Once Burned (Remake)
Warn: YAOI, BoysLove, typo(s)
Pair: Hunkai
Disclaimer: Novel Once Burned by Jeaniene Frost, Cast(s) milik diri mereka sendiri.
.
.
.
All Jongin's POV
Jackal melemparkan ikat pinggang yang sudah setengah meleleh ke arahku. "Coba lagi. Mengetahui dia ada di rumahnya bukanlah informasi yang berguna. Kita harus tahu dimana dia akan berada setelah dia meninggalkan bentengnya itu, bukan saat dia aman berada di dalamnya."
Aku meoleh ke jam yang ada di meja samping tempat tidur. Sudah pukul dua dini hari, lebih dari delapan jam sejak aku berbicara dengan Sehun atau seperti yang dia bilang Vlad-yang sangat membanggakan statusnya sebagai vampir hingga memilih nama itu. Apa yang menghambatnya datang? Apakah dia memutuskan vampir-vampir ini tidak layak dibunuh? Aku ingin sekali menyentuh ikat pinggang itu dan mencari tahu, tapi aku tidak tahu apakah aku masih bisa memperdaya keempat vampir ini. Jackal berjanji memberiku waktu satu jam, tapi baru tiga puluh menit dia sudah kembali.
"Aku kelelahan," kataku, sambil menggosok keningku agar telihat lebih meyakinkan. "Mengalami lagi kematian-kematian itu, berulang kali mencoba terhubung pada seseorang di masa sekarang... semua itu menguras tenagaku." Dan aku juga mengalami sakit kepala berat, tapi aku rasa mereka tidak memerduliknanya.
"Kau ingin aku membangunkanmu dengan ini?" bentak Psyco, sambil memperlihatkan taringnya padaku.
Jackal menghetikannya. "Itu tidak perlu," ujar Jackal dengan suara menenangkan. "Kai yang malang kelelahan. Sebaiknya kita membiarkan dia tidur. Aku tahu... ayo kita pergi makan malam. Aku melihat keluarga yang terlihat lezat di kamar 302. Jumlah mereka cukup banyak untuk memuaskan kita semua."
Perutku bergolak, karena kilat dingin di mata Jackal mengatakan bahwa dia bukan sekedar menggertak. Pervert, Twitchy, dan Psycho menyeringai, menantangku untuk bertindak. Aku bangun dari tempat tidur.
"Izinkan aku buang air kecil dan membasuh wajahku dengan air, setelah itu aku akan mencoba menemukannya lagi," kataku, dalam hati mengumpat mereka. Aku berjalan ke kamar mandi dan menutup pintunya. Syukurlah tidak ada satupun dari mereka yang bersikeras menemaniku.
Taktik itu hanya untuk mengulur waktu beberapa menit. Tidak lama kemudian aku sudah kembali ke tempat tidur, gemetar oleh embusan angin dari pendingin ruangan, dan mengambil pisau perak yang tegeletak di meja.
"Kenapa tidak mengambil ikat pinggang?" tanya Jackal tiba-tiba menghentikanku.
Aku memelototkan mata padanya, terlalu marah atas ancamannya tadi dan khawatir Sehun akan berubah pikiran "Akan lebih mudah untuk menciptakan koneksi dengan sesuatu yang pernah kugunakan sebelumnya."
Jackal mendengus. "Baiklah. Lakukan, dan kami tidak akan meninggalkanmu, kecuali kau ingin kami memakan keluarga itu."
Amarahku semakin berkobar, tapi aku mengatupkan bibirku tidak mengatakan apa-apa, hanya mengambil piaau perak itu. Kematian Neddy mengisi pikiranku lagi, dan aku mencoba menepiskan bayangan itu sampai aku menemukan koneksi dengan si vampir pemantik api. Yang membuatku terkejut, tidak butuh waktu lama bagiku untuk menemukannya. Bentangan luas berwarna ungu gelap menggantikan menggantikan kamar hotel yang ada di sekelilingku. Sehun berada di bentangan luas itu, matanya berkilau hijau bak zamrud saat dia menatap sesuatu yang tidak bisa kulihat.
Selama sejenak aku kebingungan. Sehun terlihat seperti sedang berenang di bentangan gelap itu, tapi mantel abu-abunya tidak basah. Apa...?
"Aku bukan sedang berenang, Jongin. Aku sedang terbang."
