Gomen soal chap kemarin yang bersambung dengan tidak elitnya. Itu kkrna Yu lg di warnet dan biling yang Yu punya bentar lagi sekarat

Disclaimers: Om Masashi Kisimoto

Pairing: SasuFemNaru

Rate: M

Warning: Typo, OOC, gaje, ngabal, alur kecepetan, author stress

Happy reading, don't like don't read…

Complicated (chap 4)

Sasuke sangat panic. Ia mengambil kunci mobil dan melesat pergi menuju rumah sakit. Sasuke mencari letak kamar yang di katakana orang dalam telefon barusan. Sasuke melihat sosok pria yang besama Naruto kemarin terbaring tak sadarkan diri. Sasori. Ucapnya dalam hati.

Dahi Sasuke mengkerut. Ia semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Sasuke semakin terlihat bingung saat melihat Blow Evil berkumpul di ruang kamar Sasori dengan wajah cemas. Sasuke sangat pandai menyembunyikan ekspresi bingung di balik wajah stoic nya itu.

"M-maaf.. aku menghubungi mu.." Ucap Hinata terbata – bata.

"Hn." Saut Sasuke datar.

"Kau lama sekali Sakura." Ujar Ten ten tiba – tiba. "Matikan rokok mu. Ini di rumah sakit." Omelnya.

"Gomen ne. Ada urusan mendadak." Jawab Sakura enteng dari arah belakang Sasuke. Sasuke pun memutar tubuh nya melihat Siapa yang mejawab panggilan Ten ten. "Ah.. jadi kau yang bernama Uchiha Sasuke? Suami Naruto?" tanya Sakura pura – pura tidak tahu.

Hening…

"Kau memang tidak banya bicara. Baguslah." Tukas wanita pinky itu sambil berjalan masuk dan duduk di bangku samping Sasori terbaring lemah.

"Jadi?" Tanya Sasuke singkat.

"S-sesuai yang aku bicarakan di dalam telfon. Ini mengenai Naruto." Jawab Hinata. "Aku dan nii-chan baru tiba dari urusan penting di suna. Tanpa sengaja melintasi rumah kediaman kalian berdua. Lalu aku…" ujar Hinata terputus. Air mata menetes dari pelupuk lavender nya.

"Naruto di bawa oleh segerombolan pria dan Sasori berusaha menyelamatkan Naruto.." sambung Neji tahu jika adiknya itu tidak sanggup melanjutkan perkataan nya. "Jika dilihat dari mobil yang mereka kendarai. Aku melihat sebuag logo yang mencolok. Banteng Api. Itu logo milik The Bull of Hell." Jelas Neji.

"The Bull of Hell.." bisik Sasuke. ia begitu tak asing dengan ciri – ciri logo yang Neji terangkan.

Flash back!

Sasuke naik pitam saat mendengar kabar kematian Karin. Sasuke dan anak buahnya menyerang markas Blow Evil dengan membabi buta. Ternyata dalam penyerangan itu Dark Eyes tidak sendiri.

.

Sebuah komplotan memanfaatkan penyerangan Dark Eyes untuk tujuan mereka entah apa itu. Sasuke hanya melihat seorang pria berkacamata bundar berambut abu – abu memikul sebuah karung besar dan memasukan karung itu kedalam bagasi mobil berlogokan Banteng Api yang sangat mencolok.

.

Merasa di perhatikan. Pria berkaca mata bundar itu bergegas masuk ke mobil seolah takut akan ada yang melihat kegiatan nya.

Flash back end!

"Saat aku dan Hinata turun dan berusaha membantu Sasori dan Naruto. Sayang nya kami terlambat. Kami hanya menemukan Sasori yang tergeletak di depan gerbang rumah mu dengan luka tikaman."

"Lalu? Kalian tau Naruto di mana?" Sasuke memasang wajah sedatar mungkin. Neji, Hinata, Ten ten dan Gaara hanya menggeleng kecil.

