Disclaimer : Naruto kepunyaan Masashi Kishimoto

WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lain nya.

Thanks a lot untuk para reviewer dan yang telah fave&follow fict ini

Semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian


Chapter 4 : Confused

Tanpa berfikir panjang Sakura mendekatkan tubuh mungil nya pada pemuda Uchiha itu, mengalungkan kedua tangan nya pada leher Sasuke. Membawa pemuda yang terkejut itu dalam ciuman hangat dan dalam.

Sasuke tak bergeming dari posisi nya sekarang, Sakura terlihat berpengalaman dalam hal seperti ini.

Untuk sejenak mereka larut dalam aktivitas mereka.

Sasuke tak dapat berfikir jernih sekarang ini. Hingga gadis Haruno itu menyudahi ciuman nya pada bibir tipis Sasuke.

Sakura menatap dalam-dalam mata Onyx itu sebelum akhir nya membelai lembut dada pemuda itu dengan jemari lentik nya. Mendekatkan bibir nya pada leher Sasuke.

"Sasuke-kun!"

Tak pernah mereka sadari bahwa ada sosok yang kini tengah memandangi mereka dari kejauhan.

Pemuda itu menghela nafas panjang. Kalau begitu aku juga tidak akan berhenti untuk mengejar nya! Sasuke!

Perlahan langkah kaki pemuda itu berjalan meninggalkan tempat latihan Sasuke, rasanya ingin sekali ia memukul wajah tampannya itu! Namun sekali lagi logika nya masih bermain, dia seorang Hokage sekarang, tak mungkin untuk nya bersikap seperti anak kecil lagi dan bertindak konyol.

Dalam perjalanan ia masih disibukkan dengan pikiran-pikiran nya. Sesekali ia akan menanggapi beberapa sapaan dari warga Konoha. Apa yang harus dia lakukan? Melihat mantan teman setim nya berbuat hal seperti itu dengan mantan orang yang ia sukai? Terlebih lagi mantan teman setim nya itu kini tengah menunggu kelahiran anak pertama nya dengan Kunoichi tercantik di Konoha – Err menurut nya Ino memang Kunoichi tercantik di Konoha ini, bibirnya yang tipis, kulit putih nya yang halus, tinggi dan bentuk badan yang ideal.

"Arghhht!" Naruto mengacak rambutnya frustasi, dengan memikirkan Ino saja ia bisa seperti ini? Tak seharus nya ia bersikap seperti ini! Ino itu milik Sasuke! Dia hanya mencintai Sasuke! Ia menekankan pada diri nya sendiri.

Kaki nya melangkah gontai memasuki Kedai Ramen favoritnya, Ichiraku tak banyak berubah saat ini.

"Paman aku mau Beef Ramen porsi besar!" ucap nya lesu, seperti bukan Naruto saja! bukankah Naruto akan selalu bersemangat dengan segala hal yang berurusan dengan Ramen?

Ia kemudian mendudukkan dirinya yang terasa sangat lelah, padahal tugasnya di Hokage Tower tidak terlalu banyak hari ini.

"Hokage-sama!"

Ya Kami-sama! Bagaimana aku bisa tak menyadarinya saat masuk tadi?

Sosok pirang pucat nan cantik itu menyapa Naruto hangat, senyumnya yang manis membuat Hokage muda itu tak bisa berekspresi apapun selain terdiam terpaku.

Mengapa ia harus menyadari perasaan nya saat gadis itu sudah memberikan apa yang dimilikinya pada pemuda Uchiha itu?

Apa kau sedang mempermainkanku, Kami-sama?

"Hokage-sama!" panggil nya lagi.

"…."

"Narutooooo!" pekik nya. Membuat pemuda jabrik itu tak mau tak mau menyumpal telinganya dengan kedua tangan.

Pufft setidak nya masih tersisa bagian dari diri Ino yang dulu!

Naruto menyunggingkan senyum khasnya, "Oi, Ino-chan! Selamat malam!" sapa nya dengan melambaikan tangan kanannya, sementara itu Putri Yamanaka itu masih kesal dengan tingkah Hokage Konoha itu.

"Jangan cemberut seperti itu Ino-chan! Kau tidak ingin kecantikan mu luntur khan?" protes sang Hokage yang melihat bagaimana Ino memanyunkan bibir nya tanda bahwa ia sedang kesal.

"Kau tidak mendengarkan sapaanku khan Hokage-sama!"

