A Naruto Fanfiction..

BORED BE SEME

~ Bosan Jadi Seme ~

RATE: T

GENRE: Romance, drama, SHONEN-AI/YAOI, friendship

DISCLAIMER: Naruto belongs to Kishimoto Masashi-sensei

WARNING: AU, banyak kata2 gombal ala playboy, maybe typos, shonen-ai/yaoi, masih ada kesempatan untuk "back"

Insert Song: "Fallin in Love" (English Version) by J-ROCKS

PAIRING: SasuNaru (S.N)

Summary: Naruto penasaran dengan pemuda yang menolongnya kemarin, Sasuke. Dibantu Kiba dan Sai, diapun mencaritahu tentang Sasuke. Rencana memata-matai Sasuke-pun dimulai.


Bwt yg udah review..

Mizuhara: Mkch udah review. Sasu gak ambil kartu namanya Naru kok, walau ada 'apa2nya' dibalik kartu itu. Itachi muncul di chapter ini.

Apdian Laruku: Iya, Blue itu Sasu. Color image-nya Sasu kan biru, kalo yang lainnya menyesuaikan aja (soalnya bingung yang Shino, kalo Shika sm Neji sih gampang). Mkch udah review.

chielasu88: Mkch udah review. Dibilang cinta, Naru gak bnr2 cinta. Mgkn sekedar sayang aja sih. Tapi gak niat mainin mereka.

Rose: Adegan mesra akan selalu kuusahakan. Mkch udah review.

CCloveRuki: Mkch udah review. Minta izin dulu? Pasti bakal gak diizinin.

Vii no Kitsune: Mkch udah review. Urutan pacarnya sm dg urutan pemunculan di chapter 1 pada bagian *first: Gaara; *second: Menma; *third: Haku; *forth: Sumaru. Update-nya tergantung suasana hati.

Kazuki NightNatsu: Namanya juga seme, Sasu jadi agresif. Kamu suka Shino ya? Mkch atas reviewnya.

ukkychan: Scene SasuNaru selalu kuusahakan banyak. Mkch udah review.

minami: Adegan lari SasuNaru itu sebenarnya tak sengaja, soalnya bingung mau gimana lagi. Mkch udah review..

Taz Atobe: Mkch udah review. Saranmu bagus juga, menyiksa Naru dg perasaan bersalah ke uke2nya. Haku itu di anime-nya kan cowok, jadi ya cowok (walau cantik utk ukuran seorang cowok). Soal Sasu tahu kalo Naru itu playboy sepertinya boleh juga.

aihime: Saran yang bagus..^^ Mkch udah review.

IYouMe sasunaruLoverz: Namanya juga orang jatuh cinta jadinya begitu deh. Mkch udah review.

sabishii no kitsune: Mkch udah review. Sharingan itu grup band, tapi kadang juga bertindak seperti halnya boyband. Aku juga merasa aneh waktu mencoba bayangin Sasu nyanyi LOVE IS, karena suaranya jadi lembut ke'uke'an. Karena "unleash your imagination", suaranya berubah jadi barinton sesuai dg image Sasu. Hohoho..sepertinya hanya kamu yg menyadari ada apa2 dibalik kartu nama itu. Karena memang ada apa2nya.

Yashina Uzumaki: Mkch udah review. Sekarang udah di-update!

Special thnx untuk yg udh masukin fic ini dlm favorite list dan story alert: Cloud D. Yana 17, PrincessChiken, chielasu88, kyu's neli-chan, KyoyaxCloud, dan Yashina Uzumaki


- File 4: The Another Playboy -


*First

Seorang gadis berambut pink duduk bersandar pada bangku di suatu taman. Kdua tangannya mendekap erat sebuah tas ransel berwarna coklat. Dinginnya malam tak membuatnya berkeinginan untuk beranjak dari tempat itu. Kedua bola mata hijau emeraldnya menangkap secerca cahaya dari kejauhan. Cahaya itu semakin dekat dan akhirnya sampai di depan bangku taman itu. Bibir ranumnya mengulaskan sebuah senyuman.

"Kau lama sekali," keluh gadis itu.

"Tadi macet," ujar seorang pemuda di atas sebuah sepeda motor Kawasaki. "Ayo pergi."

Gadis itupun beranjak dari bangkunya dan naik ke atas sepeda motor itu. Tas ranselnya dipakai. Dan kedua tangannya memegang pinggang pemuda itu. Tapi pemuda itu tiba-tiba mengarahkan tangan putih gadis itu untuk memeluknya erat.

"Kalau kau tidak berpegangan erat, nanti bisa jatuh. Aku tidak mau kalau my sweety jatuh," ujar pemuda itu hawatir.

