'Wish You Love Me'
Naruto © Masashi Kishimoto
Nara Shikamaru X Sabaku no Temari
Rate: T
Setting/ Genre: AU/ Romance
Warning: typo, cerita mainstream, missing word, OOC, dll.
Summary: 'Nona, aku tahu jika perjodohan kita ini bukanlah sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Namun, bukan berarti kita berdua tidak bisa merasakan kebahagiaan seperti pasangan yang lainnya. Daripada terus menerus memikirkannya dan merasa tertekan, bukankah lebih baik kita berusaha untuk menikmatinya, Ne?' [Shikamaru-Temari Fanfic-'for ShikaTemaDay Event: Voice for You']
Author by: Hikaru Sora 14
Don't Like Don't Read!
Please Enjoy Reading!
No Flame!
ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo
Shikamaru mendengus geli di dalam hatinya tatkala melihat raut ketakutan yang terukir pada wajah tunangannya yang kembali memejamkan kedua matanya, setelah ia sedikit mengeliminasi jarak yang tersisa diantara mereka.
Shikamaru juga dapat merasakan dengan begitu jelas degup jantung gadis blonde itu-yang tampak berdetak cepat di dadanya-karena posisi mereka yang terbilang intim saat ini. Tak hanya itu, tubuh mungil Temari pun tampak bergetar gugup dalam setengah dekapan tangan Shikamaru.
Perlahan-lahan, Shikamaru mengulurkan tangan kanannya yang terbebas ke arah wajah cantik Temari. Telapak tangannya yang hangat dan besar, sukses mendarat dengan mulus menangkup pipi kanan Temari, membuat sang empunya tersentak karenanya.
'Kami-sama, jangan katakan jika bocah ini ingin mencuri ciuman pertamaku?! Tidak! Aku tidak mau! Meskipun sebagai tunanganku dia memiliki hak untuk menciumku, tapi aku belum siap dan tidak akan pernah siap sama sekali untuk melakukannya, sebelum aku benar-benar memiliki perasaan khusus terhadapnya! Kami-sama, tolong selamatkan kesucian bibirku dari bocah nanas ini!' Ratap Temari lirih, penuh kekhawatiran di dalam hatinya.
Shikamaru kembali mengeliminasi jarak yang masih sedikit tersisa diantara dirinya dan Temari. Temari dapat merasakan bulu kuduknya meremang tatkala hembusan napas hangat Shikamaru-yang beraroma mint segar-menerpa wajahnya.
"Tidak! Tidak! Tidak!" Gumam Temari panik, secara tanpa sadar mengutarakan penolakan tatkala bayangan Shikamaru yang mencuri ciuman pertamanya berkeliaran dalam benaknya.
Shikamaru menyeringai kecil mendengar gumamam kepanikan tunangannya saat ini. Ya, sepertinya cukup menyenangkan menggoda dan mengerjai gadis bertemperamen tinggi ini, Ne?
Shikamaru pun menggeser sedikit posisi kepalanya ke arah kiri, tepat dimana telinga kanan Temari berada. "Nona," bisik Shikamaru lembut kepada Temari, yang sukses membuat gadis blonde itu semakin gencar menggumamkan kata penolakannya.
Tangan Shikamaru yang masih setia menangkup pipi kanan Temari, perlahan-lahan bergerak mendorong wajah Temari ke arah samping agar menjauh dari wajahnya.
"Menyingkirlah dari tanganku dan hentikan igauan tidak jelasmu itu!" Gerutu Shikamaru seraya menjatuhkan kepala Temari ke atas pasir pantai untuk membebaskan telapak tangan kirinya dari tindihan kepala Temari.
Tindakan dan gerutuan Shikamaru tersebut, spontan membuat Temari membuka kedua kelopak matanya dengan perasaan terkejut.
Shikamaru pun bergegas mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Temari dan mendudukkan dirinya dengan tenang di samping tubuh Temari, bersiap-siap untuk menghadapi amukan dahsyat dari sang gadis blonde tersebut.
Ya, Biar bagaimanapun Temari pasti tidak akan tinggal diam setelah apa yang dilakukan oleh Shikamaru terhadapnya tadi 'kan?
