Chapter 4 : He isn't change
Warning : OOC, OC, typo(s), misstypo dan lain-lain.
A/N : Akhirnya Chapter 4 bisa update juga*narihula*. Aku udah masukin Dramione(maaf kelamaan). Juga coba-coba nulis pake POV, semoga gak mengecewakan. Dan siapa ibunya Lye, aku jawab di chapter ini. Jadi, enjoy!
A/N lagi : aku ganti Pen name loh :D
Happy reading, readers !
Harry Potter © JK. Rowling
All You Have to Do is Wait © Wingless-Flying-Dragon
Chapter 4 : He isn't Change
Hermione's POV
Aku tak habis pikir kenapa otakku bisa berputar bolak-balik pada satu ingatan, seperti lingkaran api yang tidak pernah menemukan ujungnya. Selalu kembali dan kembali ke awal serta meninggalkan rasa terbakar di lekuk-lekuk pikiranku pada setiap putarannya.
Tuhan tak pernah memberikan cobaan lebih besar dari apa yang bisa ditanggung umatnya, aku pernah mendengar itu disuatu tempat. Tapi pantaskah jika aku bilang kali ini sudah nyaris melewati batas kesanggupanku saat jangat raya seperti bersekongkol menyerangku bertubi-tubi tanpa ampun. Setiap hal entah kenapa bisa saja menyengat pikiranku dengan ingatan yang sama berkali-kali seperti sekumpulan lebah.
"Kau baik-baik saja, 'Mione?" suara Cedric mengalun lembut di sampingku.
"Aku oke" jawabku singkat.
Kami sedang di Hogsmeade, Cedric berhasil memaksaku untuk ikut kesini tadi pagi. Aku tak tertarik pada awalnya, takut akan bertemu seseorang yang tidak kuinginkan mengingat aku hampir tidak pernah berada dalam suasana hati yang bagus akhir-akhir ini. Apalagi di akhir pekan seperti sekarang Hogsmeade pasti sedang ramai-ramainya. Tapi akhirnya kuputuskan jika ini bukan ide buruk. Barangkali bisa mengalihkan pikiranku yang terlalu ruwet .
"Baiklah, kau mau ke Three Broomstick? Segelas besar Butterbeer akan membantu mengembalikan senyumanmu, aku jamin." Ucap Cedric sambil tersenyum lebar lalu menarik kedua pipiku agar bibirku bisa membentuk senyuman.
"Hentikan Ced" kataku sambil melepaskan kedua tangannya yang masih menempel dipipiku pelan.
"Ayolah Hermione, sebuah senyuman takkan menyakitimu" katanya frustasi. Ini sudah usahanya yang kesekian kali untuk membujukku tersenyum sejak beberapa jam terakhir. Aku bertanya-tanya kapan dia akan menyerah dan menerima saja jika aku terlalu keras kepala untuk dibujuk.
"Ayo ke Three Broomstick" ucapku tak menggubris perkataan Cedric sambil mulai melangkahkan kaki kekedai minum di seberang jalan yang terlihat paling ramai dari sekian banyak toko yang berjejer sepanjang Hogsmeade.
"Kau tidak ikut?" tanyaku setelah berjalan beberapa langkah dan menyadari Cedric masih berdiri di tempatnya semula.
Cedric menggeleng "Aku tak mau jalan dengan wanita berwajah murung" katanya sambil merengut dan melipat kedua tangan didada seperti anak kecil berumur sepuluh tahun yang sedang merajuk.
Aku menaikkan alis sangsi. Dia masih berdiri di posisi yang sama dengan pandangan bersungguh-sungguh seakan menegaskan bahwa dia takkan kemana-mana walau kubilang ada meteor yang sedang dalam perjalanan menghantam bumi. Berniat mengikuti permainannya, aku juga ikut berdiri mematung ditempatku sendiri. Tapi sialnya, setelah 20 menit aku mulai berada di ambang kekalahan karena daun telingaku mulai membeku dan hidungku memerah disengat udara dingin yang menusuk tulang.
Tak mau terserang hipotermia hanya karena adu-kepala-batu dengan Cedric akhirnya kuputuskan untuk mencoba tersenyum. Aku tak yakin jika apa yang kulakukan pantas disebut senyuman mengingat aku hanya menarik ujung bibirku sedikit sehingga membentuk garis lurus tipis. Well, setidaknya aku sudah mencoba kan?