Semburat pink muncul di wajah sang gadis. Diapun memeluk erat pemuda itu.

"Aku tahu. Anata na koto ga daisuki (aku sangat meyayangimu)," ujar gadis itu.

"Ore mo, Sakura-chan (aku juga, Sakura-chan)."

Pemuda itu men-starter sepeda motornya. Dan sepeda motor itupun melaju di antara keramaian kota Tokyo di malam berhias bintang itu.

.

.

*Second

Angin semilir berhembus menerpa tubuh seorang gadis berambut pirang pucat. Dress putih yang dipakainya terbang melambai-lambai tertiup angin. Kedua matanya terpejam. Menikmati sejuknya angin. Suara deru ombak turut menemani gadis itu.

"Greb!"

Tiba-tiba seseorang datang dan memeluk gadis itu dari belakang. Gadis itu sedikit tersentak lalu menggenggam erat tangan putih yang menggenggamnya. Perlahan kedua kelopak matanya terbuka, menampakkan iris biru pucatnya. Diapun berbalik menghadap pada seorang pemuda berambut hitam di hadapannya.

"Jangan berlama-lama di bawah sinar matahari. Aku tidak mau kulit mulus gadisku yang putih menjadi terbakar," ujar pemuda itu tersenyum tipisnya.

"Jangan terlalu khawatir, Sasuke. Aku tidak apa-apa," timpal gadis itu teguh pada pendiriannya.

Kedua mata hitam kelam Sasuke menatap kedua mata gadis itu intens. Seperti tak ada niat untuk melepaskan pandangannya walau hanya sedetik. Pemuda itu tersenyum hangat.

"Aku suka melihatmu tersenyum seperti ini," kata gadis itu.

"Anata ge ite kureru kara watashi ha egao de imasu. (karena kau ada di sini, aku bisa tersenyum terus)"

Wajah gadis itu bersemu. Diapun memeluk Sasuke dengan erat. Sasuke membelai rambut pirang gadis itu. Di tepi pantai itupun angin berhembus, menemani dua sejoli itu.

"Tetaplah di sini, Sasuke."

"Ino, aku selalu bersamamu."

.

.

*Third

Musik dansa mengalun indah dari suatu mansion megah dengan banyak bunga mawar merah tumbuh menghiasi tamannya. Di ruang tengah terlihat banyak orang memakai gaun pesta yang mewah dan bergemelapan. Di tengah suasana meriah itu terlihata seorang gadis berambut merah panjang duduk termenung di pinggir jendela. Pandangan kedua mata merahnya terus menatap taman d luar yang sepi. Sesekali dia menghela nafas bosan.

"Di pesta yang meriah seperti ini, seorang putri cantik sepertimu harusnya menjadi pusat perhatian semua orang."

Terdengar suara barinton seorang pemuda dengan tuxedo hitamnya yang mewah. Gadis itu menoleh ke arahnya.

"Sasuke? Kau datang?" tanya gadis itu dengan mata berbinar, bahagia.

Pemuda bernama Sasuke itu mengulurkan tangannya meraih tangan kanan halus gadis itu. Diapun berjongkok ala abad pertengahan dan mengecup lembut punggung tangan sang gadis.

"Bersediakah putri Karin berdansa denganku?" tanya Sasuke dengan wajah berhias senyum menawan.

"Dengan senang hati, pangeran Sasuke," jawab gadis bernama Karin itu sopan.

Karin tersenyum sraya berajak dari kursinya. Dengan bergandengan tangan, Sasuke menuntun Karin menuju lantai dansa. Merekapun ikut berdansa bersama dengan para tamu yang hadir pada pesta itu. Pandangan para tamu beralih pada pasangan muda itu. Mereka berhenti berdansa dan membentuk lingkaran besar mengelilingi mereka. Memperhatikan dansa indah Sasuke dan Karin.

.

.

.

Petikan merdu sebuah gitar akustik terdengar merdu dari sebuah kamar. Di kamar bernuansa biru itu terlihat seorang pemuda berparas tampan dengan kulit putihnya tengah duduk bersandar pada kursi di balkon kamarnya. Di pangkuannya terdapat sebuah gitar akustik. Rambutnya yang berwarna hitam kebiruan sedikit bergerak tertiup angin. Kedua mata hitam onyxnya menatap lurus ke arah langit cerah di pagi itu.

Di atas langit biru itu terlihat sebuah awan melintas dengan perlahan. Kedua mata hitam legam itu masih menatap ke arah langit. Tiba-tiba terlintas wajah seorang pemuda manis berambut pirang jabrik tapi terlihat lembut. Kulitnya tan. Paras menawannya berhias tiga garis halus di masing-masing pipinya. Kedua mata pemuda itu biru saphire secerah langit siang di angkasa. Pemuda pirang itu mengulaskan senyum ramah.