Suara Sehun terngiang di pikiranku, terdengar geli. Aku menyadari bentangan luas disekelilingnya bukanlah air, tapi langit malam. Sehun pasti terbang cukup tinggi. Aku tidak bisa melihat secercah cahaya pun di bawahnya.
Jika aku bisa bertahan hidup setelah melewati semua ini, aku akan menendang bokong Jongsuk hyung karena tidak pernah mengatakan padaku bahwa sebagian vampir bisa terbang! Apa Jongsuk juga bisa terbang? Bagaimana jika semua vampir bisa terbang? Jika benar begitu, maka mustahil bagiku untuk bisa melarikan diri dari sini...
"Siapa Jongsuk? Kau tidak pernah menyebut dia sebelumnya." Suara dingin Sehun menyela lamunanku.
Jongsuk juga vampir, pikirku, masih berusaha menyerap informasi baru tadi. Tapi dia tidak terlibat dengan semua ini, tapi saat ini dia pasti sedang mengkhawatirkanku.
"Kau milik vampir lain?"
Nada curiga terdengar lagi dalam suara Sehun, dan dari caranya mengatakan 'milik' menyiratkan makna seksual atau penyedia makan. Atau mungkin keduanya. Aku cemberut, lupa bahwa Sehun tidak bisa melihatnya.
Bukan! Kami bekerja bersama dan kami berteman, tapi hanya itu saja.
Iih, aku tidak bisa mencegah seruan itu. Jongsuk sudah seperti hyung untukku atau bahkan ayah keduaku. Membayangkan dia menancapkan taringnya-atau bagian tubuh yang lain- ke tubuhku membuatku mual.
Kenapa kau lama sekali? pikirku, kembali ke topik yang paling penting. Sudah berjam-jam aku menunggumu. Apakah kau berubah pikiran?
Sehun terdengar seperti mendengus, tapi dengan embusan angin disekelilingnya, aku tidak bisa memastikannya.
"Aku tidak berubah pikiran. Rumahku sangat jauh dari Korea."
Jadi Sehun masih di perjalanan. Kelegaan bercampur dengan kegelisahan. Mereka memaksaku untuk menemukanmu lagu, kataku pada Sehun. Aku mencoba mengulur waktu, tapi mereka mengancam akan memakan sebuah keluarga yang menginap di hotel ini. Mengatakan pada mereka bahwa kau berada di rumahmu tidak dianggap informasi yang cukup bagus, dan mereka ingin tahu dimana kau berada saat kau pergi dari rumahmu.
Seringaian tersungging di bibir Sehun. Aku tidak menemukan ada yang lucu dari pertanyaanku tadi, tapi kami pasti memiliki selera humor yang berbeda.
"Apakah sekarang mereka ada bersamamu?"
Saat ini aku tidak bisa melihat mereka, tapi aku tahu Jackal, Twitchy, Pervert dan Psyco pasti masih berada di sekitarku.
Iya. Kali ini mereka tidak mau membiarkanku sendirian.
"Bagus."
Jika saja aku tidak tahu keempat vampir itu bisa mendengarku, aku pasti sudah mendengus dengan keras. Setidaknya Sehun bisa berpura-pura peduli pada leherku yang akan dijadikan botol jus.
Sehun tergelak, menepiskan lengan mantelnya untuk melihat sesuatu. Apa pun yang dilihat Sehun sepertinya akan membuatku senang, karena dia menyeringai lagi.
"Aku ingin kau mulai membuat narasi, Jongin. Katakan pada mereka apa yang sedang kau lihat sekarang."
Kenapa? aku hampir mengatakannya dengan lantang tapi aku berhasil menahan diri tepat pada waktunya.
Tatapan sehijau zamrud itu seperti disorotkan padaku. "Karena aku menyuruhmu melakukannya," ujar Sehun, nada suaranya menegaskan bahwa dia tidah suka perintahnya dipertanyakan.
Aku harap ini tidak akan membuatku terbunuh, pikirku dengan jengkel. Tanganku mencengkram pisau perak dengan kuat. Mungkin hanya itu satu-satunya harapanku jika rencana ini gagal dan Jackal menyadari bahwa kontakku dengan Sehun terjalin dua arah.
"Aku bisa melihatnya," kataku dengan lantang. Jika aku percaya pada Tuhan, aku pasti sudah mulai berdoa.