"Jangan memanggilku Hokage-sama! Kita tidak sedang berada di Hokage Tower sekarang!" Protes Naruto pada Ino yang kini tersenyum pada nya.

"Rasa nya mengerjai mu itu sungguh menyenangkan, Naruto!" Ino tertawa, kemudian melanjutkan melahap Beef Ramen Super besar nya.

"Pesanan mu, Naruto!"

"Terimakasih Paman!"

Tanpa menunggu lama Naruto sudah menikmati Ramen nya dengan lahap. Sesekali ia akan mencuri pandang pada Medic Nin di sampingnya yang terlihat elegan dalam menikmati makanan nya, berbanding 180˚ dengan diri nya!

Cantik . . .! fikir Naruto.

Buru-buru ia menggelengkan kepala, membuat Ino memandang diri nya aneh "Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja khan Naruto? Atau kau sedang sakit? Aku bisa memeriksamu!"

Kunoichi cantik itu terlihat panik, tangan halusnya memegang dahi sang pemuda, membuat rona kemerahan menghiasi kulit tan nya.

"Aaaa ! aku tidak apa-apa, Ino-chan!" elak nya. Buru-buru mengalihkan pandangan nya dari Ino.

"Kau aneh, Naruto-kun!" Ino kembali menyantap ramen nya.

"Jadi . . . kenapa kau di sini?" setelah ia bisa menguasai dirinya, Naruto memberanikan diri untuk bertanya pada Ino.

"Hanya ingin! Mungkin karena bayi ku!" jawab Ino enteng.

"Kalian sudah memutuskan?"

Ino mengangguk, mengalihkan pandangan nya pada Naruto yang juga menatapnya sekarang. Aquamarine nya bertemu dengan Biru Saphire sang pemuda. Ino tersenyum hangat. Entah mengapa hal ini benar-benar membuat dada Naruto sesak, rasa nyeri di hatinya ini, Adegan yang ia lihat sebelum ke sini tadi . . .

"Apa kau mencintai Sasuke, Ino-chan? Apa kau yakin Sasuke juga mencintaimu seperti kau mencintai nya?"

Tangan Naruto mengepal kuat, terlihat penekanan-penekanan di setiap kata-katanya.

Ino menggeleng lemah "Aku tidak yakin! Dia sangat dingin pada ku! Bagaimana aku bisa mencintainya? Aku juga tidak tau!"

Ino terlihat sangat sedih kali ini. Naruto fikir sosok ini bukanlah Ino yang ia kenal dulu, kembali nya sosok Sasuke membuat nya lemah! Bagaimana bisa seperti itu?

Naruto membelai punggung tangan Ino berusaha menenangkan Putri Yamanaka yang tengah terisak. "Maafkan aku Ino-chan, aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih!" ucap sang Hokage, entah mengapa melihat sosok rapuh ini ia ingin sekali memeluknya erat.

"Menangislah jika itu bisa membuatmu sedikit lega, Ino-chan! Tapi berjanjilah padaku untuk kembali pada dirimu yang dulu setelah itu! Sosok yang kuat dan tidak lemah seperti ini!"

Hokage muda itu lagi-lagi menghela nafas panjang, entah sudah keberapa kalinya dalam kurun waktu 2 jam ini ia menghela nafasnya panjang-panjang.

SASUKE's Place

Mereka masih sibuk dengan kegiatan mereka mengekplorasi tubuh masing-masing rasa nya Sasuke telah melupakan keinginannya untuk menyantap semangkuk Ramen panas kali ini.

Ia membuka satu per satu kancing baju yang Sakura kenakan, lidahnya masih bermain-main dengan leher mulus sang gadis dengan sesekali menggigit nya kecil-kecil. Sakura mendesah tak karuan akan perbuatan Sasuke yang membuat nafsunya semakin mengganas. Tangan gadis itu meremas-remas rambut jabrik sang pemuda Uchiha.

Sasuke meremas-remas dada sintal Sakura dengan ganas membuat sang gadis Haruno mengerang kenikmatan.

"Sasukeee hhh~~"

Sasukeee~ nghh!

Entah mengapa Sasuke melihat Sakura sekarang menjadi sosok pirang itu! Ino!

Dammit Ino!

Ia tak menghiraukan nya, melanjutkan aktivitasnya menjamahi tubuh Sakura yang kini tinggal berbalut Bra dan CD-nya.

