Author:CrowCakes
Warning: AU, OOC, Typo, YAOI, INCEST, dan hal absurd lainnya.
Rating: M for Mature
Pairing: YunJae, HoMin/ChangYun (?), WonKyu, YunKyu,WonJae (Chap ini ada bumbu WonKyu)
Note: ff ini bukan ff karya saya, dan saya sudah minta izin sama empunya buat repost dan ganti cast nya hhhehe. Enjoy minna~
Complicated Relationship
by
CrowCakes
Kyuhyun sibuk mengiris beberapa sayuran untuk menjadi menu makan malamnya. Sesekali pria itu bersenandung riang saat menumis atau merebus lauk pauknya. Iris mata Kyuhyun melembut saat pikirannya melayang kembali ke kejadian tadi siang di rumah Siwon.
Sentuhan pria Choi itu membuat Kyuhyun bergerak senang layaknya seorang kucing penurut. Tatapan tajam Siwon, suara berat dan dalamnya, serta sikap ramahnya. Kyuhyun yakin dia sudah jatuh cinta pada sang penulis novel. Mengingat hal itu, Kyuhyun terpekik senang, sesekali dia mengulum senyumnya agar tidak tertawa lebar dengan wajah merah merona.
"Oh astaga—jantungku benar-benar berdetak kencang." Pekik Kyuhyun sambil memeluk tubuhnya sendiri dengan senyum girang.
"Apa-apaan tingkahmu itu, Ayah?" Suara Yunho membuat Kyuhyun tersentak kaget dan berbalik untuk menatap anaknya itu.
"Ah—Yunho—" sapa Kyuhyun sambil menggaruk belakang kepalanya, salah tingkah. "—Kau sudah pulang rupanya."
"Ya—baru saja." Jawab Yunho singkat yang langsung duduk dimeja makan. "Apa makan malamnya?" tanya pemuda itu lagi.
Kyuhyun bersiul senang, "hanya sesuatu yang mudah untuk dimasak." Ucapnya penuh rahasia. Yunho sebenarnya tidak terlalu mempedulikan hidangan makan malam yang dimasak ayahnya itu, ia memilih menjatuhkan kepalanya di meja dengan suara -duk- kecil. Yunho mengerang keras saat mengingat tatapan marah Jaejoong ketika bibirnya dicium Changmin.
Sebal. Kesal. Galau. Tiga kata yang mewakili perasaan Yunho saat ini. Kalau seandainya dia bisa memutar waktu, mungkin Yunho ingin kembali disaat Changmin menembaknya dan menjawab 'Maaf—aku menolak!', tetapi semua itu terlambat karena sekarang statusnya adalah pacar Changmin.
Yunho mengerang lebih keras dan menghantamkan keningnya ke meja dengan suara -DUK!- yang lebih nyaring. Kyuhyun bahkan harus menoleh ke arah Yunho agar anaknya itu berhenti menyakiti meja makan yang malang itu.
"Yunho, kau kenapa?" Tanya Kyuhyun heran dengan sikap ababil Yunho.
"Ayah—bagaimana cara untuk putus dengan pacar?" Kali ini Yunho mendongak untuk melirik Kyuhyun. Pria itu mengangkat satu alisnya tanda bingung.
"Putus? Ayah belum pernah memutuskan pacar. Selalu ayah yang diputuskan sepihak." penjelasan Kyuhyun membuat Yunho semakin mengerang kesal, "—dulu kau pernah putus dengan Tiffany, bukan? Lakukan saja seperti sebelumnya." Lanjut ayahnya lagi.
Tubuh Yunho menegak, kemudian pikirannya kembali di waktu dia putus dengan gadis paling cantik di Annki Gakuen—Tiffany Hwang.
.
.
" Tiffany —aku ingin putus." Tukas Yunho tanpa basa-basi. Di depannya sang gadis terbelalak kaget.
"Kenapa?"
"Karena aku menyukai ayahku."
"Jangan memberi alasan tidak masuk akal seperti itu?!—katakan sejujurnya!" Desak Tiffany keras kepala. Yunho menghela napas kemudian menatap gadis itu lebih serius.
"Sebenarnya, aku hanya tidak ingin menyakitimu. Aku tidak ingin perbuatanku sampai menghamilimu." Ucap Yunho bohong. Tiffany terenyuh dengan perkataan Yunho kemudian memeluknya pelan.
