xxXxx
Sapphire Blue
Series 2
Cast :: Super Junior Member.
Rate :: T.
Warning :: Genderswitch, OOC, AU, and Typos.
Disclaimer :: This story is mine. Casts in here were their own. And casts in here I'm just borrow their name. So you easily imagine the story. Don't bash the casts. Last, Kim Jongwoon a.k.a Yesung is mine.
xxXxx
Epilogue
Happiness
3 Years Later.
Kangteuk
"Taeminnie! Cepat pakai sepatumu setelah selesai sarapan!"
Yeojya berumur delapan tahun itu mengembungkan pipinya kesal ketika teriakan ummanya menggema ditelinganya. Desahan bosan ia hembuskan, setiap pagi ummanya selalu mengatakan hal yang sama. Kangin yang baru melangkah masuk kedapur merangkap ruang makan itu hanya bisa tersenyum kecil. Tangan Kangin menepuk puncak kepala Taemin pelan.
Taemin masih mengembungkan pipinya. "Aku bosan umma selalu mengatakan hal yang sama setiap harinya, appa!" Protes Taemin.
Kangin terkekeh dan menyesap kopinya yang masih hangat. "Appa juga bosan, tapi semenjak ummamu sibuk mengurus Suho umma memang jadi lebih menyebalkan." Bisik Kangin pada Taemin.
"Umma juga pelupa. Suho Suho dan hanya Suho yang umma pedulikan." Keluh Taemin disela minum susu rasa pisang itu.
"Karena Suho saat ini memang butuh perhatian lebih, Taeminnie. Apalagi namdongsaengmu itu sedang belajar bicara dan berjalan."
Kangin melirik Leeteuk yang sibuk mengajari Suho berjalan dengan baik dan benar. Ya, Suho. Kim Suho, buah cinta Kangin dan Leeteuk yang baru berumur dua tahun dua bulan itu. Kangin dan Leeteuk sendiri sudah menikah tiga tahun yang lalu, beberapa bulan setelah Heechul menikah.
Senyum menghias diwajah namja gemuk itu ketika Leeteuk bertemu pandang dengannya. Leeteuk juga membalasnya dengan cengiran lebar. Setelah Kangin dan Taemin menyelesaikan acara sarapan mereka, keduanya pamit untuk berangkat.
"Umma, aku berangkat ya…" Taemin mengecup pipi Leeteuk dan mengecup pipi Suho bergantian.
"Hati-hati, ne?"
Taemin mengangguk dan keluar rumah lebih dulu. Taemin berangkat bersama Kangin, tapi dia akan menunggu appanya dimobil. Sedangkan Kangin masih menyiapkan jas kerjanya. Leeteuk menggendong Suho dan mengambil tas kerja Kangin. Yeojya berlesung pipi itu menyerahkan tas kerja itu pada sang pemilik.
"Gomawo," Kangin mencium bibir Leeteuk lama, tapi kegiatannya terhenti ketika Suho menepuk-nepuk pipi tembam Kangin. "Eh? Waeyo, Suho-ah? Appa tak boleh mencium umma, eung?"
Suho menanggapinya dengan tawa riang, membuat kedua orangtuanya ikut tertawa bersamanya. Bersyukur kepada Tuhan karena dikaruniai Suho juga sepertinya masih kurang. Mereka sangat menyayangi Suho. Kangin mengecup puncak kepala Suho.
"Appa pergi kerja dulu ya. Suho-ah baik-baik dirumah bersama umma, eung?" Ujar Kangin pada Suho lagi, Suho menanggapinya dengan gumaman tak jelas khas balita. "Arraseo arraseo. Cha, aku berangkat ya?"
Leeteuk mengangguk dan mengecup bibir Kangin singkat untuk yang terakhir. "Jangan mengebut dijalan, eung? Saranghae, Kangin-ah"
Kangin mengangguk dan tersenyum. "Arrayo, yeobo. Nado saranghaeyo."
Leeteuk dan Suho mengantar Kangin sampai ke mobil. Setelah mobil itu berjalan meninggalkan rumah sederhana milik keluarga kecil yang bahagia itu, Leeteuk mengangkat tangan Suho untuk melambai kearah mobil yang sudah meninggalkannya.
Senyum Leeteuk semakin menyamar. "Lindungi keduanya dan berikan keduanya kemudahan untuk menjalankan kegiatan mereka hari ini, Tuhan."
"Um-mma!"
Leeteuk menunduk dan menatap Suho yang memanggilnya, tangan Suho menggapai-gapai wajah Leeteuk. Sedangkan yeojya itu tersenyum dan mengecup kening Suho lama. "Sekarang tinggal kita berdua lagi, Suho-ah. Hari ini juga pasti akan menyenangkan untuk kita, eung?"
Suho kembali tertawa riang dan menepuk tangannya beberapa kali. Namja kecil itu sepertinya mengerti apa yang dimaksud ummanya. Buktinya ia menanggapi Leeteuk, bukan? Meskipun hanya tawa riang. Keluarga kecil bermarga Kim itu sepertinya sudah tidak diragukan lagi
Mereka sudah bahagia sekarang.
xxXxx
Hanchul
Heechul mengelus-elus punggung namja kecil yang sudah tertidur dipelukannya. Mata tajam yeojya itu melirik jam tangannya, menunjukan jam satu siang. Memang seharusnya namja kecil yang hampir berumur tiga tahun itu tidur. Bibir tebal namja kecil turunan Heechul itu terbuka kecil ketika tertidur.