"Orochimaru sedang melacak keberadaan Naruto." Timpal Sakura. "Aku menyisipkan Proyektor Detector di anting kiri Naruto tanpa sepengtahuannya. Aku sudah menduga ini akan terjadi. Kita hanya tinggal menunggu kabar dari Orochimaru. Aku dengar ia akan ke sini."

Tangis Hinata terhenti mendengar penuturan yang keluar dari lisan Sakura. Begitu pun orang – orang yang berada di ruangan tersebut. Termasuk Sasuke?

.

.

.

Berita tentang penculikan yang di alami Uzumaki Naruto putri tunggal dari Uzumaki Minato dan Kushina menyebar begitu cepat bak kilat.

Zzttt zzttt.. telfon genggam Uchiha bungsu itu bergetar. Di lihatnya layar telfon genggamnya itu. Itachi. Ujarnya dalam Hati.

"Hn."

"Sas.. aku sudah mendengar cerita tentang Naruto. Bagaimana? Ada informasi lain? Tou-san panik dan depresi bukan kepalang saat ini" ujar Itachi dalam telfo.

"Tidak ada." Jawab Sasuke singkat. Seolah – olah ia enteng – enteng saja menghadapi masalah ini. Namun sebenar nya Sasuke sedikit merasa khawatir.

"Ck.. dasar kau ini." Itachi berdecak sebal. Sasuke memutuskan telfonnya.

Setelah mendapat telfon dari Itachi. Datang lah sosok yang di tunggu – tunggu.

"Bagaimana? Ada hasil Orochimaru-san?" tanya Sakura bangkit dari duduk nya menghampiri Orochimaru.

"Aku sudah berusaha melacak keberadaan Naruto dengan Proyektor Detector itu. Dan mendapat sinyal yang lemah tentang keberadaan Naruto. Tiba – tiba saja sinyal yang lemah itu menghilang." Jawab Orochimaru.

Mendadak ruangan itu menjadi suram lagi. Sempat ada harapan yang mereka rasakan tapi kini harapan itu seolah hilang dengan mudah di tiup angin.

"Tapi….. aku tau di mana keberadaan Naruto." Lanjutnya kembali membuat mata Hinata dan lain nya berbinar. Kecuali Sasuke yang masih bertahan dengan wajah stoic nya.

Sakura tersenyum simpul. "Sudah ku duga ini akan berhasil." Ujar Sakura begitu bangga. Usaha nya tidak sia – sia.

"Di mana dia sekarang." Tanya Sasuke datar.

"Hn.. tunggu sebentar." Orochimaru mengeluarkan Leptopnya dan menunjukan dimana letak kuadrat Naruto sekarang.

Mata Sasuke membulat sempurna saat melihat tampilan di layar Orochimaru. Mustahil. Pikirnya.

Sasuke menatap lekat Orochimaru mengisyaratkan sesuatu. Orochimaru menyadari apa maksud Sasuke dan segera memberikan Flashdisk hasil copyan Proyektor Detector padanya.

.

.

.

Sasuke memacu laju mobil nya menuju Uchiha Corp untuk menemui Itachi. Ia berjalan cepat menelusuri koridor kantor milik ayah nya itu tanpa memperdulikan tatapan kagum dan centil dari kariawan ayahnya. Sasuke membuka kasar pintu ruangan sang kakak.

"Di mana Deidara.?" Tanya Sasuke dingin.

"Kau sama sekali tidak sopan. Memasuki kantor ku tanpa permisi dan bertanya di mana pacar ku dengan ekspresi itu." Saut Itachi menganggap angin lalu pertanyaan Sasuke.

Sasuke berjalan menuju ke meja sang kakak. "Jawab aku." Raung Sasuke memukul kasar meja sang kakak.

"Kenapa kau mencari kekasih ku?" tanya Itachi menatap Sasuke menyelidik.

"Kekasih mu menculik Naruto." Jawab Sasuke dingin.

