Membutuhkan menitan untuk meyakinkan seorang anak bernama Kouki untuk ikut Seijuurou ke tempatnya bekerja.

Pasalnya, Kouki menolak pelan nan takut-takut dengan mengatakan khawatir mengganggu pekerjaan hingga alasan jujur yang salah satunya adalah menyatakan bahwa ia canggung dengan orang-orang baru, belum lagi pendapat rekan kerja Seijuurou Tou-sama-nya yang akan mempertanyakan siapa anak 12 tahun ini.

"Yakin tidak mau ikut?" Seijuurou bertanya dengan nada dikecewa-kecewakan. "Tetsuya juga akan datang."

Berhasil.

Pupil sewarna tanahnya membulat gembira, ditandai pula dengan Kouki yang secara kilat berlari ke arah kamar mandi sambil menyertakan pakaian rapi yang telah Sinya bantu belikan.

"Ikut! Aku ikut, Tou-sama!"

Sang Akashi menghembuskan nafas dengan pelan.

Sebetulnya bukan bohong, akan tetapi kemarin malam ia memang belum berhasil meyakinkan sahabat bersurai pirangnya mengenai membawa serta Tetsuya ke tempat kerja.

Mengancingkan kancing bagian lengan, Seijuurou melangkah menuju telepon tanpa kabelnya berada dan menekan nomor kediaman Kise yang telah dihapalnya.

Nada tunggu berdengung sekian detik, hingga sebuah suara seorang anak yang belum mencapai baligh menyapanya.

"Halo, selamat pagi."

"Selamat pagi, Tetsuya. Ini aku, Seijuurou. Bisa tolong panggilkan Ryouta?"

Tak ada jawaban, hanya terdengar suara gagang telepon yang diletakkan di atas meja.

Tak lebih dari 30 detik, Ryouta menyapa dengan nada ceria dan berisiknya.

"Maaf menunggu Sei-cchi. Ada apa?"

"Aku to the point saja, Ryouta. Apa kau masih keras kepala tidak mau membawa Tetsuya ke kantor? Kau tidak memikirkan kemungkinan keduanya yang ingin bertemu?"

Siapa mengira kalimat menohok hati harus ia peroleh di Jumat pagi ini.

Gamblang Ryouta menggeram, tanda tidak suka dan tidak setuju.

"Sei-cchi boss-ku yang keren, aku tidak akan memawa Tetsuyacchi, ssu. Aku sudah final! Aku tidak mau Tetsuyacchi-KU yang cantik diapa-apakan Chihiro-cchi. Aku tidak rela! Jadi sebaiknya Sei-cchi juga tidak membawa Koukicchi, ssu!"

Berbeda respon, Seijuurou seketika merasa pening mendengar lengkingan Ryouta.

Ia mengerti mengapa Ryouta menentang keras ajakan sang pemilik iris merah untuk mempertemukan kedua 'saudara' di bawah atap yang sama dengan si pucat.

Mayuzumi Chihiro, 11-12 dengan Kise Ryouta dalam hal kesenangan pribadi.

Dan ini telah menjadi rahasia umum.

"Baiklah kalau kau memang menentang keras. Aku tidak akan me—"

Tertangkap dari sudut mata si surai cokelat yang telah berpakaian kemeja lengan pendek warna putih, dasi kupu-kupu, serta celana cokelat tua kotak-kotak selutut.

Kouki yang cemberut dan hendak protes mengapa dipilihkan pakaian seperti murid TK ini, batal melakukan tatkala Seijuurou memanggilnya dengan gerakan jemari lentiknya.

"Tetsuya ingin bicara," bohong seorang boss untuk kedua kalinya di pagi ini.

Serta merta Kouki merebut telepon, wajahnya kentara cerah berbinar.

"Tetsuya!" Dan serta merta pulalah senyumnya hilang mendengar sambutan dari orang berbeda. "Oh, Papa Ryouta ternyata."

Seijuurou tersenyum tipis sambil memalingkan wajah, pura-pura takut menerima pandangan kesal 'putranya' dengan merapikan jas. Terbayang jelas pula mimik Ryouta yang berubah kecewa karena suaranya tak diharapkan 'Koukicchi-nya'.