Temari tampak terdiam selama beberapa detik, berusaha untuk mencerna apa yang baru saja terjadi kepadanya, sebelum akhirnya ia menyadari jika tunangan pemalasnya itu baru saja mempermainkannya.
Dengan tergesa-gesa dan perasaan emosi yang meletup-letup di dalam dadanya, Temari pun mendudukkan dirinya di atas pasir pantai.
"Sialan! Apa yang baru saja kau lakukan terhadapku, bocah?!" Geram Temari kesal seraya mendelik tajam ke arah Shikamaru yang tengah memijit-mijit kecil telapak tangan kirinya, berpura-pura untuk meredakan rasa pegal-yang sebenarnya tidak ia rasakan-akibat tertindih kepala Temari.
Shikamaru membalas tatapan tajam Temari dengan tatapan malas yang menjadi ciri khasnya. "Mendokusei~... Tentu saja menyelamatkan telapak tanganku dari resiko patah tulang akibat tertimpa kepala batumu itu, Nona," jawab Shikamaru asal, mengutarakan alasan konyol yang menyiratkan sindiran kepada tunangannya, seraya menunjukkan telapak tangan kirinya ke arah Temari.
"Apa? Patah tulang karena kepala batuku?! Kau bilang kepalaku adalah kepala batu?! Sialan kau! Bukankah kau sendiri yang sengaja meletakkan tanganmu dibelakang kepalaku untuk melindunginya dari benturan langsung dengan pasir pantai saat aku terjatuh tadi, bocah?!" Protes Temari tak terima atas alasan dan sindiran yang dilontarkan oleh Shikamaru kepadanya.
"Hoam~... Percaya diri sekali kau Nona. Tali pita yang menjuntai pada rambut anehmu itulah yang membuat tanganku tersangkut disana," kilah Shikamaru menyangkal tuduhan Temari seraya menunjuk pita-pita rambut yang digunakan Temari untuk mengikat surai blonde-nya menjadi empat bagian.
Ya, Kalian pasti mengerti 'kan jika alasan Shikamaru itu hanyalah akal-akalannya saja untuk tidak mengakui tuduhan Temari yang memang benar kenyataannya.
"Astaga! Kali ini kau mengatakan rambutku aneh?" Temari menggelengkan kepalanya frustasi. Urat-urat kekesalan tampak terukir jelas pada kedua sudut dahinya. "Tch,Tak bisakah kau berhenti untuk mengataiku, bocah?!" Temari mendecih sinis kepada Shikamaru.
"Hah~.. Aku tidak sedang mengataimu, Nona. Aku hanya mengatakan kenyataannya saja," ucap Shikamaru melakukan pembelaan seraya mendesah kecil.
"Argghh~... Kau benar-benar menyebalkan!" Temari meraup kasar pasir pantai-yang ada di sekitarnya-ke dalam genggaman tangannya dan dengan kesal menghamburkan butiran-butiran pasir itu ke arah wajah Shikamaru, yang sukses membuat kedua mata Shikamaru terasa perih karena beberapa butiran pasir itu masuk ke dalam matanya.
Spontan Shikamaru pun langsung menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya, untuk menghalau serangan pasir yang dilakukan oleh Temari secara bertubi-tubi pada wajahnya.
"Oi, oi, Apa yang ka-..."
"Diam dan cepatlah pergi dari hadapanku, bocah!" Tegas Temari memotong ucapan Shikamaru seraya menghentikan serangan pasirnya terhadap tunangannya tersebut.
Shikamaru pun menurunkan kedua tangannya dari wajahnya, setelah ia memastikan jika serangan pasir Temari telah benar-benar berakhir.
"Huh, Kau mengusirku, Nona?" Tanya Shikamaru seraya mengerutkan dahinya heran. "Apa kau lupa jika tadi kau memintaku untuk menemanimu bermain, sampai-sampai kau dengan ganas memukuliku?" Cibir Shikamaru seraya menyeringai sinis ke arah Temari.
"Aku berubah pikiran! Sekarang aku benar-benar sedang muak melihat wajahmu itu, bocah! Jadi, cepat pergi menjauh dariku sekarang juga, sebelum kantung kesabaranku benar-benar habis dan meledak!" Teriak Temari emosi kepada Shikamaru.