"Haah? Itu tidak mungkin Sas." Mata Itachi berkilat marah menatap sang adik.

"Terserah." Sasuke berbalik. Percuma ia bertanya pada Itachi. Pikirnya. "Aku akan menyerahkan bukti pada Tou-san."

"Tunggu…" Itachi bangkit dari duduknya. "Aku ikut. Akan aku pastikan Deidara bukan pelakunya. Dan apa yang kau katakan itu salah."

"Terserah." Jawabnya ketus.

Sasuke dan Itachi menuju ke perusahaan Uzumaki Corp. setibanya di sana. Mereka di suguhkan dengan pemandangan yang menyedihkan.

Kushina menangis tersedu – sedu di pelukan Mikoto yang terus berusaha menenangkannya. Sedangkan Minato menenangkan Fugaku yang depresi, eh ('-')a .

"Etto~.." Itachi kebingungan. "Kenapa kau begitu tenang Minato-san."

"Hm.. Aku yakin Naruto akan baik – baik saja." Kata Minato tenang.

"Kenapa anda begitu yakin?" tanya Itachi lagi.

"Karna Naruto adalah putriku." Jawabnya yakin.

.

.

.

Di sisi lain di mana Naruto di sekap. Naruto menatap dingin orang – orang yang berada di depannya. "Kalian mau apa?" tanyanya dingin.

"Ha ha ha.." terdengar suara tawa licik yang mengganggu indra pendengaran Naruto. "Jangan memasang wajah seperti itu. Aku jadi bergairah melihat ekspresimu. Kau semakin terlihat cantik dan sexy." Ujar pria berkacamata bundar seraya memegang kasar dagu Naruto.

"Naruto meludah tepat di wajah pria itu dan sontak pria itu memukul Naruto hingga kepalanya menyentuh lantai. "Berani nya kau.." raung nya.

"Hentikan Kabuto.. Nona akan marah besar jika Sampai melihat kau mendahuluinya."

Ujar pria bernama Kimimaro.

"Ck.." Kabuto mendengus kesal.

"Nona sudah datang." Ujar Zabuza yang tiba – tiba datang.

Naruto hanya diam dan masih menatap dingin orang – orang itu dengan posisi terbaring. Ia tidak bisa melakukan apa pun karna saat ini tangan dan kakinya terikat.

.

.

Tidak lama kemudian wanita yang di maksud Zabuza pun datang menampakan wajahnya.

Mata Naruto terbelalak seketika melihat sosok wanita yang muncul itu. "Omae.." geram nya lirih tidak percaya melihat wanita berambut pirang sepertinya dengan rambut di kuncir ke belakang.

"Omae…"

"Hai Naruto." Panggil Wanita berambut pirang itu.

"Apa yang kau mau dari ku, Deidara."

"Uh Kowai Kowai, langsung to the point rupanya. Kau tidak ingin berbasa – basi dulu dengan sepupumu ini Naruto." Ucap Deidara dengan tangan berada di pipi.

"Cih.." Naruto berdecak sebal.

"Ahh.. baiklah – baiklah. Sepertinya kau tidak ingin berbasa – basi. Aku ingin meminta Sasuke." ujarnya.

Mendengar ucapan Deidara sontak membuat tawa Naruto pecah seketika."Apa – apaan ini. Kau menculiku hanya untuk meminta Sasuke. kau kira penculikan ini hanya sebuah guyonan belakang hah. Kau bisa saja di penjara karna telah menculik putri tunggal Uzumaki. Lagi pula, bukan kah kau sudah bersama Itachi, huh?."

Wajah Deidara berubah masam mendengar penuturan Naruto. "Kau sama sekali tidak ada takut – takutnya. Kau tidak tahu aku ini siapa, huh?."

"Untuk apa aku mengetahui siapa dirimu itu. Tidak penting." Jawab Naruto sontak mendapat tendangan dari Deidara.

