Readers ku tercinta selamat pagi/siang/sore/malam/subuh. Hehe, tergantung kalian bacanya yah. Kali ini aku usahakan update cepat-cepat walau tidak terkesan cepat -plak!-. oh iya aku juga mau berterimakasih buat semua yang udah review di fict ini dan di fict yang DEMDAM NARUTO TERHADAP KAKASHI *promosi* Arigatou gonzaimasu. Baiklah , ayo kita colek *ups* -ralat- kita intip chapter 4 nya!
Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T
Warning : alur cepat, gaje , typos (selalu menemani saya), lelucon (jangan harap), de ka ka , de es be, de el el.
Membaca fiction saya sama khasiatnya *?* dengan merokok
Jika hal diatas benar-benar terjadi, jangan laporkan ke akatsuki, karena author sudah tepar dikeroyok akatsuki mulu, kali ini laporkan keluhan anda ke aliansi shinobi *dibom*
.
.
.
The Vain Sacrifice
Happy reading guys!
.
.
.
Pagi yang cukup cerah di Konoha, cahaya matahari mulai menerobos masuk kamar ICU 17 Konoha Hospital. Sebuah buntalan entah apa itu berada di tengah ranjang. Buntalan aneh itu menggeliat dan ternyata isinya …
.
.
.
ngek-
SAPU IJUK MERAH MUDA! *SHANAROO!*
Maksudnya, gadis cantik dengan rambut merah muda yang mirip sapu ijuk (Sakura : abis nulis cerita ga selamat lu thor! HILANGKAN KATA SAPU IJUKNYA!)
Baiklah, mungkin maksud author, gadis cantik dengan rambut merah muda yang indah *terpaksa* meringkuk di dalam selimut putihnya. Baginya, berada di dalam selimut sambil tidur meringkuk itu sangat nyaman (author : dasar kebo!) *digoreng*
Mungkin bagi gadis tadi, hari ini menegangkan dan menyenangkan. Hari ini, matanya akan diganti dengan mata yang baru, tentu saja ini mata orang lain. Orang yang berhati mulia yang memberikan haknya untuk melihat kepada Sakura.
Di sisi lain, Sakura kebingungan, bagaimana nasib Naruto? Telepon dari Sasuke kemarin, menyadarkan Sakura bahwa Sasuke masih mencintainya, dan dia punya alasan yang logis untuk menjelaskan kesalahannya.
Tapi ia juga menyadari, cinta Naruto tulus dan tidak dibuat-buat, sungguh ironis baginya, apa alasan yang tepat untuk menolak cinta dari pria yang memiliki 3 goresan di setiap pipi nya itu? Cintanya terlalu tulus. Tapi Sakura menyukai pria itu tapi hanya sebatas sahabat, tidak mencintainya. Entah kenapa, berat sekali rasanya mengatakan yang sesungguhnya pada Naruto.
Dan bodohnya, kenapa Sakura menerima Naruto sejak awal, hah? Memang aneh, entah apa yang ada di pikiran gadis bermata senada dengan batu emerald itu saat Naruto mengungkapkan isi hatinya.
Yang jelas sekarang, si Sakura pemalas itu harus membangunkan paksa dirinya. Operasi akan dilakukan jam 12.00 sedangkan ini jam 9.30. memang, jika operasi kau harus datang minimal 1 jam sebelum diadakan karena banyak persiapan yang harus dilakukan.
"Pasien Sakura" suara lembut itu terdengar dari pintu kamar.
"Kaa-san kenapa memanggilku seperti itu sih? Aneh-aneh saja!" Jelas Sakura tau itu suara ibunya, perasaan senang merambat di hatinya. Karena ia sangat merindukan kaa -san nya itu menemaninya, terutama saat operasi nanti, ia sangat ingin kaa-san nya menyemangatinya.
