Disclaimer : Punya SE, ga mungkin punya saya
Ok Di chapter ini tidak ada POV siapa-siapa. :) Jadi ga ngebingungin
Mobil mereka akhirnya sampai di depan bangunan yang terpasang spanduk bertuliskan '7th Heaven'. "Kita sudah sampai!" Kata Reno. Gillie langsung turun dari mobil dengan senang, sudah lama juga ia tidak kesini. Halaman di depan 7th Heaven lumayan luas, jadi Rude bisa mudah mencari parkiran. Gillie memperhatikan di sekitarnya, orang yang pertama dilihatnya adalah seorang anak perempuan berambut coklat dikepang dan memakai pita warna pink. Gadis kecil itu melihat kedatangan Gillie dan wajahnya langsung cerah.
"Marlene!" Panggil Gillie sambil melambaikan tangan.
"Gillie!" Marlene berlari ke arah Gillie dan memeluk pinggangnya. "Aku kangen padamu!"
Gillie juga kembali memeluk tubuh mungil Marlene. "Aku juga kangen padamu, Marlene." Marlene tertawa kecil, lalu melihat ke arah dua orang yang ada di belakang Gillie. "Aku juga kangen om Reno dan om Rude!"
Senyum Reno langsung lenyap. "Hei gadis kecil, jangan panggil aku 'om'. Aku ini masih muda, seharusnya dia yang cocok dipanggil begitu." Katanya menunjuk Rude dengan jempolnya. Rude hanya diam, dia sadar bahwa ia memang mempunyai tampang om-om daripada Reno, walaupun sebenarnya dia juga ingin protes. Marlene dan Gillie tertawa.
"Marlene, apakah Tifa ada di dalam?" Tanya Gillie.
"Ada! Ayo masuk!" Kata Marlene menarik tangan Gillie masuk ke dalam bar. Reno ingin masuk juga, tapi tiba-tiba bahunya dipegang oleh Rude, membuat ia tidak jadi melangkahkan kakinya. "Ada apa Rude?" Tanya pemuda rambut merah itu bingung.
"Reno, apakah aku terlihat keren? Atau ada yang berubah?" Tanya Rude sambil merapikan kerah dan dasinya.
"Hah?" Reno bengong beberapa menit, kemudian matanya melihat Rude dari atas sampai bawah, menurutnya tidak ada yang berubah sama sekali. "Kau terlihat sama saja. Tumben kau menanyakan penampilanmu, seperti mau bertemu dengan orang penting saja."
Rude diam, sedangkan Reno baru teringat sesuatu. "Oooh aku tahu....karena ada Tifakan??" Kata Reno dengan nada menggoda. Wajah Rude memerah, ia berusaha menyembunyikan wajahnya dari Reno, tapi gagal. Reno masih tersenyum lebar. "Tenang saja, kau sudah ok! jangan pikirkan itu, karena setiap hari kau juga selalu rapi."
"Benarkah? Aku sudah keren?" Tanya Rude, ragu akan perkataan Reno.
"Iya benar, kau sudah....yah..keren." Kata Reno berusaha menahan tawanya, lalu pergi menuju ke dalam bar. Rude masih berdiri di belakang, dia lalu merapikan sekali lagi kerah dan dasinya, membenarkan letak kacamata hitamnya, lalu mengeluarkan parfum dan menyemprotnya ke jas hitamnya. Setelah merasa penampilannya sudah ok, Rude menarik nafas panjang dan berjalan ke arah bar.
"Tifa! Tifa! Gillie datang!" Teriak Marlene. Seorang wanita berambut hitam panjang melihat ke arah mereka. Tifa tersenyum senang dan segera keluar dari meja counternya. "Hei Gillie, selamat datang!"
"Tifa!" Gillie memeluk wanita itu. Tifa adalah mantan anggota Avalanche, itu adalah nama dari organisasi pembasmi vampire yang didirikan Angeal, kakek Gillie. Dia berhenti karena dia harus menjaga anak-anak yatim piatu di 7th Heaven, jadi Gillie jarang bertemu dengannya. Tapi Cloud selalu menceritakan keadaannya disini.
