyool:
Ya, aku tahu.
Mungkin karena ayah dan ibu mempunyai pengalaman buruk di masa lalu, sehingga ayah kini lebih berhati-hati untuk berurusan dengan orang-orang dari dunia hiburan.
Changmin:
Ya, aku ingat sekarang. Penyanyi Kim Jaejoong itu adalah ibumu, bukan?
Judul lagunya yang populer adalah "Baby".
Jiyool:
Ya, kau benar. Itu adalah ibuku.
Lagu itu ia ciptakan untukku.
Changmin:
Ah, aku mengerti sekarang.
Aku sempat menyayangkan penyanyi berbakat sepertinya harus meninggalkan karirnya. Namun, sekarang aku berpikir bahwa ia telah memilih jalan yang tepat. Ia tampak bahagia bersama keluarganya.
Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah aku masih mempunyai kesempatan untuk menjadi menantu Tn. Jung yang terhormat?
Menantu? Jiyool tersipu malu. Apakah Changmin berniat untuk menikahinya?
Menantu?
Cukup lama Changmin membalas pesan Jiyool. Entah mengapa ia mengetikkan kata tersebut.
Uhm, mungkin lebih tepatnya 'kekasih putrinya'.
Jiyool:
Oh.
Jiyool sedikit kecewa oleh balasan Changmin. Namun, mengapa ia harus kecewa? Ia juga belum berniat untuk menikah dalam waktu dekat. Ia ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu.
Changmin:
Aku belum berpikir untuk menikah. Aku masih harus fokus untuk mengejar karirku.
Jiyool merasa sedih. Akan dibawa ke mana hubungan mereka? Apakah Changmin hanya ingin bersenang-senang dengan dirinya dan akan mengakhiri hubungan mereka jika sudah bosan dan tidak cinta lagi?
Aku juga. Aku masih ingin mengejar cita-citaku untuk menjadi seorang dokter.
Changmin:
Sepertinya aku akan merasa minder mempunyai kekasih seorang dokter.
Jiyool:
Apa kau berniat untuk meninggalkanku suatu hari nanti?
Jiyool memberanikan diri untuk menanyakan hal yang membuatnya gundah. Ia menginginkan kepastian dalam hubungan mereka.
Hubungan kita akan berakhir seperti apa?
Changmin terdiam cukup lama sebelum menjawab pertanyaan Jiyool. Ia benar-benar tidak tahu jawabannya.
Mengapa kau menanyakan hal itu? Saat ini kita jalani saja.
Jiyool mempunyai standar sendiri dalam menjalani sebuah hubungan. Ia menginginkan hubungan yang serius, bukan sekedar main-main, putus jika sudah merasa bosan. Ia berpikir jauh ke depan. Jika tidak ada tujuan yang jelas, untuk apa dijalani?
Jika kau menganggap hubungan kita ini hanya main-main, lebih baik kita akhiri saja.
Changmin:
Apa?
Apa kau marah?
Mengapa kau tiba-tiba marah?
Jiyool:
Apa kau berpikir bahwa aku sama seperti gadis lainnya?
Sesungguhnya berpacaran hanya membuang-buang waktu dan energiku. Jika tidak ada tujuan yang jelas, lebih baik diakhiri saja.
Lebih baik aku fokus memikirkan kuliahku saja, fokus untuk mengejar cita-citaku.
Lebih baik aku melakukan hal lain yang jauh lebih berguna.
Changmin:
Mengapa tiba-tiba kau ingin mengakhiri hubungan kita?
Bukankah selama ini baik-baik saja? Tidak ada masalah, bukan?
Jiyool:
Aku berpikir bahwa hubungan kita ini tidak mempunyai harapan.
Changmin:
Mengapa kau berpikir seperti itu?
Apa kau tidak lihat bahwa aku sedang berusaha untuk mendekati ayahmu?
Apa kau tidak melihat usahaku selama ini?
Jiyool:
Untuk apa kau melakukan semua itu jika pada akhirnya hubungan kita tetap akan berakhir?
Lebih baik kita akhiri sekarang sebelum kita terlalu larut di dalamnya.
Changmin:
Apa kau ingin aku segera melamarmu?
Maaf, aku tidak bisa. Kau tahu sendiri bagaimana kondisiku.
Bukankah kau juga ingin mengejar cita-citamu terlebih dahulu?
Jiyool merasa bimbang. Ia tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan Changmin. Ia mencintai pemuda itu. Apakah ia terlalu menuntut kepada kekasihnya itu? Mungkin Changmin memang benar. Mengapa tidak dijalani saja seperti air yang mengalir?
Changmin:
Jika menurutmu ini harus diakhiri, baiklah kita akhiri saja.
Maaf aku tidak bisa membahagiakanmu. Aku memang bukan lelaki yang pantas untukmu. Semoga kau bisa menemukan lelaki terbaik yang bisa memenuhi keinginanmu.
Selamat tinggal!
.
.
.
Jiyool merasa sedih. Ia mengalami patah hati. Pertama kali ia merasakan jatuh cinta, pertama kali juga ia mengalami patah hati. Mungkin memang ini yang terbaik. Ia pasti akan baik-baik saja. Ia akan fokus pada pendidikannya.
Sebulan sudah Jiyool putus dari Changmin. Sekeras apa pun ia berusaha, ia masih belum bisa melupakan pria itu. Ia menyibukkan dirinya dengan aktivitas-aktivitas di kampus, kuliah dan organisasi. Namun, semua itu tidak bisa membuatnya melupakan cinta pertamanya.
"Sudah sebulan ia tidak datang kemari. Ia benar-benar sibuk ya." Jaejoong membicarakan Changmin saat keluarganya berkumpul di ruang keluarga pada hari Minggu.
Yunho menghela nafas. "Kehadirannya memang sangat mengganggu, tetapi jujur saja aku sedikit merasa kehilangan."
"Apa itu artinya kau mulai menyukai pemuda itu?" Jaejoong menggoda suaminya. "Bagaimana jika kita jodohkan saja ia dengan putri kita, Jiyool?" Ia mencoba untuk membantu Jiyool. Ia belum tahu bahwa hubungan Jiyool dan Changmin sudah berakhir.
"Jangan sembarangan! Ia tidak cocok untuk Jiyoolie kita. Mereka berdua sangat bertolak belakang." Yunho tidak rela jika harus menyerahkan Jiyool kepada Changmin.
"Mengapa? Ia adalah pemuda yang baik." Jaejoong berusaha untuk meyakinkan suaminya.
Jiyool merasa sangat sedih mendengar kedua orang tuanya membicarakan Changmin. Bagaimana ia bisa melupakan pria itu jika orang tuanya membicarakan pria itu? Ia sudah tidak tahan untuk menahan air matanya. "Ayah, ibu, aku pergi ke kamarku dulu. Aku baru ingat bahwa ada yang harus kukerjakan." Ia pun segera meninggalkan ruang keluarga tanpa menunggu respon dari kedua orang tuanya.
Yunho hanya saling pandang dengan istrinya. "Sepertinya Jiyoolie marah. Seharusnya kau tidak usah berusaha menjodohkannya dengan pemuda itu. Tampaknya ia sangat tidak suka idemu itu."
Jaejoong tidak terima disalahkan oleh suaminya. "Mengapa kau menyalahkanku? Mungkin saja Jiyoolie tidak suka kau menjelek-jelekkan Changmin."
"Mengapa kita malah bertengkar? Sebaiknya kau susul dia. Bicaralah dengannya agar kita tahu apa sebenarnya yang membuat ia marah daripada kita bertengkar tanpa alasan yang jelas," usul Yunho.
.
.
.
"Jiyoolie, apa ibu boleh masuk?" Jaejoong mengetuk kamar putrinya.
Jiyool segera mengusap air matanya. Tampaknya ia tidak bisa menyembunyikan hal ini dari ibunya. "Masuk saja, Bu. Pintunya tidak dikunci."
Jaejoong menemukan putri sulungnya dengan mata sembab dan merah. Putrinya itu habis menangis. Ia segera memeluk Jiyool. "Sayang, ada apa? Apakah perkataan ayah dan ibu tadi membuatmu tersinggung?"
Jiyool menggeleng. "Tidak, Bu. Ayah dan ibu tidak salah."
"Lalu mengapa kau menangis, Sayang?" Jaejoong ikut sedih. Ia mengusap sisa-sisa air mata pada pipi Jiyool.
Jiyool kembali menangis. Ia tidak bisa menahan rasa sedihnya.
"Menangislah, Nak! Keluarkan saja semua keluh kesahmu!" Jaejoong membiarkan putrinya itu menangis selama beberapa menit sampai merasa lega.
Jiyool tidak bisa berpura-pura tegar di hadapan ibunya. Wanita itu adalah orang yang paling mengerti dirinya.
Setelah Jiyool berhenti menangis dan terlihat lebih tenang, barulah Jaejoong membuka pembicaraan. "Ada apa? Mengapa kau menangis?"