"Percuma aku berbicara dengan mu. Mungkin satu – satu nya cara agar aku mendapatkan Sasuke adalah dengan membunuh mu." Tukas Deidara seraya meninggalkan Naruto.

"Ck.. kau menyukai Sasuke ya. Apa bagus nya sih si rambut unggas itu." Bisik Naruto dengan seringaian terukir di sudut bibirnya.

Naruto merasa takut? Ah tidak. Sebenarnya ia begitu mudah lepas dari ikatan ini. Ia hanya akan menikmati masa – masa ia harus di culik kembali sama saat ia masih kecil dulu. Hn, Naruto memang sudah kenyang di culik. Tapi jika dengan sepupu nya sendiri? Itu akan menimbulkan sensasi tersendiri..

.

.

"Sekarang kita harus bagaimana suami ku?." Tanya Kushina dalam isak tangisnya.

"Sebentar, aku dan Sasuke sedang membuka file yang diberikan oleh Orochimaru teman nya." Jawab Saut minato dengan mata yang terfokus di layar leptop. Itachi juga ikut melihat dan memperhatikan sesekali membantu jika terdapat kode keamanan yang harus di pecahkan.

Kini tampaklah lokasi di mana Naruto berada. Alangkah terkejutnya Itachi saat melihat lokasi keberadaan adik iparnya itu. "Rumah Deidara." Bisik nya pelan namun telinga Sasuke masih dapat mendengar suara kecil itu. Itachi berjalan mundur menjauh. Seisi ruangan bingung melihat tingkah Itachi.

"Ada apa? Apa kau mengetahui sesuatu." Tanya Minato.

"T-tidak paman. Tidak." Jawabnya seraya meninggalkan ruang kerja Minato.

Itachi menuju parkiran. Ia memutuskan untuk menemui Deidara. Entah mengapa rasa nya ia masih belum percaya. Ia ingin memastikan dengan matanya sendiri.

Di rumah Deidara. Itachi membuka gagang pintu dengan setenang mungkin.

"Dei." Panggilnya pelan. Memastikan keberadaan penghuni di dalam rumah itu.

"Tachi. Kau datang?." Saut wanita itu dan menyambut Itachi dengan pelukan. Deidara terlihat seperti biasa. Pikirnya. Aalat itu pasti rusak. Pikir nya lagi.

"Ada apa kau kemari Itachi."

"Hn. Tidak. Aku hanya ingin memastikan jika kau baik – baik saja." Saut nya datar.

"Tentu saja aku baik – baik saja. Ayo masuk. Akan ku buatkan makan siang untuk mu." Deidara menarik Itachi ke dapur.

"Hn."

.

.

.

"Aku akan menghubungi polisi." Teriak Kushina tidak sabar.

"Tenang lah Istriku. Kau tidak akan tahu apa yang bisa mereka lakukan pada putri kita. Kau tidak mau terjadi apa – apa pada Naruto kan." Ucap Minato mendekapnya dalam pelukan menenangkan sang istri.

"T-tapi Naruto-" Kushina kemabli menangis.

"Tenanglah Naruto akan baik – baik saja. Dia itu putri ku. Sekarang kita tidak akan menghubungi polisi biasa untuk menangani kasus ini." Tukas Minato. "Fugaku-"

Fugaku yang masih panik berusaha mencerna maksud Minato, dan akhirnya pun ia mengerti. Ia menelfon seluruh anggota Uchiha yang di kenal sebagai keamanan level internasional hanya Fugaku seorang lah yang bergelut dibidang bisnis namun bukan bearti ia bukan salah satu dari anggota keamanan level internasional itu. Terlebih lagi Fugaku adalah kepala keamanan level internasional.

"Bagaimana?."

"Hn. Masalah ini akan dituntaskan segera." Jawab Fugaku yang jauh lebih baik kelihatan nya.

"Mana Sasuke." tanya Mikoto mencari – cari putra bungsunya yang mendadak ikut menghilang. "Dia tidak di culik kan?"

Hening…

.