"Oh Yun—kau baik sekali. Aku mengerti, mungkin setelah kita lulus, baru kita pacaran lagi, bagaimana?"
"Ya—terserah kau saja." Jawab Yunho sambil memutar bola matanya malas.
.
.
Yunho menggeleng cepat sambil mengerang makin keras. Dia tidak mungkin mengatakan begitu pada Changmin. Bahkan membayangkan Changmin berbicara manis seperti itu membuat Yunho merinding geli. Bisa-bisa Changmin mengatakan 'Tidak apa-apa, Yunho. 'Hamili' saja aku.' Oh God Gay—jangan sampai Changmin mengeluarkan kata-kata menjijikan itu.
"Ayah—" Yunho memanggil lagi, "—bagaimana sikapmu kalau kau pacaran dengan seseorang tetapi kau malah lebih menyukai adik orang tersebut?"
"Tentu saja—putus dengan dia lalu pacaran dengan adiknya."
"Semudah itu?"
"Yup—semudah itu!" Jawab Kyuhyun penuh keyakinan.
Yunho kembali berpikir, otaknya dipaksa bekerja dua kali lipat dari biasanya. Di dalam pemikirannya, dia putus dengan Changmin lalu menyatakan cinta pada Jaejoong. Lalu selanjutnya apa? Bukankah dia mengatakan bahwa ingin Jaejoong berteman dengannya dan bukan pacaran? Lagipula Jaejoong lebih menyukai ayahnya dari pada dirinya, batin Yunho dalam hati. Pemuda itu kembali mengerang, kali ini ditambah dengan hentakkan tangan di meja dan jedotan keningnya berkali-kali.
Kyuhyun menatapanya kesal, "Yunho—hentikan menyakiti meja! Biaya reparasi nya mahal!"
"Arghhh—kau menyebalkan ayah." Keluh Yunho sambil memutar bola matanya, kesal.
"Kau itu yang menyebalkan. Sikapmu tidak bisa ditebak." Jelas Kyuhyun sambil terus mengaduk masakannya di dalam panci. Yunho meliriknya sekilas lalu bangkit untuk memeluk ayahnya itu dari belakang.
"Ayah, apa kau menyukaiku?" Tanya Yunho dengan suara menggoda di telinga sensitif Kyuhyun. Pria itu hanya terkikik geli lalu mengacak-acak rambut Yunho.
"Tentu saja, kau itu harta peninggalan Victoria." Ucap Kyuhyun yang entah kenapa malah membuat hati Yunho nyeri. Pemuda itu tidak mau disamakan sebagai 'anak' dia ingin dilihat sebagai seorang 'laki-laki'.
Yunho makin memeluk Kyuhyun kemudian menenggelamkan kepalanya di leher pria manis itu. Sesekali kecupan singkat dilandaskan Yunho ke leher Kyuhyun. Membuat pria itu harus bergerak gelisah karena geli.
"Yunho, hentikan, kau membuatku tidak nyaman."
"Hm—tapi aku nyaman."
"Aku tidak!—jadi lepaskan aku."
"Tidak mau, ayah." Jawab Yunho keras kepala. Dia semakin gencar mencumbui tengkuk leher Kyuhyun. Tangannya bergerak menuju perut dan pinggul pria dihadapannya, membalikkan tubuh kecil itu agar mereka bisa bertatapan muka.
"Cium aku—" pinta Yunho sambil menggesek-gesekkan keningnya di dahi Kyuhyun.
"Ha?—Tidak boleh, kau sudah dewasa." Tolak Kyuhyun sambil berusaha mendorong Yunho.
"Oh ayolah—sedikit saja." Kali ini hidung Yunho menyentuh hidung Kyuhyun dengan gesekkan jahil. Mau tidak mau, Kyuhyun harus terpesona juga dengan sikap menggoda Yunho. Wajah dewasanya, tatapan tajamnya, dan nada suaranya yang manja namun penuh paksaan itu.
Seandainya saja Yunho adalah Siwon, mungkin sekarang aku akan berteriak girang layaknya orang idiot—eh? tunggu—apa yang baru saja aku pikirkan?! jerit Kyuhyun dalam hati dengan wajah memerah.