Pegal.
Ya, hanya itu yang Heechul rasakan saat ini. Terlebih bagian bokongnya karena duduk terlalu lama. Heechul mencoba berdiri sepelan mungkin sambil meringis karena sakit pinggang, semoga namja kecil yang berada dipelukannya tidak terbangun dan menangis. Bisa gawat jadinya jika namja kecil itu terbangun. Heechul masih harus bekerja.
Setelah benar-benar dalam posisi berdiri, Heechul tersenyum kecil karena namja kecil dipelukannya tidak bergeming sama sekali. Sepatu hak tinggi Heechul melangkah perlahan menuju sofa berwarna biru dipojok ruangan. Tangan Heechul mengambil bantal panjang dan menyiapkan sofa yang bisa dijadikan tempat tidur itu. Setelah dirasa siap, lagi-lagi dengan perlahan Heechul meletakan namja kecil itu disofa.
Dengan elusan singkat, Heechul mulai melangkah ke meja kerjanya lagi. Tangannya cekatan memilah-milih tumpukan kertas yang tidak berpola itu. Sudah habis diacak-acak namja kecil tadi. Sekarang ia tak tahu dimana berkas yang harus ia kerjakan.
"Ketemu," Bangga Heechul setelah cukup lama mencari, berkas itu sudah lecek. "Uhh… selalu begini setiap aku bawa Kris kesini."
Heechul kembali duduk dan menghitung-hitung sesuatu yang sudah terinci rapi diberkas yang tadi ia ambil. Beberapa berkas lainnya dibuat origami, pesawat kertas, dan perahu kertas. Heechul juga lupa seharusnya ia memberikan kertas yang sudah tak terpakai.
Ponsel yang berada disaku belakang celana jeans-nya bergetar singkat. Heechul langsung mengambil ponsel itu dan menatap layar ponselnya. Senyuman ia buat diwajah bak porselen miliknya.
"Ne, yeobo?"
"Aku sedang dalam perjalanan ke café. Kris bersamamu, kan?" Tanya seorang namja dari ujung telefon.
Heechul mengangguk dan melirik namja kecil bernama Kris yang tertidur itu. "Tentu saja, dia tidak akan pergi kemanapun selama ada aku. Tapi dia tidur."
Suara gumaman terdengar lagi. "Gwaenchana, memang waktunya tidur siang. Aku akan sampai beberapa menit lagi."
"Eung, arraseoyo Hannie… Aku diruanganku."
"Keurom, annyeong Tan Heechul-sshi."
Heechul terkekeh. "Annyeonghigaseyo, Tan Hangeng-sshi."
Setelah tak terdengar lagi suara Hangeng, Heechul menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Hampir lima belas menit berlalu. Matanya masih tertuju kepada berkasnya. Ketika pintu diketuk, saat itu juga Heechul menyelesaikan pekerjaannya. Kepala Hangeng menyembul dari balik pintu.
"Kris sudah makan siang?" Tanya Hangeng seraya masuk keruangan Heechul.
Heechul menghampiri Hangeng dan melingkarkan tangannya kebelakang leher Hangeng, yeojya itu juga mengembungkan pipinya imut. "Kenapa hanya Kris yang kau tanya? Aku tidak?"
Hangeng terkekeh dan melingkarkan tangannya kebelakang pinggang Heechul, tangan namja itu mendorong pinggul Heechul agar lebih berdempetan lagi dengannya. "Karena kalau kau, meskipun kau belum makan siang setelah ini kau akan makan siang bersamaku."
"Maksudmu?" Tanya Heechul dengan tatapan seduktif.
"Ya, makan siang Heechul. Makan yang bisa kita lakukan ditengah malam ketika Kris sudah tidur, arra?" Goda Hangeng.
Heechul mengerutkan keningnya. "Loh? Kita melakukannya dimana?"
Hangeng tertawa kencang, tapi setelah itu namja berwajah oriental itu menghentikan tawanya. Takut Kris terbangun dan menangis. Baru saja Heechul ingin memarahinya karena mengelabuhinya, tapi bibirnya sudah diraup Hangeng.
Suara kecipak kecil terdengar cukup nyaring karena ruangan itu sepi, hanya ada suara nafas teratur dari arah sofa. Untuk urusan nafsu, Heechul tak peduli Kris mau menangis atau tidak. Yang penting ia menikmati kegiatannya dengan Hangeng.
Setelah cukup lama, Hangeng melepas pagutannya. "Aku lapar."
Heechul memutar matanya. "Pesan pada Luna untuk membuatkanmu makan siang."
Hangeng memiringkan kepalanya. "Kau tidak mau makan siang?"
"Tadi aku sudah makan sekalian menyuapi Kris," Heechul kembali ke meja kerjanya. "Aku masih harus menelefon beberapa orang yang mejadi panitia pernikahan Jongwoon besok."
