Disclaimer:
Masashi Kishimoto, I don't claim Naruto ^^
Warning:
Typo, OOC, AU, Stupid Fantasy, Another utility of Gelel Stone, Dark Naruto
Pairing:
Sasuke U & Hinata H
.
.
.
So this is it!
Anonymous Hyuuga presents
.
.
.
"PEGASUS"
Part Four
Aku menarik tangan Hinata untuk keluar dari rumah itu secepat mungkin. Namun Hinata menghentikan langkahnya dan seketika cahaya terang berwarna merah muda menyelimutinya, dan ia berubah menjadi sosok Pegasusnya. Tanpa dikomando, aku segera naik ke atas punggungnya, dan ia terbang ke suatu tempat yang aku tidak tahu di mana.
Dengan pandangan ngeri aku melihat ke bawah, dan mendapati salju-salju di tanah sudah meleleh karena saking panasnya atmosfer negeri ini. Bahkan aku yang tidak mengenakan baju tebal pun merasa kepanasan. Dalam hati aku bersyukur tadi tidak sempat memakai mantel ataupun sarung tanganku.
Tak lama, Hinata menurunkan aku di sebuah barak. Tempat itu kosong tanpa kuda ataupun penjaganya. Ia merubah sosoknya menjadi manusia, dan menuntun aku ke gudang penyimpanan senjata. Dengan cekatan ia mengambil dua buah katana. Ia memegangnya dengan satu tangan, dan menumpangkan tangan satunya di atas dua senjata itu, lalu menyerahkannya padaku. Ia juga memberikan beberapa shuriken dan kunai yang sudah ada di dalam sebuah kantong kecil.
"Bawa ini," kata Hinata dengan napas memburu. Ia memasangkan kantong berisi senjata tadi di paha kananku, dan menyampirkan dua sarung katana menyilang di punggungku. Aku hanya mengangguk dan memandanginya yang tengah sibuk.
"Bagaimana denganmu?" tanyaku setelah Hinata selesai memasangkan peralatan itu pada tubuhku.
"Aku tidak membutuhkannya," jawab Hinata sembari tersenyum sendu. "Monster tadi bernama Kyuubi. Sang pria yang kuceritakan sebelumnya adalah aktor utama dan dalang di balik kejahatan Kyuubi. Ia bernama Naruto. Aku ingin kau berwaspada jika kau bertemu dengan laki-laki berambut kuning dengan mata hitam dan iris merah. Iblis sudah merasukinya, Sasuke. Kumohon berhati-hatilah."
Ia mulai terisak lagi. Saat ia tengah menghapus air matanya, aku merengkuhnya ke dalam pelukanku. Berkali-kali kuhujani puncak kepalanya dengan kecupan singkat. Dan aku semakin mempererat pelukanku ketika aku tahu saatku untuk berperang sudah tiba.
"Satu lagi," ujar Hinata. Aku melepaskan pelukanku, dan memandangi matanya dengan kedua tangan memegang kedua pundak si Gadis Hantu. "Hancurkan kalung yang Naruto gunakan. Liontin kalung itu merupakan kristal berwarna biru kehijauan. Bentuknya memanjang. Itu adalah kalung curian dari Ibuku, dan merupakan sumber kekuatan utamanya."
Aku mengangguk pasti saat mendengar tutur katanya. Dari nada bicaranya yang tidak gugup atau tergagap seperti biasanya, aku yakin benar keadaan di sini sudah benar-benar genting. Hinata mulai merubah dirinya lagi menjadi Pegasus. Ia menundukkan kepalanya, dengan satu kaki depan ditekuk, dan menyentuhkan lehernya ke telingaku. Aku mengusapnya dan membiarkan ia keluar dari barak dan terbang.
"Sudah saatnya," bisikku pada diriku sendiri. Aku berlari keluar barak dan mulai bergerak mencari tempat persembunyian laki-laki bernama Naruto itu. Sembari memicingkan mata, aku memandang kejauhan dan mendapati penduduk negeri ini berlari-larian dengan panik sembari menjerit-jerit. Tak ada satu pun dari mereka berwujud manusia. Semuanya berwujud hewan mitologi. Aku cukup terkesan.
Aku terus berlari, hingga kutemukan seekor unicorn—sejenis Pegasus, tetapi tanpa sayap—jatuh terluka dengan tanduknya yang patah. Aku segera menghampirinya dan membantunya berdiri. Ia berteriak marah dan menyepak kakiku dengan kaki depannya.
Aku mengerti. Pasti kuda ini mengira aku adalah salah satu teman dari Naruto. Tch. Teruslah berharap aku menjadi teman orang yang sudah merebut kebahagiaan Hinata. Tak pernah dan tak akan pernah.
Dengan lembut dan sabar, aku mengatakan, "Tenang. Aku bukan teman Naruto."
Meskipun tak dapat berbicara bahasa manusia, kurasa unicorn itu mengerti, karena sikapnya segera tenang dan gestur tubuhnya tidak menunjukkan bahwa ia akan menyerangku. Ia membungkukkan badannya—seperti yang dilakukan Hinata Pegasus—dan berjalan terpincang-pincang untuk pergi.
Aku kembali berlari lagi, dan mulai kelelahan di tengah jalan. Aku berhenti dan menyandar pada sebatang pohon, sambil berbisik dalam hati, "Kuharap aku memiliki sayap."