Jiyool menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan ibunya. "Kami sudah putus, Bu. Hubungan kami sudah berakhir. Itulah sebabnya ia tidak pernah datang lagi kemari."
"Oh." Jaejoong terlihat tenang, meskipun ia cukup terkejut. "Mengapa kalian bisa putus?"
"Kami memang tidak bisa bersama. Terlalu banyak perbedaan di antara kami," jawab Jiyool. "Ini memang yang terbaik baik kami berdua."
"Apa kau masih mencintainya?" Jaejoong sangat mengkhawatirkan putrinya.
Jiyool tidak menjawab secara eksplisit. "Aku pasti akan bisa melupakannya. Aku hanya butuh waktu. Ini adalah pengalaman pertama bagiku, sehingga terasa sangat berat."
Jaejoong merasa sedih. "Banyaknya perbedaan bukanlah penghalang jika kalian saling mencintai. Aku dan ayahmu saja berasal dari dunia yang bertolak belakang. Namun, pada akhirnya kami bisa bersatu dan hidup bahagia, setelah melalui jalan yang berliku. Apakah ia tidak cukup mencintaimu?"
Jiyool menggeleng. "Entahlah, Bu. Aku tidak tahu. Hubungan kami berjalan tanpa arah. Aku tidak tahu apakah ia serius denganku atau tidak. Sebelum semuanya terlambat, sebelum aku jatuh cinta lebih dalam, lebih baik kuakhiri saja."
"Jadi, kau yang mengakhirinya?" tanya Jaejoong.
"Aku yang mengusulkannya dan ia menyetujuinya," jawab Jiyool. "Kami sempat bertengkar karena hal ini. Aku terlalu menuntut komitmen darinya, sedangkan ia ingin menjalani hubungan kami dengan mengalir seperti air, tanpa arah, tanpa kepastian."
Jaejoong mulai mengerti kondisi yang terjadi. "Ya sudah jika ini adalah keputusan kalian berdua. Kuharap kau tidak terus terpuruk dan kembali bersemangat. Tidak ada gunanya bersedih lagi. Masa depan yang cerah menantimu."
Jiyool memaksakan senyumannya. "Ya, ibu benar. Aku tidak boleh bersedih hanya karena seorang pria. Biarlah itu menjadi sebuah pelajaran, bukan untuk disesali atau ditangisi."
.
.
.
Sedikit demi sedikit Jiyool mulai bisa menata kembali hidupnya. Ia kembali fokus pada kegiatan akademisnya. Nilai-nilainya meningkat dengan signifikan.
Di saat hidup Jiyool membaik dan tertata rapi, Changmin datang lagi. Lelaki itu datang lagi ke rumahnya.
"Maaf Tn. Jung, belakangan ini aku sibuk dengan album baru kami, sehingga aku baru bisa datang lagi sekarang." Changmin datang menghadap Yunho seolah tidak terjadi apa-apa di antara dirinya dengan Jiyool.
"Mengapa kau datang lagi? Hidupku sudah tenang tanpa diganggu olehmu." Sejujurnya Yunho merasa senang bisa melihat Changmin lagi. Ia mulai menyukai pemuda itu.
Changmin tersenyum lebar. Ia tahu bahwa Yunho tidak serius mengatakan hal tersebut. "Aku tahu kau pasti sangat merindukanku, Tuan."
"Enak saja. Sembarangan kau bicara. Mau apa kau datang lagi kemari?" ketus Yunho.
"Kali ini ayo kita bermain kartu!" ajak Changmin. Ia mengeluarkan satu set kartu dari dalam sakunya.
"Apa kau menantangku, anak muda?" angkuh Yunho.
"Tidak, kita bermain santai saja," ujar Changmin santai.
Jiyool tidak senang atas kedatangan Changmin ke rumahnya. Hal itu membuat luka hatinya kembali terbuka. Untuk apa pemuda itu datang lagi? Apa maunya? Ia sama sekali tidak menampakkan diri di hadapan Changmin. Ia hanya berdiam diri di kamar.
"Tuan, ke mana putrimu? Mengapa aku tidak melihatnya hari ini?" Tujuan Changmin datang ke kediaman Keluarga Jung memang untuk melihat Jiyool. Ia tidak bisa melupakan gadis itu.
"Yunjoongie sedang bermain di kebun belakang bersama Yunjae." Pandangan Yunho tertuju pada kartu-kartu di tangannya.
"Maksudku yang satu lagi," ujar Changmin.
Yunho mengalihkan pandangannya dari kartu ke arah Changmin. Jangan-jangan pemuda itu memang menaksir putri sulungnya. "Mengapa kau menanyakan Jiyoolie? Ada perlu apa dengannya?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya," jawab Changmin. Ia tidak suka Yunho memandangnya dengan penuh curiga.
"Jika kau mempunyai niat untuk mendekati putriku itu, lupakan saja!" tegas Yunho. "Kau harus menghadapiku terlebih dahulu. Aku tidak akan menyerahkan putriku dengan mudah."
Changmin gemetaran mendengar ancaman Yunho. Akan tetapi, ia tidak ingin menyerah begitu saja. Ia tidak bisa menahan gejolak dalam jiwanya. Ia ingin mendapatkan gadis itu, Jung Jiyool.
.
.
.
Changmin mencuri-curi kesempatan untuk menemui Jiyool. Saat Yunho sedang pergi ke toilet ia pergi mencari-cari keberadaan Jiyool di rumah Keluarga Jung yang luar biasa besarnya.
Jiyool terkejut bukan main saat Changmin masuk ke dalam kamarnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Keluar! Ini adalah kamarku."
Changmin tidak tahu bahwa itu adalah kamar Jiyool. Ia memeriksa setiap ruangan yang ada di rumah Keluarga Jung. "Jiyoolie, kita harus bicara."
Jiyool terlihat sangat marah. "Kau tidak sopan. Kau masuk ke kamar orang sembarangan."
"Kalau begitu, ayo kita bicara di luar!" ajak Changmin.
"Tidak mau!" ketus Jiyool.
"Jadi, kau ingin kita bicara di sini saja?" balas Changmin.
"Aku sama sekali tidak ingin berbicara denganmu. Keluar sekarang juga!" teriak Jiyool.
"Jangan berteriak!" Changmin menurunkan volume suaranya. "Nanti ayahmu mendengar."
"Biar saja. Biar ayah menyeretmu keluar dari kamarku." Jiyool menyeringai.
Changmin mulai panik. "Jangan! Kumohon! Tidak bisakah kita bicara baik-baik?"
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Hubungan kita sudah berakhir." Hati Jiyool berdenyut sakit. Masih ada rasa cinta di dalam hatinya untuk Changmin.
"Jiyoolie, apa kau melihat Changmin?" Tiba-tiba Yunho membuka pintu kamar Jiyool. Ia bermaksud menanyakan apakah putrinya itu melihat Changmin. Saat ia kembali dari toilet pemuda itu sudah tidak ada di ruang tamu. Betapa terkejutnya ia saat menemukan orang yang dicarinya berada di kamar putrinya. "Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa kau ada di kamar putriku?" Ia menatap Changmin dengan tajam.
Tamatlah riwayat Changmin. Ia tidak bisa melarikan diri lagi.
Jiyool merasa gugup dan takut. Sebenarnya ia tidak ingin hal ini terjadi. Ia sangat mengkhawatirkan Changmin. Namun, ia tak berani menatap ayahnya yang terlihat marah.
.
.
.
"Apa tujuanmu datang ke rumahku? Apakah sejak awal kau memang mengincar putriku?" Yunho merasa sangat kecewa kepada Changmin. "Kau sengaja datang ke perkemahan itu karena kau tahu bahwa kami sedang berekreasi di sana."
"Tidak, aku pergi ke sana untuk syuting video musik. Aku juga tidak tahu bahwa kalian ada di sana." Changmin menyangkal tuduhan Yunho.
"Ah, jadi kau bermaksud mendekati keluarga mana pun yang kau temui di sana dan kebetulan itu adalah keluargaku." Yunho kembali menyimpulkan.
"Tidak, itu sama sekali tidak benar. Aku sama sekali tidak berniat buruk." Changmin berusaha untuk meyakinkan Yunho.
"Kau benar-benar tidak bisa dipercaya, Shim Changmin. Aku merasa kecewa dan tertipu." Yunho tidak bisa lagi memercayai pemuda di hadapannya itu. "Kau berani memasuki kamar anak gadisku. Apakah pria sepertimu bisa disebut sebagai orang yang baik?"
Jaejoong dan Jiyool hanya berdiri di sudut ruangan. Mereka tidak bisa menginterupsi kepala keluarga mereka yang sedang marah besar.
"Aku hanya ingin bicara dengan Jiyool," ujar Changmin.
"Hanya bicara?" cibir Yunho. "Kau tidak perlu sampai masuk ke kamarnya hanya untuk bicara dengannya."
