Title: "JEALOUSY"
Words: 5,6K
Genre: Fluff, school!AU, GS
Main Pair: KaiSoo/EXO Kai/EXO Kyungsoo
Side Pair: HunHan, ChanBaek
Character: Shinee Minho, others
"What?"
"Ayolah, Soo. Minho tidak setampan itu."
Kyungsoo mendelik ke arah sahabatnya, "YA! Jelas-jelas Minho adalah salah satu siswa tertampan di sekolah kita. Dan kau, Kim Jongin!" Jongin terkejut dengan telunjuk Kyungsoo yang tepat mengarah ke wajahnya, "Kau harus mengakui itu."
Lelaki itu hanya bisa menghela nafasnya seraya menggelengkan kepala. Do Kyungsoo, sahabatnya semenjak dia berusia tiga tahun – di saat mereka belum tahu apa-apa – sedang menjadi fangirl Choi Minho, seorang prefek di sekolahnya. Sebenarnya bukan hanya Kyungsoo yang bertingkah seperti itu, Baekhyun dan Luhan juga, tunggu, hampir semua gadis di sekolahnya. Bahkan tidak jarang ketiga gadis itu berkumpul hanya untuk membicarakan apa jadwal Minho selanjutnya.
"Kau saja yang berlebihan soal itu."
"NO! Tidak, Jong-ah. Hampir semua gadis di sekolah ini juga berkata hal yang sama. Berarti aku tidak berlebihan!"
Jongin memutar kedua bola matanya, "Soo, semua gadis di sekolah ini mengatakan bahwa seorang Kim Jongin lah yang tampan dan seksi. Kau!" Lelaki itu menunjuk Kyungsoo, "Harus mengakuinya juga." Ucapnya dengan seringaian yang muncul di wajahnya.
"Kau itu terlalu percaya diri, Jongin-ah." Ujar Kyungsoo yang merapikan seluruh bukunya dan bergegas keluar dari kelas.
Siapa yang tidak kenal dengan the Trouble Maker? Sebuah gang yang beranggotakan Kim Jongin, Park Chanyeol, dan Oh Sehun. Mereka adalah sekumpulan – yang katanya – siswa tampan. Tapi sayangnya, mereka adalah siswa-siswa yang paling sering terkena detensi. Sebenarnya diantara mereka bertiga, Jongin yang memegang kendali. Chanyeol dan Sehun masih punya otak untuk tidak bertindak bodoh. Sedangkan Jongin tidak punya otak untuk tidak bertindak bodoh.
Jongin dan Minho adalah idola sekolah yang berbeda 180 derajat. Jongin, lelaki yang malas, bandel, dan cuek. Dia juga menduduki peringkat pertama sebagai siswa yang mendapat hukuman terbanyak di sekolah. Tapi ajaibnya, dia juga salah satu siswa yang paling berprestasi. Seorang captain tim basket, ketua dancer, dan seorang yang memiliki peringkat tinggi di setiap semesternya. Padahal, Jongin selalu tertidur jika pelajaran sedang berlangsung.
Choi Minho, idola sekolah yang hampir mendekati sempurna. Captain tim sepak bola, prefek, memiliki peringkat bagus hingga bahkan menjadi perwakilan sekolah jika olimpiade diadakan. Dia juga salah satu personil band yang ada disana. Dengan badan tegap, wajah tampan, dan perilaku baik, wajar saja jika siswa perempuan, bahkan gurunya sekalipun, menyukai dirinya.
Hari itu Jongin harus berlari mengelilingi lapang sepak bola sebanyak sepuluh kali karena Minho memergokinya ketika sedang merokok di kamar mandi. Minho, sebagai seorang prefek harus menegakkan peraturan yang berlaku di sekolah. Maka dari itu, sekarang dia mengawasi Jongin saat berlari disana.
Di sekitar lapangan berkumpul banyak siswa perempuan untuk melihat pemandangan disana. Dua siswa yang paling banyak memiliki fans sedang berinteraksi. Interaksi yang sangat bertolak belakang tentunya. Di satu sisi sedang menghukum, sisi lainnya sedang terhukum.
"Jongin-ah." Gumam Kyungsoo yang juga duduk di pinggir lapangan.
"Kenapa? Kau mengalihkan hatimu untuk Jongin?" tanya Baekhyun yang terduduk di sampingnya.
"Bukan begitu. Aku hanya ingin dia berhenti melakukan hal-hal seperti ini. Dalam seminggu dia terkena detensi minimal tiga kali. Untung saja otaknya itu menolongnya. Jika tidak, dia pasti sudah dikeluarkan dari sekolah."
"Bukankah kau bisa memberitahunya?" tanya Luhan.
"Aku sudah lelah memberitahunya. Dia selalu membangkang dan selalu mengatakan 'Aku terlalu pintar untuk dikeluarkan, Soo.' Aku tahu dia itu seseorang yang sangat cerdas, bahkan bersaing dengan Minho. Tapi attitude-nya sangat memuakkan."
"Kau tahu, Chanyeol dan Sehun terkadang mengeluh dengan sikap keras kepala Jongin. Seperti kalian tahu, hanya Jonginlah yang berani merokok di sekolah. Dan hasilnya terlihat sekarang. Hanya Jongin yang berlarian disana." ucap Baekhyun.
Kyungsoo memperhatikan lelaki berkulit tanned itu berlari dengan keringat yang membasahi pakaiannya. Gadis itu tahu jika hukuman seperti itu adalah hal yang biasa, karena Jongin sendiri merupakan captain tim basket di sekolah. Tapi tetap saja Kyungsoo merasa kasihan dengan sahabatnya itu.
Berbeda dengan Kyungsoo, Baekhyun dan Luhan memperhatikan Minho yang sedang mengawasi Jongin. Dia, pria yang merupakan idaman para siswi di sekolahnya terlihat memasang wajah yang tegas. Dan bagi mereka, Minho terlihat seksi jika seperti itu.
Baekhyun dan Luhan sendiri adalah kekasih Chanyeol dan Sehun. Terkadang kedua lelaki itu mengeluhkan obsesi kekasih mereka terhadap Minho. Hanya saja, mulut berbisa Baekhyun dan Luhan hanya menyisakan rasa takut dari kekasih mereka.
Jongin, yang baru saja menyelesaikan hukumannya berlari menuju Kyungsoo yang sedang memegang iced lemon tea di tangan kirinya. Dengan nafas yang terengah-engah, dia merebut minuman dari tangan sahabatnya itu.
"Soo, aku minta minumnya." Ucapnya dengan berusaha mengatur nafas.