"Mendokusei~..." Keluh Shikamaru seraya mengusap kedua lubang telinganya yang terasa berdengung sakit karena teriakan dahsyat tunangannya tersebut. "Baiklah, kalau begitu aku pergi," ucap Shikamaru mengalah seraya beranjak berdiri dan dengan acuh berjalan meninggalkan tunangannya yang tampak menatap tak percaya ke arahnya.
"Astaga! Dia benar-benar tega meninggalkan aku seorang diri di sini! Seharusnya dia tetap tinggal diam di sini! Mengucapkan kata maaf kepadaku dan berusaha untuk membujukku agar tidak marah lagi! Pria sejati seharusnya seperti itu, bocah!" Gerutu Temari kesal seraya beranjak berdiri dan melepaskan salah satu sandalnya dari kaki mulusnya. "Rasakan ini, dasar bocah yang tidak bisa memahami perasaan perempuan!"
Temari mengambil ancang-ancang untuk melemparkan sandal miliknya ke arah Shikamaru-yang belum terlalu jauh berjalan di depannya-dan menjadikan kepala nanas Shikamaru sebagai sasaran empuk untuk pendaratan sempurna sandal kesayangannya.
Temari tertawa penuh kepuasan tatkala mendapati kepala Shikamaru sedikit terhuyung ke arah depan akibat tertimpa sandal miliknya.
Shikamaru sendiri tampak terdiam tanpa ekspresi berarti pada wajahnya, setelah insiden tersebut. Tangan kanannya terangkat ke atas untuk mengusap belakang kepalanya yang baru saja mendapat lemparan manis dari tunangan menyebalkannya itu.
'Mendokusei~... Dia benar-benar ingin bermain-main denganku, eh? Baiklah, kalau begitu aku tidak akan segan-segan lagi untuk bermain-main denganmu, Nona! Mari kita bersenang-senang!' Batin Shikamaru seraya menyeringai penuh arti.
Shikamaru pun kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Temari, dengan memasang ekspresi datar pada wajahnya. Diambilnya sandal Temari yang tergeletak di atas pasir pantai, sebelum akhirnya Shikamaru berjalan menuju ke tempat tunangannya berada.
Temari tampak mengernyitkan keningnya dalam tatkala Shikamaru tanpa berkata apapun, tiba-tiba duduk berjongkok di hadapannya seraya mengulurkan sandal miliknya ke arah kakinya.
Temari mendengus geli saat akhirnya ia menyadari tentang hal apa yang akan dilakukan oleh tunangannya tersebut. 'Huh, Ternyata bisa juga dia bersikap romantis seperti ini kepadaku,' batin Temari sedikit memuji tunangannya tersebut.
"Kau tak perlu repot-repot untuk memasangkannya kem-... Kyaaa~... Apa yang mau kau lakukan terhadapku, bocah?" Namun sayangnya, apa yang dipikirkan oleh Temari tidaklah sesuai dengan kenyataannya.
Shikamaru justru melemparkan sandal Temari yang sedari tadi ia pegang, sebelum akhirnya Shikamaru meraih kedua lutut Temari-menguncinya dalam dekapan dada bidangnya-dan menjatuhkan tubuh Temari pada salah satu bahunya.
"Membuangmu ke laut," jawab Shikamaru datar seraya beranjak berdiri dan melangkahkan kaki kekarnya ke arah pantai.
"Apa?" Temari tampak membelalakan kedua matanya tak percaya atas jawaban yang diberikan oleh Shikamaru. "Tsk, Jangan bercanda, bocah!" Maki Temari seraya berdecak kesal kepada Shikamaru.
"Tidak. Aku serius," timpal Shikamaru dingin, yang seketika saja membuat tubuh Temari bergedik ngeri karenanya.
"Kau gila? Turunkan aku! Cepat turunkan aku, bocah!" Temari meronta-ronta di atas pundak Shikamaru seraya memukul-mukul kuat punggung lebar Shikamaru.
"Tsk, Berisik! Diamlah!" Perintah Shikamaru tegas kepada Temari.