Di tengah-tengah embusan angin yang ada di sekitar Sehun, aku mendengar suara Jackal. Aku merasakan tangan Jackal mengguncang bahuku.
"Di masa sekarang? Atau di masa depan?"
"Di masa sekarang," kataku, sekali lagi aku berharap aku tidak sedang menandatangani vonis matiku. "Dia sudah tidak berada di rumahnya lagi. Dia sedang terbang."
Guncangan tangan Jackal semakin kuat. "Dia terbang diatas apa, Kai?"
"Mana kutahu?" jawabku sejujurnya. "Semua terlihat gelap. Aku tidak bisa melihat banyak... tunggu."
Sehun meluncurkan tubuhnya ke bawah. Suara angin terdengar semakin kencang. Di kejauhan, aku melihat secercah cahaya.
"Sekarang dia berada di tempat yang berpopulasi. Aku bisa melihat cahaya. Banyak sekali."
Tamparan membuat pipiku terasa seperti terbakar "Dimana?! Aku butuh sesuatu yang lebih spesifik daripada 'berpopulasi' dan 'cahaya', dasar kau manusia bodoh!"
Aku ingin mengusap pipiku, tapi aku tidak melakukannya karena aku harus memfokuskan seluruh perhatianku untuk menjaga kontak dengan Sehun. Aku harap kau akan menyiksanya dengan sadis saat kau sampai disini! bentakku dalam hati.
Seringaian Sehun melebar, memperlihatkan taring yang tajam. "Aku akan mengingatkanmu nanti bahwa kau sendiri yang memintanya."
Kemudia Sehun memiringkan tubuhnya ke area yang lebih landai. Kilau cahaya di bawahnya menjadi lebih terang, benda-benda mulai berbentuk. Aku menyipitkan mata untuk bisa melihat dengan lebih baik, berharap Sehun sudah dekat.
"Kelihatannya... dia terbang diatas taman hiburan," lanjutku, Sehun terbang dengab sangat cepat, sehingga sulit untuk memastikannya "Sepertinya aku baru saja melihat sebuah wahana di taman hiburan."
Jackal tidak menamparku lagi, tapi jika dia mengguncang bahuku lebih keras lagi, dia mungkin akan membuat engsel bahuku terlepas. "Taman hiburan apa?!"
"Hentikan itu!" bentakku, amarah sudah menguasaiku. "Apa kau ingin aku kehilangan kontak dengannya? Berhentilah mengganggu konsentrasiku dengan mengguncang-guncangkan bahuku."
Guncangan itu berhenti, tapi tangan Jackal serasa seperti bola salju diatas lengan atasku. "Taman hiburan apa ulangnya?"
"Sudah terlambat untuk memastikannya, dia sudah melewatinya sekarang. Aku melihat banyak sekali atap dan gedung..."
Kegembiraan menguasaiku. Aku juga melihat air tadi. Dan Seoul memiliki taman hiburan diatas air. Jika Sehun baru saja terbang melewati Lotte World, maka dia mungkin hanya berjarak kurang dari sejam dari hotel ini.
Apakah itu tempatmu berada sekarang? itu bunyi pesan yang kukirim pada Sehun. Di Seoul?
Jawaban yang kudapatkan hanya berupa seringaian tapi pemandangan buram di bawah Sehun mulai terlihat lebih jelas. Butuh waktu sedetik bagiku untuk menyadari alasannya.
"Dia melambat. Meluncur turun..."
Jantungku mukai berdetak lebih cepat. Aku tidak ahli mengenali lokasi dari atas, tapi sepertinya jejeran gedung yang baru saja dilewati Sehun terlihat familier.
"Bagaimana?" Cengkraman tangan Jackal menguat lagi. "Apa yang kau lihat?"
Gemuruh di dadaku tetus berlanjut saat aku melihat bangunan yang sekarang benar-benar kukenali.
"Dia berada di atas sebuah jalan yang ramai. Aku masih belum bisa melihat nama jalannya, tapi dia... sepertinya dia melambat lagi."
"Jalan?" Tiba-tiba saja, Jackal terdengar gelisah. Cengkraman tangannya mengendur.
Aku memegangi pisau perak seolah hidupku bergantung pada benda itu. "Iya. Sekarang dia mengarah ke pusat kota. Aku melihat banyak sekali gedung... dia turun lebih rendah lagi... Aku bisa melihat salah satu papan namanya..."