"Kalau kau habis berlari, seharusnya kau tidak meminum es, Jongin-ah."
Jongin mengembalikan minuman tersebut dalam keadaan hampir habis, "Jangan mengoceh, nona burung hantu. Terima kasih!" serunya seraya mengacak-acak rambut Kyungsoo dan berlari entah kemana.
Malam itu Kyungsoo sedang duduk di lantai atas rumahnya – mungkin bisa disebut atap – bersama Jongin. Dia sendiri sedang mengomel seraya mengobati luka yang ada di wajah lelaki itu. Sore harinya, Jongin berkelahi dengan Yongguk, seorang siswa dari sekolah lain, hanya karena masalah sepele. Ini juga bukan kali pertama Jongin datang ke rumah Kyungsoo dalam keadaan babak belur. Walaupun Kyungsoo akan memarahinya habis-habisan, Jongin tetap saja mengulanginya.
"Berhentilah seperti ini, Jongin-ah. Aku lelah melihatmu berkelahi seperti ini."
Jongin meringis kesakitan, "Tenang, Soo. Aku baik-baik saja."
"Baik-baik saja katamu? Dengarkan aku. Kau harus berubah, Jongin-ah. Lihat dirimu, penuh luka seperti ini. Kau harus mengurangi sifat bandelmu. Berhentilah menjadi trouble maker!"
"Meskipun aku seorang trouble maker, gadis-gadis di sekolah masih saja menyukaiku. Bahkan aku masih seseorang dengan prestasi bagus di sekolah. Lebih bagus darimu malah." Godanya.
"Kau ini! Meskipun kau ini pintar, tapi attitude-mu membuatku muak!"
Jongin tertawa, "Kau muak? Tapi kau masih saja mengobati aku ketika aku terluka seperti ini."
Gadis itu menatap Jongin kesal. Dia menghela nafasnya kemudian, "Bersikaplah seperti Minho, Jongin-ah. Dia patut menjadi contoh untukmu."
Wajah Jongin yang semula ceria berubah seketika. Raut muka yang awalnya penuh senyum sekarang menjadi murung.
"Berhentilah membandingkan aku dengan Minho. Dia bahkan tidak lebih bagus dariku."
"Aku tahu kau memiliki peringkat yang lebih bagus darinya, tapi tingkah lakumu jauh di bawahnya."
Lelaki itu menggenggam tangan Kyungsoo – yang sedang mengusap darah di pipinya – dan menghentikan aktivitas sahabatnya tersebut. Sorot matanya terlihat bosan ketika nama Minho disebutkan. Kemudian dia meraih tas selempang yang tergeletak di sampingnya.
Ketika Jongin berdiri, "Kau mau pergi? Aku belum selesai, Jongin-ah!" ucap Kyungsoo.
"Aku bisa meminta tolong pada Junmyeon hyung untuk mengobatiku di rumah. Aku pulang." Ujar Jongin yang kemudian masuk ke rumah Kyungsoo dan turun untuk pulang.
Kyungsoo menangkap gelagat aneh dari sahabat lelakinya. Dia melihat raut kecewa dari Jongin. Tidak pernah selama ini Jongin tiba-tiba pergi ketika mereka sedang berbincang ataupun belajar. Bahkan ketika Jongin merasa hari terlalu malam, dia biasa menginap dan tidur di kamar Seungsoo, kakak lelaki Kyungsoo yang sedang melanjutkan studinya di luar negeri.
Gadis itu tidak berani mengejar Jongin. Dia sadar jika Jongin tidak dalam keadaan yang baik. Kyungsoo sendiri takut pada Jongin bila sedang marah. Lelaki itu memiliki emosi yang susah untuk dikendalikan. Maka dari itu, jika Jongin sedang marah ataupun emosi, Kyungsoo lebih memilih untuk diam hingga situasinya menjadi lebih dingin.
"Hyung, aku pulang!" seru Jongin ketika masuk ke dalam rumah.
Junmyeon, kakak pertama Jongin sedang duduk dengan malas di depan televisi yang sedang menayangkan acara kesayangannya. Ketika mendengar suara adik bungsunya, dia segera menegakkan badan dan menyambutnya.
"Baru dari rumah Kyungsoo?"
"Hm!" Jawab Jongin sembari menenggak air mineral dari dapur.
Junmyeon menatap aneh wajah adiknya, "Kali ini siapa musuhmu?"
"Bang Yongguk. Siswa dari sekolah Jongdae hyung dulu." Jawab Jongin yang kemudian mendudukkan diri di samping kakaknya.
Junmyeon mengangguk mengerti. Dia sudah memaklumi kelakuan adik bungsunya tersebut. Junmyeon dan Jongdae adalah kakak lelaki dari Jongin. Mereka memiliki otak yang sama cairnya dengan Jongin. Hanya saja mereka adalah anak yang well-behaved jika dibandingkan dengan adiknya. Walaupun begitu, mereka tidak pernah marah jika Jongin terlibat perkelahian ataupun dihukum di sekolah. Mereka memaklumi itu.
Ketiga saudara itu adalah korban broken home. Orangtua mereka memutuskan untuk berpisah karena kesibukan yang mereka jalani. Karena kesibukan itu, kedua orang tua mereka sering bertengkar dan akhirnya bercerai. Jongin sendiri, yang masih berusia 12 tahun kala itu, paling tidak bisa menerima perpisahan orang tuanya. Oleh karena itu, sikapnya yang memberontak sekarang ini adalah perwujudan dari ketidak terimaannya pada kenyataan.
"Jongdae hyung?" tanya Jongin.
"Masih terperangkap dengan tugas kuliahnya di kamar. Jangan mengganggunya, kau bisa dibunuh walaupun hanya dengan membuka kamarnya sedikit."
"Hyung, apa kau menerima tawaran untuk menjadi direktur di kantor Abeoji?" tanya Jongin yang melahap makanan yang ada di tangan Junmyeon.
Lelaki itu mengangguk, "Mungkin minggu depan aku akan pindah kesana. Kenapa?"
"Ani. Oh, apa kabarnya sekretaris cantikmu itu?"
Alis Junmyeon mengerut, "Yixing maksudmu?"
"Tidak ada yang yang lain." Goda Jongin.
"Untuk apa kau menanyakan kabarnya?" tanya Junmyeon dengan nada yang ketus.
"Eih~ kau cemburu, eh? Uri Jun-ie sedang cemburu?"
Junmyeon terkejut ketika mendengar panggilan itu, "YA! Kau membaca pesan di ponselku?!"
