Embrace The Chord

Remake from Santhy Agatha's Novel
with the same title

Hunhan as Maincast

GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)


Preview Chap :

Mama Luhan duduk di depan Luhan dan tatapannya berubah serius. "Kalau kau sudah menjalani kelas khusus bersama Sehun ini, kau harus menetapkan pilihanmu pada biola dan menjalaninya dengan serius Luhan."

Sebelum Luhan menjawab, telepon rumahnya berbunyi. Sang mama mengerutkan keningnya, bergumam tentang siapa yang menelepon rumah sepagi ini lalu beranjak berdiri dan mengangkat telepon.

Luhan tentu saja tidak mendengarkan pembicaraan mamanya ditelepon yang terdengar sangat serius itu. Dia malahan asyik melahap omelet buatan mamanya yang sangat enak.

Sampai kemudian mamanya meletakkan telepon, wajahnya pucat. Mungkin efek dari pembicaraannya? Dan kemudian dia duduk di depan Luhan dengan mata membelalak tak percaya.

Lama kemudian mamanya masih seperti itu hingga Luhan merasa cemas.

"Ada apa Mama?"

Mamanya tergeragap, seolah dibangunkan dari lamunannya. Tetapi ekspresi takjub masih tampak di matanya, bibirnya membuka sedikit gemetar.

"Itu tadi... Astaga! Itu tadi Sehun sendiri yang menelepon! Dia meminta kita datang ke akademi. Katanya dia ingin menjadikanmu murid bimbingan khususnya yang pertama!"


Luhan membelalakkan matanya. Tangannya yang sedang menyuap sarapannya terhenti begitu saja di udara. Dia terperangah.

"Apa?"

"Itu Sehun!" Mamanya masih memasang ekspresi takjub yang sama.

"Dia menelepon sendiri tadi dan..." Lalu mamanya seolah tersadar. "Cepat Luhan. Selesaikan sarapanmu, kita berangkat sekarang."

Lalu tanpa menunggunya, mamanya bangkit dari kursi, merapikan riasannya, meraih tas dan kunci mobil. Setelah sampai di pintu mamanya menoleh dan mengernyit melihat Luhan yang masih bengong melihat tingkah sang mama.

"Kenapa kau masih di situ Luhan? Ayo cepat kita berangkat."

Luhan hanya mengangkat bahu. Ia meletakkan makanannya dan meneguk susu cokelat di depannya. Matanya melirik sayang kepada sarapannya itu.

'Yah padahal masih banyak' gumamnya dalam hati. Mengutuk Sehun yang menelepon pagi-pagi.

Tetapi baru kali ini mamanya bersikap terburu-buru dan panik seperti itu. Sepertinya terpilihnya Luhan menjadi murid khusus Sehun benar-benar berarti baginya. Tiba-tiba saja Luhan teringat akan papanya. Papanya adalah pemain biola. Mungkin jauh di dalam hatinya, sang mama ingin agar Luhan mengikuti jejak ayahnya.


Mereka sampai di halaman parkiran akademi musik itu. Setelah sang mama memarkir mobil di area khusus pengajar, dia berjalan bersama Luhan melalui koridor menuju ruangan direktur tempat janji temu mereka.

"Ini kesempatan besar, Luhan. Dan mama tidak mau kau menyia-nyiakannya. Sehun tidak pernah mengambil murid khusus sebelumnya. Jadi kau adalah pertama dan yang terbaik."

Luhan cuma manggut-manggut meskipun dalam benaknya dia kebingungan. Kenapa Sehun memilihnya? Sekarang hal itu baru terpikir olehnya. Bukankah di audisi kemarin banyak sekali anak-anak dengan teknik dan kemampuan yang lebih tinggi darinya? Apa yang istimewa dari Luhan yang hanya memiliki kemampuan musik standar?

Dan juga, Kris pasti akan terkejut dengan berita ini. Ah Kris! Tiba-tiba saja Luhan merasa bersalah.

Harusnya Kris yang mendapatkan kesempatan ini. Kemampuan teknik bermain biola Kris tentu saja ada di atas Luhan dan juga hasrat Kris bermain biola lebih besar darinya, juga kekaguman Kris terhadap Sehun.

Luhan menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa melakukan ini kepada Kris. Lelaki itu begitu baik hati dan begitu mendengar kabar ini dia pasti akan menyalami Luhan dan mengucapkan selamat. Tetapi Luhan tahu Kris pasti menyimpan kekecewaan yang disembunyikan.