Cedric tak terlihat terlalu senang. Lipatan lengannya belum turun tapi tatapan bersungguh-sungguh yang sebelumnya tergambar oleh kedua iris kelabunya sekarang berganti dengan tatapan putus asa bercampur miris. Aku sudah bilang kan kalau aku keras kepala, harusnya dia mendengarkan.
Bibirnya membentuk seulas senyum lemah. "Nah, sekarang kau kelihatan cantik sekali. Kau tau?" katanya dengan nada riang—yang dengan sangat mengejutkan—tulus. Sepertinya Cedric memutuskan untuk menghargai usahaku atau barangkali dia juga sudah mulai membeku kedinginan. Aku tersenyum lagi, dan kali ini juga lebih tulus. Wanita memang mudah luluh dengan pujian. Jadi jangan salahkan aku, karena aku seorang wanita.
"Aku sudah tau" jawabku sambil lalu. Cedric terkekeh pelan lalu mengamit lenganku untuk menyeberangi jalan ke Three Broomstick.
"Hermione?" tiba-tiba seseorang memanggil namaku. Jantungku bagai berhenti berdetak sedetik pertama saat mendengar suaranya dan langsung membeku ditempat seperti terkena mantra petrificius. Tidak. Katakan aku salah dengar, suara itu tak mungkin miliknya.
"Hermione?" ulangnya lagi dengan nada tak percaya yang kentara. Harapanku sia-sia, pria yang berdiri didepanku dengan mantel tebal coklat tua ini memang dia. Belasan tahun ternyata belum cukup lama untukku bisa melupakan suaranya.
"Draco" balasku lirih, lebih untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa pria ini benar-benar nyata dan bukan salah satu khayalanku.
"Kau kembali?" tanyanya. Aku bisa melihat sepasang chrome miliknya melebar, dia sedang terkejut—aku bahkan masih mengingat arti ekspresinya yang bagi sebagian besar orang nyaris sama. Lagi-lagi kenangan yang sama menyengat ingatanku dengan rasa sakit tak terperih menjalar sampai kedada. Melihatnya lagi, berdiri didepanku ternyata jauh lebih sulit dari yang kubayangkan.
"Yeah, aku disini" jawabku berusaha menjauhkan pandangan dari tatapan iris silver keabuannya.
"Malfoy, senang melihatmu" sapa Cedric. Aku menarik nafas lega saat perhatian Draco teralihkan dan memberiku waktu menata ekspresi dan tarikan nafasku agar lebih teratur.
"Diggory" sapanya balik. Aku tak terlalu memperhatikan pembicaraan mereka, terlalu sibuk dengan jantungku sendiri yang mulai bertalu-talu serampangan. Sepertinya aku baru saja menambah satu catatan lagi di daftar kelemahanku ; pengambilan keputusan. Lihat? Satu lagi keputusan bodoh untuk datang ke Desa penyihir ini yang membawaku pada Draco Malfoy, orang terakhir yang ingin kutemui saat ini.
"Kau sekarang mengajar di Hogwarts?" tanyanya. Lamunanku langsung buyar saat mengetahui pembicaraan kembali mengarah padaku.
"Iya, Guru Rune Kuno" jawabku masih menolak menatapnya. Satu-satunya yang kupikirkan saat ini adalah berharap dia akan segera pergi dan meninggalkanku dengan damai.
"Bisa kita bicara?" pintanya pelan. Apa aku benar-benar sedang dikutuk? Harapanku tak pernah terkabul sekalipun akhir-akhir ini. Selalu terjadi berkebalikan.
"Baiklah" ucapku menyetujui setelah sekali helaan nafas. Biarlah, fikirku. Biar semuanya cepat selesai dan aku bisa kembali mengurung diri diruanganku yang tenang dan sepi di kastil Hogwarts sana.
"Diggory, bisakah kami bicara berdua saja?" kata Draco pada Cedric yang masih mematung di sampingku. Pria berambut hitam itu mengangguk ragu-ragu setelah aku menggumamkan kalimat 'tak apa-apa'.
"Baiklah. Hermione, kau mau kembali ke Hogwarts bersamaku nanti jika kalian sudah selesai?" tanya Cedric sebelum melangkah meninggalkan kami.
"Tak perlu, aku akan mengantarnya" potong Draco saat aku baru membuka mulut hendak menerima tawaran Cedric. Wajahnya mengeras, dia takkan membiarkanku pergi sampai mendapat apa yang dia inginkan—aku tau itu. Jadi, kuputuskan untuk tak membantah.