"Apa yang tertulis di papan nama itu?" sela Jackal, suaranya terdengar mendesak. "Apa yang tertulis disana, Kai?!"
Aku melepaskan kontakku dengan Sehun, karena aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Kamar hotel serasa berputar disekelilingku dengan serangkaian warna, menelan kegelapan yang tadi menyelimuti Sehun. Jantungku berdetak cepat seperti hendak melepaskan diri dari kukungan dadaku dan keringat membuat pisau ditanganku nyaris terlepas.
"Disana tertulis," ujarku, ketegangan dan kebulatan tekad membuat suaraku lebih lantang,
"Red Roof Inn."
Pyarrr.
Aku hanya bisa meresapi syok mereka selama sejenak, sebelum jendela kamar hotel hancur akibat terjangan sesuatu yang besar.
Waktu berjalan dengan sangat cepat. Satu detik aku dihujani pecahan kaca, dan detik berikutnya aku didorong ke sudut, menatap punggung pria berambut pirang dalam balutan mantel besar. Sebelum aku sempat mengerjapkan mata, api sudah membakar dinding dengan gelombang dahsyat berwarna oranye-merah, menutupi setiap senti ruangan itu kecuali bagian tempatku berada.
"Aku dengar kalian mencariku," ujar suara yang sekarang sudah tidak asing lagi di telingaku.
Asap dan panas mendorongku untuk mencari jalan keluar, tapi sebelum aku bisa merangkak pergi, sesuatu meledak di depanku. Semua terjadi dengan cepat, hingga membuatku teringat pada film kartun yang pernah kutonton saat masih kecil, hanya saja kali ini potongan tubuh yang terlempar kesana-kemari memang benar-benar nyata. Dengan kecepatan mereka yang mengagumkan dan asap yang membuat segalanya terlihat samar, aku tidak bisa memastikan siapa yang menang, atau apakah ada lebih dari dua orang yang terlibat pertarungan itu.
Jika aku sampai terjebak di tengah-tengah pertarungan mematikan itu, maka tamatlah riwayatku, tapi hanya ini satu-satunya kesempatan yang kumiliki. Aku menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, terbatuk oleh napas yang kuhirup, dan merangkak ke stopkontak listrik terdekat. Kemudian aku meletakkan tangan kananku di sana, merasakan sengatan listrik yang tiba-tiba, saat arus listrik ditubuhku terhubung dengan arus listrik yang ada di stopkontak.
Energi memenuhiku seperti adrenalin yang berpacu ke jantung, diikuti oleh rasa sakit disekujur tubuhku. Lampu berkedip, tapi bahkan dalam kegelapan dan mataku yang berair karena asap, aku masih bisa melihat jendela yang dihancurkan oleh Sehun. Api dan potongan kaca masih hinggap di bingkai jendela, membuatnya terlihat seperti mulut neraka. Beberapa meter dari sana, beberapa vampir terlibat dalam pertempuran mematikan yang sulit dilihat oleh mata telanjang. Tidak ada satu pun yang membuatku ragu-ragu. Aku menarik napas lagi, kemudian menghambur kearah jendela, dan melompat keluar pada detik terakhir seolah lantai kamar adalah papan loncatan.
"Jongin, jangan!" teriak sebuah suara yang terdengar serak.
Terlambat, bukan berarti aku berniat menurutinya. Lompatanku cukup tinggi dan aku langsung bergelung seperti bola, kemudian aku berguling segera setelah aku menyentuh permukaan tanah. Aku menggunakan lenganku untuk melindungi kepalaku agar tidak terkena benturan, sampai sesuatu yang keras menghentikan gulingan tubuhku. Udara tersedot dari paru-paruku akibat tabrakan itu, rasa sakit menyebar disekujur tubuhku.
Aku ingin tetap bergelung seperti bola; tapi tidak ada waktu untuk itu. Aku bangun, menilai pilihanku. Aku menghantam bagian depan mobil saat menjatuhkan diri tadi, tapi selain itu, yang kulihat hanyalah pelataran parkir yang gelap. Aku menggeleng untuk menyingkirkan suara berdengung di telingaku, yang mungkin menyiratkan gegar otak ringan, dan langsung berlari secepat yang mampu dilakukan oleh kakiku yang sakit.