"Ah, tak terasa ya sekarang sudah diawal Musim Gugur lagi dan Jongwoon sudah mau menikah."
"Waktu selalu berputar, Hannie," Ujar Heechul tanpa menatap Hangeng. "Tak akan bisa mundur ataupun diam ditempat."
Hangeng terdiam, masih mencerna kata demi kata yang dilontarkan istrinya itu. Tapi setelah ia mengerti, namja yang masih bekerja sebagai dokter itu malah menghampiri Heechul yang bekerja. Dari belakang Hangeng melingkarkan tangannya.
"Kita akan tua dan mati ya? Kalau begitu, aku hanya ingin menghabiskan seluruh waktuku denganmu dan dengan Kris," Bisik Hangeng. "Saranghae, Chullie-ah."
"Nado, Hannie. Kita akan selalu bersama."
xxXxx
Haehyuk
"Cantiknya!"
Hyukjae berlari dan melemparkan dirinya ketumpukan daun kering berwarna kecoklatan dibawah pohon maple itu. Dengan wajah riang Hyukjae mengambil segenggam daun dan melemparkannya keatas. Dengan gaya gravitasi, daun itu kembali turun dan menghujaninya.
Donghae hanya berdiri beberapa meter darinya dan melipat tangannya didada. Dengan wajah bosan namja itu memperhatikan yeojyachingunya yang kelewat childish ketika bertemu dengan tumpukan daun kering. Maklumi, Musim Gugur.
"Apa yang cantik dari daun kering yang tak berguna itu? Hanya mengotori saja." Gumam Donghae tak suka.
"Kau tak pernah tahu makna dibalik Musim Gugur ya, Hae?" Tanya Hyukjae sinis, Donghae hanya menggeleng. "Musim Gugur itu musim yang paling tenang dan sendu dibanding Musim Dingin. Kau tidak tahu betapa cantiknya mereka saat berjatuhan dari atas sana?"
Donghae mengangkat bahunya acuh. "Aku tidak pernah memperhatikannya."
Hyukjae menghela nafasnya dan berdiri. Kaki ramping yeojya itu mendekati Donghae dan menarik Donghae mendekat kebatang pohon maple ini. Hyukjae memaksa Donghae untuk merebahkan dirinya dibawah pohon itu.
"Mereka rela mengering dan mati hanya untuk menyambut Musim Dingin. Musim Dingin akan membuat mereka mati, Hae. Tapi banyak orang yang tidak peduli dengan kematian mereka, orang-orang hanya peduli kedatangan salju," Hyukjae mengambil selembar daun kering dan menghancurkannya. "Padahal mereka lebih cantik dibanding salju."
"Aku lebih suka salju, aku tidak bisa menemukan dimana letak cantiknya daun-daun berguguran ini. Dan ya, sekejap kau menjadi melankolis, Hyukie."
Hyukjae hanya menanggapi komentar Donghae dengan senyuman tipis. Matanya kembali menatap langit senja yang kontras dengan daun-daun kering yang masih bertahan diatas sana. Angin semilir menerpa mereka. Daun-daun kering yang masih menggantung akhirnya terjatuh juga.
Tangan Hyukjae mencoba meraih daun-daun yang berjatuhan itu dengan hati-hati, takut menghancurkan sang daun. Berhasil, Hyukjae tersenyum senang. "Setelah berusaha untuk tetap menggantung disana, akhirnya mereka menyerah."
"Kenapa kau suka Musim Gugur?"
Hyukjae menoleh dan memandang kedalam mata Donghae yang menatapnya. "Karena semua tumbuhan rela mati demi Musim Dingin. Itu namanya pengorbanan, jadi aku suka."
Donghae makin mengerutkan keningnya. "Lalu kau membenci Musim Dingin?"
Kali ini Hyukjae menggeleng. "Tentu saja tidak, daun-daun berguguran juga bukan karena disuruh Musim Dingin, bukan? Mereka hanya menjalankan tugas."
"Pengorbanan tumbuhan, ya? Ah! Aku masih tidak mengerti!"
Hyukjae tertawa geli melihat Donghae yang sedang mengacak-acak rambut cokelatnya yang tertempel beberapa daun kering. Tangan kurus Hyukjae memegangi tangan Donghae supaya ia berhenti mengacak rambutnya.
"Dengarkan aku baik-baik, ini penjelasan yang paling mudah untuk kau mengerti. Eung?"
Donghae mengangguk cepat dan mulai menatap Hyukjae serius. Sedangkan Hyukjae juga menarik nafasnya untuk menjelaskan Musim Gugur dan Musim Dingin pada Donghae yang masih belum mengerti juga.
"Ini hanya misalnya ya, jangan dianggap serius. Anggap aku sakit parah dan membutuhkan jantung yang cocok denganku. Jantung yang cocok hanya jantungmu. Tanpa aku tahu, kau sudah memberikan jantungmu padaku. Dan kau pergi dari dunia ini karena menyerahkan jantungmu padaku. Kau rela asal jantungmu menghidupkanku dan terus bersamaku."
Donghae masih diam dan menatap Hyukjae serius.