"Aku tidak bisa menerimanya, mama." Luhan bergumam keras, berusaha menarik perhatian mamanya yang berjalan terburu-buru di depannya.

Langkah mamanya terhenti. Perempuan itu menoleh dan menatap Luhan terkejut.

"Apa? Apa maksud perkataanmu itu?"

Luhan menggelengkan kepalanya sekali lagi. "Entah apa pertimbangan Sehun memintaku menjadi murid khususnya, tetapi aku tidak bisa menerimanya mama karena ini tidak adil terhadap mereka yang mempunyai hasrat bermain biola yang lebih murni dariku. Aku..aku.."

"Kau memikirkan Kris?" Sang mama mengangkat alisnya.

"Dia pasti akan mengerti. Dia pemuda yang baik dan berjiwa besar, jadi dia akan mendukungmu dan ikut senang denganmu. Jangan sampai itu menghalangimu untuk maju, Luhan." Mamanya menggandeng Luhan lalu mengajaknya berjalan lebih cepat menuju ruangan itu.

Mereka sampai di depan pintu ruang temu dan mama Luhan mengetuknya. Dalam sekejap pintu terbuka dan Mr. Isaac yang membukakan pintu.

"Silahkan masuk." Lelaki itu membuka pintunya lebar, mempersilahkan Mama Luhan dan Luhan masuk.

Di sana, duduk di atas sofa dengan wajah dinginnya yang begitu sempurna, ada Sehun yang menatap mereka semua dengan tatapan mata datar. Lelaki itu sedikit mengangguk sopan kepada mama Luhan yang duduk di depannya.

Mr. Isaac menyusul duduk di seberang sofa, menatap semuanya.

"Saya rasa kita sudah tahu tujuan pertemuan ini. Sehun menawarkan Luhan menjadi murid pribadinya. Dan saya rasa kita sepakat dengan itu bukan?"

Luhan mengerutkan kening, menatap Sehun yang hanya terdiam dengan wajah datar. Kenapa lelaki itu tidak bicara? Kenapa dia mewakilkan pembicaraan kepada Mr. Isaac?

"Tentu saja kita sepakat. Saya sungguh merasa terhormat, anak saya yang terpilih menjadi murid khusus." Gumam Mama Luhan cepat.

Mr. Isaac mengangguk. "Kami melihat bahwa permainan biolanya istimewa. Bukan begitu Luhan? Mulai sekarang kau akan berada di bawah bimbingan Sehun."

"Tidak." Tiba-tiba saja Luhan mempunyai keberanian untuk berbicara. Dan kalimatnya itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertegun.

Sehun yang pertama kali bergumam pada akhirnya. Matanya menatap tajam ke arah Luhan.

"Apa?" Desis lelaki itu setengah marah setengah tak percaya.

"Maafkan saya." Luhan berdiri, membungkukkan badannya setengah meminta maaf kepada semua yang ada di ruangan itu.

"Itu benar-benar kehormatan yang luar biasa untuk saya. Tetapi saya tidak bisa menerimanya karena itu terasa tidak benar. Masih banyak siswa lain yang lebih berhak daripada saya. Sekali lagi terimakasih, tetapi saya benar-benar tidak bisa menerimanya. Permisi." Luhan membungkukkan badannya sekali lagi lalu berbalik dan melangkah pergi.

"Luhan!" Mamanya memanggilnya gusar.

"Mama sudah bilang jangan lakukan ini demi Kris!" Sang mama berdiri hendak mengejar Luhan. Tetapi Sehun sudah berdiri duluan, menoleh dingin ke arah mama Luhan.

"Biarkan saya yang berbicara kepadanya." Gumam Sehun cepat, lalu melangkah keluar mengejar Luhan.


Luhan berjalan melalui koridor itu, hendak menuju area parkir.

Mamanya pasti akan marah besar kepadanya. Mungkin nanti dia akan diomeli habis-habisan di rumah dan mungkin mamanya akan terus-menerus jengkel kepadanya selama beberapa lama karena menyia-nyiakan kesempatan ini. Tetapi bagaimanapun juga Luhan merasa bahwa ini adalah hal yang benar.

Demi Kris. Dia tidak akan melangkahi ataupun mengkhianati Kris.

"Apakah kau pikir ini sepadan?" Suara Sehun yang tenang membuat Luhan terperanjat dan hampir menjerit.

Entah kapan, Sehun ternyata sudah melangkah di sebelahnya. Luhan mungkin terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari Sehun mendekat.