"Hentikan dia!" perintah sebuah suara dibelakangku.
Aku menoleh ke belakang sambil mempercepat langkahku. Asap dan api masih tampak di jendela yang rusak, tapi tidak ada seorang pun yang mengejarku. Jika aku beruntung, mereka akan cukup sibuk dengan petugas kebakaran sehingga tidak sempat mengejarku. Selamat tinggal, para penghisap darah! pikirku, tersenyum di sela-sela sakit yang menjalar di tubuhku. Sayang sekali aku tidak memakai sepatu berlariku saat diculik.
Entah dari mana, sesuatu menarikku dari belakang, melingkari perutku dengan sesuatu yang terasa seperti gelang besi. Aku menunduk, nyaris muntah karena dihentikan dengan sangat tiba-tiba. Selama sedetik yang membingungkan, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kemudian aku melihat lengan gelap melingkari pinggangku dan merasakan sesuatu yang besar dan solid di belakangku.
"Aku mendapatkannya," terdengar teriakan seorang pria. Kemudian mulut yang dingin menekan telingaku. "Jangan gunakan pistol listrikmu lagi. Itu tidak akan bisa menjatuhkanku."
Tunggu sampai penyerangku yang baru ini menyadari bahwa sekujur tubuhku adalah pistol listrik. Dia pasti vampir, kerana jika dia manusia, dia pasti sudah terkapar di tanah saat menyentuhku setelah arus listrik tambahan yang kuserap dari stopkontak-sekarang sekujur tubuhku mengalirkan listrik bertegangan tinggi. Tangan kananku menjadi senjata yang mematikan, tapi aku membutuhkan kesempatan yang lebih baik untuk bisa memanfaatkannya secara maksimal.
"Baiklah," kataku, mencoba terdengar tunduk. "Kau menyakitiku," tambahku, untuk melihat apakah itu bisa membuatnya mengendurkan cengkramannya.
Ternyata benar. Jadi penyerangku kali ini tidak sekejam Jackal dan teman-temannya. Tanpa adanya cengkraman kuat yang membuatku lumpuh, aku bisa bergeser sedikit untuk menoleh ke belakang.
Vampir yang memegangiku ternyata pria Afrika-Amerika yang sebelumnya kulihat berbicara dengan Sehun. Sepertinya Sehun datang membawa bala bantuan, tapi menjadikanku sebagai sandera bukanlah bagian dari kesepakatan kami. Pria itu menatapku dari kepala sampai kaki, meringis saat tatapannya menangkap bekas luka di leher belakangku yang sampai kepunggungku tapi tertutup bajuku.
Aku sudah terbiasa melihat reaksi kasihan semacam itu; bahkan aku sudah tidak lagi merasa minder. Saat ini, aku bertekad untuk memanfaatkan semua keuntungan ynag kudapatkan dari rasa kasihan orang lain.
"Sepertinya pergelangan kakiku terkilir," kataku, sambil mengangkat sebelah kakiku untuk lebih meyakinkan. Hei aku semakin ahli berbohong!
"Bisakah kau memeriksanya?" Vampir itu melepaskanku, dan mulai berlutut seperti yang kuharapan. Perhatiannya terfokus ke pergelangan kakiku, saat aku mengelurukannya dan menunduk ke depan seolah sulit bagiku untuk menjaga keseimbangan. Satu sentuhan tangan kananku di kepalanya sudah cukup untuk membuatnya lumpuh selama beberapa saat, dan dengan begitu aku memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Aku mengulurkan tangan...
"Sentuh dia, dan aku akan melanggar janjiku untuk tidak menyakitimu."
Suara Sehun membelah udara malam, membekukan tanganku yang hanya berjarak beberapa senti dari kepala targetku. Vampir itu langsung berdiri, melompat mundur dengan waspada. Sial! jeritku dalam hati. Bagaimana Sehun bisa tahu apa yang akan kulakukan?
"Dengan cara yang sama aku bisa tahu kau memata-mataiku," jawab Sehun dengan geli. "Kau memiliki kemampuan yang tidak biasa. Begitu pula aku, dan membaca pikiran adalah salah satunya."
