Chapter 4 : Green Brown Cliff


Dynasty Warriors by

KOEI


Chara : Ling Tong (main chara), Gan Ning, Lu Xun, Lu Meng, Sun Shang Xiang, Taishi Ci

Fanfic Story :Morning Eagle


Kami tiba di perbatasan penyebrangan ke Heng Jiang—Niu Xu. Para prajurit yang kurang lebih ada 60 orang lebih, sedang berkemas secepat mungkin, sebelum membuat Lu Meng marah besar. Moodnya sedang buruk hari ini, ditambah lagi cuaca yang tidak mendukung. Awan abu-abu pekat menyelimuti seluruh langit di atas kami, tidak ada matahari maupun tidak ada hujan. Angin terus berhembus kencang, membuat bulu kuduk berdiri—dingin yang membuat ngilu. Tidak ada petir yang menjadi pertanda datangnya badai—ini membuat kami tenang sesaat, tapi harus cepat bergegas sebelum kejadian buruk yang tidak diinginkan benar terjadi.

"Cepat, angkut semua barang ke dalam kapal!" teriak Lu Meng. Dia terlihat cemas, berkali-kali melihat langit dan para prajurit secara bergantian.

"Biar aku yang bawa," kataku menyarankan bantuan kepada salah satu pengawal. Dia terlihat kelelahan, bahkan tubuhnya lebih kurus daripada Lu Xun—harus membawa perbekalan banyak seperti itu adalah hal yang mustahil.

"Jen..jendral.." dia terlihat ragu untuk menyerahkan barang bawaannya.

"Kau bantu yang lain. Di sana masih banyak yang harus dibawa ke kapal," perintahku menunjuk ke belakang, ke tempat barang-barang dan senjata lain bertumpuk. Si prajurit memberi hormat sekali dan berlari ke belakang, membantu teman-temannya yang lain. Aku membawa perbekalan ke dalam kapal, menyebrangi jembatan kecil penghubung daratan dan kapal. Air sungai terlihat bergelombang tidak tenang di bawahku. Semoga hal yang buruk tidak terjadi.

~0000000~

Semua orang sibuk membawa persenjataan dan perbekalan turun dari kapal. Langit disini cerah, awan abu masih tertinggal di belakang kami. Cuaca disini lebih baik daripada yang kami duga.

"Gan Ning, Taishi Ci, kalian maju duluan ke depan, diikuti oleh Ling Tong, Lu Xun, dan Shang Xiang. Begitu musuh muncul, Ling Tong, Lu Xun, dan Shang Xiang segera pergi ke arah Heng Jiang, selamatkan penduduk di sana," perintah Lu Meng, menggunakan tangannya sebagai media penjelasan. Dia tetap mempertahankan pendapatnya, menaruhku di barisan belakang, sedangkan Gan Ning di barisan depan.

Kami berjalan menyusuri hutan yang tidak terlalu lebat. Kewaspadaan para prajurit meningkat—mereka memegang tombak dan pedang dalam posisi siaga untuk menyerang. Kami tidak tahu apakah mereka akan menyerang tiba-tiba disini. Tapi, yang pasti jumlah kami lebih banyak daripada mereka. Biasanya para bandit berkelompok tidak lebih dari 40 orang, kelompok mereka terpecah-pecah di beberapa bagian negara.

Lu Meng memimpin pasukan, berjalan mengikuti langkah setapak yang terdiri dari tanah coklat dan batu-batu kerikil. Lu Xun mengikuti di belakangnya, begitu juga Jendral Taishi Ci. Shang Xiang lebih memilih di sebelahku, barisan paling belakang. Dia terlihat kelelahan, karena cuaca yang terus berganti-ganti—panas dan dingin yang terus tarik-menarik bagaikan magnet berlawanan.

"Sudah mulai lelah, putri? Padahal kita belum memasuki babak pertamanya."

"Tidak lucu, Ling Tong. Aku belum lelah, hanya sedikit pegal-pegal karena seharian duduk di atas kuda," sergahnya sambil cemberut menatapku. "Seandainya ada Lian Shi disini."

Aku sedikit bergidik dibuatnya. Tentu saja itu masalah. Bila Lian Shi ada disini, entah bagaimana aku harus menghadapinya. Haruskah aku tetap terus berpura-pura menjadi orang lain—menjadi adik kesayangannya? Bisakah aku mengontrol emosiku, apalagi ada Gan Ning sekarang.