Hyukjae tersenyum dan menyentuh wajah Donghae, menyusuri setiap inchi wajah namjachingunya itu. "Begitupula dengan Musim Gugur. Mereka rela pergi asalkan manusia bisa melihat salju setelah mereka selesai berguguran. Dan Musim Dingin takkan pernah tahu itu."
"J-Jinjjayo?" Tanya Donghae kagum.
"Eung, makanya aku suka Musim Gugur," Jawab Hyukjae dan mengecup bibir Donghae sekilas. "Lalu kau masih tidak bisa melihat dimana kecantikan Musim Gugur?"
Donghae tersenyum dan menggeleng. "Aku sudah mengerti, dan kurasa aku juga jadi suka Musim Gugur. Aku biasanya hanya menunggu Musim Dingin, tapi aku ingin Musim Gugur tak tergantikan."
Hyukjae memiringkan kepalanya. "Lalu tidak akan ada tumbuhan?"
"Eh? Oh iya ya. Jangan kalau begitu, musim harus tetap berganti."
"Hanya satu yang tak boleh berganti, Hae," Hyukjae tersenyum penuh arti. "Kau tidak boleh terganti dihatiku."
"Kau juga tidak akan bisa terganti, Hyukie."
xxXxx
Sibum
"Kibum eonnie!"
Kibum menoleh dan mendapati yeojya cantik memakai seragam maid menyapanya. Senyum Kibum merekah ketika yeojya itu menghampirinya dengan buku menu yang berada didekapannya. Pelukan singkat ia lakukan dengan yeojya berambut panjang nan cantik itu.
"Apa kabar eonnie?" Tanya yeojya itu senang.
"Nan gwaenchana, Luna-ah. Kau sendiri? Bagaimana café?"
Yeojya bernama Luna itu mengangkat bahunya. "Aku sih baik-baik saja, tapi semenjak café ditinggal eonnie jadi agak aneh. Pegawai-pegawai baru juga semakin bermunculan."
Kibum tampak bingung. "Aneh? Maksudnya?"
"Semenjak Shindong oppa, Hyukie eonnie, dan Kibum eonnie resign, jadi banyak anak baru. Aku sebagai senior juga harus mengajari mereka untuk memakai mesin," Gerutunya. "Untung Heechul eonnie juga membantu."
"Yah… kalau aku terus-terusan bermalas-malasan dan menjadi pelayan, bagaimana aku bisa menaruh wajahku nanti. Kau tahu sendiri, kan?".
"Keurae, Siwon oppa kan aktor ya jadi eonnie tidak boleh malu-maluin Siwon oppa. Ah aku harus kembali kerja," Ujar Luna sambil terkekeh dan menyerahkan buku menu itu pada Kibum. "Ah, Kibum eonnie tidak bersama Siwon oppa?"
"Dia menyusul nanti." Jawab Kibum tanpa menatap Luna.
Luna hanya ber-oh ria dan meninggalkan Kibum. Yeojya itu terus membolak-balikan buku menu yang diberikan oleh Luna tadi. Telinganya yang masih normal itu mendengar suara riuh beberapa yeojya yang menyebut-nyebut nama Siwon. Kibum melirik yeojya-yeojya itu dan menyimpulkan sesuatu.
Siwon sudah sampai.
"Kau sudah lama?"
Kibum merasakan puncak kepalanya dikecup oleh namja yang seenaknya duduk dikursi yang berada dihadapannya. Dengan wajah merona yeojya itu mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari buku menu. Kibum menyodorkan buku menu itu pada Siwon.
Tanpa banyak omong Siwon langsung memilih makanan mana yang ingin ia pesan. Kibum menopang dagunya sambil memperhatikan namjachingunya yang semakin lama semakin keren itu. Tiga tahun sudah ia berstatus sebagai yeojyachingu aktor berbakat itu.
Siwon yang merasa diperhatikan akhirnya mendongak. "Waeyo?"
Kibum menggeleng dan mengalihkan pandangannya keluar kaca. "Aniya."
Namja tampan itu mengulurkan tangannya dan memaksa Kibum itu menatapnya. "Aku tahu ada yang kau pikirkan."
"Aku hanya berpikir," Kibum terkekeh sendiri sebelum meneruskan kalimatnya. "Semakin kupandang kau semakin tampan. Apalagi setelah kita berpacaran, selera pakaianmu semakin bagus."
Siwon menaikan sebelah alisnya. "Maksudmu kau berselera bagus sehingga aku terciprat, begitu?"
Tawa Kibum meledak. "Kau selalu tahu apa yang kupikirkan, Wonnie."
"Yang benar saja, Kim Kibum."
"Uhm permisi Siwon oppa," Seorang yeojya menghampiri meja Siwon dan Kibum. "Boleh aku minta tanda tangan dan foto bersama?"
Siwon melirik Kibum, meminta ijin. Sedangkan Kibum mengangguk sambil tersenyum. Kibum tidak pernah menolak jika ada penggemar Siwon yang meminta tanda tangan atau foto bersama. Siwon yang selalu meminta ijin walau ia tahu Kibum selalu mengijinkan. Kibum bisa memaklumi jika namjachingunya banyak penggemar. Namja itu memang nyaris sempurna sih.