Membaca pikiran. Tidak heran dia bisa mendengarku saat sedang terhubung dengannya! Dengan perlahan aku berbalik ke arah suaranya. Api masih menyala dari hotel, menerangi Sehun dengan cahayanya berwarna oranye. Sehun berjalan ke arah kami dengan menyeret seseorang yang begitu dipenuhi jelaga dan luka sehingga kau tidak bisa mengenalinya.
"Dimana yang lain?" tanya ku, berusaha untuk terdengar tenang.
Wajah Sehun masih tertutup asap dan bayangan, tapi aku melihat sederet gigi putih saat dia tersenyum.
"Sudah menjadi abu."
Tawanan Sehun mencoba untuk melepaskan diri, tapi cengkraman tangan Sehun menguat sampai jari- jari Sehun menghilang dalam kulit kehitaman di bawahnya. Aku memalingkan wajah, perutku bergolak. Terdengar suara sirene di tengah-tengah gumaman para tamu hotel yang keluar dari kamar mereka untuk menonton kebakaran. Sehun tidak terpengaruh, seolah membakar kamar hotel dan menyandera vampir yang babak belur adalah hal yang biasa dilakukannya pada Kamis malam.
"Kau mendapatkan apa yang kau inginkan," kataku masih berusaha terdengar tenang. "Kesepakatan kita sudah berakhir, dan kau harus melepaskanku."
Tatapan sehijau zamrud iru seperti menusukku. "Aku setuju untuk tidak meyakitimu dan aku tidak melakukannya. Sementara untuk melepaskanmu, aku akan melakukannnya... setelah kita berbicara lebih jauh."
Keputusasaan menyapuku. Ide Sehun tentang pembicaraan lebih jauh mungkin melibatkan penyiksaan yang diikuti oleh eksekusi. Seharusnya aku tahu bahwa seseorang yang bisa dengan santainya membakar orang hingga mati tidak akan bisa memenuhi janjinya untuk melepaskan aku. Tapi kemudian, ajaibnya, aku mendengar suara Jongsuk hyung di sela-sela sirene pemadam kebakaran.
"Lari, Kai, lari!"
Sehun berbalik ke arah suara itu tepat pada waktunya untuk melihat Jongsuk menghambur ke arahnya seperti orang yang ditembakan dari meriam. Aku bertanya-tanya kenapa Jongsuk tidak melakukan apa pun selama aku diculik, tapi dia pasti mengikuti dan bersembunyi sampai ada kesempatan terbaik untuk menyelamatkanku. Masalahnya adalah, kesempatan terbaik itu tidak pernah datang.
Kali ini, segalanya seperti terjadi dalam gerakan lambat dan bukannya secepat kilat seperti sebelumnya. Teman Sehun mengeluarkan pisau perak dan mendorongku ke tanah. Sehun tidak berusaha menghindari serangan Jongsuk, justru terus memegangi vampir babak belur tadi sambil membuka lebar kakinya, seolah Sehun menantang Jongsuk untuk menjatuhkannya. Saat itu gelap, tapi sepertinya aku melihat ekspresi penuh tekad Jongsuk sesaat sebelum tubuhnya menghantam tubuh Sehun. Seperti orang yang terperangkap dalam mimpi buruk, aku mengamati Sehun menerima hantaman itu dengan tubuh tegak berdiri, tangan Sehun yang mematikan mengeluarkan api saat terukur kearah Jongsuk.
"Jangan!" jeritku.
Bukannya berlari seperti yang diperintahkan Jongsuk, aku justru melempar diriku ke Sehun. Tangan kananku mendarat di kaki Sehun, keputusasaan membuat arus listrik di dalam tubuhku menyengat Sehun dengan kekuatan yang lebih besar dari biasanya.
Karena panik dan arus listrik yang tadi kuserap dari stopkontak, seharusnya Sehun terlempar ke seberang pelataran parkiran. Tapi Sehun tetap berdiri di tempatnya, satu-satunya efek yang terlihat hanyalah tubuh Sehun yang bergetar dan bau udara murni yang mengalahkan bau asap. Tangan Sehun yang terbakar sudah menarik Jongsuk sebelum aku sempat melihatnya bergerak, kemudian kepala Sehun menoleh ke arahku, mata hijaunya bertemu pandang dengan mataku yang syok.
"Itu," desis Sehun, "sangat kasar."