"Lalu aku harus bagaimana? Ia tahu bahwa aku datang kemari. Oleh karena itu, ia bersembunyi." Changmin berterus terang.
"Itu artinya ia tidak ingin bertemu denganmu," timpal Yunho.
"Kami harus bicara. Ada hal yang harus kami bicarakan," ujar Changmin.
Yunho mengerutkan keningnya. "Memangnya apa yang harus kalian bicarakan? Ada urusan apa kau dengan putriku?"
Changmin diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Yunho. "Kami adalah sepasang kekasih. Jiyool adalah kekasihku."
Amarah Yunho semakin meningkat. Tidak mungkin yang dikatakan Changmin itu benar. Pemuda tersebut pasti berbohong dan menyeret nama putrinya untuk membela diri. Ia tertawa. "Siapa pun tidak akan percaya hal itu. Apa kau pikir aku akan percaya leluconmu itu?"
Changmin terlihat serius. "Kau boleh menanyakan kepada putrimu mengenai kebenarannya."
Yunho mengalihkan pandangan ke arah Jiyool. Putrinya itu hanya menundukkan kepala. "Apa maksud perkataan pemuda itu, Jiyoolie? Bisa kau jelaskan kepada ayah?"
Jiyool gemetaran. Ia menggenggam tangan ibunya dengan erat. Ia tidak mungkin mengelak lagi. Ia tidak bisa berbohong. "Ia berbohong. Ia bukanlah kekasihku."
Changmin terkejut mendengar jawaban Jiyool. Ia tidak menyangka bahwa Jiyool akan berbohong. Ia merasa sangat kecewa, ternyata gadis pujaannya seperti itu.
Yunho merasa lega. "Putriku mengatakan bahwa kalian bukanlah sepasang kekasih."
"Jiyoolie, mengapa kau berbohong? Apa kau begitu membenciku, sehingga kau berbohong dan tidak mengakuiku sebagai kekasihmu?" Changmin menatap Jiyool dengan perasaan terluka.
"Aku tidak berbohong. Kau memang bukan kekasihku. Kita sudah putus. Hubungan kita sudah berakhir," teriak Jiyool. Ia tidak bisa mengendalikan emosinya lagi.
Yunho terkejut oleh pernyataan Jiyool. Hal itu sama sekali tak ia sangka. Putri tersayangnya yang sangat ia banggakan ternyata diam-diam mengencani seorang anggota grup idola. Ia tak habis pikir bagaimana hal itu bisa terjadi. "Sejak kapan? Mengapa kau menyembunyikannya dari ayah?" Ia merasa telah dikhianati oleh putrinya sendiri.
Jiyool merasa sangat menyesal. Ia telah mengecewakan sang ayah. "Maafkan aku, Ayah! Itu adalah sebuah kesalahan. Ayah tenang saja. Kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."
Kesalahan? Changmin tidak menyangka bahwa Jiyool menganggap bahwa hubungan mereka adalah sebuah kesalahan.
Yunho merasa bingung dengan apa yang terjadi. Sejak kapan anaknya berpacaran dengan Changmin? Selama ini ia tidak pernah melihat interaksi di antara mereka. Kapan Changmin mulai mendekati Jiyool? "Sejak kapan dan bagaimana kau mendekati putriku?"
Changmin menceritakan semuanya kepada Yunho. Tak ada satu pun yang terlewat.
Yunho merasa sangat syok mendengar penuturan Changmin. Semua itu benar-benar tidak pernah terbayangkan olehnya. Selama ini ia sangat protektif kepada anak-anaknya. Namun, ternyata tetap saja ada yang luput dari pengawasannya. Selama ini ia sangat memercayai Jiyool.
"Tuan, izinkanlah aku berkencan dengan putrimu! Aku berjanji bahwa aku akan menjaganya dengan baik dan tidak berbuat macam-macam," pinta Changmin.
"Kau telah membuat putriku keluar malam-malam dan membodohi orang tuanya. Apa kau pikir bahwa aku akan memberimu izin begitu saja? Hubungan kalian sudah berakhir, bukan?" Yunho masih dipenuhi amarah.
"Aku masih memiliki perasaan kepada putrimu. Aku tidak ingin berpisah dengannya sekarang," ujar Changmin.
"Akan tetapi, apa Jiyool memiliki keinginan yang sama denganmu?" Yunho merasa sangat percaya diri.
Changmin melirik ke arah Jiyool. Namun, gadis itu memalingkan wajah darinya. Apakah Jiyool berbalik membencinya? Memang apa kesalahannya? Ia merasa tidak berbuat salah kepada Jiyool.
"Jiyoolie, apa tanggapanmu? Apa kau ingin kembali menjalin hubungan dengannya?" tegas Yunho.
Jiyool menggeleng. Pandangannya tertunduk. "Tidak, Ayah. Aku tidak menginginkannya." Sesungguhnya ia masih mencintai Changmin. Akan tetapi, ia harus tegas kepada dirinya. Ia tidak boleh lemah, menyerah kepada perasaannya. Ia punya tujuan dan cita-cita. Jangan sampai asmara menghambat semuanya.
Changmin merasa sakit hati mendengar penuturan Jiyool. Ia masih tidak bisa percaya akan hal itu. Ia mengira bahwa Jiyool juga mencintainya seperti dirinya mencintai gadis itu.
Setelah putus dari Jiyool sebulan lalu, hidup Changmin terasa tidak tenang. Bayangan gadis itu terus saja muncul di dalam pikirannya. Ia tidak bisa konsentrasi dalam bekerja. Beberapa kali ia sempat kena marah manajernya karena hal itu.
Changmin tidak pernah menyukai seorang gadis seperti ia menyukai Jiyool. Perasaannya kepada Jiyool terasa berbeda. Biasanya tidak pernah ada rasa penyesalan saat ia putus dengan mantan-mantan kekasihnya karena memang sudah tidak ada rasa atau kecocokan. Dengan Jiyool terasa lain. Ia merasa hubungan mereka baik-baik saja, tidak ada masalah. Setelah sebulan merasa tersiksa oleh perasaannya itu, ia pun memutuskan untuk kembali mengejar gadis itu.
"Kau dengar sendiri, bukan?" Yunho berkata kepada Changmin. "Putriku tidak ingin berhubungan lagi denganmu."
"Jiyoolie, benarkah itu?" Changmin masih tidak percaya pada kata-kata Jiyool. "Apa sedikit pun sudah tidak ada lagi perasaan untukku? Tidak ada lagikah kesempatan untukku? Aku mencintaimu. Tidak pernah aku jatuh cinta sedalam ini sebelumnya. Berilah aku kesempatan sekali saja!"
Jiyool menatap wajah Changmin. Hatinya terluka. "Kau tidak serius denganku. Hari ini mungkin kau mencintaiku, tetapi besok mungkin kau akan meninggalkanku. Aku punya cita-cita yang harus kukejar. Aku tidak punya waktu untuk bermain-main." Ia tidak ingin hanya dianggap sebagai mainan oleh Changmin. Ia tidak ingin hanya menjadi pelabuhan sementara. "Dunia kita sangat berbeda. Aku merasa tidak akan sanggup untuk mengikuti caramu. Lebih baik aku menyerah dalam hal ini."
Yunho melihat raut wajah Jiyool. Ia bisa melihat bahwa Jiyool mencintai pemuda itu. Ia bingung menghadapi hal ini. Ia tidak pernah menyangka bahwa putrinya itu bisa jatuh cinta kepada seorang selebriti. Ia tidak tahu bagaimana cara menyikapinya. Ini benar-benar tidak terduga.
Changmin akhirnya mengerti apa yang diinginkan oleh Jiyool. Gadis itu menuntut keseriusan darinya. Ya, ia mengerti. Gadis seperti Jiyool memang wajar menuntut hal itu. Semua yang dikatakan oleh Jiyool memang wajar. Gadis itu merasa tidak aman menjalani hubungan dengannya. Jiyool pasti selalu diliputi ketakutan, takut ditinggalkan, juga takut oleh para penggemarnya. Ia memahami hal itu.
"Bagaimana? Kau sudah dengar sendiri tanggapan Jiyool. Sekarang kau sudah mengerti kan seperti apa kondisinya?" Yunho berbicara kepada Changmin. "Apa kau sekarang sudah menyerah?"
Changmin berpikir sebentar. Ia tidak ingin menyerah begitu saja. Kehilangan Jiyool membuat batinnya tersiksa. "Tolong beri aku kesempatan sekali lagi!"
Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau sangat keras kepala. Apa kau tidak dengar bahwa putriku tidak ingin kembali menjadi kekasihmu?" Ia tiba-tiba teringat akan dirinya, meskipun Jaejoong sudah menyakitinya, ia tetap mencintai wanita itu. Jangan-jangan Changmin memang serius mencintai putrinya.
"Aku yakin Jiyool masih mencintaiku. Ia meminta putus dariku bukan karena ia sudah tidak mencintaiku lagi." Masih ada rasa percaya diri yang tersisa pada diri Changmin.