Ukuran dada Sakura tidak lebih besar dari milik Ino, lekukan tubuh yang ia miliki tidak seindah yang Ino miliki. Sasuke mulai mebanding-bandingkan kedua nya, pandangan dingin itu mengamati gadis Pinky dari atas ke bawah.

"Ada apa Sasuke-kun?" tanya nya, malu-malu. Kedua tangan nya ia gunakan untuk menutupi dadanya saat ini.

Sasuke tersenyum atau lebih tepat nya tersenyum licik sebelum akhir nya mendaratkan bibir nya untuk mengecap belahan dada Sakura.

"Sasukee mmh!"

Satu tangan Sasuke melingkar pada pinggang Sakura dan satu tangan yang lain sibuk meremas dada gadis itu.

"Ahh~!"

"Ngghh~ hiks! Hiks!"

Tidak lagi! Mengapa bayangan mu selalu hadir Ino!. Erang pemuda itu frustasi menyudahi semua kegiatan nya yang tadi ia sedang lakukan pada Sakura.

Baru saja gadis Haruno itu akan mencapai puncaknya namun tiba-tiba saja Sasuke menghentikan semuanya. Sasuke meremas-remas rambutnya tertekan dengan semua bayang-bayang Kunoichi cantik itu. Ia menjauhi tubuh itu dan mendudukkan diri nya di bawah pohon, tatapan nya hampa memandangi tanah yang ia duduki.

"Sasuke-kun?" ucap nya tak percaya.

"Pakai semua pakaian mu Sakura! Aku sedang tidak ingin melakukan nya!"

"Tapi kau tadi . . .!"

"Diam Sakura!" Sasuke meninggikan suaranya. Membuat Medic Nin nomer 2 setelah Tsunade-sama itu merinding. Ia tak kuasa menahan tangisannya yang keluar begitu saja.

Baru saja ia merasa bahagia karena Sasuke mulai membuka dirinya namun, tak lama kemudian ia bersikap dingin lagi. Apa salah nya? Apa yang telah ia perbuat? Apa ia memikirkan Ino?

Sakura memakai pakaian nya kembali, perlahan ia mendekati Sasuke yang masih menatap hampa langit Konoha yang sudah berubah warna menjadi kelam itu.

"Sasuke-kun!" Sakura meletakkan kepala nya pada bahu Sasuke. Pemuda itu tak bereaksi akan tindakan sang gadis. Ia hanya diam, entah fikiran nya sedang kemana sekarang.

Naruto & Ino

"Aku sudah baikan Naruto! Terimakasih!"

Ino melepaskan pelukan nya pada Naruto. Entah mengapa ia merasa tenang saat Naruto merengkuh tubuh mungilnya pada dekapannya. Ino tersenyum.

Jemari lentik itu menyusuri garis rahang tegas sang Hokage muda. Salahkah ia bertingkah seperti ini saat ini?

Pantaskah ia seperti ini? Sementara di dalam perutnya ada benih dari pemuda lain?! Pemuda ini adalah Hokage, pimpinan Konoha yang harus ia hormati, bukan mempermainkan nya seperti ini.

Perasaan apakah ini? Ya Kami-sama?!

Naruto terpaku akan tindakan Ino saat ini, Untung saja tadi setelah makan Ia membawa gadis itu untuk ke atas Monumen Hokage jadi tidak akan ada seorang pun yang mengetahui apa yang mereka lakukan saat ini.

"I-Ino … !"

Secepat kilat Ino menurunkan jemarinya dari wajah Naruto "Maafkan aku Hokage-sama!" . Ia menundukkan kepala. Malu dan marah dengan dirinya sendiri. Mengapa seperti ini? Ini semua membuat nya bingung.

Saat Sasuke mulai mencair, Saat itu pula ia harus merasakan hal berbeda pada pemuda Uzumaki itu.

Setetes air mata tak terasa meluncur begitu saja dari Aquamarine nya.

"Ino-chan!"

Kedua tangan kekar itu merangkum wajah cantik Ino. mereka berdua berpandangan. Tak ada suara yang keluar dari keduanya, tangan kekar Naruto menyapu jejak-jejak air mata itu, Ia benar-benar tidak bisa melihat seorang perempuan menangis! Rasanya seperti ia melihat Kushina, Ibunya sedang menangis. Bagaimana bisa Sasuke seperti itu? Memperlakukan Ino seenak hatinya bersama Sakura yang notabene adalah sahabat baik Ino.