Yunho menatap ayahnya yang bergerak gelisah, kemudian tanpa aba-aba, Yunho langsung menempelkan bibirnya di mulut pria manis itu. Untuk sepersekian detik Kyuhyun terkesiap kaget dengan serangan kecupan Yunho. Kyuhyun mencoba untuk mendorong tubuh anaknya, tetapi tenaganya tidak cukup kuat ketika tangannya dikunci oleh Yunho.
"Ayah—" Panggil Yunho dengan napas tersengal-sengal. "—Buat aku nyaman." Pinta pemuda itu yang malah membuat Kyuhyun terbelalak kaget.
Demi PSPnya!—apa maksud Yunho dengan 'nyaman' itu?! Teriak Kyuhyun dalam hati. Tidak berani memikirkan hal kotor yang ada di dalam otaknya.
Yunho menatap Kyuhyun sekali lagi. Wajah pria dihadapannya terlihat bingung dan memerah... Ah—merah. Yunho ingat kalau wajah Jaejoong juga memerah seperti ayahnya ini, hanya saja lebih—erotis. Pandangan Yunho mengabur dan malah menatap Kyuhyun sebagai Jaejoong.
Wajah cantik pemuda itu. Erangannya. Desahannya. Yunho bahkan hampir gila memikirkan Jaejoong.
Tanpa sadar Yunho mencium bibir Kyuhyun dengan lebih panas. Pergulatan lidah dilakukan pemuda brunette itu yang membuat ayahnya semakin panik kelabakan.
.
Jaejoong, Jaejoong, Jaejoong—Yunho merapalkan nama itu berulang kali di dalam hati. Ia sudah tergila-gila pada pemuda blonde itu sekarang.
.
Kyuhyun mencoba berontak. Mendorong kuat tubuh anaknya agar menjauh. Nihil!—Yunho bahkan kembali menjatuhkan pagutan dan hisapan di leher ayahnya itu. Tangan nya bergerak lincah menuju perut dan celana Kyuhyun.
Pria berumur 38 tahunan itu makin meronta-ronta saat bagian bawah tubuhnya digenggam oleh Yunho. Oh tidak—Oh tidak—Vict bakal mengutukku kalau Yunho berbuat lebih jauh lagi, Jerit Kyuhyun dalam hati.
"Yunho!—Dengarkan ayah! Hentikan sekarang juga!" Seru Kyuhyun lagi. Tubuhnya berusaha menahan serangan-serangan nikmat yang dilancarkan Yunho di bagian sensitifnya di bawah sana. Menyentuh. Mengelus. Bahkan mencubit gemas.
Seandainya Kyuhyun boleh melenguh nikmat. Mungkin sekarang dia sudah berteriak meminta lebih dari darah dagingnya ini. Tuhan, kirimkan malaikat maut untuk mencabut nyawaku sekarang, Jerit Kyuhyun dalam hati.
.
.
PRANG!—
.
"Astaga!—" Seruan kaget Junsu membuat Kyuhyun dan Yunho menjauh dengan cepat. Pemuda penyuka bola itu menghempaskan piring berisi kue tart yang dipegangnya ke lantai. Padahal niat awalnya, ia ingin memberikan kue ini pada Kyuhyun sebagai ucapan terima kasih dari ibunya, tetapi tidak menyangka malah mendapati tontonan gratis didepan matanya secara langsung.
"J—Junsu-sshi." Kyuhyun bergerak panik sambil menjauh. Dia menatap cemas ke arah pemuda itu. "Ka—kau melihatnya?"
"Oh My Goddness, Yes—I Mean No!—Tadi pintu depan terbuka. Aku masuk. Dan—dan—" Junsu berbicara dengan gugup. Yunho lagi-lagi menggeram kesal sambil mendelik ke arah temannya itu dengan murka.
"Ikut aku—" Desis Yunho dengan nada mengancam sambil menarik Junsu ke lantai dua kamarnya.
.
Pemuda penyuka bola itu dibanting oleh Yunho ke kasur, membuat Junsu langsung meringkuk ketakutan di pojok ranjang, "Yun—Yunho—aku tidak melihat apapun, sumpah! Jadi jangan perkosa aku—aku mohon!" Cicit Junsu layaknya seekor tikus yang ketakutan karena sudah ketahuan mengutil makanan.