"Padahal aku sudah menyamarkan suara ku ini, baiklah, Sakura bersiap untuk operasi nya" sebenarnya, Mito sangat tau siapa yang mendonorkan matanya pada Sakura, hanya saja orang itu tidak akan ia ungkit-ungkit lagi, karena orang itu sudah pergi jauh, jauuuhh sekali. Dan tidak akan kembali lagi.
The Vain Sacrifice
Sakura memasuki ruangan operasi, memasuki ruangan yang akan menjadi titik perubahannya, ruangan yang menentukan nasibnya. Bersama para dokter, suster dan sang pendonor mata, ia memasukinya.
'Selamat tinggal, mata emerald ku'
.
.
1 jam..
2 jam..
4 jam..
"Pasien Sakura!" Dokter Sasori keluar dari ruang operasi dengan wajah yang datar, tidak bisa ditebak -poker face-
"Iya, dokter" kata Hashirama menyambut keluarnya dokter muda itu.
"Selamat, operasi berjalan sukses" Dokter Sasori mengulurkan tangannya, disambut hangat oleh tangan Hashirama. Mito sangat senang dan lega, Moegi hanya ikut tersenyum melihat kaa-san nya tersenyum.
"Trimakasih dok, bagaimana dengan pendonor matanya?" ucap Hashirama
"Ia juga selamat, semua tindakan kami berjalan dengan baik" Pendonor mata yang baik itu, memang sudah seharusnya selamat.
"Sakura-nee dimana? Aku mau bertemu, aku mau bertemu!" Ucap Moegi tidak sabaran sambil loncat-loncat kaya anak autis
(Tobi : jangan nyebut-nyebut julukan gue! Thor!)
Baiklah, mungkin maksud saya loncat-loncat seperti orang gila.
(Kakuzu : weh itu gue dibawa-bawa, gue kan orangnya gila duit!)
Baiklah, memang akatsuki itu isinya ga beres semua ya! Leader nya ERO anggotanya AUTIS, GILA DUIT, BANCI, KERIPUTAN, HIU, TANAMAN VENUS, PENYEMBAH DJ, KERTAS ORIGAMI, emang Cuma Sasori yang waras *kisshug*
OK, LUPAKAN YANG DIATAS, ANGGAP ITU SELINGAN TIDAK JELAS.
" Sakura, di ruang pemulihan, mari saya antar" ucap Dokter Sasori sambil tersenyum manis ke arah Moegi *bayangkan* *nosebleed*
Mereka pun berjalan menuju ruang pemulihan, sang pendonor dan Sakura diletakan di ruang pemulihan yang berbeda.
Dengan sabar, mereka menunggu Sakura pulih dari obat biusnya. Walaupun memakan waktu yang lama.
"Kaa-san" Suara Sakura menghamburkan lamunan ibunya.
"Sakura" jawabnya, kali ini suasananya sudah berbeda Seperti saat Sakura berada di ruang pemulihan untuk pertama kalinya waktu itu.
"Nee-chan!" Teriak Moegi.
"Kaa-san Naruto tidak datang?" gumam gadis cantik itu.
"Tidak, ia tidak datang, aneh, padahal biasanya dia datang menjenguk ,tapi disaat seperti ini dia malah tidak datang" ucapan yang keluar dari mulut wanita 43 tahun itu serasa menusuk hati Sakura.
Ia baru ingat, ia tidak memberitahu Naruto sama sekali tentang operasi ini, bahkan, ia tidak memberitahu Sasuke, karena ingin merahasiakan masalah kecelakaannya. Tidak ingin Sasuke khawatir dan merasa tidak dianggap karena tidak mengabarkan tentang kecelakaan itu.
The Vain Sacrifice
"Dokter, kira-kira berapa lama lagi perban ini dilepas?" Tanya Mito, ia tidak sabar malihat putrinya bisa melihat 'lagi'.
"Tergantung keadaan, jika lukanya mengering cepat mungkin dalam waktu 1 minggu perban sudah dapat dilepas" jelas dokter.