"Kau datang bersama siapa?" Tanya Tifa.
"Aku bersama Reno dan Rude. Kami baru dari pemakaman tadi." Jawab Gillie.
Tifa memasang muka sedih. "Gillie, aku turut berduka cita atas kematian Shelke. Maaf, aku tidak ikut melayat tadi.."
"Tidak apa-apa kok, aku mengerti kau sangat sibuk."
"Tapi kau tidak apa-apakan?" Tanya Tifa cemas, memegang bahu Gillie.
Gillie menggeleng. "Aku memang sangat sedih ketika mendengar itu, tapi sekarang sudah baik-baik saja."
Tifa tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Oh, ngomong-ngomong Reno dan Rude mana?"
"Tadi mereka ada di belakangku, kenapa mereka belum masuk?"
"Ah itu mereka!" Kata Marlene memperhatikan Reno dan Rude yang baru masuk. Reno nyengir ke arah Tifa sedangkan Rude tetap stay cool, padahal jantungnya sudah berdetak kencang sekali. Tifa langsung menebarkan senyum manisnya pada mereka, membuat wajah Rude memerah lagi dan mengalihkan pandangannya dari Tifa.
"Kenapa kalian lama masuknya?" Tanya Gillie.
Reno tertawa. "Biasa, ada seseorang yang harus merapikan penampilannya dulu sebelum bertemu orang yang SANGAT penting." Katanya melirik-lirik Rude. Rude langsung menginjak kaki Reno sehingga pemuda rambut merah itu berteriak secara refleks.
"Kenapa?" Tanya Tifa dan Gillie bersamaan, bingung melihat reaksi aneh Reno. "Ah t-tidak apa-apa....aw.." Erang Reno lirih, dia melotot ke arah Rude yang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Marlene!" Sebuah suara muncul dari luar, membuat mereka semua melihat ke arah pintu.
Seorang anak laki-laki masuk ke dalam bar. Lalu dia melihat Marlene dengan sebal. "Marlene, ternyata kau ada disini. Bukannya mencariku kau malah keluyuran kemana-mana. Kau lupa kalau kita lagi bermain petak umpet?"
"Ah, maafkan aku Denzel. Soalnya Gillie datang, jadi aku masuk untuk memanggil Tifa." Kata Marlene tersenyum polos. Anak bernama Denzel itu melihat ke arah Gillie, ia lalu tersenyum kecil dan membungkukkan badannya dengan sopan. Gillie tersenyum lebar padanya, anak bernama Denzel itu tidak seceria Marlene, dia lebih banyak diam tapi selalu tersenyum ramah. Denzel sekilas mengingatkannya akan Cloud yang selalu pendiam.
"Kalian bermainlah di luar ya." Kata Tifa lembut kepada dua anak asuhnya itu. Mereka berdua mengangguk, lalu Denzel menggandeng tangan Marlene dan berlari keluar. Gillie melihat kepergian mereka berdua dengan senyum, karena dia teringat masa kecilnya bersama Shelke, mereka bermain-main seperti Marlene dan Denzel. Reno juga melihat mereka berdua dengan senyum mengembang. "Wah..kecil-kecil sudah mesra ya, sepertinya seseorang sudah kalah oleh anak kecil." Katanya melirik Rude lagi.
Rude yang merasa disindir oleh temannya itu langsung menoleh tajam. "Apa?" Reno menggelengkan kepalanya dengan ketawa sepelan-pelannya. "Tidak ada."
"Jangan berdiri di ambang pintu, ayo masuk!" Kata Tifa.
"Dimana Cloud?" Tanya Gillie. Mendengar nama 'Cloud', Rude langsung menunduk-nundukkan kepala tidak jelas. "Kau tidak bertemu dengannya di pemakaman tadi?" Gillie menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Mungkin dia ada urusan, sepertinya akan pulang nanti sore. Dia selalu seperti itu." Kata Tifa dengan muka masam. Mendengar itu, Rude langsung cerah karena dia tidak perlu melihat adegan romantis antara Tifa dan Cloud. Tapi sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada Rude karena saat itu juga pintu bar terbuka dan muncullah seorang pria berambut jabrik pirang yang tak lain dan tak bukan adalah Cloud.