Tak lama setelah aku mengatakan itu di dalam hati, punggungku terasa aneh. Kupikir ada sesuatu, dari pohon yang kusandari, yang mendorongku. Aku pun segera maju, dan merasakan sesuatu 'tumbuh' dari punggungku. Takut-takut aku melihat ke belakang, dan sedikit terkejut saat melihat sebentuk sayap besar berwarna hitam mulai tumbuh di bagian belakang tubuhku.
Batu Gelel! Pasti karena itu harapanku terkabul.
Dengan wajah berseri-seri, aku mulai membiasakan diriku dengan sayap itu. Kugerakkan dan kukepakkan sayapku, hingga perlahan tubuhku mulai terangkat dari tanah. Sedikit kikuk di awal memang. Namun lambat laun aku mulai terbiasa, hingga akhirnya aku bisa bergerak lebih jauh dari tempatku, dan terus terbang semakin cepat, dan semakin cepat.
Ternyata memiliki sayap jauh lebih menyenangkan daripada perkiraanku. Aku bisa tiba di tempat tujuan dengan sangat cepat. Kini aku berdiri di atas atap sebuah gedung. Aku melepas satu persatu genting yang menutupi gedung itu, dan mengintip ke dalam. Mataku terbelalak ketika mendapati beberapa manusia dengan baju besi tengah berkumpul di ruangan itu. Untuk memata-matai mereka, aku tengkurap di salah satu sisi atap, dengan telinga menempel ke sisi di mana aku sudah melepas gentingnya.
"Rumah Tuan Putri Hinata sudah dihancurkan oleh Kyuubi, dan kudengar ia sedang berada di sana saat itu. Kurasa ia sudah mati bersama reruntuhan rumahnya!" Sayup-sayup aku mendengar suara salah satu dari mereka berkata.
Yang lain tertawa mendengar itu, dan ejekan demi ejekan mulai terlontar dari bibir mereka untuk menghina Hinata. Aku merasa geram. Seenaknya mereka menghina gadisku. Memangnya ia tidak tahu ia akan berhadapan dengan siapa, jika mereka berani macam-macam dengan Hinata? Tch. Pemikiran apa itu? Sudah jelas mereka tidak akan takut berhadapan dengan si-anak-tukang-roti-tampan-yang-kini-mempunyai-say ap.
"Ada yang memata-matai kita. Suigetsu, tangkap tikus di atap itu!"
Sial. Aku tertangkap basah. Haruskah aku melarikan diri? Cih. Aku tak akan menyebut diriku laki-laki jika aku hanya bisa kabur saat masalah menghadapiku. Demi Tuhan aku harus melawannya. Kuambil satu pedang katana di punggungku, dan aku mulai memasang kuda-kuda. Astaga, kuda-kudaku pasti terlihat payah saat ini, karena seumur hidup aku belum pernah yang namanya belajar bela diri!
Tiba-tiba aku melihat seberkas bayangan manusia bertubuh tinggi, bersamaan dengan kata-kata yang keluar dari bibirnya, "Jadi kau tikusnya?" Aku semakin geram saat menyadari suaranya sama dengan orang yang menghina Hinata di awal.
Aku semakin was-was kala orang itu mulai mendekatiku. Tanpa merubah posisi, aku terus menggenggam katana di tangan kiriku semakin erat, sedang tangan kananku mulai meraih kantong di pahaku, untuk mengambil sebuah shuriken.
"Oh, pahlawan kesiangan rupanya," ejek orang itu. Lama-lama aku bisa melihat wajahnya yang terlihat menyebalkan dengan gigi seperti ikan hiu. Ingin rasanya aku menyayat-nyayat wajah orang itu, dan menghilangkan seringai iblis di wajahnya.
Tanpa aba-aba, orang itu mulai berderap ke arahku dengan sebuah pedang, yang jauh lebih panjang dariku, terhunus di tangannya. Spontan aku mengepakkan sayapku sehingga kini aku sudah berdiri di atasnya untuk menghindari serangan. Haha, apakah itu yang kau sebut dengan 'serangan'?
"Rupanya punya sayap," katanya sambil mendongak melihatku.
Aku berdiri di udara dengan gaya seanggun mungkin. Kakiku kurapatkan, dan hanya kuberi celah sedikit, sedangkan punggungku tegap dan daguku terangkat. Tangan kananku mulai bergerak cepat untuk melempar shuriken. Nyaris sekali shuriken itu mengenai telinganya, namun akhirnya meleset juga.
"Petarung yang payah," cibir laki-laki yang sepertinya bernama Suigetsu itu. "Turun jika kau laki-laki."
Tak usah disuruh pun aku akan turun dengan sendirinya. Memangnya kau pikir aku adalah laki-laki pengecut yang menggunakan pakaian besi?
"Lepas baju besimu jika kau laki-laki," balasku tanpa sedikit pun bergerak dari posisiku di udara. Memainkan emosi seseorang adalah satu hal penting dalam pertarungan—setidaknya begitulah yang kubaca di sebuah novel.
Rupanya permainan emosiku berhasil. Ia terlihat geram dan kesal padaku, sehingga tanpa pikir panjang, dibukanya pakaian besinya, dan dibuangnya pakaian itu ke bawah. Ia menatapku lekat-lekat dan berseru nyaring, "Aku laki-laki!"