Tanpa disadarinya pemuda raven itu juga ikut tersenyum.

Namikaze Naruto..

Pemuda berambut raven itu melihat sekilas ke arah gitar akustiknya. Lalu perlahan jemari tangannya bergerak, memetik senar gitar dengan lembut. Awalnya lambat, lalu semakin cepat. Membentuk melodi indah yang mengusir sepinya hari di siang itu. Mulut pemuda itu terbuka. Mulai bernyanyi.

.


"..I think I'm in love.. for the first time
And it's making my heart confused
Tell me what exactly happened
How I wonder it will be..

You're touching my heart and my soul
While your hands in my hands indeed
Tell me what exactly happened
makes me feel I'm drowning too deep
Seems weird for me
I will never let this feeling cold

If you were mine
Sharing all our ups and downs
I'm gonna be around
And forever it would be

Cause I'm falling in love.. I'm falling in love
Yes, I'm falling in love, I'm falling in love
Yes, I'm falling in love..
I'm falling in love with you..

You're touching my heart and my soul
While your hands in my hands indeed
Tell me what exactly happened
makes me feel I'm drowning too deep
Seems weird for me
I will never let this feeling cold

If you were mine..
Sharing all our ups and downs
I'm gonna be around
And forever..

Cause I'm falling in love.. I'm falling in love..
Yes, I'm falling in love, I'm falling in love..
Yes, I'm falling in love..
I'm falling in love.. with you..
With you.."

(FALLIN IN LOVE 'English Version' by J-ROCKS)


.

"PLOK, PLOK, PLOK.."

Terdengar suara tepuk tangan meriah dari arah samping. Pemuda berambut raven itu mengalihkan kedua mata onyxnya melihat ke arah orang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Seorang pemuda berambut coklat panjang berdiri di depan pintu beranda bersama dua temannya. Mereka bertiga adalah sahabat pemuda raven itu.

"Lagu yang bagus," puji pemuda berambut coklat panjang yang dikuncir kuda.

"Hn," jawab pemuda raven singkat.

"Begitukah sikapmu pada orang yang sudah memujimu, Sasuke?"

Pemuda bernama Sasuke itu hanya mendengus kesal.

"Aku tidak memintamu memuji lagu yang kunyanyikan, Neji."

"Kau sedang jatuh cinta? Pada siapa? Sakura?" tebak pemuda berambut hitam diikat tinggi seperti nanas.

Ketiga teman Sasuke duduk di kursi panjang yang ada di depannya.

"Tidak juga. Tiba-tiba saja aku terinspirasi menciptakan lagu baru untuk band kita," jawab Sasuke datar.

"Inspirasi menciptakan lagu jatuh cinta tidak akan muncul kalau penciptanya tidak sedang merasakannya," kata pemuda beracamata hitam dan berpenampilan misterius.

"Shino benar. Yang kulihat tadi kau sangat menghayatinya," sahut Neji membenarkan.

"Katakan saja yang jujur..kau sedang jatuh cinta," timpal pemuda berambut seperti nanas dengan cepat.

"Shikamaru, kau mau mati? Siapa juga yang jatuh cinta?" tukas Sasuke sedikit marah. "Aku sudah mencatat lagu tadi, kita akan menyanyikannya besok saat live show mengisi acara lomba drama di Suna."

"Lalu apa judulnya?" tanya Shino si pemuda misterius.

Sasuke terdiam. Dia sudah menciptakan lagu baru, liriknya sudah selesai ditulis dan aransement lagunya juga sudah selesai. Tapi sebuah lagu tidak akan selesai kalau belum ada judulnya. Sasuke melupakan satu hal penting itu.

"Belum kuputuskan," kata Sasuke datar.

Sasuke kembali memusatkan perhatiannya pada langit yang biru itu.

Kenapa aku teringat dengannya? Ada apa denganku?

"Sudahlah, yang penting lagunya sudah jadi kan," sahut Shikamaru santai.

"Sudah hampir jam delapan pagi, saatnya kita berangkat," ujar Shino mengingatkan.

"Hn."

Sasuke meraih tas ransel hitamya yang tergeletak di sampingnya. Keempat pemuda tampan itu berjalan menuju pintu kamar Sasuke. Begitu mereka sampai di depan kamar Sasuke, terlihat seorang pemuda berkemeja hitam menatap mereka dengan tajam. Sekilas pemuda itu terlhat memiliki paras yang mirip dengan Sasuke.