Siwon tersenyum lebar dan melingkarkan lengan kekarnya kebelakang yeojya itu dan membuat gesture peace dijarinya. Yeojya itu menyender pada Siwon dan membuat gesture yang sama. Dengan dua kali jepretan akhirnya yeojya itu menyelesaikan acara foto bersamanya.
Kibum masih menopang dagunya sambil memperhatikan namjachingunya. Sang penggemar itu kali ini meminta tanda tangan Siwon dibukunya.
"Gomawo oppa," Saking senangnya, yeojya itu memeluk Siwon dan membungkuk pergi. "Gomawo!"
Siwon melongo ketika yeojya itu berani memeluknya, begitu juga dengan Kibum yang sukses kepeleset dari topangan dagunya. Masih kaget, Siwon duduk dikursinya lagi dengan perlahan. Mata bulat Siwon melirik Kibum yang menatap keluar café dengan tampang tak enak.
"Kibummie?"
Kibum menoleh dan menatap malas Siwon. "Hm?"
Siwon sudah tahu kalau Kibum saat ini sedang unmood karena yeojya tadi yang seenaknya memeluknya. "Mianhaeyo, aku tidak tahu kalau dia akan memelukku."
"Ani, gwaenchana." Jawab Kibum singkat.
Siwon menggenggam erat tangan Kibum. "Aku tahu kau marah, mianhaeyo."
Yeojya cantik itu mengembungkan pipinya, membuat bibirnya mengerucut lucu. "Padahal kan aku yeojyachingumu. Kita saja jarang berpelukan ditempat umum, Wonnie. Aku kesal nih, cemburu tahu!"
Siwon terkekeh. "Arrayo, Bummie. Kalau begitu kita pelukan sini."
"Aniya."
Dengan nekat, Siwon berdiri dan menunduk. Mendekatkan wajahnya ke wajah Kibum dan mencium bibir yeojya itu dihadapan pelanggan café Sapphire Blue yang cukup ramai. Beberapa blitz kamera mengabadikan momen ciuman pasangan itu. Setelah cukup lama, akhirnya Siwon kembali ke tempat duduknya tanpa bicara apapun.
Kibum yang terkejut hanya memegangi bibirnya. "M-mwohaneun geoya?"
Siwon mendongak dan tidak menunjukan wajah bersalahnya. "Mwo? Aku kan mencium yeojyachinguku. Apa itu salah?"
"Tapi media…"
"Aku tidak peduli, Bummie. Masa bodoh mereka mau membuat artikel apa tentangku dan kau, yang penting aku hanya menyayangi dan mencintaimu. Arrachi? Saranghae, Bummie."
Kibum masih terdiam, lalu akhirnya ia tersenyum senang. Wajahnya memanas saat ini, dia bisa merasakan kalau puluhan pasang mata sekarang sedang menatapnya. Tapi seperti yang Siwon katakan, namja itu saja tidak peduli. Lalu, kenapa ia harus takut?
"Nado saranghaeyo, Wonnie."
xxXxx
Kyumin
Sungmin baru saja memparkirkan mobilnya. Meskipun seharusnya ia masuk pada jam sepuluh nanti, yeojya itu sudah sampai rumah sakit jam tujuh pagi. Sungmin ada janji bertemu dengan orangtua dari pasien yang ia tangani.
Setelah absen, Sungmin melangkah menuju ruangannya dilantai paling bawah dan paling pojok. Baru saja ia ingin membuka kunci ruangan itu, sebuah amplop berukuran lima kali lima senti menempel digagang pintu ruangannya. Sungmin mengerutkan keningnya dan membuka amplop itu.
Pergilah ke apotek rumah sakit dan tanyakan obat atas nama Lee Sungmin.
"Jangan bercanda, aku tidak akan melakukan hal itu."
Sungmin masuk keruangannya dan menunggu orangtua pasiennya datang. Karena ia terlalu bosan, yeojya itu menatap lagi tulisan yang tadi ia dapat dari amplop misterius itu.
Erangan Sungmin keluar dari bibir mungilnya. "Baiklah, aku akan ikuti permainanmu."
Sungmin keluar dari ruangannya dan menuju apotek tempat meracik obat-obatan. Yeojya itu dengan mudah masuk kedalam apotek dan menghampiri rekannya dibagian ini.
"Seungri-ah, memang ada obat atas nama Lee Sungmin?" Tanya Sungmin cepat ke yeojya cantik bernama lengkap Lee Seungri.
Seungri mengangguk. "Ada, tunggu kuambilkan. Obatmu kan?"
Sungmin menyender pada dinding ruangan khusus meracik obat-obatan. Dia tidak begitu suka bau obat-obatan, jadi dia mengetuk-ketukan ujung sepatunya dengan tak sabar. Yeojya cantik dengan rambut bergelombang berwarna hitam itu menghampirinya.
"Yeogi," Seungri menyerahkan sebuah plastik obat yang berisi beberapa permen rasa peppermint dan sebuah kertas gulungan didalamnya. "Kau sedang batuk ya? Sama seperti Daesungie."