Aku tersenyum meremehkan dan mulai turun kembali. Kuambil satu pedang lagi dari punggungku, hingga kini kedua tanganku memegang senjata. Dari gambar-gambar para superhero berpedang, beginilah posisi yang keren: Tangan kanan memegang pedang yang berdiri horizontal ke samping di depan hidung, dan tangan kiri menghunuskan pedang satunya ke arah lawan. Dan aku menggunakan posisi itu, hanya sekedar untuk menghibur diriku sendiri, bahwa aku terlihat keren.
Kupikir posisiku itu sedikit mempesona orang di depanku, karena ia terlihat melongo. Tanpa tedeng aling-aling, aku memanfaatkan momen ini dengan terbang secepat kilat ke belakangnya. Aku menodongkan pedang di tangan kananku ke leher bagian depannya dari belakang.
"Masih mau melawan?" tanyaku di sebelah telinganya. Kubuat nada bicaraku sedingin dan setidak berperasaan mungkin, hingga kupastikan lawan di depanku ini menegang. Tanpa ba-bi-bu, aku segera melakukan gerakan final, yaitu—bukan membunuhnya dengan pedang—menendang bokongnya hingga ia terjatuh dari atap. Jujur saja, aku hanya akan mengotori tanganku untuk membunuh dalang dari semua ini: Naruto.
-ooo-
Lama aku berpikir bahwa Hinata dalam bahaya.
Dari percakapan yang kudengar dari para prajurit gagal itu, mereka berpikir bahwa mereka telah membunuh Hinata, dan tampaknya mereka sangat puas akan hal itu. Bukankah itu menggambarkan bahwa Hinata merupakan objek utama bagi para musuh?
Aku mengutuk diriku sendiri yang lambat dalam berpikir. Segera aku mengurungkan niatku untuk mencari Naruto, dan berganti tujuan untuk mencari Hinata. Secepat kilat aku membawa diriku terbang ke arah berlawanan. Beberapa anak panah beterbangan di dekatku, namun dengan lihai aku berhasil menghindarinya. Kurasa objek kedua bagi mereka adalah aku.
Dari atas ini aku bisa melihat dengan leluasa, tetapi sekalipun demikian, aku tak juga mendapati sosok Hinata, baik dalam wujud Pegasus ataupun gadis cantik dengan gaun berwarna putih. Aku mengerang frustasi dan menurunkan diriku di atas sebuah atap rumah yang sedikit terlindung, karena rindangnya pohon yang tumbuh di depan sana. Sekalipun agak tertutup daun-daun pohon, aku masih bisa melihat ke sekitar dengan cukup leluasa.
Sesuatu menarik perhatianku di ujung sana, di udara.
Aku memicingkan mata untuk melihat lebih jelas lagi. Akhirnya aku bisa melihat objek incaranku. Seekor Pegasus dengan warna merah muda pucat dan surai indigo. Ia terbang dengan tidak sempurna, hingga kulihat luka besar di pinggangnya. Ia menjerit-jerit meneriakkan sesuatu.
Hingga kudengar ia meneriakkan namaku.
Kepalaku terasa berdenyut ketika kusadari pemandangan di depanku sangatlah amat persis dengan mimpiku beberapa jam yang lalu. Aku menarik kesimpulan. Pegasus itu pasti Hinata. Aku segera terbang mendekatinya, dan berseru memanggil namanya. Namun tampaknya ia tidak mendengarku, karena ia terus terbang sampai akhirnya ia terjatuh karena kurasa sudah tak kuat lagi. Aku segera menukik tajam untuk menghampirinya.
Sosok Pegasus itu kini sudah berubah menjadi seorang gadis cantik dengan gaun panjang berwarna putih. Namun gaun itu kini tidak lagi putih polos. Ada bercak merah di bagian pinggangnya. Aku segera berjongkok di hadapannya. Kuangkat tubuhnya dengan tangan kiri di bawah lehernya, dan tangan kanan di bawah lekukan lututnya.
"Sa-Sasuke-san," bisiknya sambil tersenyum lemah ketika melihatku.
"Bertahanlah," kataku cepat sambil membawanya terbang ke atap tempat aku tadi melihatnya pertama kali. Aku menggigit bibir untuk mencari tempat yang aman bagi Hinata. Hingga akhirnya sebuah ide tergambar jelas di dalam benakku. "Akan kubawa kau ke rumahku," ujarku pada Hinata.
"Ti-tidak. A-aku putri ne-negeri ini… aku… aku harus menyelamat…kan mereka," tukas Hinata dengan napasnya yang tinggal satu-satu.
"Kau incaran utama perang ini, Hinata-chan! Kau harus paham!" bentakku dengan mata berkaca-kaca. Ah, persetan dengan gengsi yang selama ini kutahan-tahan. Aku tidak peduli lagi. Aku tak mau melihat Hinata mati di depanku. Sungguh aku tak bisa.
Hinata memandangku dengan mata yang juga berkaca-kaca. Ia menyadari bahwa tubuhnya juga sudah terlalu lemah.
"Kau lihat? Ini baru permulaan, tetapi kau sudah diserang," ujarku lebih lembut lagi, "Kumohon percayakan ini semua padaku."