"Seriously, Junsu!—aku tidak akan memperkosamu, berhentilah ketakutan seperti itu!"
"Kau—yakin?" Tanya Junsu ragu-ragu karena masih melihat kemarahan di mata sahabatnya itu.
"Yakin—setidaknya untuk saat ini." Terang Yunho lagi sambil duduk di tepi ranjang. Tangannya menekan-nekan keningnya yang berdenyut sakit.
Junsu merangkak pelan ke arah Yunho, "Kau marah padaku?" Tanya nya takut-takut.
"Ya—sangat marah!"
"Karena aku mengganggu 'kesenangan'mu tadi?"
"Tentu saja!—memangnya apa lagi?!" Sembur Yunho sambil meliriknya dengan tatapan membunuh. Junsu mundur perlahan tetapi langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Yunho.
"Kau sakit?—sikapmu aneh sekali." Ucap Junsu yang heran melihat Yunho uring-uringan seperti ini. Pemuda penyuka bola itu yakin pasti bukan karena dia memergoki Yunho berciuman dengan Kyuhyun, sebab dia pernah beberapa kali memergoki mereka berciuman dan tidak terlalu di ambil pusing oleh pemuda dihadapannya ini. Pasti ada alasan lain yang membuat Yunho gelisah seperti ini, pikir Junsu dalam hati.
"Aku menyentuh Jaejoong—"
"Tuh kan, pasti karena ada alasan la—APA?!" Junsu terlonjak kaget dan hampir terjungkal dari ranjang.
Yunho mendeliknya tajam, "Aku bilang, aku menyentuh Jaejoong."
"Maksudmu, menciumnya? Bukankah kau sering berciuman dengan semua teman-temanmu?"
"Bukan!—Aku menyentuhnya!" Seru Yunho gemas, "Aku ingin mencium ayahku, tetapi dalam pikiranku malah ada bayang-bayang tubuh Jaejoong yang erotis! Erangannya, desahannya dan rintihannya! Semuanya membuatku gila!" Teriak Yunho sambil bangkit dari duduknya. Junsu melotot pada Yunho dan menyentuhkan jari telunjuknya di bibir, sebuah tanda agar Yunho tidak berteriak keras dan tetap tenang.
"Oke—oke—tenangkanlah dirimu. Teriakanmu bisa terdengar oleh Kyuhyun sshi." Jelas Junsu sambil menyuruh Yunho untuk kembali duduk. Pemuda itu menurut dan berusaha mengatur napasnya.
"Jadi—" Junsu kembali menatap Yunho penasaran, "—katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi."
Yunho melirik sahabatnya itu dengan ekor matanya lalu mendesah lelah, "Aku sudah menyentuh Jaejoong dengan tanganku dan mulutku."
"Tangan?—mulut? Oh ya ampun, jangan bilang kalau kau—" Junsu mempraktekkan tangannya didepan mulutnya yang membentuk 'O' lalu menggerakkan tangannya yang terkepal maju-mundur. Yunho menjitak kepala sahabatnya itu dengan keras.
"Tidak perlu dipraktekkan seperti itu, menjijikan tahu!"
"Kau itu yang menjijikan, bodoh!" Bentak Junsu yang membalas jitakan Yunho. "Aku sih maklum dengan sifat abnormal mu pada ayahmu, tetapi pada Jaejoong? Astaga—demi apapun juga, itu sudah terlalu abnormal!"
"Ah—dan juga, sekarang aku pacaran dengan Changmin."
Junsu terbelalak makin kaget," Changmin?! Oh God—" pemuda itu hampir menjambak rambutnya kesal. "Kau merahasiakan padaku kalau kau pacaran dengan Changmin?! Kau benar-benar keterlaluan Yunho. Jadi seorang playboy pun ada batasnya."
"Ayolah Su, kau mirip tante-tante penggemar gosip saja. Seharusnya kau bantu aku."
"Membantu apa?" Tanya Junsu malas.
"Aku menyukai Jaejoong dan aku ingin putus dari Changmin. Tapi aku tidak tahu caranya."
"Putus? Memangnya sejak kapan kalian pacaran?"