Sang pirang dan cokelat kemudian bertukar bahasan. Tertanggap kata-kata tak jelas semisal "Iya", "Kantor Tou-sama", dan yang paling Seijuurou tunggu adalah "Tetsuya ikut kan? Aku kangen."

Skak mat.

Walau sempat terjadi kebisuan dari Ryouta selama hampir semenit dan mengundang bingung Kouki, dapat diyakinkan kalau Koukilah pemenang debat.

"Benar ya Tetsuya juga ikut? Iya, aku janji tidak akan nakal nanti! Iya! Terima kasih! Aku sayang Papa Ryouta!"

Senyum jelas terpatri di bibir tipisnya sekarang. Seijuurou, walau kali ini melalui tangan anak angkatnya, selalu menjadi juara.

Menerima kembali kembali telepon cordless-nya, Seijuurou mengacak pelan rambut berantakan Kouki, bangga akan sang anak.

"Ryouta, kau akan membawa Tetsuya, kan?"

Bukan iya atau tidak, melainkan ...

"Seicchi jahat, ssu! Seicchi tahu aku lemah pada makhluk-makhluk manis seperti Koukicchi! Apalagi tadi Koukicchi bilang sayang padaku, ssu! Apa itu maksudnya?! Ingin membuatku jantungan, hah? Pokoknya Seicchi harus mentraktirku makanan Italy!"

Klik!

Sambungan udara diputus sepihak, namun tak menimbulkan kesal setitik pun.

"Kouki, kita sarapan lalu berangkat."

"Baik, Tou-sama!"

Hm ... hari ini sepertinya akan menyenangkan bagi Tetsuya dan Kouki yang belum bertemu sapa selama beberapa hari.

Namun tidak bagi Seijuurou tatkala menemukan kenyataan yang terpapar di beberapa jam ke depan.

.

KnB © Fujoshi-sensei

Arti Dirinya © cnbdg1609142258

.

Seharusnya mereka saling sapa ketika bertatap mata. Namun yang terjadi justru tatapan terpana dan kagum menemukan tempat kerja Seijuurou memimpin yang dapat dikatakan sebagai surganya penikmat mobil sport.

Segala bentuk, warna, kecepatan, mesin, memanjakan pemilik iris cokelat dan aquamarine.

"Seijuurou-san, semua punya Seijuurou-san?" Tetsuya bertanya tanpa melepas mata dari Jaguar kuning.

Yang ditanyai menggeleng pelan. "Tidak sepenuhnya milikku."

"Kenapa?" tanyanya kembali.

Tidak menjawab pertanyaan, Seijuurou hanya menepuk pelan kepala bersurai sewarna irisnya.

"Belajarlah yang giat, kau pasti akan mengerti. Kouki juga."

Keduanya tersenyum sembari berjalan beriringan di sisi kanan dan kiri Seijuurou menuju ruangan sang boss yang terletak di kantai 3, meninggalkan Ryouta yang secara terang-terangan menitikkan air mata karena ditinggalkan Tetsuyacchi tanpa salam apapun. Maklum, hanya ruangan pribadi Seijuuro yang jarang ditapaki pegawai kecuali untuk urusan penting, belum lagi ukuran ruang yang besar dan mampu menampung ketiganya, sehingga mereka tak perlu sering-sering menjelaskan siapa kedua anak usia 12 tahun tersebut.

Ryouta hampa dan kesepian.

"Hiks."

.

Bola mata Tetsuya dan Kouki terus dimanjakan pemandangan berbagai jenis kendaraan bahkan hingga pada ruangan sang pemilik bisnis. Mulut membuka kecil, menandakan kekaguman yang teramat.

Dan ketika keempat kaki kecil masing-masing memasuki ruangan Seijuurou, lagi-lagi mereka dimanjakan oleh ratusan miniatur mobil dan motor yang mengisi rak berlapiskan kaca. Sang surai merah sekejap dilupakan.