Gadis di hadapanku tidak menjawab, sehingga aku memutuskan untuk membawanya ke dunia manusia. Namun saat aku sudah memutuskan itu, aku menjadi teringat akan perkataan Hinata bahwa tak ada satu pun makhluk yang bisa keluar dari dunia ini selain dirinya. Bisa saja Hinata menggunakan kekuatannya, namun masakan aku tega membiarkannya berjalan tergopoh-gopoh ke rumahku dengan luka seperti itu? Aku kini mulai meneteskan air mata karena frustasi. Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika hal buruk terjadi padanya.
"Ge-gelel," bisik Hinata dengan sisa tenaganya.
Demi Jenggot Naruto! Aku melupakan batu ajaib itu. Aku pun mengangguk, dan berbisik, "Aku harap aku dan Hinata bisa ke dunia manusia."
Tak sampai satu detik, kami sudah sampai di dunia manusia—tepatnya di dataran angker. Aku tercengang saat mendapati sayapku sudah tidak ada. Ah, persetan. Yang penting aku harus membawanya ke rumah! Dengan secepat kilat, aku berlari ke rumah dengan Hinata di gendonganku. Ketika sampai, aku menggedor pintu menggunakan kepalaku—tolong ingat fakta bahwa kedua tanganku terpakai saat ini—dengan tidak sabar.
Kira-kira tiga menit setelah kepalaku mulai terasa sakit, pintu kaca toko sudah terbuka, dan kini yang ada di hadapanku adalah Itachi si Baka Aniki. Ia memandangku dan Hinata secara bergantian dengan terkejut menggunakan matanya yang masih mengantuk.
"Sasuke? Bagaimana—?"
"Tak ada waktu. Tolong bawa gadis ini, dan minta Ibu mengobatinya. Cepat. Akan kujelaskan saat aku pulang nanti. Kumohon," jelasku cepat-cepat sambil menyerahkan Hinata yang sudah pingsan ke gendongan Itachi.
Itachi mengangguk mengerti tanpa banyak bicara.
Ia hampir menutup pintu ketika aku berkata lirih, "Doakan aku agar selamat, ya? Jaa mata!"
Aku segera berlari ke arah dataran angker tanpa sedikit pun menoleh lagi. Ketika sampai di sana, aku mengucapkan harapan, dan sudah sampai di negeri aslinya Hinata.
-ooo-
"Hinata atau Naruto?"
Tiba-tiba, ketika aku baru sampai di negeri yang penuh kekacauan ini, aku sudah ditodong sebatang tombak oleh seekor centaur. Tanpa menjawab, aku menunjukkan Batu Gelel padanya. Kurasa ia tahu bahwa itu adalah milik Hinata, karena ia segera menurunkan tombaknya dan membungkuk padaku.
"Sekarang naik ke punggungku, dan kita ke tempat persembunyian," kata Sang Centaur sambil berbisik.
"Tak perlu. Ada sayap," kataku cepat.
"Sayap? Omong kosong. Tak ada sayap di punggungmu, Bodoh! Sudah cepat naik!" desak Centaur itu. Aku mengecek punggungku, dan ketika tahu memang benar sayapku sudah hilang, aku segera naik ke punggungnya, dan ia berlari secepat kilat, hingga kami tiba di sebuah gua gelap yang didominasi warna hitam. Ia menyuruhku turun, dan menuntun aku ke dalam gua itu, berikut ke belokan-belokan memusingkan yang ada di dalamnya.
Aku tersentak ketika melihat rautsan makhluk-makhluk mitologi yang berdiri atau duduk diam di dalam sana.
Kebanyakan dari mereka berbisik saat melihatku, dan kebanyakan dari mereka pula aku tak mengerti bahasanya. Tetapi aku bisa menebak dengan mudah, bahwa mereka bertanya 'Mengapa ada manusia di sini?' atau 'Mengapa si—Nama Centaur—membawa teman Naruto ke mari?'
"Teman-teman, orang ini adalah teman Putri kita, Hinata. Kita harus mempercayainya, karena kini ia yang memegang Batu Gelel!" seru Sang Centaur, membuat yang lainnya terdiam.
Aku mengerutkan kening. Tunggu, Centaur itu menggunakan bahasa Jepang, sedangkan para makhluk mitologi yang ada di situ kebanyakan menggunakan bahasa alien. Lalu, bagaimana mereka bisa mengerti?
"Tuan, tolong sampaikan pada mereka apa yang terjadi pada Tuan Putri kami," kata Centaur dengan kepala ditundukkan.
"Tapi, bagaimana—?"
"Mereka mengerti bahasa apa pun yang kita bicarakan," jelas Centaur cepat sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku.
Akhirnya aku mengangguk dan menceritakan bagaimana Hinata meminta bantuanku beberapa jam yang lalu, dan bagaimana ia memberikanku Batu Gelel itu sebelum Kyuubi menyerang rumahnya—dengan sangat singkat.
"Hinata kini berada di dunia manusia. Ia terluka parah," jelasku pada akhirnya, dan sontak membuat kebanyakan makhluk mitologi yang berjenis kelamin betina—atau perempuan, terserah—menangis histeris.