"Kau tahu apa yang diinginkan putriku. Apakah kau bisa memenuhinya? Ia ingin keseriusan darimu. Ia merasa tidak nyaman berkencan dengan seorang selebriti. Jika kau tidak bisa memenuhi keinginan putriku, lebih baik kau tidak menunjukkan dirimu di hadapan keluarga kami lagi." Yunho harus bersifat tegas. Ini demi kebahagiaan putrinya.
.
.
.
"Apakah tindakanku sudah benar, Jae?" Yunho memikirkan tindakannya tadi siang. Ia terlihat lesu dan sedih.
Jaejoong duduk di samping suaminya. "Tidak ada yang perlu kau sesali. Kau sudah melakukan hal yang benar. Kau melakukan semua itu demi kebahagiaan Jiyoolie."
"Akan tetapi, Jiyoolie masih mencintainya." Yunho menitikkan air matanya. Ia tahu bagaimana rasanya berpisah dengan orang yang dicintainya.
Seketika Jaejoong merasa bersalah. Ia teringat akan kesalahannya dulu. Ia tersenyum tipis untuk menyemangati suaminya. "Jiyoolie sendiri yang ingin mengakhiri hubungan mereka. Sebagai seorang ayah, kau hanya mendukung keputusan putrimu."
"Ia mengatakan hal itu karena ia mengikuti logikanya. Aku yakin perasaannya kini sedang terluka," ujar Yunho.
"Kau tidak perlu menyesali keputusanmu. Jika pemuda itu memang serius mencintai Jiyoolie, ia pasti akan kembali menemuimu." Jaejoong berusaha membesarkan hati Yunho. "Jika ia mundur begitu saja, itu artinya ia tidak sungguh-sungguh menginginkan putrimu, ia memang bukan yang terbaik untuk Jiyoolie."
"Terima kasih, Jae. Kau selalu mendukung keputusanku dan bisa menghiburku." Yunho mulai bisa tersenyum. Ia mencium tangan istrinya.
"Kau adalah kepala keluarga yang hebat. Selama ini kau selalu melindungi kami. Kami semua sangat bangga kepadamu," ujar Jaejoong.
"Terima kasih karena kau selalu berada di sampingku, berjuang bersamaku dalam membesarkan dan mendidik anak-anak kita. Kau adalah sumber kekuatan bagiku." Yunho merasa sangat beruntung memiliki Jaejoong di sisinya.
"Jangan berterima kepadaku. Memang sudah seharusnya kita saling mendukung. Aku juga rapuh tanpamu," balas Jaejoong.
"Aku mencintaimu, Jae." Yunho mengecup bibir Jaejoong.
"Aku juga mencintaimu, Yun." Jaejoong balas mengecup bibir Yunho.
Yunho tersenyum. "Bagaimana keadaan Jiyoolie? Apakah ia baik-baik saja?"
"Ia merasa sedih, tetapi ia pasti baik-baik saja. Ia adalah gadis yang kuat karena ia adalah anak seorang Jung Yunho," jawab Jaejoong.
"Anak Kim Jaejoong juga," balas Yunho. "Ibunya adalah wanita yang sangat tangguh. Itulah yang membuatku tertarik kepadamu pertama kali."
"Aku tidak menyukai diriku yang dulu. Aku benar-benar buruk." Jaejoong tidak ingin mengulangi kesalahan-kesalahannya di masa lalu.
"Jangan menyesali apa pun. Semua itu adalah bagian dari perjalanan hidup kita. Aku menyukai dirimu yang dulu maupun yang sekarang," ujar Yunho. Cintanya kepada Jaejoong tidak pernah pudar sedikit pun. "Aku berharap Jiyool tidak mengalami masa-masa sulit seperti yang terjadi kepada kita."
.
.
.
Changmin merasa sangat bingung. Ia mengalami dilema. Gadis yang ia cintai tidak menyukai pekerjaannya sebagai seorang selebriti. Ia menghela nafas. Mungkin ia memang harus merelakan gadis itu. Masih banyak gadis-gadis yang mau dengannya. Namun, adakah yang seperti Jiyool, yang bisa membuatnya tidak bisa tidur dan tidak bisa fokus? Gadis itu selalu membayangi pikirannya. "Mungkin aku hanya butuh waktu untuk melupakannya. Ia tidak bisa menerima diriku apa adanya. Itu berarti kami tidak cocok."
Changmin menarik kesimpulan bahwa dirinya dan Jiyool tidak memiliki kecocokan. Untuk apa ia terus memikirkan gadis itu? Tidak ada gunanya ia memusingkan hal tersebut. Lebih baik ia menikmati hidupnya. Mungkin ia harus mencari pengganti Jiyool. Akan tetapi, siapa? Ia harus lebih selektif lagi untuk memilih kekasih, seorang gadis yang bisa menerima dirinya sebagai seorang selebriti yang memiliki jutaan penggemar. Memangnya ada gadis yang senang diajak kencan sembunyi-sembunyi dan harus siap sedia menghadapi penggemarnya? Mungkin ada, tetapi gadis mana pun tidak akan terlalu lama tahan dengan kondisi seperti itu. Kasihan sekali siapa pun gadis itu. Hidupnya tidak bahagia dan selalu diliputi ketakutan. "Ah, mungkin aku memang tidak boleh mengencani seorang gadis. Jiyoolie saja bisa menjalani hidupnya dengan baik setelah berpisah denganku, mengapa aku tidak? Seharusnya aku juga bisa."
.
.
.
Setahun telah berlalu. Semua berjalan dengan normal seperti yang seharusnya. Jiyool sudah menjadi mahasiswa tingkat dua. Prestasinya memang tidak secemerlang saat ia masih belajar di bangku sekolah menengah. Semakin dewasa, beban hidup semakin bertambah, masalah yang dihadapi semakin beragam. Meskipun demikian, ia termasuk mahasiswa yang pandai di angkatannya.
Lain hal dengan Changmin, popularitasnya semakin meningkat. Popularitasnya melebar sampai ke berbagai belahan dunia. Namun, dibalik semua itu. Ia masih selalu memikirkan Jiyool. Ia masih mengharapkan gadis itu. Aku harus menjadi orang yang lebih baik agar aku layak bersanding dengannya. Putri seorang Jung Yunho bukanlah gadis sembarangan. Ia merasa bahwa Jiyool bagaikan sebuah bintang di langit yang jauh dari jangkauannya. Hal itu sama sekali tidak membuatnya patah semangat. Ia justru semakin tertantang. Semakin istimewa, semakin sulit untuk diraih.
Pada salah satu wawancaranya Changmin berkata bahwa ia sudah mempunyai seseorang di hatinya. Sontak saja hal ini membuat keributan di kalangan penggemar. Semua orang berspekulasi mengenai siapa orang yang dimaksud.
"Apa maksudmu mengatakan hal tersebut?" Manajer memarahi Changmin.
"Aku hanya menjawab pertanyaan MC dengan jujur," jawab Changmin santai.
"Apa kau sadar akibat apa yang telah kau timbulkan? Kau telah membuat kekacauan di kalangan penggemarmu. Ini akan berpengaruh pada popularitasmu."
"Selama ini penggemar berpikir bahwa mereka memiliki idola mereka. Mereka harus disadarkan bahwa idola adalah manusia, bukan robot. Mereka tidak berhak mencampuri kehidupan pribadi idola," ujar Changmin tenang.
"Penggemar adalah mesin uang kita. Tanpa mereka kau bukanlah apa-apa," balas manajer.
"Aku tidak takut untuk ditinggalkan oleh penggemar. Jika ingin pergi, silahkan. Jika masih ingin tinggal, silakan. Aku lebih senang para penggemar menilai dan menghargai bakat dan kualitas dari karya yang kuhasilkan. Aku lebih senang mereka membeli albumku karena kualitas lagu-lagu di dalamnya, bukan karena cinta buta kepadaku."
"Kau butuh uang. Itulah alasanmu berada di industri ini. Kau butuh popularitas. Cinta penggemar akan mendatangkan banyak uang untukmu. Kau butuh cinta penggemar untuk bertahan di industri ini, untuk tetap berada di puncak."
"Seorang penggemar membeli album yang sama lebih dari satu. Untuk apa? Apakah mereka memutar CD-CD tersebut secara bersamaan? Berapa pun album yang dibeli, hanya satu CD saja yang mereka putar pada satu waktu. Aku punya dua adik perempuan yang masih remaja. Apakah orang tuaku akan senang jika adik-adikku itu meninggalkan sekolah hanya demi membuntuti idola kemana pun mereka pergi? Ini tidak benar. Aku selalu membayangkan para penggemarku seperti adikku."
Sejak saat itu pada setiap konsernya Changmin selalu mengatakan kepada penggemarnya yang masih sekolah untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah mereka dahulu sebelum datang ke konser. Ia juga menasihati penggemar untuk tidak memaksakan diri membeli albumnya jika tidak punya uang. Ia juga meminta penggemar untuk lebih memerhatikan kehidupan nyata mereka. "Get a life and find a boyfriend!"