Cuups~

Ino terdiam, semua begitu cepat hingga ia sendiri tak menyadari apa yang telah dilakukan Hokage muda itu padanya.

Cengiran khas pemuda itu mengembang seketika. "Jangan berfikiran macam-macam Ino-chan! Aku tidak suka melihatmu menangis seperti ini! Ahh! Aku membencinya!"

Ciuman paling hangat yang pernah Ino rasakan, tidak ada paksaan di dalamnya. Jemari itu membelai bibir peachnya sendiri. Ino tersenyum "Terimakasih Naruto-kun!" ucapnya kembali menatap pekatnya langit malam berhiaskan bintang-bintang di atas sana.

Biarkan sejenak saja ia merasakan kebahagiaan ini! Ia benar-benar merindukan dirinya yang dulu! Gadis bunga yang ceria, cerewet dan selalu bersemangat! Bukan gadis lemah seperti ini! Cengeng!

"Aku bodoh ya Naruto?!" Ia mengangkat kedua tangan seolah ia akan meraih bintang-bintang itu. "Aku menyerahkan kehidupanku pada Sasuke begitu saja! seharusnya aku memikirkan masa depanku! Tidak menuruti nafsu dan perasaan yang masih tertinggal itu!"

Naruto menyunggingkan senyum termanisnya, mengalihkan pandangan pada sosok cantik di sampingnya. "Kau menyesali semua ini?! Semua terjadi tentu saja ada tujuannya! Kami-sama sudah menuliskan jalan hidupmu seperti itu, Ino-chan! Tak ada yang perlu disesali selain kau harus menjalaninya dengan baik, memastikan bayimu akan baik-baik saja!"

"Kenapa kau bisa berubah dari Naruto si 'mulut besar'' menjadi pemuda sedewasa seperti saat ini Naruto?" Ino kini mengalihkan pandangan Naruto padanya.

"Karena aku harus! Itu adalah kewajibanku! Kau tentu tidak mengiginkan mempunyai pemimpin desa seperti Naruto beberapa tahun lalu bukan?"

Hanya dengan membayangkan saja itu bisa membuat Ino tertawa, bagaimana desanya akan maju jika dipimpin orang seperti itu? Meski masih ada sifat Naruto yang seperti anak-anak namun dia telah banyak berubah.

"Kau mentertawakan ku, huh?" Naruto berlagak marah, ia cemberut, memanyunkan bibirnya.

"Hahaha! Kau lucu Naruto!"

"Aku bukan pelawak, Ino-chan!" dengusnya kesal, tentu saja ia tidak serius.

"Terimakasih banyak untuk hari ini! Kau benar-benar menghiburku dan mendengarkan semua keluhan ku! Andai saja aku belum . . .!"

Ino menggantungkan perkataannya, buru-buru ia menggelengkan kepala mengusir jauh-jauh apa yang tadi sempat melintas di fikirannya. Wajah ayunya hanya dapat memberikan senyum termanisnya pada pemuda Uzumaki itu, yang di sambut dengan senyuman hangat Naruto.

"Sudah larut malam! Ayo kuantar kau pulang! Kau pasti sangat lelah, Ino-chan!"

"Tentu saja! salah siapa yang menculik dan membawaku ke tempat ini? Tapi tempat ini benar-benar indah, Naruto!"

"Kuanggap itu semua adalah sebuah pujian padaku, Ino-chan!"

Ino sweatdrop mendengar pernyataan Naruto, padahal dia memuji tempat ini, bukan dia!

.

.

.

.

.

Mereka berdua berjalan beriringan, sesekali mereka akan tertawa karena mendengar cerita kocak yang dialami Naruto, atau sekedar mentertawakan hal-hal kecil yang mereka temui di jalan.

Jika tidak tau pasti semua mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih, tak jarang mereka bertemu dengan beberapa warga yang memandang mereka dengan senyuman hangat, mungkin mereka fikir Yamanaka Ino adalah calon First Lady di Konoha.

Naruto tersenyum puas. Ijinkan untuk sesaat ia merasakan kebahagiaan ini! Ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya jika pemuda Uchiha itu mengetahui bagaiamana Ia memperlakukan ibu dari bayinya itu sekarang.

"Aku pikir kau akan menjadi kekasih yang baik Naruto! Mengapa kau tak segera mengajak Hinata-chan untuk menikah?"

Ino yakin betul bahwa gadis Hyuuga itu menyukai Naruto! Terlihat dari bagaimana cara ia memandang pemuda itu.