Jongin sudah berdiri dan bersiap untuk pergi, "My Lovely Sunshine~"
"YA!" teriak Junmyeon yang bersiap mengejar Jongin yang sudah berlari dan naik ke kamarnya.
Pemandangan seperti itu sudah biasa terlihat di rumah saudara Kim. Mereka bertiga, yang tinggal bersama memang memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Junmyeon, sebagai kakak tertua sangat bertanggung jawab pada kedua adiknya. Bahkan sekarang, biaya kuliah Jongdae dan sekolah Jongin, dialah yang menanggung. Tapi mereka bertiga tetap mendapatkan jatah yang berlimpah dari kedua orang tuanya yang merupakan pebisnis besar.
"YA! Kim Jongin! Kau!"
"Oh, My Sunshine~" goda Jongin yang berlarian di dekat kamarnya sekarang.
Disaat mereka berlarian, tiba-tiba, "AKAN KUBUNUH KALIAN JIKA MEMBUAT GADUH SEPERTI ITU!" teriak Jongdae dari dalam kamar yang membuat Junmyeon dan Jongin terdiam di tempat.
"Sudah hari ketiga Jongin tidak menyapaku sama sekali." Keluh Kyungsoo yang kemudian merebahkan kepalanya diantara tangannya yang terlipat di meja.
"Kau tidak menanyakannya kenapa begitu? Kau bisa mengirimkan pesan, bukan?" tanya Luhan.
"Dia sama sekali tidak membalas pesanku. Bahkan teleponku pun tidak diangkat olehnya. Apa aku keterlaluan jika membandingkan dirinya dengan Minho? Aku hanya bermaksud membuatnya berhenti dengan sikapnya itu. Tapi nampaknya dia salah menangkap maksudku."
"Bicarakan baik-baik, Soo. Kau tidak akan pernah tahan jika terjebak di sebuah kesalah pahaman seperti ini." Ucap Baekhyun.
Gadis itu hanya bisa mengangguk. Sudah tiga hari Jongin tidak menyapanya bahkan ketika mereka berpapasan. Disaat mereka makan siang bersama di kantin – dengan kedua pasangan itu tentu saja – Jongin lebih cenderung diam atau bahkan memainkan ponselnya sendiri. Dia tahu jika lelaki itu marah dengan kata-katanya tempo hari, tapi Kyungsoo sendiri tidak tahu bagaimana membujuk Jongin saat ini.
Disaat mereka bertiga sedang berkumpul di salah satu tempat duduk di lorong sekolah, tiba-tiba terdengar suara Minho yang berbicara dengan Jinki dari belakang Baekhyun dan Luhan.
"Aku bersumpah jika Jongin membuat masalah lagi, aku tidak akan tinggal diam." Ucapnya.
"Anak itu benar-benar tidak punya rasa takut." Jawab Jinki.
Ketika kedua siswa itu melewati Kyungsoo dan teman-temannya, tiba-tiba Minho menghentikan langkahnya, "Oh, Do Kyungsoo?" ucapnya.
Jantung Kyungsoo berhenti seketika. Bagaimana tidak, pria yang selama ini menjadi idolanya sekarang berhenti dan tersenyum padanya. Apalagi dia menyebut nama Kyungsoo dengan lembut. Baekhyun dan Luhan pun juga memperhatikan Minho dengan mata yang berbinar-binar.
"N-ne?"
"AH! Jadi namamu benar-benar Do Kyungsoo?" Minho melambaikan tangan pada Jinki yang berlalu dan mendudukkan dirinya di samping Kyungsoo, "Apakah kau berteman dekat dengan Kim Jongin?"
"Jonginnie? Ah, iya. Aku berteman dekat dengannya. Kenapa?"
Minho tersenyum, "Bisakah kau mengatakan padanya untuk tidak melanggar aturan dan sebagainya? Dia… terlalu banyak bermasalah."
"Apa dia membuat masalah juga hari ini?"
Lelaki itu mengangguk, "Dia baru saja merokok lagi di atap sekolah bersama Chanyeol dan Sehun. Tapi hanya Jongin saja yang merokok. Bisakah kau mengingatkannya?"
"A-akan ku usahakan."
Minho mengangguk dan menepuk pundak Kyungsoo sebelum pergi. Tak disangka Minho mengenalnya. Kyungsoo sendiri bukanlah siswi populer seperti Jinri ataupun Hyeri, hanya saja siswa lelaki disana banyak mengejarnya karena dia memiliki pribadi yang menyenangkan dan tidak pernah membuat masalah alias siswi baik-baik. Sedangkan Baekhyun dan Luhan sendiri memang bisa disejajarkan dengan siswi populer tersebut karena sifat sassy yang mereka punya. Bisa dibilang, mereka berdua adalah Chanyeol dan Sehun versi wanita.
Sepeninggal Minho, Kyungsoo hanya bisa tersenyum seperti orang gila. Baekhyun dan Luhan sendiri memandang iri pada sahabatnya itu. Sesekali Kyungsoo menggoda kedua sahabatnya yang tidak disapa Minho sama sekali.
Sepulang sekolah Kyungsoo menunggu Jongin di depan kelas lelaki itu. Dia ingin meminta maaf atas apa yang dikatakannya tempo hari. Tapi entah mengapa apa yang diucapkan Minho sebelumnya membuat Kyungsoo ingin menceramahi sahabatnya itu sekali lagi.
"Jongin-ah." Sapa Kyungsoo pada Jongin yang tanpa sadar melewatinya.
"Ada apa?" tanya Jongin dingin.
"Kau marah padaku?" Jongin menggelengkan kepala, "Kenapa kau menghindariku begitu?"
Tanpa menjawab, Jongin meraih tangan Kyungsoo dan menyeretnya keluar sekolah. Kyungsoo yang tidak tahu harus berbuat apa hanya bisa pasrah dengan genggaman Jongin yang kuat tersebut.
"Es krim vanilla, dua." Ucap Jongin setelah sampai di sebuah truk es krim dekat sekolah mereka.
"Jongin-ah, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"
Jongin menyerahkan es krim pada Kyungsoo, "Makanlah. Aku akan menjawabnya jika kau sudah menghabiskan es krimmu."
Lagi-lagi Kyungsoo menuruti apa mau dari Jongin. Ini sifat yang tidak disukai oleh gadis itu. Jongin selalu berbuat agar semua orang menurutinya. Bisa dibilang sifatnya sangat keras kepala. Meskipun begitu, Kyungsoo tetap tidak bisa melawan apa mau sahabat lelakinya.
"Aku sudah menghabiskannya."
Jongin mengangguk, "Aku tidak menghindarimu."