Namun hal tersebut tak menyurutkan kebahagian yang hinggap di hati Seijuurou. Melihat keduanya bercakap sambil menunjuk-nunjuk miniatur mana yang paling keren meningkatkan semangat kerjanya Jumat ini.

"Kalian boleh mengeluarkan dan bermain dengan miniatur yang kalian suka, tetapi harus hati-hati dan tidak berisik."

Gempita, keduanya menyahut, "Baik!"

Semangat kerja Seijuurou tak hilang sebaris pun ketika beberapa pegawai memasuki ruangannya untuk meminta tanda tangan dan menanyai hal krusial.

Paling pertama bertemu dengan mereka adalah Aomine Daiki, seorang office boy yang dapat dikatakan pelayan pribadi Seijuurou di kantor. Sikap dan sifatnya seperti preman, namun entah bagaimana mereka justru cocok. Sang pemilik surai biru tua beserta istri dan anaknya sudah keluarga keduanya, saling berbagi. Yang paling mengherankan adalah secara kilat ia mampu membuat Tetsuya dan Kouki beradaptasi terhadapnya. Kouki yang canggung pun terlihat baik-baik saja ketika Daiki mengajaknya berbincang.

Kasamatsu Yukio adalah yang bersapa dengan keduanya setelahnya, memberi pandangan penuh selidik dan tidak percaya ketika Seijuurou menjelaskan bahwa Kouki adalah keluarganya dan Tetsuya adalah keluarga dari Ryouta. Yukio terkenal akan sikap kritis, namun untungnya ia tak banyak tanya. Mungkin pembawaan Yukio yang memang tak dapat berkomunikasi dengan anak-anak, Kouki seketika bersembunyi di balik sandaran kursi kerja Seijuurou.

Lain Yukio lain pula sekretaris Seijuurou. Aida Riko, hendak mengabarkan rapat yang perlu dihadiri Seijuurou untuk minggu selanjutnya. Bagaikan menemukan segepok uang tak bertuan, Kouki dan Tetsuya ia peluk erat karena gemas, tak memedulikan mereka itu siapanya sang boss ataupun tampang kaget kedua pemilik usia 12 tahun.

"Sesak..." Tetsuya berbisik sambil memijat lehernya.

Kehebohan tak berhenti di situ. Kali ini datang dari si pirang yang sampai detik ini mengaku diri sebagai sang pahlawan bagi Kouki dan Tetsuya.

Siapa lagi selain Ryouta.

Rencana awal Seijuurou adalah mengajak si biru muda dan cokelat untuk makan siang di luar kantor, sekaligus melihat-lihat sekitar. Namun siapa sangka, Ryouta dengan tak tahu tempat menjeblak pintu ruangan pribadi atasannya dengan tak berperikepintuan hingga menimbulkan pekik kejut dari penghuni di dalamnya.

Dengan bangga Ryouta mempersembahkan sebuah rantang penuh makanan lezat dan termos berisikan lemon tea. Walau sikapnya terkadang antik, Ryouta adalah seorang koki yang dapat dikatakan handal.

"Papa Ryouta, pulang nanti aku mau lagi dibuatkan telur gulung ini."

"Ah~, aku juga mau lagi."

"Hiks..." Setetes air mata bahagia meluncur mulus mendapati sekilas pujian yang ditujukan langsung pada sang Papa Ryouta.

Kebahagiaan pun tak luput menghampiri Seijuurou. Entah sudah berapa lama ia tak makan beramai-ramai seperti sekarang, dengan orang-orang yang mampu ia sebut sebagai sahabat dan keluarga, bukan bersama rekan kerja.

Gejolak aneh namun menyenangkan terasa pelan di sekitar perutnya menemukan senyum cerah ketiga orang di hadapannya.

Jadi seperti inikah yang namanya memiliki keluarga? Penuh celoteh yang sebetulnya tak penting, penuh tawa serta debat.

Hatinya ringan dan hangat.

Namun sebersit ...

... ada ketakutan menghampiri.

Bagaimana apabila ini kali pertama dan terakhir aku dapat merasakan kehangatan dan kedekatan ini?

Seijuurou menggelengkan kepala bersurai merahnya pelan, menghilangkan pikiran negatif dari otak ber-IQ tingginya.