.

.

Sasuke memacu kendaraannya menuju kerumah Deidara. Tepat berada di depan rumahnya Sasuke menelfon salah satu anggota Blow Evil.

"Moshi – moshi.. siapa di sana, Sakura yang cantik di sini." Terdengar suara menyapa dari dalam telfon. Nyaris Sasuke ingin melempar telfon genggam nya itu namun di urungkan nya.

"Di mana Orochimaru?." Tanya nya ketus. Ck kenapa telfon genggam nya Orochimaru ada pada Sakura. Sasuke berdecak sebal dalam hati.

"Are.. tidak ingin bicara pada ku? Sedihnya." Sautnya dengan suara sedih yang di buat – buat.

"Hei. Ayolah. Aku sudah berada dekat dengan tempat penyekapan Naruto." Ujarnya.

"Ara.. baiklah – baiklah. Tapi sayang nya kau memang harus membicarakan nya pada ku. Karena Orochimaru masih sibuk dengan leptopnya. Dia memastikan lagi apa keberadaan Naruto memang benar di sana." Jelas Sakura. "Apa yang ingin kau bicarakan Sasuke?."

"Naruto di sekap di rumah kekasih Aniki ku." Jawab Sasuke singkat.

"Haah.."

"Aku akan memastikan nya sekarang."

"Kau bermaksud melakukan nya sendiri? Hei. Bukan nya kau membenci Naruto?." pertanyaan Sakura sontak membuat Sasuke terdiam. Ia sendiri pun bingung. Kenapa dia sangat antusias untuk menyelamatkan Naruto. dan kenapa dia panik. Sasuke langsung memutuskan telefon nya. Ia bingung sekarang ia harus bagaimana. Ia sudah berada di depan rumah Deidara. Apa dia harus pulang? Pikirnya.

Ah sudahlah. Ia sudah melangkah terlalu jauh. Ujarnya dalam hati. Dengan cepat Sasuke menghubungi teman – teman nya.

"Hola Sas.. ada apa?." Terdengar suara seseorang menyaut dari dalam sana.

"Obito. Aku ingin kau dan yang lainnya melakukan sesuatu."

"Apa..?"

.

.

.

Sasuke menelusuri rumah Deidara dari luar. Di intip nya isi dalam rumah itu.

Ah damn. Itachi ada di dalam. Kali ini dia harus memikirkan susuatu cara untuk masuk ke rumahnya. Sasuke mondar – mandir di dekat jendela. Dan ia pun menemukan sebuah cara.

.

.

.

"Di mana anak mu itu suami ku?." Tanya Mikoto.

"Kurasa dia gegabah. Dia memutuskan untuk menyelamatkan Naruto sendiri. Si bodoh itu." Saut Fugaku.

"Kurasa kita juga harus segera menyusul. Aku rasa aku mulai sedikit cemas." Tukas Minato.

"Aku ikut." Ujar Kushina cepat.

"Hn.. baiklah.." jawab Minato.

Minato, Fugaku, Kusina dan Mikoto mulai bergerak. Para suruhan Fugaku juga hanya tinggal menunggu perintah.

.

.

.

Sasuke membunyikan bell rumah Deidara. Tidak lama kemudian Deidara pun menampakan wujudnya.

"Are. Sasuke-kun.." ujar nya tersipuh malu saat melihat Sasuke untuk pertama kali datang ke rumah nya.

"Di mana Naruto." ujarnya to the point.

"Hah.. a-apa maksudmu Sasuke-kun. Hanya ada kakak mu di rumah kua." Sautnya.

Sasuke menunjukan Copy Located ke telfon genggam nya dan memperlihatkannya pada Deidara. Tampak terukir ekspresi terkejut dari wajah Deidara.

"Hentikan Sasuke. Deidara bukan pelakunya. Alat itu pasti rusak." Timpal Itachi.