Libra Malfoy's POV
Pernahkah kau merasa seakan-akan seluruh dunia berjalan terlalu cepat dan kau tertinggal tertatih-tatih dibelakang? Aku yakinkan kau jika aku tau bagaimana rasanya. Karena sepertinya, aku sedang berada diposisi itu saat ini.
Aku berlari dan terus berlari secepat mungkin—setidaknya yang dimungkinkan kaki-kakiku yang juga sedang membopong tubuh James yang notabenya lebih besar dari tubuhku sendiri—sampai paru-paruku seperti akan meledak. Tapi usahaku tak juga cukup untuk memacu kedua kakiku bergerak lebih cepat. Aku harus segera sampai di Hospital Wings, hanya itu satu-satunya yang mampu dipikirkan otakku yang nyaris lumpuh karena panik. James sudah nyaris tak bergerak, hanya hembusan pelan nafasnya yang memberi tahuku jika dia masih hidup.
"Madam Pomfrey. MADAM !" jeritku pada ruangan yang kosong dengan nafas tersenggal. Demi Tuhan, dimana matron tua itu saat sedang dibutuhkan.
Aku tak bisa menahan diri untuk tak mengumpat saat dia justru marah-marah karena suaraku yang dinilainya mengganggu ketenangan. Apakah dia buta? Tidakkah dia melihat ada anak yang sedang sekarat disini?.
"Temanku, keracunan. Ma'am" jawabku kemudian dan entah kenapa masih sempat mengedepankan kesopanan saat menjawab omelannya.
Dia tertegun sejenak namun segera menguasai keadaan dan dengan kesigapan seseorang yang memiliki pengalaman berpuluh-puluh tahun, Madam Pomrey menarik James dari rangkulanku dan melupakan omelannya—setidaknya beberapa menit sebelum dia memulai lagi ocehan panjang pendek mengenai 'kecerobohan' dan sebangsanya.
Aku menarik nafas lega saat Madam Pomfrey mengatakan James akan baik-baik saja. Hanya perlu banyak sekali istirahat dan berbotol-botol ramuan, katanya. Aku tak yakin itu berarti proses pemulihan James akan mudah, tapi setidaknya sudah ada kata 'baik-baik saja'. Itu cukup ampuh untuk sedikit melemaskan jantungku yang sudah memental kemana-mana sejak tadi. Selamat James, kau berhasil membuatku khawatir setengah mati.
"Beruntung kau membawanya kesini tepat waktu. Jika tidak, mungkin dia harus menghabiskan malam natalnya di St. Mungo" kata matron wanita itu sambil meminumkan sesuatu pada James yang masih belum sadarkan diri. "Ngomong-ngomong kenapa kau terlihat kacau sekali? Kurasa kau juga butuh bantuan"
Aku baru menyadari keadaanku yang jauh sekali dari kata baik-baik saja. Tubuhku penuh bilur-bilur karena lecutan dahan dedalu perkasa saat kami keluar dari lubang tadi—tempat yang sangat tepat untuk sebuah lorong rahasia. Gaunku, sudah tidak biru lagi. Lumpur dan genangan air sukses 'melukisnya' abstrak dan sol sepatuku sudah bertambah tebal karena tumpukan tanah. Aku bersumpah takkan mau melihat bayanganku di cermin sebelum mandi.
"Kalau anda tak keberatan" ucapku menerima bantuannya. Madam Pomfrey mengangguk lalu mengambil sebuah botol dari lemari dan menyerahkannya padaku.
"oleskan dilukamu. Mungkin besok pagi kulitmu sudah mulus lagi'
Aku tersenyum berterimakasih dan mulai mengoles ramuan bening kental dari botol itu disekitar luka-lukaku. Rasanya nyaman, walau sedikit perih.
"Kau yakin Mr. Potter hanya terkena duri kaktus liar? Aneh, racunnya jauh lebih kuat" Tanyanya ringan. Aku menelan ludah dengan gugup sebelum menjawab.