Tangan Shang Xiang melambai-lambai di depan mataku, "Hei, kau dengar apa yang kukatakan tidak?"

"Ha? Apa?"

"Apa sich yang sedang kau lamunkan? Aku bertanya, apa kau tahu itu apa?" Shang Xiang menunjuk sesuatu, di antara semak-semak jauh di sebelah kiriku. Aku memicingkan mataku, memperhatikan sesuatu yang bergerak-gerak di antara bayangan pohon. Seperti binatang, tapi terlihat tinggi dan gelap untuk dilihat. Mungkin beruang hutan yang memang mempunyai sarang di sekitar sini.

"Apa itu penduduk setempat?"

"Mungkin. Atau mungkin saja beruang," jawabku santai, memang tidak mempedulikan apa yang ada di ujung sana.

"Apa mungkin…itu banditnya?" Tanya Shang Xiang, sedikit bergidik.

Aku menghela napas dan memberhentikan kudaku, "Baiklah, biar aku yang menge-cek."

"Aku ikut—"

"Kau tunggu di sini," kataku sambil menunjuknya agar diam di tempat. Dia putri yang keras kepala, aku jadi terlingat janjiku pada Lian Shi. Melindunginya kini menjadi tugasku juga.

Aku memasuki semak-semak, diikuti beberapa pengawal. Tombakku kuangkat dalam posisi siaga, siapa tahu ada beruang yang menyerang tiba-tiba. Kami menge-cek ke beberapa tempat yang terlihat mencurigakan—di balik pepohonan dan semak-semak tinggi— tapi tidak ada apa-apa disana.

"Kita kembali ke pasukan, tidak ada apa-apa disini—"

Tiba-tiba saja suara teriakan kesakitan terdengar di belakangku, di balik pepohonan. Satu pengawal jatuh tergeletak di tanah, berlumuran darah. Dari bayang-bayang pohon, muncul segerombolan bandit—musuh utama kami.

"Ambush!" teriakku, memanggil bala bantuan. Aku turun dari kudaku, sulit untuk melawan musuh di antara pepohonan lebat dengan menunggangi kuda. Aku berlari ke arah mereka sambil menghunuskan tombakku—tepat mengenai dua orang sekaligus. Dua prajurit yang mendampingiku ikut membantu melawan musuh yang lebih banyak dari jumlah kami. Aku mengayunkan tombakku dan mengenai musuh ketiga—tepat di kepalanya. Para bandit begitu gigih melawan kami, satu prajurit terbunuh oleh bandit—tepat di jantungnya. Satu prajurit lagi terluka di kaki kirinya, terlihat kesulitan untuk berdiri. Tiba-tiba saja beberapa panah melesat dari balik semak-semak, tepat mengenai si prajurit yang terluka kakinya akibat tebasan pedang si bandit. Aku mundur beberapa langkah dan bersembunyi di belakang pohon sambil menunggu bantuan. Kini aku sendiri di sini, menghadapi bandit yang mungkin ada 20 orang.

"Ling Tong!" teriak Lu Meng, berlari ke arahku. "Kau tidak apa-apa?"

"Ya. Hati-hati, mereka punya pemanah."

Gan Ning mengikuti di belakang Lu Meng dan ikut berlindung di balik pepohonan, beserta beberapa prajurit. "Dimana Taishi Ci?" tanyaku.

"Dia bersama Lu Xun dan Shang Xiang pergi menuju Heng Jiang. Begitu mereka membereskan bandit di kota, Taishi Ci akan menyusul kita disini." Aku sedikit lega mendengar Shang Xiang pergi ke Heng Jiang, disana lebih baik daripada di sini.

"Sial! Aku tidak bisa menyerang!" gerutu Gan Ning.

"Tenanglah, tunggu mereka berhenti memanah," kata Lu Meng.

Beberapa saat kemudian, pemanah-pemanah itu berhenti memanah. Kami keluar dari pepohonan dan mendapati area pertempuran kami kosong. Mereka melarikan diri.

"Sialan! Mereka kabur!" teriak Gan Ning dan berlari mengikuti para bandit itu menghilang, diikuti oleh kelompoknya.

"Tunggu, Gan Ning! Ini bisa jadi jebakan!" Tapi Gan Ning terus berlari, menghiraukan peringatan Lu Meng.

"Begitulah dia," desahku lelah. Gan Ning tidak bisa dikontrol, itulah sebabnya aku tidak setuju dia ditaruh di barisan depan.