"Tadi siang." Jawab Yunho enteng. Junsu yang mendengar ingin sekali menampar bolak-balik pipi pemuda tidak tahu diri dihadapannya ini.
"Kau Pacaran Tadi Siang Dan Sekarang Ingin Putus?! Pemuda Macam Apa Kau Ini?!"
"Oh ayolah, bantu aku." Rengek Yunho lagi sambil memeluk pundak Junsu.
"Baiklah, akan ku coba." Erang Junsu pasrah. Yunho menampilkan senyum lebarnya.
"Junsu, aku mencintaimu."
"Yeah—yeah—aku juga membencimu."
.
.
.
.
_Shinki Gakuen, 08.00 Pagi_
Junsu selalu merasa bahwa suasana pagi hari di kelas merupakan sesuatu rangkaian pemandangan yang indah. Bangku dan meja yang tersusun rapi, papan tulis yang bersih dan—Oh, jangan lupa vas bunga yang selalu diganti setiap harinya. Sayang pemandangan sempurna itu harus rusak ketika mata polos Junsu melirik aura hitam di sekeliling Yunho dan Jaejoong.
Tanpa ditebak pun Junsu yakin mereka bermusuhan sejak 1 jam yang lalu.
.
.
_FlashBack_
.
Yunho yang tumben pagi itu masuk pagi hanya duduk malas di kelas. Awalnya Junsu hanya terkikik geli ketika Yunho melambai senang pada Jaejoong yang juga baru masuk ke dalam kelas.
Ekor mata Junsu terus melirik Yunho yang mendekat dengan gaya tebar pesonanya, "Jaejoongie, selamat pagi." Sapa Yunho sambil mengecup bibir pemuda blonde itu pelan.
"Pagi—" Jawab Jaejoong yang ikut membalas pagutan bibir Yunho. Junsu bahkan harus menampar pipinya untuk menyadarkan bahwa Jaejoong baru saja MENERIMA ciuman Yunho. Padahal biasanya pemuda itu paling jijik kalau disuruh berciuman dengan Yunho.
"Kau sudah mengerjakan tugas dari Kangin-sam?" Tanya Yunho basa-basi. Jaejoong tersenyum manis.
"Sudah—mau lihat?" Tawar Jaejoong yang sekali lagi membuat Junsu harus menampar pipinya lagi. Oh tuhan—apa kiamat sebentar lagi akan datang? Sebab sifat Jaejoong berubah, yang tadinya dingin menjadi ramah pada Yunho, batin Junsu dalam hati.
Yunho duduk dimeja Jaejoong sambil tertawa renyah, "Tidak perlu, aku juga sudah mengerjakannya." Ucap Yunho yang disambut anggukan paham Jaejoong.
Pemuda itu kembali melirik Jaejoong kemudian menyentuh leher Jaejoong perlahan, membuat pemuda blonde itu mendongak kaget.
"Ada apa?" Tanya Jaejoong bingung.
"Tidak—" Kata Yunho, "—aku hanya berpikir kalau kemarin kau terlihat—sangat sensual."
Junsu melongo ketika Jaejoong tiba-tiba berpaling muka sambil menyembunyikan rona merah diwajahnya. Samar-samar, pemuda penyuka bola itu dapat mendengar Yunho mengatakan hal yang berkaitan dengan 'kemarin' dan 'sensual'. Serius!—Apa maksudnya itu? Jerit Junsu dalam hati.
Yunho mencondongkan tubuhnya ke arah Jaejoong lalu berbisik pelan, "Jaejoongie—bolehkah aku menciummu lagi?" seperti terkena setruman listrik, Jaejoong langsung berdiri panik dari kursinya lalu menggeleng cepat.
"Apa maksudmu?!" Ucap Jaejoong gugup. Matanya melirik Junsu yang duduk tidak jauh dari mereka. Pemuda yang dilirik terlihat berpura-pura menatap arah lain sambil bersiul tenang.
"Sebentar saja, Jaejoong—aku janji." Pinta Yunho dengan nada 'lirih' andalannya.
"Tapi—kita bisa dilihat orang." Tolak Jaejoong lagi sambil melirik gelisah ke luar kelas.
