Di sebuah siang di musim dingin. Hari biasa untuk sebuah jalan-jalan di taman bersama dengan sahabat terdekat.

Di waktu yang tenang, Tsukishima Kei menghentikan langkahnya membuat Yamaguchi juga ikut berhenti keheranan.

"Ada apa Tsukki?" tanya Yamaguchi.

"Err.." jeda. Tsukishima seolah sedang mempertimbangkan kalimatnya. "Yamaguchi, ada yang ingin aku beritahu padamu."

Perasaan Yamaguchi menjadi tidak enak. Karena untuknya, tidak mungkin Tsukki - Tsukkinya tiba-tiba bicara serius seperti ini. Pemuda berfreckle dapat mencium arona rahasia yang Tsukkishima pendam sejak lama, dan dia punya firasat bahwa jantungnya tak siap untuk menerima ini.

Terlebih, ini seorang Tsukishima. Sahabat terdekatnya. Tidak pernah ada rahasia diantara mereka dan Tsukishima tidak pernah ragu dalam mengemukakan pendapatnya.

Setan mana yang membuat Tsukishima sampai bertingkah seperti ini?

"Ada seseorang yang ingin agar kau temui. Tsukishima berucap.

"Siapa, Tsukki?" tanya Yamaguchi.

Pemuda berambut pirang itu menggaruk kepalanya - yang Yamaguchi artikan sebagai gestur salah tingkah. "Dia tidak cantik, tapi indah," lanjutnya.

Seolah kalor menghilang dari tubuhnya, Yamaguchi merasa sangat kedinginan. Angin musim dingin yang sebelumnya tak dia pedulikan, rasanya ingin dia pakai sebagai alasan untuk pergi dari tempat itu.

"Dia tidak payah. Dia yang terbaik."

Yamaguchi menggigit bibir. Tangan tergenggam dalam saku.

"Dan aku menyukainya."

Dalam benaknya, Yamaguchi menghitung mundur dari seratus. Berusaha agar pikirannya melancong jauh dan tidak lagi mendengar lanjutan kalimat dari sahabatnya.

Namun kalimat yang dilontarkan oleh Tsukishima tidak bisa diabaikan olehnya. "Aku ingin berpacaran dengannya."

"Err.. wow!" Tahan Yamaguchi. Jangan menangis. "Se-selamat kalau begitu, Tsukki."

Sekilas wajah Tsukishima tersirat kekecewaan terhadap jawaban dari Yamaguchi, tapi oleh pemuda coklat itu diabaikan. Karena justru Yamaguchi lah yang sedang kecewa saat ini.

Ketika hendak beranjak, Tsukishima menahan tangannya.

"Tunggu! Aku ingin kau menemuinya," ucap Tsukishima. Membuat mata Yamaguchi semakin berembun - takut kelepasan tetesannya.

"Ha-haruskah?" tanya Yamaguchi. Dalam hati meruntuki diri sendiri karena suaranya sudah terdengar pecah.

"Dia sudah ada disini."

Yamaguchi terkejut. Tubuhnya kaku.

Tidak! Dia tidak ingin menemui siapapun itu! Dia tidak ingin!

"Dia ada di belakangmu."

Yamaguchi menahan nafas. "Berbaliklah!" perintah Tsukishima.

Sulit baginya untuk bergerak. Namun tetap dia lakukan. Perlahan. Berharap orang tersebut tidak ada.

Namun yang di dapatinya adalah sebuah cermin besar. Setinggi Tsukishima. Memantulkan gambar dirinya sendiri. Seorang pemuda coklat berfeckle yang matanya memerah menahan tangis.

"Perkenalkan. Namanya Yamaguchi Tadashi