"Ya sudah! Kita ikuti dia," perintah Lu Meng dan berlari mengikuti pasukan Gan Ning. Aku mengikutinya di belakang, menembus semak-semak yang entah membawa kami kemana.

Kami berlari menembus pepohonan dan semak-semak hampir setinggi lutut. Cahaya matahari menghilang, jalan di depan kami sedikit menyulitkan karena sedikit gelap. Beberapa prajurit seringkali terjatuh ataupun tersandung batang pohon. Kakiku yang panjang dan refleksku yang terbilang cukup bagus sangat berguna di tempat seperti ini. Kami mendaki bukit yang cukup tinggi hingga menemukan jalan keluar di depan sana.

Gan Ning sudah mulai bertarung dengan para bandit yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan yang ada di dalam hutan, 30 orang lebih. Bagaimana mungkin bandit ini begitu banyak?

"Sial, cuaca mulai memburuk! Kalau tidak hati-hati, kita bisa terpeleset ke arah tebing," gerutu Lu Meng sambil memperhatikan keadaan sekitar.

"Tenang saja, mereka akan kuurus sebelum badai datang, " kataku sambil berlari ke arah pertempuran yang menunggu. Lu Meng berteriak di belakangku, tapi dikalahkan oleh suara petir yang menggelegar hebat. Badai sebentar lagi datang.

Aku mengayunkan tombak besarku dan mengenai salah satu bandit hingga terpelanting ke belakang. Dua orang bandit menyerangku dari belakang, kutendang salah satu bandit sambil menghunuskan tombakku ke badan bandit lainnya. Gan Ning di sebelahku lebih brutal, dia betubi-tubi menghunuskan dua belatinya ke berbagai arah, dan anehnya tepat mengenai para bandit hingga mereka terjatuh ke tanah dengan tubuh berlumuran darah.

"Kau lama!" teriaknya dan memandang remeh.

"Aku yang menemukan mereka pertama kali, kau yang lama!" balasku dan mengalirkan emosi ke tombakku, memutarnya sekuat tenaga dan berhasil menusuk tubuh salah satu bandit, hingga tombakku menembus tubuhnya dan keluar di sisi belakangnya.

Gan Ning melotot melihat aksiku. Berani bertaruh, dia tidak akan bisa melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan, hanya dengan menggunakan dua belatinya yang tergolong pendek. Aku nyegir membalas tatapannya dan mencabut tombakku yang tertanam di tubuh si bandit yang sudah tidak bernyawa, meneruskan aksiku dengan berlari ke arah prajurit yang sedang kesulitan di depan sana.

Dengan cepat aku memutar tombakku dan mengenai gerombolan bandit sekaligus dalam satu serangan. Beberapa bandit mundur ke belakang, gentar melihatku.

Aku tersenyum puas melihat mereka ketakutan dan berhenti menyerang, sebentar lagi kami yang akan memenangkan pertempuran ini. Hanya dua pilihan yang mereka punya, menyerah atau mati terbunuh oleh pasukan dari Wu.

"Serang para anjing kerajaan itu!" teriak salah satu dari mereka, yang mungkin adalah jendralnya. Dia berlari sambil menghunuskan pedangnya, tepat mengenai perutku. Aku lengah, tidak sempat menghindar, tapi dengan cepat kutahan pedang itu dengan tangan kosong— membuatnya tidak terlalu dalam menusukku. Tanganku sakit teriris pedang dan mengalami pendarahan hebat. Darahnya membasahi telapak tanganku dengan cepat dan membuat peganganku mengendor. Si jendral bandit tidak menghentikan aksinya, dia mendorongku ke belakang sebelum aku menyerangnya, sambil terus memegang pedangnya erat. Aku tidak punya pilihan lain selain mundur ke belakang, kalau tidak pedang itu akan menusukku semakin dalam—aku akan mati.

"Mati kau!" teriaknya dan tiba-tiba saja kakiku kehilangan pijakan. Tebing curam terlihat di bawahku, benar-benar tinggi. Mungkin aku akan mati, tapi tidak dengan usaha terakhirku. Aku menarik pedang itu sekuat tenaga dan si jendral ikut tertarik bersamaku—jatuh ke arah tebing, ke dalam sungai deras yang menunggu di bawah kami.

"Kau juga mati!" teriakku.

Hal yang terdengar sebelum aku terjatuh dan masuk ke dalam air yang dingin adalah teriakan orang-orang di atas sana yang meneriakkan namaku.