"Kau pikir Hinata-chan menyukaiku? Hahaha!" tawa kembali meledhak pada pemuda jabrik itu, membuat muncul perempatan di dahi Ino yang menatap pemuda itu kesal.

"Apa kau tidak menyadarinya selama ini Ino-chan? Bukan kah beberapa tahun ini kau lebih dekat dengan nya?"

"Huh?"

"Hinata-chan dan Kiba akan segera melangsungkan pernikahan mereka 2 bulan lagi!"

"Huh? Apa? Jadi Hinata-chan? Kenapa dia tak pernah memberitahuku?! Ahh! Dia hutang penjelasan padaku!"

Ino melipat kedua tangan di dada. Membuat Naruto tersenyum penuh arti.

Kau sudah kembali! Ino-chan.

"Kita sudah sampai! Naruto-kun!" ucapnya ceria.

Benar saja! mereka telah berada di rumah mungil nan indah itu. "Kau mau masuk?"

"Sudah larut malam! Ku rasa aku harus segera pulang, lagipula apa kau tidak mencium bagaimana bau badan ku sekarang?"

Ino mendekatkan wajah ayu nya pada tubuh Naruto, berlagak tengah mengendus bau pemuda itu. Mereka berdua tertawa "Kau benar-benar bau Naruto!"

Tentu saja Ino hanya bercanda! Pada kenyataannya bau yang mennguar dari tubuh Naruto adalah wangi Green Tea. Wangi yang menyejukkan dan membuat tenang siapa saja yang berada didekatnya.

"Kau tidak bersungguh-sungguh mengatakannya khan Ino-chan?!"

"Aku bersungguh-sungguh Hokage-sama!"

"Baiklah! Aku pulang dulu, Semoga kau mimpi Indah malam ini!"

Ino mengangguk! Bagaimana dia tidak akan bermimpi Indah malam ini? Ia benar-benar bahagia hari ini! Andai saja Sasuke mampu bersikap se-gentle Naruto. . .

Naruto melambaikan tangan pada Ino, bersiap untuk membalik tubuhnya ketika ia rasa sebuah pukulan keras menghantam wajahnya.

Bugghhh!

"Sasuke!" pekik Ino. "Apa yang kau lakukan?" dengan sigap Ino membantu pemuda Uzumaki itu untuk duduk. "Kau tidak apa-apa khan Naruto? Bibirmu berdarah! Sasuke apa kau sudah gila?!"

"Apa yang aku lakukan?! Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan!" ia berujar dingin. Tatapan nya tak lepas dari sahabat kecilnya yang masih bisa tersenyum setelah mendapatkan pukulan telak pada wajah "bodoh" nya itu- begitulah pikir Sasuke.

Di lain pihak Ino tengah mengelap darah segar yang keluar pada sudut bibir Naruto, tak memperdulikan Ayah dari calon bayinya itu.

"Hentikan itu Ino! Aku muak melihat semua itu! Kurasa pelajaran semalam tidak membuatmu mengerti? Atau haruskah aku memberi pelajaran lagi padamu?! Yamanaka Ino!" kali ini Sasuke benar-benar kehilangan kontrol emosi nya, dengan kasar ia menarik tubuh mungil Ino untuk berdiri.

"Sasuke! Lepaskan tangan ku! Sakit!"

Keluh Ino, berusaha melepaskan cengkraman Sasuke pada lengannya yang ia rasa begitu menyiksa.

"Hentikan Teme! Kau menyakitinya!" Naruto telah memposisikan dirinya kembali berdiri menatap Onyx pemuda itu tajam. Sasuke tak menghiraukannya. Ia kembali menatap Ino yang masih saja berusaha melepaskan cengkramannya.

"Apa kurang jelas bahwa aku tidak menyukai jika kau terlihat bersama Pria lain, sekalipun itu Nara Shikamaru, Chouji, ataupun Hokage sekalipun!"

Tawa meledhak dari mulut pemuda jabrik itu! "Kau benar-benar memalukan, Teme! Kau payah! Apa kau sedang cemburu sekarang? Jika cemburu mu itu menyakiti nya seperti ini, Kau harus berhadapan denganku! Lepaskan dia! Sekarang!" terdengar penekanan di setiap perkataan Naruto.

Sasuke melepas cengkraman nya pada lengan Ino, lengan mungil gadis itu memerah, "Shhh!" ia menahan betapa sakitnya cengkraman itu.