"Tidak mau! Tidak, sebelum kau menurunkanku, bocah sialan!" Teriak Temari menolak mentah-mentah perintah Shikamaru dan kembali meronta.
"Ya sudah, terserah kau saja. Mungkin suara teriakanmu ini bisa jadi nyanyian merdu untuk binatang-binatang laut itu. Setidaknya kau bisa menjadi hiburan menarik bagi mereka, sebelum mereka benar-benar memangsamu, Nona," ucap Shikamaru acuh seraya terus berjalan, menenggelamkan kedua kakinya ke dalam air laut, yang kini sudah sampai setinggi pahanya.
"Brengsek! Kau benar-benar ingin membunuhku?" Tanya Temari geram seraya menghentikan rontaan dan pukulannya terhadap punggung Shikamaru.
"Jika itu bisa membuatku berada dalam ketenangan, kenapa tidak?" Shikamaru mengucapkannya tanpa beban sedikit pun.
"Arrgghh! Ketenangan katamu? Justru jika kau membunuhku, kau tidak akan pernah bisa hidup tenang, bodoh! Kau akan masuk penjara dan hidupmu akan hancur selamanya!" Protes Temari menasehati Shikamaru, seraya mengangkat tubuh bagian atasnya sejajar dengan bahu Shikamaru karena ketinggian air laut yang sudah sampai sebatas perut Shikamaru.
Jari-jari tangannya tampak mencengkram kuat punggung Shikamaru untuk mempertahankan keseimbangan tubuh bagian atasnya agar kepalanya tidak terjatuh dan masuk ke dalam air laut.
"Begitukah? Tapi, tidak akan ada orang lain yang tahu jika aku telah membuangmu ke laut, Nona! Lagipula, aku bisa mengarang cerita mengenai kehilangan dan kematianmu di sini," ucap Shikamaru seraya menyeringai tipis, yang tentu saja tidak dapat dilihat oleh Temari.
"Oh, Kami-sama! Bagaimana mungkin seorang detektif yang selalu bertugas mengungkap pelaku pembunuhan, justru akhirnya menjadi seorang pembunuh juga?!" Keluh Temari seraya melayangkan sindiran sinis kepada tunangannya tersebut.
"Kenapa tidak? Setiap orang-siapapun itu-pasti memiliki motif untuk membunuh seseorang yang lain karena suatu keadaan tertentu. Hanya saja, pembunuhan itu terwujud atau tidak, tergantung dari bagaimana seseorang yang memiliki motif pembunuhan tersebut dapat mengontrol dan menahan emosinya atau tidak, terhadap permasalahan yang tengah mereka hadapi dengan orang lain. Dan aku termasuk dari salah satu orang yang tak dapat lagi menahan emosiku terhadapmu, Nona," ucap Shikamaru tenang, membalas sindiran Temari dengan begitu mudah.
"Kenapa kau justru malah berpidato panjang lebar seperti itu, bocah?!" Protes Temari kesal kepada Shikamaru. Namun, tak lama kemudian tubuhnya tampak bergetar gugup karena ia menyadari jika Shikamaru tak juga menunjukkan tanda-tanda bahwa ia tengah bercanda kepadanya. "Shikamaru, tolong katakan jika kau hanya tengah mempermainkanku lagi seperti tadi 'kan?" Lirih Temari memohon kepada Shikamaru, seraya menatap sendu permukaan air laut yang kini hanya tinggal berjarak dua jengkal dari wajahnya.
"Hm," gumam Shikamaru tak jelas.
"Tsk, Kalau begitu jangan harap jika kau dapat membunuhku dengan mudah, bocah!" Temari berusaha menegakkan tubuh bagian atasnya untuk memberikan perlawanan terhadap Shikamaru, namun sayangnya tunangannya tersebut telah terlebih dahulu menjatuhkan tubuhnya ke dalam air laut.
Spontan Temari pun berteriak kencang seraya mencengkram kuat kedua bahu tegap Shikamaru-yang memang telah terendam oleh air laut-sebelum dirinya benar-benar tenggelam ke dalam air laut.
Ya, karena Temari memiliki tinggi badan sebatas leher Shikamaru, maka dapat dipastikan jika gadis blonde itu akan tenggelam jika ia melepaskan pegangan tangannya dari tubuh Shikamaru.