"Apa? Jelas-jelas kau tidak menyapaku selama tiga hari. Bahkan kau tidak membalas pesanku sama sekali. Bagaimana bisa kau tidak menghindariku?"
"Itu hanya perasaanmu saja, Soo. Ayo kita pulang."
Mereka berdua hanya terdiam sepanjang jalan. Bahkan Jongin hanya asik dengan lagu yang ia dengarkan di telinganya tanpa memperhatikan Kyungsoo yang sedari tadi menatapnya.
"Jongin-ah."
Jongin menghentikan langkahnya, "Apa?"
"Tadi… Minho menemuiku. Dia memintaku agar kau berhenti membuat kekacauan di sekolah. Sudah berkali-kali dia mengetahui kau merokok di sekolah. Dan berkali-kali juga kau dihukum karena itu. Bisakah kau menghentikan semua ini?"
Lelaki itu hanya diam dan memperhatikan Kyungsoo dengan wajah datar. Dia sama sekali tidak bereaksi dengan ucapan sahabatnya tersebut. Hingga beberapa detik kemudian akhirnya dia mengemukakan suaranya.
"Bisakah kau berhenti menyebut Minho, Minho, Minho?"
Kyungsoo menggeleng karena tidak habis pikir dengan sikap sahabatnya, "Kenapa? Kau cemburu padanya? Minho bahkan mengeluhkan sifat trouble maker-mu itu. Berhentilah menjadi orang arogan, Jongin-ah."
"Kau ingin mengingatkanku, atau ingin membuatku terlihat buruk, huh? Kau tidak tahu rasanya menjadi aku, Soo!"
Gadis itu terkejut ketika Jongin berteriak tepat di hadapannya. Wajah lelaki itu berubah merah padam dan alisnya mengerut. Belum sempat Kyungsoo memberikan tannggapannya, Jongin sudah melangkah pergi dan membiarkannya berdiri di tepi jalan sendirian. Dia, yang mengamati punggung sahabat lelakinya itu hanya bisa menahan tangis. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Kim Jongin yang selalu playful membentaknya dengan keras.
Kyungsoo sedang duduk di kantin bersama Luhan dan Baekhyun pada saat jam makan siang. Sudah beberapa hari ini – setelah kejadian pulang sekolah – Jongin dan Kyungsoo tidak pernah bersama. Sebenarnya Kyungsoo sendiri ingin berbicara dengan Jongin, tapi Jongin terlalu pintar untuk menghindari dan mendiamkan gadis itu.
"Soo, aku dengar Taehyun menyukaimu. Apa aku benar?" tanya Luhan yang memulai sesi gosipnya.
"Nam Taehyun? Mungkin. Sudah lebih dari dua minggu dia mengirimkan pesan untukku. Tapi sayangnya dia tidak pernah bertindak jika di sekolah."
"Benarkah? Actually he's such a nice catch, you know." Ucap Baekhyun.
"Ambil saja dia kalau kau mau." Jawab Kyungsoo enteng.
Ketika mereka sedang membicarakan beberapa hal, tiba-tiba ada seseorang yang duduk di samping Kyungsoo, "Aku duduk disini, Do Kyungsoo."
Choi Minho. Dengan santainya membawa tray makanannya dan duduk di samping Kyungsoo. Tak lupa dia menyapa Baekhyun dan Luhan yang menatapnya dengan mulut setengah terbuka.
"Ah, iya. Minho-ya." Ucap Kyungsoo kikuk.
Baekhyun dan Luhan mulai mengerti apa yang Minho lakukan. Mendekati Kyungsoo tentu saja. Terlihat bagaimana Minho selalu mencoba membangun percakapan dengan gadis bermata bulat itu. Tapi sayangnya, Kyungsoo selalu kikuk dan malu-malu untuk menanggapinya.
"Kyungsoo-ya, apa kau sudah menyampaikannya pada Jongin?"
"A-ah, itu? Sudah, aku sudah menyampaikannya. Tapi dia masih saja berulah. Bahkan aku pikir dia sekarang sedang marah padaku. Dan aku rasa aku sudah muak dengannya."
Minho tertawa kecil, "Benarkah? Anak itu benar-benar. Aku heran kenapa gadis sebaik kau bisa bersahabat dengannya. Dengan berandalan itu."
Kyungsoo terkejut dengan apa yang dikatakan Minho. Memang Jongin bukanlah anak yang penurut dan cenderung pembangkang, tapi baginya Jongin bukanlah seorang berandalan. Sempat dia ingin membantah ucapan Minho, tapi perhatiannya teralih pada dua orang yang berjalan melintasi kantin sekolahnya.
"Jongin? Junmyeon Oppa?" gumam Kyungsoo.
Ketiga orang yang lain mengalihkan pandangannya ke arah tatapan Kyungsoo. Terlihat disana Jongin sedang berjalan dengan Junmyeon. Gadis itu tahu jika Junmyeon dipanggil ke sekolah, mungkin untuk yang kesekian kalinya. Lagi-lagi, karena ulah Jongin tersebut.
Ketika Jongin dan Junmyeon melewati meja keempat orang itu, tiba-tiba, "Oh? Kyungsoo-ya!" seru Junmyeon ketika melihat Kyungsoo.
"Junmyeon Oppa." Ucap gadis itu seraya menegakkan dirinya dan membungkuk pada Junmyeon yang sekarang berdiri di samping kiri Minho.
"Sudah lama aku tidak melihatmu. Kenapa kau tidak pernah ke rumah?"
Kyungsoo mendekat ke arah Jongin dan Junmyeon, "Ah, aku belum sempat kesana, Oppa. Pasti aku akan kesana. Untuk apa oppa datang kemari?"
"Kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?" Junmyeon melirik Jongin yang sedang menatap ke arah siswa lain, "Aku kemari untuk adik bungsuku yang selembut bulu ayam ini, Soo-ya."
"Bulu ayam?" Kyungsoo terkikik.
Jongin menatap Kyungsoo tajam. Kyungsoo yang semula terkikik geli langsung mengubah ekspresinya menjadi takut. Dan melihat gadis tersebut meringkukkan kepalanya, Jongin hanya mendecakkan lidahnya dan beranjak pergi meninggalkan kakak lelakinya disana.
"YA! Anak itu benar-benar." Gumam Junmyeon, "Soo-ya, aku harus kembali ke kantor sepertinya. Jangan lupa mampir ke rumah!" ucapnya seraya mengacak-acak rambut gadis itu.