"Tapi, apa sudah pasti bisa melihat?" nada bicara Hashirama menjadi tajam
"90% kemungkinan bisa, karena mata si pendonor juga sehat" jelas dokter yang membuat keadaan yang sedikit tegang tadi menjadi tenang.
Kini Sakura dipastikan bisa melihat, bisa melihat semuanya, bisa melihat apa yang ingin ia lihat, bisa terbebas dari kegelapan yang membelenggunya selama lebih dari sebulan ini. Tapi bukan dengan itu masalah bisa diselesaikan. Masalah akan terus berlanjut sampai ia mengatakan perasaan sebenarnya pada Naruto.
Cepat atau lambat, hal itu harus segera disampaikan, bagaimana pun keadaannya. Walau sangat sulit, tapi harus dijalani, mungkin masalah akan terselesaikan oleh waktu, tapi jika tidak ada usaha, bahkan waktu pun tidak bisa menyelesaikan masalah yang sulit itu.
The Vain Sacrifice
1 minggu kemudian…
"Sakura, saat kulepas perbannya jangan langsung memaksakan melihat, ya?" dokter Saori saos tiram *upss -ralat- Sasori
Sakura hanya mengangguk pelan, tandanya ia mengerti apa yang diajarkan dokter. Perlahan-lahan dokter mulai melepas perban Sakura dan ternyata lukanya telah mengering dengan cepat.
"Nah, Sakura, sekarang buka matamu perlahan" perintahnya.
'Ahh… silau sekali' gumam Sakura dalam hatinya.
Sedikit demi sedikit mata Sakura terbuka, walau sulit, karena telah lama tidak melihat cahaya matahari. Sakura membuka matanya sepenuhnya.
'Semua tampak bergoyang, goyang, tidak jelas tapi lama kelamaan jelas. Hei, tunggu, itu dokter Sasori? Dia masih muda, dan wajahnya seperti anak kecil, keren. Rasanya seperti mimpi bisa melihat lagi' batin Sakura.
"Bagaimana? Terlihat jelas?" Tanya dokter Sasori ragu, karena Sakura menyipitkan mata dan memonyongkan bibirnya.
"Ya, kau masih muda, seperti anak usia 20 tahun" ucap Sakura datar yang membuat Sasori terkekeh mendengarnya.
"Ck, kau , tapi tidak sakit kan saat melihat?" tanyanya lagi. Sakura menggeleng.
"Oh, iya hampir lupa, ini, surat untukmu ada orang yang memberikannya padamu, dan orang itu bilang kau harus membacanya ketika sudah bisa melihat nanti" ucapan dokter Saori membuat Sakura bingung. Ia menaikan sebelah alisnya dan membaca perlahan isi surat itu.
Sakura, selamat ya , kau sudah bisa melihat.
Sekarang kau sudah bisa melihat terang lagi, bukan?
Selama ini kau banyak bercerita padaku, kalau kau ingin melihat terang
Dan kau benci kegelapan yang kau rasakan
Tapi sekarang impianmu sudah terkabul
Kau bisa melihat terang
Dan soal janjimu padaku
Lupkanlah
Aku tau kau tidak sungguh-sungguh mengatakan 'ya' waktu itu
Dan aku tau, kau masih menyukai Sasuke
Bahkan kau mencintainya
Mungkin aku hanya pengganggu
Pengganggu hubunganmu dengan Sasuke
Kau juga pernah bilang kau ingin melihat semua yang ingin kau lihat
Tapi jika kau ingin melihatku
Bermimpilah
Dan tidak usah anggap hal 'itu' pernah terjadi
Anggap aku tidak pernah mengatakannya
Asal kau bahagia, aku akan bahagia
Itulah prinsip cintaku
Dan satu pesanku
Jaga mataku baik-baik
Kau tau siapa aku
Tess… tess… tess…
"hiks…hiks… Naruto…" Sakura menangis, menangis sesengukan karena, wow dia hanya tidak menyangka ia harus membiarkan Naruto semenderita ini. Betapa jahat dirinya.