"Maksudmu?" Luhan mengerutkan keningnya, sedikit mendongak menatap Sehun yang melangkah di sebelahnya. Yah, Sehun cukup tinggi sementara Luhan mungil dan pendek.

"Mengorbankan kesempatan besarmu hanya demi pacarmu?"

Luhan mengerutkan keningnya. Pacarnya?

"Mamamu bilang kau melakukan ini demi Kris. Dia pacarmu bukan? Apakah kau pikir sepadan mengorbankan kesempatan besarmu untuk menguasai biola dengan baik hanya demi menjaga perasaan pacarmu?"

"Bukan hanya demi Kris." Luhan membantah meskipun dalam hati dia mengakui bahwa sebagian besar alasannya adalah Kris. "Juga demi anak-anak lain yang saya rasa lebih pantas dengan kemampuan yang lebih tinggi daripada aku."

Langkah Sehun terhenti seketika, membuat Luhan juga menghentikan langkahny. Dia menoleh dan melihat Sehun berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan mata tersinggung,

Lelaki itu lalu berjalan mendekat, melangkah di depan Luhan yang terpaku karena mata tajamnya. Jemarinya terulur dan menyentuh dagu Luhan, mendongakkannya.

"Dengarkan aku baik-baik." Bibir Sehun menipis, tampak marah ketika berkata.

"Aku tidak pernah main-main dalam memilih murid. Jangan pernah mempertanyakan keputusanku. Aku memilihmu karena aku melihat kau seperti berlian yang belum diasah." Sehun menundukkan kepalanya dan kemudian mengecup bibir Luhan dengan kecupan tipis dan singkat.

"Hanya aku yang bisa mengasahmu sehingga cemerlang. Jadi aku akan tetap mempertahankan tawaranku. Kapanpun kau berubah pikiran, datanglah kepadaku." Bisiknya pelan di telinga Luhan dan kemudian tanpa kata lelaki itu membalikkan badan, meninggalkan Luhan yang membeku karena ciuman itu. Tak bisa berkata-kata, hanya menatap tertegun ke arah punggung Sehun yang makin menjauh.


"Mama sangat kecewa kepadamu, Luhan." Sang mama berkata kemudian ketika mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang.

"Kenapa kau lakukan itu?"

Luhan hanya terdiam, menatap lurus ke depan. Dia bahkan hampir-hampir tidak mendengar perkataan mamanya. Bibirnya masih terasa panas.

Sehun. Lelaki itu. Kenapa lelaki itu mengecup bibirnya? Apakah itu pelecehan? Kenapa Sehun melakukannya? Apa jangan-jangan Sehun memang biasa melakukannya kepada siapapun? Tetapi kenapa dia?

Luhan tahu bahwa Sehun terkenal sebagai penakluk perempuan. Tetapi korbannya selalu perempuan-perempuan yang lebih tua. Bukankah itu memang selera Sehun? Tetapi kenapa dia? Kenapa Sehun menciumnya?

Pertanyaan itu terngiang-ngiang terus di benaknya, membuat Luhan mengerutkan keningnya.

"Luhan!" Sang mama memanggilnya, membawa pikirannya kembali ke dunia nyata.

"Apakah kau mendengar perkataan mama?"

Luhan mengehela napas panjang. "Maafkan aku mama. Aku rasa ini keputusan yang terbaik."

Mamanya melirik sedikit kepadanya dari balik kemudi. "Segera setelah kau memikirkannya baik-baik, kau pasti akan menyesali keputusan ini, Luhan."


Ketika masih merenung di kamarnya, terdengar suara ketukan di sana. Luhan mengerutkan keningnya.

Siapa yang datang malam-malam begini?

Luhan melangkah ke pintu kamarnya dan membukanya. Kris berdiri di sana, tersenyum lebar.

"Mamamu menyuruhku langsung ke sini. Bolehkah aku masuk?"

Sebenarnya Luhan merasa agak canggung. Sejak kecil mereka memang berteman akrab dan Kris sering sekali bermain di kamarnya. Tetapi menjelang mereka remaja sampai sekarang, Kris hampir tidak pernah masuk ke kamarnya lagi.

"Aku akan membiarkan pintunya terbuka."

Kris tampak geli membaca keraguan Luhan dan kemudian tanpa permisi dia masuk ke kamar Luhan lalu duduk di kursi belajar Luhan.

"Wow! Sudah lama aku tidak kesini dan kamarmu tidak berubah, seperti kamar anak sepuluh tahun." Kris terkekeh.