Setelah perundingan seru di antara mereka, yang aku pun sama sekali tidak mengerti, mereka memutuskan untuk mempercayai aku sebagai pemimpin. Aku meneguk ludah mendengarnya. Oh, tolonglah, aku saja tidak berani membunuh salah satu prajurit berpakaian besi. Tunggu, bukankah aku sudah berjanji pada Hinata bahwa aku akan menanggung ini semua? Dan kini aku tidak sendiri! Aku memiliki pasukan. Ini pasti akan berlangsung jauh lebih mudah dari perkiraanku. Lagi pula tampaknya aku sudah membangkitkan kepercayaan diri mereka. Tidak seharusnya, 'kan aku meruntuhkannya?
Aku pun memutuskan untuk tersenyum, mengangguk, dan menyanggupi kepercayaan mereka.
Melihat tanggapanku, mereka berseru-seru dengan semangat. Sesegera mungkin mereka menyambar senjata apa pun yang ada di sana, dan membentuk barisan. Aku pun memulai debutku sebagai pemimpin pasukan utama. Dengan cepat dan penuh perhitungan payah, aku membagi mereka menjadi enam kelompok. Kelompok pertama kutugaskan untuk menjaga bagian utara, kelompok kedua bagian timur, kelompok ketiga bagian selatan, kelompok keempat bagian barat. Sedangkan kelompok kelima kuberi tugas untuk menjaga bagian tengah, dan kelompok keenam dengan aku sebagai kepala pasukannya bertugas menyerang jantungnya—persembunyian Naruto.
Setelah mengucapkan kalimat-kalimat keberuntungan, kami mulai bergerak keluar gua, dan berpencar setelah berada di luar. Tentu tidak semulus itu. Banyak prajurit dari Naruto yang memergoki kami di awal, namun segera diserang habis-habisan. Aku mengucapkan harapan untuk memiliki sayap, dan sayapku kembali tumbuh, hingga aku bisa terbang dan bergerak leluasa. Centaur yang tadi membawaku berada di pasukanku. Ia kutugaskan untuk memberikan petunjuk arah di mana Naruto berada, karena aku tidak mengerti seluk beluk negeri ini.
Berkali-kali pasukan Naruto menyerang, namun tak ada satu pun dari mereka yang kugubris. Bukankah aku sudah bilang, bahwa aku tidak akan mengotori tanganku jika bukan untuk Naruto? Kuserahkan saja mereka itu pada pasukanku. Beberapa tampak kewalahan, sehingga aku terpaksa membantu mereka dengan melemparkan kunai atau shuriken yang kubawa. Namun itu sengaja kuarahkan ke pundak atau punggung mereka, agar aku tidak membunuh.
Kami akhirnya sampai di dekat sebuah istana besar. Dari kejauhan, aku melihat istana itu didominasi warna hitam dan merah. Beberapa tanaman merambat tampak tumbuh liar di menara-menara pemantauan istana itu. Pasukanku kuminta bersembunyi di balik semak-semak yang mengitari areal istana itu, sedangkan aku duduk di atas sebuah pohon. Aku mengamati bagian-bagian istana itu, berusaha mencerna di mana titik lemahnya. Namun aku kembali mengerang frustasi ketika kulihat hampir semua sisi dijaga oleh para prajurit. Prajurit-prajurit itu tidak menggunakan pakaian besi. Hanya pelindung kepala, tombak, dan tameng saja yang mereka gunakan.
Aku mencari titik kelemahan para prajurit itu, dan segera tersenyum ketika melihat tangan para prajurit yang memegang tombak tidak dilindungi apa pun. Aku turun ke dekat para centaur bergerombol. Mereka masing-masing membawa panah dan busur. Aku bertanya apakah ada salah satu dari mereka ada yang membawa racun, namun sia-sia, mereka menggelengkan kepala.
Kembali aku menggigit bibir untuk berpikir dan mencari tahu, hingga sebuah suara mengejutkan aku di belakang. Saat aku menoleh, yang kutemui adalah seekor unicorn yang tadi kutolong. Ia memberikan aku sebotol racun, yang ia gigit, dari mulutnya. Aku mengucapkan terimakasih dan ia membungkuk dengan sopan sebelum mengendap pergi.
Dengan cepat, kutetesi racun itu ke masing-masing anak panah para centaur. Aku memberitahu rencananya, dan mereka segera mengangguk mengerti. Mereka pun segera menyebarkan rencana itu pada makhluk-makhluk lain, dan mereka langsung saja paham.
Aku tersenyum puas, dan kembali terbang ke atas pohon. Saat kuberi aba-aba, para centaur dengan panah beracun mulai menembakkan panah mereka satu persatu ke arah tangan para prajurit yang telanjang. Aku mengerutkan kening untuk menunggu reaksinya, dan segera terlonjak senang ketika satu persatu dari mereka mulai pingsan. Aku pun menunjuk ke istana, dan pasukanku segera berlari menyerang istana secara terbuka.
Baru kami memasuki gedung istana itu, pertumpahan darah mulai terjadi. Namun aku yang pengecut ini justru bersembunyi di balik pilar. Aku tak mampu melihat itu semua, dan tak ingin membunuh satu saja di antara mereka. Aku tak ingin melihat orang saling menusukkan tombak, atau menebaskan pedang ke leher lawan. Dalam kegelisahanku, aku mendengar suara isakan yang mengalihkan perhatianku. Kulihat di depan pintu masuk, seekor centaur muda menangisi ibunya yang sudah tergolek tak bernyawa di tanah.