"Tifa, aku pulang..loh?" Cloud melihat banyak tamu di dalam, matanya melihat satu-persatu dari Reno yang melambaikan tangan, Gillie yang tersenyum, dan Rude yang hanya cemberut. "Oh Cloud, selamat datang!" sambut Tifa senang sambil mendatangi Cloud dan mencium pipinya. Reno melirik ke arah Rude yang masih memasang tampang cool, tapi ia yakin pasti temannya yang satu ini berusaha menahan ledakan di dalam tubuhnya. Reno menghela nafas, pada akhirnya yang terkena pelampiasan Rude adalah dia.
"Hai Cloud!" sapa Gillie riang.
"Angel, kapan kau datang?" Tanya Cloud berjalan ke arah mereka.
"Baru saja, bersama mereka." Gillie menunjuk ke arah Reno dan Rude. Cloud menatap kedua orang yang berjas hitam itu sebentar, lalu mendengus. Reno yang tidak menyukai sikap Cloud yang sedikit arogan itu hanya bisa mengerut kesal, dia tidak percaya Tifa bisa menyukai orang sombong seperti ini. Reno mengakui kalau Cloud masih memiliki tampang yang enak dilihat ketimbang Rude, tapi karena sikapnya yang jelek itu, membuat dia mendukung Rude untuk mendekati Tifa.
"Baiklah, aku akan membuatkan minuman untuk kalian semua."
Tapi Rude langsung menyela. "Tidak usah Tifa, kami ada urusan jadi kami harus pergi."
Reno menoleh ke arahnya dengan heran. "Apa? sejak kapan ki...." Belum selesai dia bicara, mulutnya sudah dibungkam duluan oleh Rude dan menyeretnya keluar. Sebelum itu, Rude mengucapkan selamat tinggal pada mereka bertiga lalu kembali menyeret Reno keluar. Reno hanya pasrah oleh pegangan Rude yang kuat, dia hanya bisa melambaikan tangan dengan lemas.
Tifa dan Cloud terheran-heran dengan tingkah mereka, Gillie hanya tersenyum geli. Setelah kedua orang itu pergi dengan mobilnya, Tifa kembali menuju meja counter. "Gillie kau mau minuman apa?"
"Teh saja." Kata Gillie sambil duduk di seberang counter bar, Cloud duduk di sebelahnya. "Kau Cloud?" Tanya Tifa ke arah Cloud.
"Sama." Jawabnya singkat.
Selagi Tifa sedang membuatkan teh, Gillie dan Cloud hanya duduk dalam diam. "Sekali lagi aku turut berduka cita atas kematian temanmu." Cloud memulai bicara dengan kaku. Gillie tersenyum sedih. "Iya, terima kasih."
"Aku tidak akan membiarkan makhluk-makhluk itu menewaskan lebih banyak manusia lagi, apalagi kalau 'dia' sampai muncul." Sambung Cloud mantap, kedua tangannya dikepal dengan keras. Gillie tahu siapa yang dimaksudnya, dia bisa melihat sorot mata Cloud yang penuh dendam, karena kampung halamannya pernah dihancurkan oleh Sephiroth dulu. Bukan hanya kampung halaman Cloud dan Tifa, banyak sekali kota-kota kecil yang sudah hampir kehilangan penduduk karena ulahnya. Tapi karena Sephiroth menghilang, bisa dibilang keadaan sekarang aman jadi banyak penduduk yang berhasil membangun kota-kota mereka kembali seperti sedia kala.
"Sephiroth menghilang, anak buahnya merajalela. Keadaan belum sepenuhnya aman." Kata Tifa sambil meletakkan minuman mereka di meja. Gillie mengambil tehnya dan meneguknya, tiba-tiba ia kembali teringat akan Kadaj, ketika itu juga dia merasa bahu kirinya kembali sakit. Gadis itu tersentak, secara refleks memegang bahunya. Tifa yang pertama memperhatikannya. "Gillie, kamu kenapa?"