"Tentu, Ma'am. Didekat dedalu, aku sendiri yang mencabut dan menghancurkannya tadi" aku belum yakin jika menanam Deafloss adalah hal yang legal jadi kuputuskan mengarang-ngarang cerita tentang duri kaktus liar. Aku bukan ahli tanaman-tanaman beracun oke? Jadi entah bagaimana hanya itu satu-satunya yang terpikir olehku. Dan ditambah lagi, James si-pahlawan-gagah-berani-kita ini sudah tak sadar saat kami sampai dilubang dekat dedalu jadi aku tak sempat bertanya-tanya tentang sesuatu yang beracun dan lebih meyakinkan. Semoga saja ditambah alasan kami tak jadi ikut ke Hogsmeade akan menghentikan pertanyaan-pertanyaan Madam Pomfrey.
"Baguslah, setidaknya tidak akan ada pasien keracunan duri kaktus lagi yang datang ke sini"gumamnya dan membuatku bisa menarik nafas lega. Kurasa, gagasan tentang tidak akan ada lagi pasien tambahan membuat stok pertanyaannya menguap.
"Aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaan. Kau akan disini atau bagaimana?" tanyanya sambil membereskan botol-botol kosong disamping tempat tidur.
"Aku akan disini sebentar, jika itu tidak apa-apa" pintaku hati-hati. Matron rumah sakit itu hanya mengangguk sekilas.
Setelah beberapa langkah dia berbalik "Jangan lama-lama dan pastikan kau membersihkan laintaiku" katanya sambil menunjuk lantai didekat tempatku berdiri. Oke, yang pertama tidak masalah tapi untuk yang kedua aku tidak janji.
Jika aku bisa berpikir logis, seharusnya sekarang aku sedang di kamar mandi dan menggosok segala jenis kotoran yang menempel ditubuhku. Tapi seperti kataku tadi, aku tidak sedang dalam keadaan cukup baik untuk berpikir logis.
Alih-alih melakukan kegiatan bersih-bersih, aku justru malah berdiri disamping tempat tidur James dan menatap wajahnya yang memerah karena demam. Tubuhnya sudah tidak panas mendidih lagi seperti pertama kali aku menyentuhnya di Shrieking Shack tapi hangat seperti sedang berada disamping perapian. Nafasnya menderu teratur, meski ia belum sadar aku bisa merasakan ketenangan menelusup lamat-lamat menyelimutiku. Entah kenapa, dengan melihatnya bernafas saja bisa memutarbalikan kekalutanku yang luar biasa hebat beberapa jam yang lalu.
Perlahan tanganku bergerak tanpa benar-benar kusadari menyibak rambut hitam sekelam malam milik James yang menutupi sebagian keningnya.
"Aku berhutang padamu, tuan pahlawan" bisikku lirih sebelum melangkah menjauh menuju pintu keluar dan meninggalkan jejak-jejak lumpur dibelakangku. Upps, sudah kubilang aku tidak janji kan?
Hermione's POV
Aku yakin aku pernah mengalami ini disalah satu mimpi-mimpiku, bertemu dengannya lagi. Entah itu termasuk mimpi buruk atau mimpi indah, aku tak bisa memilahnya. Ada beberapa alasan kuat untuk itu.
Pertama, perutku memilin senang dapat melihatnya lagi dari jarak sedekat ini. Tidak mau munafik, kuakui jika ada bagian dari diriku yang selalu merindukannya selamanya ini. Dia banyak berubah,meski bukan tampilan luar. Dia tetap Draco yang dulu dalam usia 20 tahunnya—terakhir kali kami bertemu—tak terlalu tampak tanda penuaan kecuali garis-garis samar dikening yang aku yakin akan menghilang jika ia sedikit rileks. Dia tidak bertambah tinggi tapi tubuhnya lebih berisi dan berotot. Rambutnya tetap pendek dan ditata sedikit acak—aku senang dia tidak memanjangkannya. Itu semua cukup menarik perhatianku pada awalnya sebelum buyar segera saat aku menemukan hal baru. Pembawaannya berbeda, tak lagi ragu-ragu dan banyak berpikir seakan-akan menunggu seseorang menyelesaikan segala masalah yang harus ditanganinya. Tapi jauh lebih mantap, dewasa dan menggambarkan dengan jelas mental seorang yang dapat diandalkan. Waktu memang bisa merubah segala hal, tak terkecuali membuat seorang Draco Malfoy si anak manja menjadi Draco Malfoy si pria dewasa.