"Jam segini kalian baru akan berangkat?" tanya pemuda tampan berkulit putih itu.

"Tidak ada hubungannya denganmu, Aniki," timpal Sasuke datar seraya berlalu meninggalkan Aniki-nya itu.

"Ohayou, Itachi-nii," sapa Neji ramah.

"Ohayou. Maaf merepotkan kalian harus menjaga Ototou-ku yang masih kekanak-kanakan itu."

Tiba-tiba Sasuke menghentikan langah kakinya. Membalikan tubuhnya dan memberi death glare pada Itachi.

"Aku. bukan. anak. kecil," desis Sasuke dengan penekanan di setiap katanya.

"Kami berangkat dulu Itachi-nii," ujar Shikamaru seraya merangkul Sasuke dan menggeretnya menuju pintu keluar.

Kalau dibiarkan lebih lama lagi mereka pasti akan perang. Haah..mendokusei.

"Sampai jumpa, manager," ujar Shino seraya mengikuti langkah ketiga temannya.

"Ya, sampai jumpa juga Shino."

.

.

.

Suasana di sekitar jalan Rasengan nampak sepi. Hanya satu-dua orang yang berlalu-lalang. Kendaraan yang biasanya melaju dengan padat juga nampak berkurang. Padahal jam sudah hampir menunjukkan pukul delapan pagi. Kemana semua orang? Kenapa jalanan yang biasanya ramai itu mendadak menjadi sepi? Itulah yang dipikirkan seorang pemuda blonde yang tengah bersembunyi di balik semak-semak di tepi jalan. Bukan hanya dia saja, tapi ada dua teman yang menemaninya yaitu, seorang pemuda berambut coklat, dan seorang pemuda berambut hitam.

Padahal seharusnya jam segini mereka telah berada di sekolah, duduk manis di bangkunya sambil mendengarkan penjelasan dari guru mereka. Tapi mereka malah sibuk mengamati situasi sebuah halte bus dari kejauhan. Sementara itu halte yang mereka amati itu kosong, tak nampak seorangpun di sana. Suatu kegiatan yang tidak bermakna.

Sang pemuda blonde menghela nafas panjang. Dirapatkannya jaket putihnya rapat-rapat. Sepertinya dia kedinginan padahal dia sudah memakai topi rajut putih di kepalanya.

"Hei Naruto, mana pemuda yang kau bicarakan kemarin?" tanya pemuda berambut coklat, Kiba.

Dia kesal karena bosan menunggu.

"Aku juga tidak tahu..," jawab Naruto dengan wajah ditekuk.

"Kalau dia tidak muncul percuma saja ita bolos sekolah."

"Iya, iya..maaf. Ini semua salahku. Tidak seharusnya kalian terlibat dalam masalahku."

"Tidak apa-apa. Kalau pemuda itu tidak datang kita masih bisa menggunakan waktu kita untuk pergi bermain misalnya," sahut Sai.

"Anko-sensei pasti akan memarahi kita besok," gerutu Kiba.

Naruto menundukkan kepalanya. Dia semakin merasa bersalah. Tak disangka kalau rencananya hari ini akan gagal.

.

.

[Flashback]

"Ohayou Minna..!" seru Naruto begitu masuk ke dalam kelasnya sambil berjalan menuju bangkunya.

Terlihat Kiba sedang membaca skenario drama yang harus dihafalnya. Naruto tersenyum lalu menghampirinya.

"Yo! Kiba!" sapa Naruto penuh semangat.

Tiba-tiba aura gelap dan mengerikan menguar dari tubuh Kiba. Kepalanya tertunduk. Naruto dapat merasakan suhu ruangan mendadak menjadi dingin dalam sekejap. Bulu kuduknya berdiri.

"NA-RU-TO," desis Kiba.

Naruto berjingkat dan alarm bahaya menyuruhnya untuk segera meninggalkan lingkungan kelasnya sekarang juga. Kiba berdiri dari tempat duduknya.

"KENAPA KEMARIN KAU BOLOS SEKOLAH? GARA-GARA KAU, AKU JADI BULAN-BULANAN ANKO-SENSEI!" teriak Kiba seraya meraih pundak Naruto.

Dicengkeramnya leher Naruto dengan penuh amarah. Naruto berusaha melepaskan kedua tangan Kiba dari lehernya. Sementara itu teman-teman sekelas mereka hanya bisa diam mematung, enggan membantu Naruto.

"Ki, Kiba..kau ingat kan..ka, kalau..aku teman baikmu?" tanya Naruto terputus-putus.

"Mana ada teman yang meninggalkan temannya begitu saja, bodoh?"

"Go, gomen nasai.."

"Tidak ada maaf bagimu!"