"Diamlah. Kau tau tou-san dan paman Minato akan ke sini sebentar lagi. Tou-san juga sudah mengerahkan keamanan kepercayaannya." Saut Sasuke datar.

Rahang Itachi mendadak mengeras. Ini gawat. Pikirnya. Ia tidak menyangka jika ayah nya akan mengerahkan keamanan Internasional. "Cih.." Itachi mendengus sebal.

"AHAHAHAHAHAHAHAHAH.. keterlaluan." Tawa Deidara tiba – tiba pecah. "Keterlaluan.. aku memang tidak seharusnya berurusan dengan anak emas itu ya. Pfft. Kalian semua melindunginya. Kalian semua membela nya. Dia bisa mendapatkan apa pun yang dia mau." Deidara meraucau tidak tentu arah.

"Apa maksud mu Dei." Itachi bingung. Dan Greb…

Seorang pria bertubuh kekar meregang tubuh Itachi erat. Begitu pun Sasuke. Itachi panik, ia semakin tidak mengerti situasi terlebih lagi tentang Deidara.

Sasuke masih memasang wajah datar menatap Deidara dengan tatapan yang merendahkan nya. "Di saat tertahan seperti ini kau masih bisa memasang wajah datar Sasuke sayang." Ujarnya seraya memegang dagu Sasuke. dan Itachi semakin bingung.

"Kau benar Honey. Aku yang menculik Naruto, dan ini ku lakukan untuk mu. Aku juga membunuh wanita itu juga untuk mu." Jelas Deidara.

"Jangan menyentuh ku." Protes Sasuke dingin.

"Berhenti bersikap menyebalkan Sas. Naruto akan mati. Dan kau akan menjadi milik ku." Raung Deidara.

Akhirnya Itachi bisa mencerna situasi sekarang. Jadi selama ini Deidara itu berpacaran dengan nya hanya untuk mendekati Sasuke? ia tidak percaya jika Deidara akan melakukan itu pada nya. Itachi hanya bisa tertunduk. Hatinya terasa begitu sakit. Ia ingin sekali mengamuk. Ia menyesal tidak mempercayai adik nya prihal Naruto.

"Apa maksud mu. Kau ingin membunuh Naruto?." Rahang Sasuke mengeras. "Jangan macam- macam kau."

"Kau tidak akan ku biarkan menemui Naruto sampai eksekusi nya selesai." Saut Deidara terkekeh di kuping Sasuke. "Gomen ne Itachi. Aku hanya memanfaatkan mu. Dan kau terlalu bodoh untuk menyadari itu. Jangan menangis ne." Ujar Deidara menoleh ke arah Itachi yang masih tertunduk dalam regangan Zabuza.

"Itu tidak akan terjadi." Gumam Itachi lirih kemudian membanting kasar tubuh Zabuza dan menginjak titik fital nya hingga pingsan. "Jangan bercanda Dei. Kau bahkan tidak pantas untuk di tangisi. Jangan coba – coba untuk menyentuh adik ipar ku."

Begitupun Sasuke yang kini sudah terbebas dari regangan pria bernama Kisame itu. Jangan menganggap remeh kedua bersaudara ini. Sasuke adalah ketua komplotan. Sedang kan kakak nya adalah mantan anggota komplotan mafia. Di tambah lagi Status Uchiha mereka, yang sedari kecil sudah di didik ilmu bela diri sedari kecil.

"Jadi kau adalah leader The Bull of Hell, huh?." Sulit di percaya tukas Sasuke.

"Hah?." Lagi – lagi Itachi terkejut dengan apa yang di bicarakan sang adik.

Tidak menunggu waktu lagi Sasuke dan Itachi memasuki rumah Deidara. Deidara masih mematung di luar rumah.

"Tidak. Rencana ku tidak boleh gagal." Bisik nya. "TIDAK BOLEH." Raung nya.

Teriakan Deidara sontak membuat anak buah yang lainnya keluar dari tempat persembunyian nya.

"Ck menyebalkan.." Sasuke mulai muak dengan situasi saat ini.