Kyungsoo menganggukkan kepalanya dan tersenyum lemah. Di dalam otaknya terekam bagaimana ekspresi kesal dari Jongin. Dia sadar jika Jongin sudah bersikap seperti ini maka dia sudah melakukan sebuah kesalahan.
"Kyungsoo-ya." Ucap Minho yang masih terduduk disana.
"N-ne?"
"Apa kau baik-baik saja?"
Gadis itu tersenyum lemah, "Aku baik-baik saja."
"Sudah kubilang mereka akan menang! Wohoo!" seru Jongdae yang sudah berkostum Arsenal malam itu.
Junmyeon yang berkostum Manchester United membela, "Itu hanya keberuntungan-"
"Tidak, Hyung! Apa kau tidak melihat bagaiamana Alexis dan Öezil menyerang? Woah, all hail The Gunners!"
Junmyeon dan Jongin yang berkostum sama hanya bisa melirik saudaranya itu dengan sebal. Sebab mereka sedang bertaruh, siapapun yang menang akan bebas dari tugas membuat makan siang dan makan malam. Dan beruntunglah Kim Jongdae.
"Hyung, berhentilah berteriak-"
Jongdae mengudarakan kedua kepalan tangannya, "Akhirnya aku bisa menyuruh seorang Kim Jongin! Thanks for your kindness, God!"
Memang benar selama ini Jongin selalu sulit untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Apalagi untuk memasak, tugas tersebut selalu berakhir dengan dapur yang meledak. Tapi untuk kali ini Junmyeon dan Jongin akan mengerjakan bersama, tentu kakak pertama itu akan mengawasi tangan ceroboh adik bungsunya.
"Kenapa kau begitu senang, Hyung?" tanya Jongin seraya memasukkan sejumput corn chips ke dalam mulutnya.
"Entah." Jongdae terkekeh, "Aku paling suka jika melihatmu tersiksa, Jong-ah."
"YA! Hyung!"
Jongdae, dengan sifat jahilnya berpura-pura takut dan bersembunyi di balik punggung Junmyeon, "Hyung… Mana ada seorang dongsaeng berkata begitu?" tanyanya dengan puppy eyes yang dibuat-buat.
"Aku tidak ingin membela siapapun~" ucap Junmyeon.
Jongin hanya bisa memicingkan matanya dan melirik Jongdae yang terlihat senang dengan kekesalannya. Mereka berdua memang tidak pernah akur. Dalam artian, mereka selalu menggoda satu sama lain. Jika Jongdae yang selalu jahil, maka Jongin selalu emosi dengan kejahilan kakak keduanya.
Disaat mereka sedang berbincang, tiba-tiba layar ponsel Jongin menyala. Do Kyungsoo is calling. Jongin yang melihat layar ponselnya menyala hanya membalik ponsel itu dan kembali mendaratkan perhatiannya ke layar televisi yang menyiarkan pertandingan sepak bola tim lain.
"Jongin-ah, kenapa kau tidak mengangkatnya?" tanya Jongdae yang penasaran.
"Huh? Aku sedang ingin menikmati pertandingan ini, Hyung."
"EH? Tidak biasanya kau begitu jika sudah menyangkut Kyungsoo. Bukannya biasanya kau mendahulukan dia dibandingkan kakak-kakakmu?" goda Jongdae.
"Dia?" Jongin tertawa kecut, "Mungkin sekarang aku tidak akan seperti itu lagi, Hyung."
Junmyeon yang awalnya hanya mendengarkan kemudian angkat suara, "Kau sedang bertengkar dengannya, 'kan? Aku melihatnya ketika kita bertemu dengannya di kantin. Wajahmu sangat tidak ramah ketika melihatnya. Ada apa? Apa karena Minho? Aku lihat dia duduk di samping Kyungsoo hari itu."
"Kau… cemburu?" goda Jongdae sekali lagi.
Junmyeon yang melihat wajah emosi dari adik bungsunya langsung memukul kepala Jongdae. Dia berharap agar Jongdae berhenti menggoda maknae-nya itu.
"Mungkin." Jawab Jongin dingin.
"Apa yang terjadi, Jong-ah?" tanya Junmyeon lembut.
Mata Jongin menatap kosong ke layar televisi, "Aku bersahabat dengannya sudah sangat lama. Bahkan ketika kami masih sama-sama susah berbicara. Dia tahu apapun tentangku. Bukan, aku pikir dia begitu. Tapi kenyataannya dia selalu membanding-bandingkan aku dengan Minho. Aku tahu Minho memang ideal untuk semua gadis di sekolah, tapi aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Aku seperti ini juga bukan karena tanpa sebab, ini semua karena perceraian orang tua kita. Aku pikir dia bisa sadar dan mengerti, tapi dia tetap menyuruhku untuk berubah seperti Minho."
Junmyeon dan Jongdae mengangguk mengerti. Mereka tahu apa yang dirasakan adiknya karena mereka sama-sama mengalami hal itu. Apalagi disaat perceraian orang tuanya terjadi, Jongin sedang butuh perhatian penuh. Mereka tidak pernah menyalahkan sikap Jongin, selama Jongin tidak berbuat hal yang sangat merugikan, itu tidak akan menjadi masalah.
"Hyung," Jongin menghadapkan dirinya pada Jongdae dan Junmyeon, "Apa aku harus berubah seperti Minho? Menjadi seorang yang well-behaved dan tidak banyak ulah?"
"Berubah menjadi itu ada baiknya, Jong-ah. Kau sudah dewasa, sudah saatnya menerima keadaan yang sedang kita alami. Tapi, selama perubahan itu tidak nyaman bagimu, jangan kau lakukan." Junmyeon tersenyum, "Seperti apapun dirimu, kau tetaplah adik kecil kami."
Jongin yang semula muram berubah menghangat setelah mendengar kata-kata kakak sulungnya, "Mungkin aku akan menguranginya sedikit demi sedikit, Hyung."
"Jangan merokok di sekolah. Aku sudah dipanggil dua kali untuk itu." Keluh Jongdae.
"Aku tiga kali."
Jongin tertawa, "Aku sudah berkali-kali dipanggil karena merokok."
Junmyeon tergelak ketika mendengar kata-kata Jongin seraya membenamkan leher Jongin di bawah lengannya. Sedangkan Jongdae sendiri masih dalam pikirannya dengan alis yang berkerut.
"Tunggu, kau menyukai Kyungsoo?" tanyanya.
Jongin yang semula tertawa bersama Junmyeon langsung berhenti, "Kenapa kau bertanya begitu?" jawabnya kikuk.
"Entah, aku merasa kau begitu. Kau selalu menuruti apa yang ia mau. Sedangkan kau selalu membangkang pada kami." Ucap Jongdae.