"Hahahaha... Kalian berdua memang akrab ya," ujar Sai yang tiba-tiba datang di depan mereka berdua.

"Sai, tolong aku...," pinta Naruto dengan wajah memelas ala uke.

Sai tersenyum ramah pada Naruto. Diapun mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ransel hitamnya. Sebuah buku sketsa dan sebuah pensil. Diapun duduk di atas meja sambil memperhatikan Kiba dan Naruto. Digoreskannya ujung pensil itu di atas kertas. Memperhatikan Kiba dan Naruto di depannya sambil terus menggoreskan pnsilnya. Membentuk sketsa.

"Kau sedang apa?" tanya Kiba sedikit penasaran.

"Melukis kalian berdua," jawab Sai singkat. "Wajahmu saat marah bagus juga."

"KAUUU..!"

Kiba melepaskan Naruto dan berbalik menyerang Sai. Naruto jatuh terduduk di lantai. Sedikit terbatuk-batuk. Tapi dia bersyukur tidak jadi mati di tangan Kiba. Sementara itu Sai yang ada di cengkeraman Kiba masih saja tersenyum seperti biasanya. Tiada hari tanpa tersenyum.

"Kiba, sudahlah..Sai kan tidak bermaksud begitu..," kata Naruto berusaha menenangkan Kiba yang mengamuk.

"Pokoknya kalian harus mentraktirku! Itu sebagai permintaan maaf!" seru Kiba dengan nada memerintah.

Naruto dan Sai yang sudah lepas dari cengkeraman Kiba hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.

"Itu baru anak pintar."

Kiba kembali duduk di bangkunya.

"Lalu, bisa kau ceritakan kenapa kemarin kau bolos sekolah?" tanya Kiba pada Naruto yang membersihkan seragamnya dari debu yang menempel.

"Kemarin aku ada urusan. Oya, kalian masih ingat dengan pemuda yang kuceritakan kemarin lusa?" tanya Naruto balik.

"Pemuda yang ada di Suna Shopping Center itu?" tanya Sai memastikan.

Naruto mengangguk, "Kemarin tak sengaja aku bertemu dengannya di halte bus. Lalu aku berinisiatif untuk mengikutinya. Ternyata dia juga bolos sekolah."

"Eeehh..? Benarkah?"

"Iya, dia pergi ke Suna. Dan kau tahu? Dia menonton konser Sharingan. Akhirnya akupun juga menonton konser itu."

Naruto duduk di bangkunya. Melihat ke arah dua temannya dan menceritakan pengalamannya kemarin saat bertemu dengan Sasuke. Kiba dan Sai hanya mendengarkan dengan seksama. Mereka tahu kalau Naruto sudah mulai bicara, maka akan menjadi panjang ceritanya.

"Jadi intinya kau mulai menyukai pemuda itu?" tanya Sai to the point.

"Se, sepertinya memang begitu.."

Naruto mulai tertarik pada pemuda berkulit putih porselen itu sejak bertemu dengannya dan mengalami kejadian aneh tapi nyata di Suna Shopping Center. Sepertinya apa kata Kiba tentang karma tempo hari itu menjadi kenyataan. Naruto menerima karmanya sendiri.

"Bagaimana dengan 'mereka'? Kau mau meninggalkan 'mereka' begitu saja?" tambah Kiba.

Naruto menundukkan kepalanya.

"Aku bingung. Mungkin dengan terpaksa aku akan memutuskan 'mereka'."

"Kata 'putus' tidak semudah mengucapkannya," kata Sai lirih.

"Lalu aku harus bagaimana?"

"Lebih baik kau coba bicara jujur pada 'mereka'. Mungkin 'mereka' mau mengerti," saran Kiba bijaksana.

"Kejujuran itu walau pahit tapi seribu kali lipat lebih baik daripada kebohongan yang manis dan bersifat sementara."

"Akan kucoba. Aku akan membicarakan hal ini baik-baik dengan 'mereka'," ujar Naruto mantab.

"Ne..pemuda itu bagaimana? Kau tidak tahu apa-apa tentang dia selain namanya?" tanya Kiba.

"Uchiha Sasuke. Rasanya aku pernah mendengar namanya entah dimana," gumam Sai.

"Kalian mau tidak membantuku mencaritahu tentang Sasuke?" pinta Naruto pada dua temannya itu.

Sai tersenyum, Kiba juga tersenyum.

"Tentu saja. Kau kan teman kami," jawab mereka bersamaan.

Naruto mengeluarkan cengiran lima jarinya dan menerjang dua temannya itu dengan pelukan mautnya. Mereka bertiga jatuh ke lantai.