Matanya memandang ke sekeliling ruangan Luhan yang didominasi warna pink dan boneka-boneka kelinci dengan warna senada. Luhan mendengus, pura-pura kesal.

"Jangan mengomentari kamarku. Dan katakan kepadaku, kenapa kau datang ke sini malam-malam begini. Mama yang menyuruhmu ya?" Luhan melangkah di depan Kris dan duduk di tepi ranjang.

Kris mengangkat bahunya. "Ya. Mamamu menghubungiku dan menceritakan semua kejadiannya."

Luhan memalingkan muka. "Aku tidak akan berubah pikiran meskipun kau membujukku."

"Luhan."

Suara Kris tampak sabar. Seperti suara yang selalu digunakannya ketika Luhan merajuk di waktu mereka kecil. "Itu kesempatan besar. Dan mendengar kau menolaknya hanya karena aku, itu membuatku sangat sedih."

Luhan memasang wajah datar. "Bukan hanya karenamu kok. Aku hanya merasa aku tak pantas menerima kesempatan itu."

"Kau pantas." Kris menyela. "Penilaian Sehun bukan main-main, Luhan. Ingat dia adalah seorang pemain biola jenius. Dia bisa melihat kemampuan tersembunyi yang orang lain tidak bisa melihat, Luhan."

Kris tersenyum lembut. "Dan lagipula menurut penilaianku, permainan biolamu sangat indah."

Ketika Luhan hanya terdiam, Kris bangkit dari kursi dan berlutut di tepi ranjang tepat di depan Luhan. Wajah mereka berhadapan sangat dekat, membuat Luhan tersipu.

"Terimalah tawaran itu Luhan. Demi aku. Oke?"

Luhan memalingkan wajahnya yang terasa panas. "Aku akan memikirkannya. Tapi aku tidak janji."

Kris terkekeh. "Oke. Dasar anak keras kepala. Aku akan menunggu kabar baik darimu."

Lelaki itu menghela napas panjang. "Dan juga aku harus menyiapkan waktu untuk kelas tiga bulan yang akan di ajarkan oleh Sehun. Kau tahu? Krystal mungkin sedikit sedih karena aku tidak bisa menyediakan banyak waktu untuknya, padahal aku sudah berjanji."

"Krystal?" Luhan menyambar. Sedikit bingung ketika Kris menyebut nama Krystal.

Krystal adalah teman seangkatan Kris di akademi musik dulu. Dia seorang pemain piano yang sangat cantik dengan penampilan yang sangat feminim dan lembut. Begitu bertolak belakang kalau dibandingkan dengan Luhan.

"Iya, Krystal. Kau masih mengingatnya bukan? Saking sibuknya dengan persiapan audisi aku sampai lupa menceritakannya kepadamu." Senyum Kris melebar.

"Kami tidak sengaja bertemu ketika aku mengikuti sebuah pesta bersama papa. Dia sibuk dengan pendidikan musiknya di Italia. Tetapi sekarang, untuk beberapa lama dia akan berada di Korea karena liburan semester, dan kemudian aku berjanji kepadanya untuk menemaninya selama di sini."

Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya. "Siapa yang tahu kalau hubungan kami bisa lebih dari pertemanan. Kau tahu bukan dulu aku naksir kepadanya? Dan sekarang dia sedang tidak terikat dengan siapapun."

Luhan tahu. Dan ketika itu, di masa lalu, masa-masa Kris begitu memuja Krystal membuatnya menyimpan perih yang dalam, yang disembunyikan jauh di dalam hatinya. Tetapi waktu itu Krystal sudah punya pacar dan Kris tidak punya kesempatan, jadi Luhan bisa tenang. Setelah Kris dan Krystal lulus dari akademi dan Krystal melanjutkan pendidikannya di luar negeri, Luhan lebih merasa tenang. Apalagi setelah itu Kris tampaknya tidak dekat dengan perempuan manapun.

Dan sekarang Krystal kembali? -tidak sedang terikat dengan siapapun- begitu kata Kris tadi.

Luhan langsung merasakan dadanya diremas oleh perasaan pedih yang sama. Perasaan yang sudah hampir dilupakannya bertahun lalu.

"Kalau begitu aku pulang dulu Luhan, sudah malam."

Kris melirik jam tangannya lalu melempar senyum manis kepada Luhan sebelum pergi. "Ingat. Aku akan menjadi orang pertama yang sangat bahagia kalau kau menerima kesempatan itu."


Kenapa dia mencium Luhan? Kenapa dia mencium anak perempuan ingusan itu?