"O-oh." Jongin menggaruk tengkuknya, "Apa itu begitu terlihat?"
Lelaki bertubuh kurus itu kembali mengacungkan kepalannya ke udara, "Assa! Aku sudah menduganya dari awal. Jongin-ah, tidak sulit untuk menaklukan gadis penurut seperti Kyungsoo, kau tahu."
"Seperti… Minseok Noona?" goda Jongin.
"Kau butuh beberapa saran dariku?"
Junmyeon menggelengkan kepala ketika mendengar percakapan kedua adiknya. Kemudian dia menahan leher kedua adiknya di bawah lengannya.
"Kalian boleh berkencan, asalkan selesaikan pendidikan kalian! Awas saja jika nilai kalian jatuh karena itu!" ancamnya.
"Cerewet."
"Padahal dia yang suka berkencan dengan sekretarisnya."
"Pasti mereka sudah melakukan hal yang tidak-tidak di kantor."
"YA! Kalian berdua!" Junmyeon mengeratkan lengannya yang menyebabkan kedua adiknya berteriak karena tercekik.
Kyungsoo merasakan perubahan dari Jongin. Sudah lebih dari seminggu dia tidak melihat Jongin membersihkan toilet maupun berlari di lapangan sepak bola. Selain itu Jongin berpenampilan lebih rapi. Tidak ada luka juga di wajahnya. Ketika mereka makan siang bersama, dengan Chanyeol, Sehun, Luhan, dan Baekhyun tentu saja, Jongin terlihat lebih kalem daripada biasanya. Tidak ada sifat bermain-main yang ditunjukkannya dulu. Walaupun begitu, tetap saja, Jongin tidak pernah mendaratkan sedikitpun pandangannya, bahkan berbicara dengannya.
Kali ini Kyungsoo melihat Jongin duduk bersama Jiyeon. Terlihat bagaimana dengan sabar Jongin menanggapi semua pertanyaan Jiyeon yang tidak mengerti dengan subyek yang mereka pelajari bersama.
'Kenapa aku tidak menyukai Jongin yang seperti ini?'
Gadis itu tahu Jongin bukanlah orang yang sabar jika mengajari sesuatu. Kyungsoo sendiri adalah orang yang paling sering membuatnya kesal jika tidak cepat mengerti.
"Soo?" tanya Minho yang sedari tadi sebenarnya berbicara dengan Kyungsoo.
"Ah, iya?"
"Apa kau mendengarkan aku?"
Kyungsoo mengalihkan perhatiannya pada Minho, "I-iya. Aku mendengarkannya, Minho-ya."
"Kau tahu," Minho mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo, "Kau begitu lucu ketika sedang gugup seperti ini."
Kyungsoo hanya bisa tersenyum ketika mendengar ucapan Minho. Wajahnya terasa menghangat ketika sadar bahwa Minho hanya berjarak beberapa sentimeter saja di depannya.
"By the way, Soo. Jongin sudah tidak berulah akhir-akhir ini. Apa dia sudah mendengarkanmu?"
"A-aku rasa begitu. Memangnya ada apa?"
Minho tertawa kecil, "Aku lega ketika tahu dia seperti ini. Selama ini aku selalu merasa bahwa dia adalah seorang attention seeker. Selalu berbuat ulah ini itu. Mungkin hal itu juga yang membuat banyak gadis menyukainya. Typical bad boy. Benar-benar seseorang yang urakan dan berandalan.
Jika dia menjadi siswa baik-baik seperti ini banyak gadis yang akan berhenti menyukainya karena dia berubah. Dan aku menyukai itu. Aku tidak suka jika semua gadis di sekolah mendaratkan perhatian padanya. Apalagi dirimu, Soo. Aku hanya ingin kau memperhatikan aku saja. Dia sudah berubah menjadi lebih baik, Soo. Dia tidak butuh perhatianmu lagi."
Kyungsoo terdiam. Dia cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Minho. Dia sadar jika selama ini Minho menginginkan agar Jongin berubah hanya untuk mengalihkan perhatian semua orang yang menyukai Jongin. Bahkan perhatian Kyungsoo sekalipun.
"Cih, attention seeker." Ucap Minho.
"Apa yang kau maksud, Minho-ya?" ucap Kyungsoo yang ingin penjelasan lebih.
"Jongin, sahabatmu itu, Soo. Apa bagusnya dia? Pemalas, seorang trouble maker, pembangkang." Minho tertawa sinis, "Aku heran kenapa semua gadis menyukainya. Dan jika dia berubah seperti ini, bahkan menghilang seperti sekarang, mereka akan lebih memperhatikan aku. Lagipula, stereotype seorang siswa baik-baik adalah aku. Bukan dia."
Gadis itu tidak menyangka jika Minho sebenarnya iri dengan Jongin, seorang lelaki yang suka membuat masalah dan keonaran. Choi Minho yang selama ini dia kira adalah lelaki yang baik dari segala macam sisi ternyata ingin agar Kim Jongin, siswa lain yang juga punya banyak fans selain dirinya.
'Picik.'
"Kau tahu, aku selalu senang jika guru-guru di sekolah memilihku untuk mewakili sekolah untuk kompetisi sains. Walaupun sebenarnya dia memiliki peringkat yang lebih baik dariku. Tapi, bukankah semua guru lebih menyukai murid yang baik-baik sepertiku? Soo, baguslah jika kau tidak dekat dengannya lagi. Selama ini kau bukan siapa-siapa untuknya. Buktinya, ketika dia berubah, dia lebih suka dekat dengan Jiyeon, bukan?"
Kyungsoo hanya bisa mengamati Jongin dari jauh. Dia ingin menanyakan apakah Jongin benar-benar seperti itu atau tidak. Dalam hatinya dia yakin Jongin bukanlah orang yang seperti itu.
'Akan kubuktikan bahwa kau salah, Minho-ya.'
"Aku rasa Jongin bukan orang seperti itu."
Minho tersenyum, "Lalu, kenapa disaat dia menjadi brutal dia lebih suka dekat denganmu? Dan kenapa sekarang dia berubah dan menjauh darimu? Bukankah seharusnya dia ingin berubah untukmu? Tapi buktinya dia mendekati Jiyeon, 'kan?"
Gadis itu memicingkan matanya seakan tidak percaya. Minho berusaha habis-habisan agar perhatiannya jatuh padanya. Bukan pada Jongin.
"Kau salah, Minho-ya." Ucap Kyungsoo yang kemudian berlalu pergi.