Yang kedua, disisi lain hatiku menjerit pilu saat menyadari keeksistensiannya masih mengusikku. Menyadari jika luka yang pernah dia torehkan ternyata tak pernah lenyap, hanya tersembunyi sebelum kembali menganga setelah morfinku yang paling ampuh yaitu jauh dari keberadaannya,perlahan-lahan kehilangan efek. Waktu ternyata juga bisa lebih tajam dari mata pedang dan memperparah luka yang kupunya. Tidak, waktu tidak menyembuhkan sama sekali.
"Apa kabarmu?" tanyanya memulai pembicaraan.
Kami sedang duduk disalah satu meja di sudut The Three Broomstick. Matanya mengamatiku instens sejak pertama kali kami mengisi meja kosong ini. Aku memilih memainkan gelasku tanpa berniat menyesap isinya, hanya agar terlepas dari keharusan menatap mata keabuan seperti chrome cair yang mengawasiku dari seberang meja itu.
"Baik" dustaku dan tak punya keberanian membalikan pertanyaan yang sama karena takut dia juga akan menjawab 'aku juga baik'. Aku bukannya kurang ajar mengharapkan seseorang tidak baik-baik saja. Hanya tak mau tau tentang kehidupan bahagianya yang pasti sangat jauh berbeda dengan hidupku yang merana dan akan membuatku semakin mengutuk diri sendiri atas keputusan-keputusan bodoh yang sudah kuambil.
"Apa kau sudah bertemu Lye?" tanyanya. Haruskah secepat ini dia mengeluarkan pertanyaan yang paling ingin kuhindari? Pasti kutukanku belum berakhir.
"Hmm, dia mirip denganmu" jawabku berusaha sesedikit mungkin mengeluarkan emosi. Aku harus tenang dan tidak boleh meledak disini, tekanku pada diri sendiri.
"Dia juga mirip denganmu. Kepintaranmu menurun padanya" balasnya pelan dan lirih tapi entah kenapa terdengar seperti diteriakkan di gendang telingaku.
Aku merasakan perutku bergolak. Tanganku meremas ujung blouse jinggaku diatas paha sekuat tenaga. Demi arwah Dumbledore, haruskah dia mengatakannya?
"Lucu" dengusku dari ujung bibir. Aku tidak bisa merasakan kepalaku lagi, rasanya otakku membeku dititik minus yang paling ekstrim.
"Dia putrimu, Hermione" bisiknya sambil mencondongkan tubuh kearahku.
Tentu saja aku tau. Aku yang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya, aku yang merasakan gerakan pertamanya di balik perutku. Aku yang membawanya kesana-kemari selama sembilan bulan. Kami pernah berbagi tubuh dan menghirup udara yang sama. Aku yang dengan sepenuh hati menunggu dia hadir didunia ini bahkan disaat kau, Draco belum mengetahui jika dia ada. Bagaimana bisa aku perlu diingatkan lagi untuk itu?.
Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya seakan setelah ini tak punya waktu lagi untuk itu. Tubuhku meremang kedinginan dan itu tak ada hubungan sama sekali dengan udara dingin. Draco masih mengawasiku dengan matanya dan tiba-tiba seperti ada yang menohok jantungku saat merasakan kehangatan yang terpancar samar dari tatapannya.
"Lucu mengingat dulu kau diam saja saat Ayahmu menyuruhku melupakan bahwa aku pernah memiliki seorang putri" kataku penuh sarkasme berharap dapat menyamarkan kekalutan dalam suaraku. Aku meringis saat merasakan kenangan yang sama kembali menyayat perasaanku. Rasanya jauh lebih sakit saat dia yang mengingatkannya.
"Ayah baru saja kehilangan ibuku saat itu Hermione. Aku, aku hanya tak ingin lebih menyakitinya"
"Dengan menyakitiku" sambungku dengan suara tertahan berusaha untuk tidak berteriak saat itu juga didepan wajahnya.
Hening. Aku tak tau bagaimana ekspresinya saat ini karena aku menunduk sibuk mengusap air mata yang mulai meleleh. Sebagian wajahku tertutup rambut yang kubiarkan tergerai dan tanpa dapat kuhindari aku menangis tanpa suara.
"Aku minta maaf"
Sontak aku tersenyum getir sambil menyusut tangis yang tersisa disudut mataku. Setelah sekian lama, baru sekarang dia berani mengatakannya. Hanya tigas kata sederhana dan dia butuh belasan tahun untuk mengumpulkan keberanian?