Kata-kata Changmin ditanggapi secara positif oleh para penggemar. Mereka semakin mengagumi sosok idola mereka itu, apalagi Changmin mendaftar ke perguruan tinggi di tengah-tengah kesibukannya sebagai idola. Aku tidak boleh kalah olehnya.
.
.
.
"Yunjoongie, ayo kerjakan PR-mu!" Jaejoong sedang berusaha membujuk Yunjoong yang malas mengerjakan PR. "Kau ingat kan yang dikatakan Changmin Oppa? Ia tidak akan mengakuimu sebagai penggemarnya jika kau malas belajar."
"Changmin Oppa mengatakan bahwa penggemarnya boleh datang ke konsernya jika sudah mengerjakan PR. Apa itu artinya aku boleh datang ke konsernya besok malam?" Yunjoong sangat cerdik memanfaatkan situasi.
Jaejoong merasa kesal karena putri bungsunya itu selalu mencari-cari celah. "Tiket konsernya pasti sudah habis terjual sejak lama."
"Ayah kan punya banyak koneksi. Ayah pasti bisa mendapatkan tiket untuk kita," balas Yunjoong.
"Nyonya, ada surat yang datang hari ini." Seorang asisten rumah tangga di rumah Keluarga Jung memberikan sebuah amplop kepada Jaejoong.
"Terima kasih." Jaejoong menerima amplop tersebut dari asisten rumah tangganya. Ia cukup keheranan karena surat tersebut ditujukan untuk Yunjoong. Ia mencari-cari nama pengirim di amplop tersebut, tetapi ia tidak menemukannya. "Surat ini untukmu. Entah siapa pengirimnya." Ia menyerahkan surat itu kepada Yunjoong.
Yunjoong pun merasa heran. Siapa yang mengirim surat kepadanya? Ia ragu-ragu untuk membukanya.
"Mengapa kau tidak membukanya?" Jaejoong merasa penasaran.
"Bagaimana jika isinya bom?" Imajinasi Yunjoong sangat tinggi.
Jaejoong mulai berpikir yang tidak-tidak. "Kalau begitu, kita tunggu sampai ayah pulang saja."
.
.
.
Yunho memeriksa amplop yang diberikan oleh Jaejoong kepadanya. Semua anggota keluarganya merasa penasaran dengan surat misterius itu. "Ini hanya surat biasa. Sepertinya aman-aman saja." Ia menyobek amplop tersebut.
Yunjae dan Yunjoong berebut untuk mengintip ke dalam amplop tersebut. "Apa isinya?"
Yunho mengeluarkan benda yang berada di dalam amplop tersebut. Ia menemukan lima lembar tiket konser dan sebuah surat.
"Ini tiket konser Changmin Oppa!" teriak Yunjoong kegirangan. "Ini tiket VIP."
Yunho membacakan isi suratnya dengan keras agar seluruh anggota keluarganya bisa mengetahui isi surat tersebut.
Yunjoongie, selamat ulang tahun yang kesembilan! Mohon maaf aku baru sempat mengucapkannya sekarang karena aku sibuk mempersiapkan konser kami. Sebagai hadiah ulang tahun untukmu, aku kirimkan lima tiket VIP untuk konser kami di Seoul agar kau bisa menonton bersama keluargamu.
Changmin
Pandangan Yunho tertuju kepada putri sulungnya. Raut wajah gadis itu terlihat biasa saja.
"Asyik! Besok aku bisa menonton konser Changmin Oppa!" Yunjoong melompat kegirangan.
"Tidak, kita tidak akan pergi," ujar Yunho. Ia terpaksa harus membuat Yunjoong kecewa karena ia tidak ingin melukai perasaan Jiyool. Sebagai orang tua ia merasa dilema. Demi putri yang satu ia harus mengorbankan putri yang lainnya.
Yunjoong berubah cemberut. Ia merasa sangat kecewa oleh keputusan ayahnya. "Mengapa?" Ia tidak mengerti dengan yang sebenarnya terjadi.
"Konsernya malam hari. Kau tidak boleh begadang." Yunho mengarang alasan.
"Esok harinya kan hari Minggu, sekolah libur," balas Yunjoong. "Kumohon sekali saja, Ayah! Setelah ini aku berjanji tidak akan meminta macam-macam lagi."
Yunho merasa tidak tega kepada Yunjoong. Namun, ia tidak boleh berbuat kejam kepada Jiyool. "Tidak boleh!"
Yunjoong menangis. "Ayah kejam!"
Jaejoong segera memeluk putri bungsunya itu dan membujuknya untuk berhenti menangis. Ia memahami keputusan suaminya itu. Ia mendukungnya. "Sudahlah, jangan menangis! Ayah tidak jahat, justru ia sangat peduli kepadamu."
Jiyool tahu bahwa ayahnya melakukan hal itu untuk dirinya. Ia merasa sedih melihat adik kecilnya menangis. "Ayah, mengapa kau tidak mengabulkan keinginan Yunjoongie sekali saja? Ia sudah belajar dengan sangat giat. Nilai-nilainya di sekolah juga meningkat. Anggap saja ini sebagai hadiah atas kerja kerasnya selama ini."
Yunho memandang Jiyool cukup lama. Putrinya itu tersenyum kepadanya. "Apa kau baik-baik saja?"
Jiyool mengangguk. "Ayah tidak perlu mengkhawatirkanku."
"Baiklah, besok malam kita pergi menonton konser. Jika kau tidak ingin ikut, tidak apa-apa," ujar Yunho.
"Aku baik-baik saja. Aku akan ikut bersama kalian. Aku tidak mempunyai alasan untuk tidak ikut." Jiyool tidak boleh menjadi seorang pengecut yang terus melarikan diri.
.
.
.
Jiyool berusaha untuk bersikap biasa saja, padahal jantungnya berdegup kencang. Ia merasa gugup dan takut. Semoga saja ia akan sanggup melaluinya, melihat pria itu di atas panggung.
Yunjoong tidak bisa diam. Ia terus meneriakkan nama idolanya dan mengayunkan lightstick. Ia bersikap sama seperti penggemar pada umumnya.
Changmin melirik ke arah penonton di kelas VIP. Ia melihat Keluarga Jung datang dengan formasi lengkap. Ia tersenyum melihat gadis pujaannya. Kau terlihat semakin cantik saja. Ia menjadi semakin bersemangat untuk menampilkan yang terbaik.
"Aku akan membawakan lagu solo terbaruku. Lagu ini belum pernah kubawakan pada acara apa pun. Lagu ini istimewa untuk kalian semua, ratu di hatiku." Changmin melihat ke arah Jiyool. Pandangan mereka bertemu. Ia kemudian mulai menanyikan lagu barunya itu.
Kau adalah ratu yang bertahta di hatiku
Tak ada yang mampu menggantikanmu
Kau selamanya ada di dalam hatiku
Kau bagaikan bintang di langit
Menerangi malam-malamku
Tak ada satu pun malam tanpa aku memikirkanmu
Kaulah ratu dalam hatiku
Kaulah sang penguasa yang menguasai hati dan pikiranku
Aku lemah tanpamu
Aku rapuh tanpamu
Jangan pergi!
Jangan tinggalkan diriku!
Aku takkan sanggup hidup tanpamu
Jiyool merasa bahwa lagu yang Changmin bawakan ditujukan untuknya. Ah, tidak boleh. Ia tidak boleh berpikir seperti itu. Pria itu mengatakan bahwa lagu itu untuk para penggemarnya. Ya, untuk para penggemarnya.
.
.
.
Konser telah usai. Para penonton berhamburan keluar dari dalam gedung pertunjukkan. Mereka sangat puas oleh penampilan para idola mereka.
"Ayah, ayo kita sapa Changmin Oppa terlebih dahulu!" Yunjoong memang cukup fanatik.
"Tidak boleh!" tegas Yunho. "Sekarang sudah malam. Ayo kita pulang! Apa tadi belum cukup?"
Yunjoong cemberut. Namun, ia tidak bisa membantah ayahnya. Seharusnya ia bersyukur karena sang ayah sudah mengabulkan keinginannya untuk menonton konser. Kali ini ia harus menurut.
Jiyool kembali teringat pada masa lalu. Ia teringat akan pertemuan pertamanya dengan Changmin di belakang panggung. Andaikan saja ia tidak luluh oleh permintaan temannya itu, mungkin ia tidak akan merasakan patah hati seperti ini.
Changmin terus memperhatikan Keluaga Jung. Ia melihat keluarga tersebut berjalan ke tempat parkir. Secara spontan ia mengejar mereka. Mungkin ini adalah satu-satunya kesempatan baginya. "Selamat malam, Tn. Jung!" Nafasnya terengah-engah.
Keluarga Jung terkejut melihat kedatangan Changmin. Beragam reaksi ditunjukkan oleh mereka. Yunho dan Jaejoong tentu saja khawatir, sedangkan Yunjoong tampak kegirangan. Akhir-akhir ini ia sangat beruntung.