"Tidak ada yang melihat, ini masih pagi. Cuma ada kau, aku dan Junsu dikelas ini. Untuk dia—" Yunho menujuk Junsu dengan cuek, "—jangan pedulikan. Anggap saja Junsu itu patung." Lanjutnya lagi. Junsu yang menguping hampir saja melemparkan tong sampah terdekat ke arah sahabat yang menganggapnya patung itu.
Jaejoong menggigit bibirnya gelisah, dia memikirkan perkataan Yunho, kemudian kepalanya mengangguk tanda setuju, "tapi hanya sebentar." Tegasnya yang disambut anggukan girang dari Yunho.
Tangan Yunho terulur untuk menarik leher Jaejoong mendekat. Kening mereka beradu dengan deru napas yang hangat juga gugup. Mata Jaejoong terpejam ketika bibir Yunho menekan mulutnya perlahan. Menyalurkan sensasi menggelitik disekitar wajahnya ketika pemuda itu mendengus penuh nafsu.
Junsu melototkan matanya kaget. Bahkan kalau ada perlombaan pelotot-pelototan, sudah dipastikan kalau pemuda penyuka bola itu akan menjadi juara pertamanya. Tapi sungguh—Junsu benar-benar terkejut melihat pemandangan didepannya itu. Demi jidat Yoochun!—sebenarnya apa yang sudah terjadi diantara mereka berdua, jerit Junsu yang hampir menjambak rambutnya hingga botak.
Dua pasangan 'merpati' itu sepertinya tidak mempedulikan tatapan kaget Junsu, bahkan sekarang mereka semakin panas untuk melumat bibir masing-masing. Jaejoong membuka mulutnya sedikit hanya untuk menggigit bibir bawah Yunho dengan gemas. Dan ternyata kelakuan Jaejoong membuat Yunho tersenyum disela ciumannya. Dengan nakal, Yunho kembali menyapu lidahnya di bibir kecil pemuda blonde itu. Menggoda dan mengajaknya untuk bertarung saliva.
.
"Wow—Yunho, kau tidak selingkuh kan?" Suara Changmin membuat Yunho dan Jaejoong tersentak kaget dan memisahkan diri mereka dengan canggung. Di ambang pintu berdiri Changmin sambil bersender malas dengan seringai jahilnya.
"Changmin-sshi, sedang apa di kelasku?" Tanya Yunho sambil menyeka saliva di bibirnya. Sedangkan Jaejoong memilih kembali ke bangkunya dan duduk tenang.
Changmin terkekeh pelan, "Hanya memastikan bahwa pacarku baik-baik saja dan tidak selingkuh." Ucapnya sambil melirik Jaejoong yang entah kenapa membalas tatapan kakaknya dengan kesal.
Yunho tidak menjawab dan hanya menggaruk tengkuknya dengan malas, "Sudahlah, kembali saja ke kelasmu sana." Usirnya dengan nada bosan.
"Kau jahat sekali padaku—" Ucap Changmin sambil menyentuh dadanya sambil berpura-pura sakit hati. Yunho memutar bola matanya kesal.
"Sudahlah Changmin, sana menjauh." Kali ini Yunho bermaksud mendorong tubuh pemuda tinggi itu untuk keluar dari kelas, tetapi Changmin lebih hebat dalam berkelit dan malah menarik lengan Yunho untuk mendekat ke arahnya.
Salahkan gravitasi yang membuat tubuh Yunho menjadi condong kedepan, dan salahkan juga Changmin yang tidak menghindar ketika kepala mereka saling bertabrakan. Seringai tipis terbentuk di wajah pemuda tinggi itu ketika dengan cepat dia menangkap bibir Yunho dengan mulutnya.
Junsu dan Jaejoong terbelalak kaget saat sang Choi tertua memerangkap mulut Yunho dalam kecupan panjangnya. Mulut Changmin memagut penuh nafsu bibir pemuda itu, belum sempat berontak, Yunho sudah merasakan lidahnya di gigit oleh Changmin. Pemuda itu mengerang sakit.
"Ini hukuman karena kau berselingkuh didepanku." Desis Changmin dengan seringai khasnya. Kemudian kembali mencumbu mulut Yunho lebih panas lagi. Erangan dan decakan basah terdengar hingga menggema di kelas yang masih kosong itu. Bahkan Jaejoong harus menahan getar amarahnya melihat percumbuan yang ada didepan matanya.