.

.

Sekitar pukul 2 siang, seseorang yang sedari awal Ryouta khawatirkan muncul masuk ke dalam ruangan Seijuurou.

Chihiro, beserta sebuah map hijau, hendak meminta tanda tangan atasannya.

Ia sepertinya tak menyadari kehadiran Kouki maupun Tetsuya, terlihat dengan dirinya yang tak melirik ataupun menanyakan keduanya. Namun setelah urusan selesai, ia berbalik dan ditemukanlah si surai coklat yang ia rasakan sudah tak asing. Kouki saat itu tengah memainkan tablet milik Seijuurou di atas sebuah sofa, tak memerhatikan pendatang. Tetsuya sendiri telah terlelap semenjak setengah jam yang lalu di sofa sebelahnya.

"Kouki?"

Sapaan Chihiro tentu mendapat respon, baik dari yang dipanggil maupun dari Seijuurou. Ketikannya seketika terlantar karena fokus terganti.

"Kau ... Kouki kan?"

Kouki mengangkat kepala dan terlihat jelaslah oleh Seijuurou raut wajah terkejut darinya.

Akan tetapi, tak ada ketakutan yang biasa mampir setiap kali ia bertemu wajah-wajah baru.

Perlahan Chihiro berjalan menghampiri. Iris mata berbeda warna saling menatap lekat. Terpatri.

Ketika jarak hanya berkisar 60 cm, si surai silver berlutut dan membentangkan lengannya lebar.

Dan secara mengejutkan Kouki menerima uluran lengan tersebut.

Tanpa canggung ataupun khawatir, ia membiarkan tubuh kecilnya didekap dalam sebuah pelukan erat dan hangat. Bahkan kepalanya ia benamkan pada ceruk leher Chihiro dan kedua lengan mungilnya melingkar manis di sekitar leher jenjang sang dewasa.

Pekerjaan terbengkalai. Jantung seakan berhenti berdetak.

Seijuurou tak suka melihat mereka dalam posisi itu!

Ada apa ini?

Samar Seijuurou dapat menangkap bisik-bisik pembicaraan keduanya.

"Kau sudah besar dan semakin sehat sekarang, Kouki. Tetsuya juga sepertinya baik. Aku bahagia. Apakah Seijuurou baik pada kalian?"

"Iya. Seijuurou Tou-sama baik pada kami. Aku sayang beliau."

"Syukurlah..."

Kejadian berikutnya adalah yang tak pernah Seijuurou pikirkan akan ia lihat langsung melalui mata telanjang.

Chihiro mengecup bibir Kouki.

Lagi, untuk perasaan yang perdana ia rasakan, sebuah lonjakan tak suka di dada serta perut. Rasanya ingin membanting sesuatu hingga hancur.

"Chihiro, aku harap kau tidak melakukan hal tak pantas lainnya di ruanganku."

Pemilik wajah datar bangkit, sama sekali tak menggubris perkataan atasanya. Ia hanya berjalan ke arah Tetsuya terlelap dan mengelus kepala serta lengannya lembut. Geliatan pelan Chihiro peroleh.

"Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu bagaimana Kouki dan Tetsuya bisa ada bersamamu, tapi aku berpesan jaga mereka baik-baik. Apabila tidak ..." mata beriris silver manatap merah dengan intens; "aku tidak akan segan menghajarmu, tidak peduli kau atasanku."

Ia melangkah maju, meninggalkan Seijuurou yang masih diliputi perasaan tak menyenangkan serta kebingungan yang teramat.

Sedangkan Kouki, masih menatap pada pintu dimana Chihiro meninggalkannya tadi, tatapan campuran antara rindu, bahagia, serta lega. Pertemuan singkatnya mengingatkan ia pada masa-masa kelamnya dulu.

Dimana Chihiro pernah menjadi bagian dari kehidupan lampaunya yang gelap dan dalam.

Tanpa diminta karena Seijuurou masih saja membisu tak bergeming, si pemilik pupil serupa kucing menyatakan, "Aku tidak tahu kalau Chihiro jii-san bekerja di kantor Tou-sama."