Cloud juga melihat ke arah Gillie yang meringis kesakitan. "Bahuku sakit.." Erang Gillie. Tifa langsung membuka setengah dari jubah Gillie dan melihat bahunya yang memar berwarna hitam kebiru-biruan. Tifa terkejut begitu pula Cloud. "Ini..."
"Tifa, lekas obati dia!" Kata Cloud dengan nada sedikit panik. Tifa mengangguk dan segera membawa Gillie ke dalam kamarnya. Dia dengan cepat mengambil kotak obat di lemarinya dan menghampiri Gillie. Setelah itu, Tifa dengan cepat membuka semua jubahnya sehingga Gillie hanya memakai tanktop hitamnya sekarang. Wanita itu memberikan obat di bahu Gillie, Tifa bisa mendengar suara erangannya dan berusaha sebisa mungkin untuk melakukannya dengan lembut. Setelah di obati, dia memberi perban pada bahunya.
Gillie tidak lagi merasakan sakit meskipun masih merasa sedikit nyeri. "Tifa... ada apa dengan bahuku?"
"Gillie, apa sesuatu terjadi padamu? Apa kau diserang vampire?" Tifa balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan tadi.
"Sebenarnya iya..." Jawab Gillie lemas, memutuskan untuk jujur padanya. Tifa menghela nafas. "Kenapa kau tidak bilang dari tadi?"
"Aku tidak ingin membuat kalian khawatir." Kata Gillie menunduk.
"Kau tahu, kau nyaris terinfeksi virus mereka. Para ilmuwan Shinra sudah meneliti tentang virus ini, itu dinamakan Jenova cell."
"J-Jenova Cell?" Kata Gillie bingung. Tifa mengangguk dan duduk di sebelahnya. "Dulu, banyak sekali penduduk yang terjangkiti virus itu bahkan sampai sekarang. Virus itu menyebabkan sakit yang berkepanjangan dan bahkan bisa mempunyai ikatan pada vampire itu sendiri, sehingga mereka bisa lebih cepat mengejarmu sampai dapat. Ini juga bisa dibilang mereka seperti menetapkan mangsa mereka. Dan akhirnya orang yang terkena itu akan mati dan bangkit kembali sebagai vampire asli."
"Apa? mereka juga bisa melakukan itu? Jadi...kalau aku mati, aku akan jadi vampire?"
"Iya, tapi ada yang aneh. Ketika vampire meletakkan sel itu pada manusia, biasanya manusia itu akan langsung roboh. Tapi untungnya kau masih bisa bergerak dan selamat." Kata Tifa lega.
"Apa itu juga berdampak pada Half?" Tanya Gillie lagi.
"Kemungkinan besar iya, tapi mereka juga bisa bergerak sama sepertimu. Mereka sudah mempunyai kekuatan yang jauh dari manusia normal, kemungkinan juga sel itu bisa membuat mereka mendapatkan kekuatan monster. Intinya sel itu membuat dampak baik bagi vampire dan membuat dampak buruk bagi manusia. Obatnya juga belum ditemukan sampai sekarang."
"Jadi, aku harus bagaimana?" Tanyanya cemas.
Tifa terdiam sebentar. "Aerith."
Gillie melihat padanya. "Hah? Aerith?"
"Iya, kau tidak ingat bahwa ibumu itu adalah keturunan Cetra?" Kata Tifa tersenyum. Gillie teringat bahwa Cetra adalah ras yang mempunyai kemampuan White magic paling tinggi, satu-satunya ras yang berlawanan dengan vampire. Tapi sayangnya, ras Cetra nyaris punah karena perang dengan vampire beberapa tahun silam dan sekarang orang yang mempunyai darah Cetra sangat langka.
"Kau benar, aku berharap Aerith bisa menyembuhkanku." Gillie berkata lega.