Sungmin mengerutkan keningnya dan mengangguk perlahan. Yeojya cantik itu mengambil alih plastik obat itu dan membuka gulungan kertas itu. Ada pesan lagi didalamnya.
Mungkin ini bisa membuat tenggorokanmu membaik. Setelah ini kau harus ke ruangan 401, gunakan lift agar tak lelah.
"Ah… arraseo. Gomawo, Seungri-ah."
Sungmin tersenyum dan berlari meninggalkan ruangan itu. Lantai empat khusus tempat pasiennya dirawat, disana khusus anak kecil. Yeojya itu memakai lift seperti yang disuruh dan menunggu lift itu sampai dilantai empat. Setelah sampai, Sungmin berbelok kekanan dan mengetuk pintu ruangan 401 dua kali.
Tak ada jawaban, yeojya itu masuk kedalam dan tak menemukan seorangpun disana. Sungmin mendekati ranjang pasien dan menemukan amplop yang sama seperti tadi, bedanya sekarang dengan setangkai mawar pink yang masih segar. Dengan senyuman Sungmin membuat amplop itu.
Lelah? Pergi ke taman rumah sakit jika penasaran akanku. Aku menunggumu.
Tanpa lelah, Sungmin keluar lagi dan membawa tiga buah permen peppermint itu dan setangkai bunga mawar pink itu. Dengan senyum lebar Sungmin turun dengan lift dan menuju taman rumah sakit yang lumayan luas. Seorang yeojya kecil berdiri dihadapannya ketika dia sampai dilantai satu.
"Dokter Lee, kajja!"
Yeojya kecil itu berlari dan Sungmin mengikutinya tanpa bicara apapun lagi. Yeojya kecil itu membawa Sungmin kesebuah pohon besar yang daun-daunnya sudah berguguran. Hanya beberapa daun lagi yang masih setia dipohon itu.
"Dimana dia?" Tanya Sungmin pada yeojya kecil itu.
Tapi dia tidak menjawab Sungmin dan berlari meninggalkannya. Kini tinggalah Sungmin yang masih bingung dengan keadaannya saat ini. Tiga surat dan dua peninggalan aneh. Kenapa orang itu bisa tahu kalau Sungmin sedang sakit tenggorokan dan menyukai mawar pink?
Seseorang memeluknya dari belakang dan membuat Sungmin cukup terkejut. Dengan cepat yeojya itu membalikan tubuhnya dan menemukan Kyuhyun yang memakai setelan jas yang cukup rapi. Dia lama-lama seperti member boyband saja.
"Kyunnie?" Hanya itu yang keluar dari mulut Sungmin.
Kyuhyun terkekeh lucu dan menggaruk belakang kepalanya. "Terkejut tidak? Yah… agak pasaran ya kalau begini caranya."
Sungmin mengerutkan keningnya. "A-aniya, aku terkejut kok. Kenapa berbuat ini?"
Kyuhyun tak menjawab. Namja itu menekuk kakinya sehingga membuat posisi berlutut dan merogoh saku jasnya. Tangannya memegang sebuah kotak kecil dan ia membuka kotak itu. Jemari kurus Kyuhyun mengambil benda yang terdapat didalam kotak itu. Seketika Sungmin melongo menatap Kyuhyun.
Tiba-tiba dia dikelilingi kerumunan anak-anak kecil yang menaruh puluhan tangkai bunga mawar pink, lalu semuanya kembali pergi. Sungmin masih melongo, wajahnya tampak lucu saat ini. yang dipikiran Sungmin, ia hanya mengira kalau Kyuhyun hanya ingin membuat kejutan hari jadi mereka yang ke tiga tahun.
"Sudah genap tiga tahun hari ini kita bersama, Minnie-ah. Kita dikelilingi empat puluh tujuh tangkai bunga mawar pink yang kau suka, bukan? Satu lagi ditanganmu, jumlahnya jadi empat puluh delapan. Cukup lama, bukan?"
Sungmin akhirnya mengerti dan memilih untuk berdiam diri.
"Selama tiga tahun ini, kita saling melengkapi. Meskipun pernah bertengkar, tapi semuanya teratasi dengan mudah. Karena kita saling percaya, Minnie. Dan sekarang aku ingin menyudahi hubungan pacaran kita."
Salah besar, pikir Sungmin. Kyuhyun ingin putus darinya.
"Aku ingin menyudahi masa pacaran kita dan berubah status menjadi pasangan suami istri. Apa kau mau menikah denganku?"
Perang, itu yang terjadi diotak Sungmin kini. Baru saja ia menyimpulkan kalau Kyuhyun ingin berpisah dengannya. Tapi ternyata namja itu mengajaknya untuk membuat hubungan baru yang bernama pernikahan. Apa… ia cukup berani mengambil keputusan untuk menikah dengan Kyuhyun?
"Apa kau bersedia, Lee Sungmin?"
Sungmin tersenyum penuh arti sambil menatap namja yang masih berlutut dihamparan daun-daun kering khas Musim Gugur. Yeojya itu masih berdiam diri ditempat ia berpijak sekarang. Matanya melirik cincin berwarna perak dengan hiasan permata diatasnya.
xxXxx
Yewook
"Aku bersedia."