Sehun merenung di tengah hingar bingar pesta itu, merasa marah kepada dirinya sendiri.

Oh Astaga! Sehun yang begitu berpengalaman kepada perempuan, tidak bisa menahan diri dan mencium Luhan. Anak ingusan yang lebih muda delapan tahun darinya, yang mungkin bahkan belum pernah berciuman sebelumnya!

Dan kenapa pula Luhan berani-beraninya menolak tawarannya? Tawaran istimewa yang mungkin tidak akan pernah diberikannya kepada orang lain?

Hati Sehun dipenuhi kemarahan. Dia akan membuat Luhan memohon-mohon untuk menjadi muridnya. Dia pasti bisa melakukannya.

Luhan mungkin jenis perempuan yang suka membuat lelaki mengejarnya. Pura-pura menolak sebelum meminta bagian yang lebih besar. Mungkin saja Luhan sengaja memanipulasi Sehun. Mungkin saja Luhan seculas perempuan-perempuan lain yang dikenalnya selama ini. Seculas ibunya.

Dan Sehun tidak akan membiarkan Luhan melakukan itu kepadanya. Dia akan memberi Luhan pelajaran karena berani-beraninya menolaknya.


"Kelas Sehun akan dimulai lusa."

Kris yang datang pagi-pagi ke rumah Luhan untuk menumpang sarapan - seperti yang biasa dilakukannya hampir setiap hari - menatap Luhan dengan pandangan penuh ingin tahu.

"Jadi bagaimana? Kau belum berubah pikiran tentang tawaran Sehun?"

Luhan menelan susu cokelatnya dengan susah payah ketika topik itu diangkat. Sebenarnya, semalaman dia memikirkan keputusannya. Dan kemudian bertanya-tanya dalam hati. Apakah dia telah bertindak terlalu dangkal dan bodoh? Apakah sebetulnya Kris benar-benar tidak apa-apa kalau Luhan mengambil kesempatan yang ditawarkan Sehun kepadanya itu?

Kris sendiri tampaknya tidak memperhatikan pikiran yang berkecamuk di benak Luhan. Dia sibuk mengunyah wafel enak buatan mama Luhan dan kemudian lelaki itu seolah teringat sesuatu. Ia mendongakkan kepalanya.

"Biasanya sebelum kelas Sehun akan ada pesta perayaan. Sejenis pesta dansa dan diadakan di akademi dengan mengundang semua murid, sekaligus sebagai pesta tutup tahun. Para guru akan datang dan orang-orang penting di dunia musik akan datang."

"Oh ya, pesta itu."

Luhan tahu tentang pesta itu. Biasanya dihadiri oleh para murid senior, guru dan orang-orang penting di bidang musik. Pesta itu juga menjadi ajang pertemuan antara para siswa yang sedang menapaki karier di bidang musik dengan orang-orang penting yang telah lebih dahulu menanjak.

Tetapi sampai sekarang, Luhan belum pernah sekalipun ikut ke pesta itu. Selain karena dulu dia masih kelas junior, mama Luhan melarang Luhan mengikuti pesta di malam hari ketika usianya masih tujuh belas tahun atau di bawahnya.

Tetapi sekarang Luhan sudah delapan belas tahun. Mamanya mungkin akan mengizinkannya mengikuti pesta itu.

Diam-diam Luhan melirik ke arah Kris. Lelaki itu tampak tampan sekali dengan bibir tipis dan hidung mancung yang terpadu sempurna. Mungkin, mungkin kalau Kris menemaninya ke pesta itu, mamanya akan lebih setuju lagi untuk membiarkannya datang ke pesta itu.

Luhan langsung membayangkan. Itu adalah pesta dansa. Jadi kalau dia datang berpasangan dengan Kris, ada kemungkinan dia akan berdansa dengan Kris. Diiringi musik waltz yang romantis dan dalam balutan gaun yang seperti puteri. Ya ampun! Rasanya mimpi itu indah sekali.

"Maukah kau datang ke pesta itu bersamaku? Setahuku pestanya akan diadakan besok malam."

Tiba-tiba Kris bergumam. Membuat Luhan tertegun dengan mulut menganga, tidak percaya akan pendengarannya.

"Apa?"