Kim Jongin. Lelaki itu sedang bermain basket di lapangan dekat rumahnya. Sudah menjadi aktivitas rutinnya jika sedang hari Minggu seperti ini. Dia lebih suka melakukan itu agar mengusir rasa bosannya jika di rumah. Lagipula hari itu kedua kakak lelakinya pergi bersama kekasihnya masing-masing. Maka dari itu, dia memilih untuk pergi ke lapangan terdekat bersama kedua sahabatnya, Chanyeol dan Sehun.
"Aku lelah." Keluh Chanyeol seraya merebahkan dirinya di tanah.
Sehun mendudukkan dirinya di samping Chanyeol, "Aku juga."
"Cih, pecundang." Goda Jongin.
Chanyeol dan Sehun memandang sahabatnya itu dengan tatapan sebal. Terlihat bagaimana Jongin menyeringai puas dengan ucapannya barusan.
"Kau yang pecundang, Jongin-ah." Ucap Sehun.
"Aku?" Jongin mendudukkan dirinya di depan Sehun, "Bagaimana bisa?" ucapnya seraya tertawa tidak percaya.
"Buktinya kau tidak pernah mencoba menyelesaikan masalahmu dengan Kyungsoo. Kau berubah menjadi pendiam di sekolah sesuai keinginan Kyungsoo, tapi kau malah menjauhinya. Bahkan kau sekarang dekat dengan Jiyeon." Sehun menjawab.
"Dia juga dekat dengan Minho. Lagipula Jiyeon bersamaku karena Jimin hyung – kakak lelaki Jiyeon – memintaku untuk menjadi tutornya."
"Tapi apa kau pikir Kyungsoo akan tahu bahwa kau adalah tutor Jiyeon?" Chanyeol mendudukkan dirinya, "Kyungsoo pasti berpikir bahwa kau berubah untuk Jiyeon, bukan karena dia. Lagipula aku yakin kau tidak akan bertahan lama berubah seperti ini."
"Apa pedulinya dia denganku? Bukankah yang dia inginkan hanya Minho? Setiap dia bersamaku hanya Minho saja yang dia bicarakan. Minho, si brengsek itu. Orang yang selalu mencari-cari kesalahanku."
Sehun menimpali, "Dia peduli denganmu-"
"Tidak, Sehun-ah. Dia tidak pernah peduli denganku."
"Bagaimana jika dia menangis semalaman hingga Baekhyun dan Luhan kebingungan dibuatnya?" tanya Chanyeol.
Jongin menatap Chanyeol dengan alis yang berkerut, "Maksudmu?"
"Dia menangis karena kau berubah drastis. Dia bilang dia menyesal karena itu. Selain itu, kau cukup lama menjauhinya. Jongin-ah. Aish! Kenapa kalian sama-sama bodoh, huh? Sekian lama bersama tapi tidak tahu perasaan masing-masing."
"Aku tidak mengerti-"
"Dia juga menyukaimu, Jongin-ah."
Kyungsoo berjalan sendirian di lorong sekolah. Baekhyun dan Luhan sudah diculik oleh kekasihnya masing-masing tanpa alasan yang jelas. Dengan tangan dan tatapan yang terpaku dengan ponselnya, dia berjalan dan mendudukkan dirinya di bangku penonton lapangan sepak bola sekolahnya. Dia bosan karena semua sedang sibuk. Minho? Semenjak dia tahu apa yang Minho mau, dia memutuskan untuk tidak menyukai Minho lagi.
"Tiga kali lagi!" teriak seseorang di lapangan sepak bola.
Yoon Doojoon, guru kedisiplinannya di sekolah sedang meneriakki seseorang yang sedang berlari mengelilingi lapangan.
"Jongin?"
Kyungsoo memicingkan kedua matanya. Dia tidak percaya jika sahabat lelakinya, yang sudah lebih dari dua minggu menjadi pendiam, sekarang berlari mengelilingi lapangan sepak bola. Tanpa sadar Kyungsoo tersenyum ketika melihat Jongin yang dengan santainya berlari kecil walaupun gurunya sudah memaksanya untuk berlari cepat.
"Dasar, pembangkang." Gumam Kyungsoo yang tertawa kecil.
Lelaki itu sekarang mengistirahatkan dirinya di bangku paling bawah. Sesekali dia memijat kakinya yang sudah berlari lima belas kali memutari lapangan disaat matahari sedang terik. Jongin kemudian memutar punggungnya untuk meregangkan otot-otonya. Tanpa sadar dia melihat Kyungsoo yang sedari tadi menatapnya. Dia memunggungi Kyungsoo sekarang. Entah mengapa wajahnya menghangat ketika tahu Kyungsoo sedang menatapnya.
'Bodoh kau, Soo. Bahkan dia melihatmu ketika kau menatapnya. Bodoh! Memalukan!' batin Kyungsoo.
Gadis itu berdiri dan bermaksud untuk melarikan diri dari sahabat lelakinya. Dia merasa malu ketika secara tidak sengaja Jongin melihatnya saat dia sedang asik mengamati lelaki itu.
Belum sempat dia melangkah, tiba-tiba, "Kau mau pergi kemana, Soo?"
Kyungsoo memutar badannya. Jongin, dengan baju seragamnya yang basah sedang berdiri di hadapannya.
"A-aku, aku akan-"
"Duduk. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."
Mereka berdua mendudukkan dirinya. Jongin merebahkan dirinya di sandaran bangku penonton tersebut. Kyungsoo yang duduk di sampingnya tiba-tiba mengerutkan alisnya.
"Luka itu-kau berkelahi lagi?" tanyanya yang dibalas dengan tawa kecil dari Jongin.
"Dengan siapa kali ini?"
Jongin terkekeh, "Yoongi, Min Yoongi."
"Astaga. Kau ini! Lalu, kenapa kau dihukum?"
"Aku?" Jongin masih mengatur nafasnya, "Aku ketahuan membolos dan makan es krim di tempat biasanya." Dia tertawa.
"Siapa yang memergokimu?"
Jongin menghela nafasnya, "Lee Jinki. Prefek yang lain lagi."
Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Jongin yang sudah membuat perkara itu berkata seakan dia tidak berdosa sama sekali. Kali ini Kyungsoo sendiri tidak tega melihat jahitan di sudut bibir Jongin. Sepertinya kali ini dia berkelahi dengan agak intens.
"Kenapa kau berkelahi?" tanyanya.
"Yoongi? Yoongi memaksa Jiyeon untuk keluar bersamanya."
"Oh…"
Kyungsoo tidak menjawab lagi. Entah mengapa dia merasa kecewa ketika mendengar jawaban Jongin. Keyakinannya tentang adanya hubungan antara Jongin dan Jiyeon semakin kuat.