Namun, sesungguhnya Temari tak perlu khawatir akan hal itu karena tanpa Temari sadari, Shikamaru tengah melingkarkan kedua tangannya pada pinggang rampingnya.
"Hah~... Aku benar-benar tidak mengerti kemauanmu, Nona! Bukankah tadi kau ingin bermain dan bersenang-senang bersamaku? Dan inilah caraku untuk bersenang-senang," keluh Shikamaru seraya memutar kedua bola matanya malas.
Ucapan Shikamaru sukses mengalihkan perhatian Temari dari perasaan takut yang tengah menderanya saat ini. Kedua iris teal-nya tampak menatap horor ke arah wajah Shikamaru.
"Arrggghhh~... Kau benar-benar jahat sekali mempermainkan aku seperti ini, Shikamaru!" Protes Temari berteriak kencang di depan wajah Shikamaru. Spontan Shikamaru pun memejamkan kedua matanya seraya meringis pelan. "Hiks ... Hiks ... Aku pikir kau benar-benar akan membuang dan menenggelamkanku ke laut," Temari menundukkan kepalanya seraya mulai terisak lirih.
"Oi, Kenapa kau justru menangis, Nona?" Tanya Shikamaru seraya mengernyitkan dahinya tak mengerti akan sikap tunangannya yang tiba-tiba menangis di hadapannya.
"Aku menangis karena aku benar-benar takut, bodoh!" Maki Temari kesal seraya meninju kuat bahu kiri Shikamaru.
"Heh, Rupanya gadis galak sepertimu juga bisa memiliki rasa takut, eh?" Sindir Shikamaru seraya mengulas seringaian kecil pada wajah tampannya.
"Tentu saja! Ini menyangkut nyawaku dan kau dengan mudah mengatakan hal-hal yang mengerikan seperti tadi kepadaku! Bagaimana bisa aku tidak takut, Shikamaru no baka?!" Temari tak henti-hentinya berteriak kepada Shikamaru, dengan air mata yang terus saja meluncur jatuh dari kedua mata indahnya.
"Tsk, Sudahlah. Jangan menangis lagi! Aku minta maaf, oke?" Ucap Shikamaru berusaha membujuk tunangannya tersebut, seraya menarik tangan kanannya dari pinggang ramping Temari dan mengulurkannya ke atas untuk menghapus air mata yang mengalir pada pipi kanan Temari.
"Tidak semudah itu untuk memaafkanmu, bocah!" Ucap Temari menatap tajam Shikamaru seraya menepis kasar tangan tunangannya tersebut dari pipinya.
"Hah~... Lantas kau mau aku bagaimana, Nona?" Shikamaru mendesah lelah menghadapi sikap kekanak-kanakan Temari saat ini.
"Kau harus mentraktirku es krim dan membelikan barang-barang yang aku inginkan selama dua bulan berturut-turut, setelah kita pulang dari Maldives nanti, bagaimana?" Putus Temari dengan seenak hati seraya menyeringai penuh kepuasan kepada Shikamaru.
"Kau mau memerasku, Nona?" Tuduh Shikamaru seraya melayangkan tatapan tajam terhadap tunangannya tersebut.
"Tsk, Kau mau aku memaafkanmu atau tidak, Hah?" Ancam Temari, memberikan pilihan kepada Shikamaru.
"Mendokusei~... Terserah kau sajalah, Nona!" Tanggap Shikamaru tak peduli.
"Bagus! Memang sudah seharusnya kau menuruti setiap permintaanku, bocah!" Untuk yang pertama kalinya, Temari menunjukkan cengiran lebar penuh keceriaan miliknya kepada Shikamaru, membuat detektif muda itu sejenak tertegun melihatnya.
Shikamaru pun mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Temari tatkala sebuah perasaan asing tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya.
"Ayo, kembali ke resort! Aku lapar," Shikamaru mencoba melepaskan tangan Temari dari kedua bahunya, berniat untuk membalikkan tubuhnya. Namun, nyatanya Temari telah terlebih dahulu mencegahnya.
"He-Hei, Jangan lepaskan aku!" Pinta Temari gugup dengan kedua pipinya yang tampak merona merah.