"Itu akan berarti sesuatu lima belas tahun yang lalu. Tapi sudah tak ada gunanya sekarang"
"Kuakui aku pengecut saat itu,'Mione. Tapi percayalah padaku kali ini"
Lagi-lagi semuanya buram. Aku sudah tak lagi mendengar dan menyadari sekelilingku, semuanya hanya seperti bayangan-bayangan kabur tak berbentuk dan bergerak dalam kecepatan cahaya.
"Ya, kau memang pengecut" aku menghela nafas pelan "Dan kau memintaku percaya padamu?" Aku mengangkat kepalaku dan menatap tajam kedalam matanya seakan berharap tatapanku bisa menusuk sepasang chrome miliknya "Jika kau jadi aku, apa kau akan percaya?" tanyaku kemudian.
Dia diam. Kutarik lagi penilaianku diatas, mungkin dia berubah menjadi seseorang yang lebih dewasa tapi kepengecutannya belum hilang, memudar mungkin iya tapi itu tak memberi perbedaan berarti. Dia masih diam dan aku lelah menunggu, lelah mengerti ketidak mampuannya mengekspresikan perasaan melalui kata-kata. Aku pernah sangat mengerti tentang itu, dulu. Tapi masa-masa itu sudah lewat, seperti sudah terjadi ratusan tahun yang lalu.
Aku beranjak meninggalkan kursiku, menaruh beberapa keping sickle dimeja dan mengenakan mantelku kembali. Dia mencekal lenganku tanpa kata-kata, dan sekali lagi aku tegaskan ; aku lelah. Tidak bisakah dia mengerti? Lelah sampai-sampai rasanya aku ingin tidur saja untuk sisa kehidupanku. Dengan sedikit kasar kutepiskan cekalannya di lenganku dan berlari keluar Three Broomstick tanpa sedikitpun berniat melihat kebelakang dan ber-disaparrate tepat saat langkah pertama keluar dari pintu dengan bunyi 'crack' keras.
Hujan mulai turun saat aku ber-Aparrate di depan gerbang Hogwarts yang dihiasi sepasang patung babi bersayap di pilarnya. Aku membiarkan tetes-tetes hujan yang masih berbentuk gerimis membasahi mantelku, membiarkan tiupan angin dingin yang membekukan menerpa wajahku yang tak terlindungi apapun dan menyeberangi pagar besi yang membuka sendiri saat aku mengetuknya dengan tongkat. Awalnya hanya gerimis dengan bulir-bulir air yang tak lebih besar dari sehelai benang, tapi lama kelamaan mulai menjadi hujan dengan tetesan sedingin es. Pandanganku mulai kabur, bukan karena hujan tetapi karena kolam air mata yang mulai menggenang dipelupuk dan kubiarkan saja mengalir menuruni pipi tak henti. Hujan semakin deras dan air matakupun sama, aku senang hujan turun karena takkan ada seorangpun yang menyadari jika aku sedang menangis. Sepanjang perjalanan menuju kastil, aku mengurut dada dan berbisik pada hujan 'semua akan baik-baik saja' berkali-kali.
Lye POV
Aku kesal, aku lelah dan aku khawatir. Kesal karena sekarang aku berdiri didepan pintu ruangan Professor paling menyebalkan sedunia untuk melaksanakan detensi yang diinginkannya tapi dia tak juga membukakan pintu saat aku sudah mengetuk—atau menggedor—berpuluh-puluh kali. Lelah karena baru saja aku mengepel keseluruhan lantai Hospital Wings karena ulahku mengotori lantai rumah sakit itu dengan cetakan tapak sepatu berlumpur—aku tidak bisa mangkir saat Madam Pomfrey mengeluarkan ancaman 'Kau tak boleh lagi datang kesini'-nya. Kalau saja tak ingat James, mending kubiarkan saja dia yang mengepelnya sendiri. Khawatir, karena James sampai sekarang belum juga sadar, seandainya teman-temanku tak memaksaku menghadiri detensi dengan Professor Granger aku lebih memilih menemani James saja dirumah sakit.
"Sekali lagi, dan kalau tak ada jawaban juga aku kembali ke asrama" putusku sambil menyiapkan kepalan didepan pintu.