Kris meneguk susu cokelatnya dengan santai. "Sebenarnya aku ada janji dengan Krystal, tetapi dia akan datang dengan ayahnya. Kau tahu ayahnya sangat menjaganya jadi tidak mengizinkannya datang ke pesta dengan pria, apalagi pestanya di malam hari. Ayahku juga sama. Dia terus menerus menyuruhku melakukan riset tentang permainan biola setiap malam dan pasti akan melarangku mendatangi pesta. Nah, kupikir-pikir aku akan mengajakmu datang ke sana saja kita berangkat dari sini bersama. Jadi, aku bisa beralasan bahwa aku mengantarmu untuk berkompromi dengan Sehun."

Perasaan Luhan yang melambung langsung merosot jatuh dengan kerasnya. Benaknya terasa sakit dan beku, seperti diguyur oleh air es. Rasa sakit langsung menyeruak di dada Luhan. Semua impiannya untuk berdansa bersama dengan Kris, melewatkan malam romantis dengan hubungan lebih dari kakak adik ataupun sahabat dekat langsung musnah begitu saja.

"Luhan?" Kris bertanya ketika Luhan hanya terpaku dan tidak memberikan tanggapan apa-apa.

"Jadi bagaimana? Kau akan pergi denganku atau tidak? Kau mau membantuku bukan Luhan?" Kris melemparkan tatapan mata penuh permohonan. "Aku mohon. Karena pertemuan dengan Krystal amat sangat berarti untukku."

Luhan tergeragap. Lalu dengan pedih menganggukkan kepalanya. "Tentu saja aku akan pergi denganmu, Kris."


"Pergi dengan Kris?" Mamanya mengangkat alisnya.

"Pesta itu berlangsung jam delapan sampai jauh larut malam dan sebenarnya diperuntukkan bagi orang dewasa." Ada ketidaksetujuan di dalam suara mama Luhan. "Lagipula mama tidak pernah bisa datang ke pesta itu karena mama tidak kuat terjaga sampai malam."

Luhan menghela napas panjang. Mamanya sama saja seperti yang lain, selalu menganggapnya seperti anak kecil.

"Mama, aku sudah delapan belas tahun. Dan pesta itu juga dihadiri oleh siswa-siswa senior seumuranku. Lagipula aku pergi dengan Kris, dia akan menjagaku."

Sang mama tampak merenung, mempertimbangkan semuanya lalu akhirnya menghela napas panjang.

"Oke baiklah, kau boleh pergi. Tapi bilang pada Kris bahwa dia harus sudah memulangkanmu sebelum pukul sebelas malam."

Mama Luhan mengangkat alisnya sambil menatap anak perempuan semata wayangnya yang cenderung berpenampilan tomboi itu. "Pestanya besok dan itu merupakan pesta dansa resmi. Apakah kau sudah mempersiapkan gaun, Luhan?"

Luhan mengernyit. Gaun? Hal itu sama sekali tidak terpikirkan olehnya. Dia menelaah isi lemarinya dan baru sadar bahwa dia hampir tidak punya gaun yang bagus. Semua gaunnya gaun santai, bukan dipakai untuk pesta, itupun hanya sedikit jumlahnya. Selebihnya lemarinya dipenuhi oleh T-shirt dan celana jeans serta kemeja.

Mamanya menatap ekspresi Luhan dan tersenyum geli.

"Ayo kita pergi dan berbelanja gaun." Gumamnya. Tiba-tiba merasa bersemangat bisa mempunyai kesempatan untuk mendandani Luhan yang biasanya tidak mau berdandan itu.


Mereka akhirnya mendapatkan sebuah gaun setelah beberapa kali keluar masuk di kompleks perbelanjaan yang sangat ramai itu.

Gaun itu sederhana. Berwarna ungu muda, nyaris putih. Modelnya melekuk di tubuh sampai ke pinggang, lalu jatuh terjuntai melebar ke bawah sampai semata kaki. Mamanya juga memilihkannya sepatu hak tinggi dengan warna senada untuk melengkapi penampilannya.

Luhan menatap gaun yang digantungkan oleh mamanya di lemarinya itu dan kemudian tersenyum miris.

Yah, secantik apapun penampilannya nanti, Kris sepertinya tidak akan meliriknya. Karena lelaki itu pasti akan memusatkan perhatiannya kepada Krystal yang pasti beribu kali lebih cantik daripada Luhan.


Malam pesta itu tiba. Sehun memasang jas-nya dan menatap cermin, lalu tersenyum muram. Dia harus menjemput Irene, kencannya malam ini.

Yah, Sehun sedang berperan sebagai kekasih yang sempurna sebelum nanti menghancurkan Irene jika waktunya tepat.