Tifa tersenyum lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Tapi, siapa yang meninggalkan sel itu padamu? Berani sekali dia, kalau aku menemukannya, aku akan menghajarnya!" Katanya mengepalkan kedua tangannya.
"Yang bisa melakukan itu hanyalah Sephiroth." Jawab seseorang di ambang pintu yang ternyata adalah Cloud.
"Cloud?" Kata Gillie dan Tifa bersamaan. Cloud masuk ke dalam. "Tidak salah lagi, yang menyerangmu adalah keturunan darinya, benarkan?"
Gillie menunduk lagi. "Iya, benar. Namanya Kadaj."
"Sudah kuduga." Gumam Cloud. Cloud yang merupakan salah satu anggota unggulan juga sudah tahu benar tentang Kadaj dan yang lainnya. Kemudian tatapannya mengarah ke bahu Gillie. "Aku sudah tahu tentang bahumu, sepertinya kau harus cepat pulang dan menemui Aerith. Kalau tidak, bisa berbahaya." Lanjutnya.
Gillie mengangguk pada Cloud dan Tifa. "Iya."
"Ayo, akan kuantarkan kau pulang." Tawar Cloud sambil mengulurkan tangannya ke arah gadis itu. Gillie menyambut tangannya dan berjalan mengikuti Cloud ke arah motornya yang bernama Fenrir.
Cloud sudah menaiki motornya dan menyalakan mesinnya, sedangkan Gillie memakai jubahnya kembali dan melihat ke arah Tifa. "Tifa, aku pergi dulu ya. Terima kasih karena sudah mengobatiku."
Tifa tersenyum. "Sama-sama dan kau bisa datang kapan saja." Gillie nyengir kepadanya, lalu duduk di belakang Cloud.
"Tifa, aku pergi dulu." Pamit Cloud memakai kacamata hitamnya. Tifa mengangguk. "Hati-hati kalian berdua dan jangan ngebut-ngebut, Cloud."
"Aku mengerti." Jawab pria itu. "Sampai jumpa Tifa!" Kata Gillie melambaikan tangan. Tifa juga melambaikan tangan. Setelah itu, Cloud langsung menjalankan motornya dengan cepat ke jalanan.
Tifa masih melihat kepergian mereka. "Huh, barusan kubilang jangan ngebut-ngebut, dasar Cloud memang susah dibilangin." Katanya sedikit sewot sebelum masuk ke dalam bar.
OoOoOoOoO
Di tengah perjalanan, Gillie kembali teringat tentang Kadaj. Entah kenapa, sorot matanya membuatnya menjadi takut tapi familiar di saat yang sama. Dia tidak pernah bertemu dengan Sephiroth langsung, tapi kenapa ia merasa ada kehadiran Sephiroth ketika bertemu Kadaj. Dia memejamkan matanya, memeluk pinggang Cloud erat-erat, dan menyandarkan kepalanya di punggung pria itu.
"Angel, ada yang kau risaukan?" Tanya Cloud.
Gillie mengangkat kepalanya. "Tidak, aku hanya sedikit takut. Aku ingin menjadi kuat seperti Zack dan kau. Agar aku bisa melindungi orang yang kusayangi."
Cloud tersenyum kecil. "Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja. Kalau kau takut, hati dan fisikmu akan menjadi lemah. Jadi hadapi dengan berani."
"Terima kasih, Cloud." Kata Gillie tersenyum, kembali menyandarkan kepalanya ke punggung Cloud.
Sekedar mau curhat, sebenarnya saya nulis ni chapter uda lama, saya gk sengaja menekan close di Microsoft word tanpa ngesave dulu, terhapuslah semua isi chapter yg uda saya ketik ini. Saya sempet depresi dan terpaksa mengetik kembali, saya juga rada-rada lupa dengan apa yang saya ketik sebelumnya, jadi mohon maaf kalo prosesnya jadi lama. Trus saya masih menghubungkan cerita ini ama gamenya walopun istilahnya saya rubah-rubah, agar kalian tidak merasa asing. RnR ya!^^