Buuughhhh!

Kini giliran Sasuke yang mendapatkan pukulan telak pada pipi kiri nya, pelipis pemuda emo itu mengeluarkan darah segar.

"Naruto-kun!" Ino memandang tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Bagaimana Naruto bisa membelanya seperti ini? "Sasuke~" Ino berjalan mendekat pada tubuh pemuda yang sudah jatuh tersungkur di tanah itu, sebelum ia dapat mencapai pemuda Uchiha, tangan kekar Naruto menahannya untuk tidak mendekat.

"Ino! masuklah jika kau tidak mau melihat semua ini! Yang perlu ku lakukan adalah memberi Pemuda ini pelajaran!"

Ino menggeleng tanda tak menyetujui ide pemuda itu. Dengan begitu ia melepaskan pegangan nya pada jemari Ino.

"Sebelum ke Ichiraku tadi aku melihatmu dan Sakura di Training Ground sedang melakukan hal itu Sasuke! Aku tidak tau sampai mana kau melakukannya! Aku sendiri malu melihat apa yang kalian lakukan!"

Naruto menghela nafas panjang, pandangan pemuda itu memelas pada gadis cantik yang kini berdiri terdiam layak nya sebuah patung. Ino terlalu terkejut dengan apa yang dikatakan Naruto baru saja.

Sasuke sendiri? Ia membuang muka, meremas rambutnya frustasi.

Mereka bertiga larut dalam pikiran-pikiran mereka sendiri.

Sasuke, Sakura apa? Baru saja tadi pagi ia bersikap manis padaku!

Ino membalikkan tubuhnya untuk masuk kedalam rumah kecilnya, tak menghiraukan lagi bahwa di situ ada Hokage dan ayah calon bayinya yang bisa saja setelah ia meninggalkan mereka, mereka akan berusaha salaing membunuh! Oh tidak! Ino tau pasti bahwa meskipun mereka sering tidak menunjukkan persahabatan mereka, Sasuke dan Naruto tidak akan pernah melakukan hal se-gila itu.

"Maaf Teme! Aku tidak bermaksud untuk melakukan semua ini padamu! Tapi jika kau berusaha untuk menyakiti Ino-chan atau Sakura-chan lebih jauh! Aku tidak akan tinggal diam!"

Naruto membalikkan tubuh lelahnya berjalan menjauh dari pemuda yang masih dalam posisi duduk itu. "Jangan ganggu dia dulu! Biarkan dia menenangkan dirinya!" Perintah Hokage muda tanpa berbalik dan meneruskan perjalanannya pulang.

Hanya Sasuke sendiri di sini.

Ia berdiri, memandang hampa rumah mungil di depan nya, Ingin rasanya ia mendobrak rumah itu, masuk dan memeluk erat-erat gadis Yamanaka nya.

Entah mengapa gadis itu kini telah menjadi candu tersendiri untuknya.

"Sasuke . . .!"

Sasuke tak menghiraukan panggilan itu, masih memandang pintu kayu itu dalam diam. Suara itu nyata-nyata tak berhasil membuatnya bergeming dari tempat ia berdiri.

"UCHIHAAAAAA!"

.

.

.

.

To Be Continued …


Well, Thanks untuk beberapa sahabat baru di PM yang memberikan dukungan untukku menulis. Tadinya sih sudah mau DISCONTINUED ini UCHIHA. Ada yang bilang mirip ma FF luar, setelah minta tolong Senpai yang selalu setia mengontrol FF saya ternyata FF luar yang itu, setelah saya baca memang mirip dalam beberapa segi, Mohon maaf untuk Guest yg meriview tentang kemiripan itu, saya tak pernah bermaksud untuk mencuri ide atau mem-plagiat FF orang lain, saya juga menjadi tidak enak hati atas insiden ini, padahal saya tidak membuat nya mirip dan baru tau FF itu . Sebaiknya anda Log In dan kita bisa berdiskusi bagaimana Don't and Do di FFN ini, soalnya saya baru di sini, belum banyak FF yang saya baca dan saya yakin anda lebih berpengalaman di sini Senpai .

Yang menanyakan soal Setting, Ayah Ino tidak mati, Sayang banget kalau harus matiin Bapak Inoichi tercinta 3 :D.

Masih gak yakin mau lanjutin ke chapter selanjutnya niih ^^

Heuheu, Selamat menikmati chapter 4

#Vale