Melihat Sehun memegangi dua vampir yang meronta adalah hal terakhir yang kulihat sebelum pandanganku menggelap. Pelataran parkir dan hotel yang terbakar menghilang, digantikan oleh pepohonan yang menjulang tinggi dan sungai yang berkelok.
Aku berlutut di tepi sungai yang berbatu, pakaianku basah, tapi aku tidak memperhatikan rasa dingin yang menusuk tubuhku. Aku tidak bisa merasakan apapun selain rasa sakit yeng terasa seperti kobaran api di pembuluh darahku, terus membesar sampai aku menyentakkan kepala ke belakang dan meraung pilu.
Wanita dalam dekapanku tidak bereaksi. Tidak ada napas yang menggerakan bibirnya, dan matanya terus menatap kosong ke depan. Aku memeluknya lebih erat, rasa sakit semakin menyiksaku seolah tubuhkulah yang hancur dan bukan tubuhnya. Meskipun aku memiliki kekuatan baru yang dasyat, aku tidak pernah merasa lebih tidak berdaya daripada sekarang. Kematian telah mencuri wanita yang kucintai, dan dia akan selamanya berada di luar jangkauan tanganku.
kesadaran itu membuat raungan baru terlontar dari mulutku, keputusasaan yang bercampur dengan kedukaan mengancam akan menghancurkan aku hingga berkeping-keping. Akulah penyebab semua ini. Sungai mungkin bisa mengapus semua jejak darahnya, tapi noda darahnya ditanganku akan bertahan selamanya.
"Pegangi mereka," perintah sebuah suara.
Wanita, sungai, dan hutan menghilang, digantikan oleh asap yang membumbung tinggi dan pelataran parkir Red Roof Inn. Yang membuatku sangat lega, Jongsuk masih hidup, meskipun dia terlihat seperti baru saja dipanggang setengah matang. Sehun menyerahkan Jongsuk dan vampir yang menculikku ke temannya. Aku sendiri berada di tanah dengan posisi berlutut, air mata membasahi pipiku karena merasakan kenangan tergelap Sehun. Sejujurnya aku mengharapkan gambaran yang lebih sadis saat menyentuh si vampir pemantik api itu, tapi sepertinya yang meninggalkan luka terdalam dalam jiwa Sehun adalah rasa kehilangan, bukannya pembunuhan.
Begitu Jongsuk dan vampir satu lagi berada di tangan temannya, Sehun berlutut disampingku. Tangan Sehun tidak lagi dipenuhi api, tapi itu mungkin karena mobil pemadam kebakaran sudah dekat dan Sehun tidak mau menarik perhatian. Suara raungan sirene seperti menusuk-nusuk kepalaku, tapi meskipun vampir memiliki pendengaran yang lebih tajam, sepertinya Sehun sama sekali tidak terganggu.
"Berhentilah menangis," ujar Sehun singkat. "Aku tidak akan membunuhmu, jika itu yang membuatmu histeris seperti ini."
Sehun berpikir aku jatuh berlutut dan menangis tersedu karena aku takut mati? Gema raungan kesedihan Sehun masih bergema di dalam pikiranku, hingga membuat dengusan ironisku terdengar seperti endusan.
"Ini air matamu, bukan air mataku. Siapa pun wanita itu, kau benar-benar hancur karena kematiannya."
Alis Sehun bertaut. Sehun berada cukup dekat denganku hingga aku bisa melihat meskipun Sehun baru saja membakar beberapa barang-dan orang-dia tidak sedikitpun mengalami luka bakar.
"Omong kosong apa ini?"
"Jangan katakan apapun padanya, Kai," desis Jongsuk.
Aku menoleh ketemanku, tapi suara dingin Sehun mengalihkan lagi perhatian ku padanya.
"Bawa mereka pergi, Shrapnel. Aku akan menemuimu nanti."
Aku menghentikan diriku sebelum menyetuh Sehun untuk memohon. Menyetrum Sehun lagi tidak akan membantuku meyakinkannya agar melepaskan Jongsuk.
"Jangan bunuh dia, dia hanya berusaha melindungiku. Dia Jongsuk hyung, dan dia tidak tahu bahwa aku, um, memanggilmu. Dia mungkin berpikir kau bagian dari komplotan vampir yang menculikku."