"Kalau begitu, besok kita membuntutinya dari pagi hari sampai malam!" seru Naruto memutuskan seenaknya sendiri.

"Naruto! Jangan seenaknya membuat keputusan."

"He he he.."

"NARU-SAMA..!" teriak fans girls Naruto yang berbondong-bondong memasuki ruang kelas tempat Naruto berada.

Mereka menghampiri dan mengelilingi si pemuda blonde yang tengah duduk di bangkunya. Naruto menatap sat per satu gadis-gadis itu dengan tatapan bingung.

"A, ada apa?" tanya Naruo sedikit tergagap.

"Naru-sama..katakan kalau semua itu bohong..," pinta seorang gadis berambut hitam dikuncir kuda.

"Pangeran dan pemuda itu tidak memiliki hubungan kan?" tanya gadis lain yang berdiri di samping Naruto.

"Ehm..err..apa yang kalian bicarakan?" tanya Naruto ragu.

Seorang gadis berambut coklat panjang berjalan memasuki kelas 2-F dengan langkah perlahan namun pasti. Kedua mata coklatnya menlusuri setiap inchi kelas itu dengan seksama. Mendadak suasana kelas itu menjadi hening. Semua mata tertuju pada gadis itu. Sang gadis tersenyum tipis seraya berjalan menuju bangku dimana Naruto berada.

"BRAK!"

Gadis itu menggebrak bengku Naruto seraya menunjukkan beberapa lembar foto. Naruto mengalihkan pandangannya pada foto-foto itu. Diambilnya foto-foto itu dan diperhatikannya dengan seksama. Kedua mata Naruto terbelalak tak percaya. Di dalam foto-foto itu terlihat Naruto sedang berpelukan dengan seorang pemuda tampan dengan rambut seperti pantat ayam. Bukan hanya itu, ada pula foto yang memperlihatkan saat mereka sedang bergandengan dan lari dari para fans Naruto. Semua foto-foto itu adalah kejadian kemarin di Suna Shopping Center.

Bagaimana mereka mendapatkan foto-foto ini? Tanya Naruto dalam hati.

"Jadi Naru-sama, selama ini kau membohongi kami?" tanya gadis itu datar.

Tersirat rasa kesal dari sorot kedua mata coklatnya.

Naruto berdiri dari tempatnya duduk. Dia tersenyum sinis.

"Jadi..seperti inikah yang kalian lakukan selama ini?" tanya Naruto balik.

Naruto menatap gadis di hadapannya itu tajam.

"Kupikir kalian semua mengagumiku dan percaya padaku, ternyata kepercayaan kalian padaku hanya sebatas ini," ucap Naruto seraya mengangkat foto-foto itu dengan tangan kanannya. Tiba-tiba Naruto melempar foto-foto itu ke arah gadis berambut coklat panjang itu. "Kalian salah menilaiku."

"Kami hanya ingin penjelasan darimu, Naru-sama," sahut seorang gadis yang berdiri tak jauh dari gadis berambut coklat itu.

"Huh? Penjelasan?"

"Kalau Naru-sama dan pemuda itu memang memiliki hubungan, seharusnya.."

"Seharusnya kalian percaya padaku. Kalian tahu? Yang kulakukan selama ini adalah sebuah tes. Aku dan pemuda itu sengaja berpura-pura berpacaran untuk mengetahui reaksi kalian. Kupikir kalian tidak akan mempermasalahkannya dan tidak akan percaya begitu saja. Tapi ternyata.." Naruto menghentikan ucapannya sejenak seraya memperhatikan wajah gadis-gadis itu dengan baik. "Kalian bukan true fans-ku."

"Hounto ni gomen nasai, Naru-sama..," ucap gadis berambut coklat panjang itu tiba-tiba.

Gadis itu menundukkan kepalanya.

"Gomen nasai, Naru-sama..," ucap gadis-gadis lain hampir bersamaan.

Rencanaku berhasil. Untunglah mereka percaya dengan kata-kataku.

"Namamu Kurama Yakumo kan? Ketua Naruto Fans Club," tanya Naruto pada gadis di hadapannya.

"I, iya," jawab Yakumo.

"Tidak seharusnya gadis secantik dirimu memancarkan aura kemarahan seperti tadi," ucap Naruto seraya meraih tangan kanan Yakumo.

Tiba-tiba Naruto mencium pungung tangan kanan Yakumo dengan tangan kiri berada di balik punggungnya. Wajah Yakumo merona mendapat perlakuan seperti itu. Naruto mengeluarkan senyuman mautnya pada gadis berkulit putih itu.