"Kaa-san kenapa tidak bilang orang yang mendonorkan matanya padaku itu Naruto? Aku tidak akan membiarkan dia memberikannya padaku!" Tangisan gadis itu meledak seketika.
"Sakura… Naruto yang meminta merahasiakan identitasnya darimu" ucap Mito diiringi dengan tangisan kecil.
"Tapi dia sangat menderita karenanya…" gumam Sakura lirih. Air mata masih terus membanjiri kelopak matanya.
"Naruto mungkn telah mempertimbangkannya" sela Hashirama sebelum putri sulungnya mengamuk dan menghancurkan seluruh isi rumah sakit.
" Berarti Naruto buta? Dia tidak seharusnya buta demi orang seperti aku!" Sakura menggertakan giginya, kesal, penuh penyesalan, itulah yang ia rasakan.
Semua orang diam ditempat, tidak ada yang menjawab sama sekali.
"Sakura tenanglah!" Mito berusaha menenangkan Sakura dengan memeluknya. Sakura menangis didekapan Mito, menangisi betapa bodoh dirinya membiarkan orang yang telah menyelamatkan nyawanya menderita.
Tapi yang terjadi, biarlah terjadi, karena, tidak ada yang bisa diubah dari hal yang telah terjadi. Yang bisa diubah hanyalah masa depan, menentukan bagaimana masa depan kita…
The Vain Sacrifice
2 tahun kemudian…
"Halo? Ya, kenapa? Sekarang? Tapi aku-… ya, ya baiklah aku bisa… tunggu disana 15 menit lagi aku tiba" tiipp, lalu sambungan telpon dimatikan. Sakura bergegas menuruni anak tangga rumahnya lalu mengambil kunci mobil dan bergegas menuju bandara.
Ia menyusuri jalan Konoha, mobilnya melewati suatu tempat, tempat dimana ia tertabrak waktu itu.
"Naruto…" gumamnya lirih, "apa kau masih mengingatku?" lanjutnya.
Kurang lebih 20 menit, ia tiba di bandara. Menjemput seseorang, seseorang yang memerintahnya dengan paksa untuk menjemput orang itu. Tidak pernah berubah memang sifatnya.
Kakinya menelusuri kerumunan roang, mencari dimana orang menyebalkan yang memaksa menjemputnya itu.
"Hello, young lady, still remember me?" Sakura tersentak mendengar suara itu. "Sasuke-kun!"
Sakura memeluk Sasuke habis-habisan, seakan ini hari terakhir ia bisa melihat Sasuke. "Terlambat 5 menit" ucapnya dingin sambil tersenyum kecil.
"Hihi… bagaimana kuliahmu?" Tanya Sakura sambil melepas pelukannya.
"Baik aku lulus dengan nilai yang sangat memmuaskan, ada yang berubah darimu" Sasuke menaikan sebelah alisnya.
"Oh ya?"
"Matamu, kau memakai softlense?" Tanya Sasuke seakan mengintrogasi Sakura.
"Tidak, ini asli" gumam Sakura lirih, ia jadi teringat akan Naruto.
"Maksudmu?" kini Sasuke semakin bingung. Apa yang terjadi saat ia pergi meninggalkan Sakura selama 2 tahun ini?
"Ceritanya panjang, tapi yang jelas, mata ini adalah bukti pengorbanan seseorang yang sia-sia"
'Ya, kau tau? Pengorbanan yang sia-sia'
The End
A/N : HOREE TAMAT JUGA! Terimakasih untuk pembaca setiaku yang telah mengikuti fict pertamaku ini hingga akhir hayatnya -plak!- hingga tamat maksudnya. Kalo fict ini udah tamat, aku jadi ga kebeban kalo mau bikin fict baru. Habis ide bikin fict sudah menumpuk banyak diotaku dan saying kalo ga dikeluarin. Dan silahkan tanggapi cerita ini, mungkin banyak kekurangan dan kalo ada kelebihan *digaplok*. Baiklah yang terakhir.
Mind to review?
Regards
Nakamura Emi