Jongsuk yang malang. Dia mengikuti Jackal dan yang lain, menunggu sampai dia mendapat kesempatan yang lebih baik. Bagaimana mungkin Jongsuk bisa tahu bahwa Sehun lebih tangguh dari keemoat vampir itu dijadikan satu? Tentu saja, jika Sehun sudah membuat keputusan untuk membunuh Jongsuk, permohonanku agar Jongsuk tidak dilukai tidak akan dianggap. Sehun sanggup membunuh, tapi kenangan yang kualami setelah menyentuh Sehun membuatku berharap ada sisi lain dari Sehun, selain kecenderungan untuk membakar orang.
Wajah Sehun mengeras. "Kenangan apa?"
Benar. Sehun memiliki kemampuan untuk membaca pikiran. Itu membuat desakan Jongsuk agar aku tidak mengatakan apa yang kulihat pada Sehun menjadi sia-sia.
"Kau dan wanita yang mati di tepi sungai," jawabku. "Aku sudah mengatakan padamu aku bisa menarik kenangan dari orang atau benda yang kusentuh. Aku melihat wanita itu saat aku menyentuhmu, dan aku menangis karena aku merasakan apa yang kau rasakan hari itu."
Sehun menatapku dengan ketajaman yang membuat mataku sakit. Tapi aku tidak mengalihkan pandanganku. Sehun mungkin bisa membaca pikiranku, tapi aku telah membuka luka lama yang disembunyikan di dasar jiwanya yang terdalam. Aku tidak boleh menjadi pengecut dan menghindari tatapannya.
"Pastikan mereka berdua tetap hidup, Shrapnel," ujar Sehun kemudian. "Aku akan bergabung denganmu nanti."
Dari sudut mataku aku melihat Shrapnel mengangguk. Kemudian Shrapnel... menghilang. Entah transportasi adalah salah satu kekuatan vampir yang lupa disebutkan Jongsuk, atau Shrapnel memang mampu bergerak lebih cepat dari cahaya.
Sehun berdiri, matanya yang tadi berwarna sehijau zamrud sekarang sudah kembali ke warna tembaga gelap.
"Kau ikut denganku," tegas Sehun, sambil mengulurkan tangannya.
Aku menatap tangan itu, tapi tidak bergerak untuk meraihnya. "Jadi kau akan mengingkari kesepakatan kita."
"Aku tidak suka disebut pembohong, dan kau harus ingat itu," jawab Sehun dengan nada suara yang membuatku merinding. Kemudian senyuman tipis tersungging di bibir Sehun. "Kita harus bicara dan kita tidak bisa melakukannya disini karena terlalu banyak orang. Kau tahu aku bisa mengalahkanmu dengan mudah, meskipun kau memiliki bakat yang tidak biasa, jadi tindakan cerdas yang bisa kau lakukan adalah meraih tanganku."
Iya, aku sangat sadar jika Sehun bisa mengalahkanku dengan sangat mudah. Aku sudah memberinya sengatan listrik dengan dosis paling tinggi yang pernah ku keluarkan, tapi itu hanya membuatnya kehilangan keseimbangan sebentar. Saat ini, meraih tangan Sehun bukan hanya tindakan cerdas. Tapi hanya itu tindakan yang bisa kulakukan.
Aku meraih tangan Sehun dengan tangan kiriku. Sehun mengabaikannya, mulut Sehun berkedut saat menggenggam tangan kananku. Arus listrik menyengat Sehun, tapi dia tidak menarik tangannya.
"Maaf," gumamku.
Sehun mendengus. "Aku bisa mengatasi efek dari sentuhanmu, jika kau bisa mengatasi efek dari menyetuhku."
Aku hendak mengatakan pada Sehun bahwa aku hanya menarik kenangan orang dari sentuhan pertama, tapi rasa tubuh Sehun saat dia menarik tubuhku mendekat membuatku kehilangan konsentrasi. Sekujur tubuh Sehun memancarkan panas, menembus lapisan pakaianku saat pria itu melingkupiku dengan dekapannya. Biasanya tubuh vampir memiliki suhu ruangan, tapi tubuh Sehun terasa seperti perapian. Sebelum aku sempat menanyakan itu, atau menanyakan kenapa Sehun memelukku, Sehun sudah membawa kami naik ke langit, dengan angin meredam teriakan kagetku.
.
.
.
TBC
A/N:
Saya nggak bakal ngoceh hari ini karena lagi beneran capek jadi sekian dulu.
Ciao~