Semua orang digereja tersenyum senang. Upacara sakral itu hanya dihadiri beberapa orang yang benar-benar mengenal sang pengantin. Pendeta yang menentukan sah atau tak sahnya pernikahan mereka juga tersenyum.
Yesung, memakai setelan jas berwarna putih susu dengan dasi hitam didalam rompi jasnya. Rambutnya tak lagi berwarna merah, melainkan hitam gelap sehingga membuatnya terlihat lebih tampan dan rapi. Ryeowook, begitu mempesonanya ia memakai gaun yang tak berlebihan. Gaun pengantinnya berbahan satin berlengan panjang dengan belahan dada yang tak terlalu rendah.
Namun punggung Ryeowook terekspos sebatas bagian atas bokong yeojya mungil itu. Rambutnya panjangnya digelung namun tidak terlalu rapi. Sehingga banyak rambut-rambut pendek yang tercecer. Poninya dibiarkan menutupi keningnya. Yesung tidak pernah menyesal menikahi yeojya ini, selamanya.
"Maka dihadapan Tuhan kuresmikan kalian berdua didalam ikatan suci bernama pernikahan. Tuhan memberkati kalian."
Yesung mengangkat tangan Ryeowook dan menyisipkan sebuah cincin dijari manis Ryeowook yang tertutup sarung tangan transparan berwarna putih. Begitu pula Ryeowook melakukan hal yang sama.
"Pengantin pria boleh mencium pengantin wanitanya." Ujar pendeta itu lagi.
Senyum lebar Yesung buat diwajahnya. Namja bermata bulan sabit itu mengangkat cadar khas pengantin wanita dan menyampirkannya kebelakang. Ryeowook tampak mengagumkan hati ini dengan riasan yang sempurna untuknya.
Yesung tersenyum. "Kau cantik, Wookie. Kemarin, sekarang, dan selamanya."
Yesung memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ryeowook. Bibir Yesung bertemu dengan bibir kecil milik Ryeowook. Yesung melumatnya sebentar, lalu memisahkan jaraknya lagi. Yesung langsung memeluk tubuh mungil yeojya itu.
"Saranghae, Kim Jongwoon." Ujar Ryeowook setelah tamu mulai riuh bertepuk tangan.
"Aku lebih mencintaimu, Kim Ryeowook."
-000-
Dua minggu mereka berdua di Kanada dan dua minggu mereka menyebrangi seluruh negara yang menyatu dibenua Eropa itu. Genap satu bulan mereka sudah menikah. Semenjak pulih seutuhnya dari kanker setahun lalu, Yesung langsung mengajak yeojya itu menikah. Ryeowook pun tak mampu menolak setelah apa yang Yesung lakukan untuknya.
Kemarin mereka berdua baru saja menginjakkan kaki lagi di Seoul. Banyak penggemar Yesung dan Ryeowook yang sudah menunggu dibandara. Yang aneh, tidak banyak penggemar Yesung yang kecewa karena namja itu sudah menikah. Malah mereka mendukung Yesung. Benar-benar fans yang baik. Tapi penggemar Ryeowook sakit hati semua.
Pasangan suami istri itu sebenarnya juga tidak ingin kembali cepat-cepat. Tapi kerjaan yang menunggu memaksa mereka untuk pulang. Ryeowook kembali berkutat dengan drama musikalnya yang akan tayang perdana tiga minggu dari sekarang. Sedangkan Yesung juga harus menyusun jadwal turnya. Lagipula katanya mereka akan melakukan drama musikal bersama.
Ryeowook baru saja membuka matanya dipagi hari ini. Biasanya ia akan tebangun jam enam pagi, tapi ia telat bangun. Mungkin lelah karena baru sampai setelah melakukan perjalanan 14 jam non-stop dipesawat yang telah mengantar mereka kemarin.
"Selamat pagi."
Kecupan selamat pagi dari Yesung ia terima, semenjak menikah memang mereka selalu melakukan hal ini dipagi hari. Tapi Ryeowook segera mendorong dada bidang tak tertutup milik suaminya itu ketika ia merasakan perutnya berkontraksi tak enak.
Ryeowook berlari kekamar mandi dan memuntahkan isi perutnya ke toilet. Yesung yang panik juga ikutan masuk dan memijit tengkuk Ryeowook. Setelah dirasa cukup, Ryeowook membilas toilet dan membersihkan mulutnya dengan sikat gigi.
"Gwaenchana?" Tanya Yesung dengan raut wajah khawatir.
Ryeowook mengangguk dan mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Yeojya mungil itu memakai kemeja putih Yesung yang tergeletak dibawah, guna menutupi tubuhnya yang hanya memakai dalaman. "Mungkin aku terlalu lelah karena perjalanan kemarin. Sekarang sudah jam berapa?"
"Jam sembilan lebih beberapa menit. Aku tidak usah pergi sajalah hari ini, aku takut kau kenapa-kenapa."
"Ya! Aniya! Lagipula kau harus menjadwalkan kegiatanmu, kan? Nan gwaenchana, hanya kelelahan," Ujar Ryeowook segera. "Kau sudah mau berangkat kan?"