"Soo, aku baru saja mencoba es krim dengan rasa blueberry. Kau pasti menyukainya. Bagaimana jika pulang sekolah nanti kita membelinya bersama?"
Gadis itu memiringkan kepalanya dengan alisnya yang berkerut, "Jiyeon?"
"Hari ini dia tidak ada jadwal tutor denganku. Kau mau?"
"Tunggu, kau dan Jiyeon-"
Jongin tertawa terbahak-bahak, "Berkencan dengan Jiyeon? Tidak, Soo. Jimin hyung, kakak Jiyeon adalah teman dari Jongdae hyung. Beberapa minggu yang lalu dia ke rumahku untuk memintaku menjadi tutor untuk adiknya. Karena aku pikir bayarannya lumayan, makanya aku menyanggupinya."
Kyungsoo hanya bisa menundukkan kepalanya karena malu. Dia sudah menduga-duga hal yang tidak pasti. Jadi, selama ini, semua itu hanya spekulasinya saja.
"Kenapa kau menanyakan itu? Kupikir kau tidak akan peduli. Apa jangan-jangan kau sudah kehilangan rasa kagummu pada Choi Minho?"
"Jongin-ah," Kyungsoo mendongakkan kepalanya, "Maafkan aku. Minho… Minho hanya, ah! Yang penting dia tidak sebaik yang kukira."
Jongin terkekeh. Dia memegang pucuk kepala Kyungsoo dengan telapak tangannya, "Dengarkan aku, Nona dengan tatapan setan," Kyungsoo mendelik, "Selama ini kau salah paham. Minho selalu mencari-cari kesalahanku agar aku terlihat jatuh jika dihadapanmu. Dia menyukaimu sejak lama, kau tahu. Dan juga, aku seperti ini karena… kau tahu sendiri bagaimana keluargaku." Jongin tersenyum kecut, "Tapi aku akan berubah menjadi lebih baik, Soo. Percayalah."
"Tapi aku menyukai dirimu yang seperti ini…" gumam Kyungsoo lirih.
"Kau menyukaiku?" goda Jongin.
Kyungsoo mendelikkan matanya, "Bukan begitu maksudku! Astaga! Aduh!" ucap Kyungsoo kebingungan.
"Soo?" Kyungsoo menatap Jongin, "Aku juga menyukaimu." Ucap Jongin seraya menjulurkan lidahnya.
Gadis itu melengkungkan senyumnya. Lelaki trouble maker yang ada dihadapannya itu pun tertawa. Tanpa Kyungsoo sadari dia benar-benar merindukan Jongin yang playful kepadanya. Sudah lama dia tidak pernah menjumpai Jongin yang selalu menggodanya begini.
"Penguin-Soo~" ucap Jongin seraya menarik kedua pipi Kyungsoo.
"YA! ACK! Sakit!"
"EH?" Jongin menghentikan aksinya, "Pipimu semakin chubby. Apa berat badanmu semakin bertambah? Pantas saja…"
"Kau mengatakan aku gemuk? YA!" teriak Kyungsoo pada Jongin yang sudah melarikan diri.
"Dia… kenapa?" tanya Baekhyun yang melihat Minho sedang menatap Kyungsoo penuh amarah.
"Dia baru saja menghukumku." Jawab Kyungsoo terkikik.
"Kau? Kau baru saja dihukum?" Luhan giliran bertanya.
Kyungsoo mengangguk, "Benar sekali, nona Oh."
"Atas dasar apa?" Baekhyun tidak mengerti.
Kyungsoo tidak menjawab dan tertawa terbahak-bahak. Sikap Kyungsoo yang seperti itu membuat Baekhyun dan Luhan menatapnya tidak mengerti. Bukannya berniat untuk menjawab, gadis itu malah kembali menyibukkan dirinya dengan makanan yang ada di hadapannya.
"Baekki-ah~" sapa seseorang dari belakang Baekhyun.
Chanyeol, Luhan, dan Jongin. Mereka mendudukkan diri di samping gadis-gadis itu. Sudah menjadi pemandangan biasa jika mereka berenam makan siang bersama.
"Kali ini aku pasti akan mati di tangan Jongdae hyung." Gumam Jongin.
"Dia tahu?"
"Jadi… Jiyeon tahu masalah ini, dan secara tidak sengaja memberitahukannya pada Jimin hyung. Dan kau tahu sendiri bukan bagaimana cara Jongdae hyung tahu?"
Kyungsoo tertawa terbahak-bahak, "Sepertinya ini akan lebih parah daripada merokok. Jangan diulangi lagi, eoh? Bisa-bisa orang tuaku dipanggil karena masalah ini." ucapnya.
"Tunggu, kalian berdua-"
"Kami baru saja dihukum bersama, Baek." Jawab Jongin terkekeh.
"Karena?" Luhan bertanya.
Bukan Jongin ataupun Kyungsoo yang menjawab. Sehun, orang yang duduk di samping Luhan menghela nafasnya, "Karena dengan bodohnya berciuman di atap sekolah."
"WHAT? KALIAN? Kalian berkencan?!" seru Baekhyun.
"Aku tidak akan berciuman dengannya jika aku tidak berkencan dengannya, Baek."
Luhan dan Baekhyun yang belum mengetahui hubungan mereka berdua hanya bisa membulatkan mata dengan mulut yang setengah terbuka.
"KAU!" Luhan menunjuk Jongin, "Dia maknae kami! Dan kau sudah membuatnya dihukum! Jika kau mengulanginya lagi, akan aku bunuh kau!"
"Dan kau!" giliran Baekhyun menunjuk Kyungsoo, "CONGRATS, uri maknae! Jangan menangis lagi, eoh?" ucapnya lembut.
"Arra, unnie…" jawab Kyungsoo dengan dibuat-buat.
Mereka menikmati makan siang dengan tertawa. Sesekali mereka menggoda pasangan baru yang baru saja berkencan dan membuat Kyungsoo hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik punggung Jongin.
Disaat mereka bercanda, tiba-tiba ponsel Jongin berbunyi, "Halo?"
"Kau berciuman dengan Kyungsoo di sekolah? Kim Jongin! YA!"
Jongin terkekeh, "Junmyeon hyung…"
"Bawa Kyungsoo ke rumah sepulang sekolah! Aku harus berbicara dengannya! Aku tidak mau dia kau racuni hal yang macam-macam!"
"I'm the trouble maker, I guess…" gumam Jongin setelah sambungan teleponnya berakhir.
.
.
END.