"Huh, Memangnya kau tidak bisa berenang?" Tanya Shikamaru seraya mengangkat sebelah alisnya ke atas.
"Bisa. Tentu saja aku bisa berenang! Tapi, tenagaku habis karena sedari tadi aku berteriak-teriak terus kepadamu, bocah! Jadi, tuntun aku ke tepi pantai ya?" Pinta Temari seraya memasang puppy eyes andalannya kepada Shikamaru.
"Hm, Kau mau aku membawamu dengan cara seperti apa, Nona? Seperti ta-..." Ucapan Shikamaru telah terlebih dahulu terpotong oleh Temari, sebelum ia dapat menyelesaikannya.
"Tidak! Tentu saja tidak dengan cara seperti tadi, bocah!" Bantah Temari tegas kepada Shikamaru.
"Lantas?" Tanya Shikamaru meminta penjelasan lebih lanjut kepada Temari.
Tanpa banyak bicara, Temari mendorong sedikit bahu kiri Shikamaru ke arah belakang, seolah mengisyaratkan kepada Shikamaru untuk membalikkan tubuhnya dan membelakangi Temari.
Shikamaru yang mengerti maksud dari tindakan Temari tersebut, akhirnya memutar tubuhnya dengan kedua tangan Temari yang beralih melingkar sempurna pada leher tegasnya.
"Begini saja, tidak apa-apa 'kan? Kau akan lebih mudah membawaku karena tubuhku mengambang di atas air," ucap Temari sedikit canggung seraya menyanggakan dagu mungilnya pada bahu kiri Shikamaru.
"Aa," gumam Shikamaru salah tingkah seraya membawa kembali dirinya dan Temari ke tepi pantai.
.
.
.
Setelah membersihkan diri dan berganti baju di resort mereka, Shikamaru dan Temari pun akhirnya pergi ke salah satu restoran ternama di Maldives, untuk makan siang.
"Tsk, Jangan berani-beraninya kau kembali tertidur di dalam restoran, bocah!" Temari menimpuk kesal kepala nanas Shikamaru dengan tas kecil miliknya, tatkala ia mendapati Shikamaru yang hendak membaringkan kepalanya pada lipatan kedua tangannya, begitu pelayan restoran selesai mencatat pesanan makan siang mereka.
"Mendokusei~..." Dengan malas-malasan, Shikamaru pun menuruti perkataan Temari dan kembali menegakkan posisi duduknya. Diam-diam, Temari tersenyum di dalam hatinya melihat sikap patuh tunangannya tersebut.
.
.
Temari tampak terdiam, mengabaikan makan siangnya yang baru ia habiskan setengahnya. Entah sejak kapan, kedua iris teal-nya mulai memperhatikan keromantisan sepasang kekasih-yang duduk tepat berseberangan dengan mejanya-dengan tatapan sendu.
Pasangan kekasih-yang Temari yakini merupakan orang barat-tampak terlihat mesra tatkala mereka berdua saling menyuapi pasangannya satu sama lain dengan penuh kasih sayang.
Keduanya pun tak henti-hentinya saling melemparkan sebuah senyuman kebahagiaan kepada pasangannya. Bahkan, tanpa rasa canggung dan malu sedikitpun, pasangan kekasih itu mulai memagutkan kedua bibir mereka intim. Benar-benar membuat hati Temari iri melihatnya.
Shikamaru menghentikan aktivitas makan siangnya, tatkala ia tak lagi mendengar suara dentingan pisau dan garpu yang beradu dengan permukaan piring, milik seseorang yang duduk di seberangnya.
Shikamaru pun mengalihkan pandangannya untuk menatap wajah Temari. Dahinya mengernyit heran tatkala mendapati ekspresi sendu yang terukir dengan begitu jelas pada wajah cantik Temari.
Kedua onyx-nya mulai terfokus pada satu arah yang menjadi pusat perhatian Temari, berusaha mencari sumber yang menyebabkan wajah tunangannya menjadi murung.
Tanpa banyak berpikir pun, Shikamaru sudah bisa menebak apa yang tengah dipikirkan oleh Temari saat ini, setelah ia mendapati adegan romantis yang disajikan oleh pasangan kekasih yang duduk di seberang meja mereka.