Yesung mengangguk perlahan. "Kalau begitu aku akan menyuruh Heechul noona dan Kris berkunjung untuk menjagamu. Hanya sampai aku pulang nanti siang."
Ryeowook mengangguk dan membiarkan Yesung menelefon Heechul. seperti biasa, dengan pertengkaran kecil barulah Heechul setuju untuk datang beberapa menit lagi. Lagipula rumah Heechul tak jauh dari apartemen Yesung.
Setelah membuatkan sarapan untuk Ryeowook, namja tampan itu langsung pamit pergi. Walau tidak begitu enak, Ryeowook tetap memakan makanan buatan Yesung itu. Ryeowook mau tak mau membiarkan suaminya pergi. Ryeowook juga tak bisa melakukan banyak hal selain mengijinkan, lagipula itu kan urusan kerjaan. Dia bisa apa?
Pikirannya kembali terusik saat dia bangun tidur tadi, mual dan muntah. Ketika mereka bulan madu ke Kanada kemarin, dia juga sudah lelah bahkan sampai mual dipagi hari karena telat makan. Ryeowook juga merasa badannya cepat lelah akhir-akhir ini.
Matanya menatap beberapa pakaian Yesung dan dirinya yang tergeletak dilantai samping ranjangnya. Wajahnya memanas dan merona karena mengingat apa yang sekarang setiap malam ia lakukan. Dengan senyuman malu-malu Ryeowook memungut baju-baju itu dengan membungkuk.
Tes.
Ryeowook menunduk dan menatap tetesan darah yang keluar dari hidungnya. Dengan reflek Ryeowook mengusap hidungnya yang mulai mimisan. Yeojya itu mengambil tisu dan mendongak untuk menghentikan pendarahan dari hidungnya itu.
Ting tong.
Ryeowook menoleh dan menghampiri intercom apartemennya untuk melihat siapa yang datang. Setelah melihat siapa yang datang, Ryeowook membukakan pintu apartemennya secara otomatis.
"Kau baru sampai?"
Ryeowook mengangguk dan membuang tisu bekas mimisannya ke tong sampah. "Semalam. Lelah sekali eonnie…" Keluh Ryeowook.
Heechul hanya tersenyum dan menunjukan Ryeowook sebuah paper bag. Yeojya itu duduk diruang tv dan mengeluarkan soju beserta alat tes kehamilan. Alis Ryeowook bertaut, bingung. "Ini kan masih pagi eonnie, malah bawa soju. Eh itu… alat tes kehamilan?"
"Ya! Kau pasti sudah melakukannya, kan? Sekarang cepat tes dan beritahu aku hasilnya."
Heechul mendorong Ryeowook ke kamar mandi dan membiarkan yeojya itu melakukannya sendiri. Ryeowook mulai mencoba melakukan sesuai prosedur yang ada dibungkus alat itu. Dengan sabar ia menunggu alat itu bekerja. Tak lama, ia membuka penutupnya dan melihat terdapat dua garis berwarna merah disana.
Mata Ryeowook melotot tiba-tiba. "Tunggu, dua garis berarti?!"
Ryeowook sontak berdiri dan menghadap ke cermin yang berada diatas wastafel. Yeojya itu menaikan ujung kemeja kebesarannya sampai kebawah branya. Matanya terus memandangi perut ratanya yang sudah terkandung janin didalamnya. Usapan perlahan Ryeowook lakukan dengan pola searah jarum jam. Perlahan mata yeojya itu berkaca karena terharu.
"Selamat datang, aegya."
xxXxx
Sapphire Blue Series 2
-The End-
Waw! Bagiannya Yewooknya banyak yaaa? Ah… author masih belum puas sama bagian mereka.
Gimana readerdeul? Terhibur nggak? Kalo mau dibikinin NC, review dulu doongg hahaha. Ato mau bikin Sapphire Blue NC Series?! Ah… author mulai yadongnya nih hadeh. Tapi itu ide yang bagus #plakk!
Inilah akhir dari kisah mereka chingunim! Pokoknya happy ending no death chara. Gimana? Seneng kan seneng? Wookienya hamil hadeh jadi pengen liat gimana cara pembuatan babynya #plakk lagi!
Ini balasan reviewnya maaf author agak males jadi kaya gini aja yaaa!
Ini udah dinikahin nih Yewooknya terus Wookie juga udah nggak sakit lagi hehe seneng nggak? Seneng lah yaaa kalo nggak gibeng nih.
Uhh kalo yang Kibum nangis di café, itu karena dia udah ga tahan sama cemoohan fansnya Siwon. Coba aja kalian bayangin sendiri deh kalo jadi Kibummie disitu.
Kayanya sih segitu aja deh ya. Nah gimana bagus ga? Jawab lewat review ya, jangan lupa. Eung? Nanti author kejutkan dengan series terbaru atau ff terbaru deh ya. Terus pantau ff Jongmi, ne? Tunggu-tunggu, yang mau sekuel dari masing-masing couple ayo tunjuk tangan lewat revieeww! Mau yg kaya series satu apa series 2?! Jawab kajja!
Cha! Gamsahamnida! Haja!