"Selamat malam!" Yunho berusaha bersikap setenang mungkin.
"Tn. Jung, bisakah kita berbicara berdua?" Raut wajah Changmin terlihat serius. Ia sama sekali tidak melirik Jiyool.
Yunho melirik ke arah istrinya. Istrinya itu bisa membaca pikirannya. Mereka memiliki kode-kode yang hanya mereka berdua yang mengerti.
"Anak-anak, ayo kita pergi mencari makan dahulu! Ibu merasa lapar setelah berteriak-teriak di konser tadi." Jaejoong menggiring anak-anaknya pergi.
.
.
.
Yunho membawa Changmin ke sebuah cafe. Ia mentraktir pemuda itu minuman. "Tenang saja, aku tidak memasukkan racun ke dalam kopimu."
Changmin meminum kopi yang dibelikan oleh Yunho. Ia merasa sangat gugup saat ini. Tangannya bergetar saat memegang cangkir kopi.
"Apa yang kau ingin bicarakan denganku?" Yunho meminum jus stroberi menggunakan sedotan.
"Aku ingin meminta putrimu," lirih Changmin.
Yunho menaruh gelas jusnya ke atas meja. Ia menatap pemuda itu dengan tajam. "Setelah setahun menghilang kau masih berani untuk meminta putriku?"
"Selama setahun ini aku banyak berpikir." Changmin berbicara lebih keras sekarang. Keberaniannya mulai terkumpul. "Aku benar-benar mencintai putrimu. Aku akan memenuhi syarat apa pun yang kalian berikan."
Yunho mencibir. "Putriku menginginkan pria yang serius dengannya. Ia tidak suka kehidupan selebriti. Apa kau sanggup untuk meninggalkan dunia keartisanmu hanya demi putriku yang bukan apa-apa?"
"Jika memang itu harus, akan kulakukan," jawab Changmin mantap.
Yunho menggeleng-geleng kepalanya. "Hidup tidak sesederhana itu, Nak! Apa kau tidak memikirkan orang-orang di sekitarmu, penggemarmu, keluargamu?"
"Aku sudah mengatakan bahwa aku sudah banyak berpikir selama setahun ini," balas Changmin.
Yunho cukup terkejut oleh perkataan Changmin. "Apa kau benar-benar serius kali ini? Apa kau tidak akan menyesal?"
"Ya, aku serius. Tidak pernah aku seserius ini sebelumnya." Changmin berharap ini adalah keputusan yang terbaik dan ia tidak akan menyesalinya di kemudian hari. "Jika kau menuntutku untuk menikahi putrimu besok juga, aku siap."
Yunho kali ini benar-benar syok. Ia tidak menyangka bahwa pemuda itu bisa seserius itu. "Belum tentu juga putriku mau denganmu."
Changmin pasrah mengenai hal itu. Mungkin saja gadis itu sudah mendapatkan pengganti dirinya. Setahun adalah waktu yang cukup lama. Apa pun bisa terjadi.
"Besok malam pukul sembilan, datanglah ke rumahku!" Yunho berdiri dari tempat duduknya. Ia harus segera kembali kepada keluarganya.
"Besok aku masih ada konser," ujar Changmin.
"Terserah kau saja. Pilihan ada di tanganmu," balas Yunho.
.
.
.
Changmin merasa sangat bingung. Ia harus melakukan pertunjukkan. Para penggemar sudah membeli tiket untuk menonton penampilannya. Namun, ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mendapatkan Jung Jiyool dan belum tentu juga Jiyool mau kembali kepadanya. Siapakah yang harus ia pilih, para penggemar dan rekan-rekan segrupnya atau Jiyool? Haruskah ia mengorbankan banyak orang demi satu orang? Ya, satu orang, satu orang yang ia inginkan untuk menjadi pendamping hidupnya, bukan penggemar yang akan datang dan pergi sesuka hati mereka. Jika ia memilih untuk menghadiri konser, Keluarga Jung akan berpikir bahwa ia tidak serius menginginkan Jiyool. Namun, jika ia tidak datang ke konser, itu artinya ia tidak bertanggung jawab. Banyak orang yang akan dirugikan. Ia merasa serba salah. Layakkah Jung Jiyool untuk ia perjuangkan sejauh itu? Ia juga tidak tahu apa yang diinginkan oleh Yunho. Apakah pria itu ingin ia datang atau tidak?
"Jika kau menuntutku untuk menikahi putrimu BESOK juga, aku siap." Tiba-tiba Changmin teringat ucapannya sendiri kepada Yunho. Ia merutuki kebodohannya sendiri. Tn. Jung benar-benar sedang mengujinya. Mengapa ia mengatakan 'besok', padahal besok ia masih ada jadwal konser? Ini adalah salahnya sendiri.
.
.
.
"Ia pasti tidak akan datang." Dengan santai Yunho duduk di sofa di ruang tamu. "Ia tidak mungkin meninggalkan konsernya. Ia akan menghancurkan karirnya sendiri jika melakukan hal itu."
"Mengapa kau begitu kejam kepadanya? Tidak bisakah kau bersikap sedikit lunak kepadanya?" Jaejoong benar-benar khawatir. "Bagaimana jika ia benar-benar melakukan hal itu? Karirnya akan hancur. Apa kau tidak akan merasa bersalah?"
"Itu adalah pilihannya sendiri. Aku tidak pernah memaksanya." Yunho tidak terima disalahkan. "Kau tenang saja. Ia pasti tidak akan datang. Ia tidak mungkin mengorbankan banyak orang hanya demi putriku seorang."
Jaejoong tahu bahwa pilihan Changmin sangat sulit. Ia pernah mengalaminya. Ia harus memilih antara karir dan keluarganya. Pilihannya bahkan lebih mudah. Hidupnya masih terjamin, walaupun ia memilih keluarga daripada karir. Suami dan anaknya pasti menerimanya dengan tangan terbuka. Suaminya juga orang kaya. Ia tidak akan kekurangan apa pun. Lain hal dengan Changmin, pria mempunyai tanggung jawab untuk melindungi wanitanya. Jika pemuda itu mundur dari dunia keartisannya, dari mana pemuda itu akan mendapatkan penghasilan?
Jiyool duduk dengan tidak tenang. Ia juga tidak yakin bahwa Changmin akan datang. Semoga saja memang tidak datang. Ia tidak ingin Changmin menghancurkan karirnya hanya untuk dirinya.
Pukul sembilan lewat dua menit Changmin datang ke rumah Keluarga Jung. Ia mengejutkan Yunho, Jaejoong, dan Jiyool. "Aku datang!" Ia masih mengenakan kostum panggungnya.
"Kau terlambat dua menit," komentar Yunho.
"Yang penting aku sudah datang, bukan?" Changmin terlihat pasrah. Wajahnya dibanjiri keringat dan nafasnya terengah-engah. Rupanya ia meninggalkan konser saat sedang berlangsung. "Jadi, bagaimana keputusannya?"
Yunho menatap putrinya. Ia mempersilakan Jiyool untuk bicara.
Jiyool pun angkat bicara. "Mengapa kau datang kemari, padahal kau sedang berada di tengah-tengah konser? Apa kau tidak merasa bersalah kepada para penggemar, rekan segrup, dan yang lainnya yang sudah bekerja keras untuk mewujudkan konser ini?"
"Aku datang kemari karena aku ingin membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak tahu bagaimana lagi harus meyakinkan kalian. Aku sudah di ujung keputusasaan," jawab Changmin. "Sekarang terserah kepada kalian. Aku akan menerima apa pun keputusan kalian. Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana."
"Aku tidak ingin kau menghancurkan karirmu hanya karena diriku," lanjut Jiyool.
"Aku rela melakukan apa pun demi dirimu. Aku akan kembali ke panggung dan mengumumkan bahwa aku mundur dari dunia hiburan jika kau menginginkannya." Changmin berani mempertaruhkan semuanya.
Jiyool tercekat. Ia tidak menyangka bahwa Changmin akan berani melakukan hal itu. "Jangan lakukan itu!"
"Aku tidak punya banyak waktu, Jiyoolie. Sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur. Apakah kau masih mencintaiku dan mau kembali kepadaku?" Changmin masih berusaha mengatur nafasnya.
"Aku tidak ingin kau menghancurkan karirmu." Jiyool tidak berani menjawab.
"Itu sudah cukup." Changmin tersenyum. Ia tidak perlu jawaban Jiyool lagi. Perhatian Jiyool sudah cukup baginya untuk menyimpulkan. "Tn. Jung, izinkanlah aku meminjam putrimu sebentar, satu jam saja!"
"Ke mana kau akan membawa putriku?" Yunho mulai waspada.
"Aku akan memperkenalkan putrimu sebagai kekasihku di atas panggung," jawab Changmin.
"Kau gila, Shim Changmin!" tentu saja Yunho tidak setuju.