"Yakumo..what a beautiful name. 'Ya' artinya panah dan 'kumo' artinya awan. Kau adalah gadis cantik yang bisa meraih hati para pemuda dengan panah cintamu yang lembut bagaikan awan. Mereka tidak akan sadar ketika panah cinta mengenai jantung hati mereka. Yang mereka tahu mereka telah jatuh cinta padamu."

Wajah Yakumo bertambah memerah begitu mendengar rayuan gombal Naruto.

"A, arigato Naru-sama."

"Si playboy beraksi lagi," gumam Kiba lirih.

"Hahaha..Naruto kan memang seperti itu," sahut Sai yang duduk di samping Kiba.

"Kami akan mempercayaimu dengan sepenuh hati, Naru-sama. Karena kau adalah idola kami," ucap Yakumo tiba-tiba. "Sebentar lagi kelas akan dimulai, sebaiknya kita kembali," perintah Yakumo pada para anggota Naruto Fans Club.

"Baik Ketua!" jawab mereka kompak.

Dalam sekejap para fans girls Naruto beranjak dari kelas 2-F dengan teratur.

[End Flashback]

.

.

"Gomen nasai..," ucap Naruto lirih dengan penuh penyesalan.

"Tidak apa. Kami juga salah karena mengambil keputusan tergesa-gesa," ujar Sai.

"Hei! Dia datang!" seru Kiba tiba-tiba.

Dari kejauhan terlihat seorang pemuda berambut raven berjaket hitam berjalan dengan santai menuju halte bus. Kulitnya putih porselen dan paras tampannya tidak menunjukkan ekspresi. Di kedua telinganya terpasang sebuah headphone biru dongker. Tidak salah lagi, dialah pemuda yang ditunggu Naruto sedari tadi. Uchiha Sasuke.

Akhirnya..ucap Naruto dalam hati.

Tak terasa seulas senyum manis menghiasi paras imutnya. Kiba dan Sai memperhatikan temannya yang satu itu. Mereka hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mereka. Lalu mereka kembali mengamati sosok Sasuke yang jaraknya tinggal dua meter lagi dari halte. Di belakang Sasuke terlihat tiga pemuda tampan yang juga berjalan menuju hale bus. Dilihat dari wajahya sepertinya mereka seumuran dengan Sasuke. Mereka mengenakan pakaian casual sama halnya dengan Naruto dan kedua temannya. Sasuke dan ketiga pemuda itu duduk di halte bus dengan santai.

"Naruto? Mereka siapa?" bisik Kiba.

"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Mungkin teman Sasuke."

Sai mengeluarkan sebuah teropong dari tas hitamnya. Diapun memakainya untuk memata-matai gerakan Sasuke dan ketiga pemuda tak dikenal itu.

"Hei, Sasuke," panggil pemuda berambut coklat panjang, Neji.

"Hn," sahut Sasuke.

"Aku merasa ada yang mengamati tempat ini. Mungkin memata-matai kita."

"Mungkin hanya perasaanmu saja."

"Bagaimana kalau ternyata wartawan? Identitasmu bisa ketahuan kan?"

"Hn. Tidak akan."

"Seharusnya kita naik mobil saja," sahut Shikamaru. "Naik bus itu merepotkan."

Tidak lama kemudian sebuah bus dengan gambar ombak di kedua sisi kanan dan kirinya berhenti di depan halte itu. Keempat pemuda tampan itu bergegas memasuki bus itu.

"Busnya sudah datang! Kita harus segera ke sana!" seru Kiba tiba-tiba.

Naruto memakai kacamata dan masker putih yang biasa digunakannya saat menyamar. Kiba memakai tas ranselnya. Sedangkan Sai memasukan kembali teropongnya ke dalam tas. Dengan cepat Naruto, Kiba, dan Sai keluar dari tempat persembunyian mereka lalu berlari menuju halte.

"Tu, tunggu!" seru Naruto mencegah bus itu pergi.

Untunglah sang sopir mendengar teriakan Naruto. Usahanya tidak sia-sia. Bus itu menunggu mereka.

"BRUG!"

Tiba-tiba Naruto terjatuh ketika memasuki bus itu. Para penumpang bus lansung mengalihkan perhatian mereka pada sosok pemuda bermasker itu.

"Aduh..," rintih Naruto seraya mencoba beranjak dari tempatnya terjatuh.

Dasar bodoh, ejek Sasuke dalam hati.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Kiba sambil mebantu Naruto berdiri.

Naruto mengangguk. Sai menyusul kedua temannya ke dalam bus itu. Ketiga pemuda itu memperhatikan keadaan di dalam bus itu. Sosok Sasuke terlihat duduk santai di bangku nomor dua dari belakang. Naruto menapatnya sejenak. Lalu dia mencari bangku kosong untuknya duduk. Tidak disangka di dalam bus itu cukup penuh. Hanya tersisa tiga bangku kosong di sana. Dua bangku kosong yang berseberangan dengan bangku Sasuke berada dan sebuah bangku kosong di samping Sasuke.