Aku menepuk pundak centaur itu dan berkata dalam bahasa Jepang, "Sudahlah. Jangan menangis."
Rupanya centaur itu juga bisa berbahasa Jepang, karena ia segera menyahut dengan marah, "Kau tidak mengerti! Kau pengecut yang hanya bisa bersembunyi. Aku menangisi Ibuku, dan kau bilang 'jangan menangis', eh?"
Aku tertegun mendengar ucapannya. Ia benar. Aku pengecut.
Setelah terdiam cukup lama, aku berbalik badan, dan sedikit menoleh untuk mengatakan, "Terkadang kita harus mengorbankan satu nyawa demi kepentingan ribuan nyawa lainnya."
Lalu aku segera terbang secepat kilat untuk mencari Sang Penguasa Jahat.
"Kyuubi!"
Teriakan dari para pasukanku membuat aku menghentikan kepakan sayapku. Aku sedikit membalikkan tubuh dan melihat monster berekor sembilan itu sudah menghancurkan bagian depan istana. Aku membelalakkan mata ketika melihat sembilan ekor monster itu bergerak mengerikan. Berkali-kali para centaur menembakkan anak panah, tetapi yang ada anak panah itu justru patah dan sama sekali tidak berpengaruh pada monster itu.
Sinting. Panah itu sudah dilumuri racun dan tidak berpengaruh? Aku segera menukik ke arahnya, dan monster itu segera melihatku dengan geram. Aku meraih beberapa shuriken dan menghujaninya dengan senjata kecil itu. Padahal aku sudah mengarahkan shurikenku pada matanya, namun sama sekali tidak memberikan efek berarti. Ia berjalan ke arahku dan menginjak beberapa anggota pasukanku baik yang sudah mati maupun yang belum. Monster itu menggeram mengerikan.
'Keselamatan pasukanku adalah hal utama saat ini,' pikirku. Aku segera terbang cepat keluar dari istana, karena aku tahu monster itu akan mengejarku. Dan bingo! Ia benar-benar berjalan ke arahku dengan raungan kerasnya.
"Kemarilah, monster jelek," bisikku pelan. Aku merasa was-was. Jantungku berdegup kencang karena memikirkan ini adalah akhir hidupku. Persetan. Aku tak peduli kalau memang aku harus mati saat ini. Yang terpenting, aku mati bukan sebagai orang yang tidak berguna. Aku mati sebagai pahlawan. Masa bodoh jika mereka menyebutku pahlawan kesiangan. Bukankah yang penting ada embel-embel 'pahlawan'nya?
Kyuubi mengangkat satu kaki depannya untuk memukulku dari samping. Aku berhasil mengelak. Beruntung. Pasti aku sedang beruntung. Karena aku yakin bukanlah orang biasa yang bisa mengelak dari pukulannya yang cukup mematikan.
Aku terus menerus menghindar sampai-sampai hampir kulupakan katana di punggungku. Dengan segera kuambil dua katana yang tersampir di punggungku, dan segera menggenggamnya kuat-kuat. Ini gila memang. Tapi aku berani bersumpah keberanianku naik seratus persen ketika memegang dua senjata itu. Aku merasakan ada sebuah energi yang terpancar dari pedang itu.
Sudah beberapa kali aku menyerangnya, namun tak ada sedikitpun kesempatan untukku. Ia kembali mengayunkan kaki depannya, dan kali ini aku tak sempat mengelak. Kaki itu berhasil menampar wajahku dengan telak. Aku terjatuh. Kurasakan pipi kiriku seperti dibakar. Perih. Aku menggigit bibir dan menghembuskan napas kuat-kuat. Hampir aku menyerah dan meminta pada Batu Gelel.
'Tidak. Aku tidak boleh terus menerus menggantungkan hidupku pada batu ajaib.'
Aku pun kembali berdiri dengan sedikit terhuyung, lalu mulai mengepakkan sayapku. Persetan dengan rasa sakit ini, aku harus berjuang demi Hinata. Bukan demiku. Aku kini tak peduli lagi dengan namaku yang mungkin akan harum jika aku berhasil ataupun tidak. Kini yang ada di bayanganku hanyalah Hinata yang tergolek lemah karena luka besar di pinggangnya. Mendadak aku merasa sangat marah. Kurasakan aura gelap mulai merajaiku. Aku terbang mendekati Kyuubi, dan ia mulai memperlancar serangannya. Sia-sia. Aku sudah terlanjur geram pada monster satu ini, hingga gerakanku mendadak menjadi sangat cepat. Sekali lagi aku berhasil mengelak, dan aku sudah berada di atas sembilan ekor monster keparat ini. Kutebaskan katanaku pada satu ekornya.
Tidak seperti pedang para centaur, pedangku berhasil memutuskan satu ekornya.
Tiba-tiba aku teringat akan apa yang dilakukan Hinata pada pedang ini sebelum ia memberikannya padaku. Ia menumpangan satu tangannya di atas kedua pedangku. Aku yakin ia menyalurkan sebagian energinya pada pedang ini.
Aku tersenyum ketika Kyuubi meraung keras. Kekuatannya jelas berkurang karena ia mulai sedikit kikuk dengan langkahnya. Ia menyerang secara membabi buta dan membuatku semakin gentar. Tidak. Aku tidak boleh gentar. Aku harus melawannya.