Ia membantai seluruh anak buah Deidara dengan cepat yang pasti nya dengan bantuan sang kakak. Deidara terkejut. Bagaimana bisa? Pikirnya. Sasuke dan Itachi mencari – cari sebuah pintu yang menghubungkan ke ruang bawah tanah. Dan dapat. Pintunya berada di bawah karpet. Sasuke mengaiskan karpet tersebut dan membuka pintu yang terdapat di sana. Terlihat lah sebuah anak tangga yang menuntun ke bawah.

"Aniki. Kau urus saja kekasih mu itu." Ujar Sasuke.

"Manta." Ralat Itachi.

"Ini." Sasuke melempar sebuah borgol kearah Itachi dan mulai memasuki ruang bawah tanah.

Itachi menangkap borgol yang di beri sang adik kemudian melirik ke arah mantan kekasih nya itu. Itachi berjalan mendekat kearah Deidara yang masih diam mematung. Ia masih tidak percaya jika rencana nya akan berantaka seperti ini.

Clekk.. suara itu membuyarkan Deidara dari keterkejutan nya. Ia sontak meronta – ronta saat Itachi berhasil memborgol tangan nya.

"Tunggu lah di sini gadis nakal. Tunggu sampai suruhan Tou-san ku datang. Mungkin kita akan langsung menikah setelah nya." Ujar Itachi terkekeh.

.

.

.

Sasuke berhasil ke dasar anak tangga. Cahaya lampu menusuk mata Onyx Sasuke. membuat nya menutup mata indah nya itu dengan tangan nya.

"Apa yang kau lakukan di sini?." Tanya seorang wanita. Suara nya begitu familiar di telinga Sasuke.

Sasuke mengaiskan tangan dari matanya. Melihat siapa yang berbicara. Terlihat sosok Naruto yang duduk di ranjang yang mirip dengan ranjang rumah sakit. Naruto menggunakan kemeja putih kebesaran dengan kancing tidak di kaitkan sebatas dada. Selain itu paha mulus Naruto juga terekspose. Sasuke terperangah melihat pemandangan di depan nya.

"Jangan melihat ku seperti itu, Teme. Kau mau aku suntik mati, huh?." Ancam Naruto dengan wajah bersemu merah.

Sasuke tersadar. Ia melihat sekitar.

"Apa kau mencari pria ini?." Tanyanya seraya menendang sosok pria yang sudah tak bernyawa itu.

"Kau membunuh nya?." Sasuke menaikan sebelah alis nya.

"Ah tidak. Dia ingin menyuntik mati aku. Tapi aku menendang tangan nya dan membuat suntikan itu melayang. Sial nya suntikan itu terjatuh mengenai tubuhnya sendiri. Terkena satu tetes saja dapat mematikan. Ya begitulah hasil nya." Saut Naruto seraya turun dari tempat tidur dan berjalan menuju anak tangga.

Sasuke sempat merasa menyesal karna ingin menolong wanita ini jika tahu jika wanita ini akan baik – baik saja. Sasuke mengikuti Naruto kembali ke atas. Dan ternyata Fugaku, Mikoto, Minato , Kushina dan para keamanan keluarga Uchiha sudah ada di sana.

"Naruto.." pekik Kushina seraya memeluk tubuh putrinya. "Yokatta.. kau baik – baik saja putriku. Ada yang terluka?" tanya Kushina Khawatir.

"Sudah ku katakan. Putriku akan baik – baik saja." Timpal Minato memeluk Istri dan putrinya. "Arigato Sasuke. kau harus bergerak sendiri menyelamatkan putri kami. Kami juga tidak habis pikir dengan kelakuan Deidara." Tukas Minato.

"Hn." Jawab Sasuke singkat.

Naruto hanya tersenyum di pelukan kedua orang tuanya itu. Fugaku pun akhirnya bisa bernafas lega. Akan dia pastikan, jika Deidara akan mendapatkan hukuman yang setimpal.