Aku mengetuk pelan dua kali, tak ada jawaban. Agak sedikit lebih keras dua kali lagi, hening. Oke, ini mulai menghabiskan kesabaranku. Dua ketukan keras, tiga ketukan keras, semakin banyak ketukan keras lalu menggedor dengan brutal sampai akhirnya 'Ceklek' pintu kayu itu membuka sedikit. Aku tersenyum puas, sebuah wajah oval dengan rambut acak-adut melongokkan kepalanya diantara celah pintu. Dia terlihat terkejut saat melihatku, apa dia lupa? Ah, seharusnya aku memang tak datang saja tadi.
"Saya ada detensi dengan Anda malam ini,Professor" kataku datar.
"Oh itu, aku rasa kita bisa melakukannya besok malam. Aku sedang tidak enak badan" katanya dengan suara serak. Normalnya, aku akan senang sekali mendengar itu tapi melihat keadaannya yang bisa dibilang kacau sekali membuatku penasaran. Apa yang dilakukannya pada matanya sampai merah dan bengkak seperti itu? rambutnya yang memang sudah dasarnya berantakan semakin terlihat seperti sarang burung. Dia baru tersapu topan atau apa?
"Besok adalah malam sekolah, Professor. Saya punya banyak tugas" kataku. Aku tidak bohong, pasti akan ada banyak tugas besok.
"Minggu depan saja" katanya cepat dan langsung menutup pintu tanpa menunggu jawabanku. Hey ! ada apa sih dengan dia? Bikin penasaran saja. Sudah susah-susah datang kesini tapi aku diusir begitu saja, jangan harap akan ada minggu-minggu depan. Aku berbalik dan menghentak-hentakan kakiku kesal. Great, kayak kesialan dan kekesalanku belum cukup saja hari ini.
"Tunggu , masuklah" aku berbalik lagi dan menemukan Professor Granger membukakan pintunya lebar-lebar. Dasar plin-plan, lalu apa maksudnya mengusirku tadi?. Sebenarnya aku kesal, tapi akhirnya aku menurut juga. Salahkan rasa penasaranku yang tidak tau diri ini.
Aku agak takjub saat memasuki ruangan yang didominasi warna merah dan emas , khas Gryffindor. Semuanya biasa saja sebenarnya tapi yang membuatku terperangah adalah semua rak buku yang menjulang tinggi dan hampir menutupi seluruh dinding ruangan. Aku bertanya-tanya sendiri bagaimana caranya membawa buku sebanyak itu kesini. 'dasar maniak buku' batinku. Kayak tidak ada perpustakaan saja disini sampai dia harus membawa perpustakaannya sendiri.
"Kelompokan buku-buku ini menurut abjad dan jenisnya lalu susun kembali dirak" perintahnya menghentikan monologue yang kulakukan didalam hati.
Aku agak tidak yakin dengan ini. Mengelompokan menurut abjad dan jenis sih tidak masalah, tapi bagaimana caranya mencapai rak setinggi hampir 3 meter? Apa boleh menggunakan sihir, tapi biasanya detensi tak pernah semudah itu jadi aku putuskan untuk tidak berharap terlalu banyak.
"Bagaimana saya bisa mencapai rak setinggi ini,Professor?" tanyaku.
"Kau bisa menggunakan ini" katanya sambil melambaikan tongkat ke arah rak dan memunculkan sebuah benda yang terlihat seperti dua kayu panjang yang dihubungkan banyak tongkat pendek-pendek. Sepertinya aku pernah melihat benda ini, tapi dimana?
"Namanya tangga, kau bisa memanjat untuk mencapai rak yang tinggi" jelasnya tanpa kuminta. Ah ya, aku ingat, ini benda yang biasanya digunakan Filch untuk membersihkan langit-langit. Tapi tunggu dulu, memanjat? Dengan buku sebanyak ini? yang benar saja, ini akan memakan waktu selamanya. Sepertinya dia berencana untuk menyuruhku terjaga sepanjang malam.
"Kau bisa mulai" kata Professor Granger yang sekarang sudah duduk di sofa merah dekat perapian yang menghadap padaku.
"Baik Ma'am" kataku menurut. Aku tak terbiasa mengalah sebenarnya hanya saja aku tidak tega mendebatnya. Ada sesuatu dari penampilan berantakan dan kacaunya malam ini yang membuatku perasaanku tidak enak. Aku tau aku gila jika mengakui ini, tapi ada rasa sedih atau entah apalah untuknya—arrgh, mungkin otakku juga sudah kacau.