Baru saja aku hendak menebaskan pedangku ke satu lagi ekornya, sebuah tangan menepukku dari belakang. Aku menoleh, dan mendapati gadis cantik berambut indigo panjang dengan sayap putih ala Pegasus-nya sedang tersenyum padaku. Aku yakin kami akan tampak sangat kontras; aku dengan sayap hitam dan pakaian gelapku, dengan Hinata dengan sayap dan pakaian putihnya.
"Hi-Hinata-chan? Lukamu?" tanyaku sembari menariknya menjauh dari Kyuubi hingga kami berada pada jarak yang aman sekarang.
"Sasuke-kun, aku bisa sembuh dengan cepat berkat Ibumu," jelas Hinata tanpa mengurangi senyumannya, "Pertarunganmu yang sesungguhnya bukan dengan monster itu."
Aku tertegun. Ia benar. Aku adalah peran utama dalam pertempuran ini. Aku harus membasmi peran utama juga. Bukan kaki tangannya.
Dengan pasti aku mengangguk. Sebelum aku pergi, aku menyempatkan diri untuk menangkup kedua pipi bulatnya, dan mengecup bibirnya dengan singkat, lalu tersenyum padanya.
Ia membalas senyumanku. Dibelainya wajahku dan ia berbisik, "Sa-Sasuke-kun. Jaga dirimu."
Aku mengangguk pasti dan mulai terbang kembali ke istana untuk mencari aktor utama dari pihak musuh. Jantungku berdegup keras. Kali ini bukan karena takut, tetapi karena merasa tidak sabar untuk berjumpa dengannya dan mengucapkan 'halo'.
Saat aku sudah sampai di istana, beberapa prajurit mulai menghujani banyak pertanyaan dan rasa terimakasih, namun tak juga kuhiraukan dan terus saja aku terbang untuk mencari di mana pengecut itu berada. Aku sampai di depan sebuah pintu besar yang sangat menarik perhatianku. Tanpa banyak bicara, aku mendorong pintu itu hingga terbuka lebar. Pemandangan di hadapanku membuatku sedikit terpana. Sebuah tahta raksasa berwarna hitam dengan batuan rubi bertebaran di sandaran punggung maupun sandaran tangan. Bantalan empuk berwarna merah diletakkan di tempat duduknya. Dan juga sebuah meja kecil dengan buah-buahan segar di sebelahnya.
Ah, persetan dengan pemandangan di depan, aku harus mencari Naruto si Raja Gadungan.
Dengan cepat aku terbang mengitari ruangan, namun tak sekalipun aku melihat pria berambut kuning yang diceritakan Hinata. Tch. Merepotkan. Aku pun berniat untuk mencarinya di tempat lain. Ketika aku hampir keluar dari pintu besar ruangan itu, mendadak pintu itu tertutup dan mengeluarkan suara keras.
"Oh, manusia peri si anak pemilik toko roti rupanya."
Sebuah suara dari arah tahta mengejutkanku. Bagaimana mungkin? Pertama, bagaimana mungkin ia mengetahui aku adalah anak pemilik toko roti? Dan kedua, bagaimana mungkin ia kini berada di ruangan itu? Ia bahkan tadi tak ada di sana, dan kini aku melihatnya tengah duduk dengan satu kaki dilipat di atas kakinya yang lain. Sebelah tangannya menyandarkan pelipisnya ke sandaran tangan. Dalam gelap aku bisa melihat siluet rambutnya yang jabrik. Sebuah jubah panjang dengan kerah setinggi kepala ia kenakan. Ujung bawah jubah itu menjuntai sampai ke bawah.
"Tch," decihku kesal sambil turun ke tanah dengan dua tangan semakin erat menggenggam katanaku.
"Jangan terburu-buru-ttebayo," katanya sambil berdiri dari tahtanya. Ia berjalan semakin dekat ke arahku, dan perlahan aku bisa melihat rupanya. Ia memiliki tiga guratan horizontal yang tampak seperti kumis kucing di masing-masing pipinya. Bibirnya tipis dan mengeluarkan senyuman miring yang menyebalkan. Hidungnya mancung dan kedua matanya tampak mengerikan. Keseluruhan mata itu berwarna hitam dengan iris mata merah. Aku yakin itu dalam pengaruh sihir.
Ia membentangkan kedua tangannya sambil berjalan terus ke arahku. Aku sedikit menekuk kedua kakiku untuk berjaga-jaga kalau ia tiba-tiba menyerang. Jantungku benar-benar berdegup keras saat ini. Niatanku untuk mengucapkan 'halo' sirna sudah, karena aku sudah terlanjur dimakan kemarahan yang meletup-letup.
"Jadi kau orang yang sudah membuat Hinata dan rakyatnya menderita?" tanyaku dengan geram. Aku menegakkan posisi berdiriku ketika ia sudah berdiri kira-kira satu meter di depanku.
"Hinata pacarmu, ya? Sebenarnya aku menyukainya, tetapi aku ingin memastikannya mati dulu sebelum aku menikahinya," katanya dengan seringai buas.