Sehun memang selalu memilih pasangan yang lebih tua. Dia memilihnya dengan hati dingin dan kejam, mencari yang semirip mungkin dengan ibunya. Karena semakin mirip maka akan semakin puas hatinya ketika menyakiti mereka nanti.

Tiba-tiba saja bayangan akan Luhan melintas di benak Sehun. Apakah Luhan akan datang ke pesta dansa itu?

Sehun tersenyum sinis. Seharusnya Luhan datang. Dan dia pasti akan ditemani oleh Kris, pasangan yang dibelanya mati-matian itu.

Yah, pesta itu akan sangat menarik kalau Luhan benar-benar datang. Dia akan memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Luhan tidak berkutik lagi.

Tiba-tiba saja Sehun tidak sabar untuk segera datang ke pesta itu.


Luhan menatap bayangannya di cermin dan mengernyit. Dia tampak seperti perempuan yang berbeda malam ini, dengan gaun feminim dan riasan wajah tipis yang disapukan mamanya ke pesta.

Sang mama juga menatap cermin, tersenyum melihatnya.

"Nah, sekarang kau sudah siap untuk datang ke pesta." Mama Luhan mengedipkan sebelah matanya.

"Ayo, temui Kris yang sudah menunggu di bawah. Dia pasti akan sangat terpesona kepadamu." Gumam sang mama, membuat pipi Luhan memerah karena malu.

Hati-hati Luhan melangkah ke bawah, menuruni tangga. Dia memang tidak terbiasa mengenakan sepatu hak tinggi, sekarang saja kakinya sudah terasa pegal. Luhan berdoa semoga kakinya bisa bertahan. Dia tidak mau jatuh ataupun terkilir gara-gara sepatu ini.

Dan benar. Sepertinya Kris terpesona, karena lelaki itu membelalakkan matanya lalu bersiul memuji ketika melihat penampilan Luhan.

"Wow! Gaun itu sangat cocok denganmu, Luhan. Kau benar-benar tampak seperti perempuan."

Pujian yang menggoda itu membuat Luhan membelalakkan matanya. "Memangnya selama ini aku tidak tampak seperti perempuan?"

Kris tergelak lalu mengulurkan tangan dan menggandeng Luhan menuju mobilnya.

"Aku baru sadar. Selama ini aku jarang sekali memandangmu sebagai perempuan." Gumamnya ringan.

Dalam perjalanan, Luhan merenungkan kata-kata Kris. Jadi begitu, Kris jarang memikirkannya sebagai perempuan. Karena itulah lelaki itu tampak amat sangat tidak peka dengan perasaan yang dipendam oleh Luhan kepadanya.

Luhan menghela napas pedih. Yah, mungkin selamanya dia harus bertahan. Menahankan sakit hati karena selalu dipandang sebagai anak kecil, sebagai adik oleh Kris.

Tapi, bukankah kata-kata Kris tadi menyiratkan kalau dia mulai menyadari bahwa Luhan tampak seperti seorang perempuan? Mungkinkah gaun dan penampilan feminim ini memberikan kesempatan baginya? Mungkinkah Kris terpesona dengannya hingga mempunyai perasaan lebih?

Luhan sungguh-sungguh berharap itu bisa terjadi.


Harapan Luhan langsung runtuh seketika ketika dia melihat penampilan Krystal yang rupanya sudah menunggu Kris di lobby ruang dansa.

Krystal luar biasa cantiknya dengan gaun warna merah gelap yang kontras dengan kulitnya yang cerah berkilau dan rambut cokelatnya yang panjang bergelombang sampai ke pinggang. Dan perempuan itu tampak seperti perempuan dewasa - Luhan melirik iri ke arah tubuh yang sintal dengan lekuk menonjol dan seksi di buah dada dan pinggulnya yang seperti gitar spanyol - Yah bagaimanapun juga, Luhan tampak seperti anak kecil jika dibandingkan dengan Krystal.

Dan sepertinya Kris juga berpikiran seperti itu, karena mata lelaki itu langsung berbinar ketika melihat Krystal.

"Krystal, kau cantik sekali." Kris mengulurkan tangannya dan Krystal langsung menyambutnya sambil tersenyum lebar.

"Kau terlalu memuji, Kris."

"Aku tidak hanya memuji tapi sungguh-sungguh. Bagiku kau adalah perempuan tercantik di pesta ini."

Kata-kata Kris langsung membuat hati Luhan mencelos. Untung saja dia berhasil menyembunyikannya dalam ekspresi datarnya ketika Krystal akhirnya melihatnya dan menyapanya.

"Hai Luhan. Apa kabar?"