"Naru, kau duduk di samping dia saja ya," bisik Kiba seraya berjalan mendahului Naruto.

"Eh?"

"Semoga berhasil."

Dia berjalan menuju bangku yang berseberangan dengan bangku Sasuke. Disusul Sai di belakangnya. Dengan terpaksa Naruto melangkahkan kedua kaki jenjangnya menuju bangku kosong di samping Sasuke. Hanya bangku itu yang tersisa. Naruto duduk di bangku itu dengan perasaan was-was. Dan bus mulai melaju meninggalkan halte itu.

Deg..deg..deg..

Jantung Naruto bergedup dengan kencang seolah dia sedang berada dalam perlombaan lari. Diam-diam Naruto melirik ke arah Sasuke yang sibuk melihat pemandangan di luar jendela di sampingnya.

Sasuke..kau tampan sekali..

Merasa diperhatikan, tiba-tiba Sasuke menoleh ke arah Naruto. Cepat-cepat Naruto mengalihkan perhatiannya ke depan. Berpura-pura tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Sasuke memperhatikan Naruto dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tiba-tiba tangan kanannya bergerak ke arah kepala Naruto. Naruto menoleh ke arah pemuda raven itu.

Jantungku..ingin melompat! Seru Naruto dalam hati.

"A, apa yang ka, kau lakukan?" tanya Naruto dengan suara dibuat seserak mungkin seperti orang sedang batuk.

"Ada daun di topi rajutmu," ujar Sasuke datar.

Tangan kanan Sasuke meraih daun yang memang tersangkut di topi rajut Naruto. Sasuke menunjukkannya pada pemuda tak dikenalnya itu.

"A, arigato."

"Hn."

Sementara itu di bangku seberang Kiba dan Sai berusaha menahan tawa melihat kejadian tadi.

"Kau lihat tadi?" tanya Sai sambil berbisik.

"Iya. Hihi..sayang kita tidak bisa melihat ekspresi Naru. Hihihi..," jawab Kiba tertawa geli.

"Sepertinya dia memang menyukainya."

"Kau benar. Dan sebagai sahabat kita hanya bisa mendukungnya."

"Ya."

.

.

.

Bus yang ditumpangi Sasuke berhenti di depan sebuah halte dekat area Ame Amusement Park. Sasuke dan ketiga temannya beranjak dari bangku mereka duduk. Perlahan mereka turun dari bus itu. Naruto, Kiba, dan Sai saling bertatapan.

"Bagaimana?" tanya Naruto.

"Kita turun sekarang," ujar Sai.

Ketiga pemuda 'stalker' dadakan itu mengikuti jejak Sasuke turun dari bus itu. Mereka berjalan menyusuri jalan menuju Ame Amusement Park dengan menjaga jarak dengan keempat pemuda tampan itu.

"Di sekitar sini ada sekolah tidak?" tanya Naruto pada kedua temannya.

"Setahuku tidak. Ini kan area taman bermain," jawab Kiba.

"Apa mereka bolos sekolah untuk ke taman bermain?" tebak Sai.

"Mungkin juga."

Dan tebakan Sai benar. Keempat pemuda itu berjalan menuju gerbang Ame Amusement Park.

Mereka ke taman bermain..? Pikir Naruto.

"Sasuke..!" teriak seorang gadis dari kejauhan.

Sasuke dan ketiga temannya menoleh ke belakang. Seorang gadis berambut pirang pucat terlihat berlari ke arah mereka dengan senyum cerianya. Otomatis Naruto, Kiba, dan Sai juga melihat ke arah gadis itu. Gadis itu berperawakan tinggi semampai. Dan dia mengenakan seragam sekolah. Gadis cantik itu berlari melewati Naruto.

"Ino?"

"GREP!"

"Sasuke, aku merindukanmu. Tak kusangka kita bisa bertemu di sini."

Gadis bernama Ino itu memeluk Sasuke dengan erat. Kedua mata Naruto terbelalak melihatnya. Naruto hanya bisa terdiam.

Dia..sudah memiliki kekasih..?

TBC


Yo! Yo! Yo! Wind's come back.. Sorry ya telat banget update-nya

Gara2 terbiasa nulis yaoi, waktu nulis straight jadi bersusah-payah. Dikit WB waktu nulis chapter ini.

Walau udah telat, happy valentine's day semuanya

Mkch buat yg udah baca, baik silent readers ataupun active readers

Review please..