Keterlaluan! Aku tidak terima ia mengatakan hal semacam itu untuk Hinata. Dengan gegabah aku segera berlari maju dengan satu katana condong ke depan. Namun ia tidak menangkis atau menghindari serangan. Ia menangkap katanaku dengan tangan kirinya masih sambil mempertahankan senyumannya. Aku tercengang ketika melihat darah menetes dari tangannya, namun ia tak sedikitpun terlihat kesakitan.
"Aa. Tunggu dulu. Bagaimana dengan mengobrol sambil minum teh?" tanyanya sambil menyentakkan katanaku, sehingga aku terhempas ke belakang. Aku merasakan bokongku terasa sakit, namun tak peduli dengan rasa sakit itu, aku segera kembali berdiri.
Orang itu membalikkan badannya dan berjalan ke tahtanya dengan santai. Ini kesempatanku! Dengan cepat aku terbang mendekatinya dan menghunuskan pedangku padanya. Ia bukan lawan yang mudah, karena ia segera membalikkan tubuhnya dan kembali menahan pedang itu.
"Rupanya kau sudah tak sabar bermain, ne? Baiklah, kita main-main sebentar sebelum upacara pemakamanmu-ttebayo," katanya dengan seringai yang semakin lebar.
Aku menurunkan pandanganku ke arah dadanya. Di sana tergantung sebuah kristal berwarna biru kehijauan yang memanjang ke bawah.
"Hancurkan kalung yang Naruto gunakan. Liontin kalung itu merupakan kristal berwarna biru kehijauan. Bentuknya memanjang. Itu adalah sumber kekuatan utamanya."
Benar. Semua kekuatan miliknya sudah pasti berasal dari liontin kristal itu. Kali ini aku tidak tergesa-gesa. Dengan gaya seanggun mungkin aku kembali ke tanah. Meskipun aku tampak tenang, aku terus menerus melekatkan pandangan pada liontin di dada Naruto, memikirkan cara untuk menghancurkannya.
Ternyata tidak hanya aku yang tertarik pada kalung lawan. Naruto juga memperhatikan kalung Batu Gelel yang kugunakan. Seringainya terlihat semakin lebar. Ia berkata sambil tertawa, "Kau membawakan hadiah untukku, ya? Aku suka mengoleksi kalung-ttebayo."
Tch. Ambil kalung ini dan akan kukirim kau ke neraka dalam sekejap mata.
Aku terkejut saat tiba-tiba tangan Naruto sudah memegang leherku. Kapan ia bergerak? Sungguh kecepatannya sangat memukau. Ia menyeringai senang saat melihat ekspresiku yang napasnya tercekat karena ia mencekikku.
"Tak bisa bernapas?" tanyanya.
Aku terbatuk-batuk saat ia melepaskan tangannya. Aku merasakan ada yang hilang dariku. Segera kuraba dadaku, dan kalung Batu Gelel tadi sudah tak ada. Pencopet! Ia mencuri kalungku dengan sangat halus dan gerakannya rapi tak terbaca. Bagaimana ini? Ia akan menjadi semakin kuat dan tak terkalahkan. Kini sumber kekuatannya ada dua, ditambah lagi kekuatan miliknya sendiri. Sedangkan aku hanya dengan tangan kosong. Tunggu, tangan kosong? Tidak. Aku punya dua katana dan puluhan shuriken atau kunai.
Jika aku yakin, tak ada yang bisa mengalahkanku.
Aku tersenyum saat ia tertawa puas. Ia tampak heran akan tanggapanku, namun hanya sesaat, karena ia segera mengeluarkan harapan pertamanya.
"Aku harap, orang selain diriku di ruangan ini mati-ttebayo."
To be continued.
Yeahooo~ Sasuke sudah di dunia Pegasus, dan sudah bertemu dengan Dark Naruto-ttebayooo~
Wokeh, kita liat balesan ripiu ajah yaah~ cekidot:
-Nurul: Hai! Wakarimashita :3 Arigatou!
-FatitaRH: Usuratonkachi tuh artinya 'Tidak bergunaaa!' yah macem itulah, itu salah satu kata spesialnya si Sasuke awkawk. Iya, belom pernah._.a Gimana sih ini, batu gelel aja gatau *muka nyolot* *dilempar kotoran telinga gajah* Yeah, gatau dari mana itu ide-_- tiba-tiba kepikiran gajah dan iuh kotoran telinganya-_- wakakak Tamatnya nanti di chapter 6 rencananya~ Woh, bukan Menma, itu Dark Naruto ~ :3 Iya, di sini Naruto jahat -_- gue aja kesel nulisnya-_- Masalah bunga melati... um... tiba-tiba kepikir -_- iya ya, kenapa bunga melati (oAo)! Tapi yang jelas, itu bunga bukan dimakan.. plis... -_- Oke, makasih sudah merippiuu! #muah *dibunuh*
-IndigOnyx: Hiyeaaah~ Saya setuju kookk xD berhubung ini cerita udah kuselesain, aku gamungkin ngapus atau berenti ngapdet meskipun ripiunya dikit :3 aku juga tau kok banyak silent readers di luar sanah yang mengagumi ceritaku *PD kelas akut* Yaah! Ganbarimasu! :3 Arigatou gozaimashita~
-Yafa mut: Okee deehh~ :3
Yeah, sekian dulu balasan ripiunya. Intinya, tetap semangat membaca(?) dan semakin giatlah mereview! *digebukin*
Author capcus dulu yaah~ ITTE KIMASU~!