Tanpa menunggu izin dari Yunho, Changmin menarik Jiyool pergi bersamanya. Gadis itu meronta, menolak untuk dibawa pergi.
"Lepaskan aku! Aku tidak ingin kau melakukan hal itu." Jiyool terus meronta.
Changmin tidak mendengarkan Jiyool. Ia menarik tangan Jiyool dengan kasar dan mendorong Jiyool ke dalam mobilnya.
"Ini adalah penculikan." Jiyool menangis.
"Maafkan aku! Aku akan segera mengembalikanmu kepada keluargamu" Changmin menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan Jiyool terus saja menangis. Ia tidak ingin Changmin membawanya ke atas panggung. Ia takut oleh para penggemar Changmin. Ia juga tidak ingin Changmin ditinggalkan oleh para penggemar.
"Kau tidak usah takut. Aku akan menjagamu. Kau akan pulang dengan selamat." Changmin fokus untuk mengemudi.
"Apa kau tidak memikirkan akibatnya? Kita berdua akan hancur akibat ulahmu!" teriak Jiyool.
"Percayalah kepadaku! Semua akan baik-baik saja." Changmin sendiri juga sebenarnya tidak yakin. Ia hanya bermodalkan keberanian dan tekad untuk melindungi wanita yang ia cintai.
.
.
.
Para kru konser kebingungan karena tiba-tiba Changmin menghilang. Sejam kemudian Changmin muncul, tetapi tidak sendirian.
Changmin langsung naik ke atas panggung setelah penampilan solo rekannya. Perhitungannya cukup akurat. Sekarang adalah gilirannya untuk tampil solo, setelah semua rekannya menampilkan penampilan solo mereka satu-persatu. Ia pergi sebelum penampilan solo dari masing-masing anggota dimulai dan datang beberapa saat sebelum gilirannya untuk tampil tiba.
Beberapa jam sebelum konser Changmin mengajukan perubahan susunan acara konser mereka. Semalaman ia merencanakan hal itu. Ia memperhitungan waktu dan segalanya. Ia menyusun ulang segalanya dengan tepat agar ia bisa melancarkan aksinya, tetapi tidak terlalu banyak kerugian yang didapat karena perubahan susunan acara. Ia berhasil meyakinkan para kru dan yang berwenang untuk mengubah susunan acaranya. Namun, ia sama sekali tidak mengatakan mengenai rencananya yang sesungguhnya.
Changmin seharusnya membawakan lagu barunya yang ia bawakan kemarin malam. Namun, ia mengejutkan semua orang dengan membawa seorang gadis ke atas panggung. "Semuanya, perkenalkan ini adalah kekasihku, Jung Jiyool."
Para penonton berteriak histeris. Changmin pasti bercanda, bukan?
Changmin sudah menduga reaksi para penggemar. "Aku sudah sering mengatakan kepada kalian untuk lebih memperhatikan kehidupan nyata kalian. Get a life and find a boyfriend! Aku tidak ingin kalian terpaku kepadaku dan melupakan orang-orang di sekitar kalian yang lebih layak untuk kalian perhatikan. Lain kali aku harap kalian datang menonton konser dengan pasangan kalian. Aku saja mempunyai pasangan, mengapa kalian tidak?"
Jiyool menundukkan kepalanya. Ia tidak berani berkutik. Changmin mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat kuat.
"Tolong dukung hubungan kami! Aku tahu bahwa tidak sedikit di antara kalian yang kecewa dan bersedih. Bangunlah! Aku adalah idola yang tak bisa kalian miliki. Kalian boleh membenciku, tetapi jangan benci rekan-rekanku yang lain. Mereka tidak ada sangkut pautnya dalam hal ini. Jika kalian menuntutku untuk mundur dari dunia hiburan, tidak apa-apa. Akan tetapi, kumohon untuk terus mendukung anggota yang lain. Ingat, idola hanyalah manusia biasa! Mungkin hari ini aku, besok bisa saja yang lain. Sadarlah bahwa hidup kalian lebih berharga dari idola. Jangan jadikan idola sebagai prioritas kalian! Idola adalah penghibur kalian, bukan untuk membuat kalian terbebani. Berhentilah mengidolakan jika hal itu membuat kalian terbebani. Ingat, kami hanya manusia, sama seperti kalian. Kalian juga harus memperlakukan diri kalian secara manusiawi. Jangan sampai pemujaan berlebihan kepada idola merusak hidup kalian!"
.
.
.
Konser berakhir dengan tangis dari para penggemar. Mereka tidak bisa menerima begitu saja hubungan idolanya dengan gadis lain.
"Mulai sekarang kita tidak perlu kencan secara sembunyi-sembunyi lagi." Sesuai janjinya Changmin mengantar Jiyool kembali ke rumah orang tuanya.
"Kau gila. Para penggemarmu akan menerorku mulai sekarang," ujar Jiyool.
"Aku akan melindungimu," balas Changmin.
"Penggemarmu akan banyak berkurang," tambah Jiyool. Ia tampak lesu.
"Sekarang aku akan tahu mana yang benar-benar penggemar mana yang bukan. Aku akan tahu mana penggemar yang benar-benar menghargai karyaku," ujar Changmin santai. "Seniman yang sesungguhnya lebih senang orang menilai karyanya daripada menilai pribadinya. Orang yang memang menyukai karyaku akan tetap membeli albumku karena yang mereka nikmati adalah karyaku, tak peduli apa yang kulakukan, baik atau buruk."
"Kau butuh popularitas dan juga uang dari penggemarmu," balas Jiyool.
"Manajerku juga mengatakan hal tersebut. Sekarang aku pasti akan mendapatkan sanksi dari agensiku." Changmin menghela nafas.
"Mengapa kau melakukan hal itu? Aku tidaklah pantas untuk kau kejar. Kau mengorbankan karirmu hanya untuk orang sepertiku." Jiyool merasa sangat bersalah. "Kau bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dariku. Aku mundur karena aku tidak ingin menghambat karirmu. Mengapa kau mengacaukannya?"
"Kau sangat peduli kepadaku. Aku merasa dicintai. Kau rela meninggalkanku karena kau sangat peduli pada karirku. Kau sangat pantas untuk kuperjuangkan." Changmin tersenyum.
Jiyool memejamkan matanya. "Tidak, bukan karena itu. Aku mengakhiri hubungan kita karena aku takut kepada para penggemarmu. Kini aku tidak akan bisa hidup dengan tenang."
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu. Menyakitimu sama artinya menyakiti diriku," ujar Changmin.
Jiyool menghela nafas. Semuanya sudah terjadi. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Mulai sekarang hidupnya akan berbeda. Sekarang semua orang tahu bahwa ia adalah kekasih Shim Changmin, seorang bintang besar.
Yunho menunggu kepulangan putrinya di depan pintu gerbang rumahnya. Ia terlihat siap untuk mencincang pemuda yang telah menculik putrinya itu. Ia sudah menyaksikan berita di televisi mengenai perbuatan pemuda itu saat konser.
Changmin menghentikan mobilnya tepat di hadapan Yunho. "Tn. Jung, aku mengembalikan putrimu. Terima kasih."
"Kurang ajar, Kau! Pertama kau masuk kamarnya tanpa izin dan sekarang kau menculiknya. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu." Yunho terlihat marah.
Changmin tampak kebingungan. Apa lagi sekarang? "Apa yang harus kulakukan?"
"Kau telah melecehkan putriku. Kau pikir apa yang ayahnya inginkan?" Aura yang menyeruak dari tubuh Yunho tampak menakutkan.
"Apa itu?" Changmin masih tidak mengerti. Apakah Yunho ingin ia menikahi putrinya? "Apa aku harus menikahi putrimu?"
"Ya," jawab Yunho dingin.
Changmin sangat syok mendengar jawaban Yunho. Ini benar-benar di luar dugaan. "Benarkah? Ya, tentu saja aku akan menikahinya. Kapan pun kau memintanya, aku siap."
Yunho juga terkejut oleh jawaban Changmin. Ia mengira bahwa Changmin akan menolaknya. Sebenarnya ia hanya bercanda. "Apa kau serius?"
"Tentu saja, Tuan. Apa kau masih meragukanku?" Changmin sudah lelah untuk meyakinkan ayah Jiyool itu.
"Baiklah. Kalau begitu bulan depan kalian menikah," ujar Yunho.
"Ayah, aku masih kuliah. Aku masih ingin mengejar cita-citaku untuk menjadi dokter," protes Jiyool.
"Kau masih bisa menjadi dokter, walaupun kau sudah berkeluarga. Ibumu juga menikah pada usia muda," balas Yunho. "Jika ia mau, sebenarnya aku memperbolehkannya jika ia ingin kembali menjadi penyanyi, tetapi ia tidak mau."