.

.

.

Hari – Hari kembali kekediaman Naruto dan Sasuke. seperti biasa Naruto memasak sarapan namun kali ini membuat lebih dari porsi biasanya.

"Untuk siapa?." Tanya Sasuke masih sibuk dengan koran nya.

"Sasori. Dia sudah 2 minggu di rawat setelah kejadian itu. Aku harus meminta maaf pada nya. Gara – gara aku dia harus merasakan rumah sakit untuk pertama kali nya." Jawabnya seraya memasukan makanan itu kedalam kotak makanan. "Nah selesai." Bisik nya.

Naruto duduk di meja makan berhadapan dengan Sasuke. dan mulai mencomot hidangan dengan anggun. Sasuke meletakan koran nya dan memperhatikan Naruto yang sedang menikmati makanan nya.

"Kenapa tidak makan, huh?." Naruto merasa risih di perhatikan.

"Hn." Jawab Sasuke tidak jelas mulai memakan jatah makanan nya.

Suasana di kediama mereka berdua sudah seperti biasa. Namun kali ini sikap Naruto jauh lebih lembut dari biasa nya. Bahkan Naruto kadang – kadang mengeluarkan tingkah yang menggemaskan menurut Sasuke.

"Naruto." panggil Sasuke di sela – sela makan nya.

"Apa." Sautnya.

Sasuke memberikan sebuah amplop pada Naruto. "Apa ini?." Naruto memiringkan kepalanya.

"Buka." Peritah nya datar.

Naruto pun membuka amplop itu. Ia terkejut saat melihat isi di dalam nya. Ternyata undangan perniakahan antara Hinata dan Kiba. Naruto tidak menyangka jika komplotanya dan Sasuke akan berakhir seperti ini. Pernikahan enemy. Pikirnya. Naruto hanya bisa terkekeh saat melihat isi undangan tersebut.

"Acara nya besok?." Tanya Naruto memastika. Sasuke hanya mengangguk kecil.

"Hm.. baiklah kalau begitu. Besok kita pergi." Ujar Naruto seraya tersenyum.

Sasuke yang melihat senyuman Naruto itu wajah nya mendadak memerah. Ia baru pertamakali melihatnya senyuman seperti itu dari Naruto.

Jantung nya yang stabil mendadak berdetak cepat. Oh damn apa yang terjadi pada nya. Apa dia terkena penyakit jantung? Pikir Sasuke.

Bersambung…

Bagaimana chapter ini..?

Saya masih dalam tahap belajar. Jadi mohon kripik dan santan nya.

Ryuusuke583: iya happy end kok *^_^*

Iya Yu ganbatte

Soal misterinya liat aja entar di chap depan

RisaSano: liar pairnya ya xD si pantat ayam memang nyebelin. Tapi Yu lebih nyebelin deh rasa nya :'3

Hyull: Yu kalap. Bersambungnya memang bener bener ga elit

Winteraries: iya Sasu udah tau yang sebenar nya tentang karin tapi ga semua *^_^*

Kazekageashainuzukaasharoyani: wah pen name yang super sekali :'v Yu suka. Yu kasi 4 jempol + jempol kaki. Iya memang rumit Yu juga merasa begitu.

Yoroshiku mo kaze-san *^_^*

Nelsonthen52: liat di chap depan *^_^*

Di usahain fast

Shirube Hikari: iya Sasuke ooc bangt :'( gomen.. itu ketidak sengajaan

Khioneizys: di usahain fast *^_^*

Hanazawa Kay: semoga saja. Thanks udh mampir

Aiko Michishige: ini udah lanjut

.777: keliatan banget ya.. hihihi gomen xD

Ini udah lanjut

Dewi15: ini udah lanjut

85: nah soal ino nanti baca di chap depan. Sebenar nya pas Naruto di culik deidara ada memberitahukan yang sebenarnya tentang kematian ino.

HafizaKun: iya ini udah next