Kepala berhelai merahnya memaling. "Kau mengenal Chihiro?"

Senyum manis yang beberapa hari ini Seijuurou peroleh kembali terlihat lebar.

"Iya. Waktu masih di sana, Chihiro jii-san pernah menjadi salah satu yang mengajak aku jalan-jalan. Aku dibelikan macam-macam. Tetsuya juga sering dapat oleh-oleh. Chihiro jii-san baik, tidak seperti paman yang lainnya. Aku suka."

Tubuhnya yang mendadak lelah ia banting ke atas kursi kerja.

Mengapa?

Mengapa aku tidak menyukai kenyataan mengenai Chihiro yang pernah menjadi bagian masa lalu Kouki dan berperilaku baik padanya?

Mengapa?

.

.

.

.

Seijuurou telah menutup mata dan berusaha mengistirahatkan tubuh serta pikiran selama lebih dari 4 jam. Namun lelahnya tak kunjung mampu membuatnya terlelap. Ia belum bersapa dengan bunga tidur.

Dan ini karena ulah kejadian di kantor tadi.

Seharusnya ia menuruti perkataan Ryouta untuk tidak membawa Kouki dan Tetsuya ke tempat kerjanya. Bila saran anehnya tak dijalani, ia tak perlu merasakan hati yang menggondok ini. Seijuurou jelas tak menjelaskan perihal Chihiro pada Ryouta. Yang ada si pirang akan sedih sebab tanpa diminta penjelasan pun Ryouta menyayangi keduanya dan akan mengalami cemburu berat, kalau perlu sampai demam.

"Hm..."

Kouki menggeliat pelan, memutar posisi tubuh menghadap pada Tou-sama-nya. Reflek Seijuurou merapikan posisi selimut dan menepuk-nepuk lengannya pelan.

Dengan posisi yang saling berhadapan, jelas terpampanglah bibir tipis Kouki dan kembali teringatlah ia pada Chihiro yang mengecup bibir putranya di kedua belah daging kenyal tersebut.

Seijuurou sangat tidak suka dengan gejolak aneh di tenggorokan, dada, jantung, serta perutnya.

Ia bingung, tidak mengerti mengapa seorang anak 12 tahun mampu membuat seorang hebat model dirinya merasakan gejolak batin seperti ini.

Ia seakan cemburu.

Seakan yang berharga baginya akan diambil.

Dan beban di hatinya kian memberat ketika pesan tengah malam ia peroleh dari seorang Ryouta.

[Seicchi, aku melakukan kesalahan besar. Baru saja aku mencium bibir Tetsuyacchi yang sudah tertidur ;_;]

Jantungnya seakan terjun bebas selesai membaca pesan tersebut. Ia tahu mengenai orientasi Ryouta, namun tak pernah seserius ini sebab memang pada dasarnya Ryouta sangatlah menyukai anak-anak. Si pirang tak pernah menyentuh mereka dengan tak pantas.

Dan ini ...

... membuat Seijuurou takut.

... khawatir bila ia mirip atau bahkan sama seperti Ryouta dan Chihiro.

— Tertarik pada mereka yang belum mencapai usia remaja apalagi dewasa.

Keesokan harinya, Kouki menemukan dirinya sendirian di atas tempat tidur.

Ia tidak menyadari Seijuurou yang semalam pindah ke kamar tidur tamu di lantai satu dan tidur di sana, dengan tak lupa mengunci pintu.


see u next time


A/N: Hayo... ada apa nih sama Papa Juurou? Clue akan terlampir di ch selanjutnya. Oh ya, maaf bagi yg mengira ff ini tamat. Masih 2 ch lagi kawan, so please keep supporting! Dan sesuai bbrp req, ada Mayuzumi nyelip ya.

Big hug untuk Andrea Sky, Dee Kyou, Minge-ni, BlueBubbleBoom, icyng, akachihuahua214, Nearo O'nealy, ShilaFantasy, wufanneey, Nick Say FuckerShit For Kagari, hi aidi, Erry-kun, favers, followers, readers.

Makasih sudah mampir. Feedback, please!