Mendesah kecil, Shikamaru pun kembali melanjutkan aktivitas makan siangnya yang sempat tertunda.
Namun, ternyata Shikamaru tidak memasukkan makanannya ke dalam mulutnya, melainkan mengulurkannya ke arah mulut Temari.
"Nona, makanlah," ucapan Shikamaru sukses membawa kembali Temari dari lamunannya.
Temari tampak mengerutkan keningnya bingung, tatkala mendapati potongan daging yang disodorkan oleh Shikamaru ke arahnya. "Hm, Kau mau menyuapiku, bocah?" Tanya Temari ragu kepada Shikamaru.
"Hm," gumam Shikamaru seraya menganggukkan kepalanya singkat.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kau ingin menyuapiku, bocah?!" Tanya Temari penuh selidik.
"Cerewet! Sudah makan saja, Nona! Tanganku sudah terasa pegal!" Gerutu Shikamaru seraya mendorong tangannya dan memasukkan secara paksa potongan daging itu ke dalam mulut Temari, membuat sang gadis blonde tertegun karenanya.
Ah, Rupanya Shikamaru menyadari apa yang tengah ia pikirkan beberapa saat yang lalu, dan bocah itu tengah berusaha untuk sedikit menghiburnya dengan melakukan salah satu tindakan romantis-dari pasangan kekasih yang baru saja ia perhatikan-yang nyatanya gagal ia lakukan.
Namun, tetap saja Temari merasa terkesan atas apa yang telah Shikamaru lakukan terhadapnya.
"Huh, Kau sangat tidak romantis sekali, bocah!" Cibir Temari kepada Shikamaru, seraya mendengus geli dan mengunyah potongan daging-pemberian Shikamaru-di dalam mulutnya.
Shikamaru hanya terdiam tak menanggapi cibiran Temari kepadanya. Kedua onyx-nya tampak menatap serius ke arah tunangannya tersebut.
"Nona, aku tahu jika perjodohan kita ini bukanlah sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Kebebasan kita untuk mencari dan memilih seorang pendamping yang kita inginkan, direnggut secara paksa oleh kedua orang tua kita. Namun, bukan berarti kita berdua tidak bisa merasakan kebahagiaan seperti pasangan yang lainnya. Setidaknya kita bisa berusaha untuk lebih mengenal dan saling menerima satu sama lain, meskipun tidak ada perasaan khusus diantara kita saat ini. Daripada terus menerus memikirkannya dan merasa tertekan, bukankah lebih baik kita berusaha untuk menikmatinya, Ne?" Tiba-tiba saja Shikamaru berucap panjang lebar kepada Temari.
Temari tampak tertegun karena ini adalah pertama kalinya Shikamaru berbicara serius mengenai perjodohan mereka kepadanya. Dan entah mengapa, seketika saja perkataan Shikamaru tersebut, membuat perasaannya menjadi begitu tenang dan nyaman.
"Tentu saja, bocah!" Ucap Temari semangat seraya kembali menunjukkan cengiran lebar khasnya untuk yang kedua kalinya kepada Shikamaru.
-TBC-
ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo
Maafkan Hika jika ceritanya semakin bertambah aneh dan gak sesuai dengan keinginan readers semua yah #ber-ojigi
Hika gak tahu apakah chapter ini mengecewakan atau tidak, tapi seperti biasa Hika selalu berharap kalian semua suka sama kelanjutannya #smile
Hika ucapkan banyak-banyak terima kasih buat readers, reviewers, favoriters, followers yang udah berkenan mampir ke fic Hika ini, dan selalu memberikan Hika dukungan untuk melanjutkan fic ini #bigsmile #kiss Tanpa kalian fic abal Hika bukanlah apa-apa #nangisterharu
Sekali lagi terima kasih banyak #bighug #muachhh
Salam Hangat,
Hikaru Sora 14
ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo
Balasan Review
NaraTema: Gomen baru bisa lanjut lagi Nara-san Hehe Makasih yahh buat motivasinya ^^ Makasih juga udha berkenan R&R ^^ Semoga suka sama kelanjutannya ^^ #muachhh