Aku baru saja menumpuk buku berjudul 'Aku yang Luar Biasa' karya Gilderoy Lockhart yang terlihat sudah usang sekali. Seorang pria dengan rambut coklat ikal dan gaya yang sudah ketinggalan jaman mengerjap-ngerjap di cover depannya. Jelek, adalah komentarku sebelum melemparnya ke tumpukan huruf A untuk bagian Biografi. Aku melihat jam muggle di dinding diatas perapian dan langsung mengeluh saat melihat jarum pendeknya menunjuk angka 12. Bahkan sebagian dari tumpukan buku-buku ini belum selesai kususun.
Aku berdiri dan melakukan beberapa peregangan, beberapa jam duduk membuat punggungku pegal-pegal. Professor Granger sudah tertidur di sofanya. Bukannya GR, tapi sepertinya aku melihatnya beberapa kali menatapku tapi langsung memalingkan wajah saat aku membalas tatapannya sejak tadi. Dan entah aku salah lihat atau memang benar, dia juga menangis. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Aku tak tau kalau Professor Granger yang dua hari lalu meneriakiku seperti bayi mandrake baru tumbuh gigi ini bisa terlihat begitu, err—menyedihkan?. Entahlah.
Mataku terpaku pada satu pigura yang berdiri diatas meja membingkai foto seorang gadis yang sangat mirip Professor Granger sedang menggendong seorang bayi. Fotonya tak bergerak, pasti diambil dengan kamera muggle biasa dan terkesan sudah agak lama sebab Professor Granger terlihat lebih muda. Aku tak menyangka jika ia sudah memiliki anak, apa dia juga sudah punya suami? Tapi kenapa tidak ada difoto?.
Aku sudah bilang kalau aku punya rasa penasaran yang tidak biasa. Jadi maaf-maaf saja kalau sekarang aku sedang memeriksa setiap jengkal meja kerja Professor Granger. Setelah berputar-putar beberapa kali, aku tak menemukan foto atau petunjuk lain kecuali sebuah perkamen lusuh yang menyelip didekat botol tinta.
"Mantera Mareplecia" tertulis dengan agak acak-acakan diatas perkamen itu. Tak ada penjelasan apa-apa. Hanya ada sebaris kalimat dan petunjuk di bawahnya.
"Placea Forderado (nama sasaranmu)
Lambaikan tongkatmu kekiri 45 derajat dan putar 2 kali ketimur sambil berkonsentrasi pada orang yang kau tuju"
'well, nama sasaran? Apa ini semacam mantra untuk menjahili seseorang?' Jiwa jahilku langsung menggebu-gebu saat menyadari pemikiran tadi dan tanpa ragu mulai merapal mantra yang tertulis disana.
"Placea Forderado Hermione Granger" aku melambaikan tongkat 45 derajat dan lalu memutarnya 2 kali ke timur ke arah sofa yang diduduki Professor Granger. Ini pasti berhasil, aku tak pernah gagal menggunakan mantra sebelumnya.
Tapi tak terjadi apa-apa. Aku menunggu, tetap tak terjadi apa-apa. Mungkin hanya mantra konyol tak penting, sudahlah. Aku melanjutkan pekerjaanku setelah meletakkan perkamen tadi ketempatnya semula dengan menguap-nguap. Kenapa tiba-tiba jadi mengantuk sekali sih?. Dan Argggh sedetik kemudian kepalaku berdenyut-denyut seperti baru saja dihantam palu, semuanya mulai berputar-putar. Sekujur tubuhku kesakitan, ada apa ini? kaki dan tanganku seperti ditarik-tarik sampai lepas, mataku bagaikan dicongkel dari tempatnya dan kulit kepalaku nyeri luar bisa seakan ada tangan-tangan tak tampak menjambak rambutku paksa. Aku berusaha berteriak, tapi tak ada suara yang keluar dari tenggorokan. Rasa sakit yang menyayat dan menusuk membuatku mulai kehilangan kesadaran, perlahan-lahan pandanganku kabur lalu gelap dan tak lama hening.
"Apa aku sudah mati?"
~TBC~
A/N : Arrrrggggh aneh ya? *ngumpetdibawahmeja*. Hermione jadi super galau banget ya gak sih? Maklum author juga lagi galau waktu nulis ini *abaikan*. Draco gak OOC banget kan?. Makasih buat yang udah review, you'll never know how much it's means to me :). Makasih juga udah ngingetin tentang James, nanti author pikirin ya. Chapter depan ada kejutan, jadi keep reading ;)
Ayo dong review lagi !