Jiyool terdiam. Ia berpikir. Mungkin memang sebaiknya mereka segera menikah. Ia tidak perlu khawatir lagi karena Changmin akan terikat dengannya secara hukum. Hubungan mereka akan lebih aman dan ia bisa menjalani hidupnya dengan tenang. Ia akan memiliki Changmin seutuhnya. Ia kemudian berbicara kepada Changmin. "Memang tidak apa-apa jika kau menikah?"
"Aku sudah mempertaruhkan segalanya demi mengejarmu. Jika kali ini aku menolak, lain kali belum tentu ayahmu akan mengizinkan," ujar Changmin. Semuanya sudah terlanjur. Ia tidak mungkin melepaskan sesuatu yang sudah ia kejar mati-matian. "Jangan mengkhawatirkan karirku lagi! Aku akan baik-baik saja."
.
.
.
Lagi-lagi penggemar dibuat terkejut, kali ini oleh berita mengenai rencana pernikahan Changmin. Terjadi kekacauan di kalangan penggemar. Mereka terbagi menjadi beberapa kubu, ada yang mendukung karena bagi mereka asalkan idola mereka bahagia, ada yang menentang dan berbalik membenci Changmin, bahkan membuat petisi untuk mengeluarkan Changmin dari grup. Ada pula yang tetap mendukung Changmin, tetapi membenci Jiyool. Begitulah dunia fandom.
Saham agensi yang menaungi Changmin pun bergejolak. Namun, Changmin tetap santai menghadapinya. Hal ini biasa terjadi dan hanya bersifat sementara. Seorang seniman yang mempunyai bakat tidak akan takut untuk ditinggalkan oleh penggemarnya. Para penggemar harus disadarkan dari mimpi mereka. Idola adalah hal semu, tidak bisa mereka miliki. Mungkin ia terkesan kejam kepada penggemarnya, tetapi ia merasa harus menyadarkan mereka. Ia sedih memiliki penggemar yang memujanya terlalu berlebihan. Ia mencintai para penggemarnya dengan cara yang berbeda. Tanpa ragu ia mengenakan kaus bertuliskan 'Sorry girls, I only date medical student'.
Para penggemar dibuat penasaran oleh sosok Jung Jiyool. Mereka mulai mencari tahu siapa gadis yang berhasil merebut hati idola mereka.
"Ia ternyata seorang mahasiswi kedokteran, benar-benar calon dokter. Ayahnya adalah seorang pengusaha besar dan ibunya adalah seorang mantan penyanyi. Aku benar-benar tidak akan bisa bersaing dengannya."
"Apa aku harus menjadi mahasiswi kedokteran juga agar Changmin Oppa melirikku?"
"Aku terpaksa merestui mereka. Gadisnya bukan gadis sembarangan."
"Mungkin memang lebih baik ia menikah dengan gadis biasa yang bukan dari kalangan selebriti. Jika ia menikahi selebriti juga, mungkin aku akan merasa lebih tidak rela."
Perlahan para penggemar mulai bisa menerima keputusan Changmin. Beberapa sudah mulai menyadari posisi idola dan penggemar. Penggemar tidak berhak mengatur kehidupan idola mereka, karena penggemar juga pasti tidak ingin hidup mereka diatur oleh orang lain.
Changmin memang kehilangan banyak penggemar, tetapi tidak sedikit juga yang mendukungnya. Ia merasa terharu karena rekan-rekan segrupnya menghormati pilihannya. Mereka tidak mendepaknya untuk keluar dari grup.
.
.
.
Jung Yunho menggelar pesta besar-besaran untuk pernikahan putri sulungnya. Ia merasa sedih karena ia harus melepaskan putri kesayangannya.
"Kau tidak perlu merasa sedih karena putrimu diambil oleh pria yang baik." Jaejoong menggenggam tangan suaminya.
Yunho menghela nafas. "Rasanya baru kemarin aku mengganti popok dan memandikannya." Jiyool memang sangat istimewa baginya. Ia membesarkan anak itu sendirian sampai usia lima tahun. "Sayang, kau masih bisa melahirkan, bukan? Aku ingin punya anak lagi. Aku rindu memandikan bayi dan mengganti popok."
Jaejoong terkejut oleh permintaan suaminya. Ia memang masih bisa mempunyai anak. Usianya masih 39 tahun. "Kau bisa memandikan dan mengganti popok cucumu." Ia membayangkan anak keempatnya memiliki usia yang sama dengan cucunya.
"Aku masih berusia 46 tahun, tetapi aku akan menjadi seorang kakek." Yunho baru menyadari hal itu.
Jaejoong terkekeh. "Kau adalah kakek tertampan di dunia. Kau tidak terlihat seperti kakek-kakek."
Yunho sudah bisa tertawa sekarang. "Kalau begitu, kau juga menjadi nenek-nenek."
.
.
.
"Kakak terlihat sangat cantik mengenakan gaun pengantin itu." Yunjoong memuji kakak tertuanya yang akan menikah hari ini.
Jiyool mengenakan gaun pengantin milik ibunya. Ia menolak untuk membeli gaun pengantin yang baru. Ia berharap pernikahannya akan bahagia seperti orang tuanya. "Gaun ini milik ibu. Jika kau mau, kau bisa mengenakannya juga saat nanti kau menikah."
Yunjoong menggembungkan pipinya. "Sekarang aku tidak bisa berharap untuk menikah dengan Changmin Oppa lagi."
Jiyool tersenyum kepada adiknya. "Kau tidak marah kan karena kakak menikahi idolamu?"
Yunjoong menggeleng. Ia balas tersenyum. "Justru aku senang karena ia menjadi bagian dari keluarga kita. Aku bisa sering-sering bertemu dengannya."
Jiyool mencubit pelan pipi adiknya yang menggemaskan. "Kau masih bisa mengharapkan artis lain, mungkin Song Joongki. Hahaha!"
"Ia terlalu tua untukku. Mungkin lebih baik aku mencari yang lebih muda saja, mungkin Moonbin Astro yang mirip dengan ayah. Hahaha!" Yunjoong tertawa.
Upacara pernikahan Changmin dengan Jiyool berjalan dengan lancar. Banyak selebriti diundang ke pesta tersebut. Pada hari pernikahannya Changmin menyanyikan sebuah lagu istimewa untuk istrinya.
You are my shining star
I want to reach you
I always think about you nights and days
Finally today I can reach you, oh you are my shining star
.
.
.
Mohon maaf jika cerita dan penulisannya kurang bagus. Saya sudah cukup lama tidak menulis cerita, sehingga saya agak tidak terbiasa lagi menulis cerita. Semoga saja tulisan berikutnya bisa lebih baik. Saya anggap cerita ini sebagai pemanasan.
yunjaelovely: terima kasih sudah membaca.
Meybi: cerita tentang mengurus anak belum terpikirkan.
Babiesyunjae: cerita ini memang hasil eksperimen. Saya ingin mencoba metode penulisan yang lain.
Guest: dibuat seri belum tentu bagus karena sejak dari awal susunan ceritanya dibuat tidak berurutan.
Guest: saya belum bisa membuat cerita dengan akhir yang sedih. Akan tetapi, suatu saat mungkin ingin membuat yang seperti itu.
Kekejeje: konfliknya sudah berakhir. Jadi, memang harus diakhiri.
Saaa: takutnya kalau ditambah adegan itu di epilog, pembaca malah lebih fokus ke sana. Hahaha!
Guest: terima kasih sudah membaca.
Jaenna: sepertinya cukup sekali saja. Hahaha! Tidak semua cerita cocok dibuat seperti ini.
Guest: epilognya tidak sedih. Cerita-cerita yang kamu sebutkan itu belum bisa saya buat, masih harus menunggu waktu yang tepat.
S-ji: untuk saya ini berat, berat membuatnya. Hahaha!
Yunjaegya: terima kasih sudah membaca. Saya rasa para author Yunjae kebanyakan sibuk dengan kehidupan di dunia nyata, bukan karena kapalnya sudah tidak berlayar. Saya pun sekarang tidak akan bisa menulis sesering sebelumnya.
Guest: anak kedua dan ketiga Yunjae diceritakan di sekuel. "My 4D Mom" belum saya ketik juga karena saya sudah mulai kaku menulis cerita, takut hasilnya jelek kalau saya paksakan dibuat sekarang.
Ollasuke: cerita masa training TVXQ memang sedih, terutama Yunjae. Saya pikir dunia hiburan di mana pun pasti kurang lebih begitu, tidak hanya di Korea. Pertanyaan mengenai sponsor sudah dijawab oleh elite minority.1111.
Rly: hanya lima tahun, baru sebentar. Hahaha!
My yunjaechun: terima kasih sudah membaca.
Tarry24792: belum diketik, padahal kerangkanya sudah dibuat sampai tamat. Menunggu mood yang baik untuk mengetiknya.
MyBooLoveBear: terima kasih sudah membaca.
Ray: menunggu mood yang pas untuk mengetiknya. Saya sudah lama tidak meulis cerita, sehingga menjadi agak kaku.
Guest: cerita mengenai perusahaan itu tidak terlalu penting.