Luhan mencoba tersenyum manis. "Kabarku baik."

Dia lalu melongok ke dalam ruang dansa. "Permisi sebentar, ada yang harus kulakukan."

Kris tersenyum lebar. "Jam setengah sebelas kita bertemu di sini lagi ya Luhan. Aku sudah berjanji kepada mamamu dan dia akan membunuhku kalau aku tidak membawamu pulang tepat waktu."

Luhan hanya menganggukkan kepalanya. Melirik sekilas kepada Kris sebelum dia pergi dan merasakan hatinya seperti tertusuk ketika menyadari bahwa perhatian Kris sekarang sudah sepenuhnya tertuju kepada Krystal.


Pesta itu ramai dan semua orang tampak bercampur baur. Luhan memilih posisi di paling sudut, mencoba tidak mencolok dan kemudian menatap ke lantai dansa.

Pesta ini meriah tentu saja. Dengan jamuan makan malam yang melimpah ruah tertata elegan di sudut-sudut ruangan. Banyak orang yang makan sambil mengobrol dan tertawa bersama. Dan ketika musik dimainkan, beberapa pasangan langsung turun ke lantai dansa untuk berdansa.

Luhan menatap senyum-senyum di bibir para pasangan itu. Dia pernah memimpikan berada di posisi yang sama, dengan Kris tentunya. Sayangnya mimpi itu tidak terwujud.

Matanya tiba-tiba menangkap Kris yang tengah menggandeng Krystal sambil tertawa, mengajaknya ke lantai dansa. Dia tidak bisa mengalihkan pandangan matanya dari dua manusia yang tampak sangat serasi ketika berdansa itu. Dan tiba-tiba saja, Luhan merasa seperti manusia paling merana sedunia.

"Apakah kekasihmu sedang berselingkuh?"

Suara itu terdengar di sampingnya begitu saja, membuat Luhan terkejut. Dia menoleh dan melihat Sehun sudah berdiri di sampingnya. Lelaki itu berpakaian formal dan tampak amat sangat tampan dan elegan. Dan sepertinya lelaki itu terbiasa muncul tiba-tiba tanpa suara.

"Kris bukan kekasihku. Dia menganggapku sebagai adiknya."

Sehun memiringkan kepalanya, ada senyum di sana. "Oh ya? Dan kau menganggapnya seperti apa?"

Pipi Luhan memerah, menyadari bahwa Sehun mungkin sedang menghinanya.

"Terserah aku menganggapnya seperti apa. Itu bukan urusanmu." Gumamnya dingin, lalu hendak melangkah pergi.

Tetapi langkahnya tertahan ketika Sehun menahan dengan menggenggam pergelangan tangannya yang mungil. "Hei, aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung, Luhan."

Suaranya begitu lembut, seperti ajakan perdamaian. "Ayo kita berdansa."

Dan kemudian tanpa Luhan bisa menolaknya, Sehun setengah menyeretnya ke lantai dansa.


TBC


Awalnya gue mau bikin krystal itu jadi zitao, tapi gue gak dapet feel-nya -soalnya gue gak bisa bayangin tao jadi cewek, wajahnya dia tuh sangar bin manly broohh- jadi ya terpaksa gue pake krystal. Terus kenapa gue sering pake orang ketiga ceweknya itu irene, soalnya gue dapet feel peran antagonis nya itu dia, hehe. Chap ini jugak udah gue panjangin yah.

Buat yang baca YGMFH, itu udah gue ganti ya castnya, dari jasper jadi sehan -udah fix, sehan. nggak bisa diganti lagi.-. Demi kalian, gue rela-relain replace ntuh chapter. Kurang baik apa cobak gue XD.

Oiya, sama gue mau nanyak. boleh nggak sih sebenernya nge-remake novel? kalo seandaikan banyak nyang nggak setuju, ya nantik mungkin gue bakal discountinue semua ff remake-an gue.

Makasih buat yang nge-fav, nge-foll, sama yang nge-review.

Big Thanks and Big Hug to :

Angel Deer, deerhanhuniie, sheerii, Aura626, Agassi 20, pudding rendah lemak, Leafrenn, luharawr, ludeer, Arifahohse, TRLSTRHUN, OhXiSeLu, JYHYunho, nisaramaidah28, Vinka668, misslah, HunhanBoo94, sherli898, laabaikands, DEERHUN794, chenma, hunnaxxx, Nam NamTae, fikaa194, rara, Kwon, WulanLulu, noonahhs, prmstyisma, JodohSeHun, and all Guest.