BRAK!—Jaejoong menggebrak meja. Dia menggeram murka menatap kakaknya.
Changmin yang merasa di tatap penuh nafsu membunuh oleh sang adik, hanya berbalik malas sambil bersender manja di pundak Yunho.
"Oh—pagi adikku." Sapa Changmin dengan senyum tipisnya. "Aku tidak melihat kau ada disana." Sambungnya yang kentara sekali ada nada berbohong dalam suaranya.
Jaejoong mengepalkan tangannya penuh emosi, "Untuk apa kau kesini? Pergi sana ke kelasmu!" Seru pemuda blonde itu.
"Oh—kau cemburu melihat kemesraanku dengan Yunho?" Goda Changmin yang malah memperkeruh suasana kelas.
"Cemburu?! Untuk apa aku cemburu dengan pasangan bodoh seperti kalian?!" Tukas Jaejoong lagi. Yunho yang mendengar perkataan pemuda itu hanya berdecak kesal.
"Kau tidak perlu mengataiku bodoh, Jaejoong. Itu keterlaluan." Kata Yunho berusaha menahan amarahnya. Sayangnya, jawaban dari Yunho makin membuat Jaejoong mengamuk.
"KAU MEMANG BODOH!—SIFATMU!—SIKAPMU!—SEMUANYA!" Jerit Jaejoong.
"HENTIKAN OCEHANMU, JAE!—KATAKAN SAJA KAU CEMBURU KARENA TIDAK PUNYA PACAR!" Balas Yunho yang tak kalah emosinya.
Changmin yang tadinya tersenyum jahil berubah menjadi raut ngeri saat Jaejoong mengeluarkan aura hitam diseluruh tubuhnya. Sepertinya aku kelewatan bercandanya, Sial! Rutuk Changmin dalam hati.
"BAIK!—AKAN KUBUKTIKAN BAHWA AKU BISA PUNYA PACAR JUGA!" Teriak Jaejoong sambil menggebrak meja malang itu dengan kepalan tangannya.
.
_End Of Flashback_
.
.
Dan begitulah nasib Junsu. Menjadi saksi bisu tentang pernyataan terang-terangan Jaejoong bahwa dia akan mencari pacar. Pemuda itu berharap dia bisa menengahi pertarungan 'debat pendapat' antara Jaejoong dan Yunho. Nyata nya, dia malah ketakutan dan gemetaran di pojok kelas saat melihat perkelahian dua temannya itu. Sedangkan Changmin? Oh Bitch Please—Jangan tanyakan pemuda jahil itu, karena Changmin memilih berlenggang keluar kelas sambil tertawa geli meninggalkan adiknya dan Yunho yang masih perang pelotot-pelototan.
Junsu berjalan pelan menuju Jaejoong, mencoba menyembunyikan senyum takut-takutnya, "Jae—mau ke kantin? Sepertinya para guru sedang rapat kepengurusan sekolah." Ajak pemuda itu.
Jaejoong mendengus, "Tidak perlu—" Ucapnya kasar, "aku masih ingin belajar disini." Katanya seraya terus membaca buku ajar Fisika nya.
Yunho yang tidak jauh berada disana hanya medengus pelan, "Bilang saja kalau kau sebenarnya ingin bersamaku di kelas ini." Ucapnya dengan nada mencemooh yang kentara sekali. Bahkan Junsu harus melotot marah ke arah Yunho untuk mengunci bibirnya itu.
BRAK!—Jaejoong menggebrak meja sambil berdiri menantang Yunho. "Kau bilang apa?!"
Yunho mendengus kesal, dia menendang meja dihadapannya kemudian bangkit dari kursinya. Mata kelamnya menatap tajam pada Jaejoong. "Katakan sejujurnya!—kau sebenarnya menyukaiku kan?!" Serunya lantang yang membuat beberapa siswa dikelas menatap Yunho dan Jaejoong bergantian.
Jaejoong mengepalkan tangannya, "Apa?! Menyukaimu?!—JANGAN MIMPI, YUN!" Raungnya murka.
Yunho mendengus makin keras dengan tawa meremehkan, "Oh benar juga!—kau kan menyukai ayahmu sendiri!" Seperti tersadar dengan perkataannya, Yunho menatap Jaejoong dengan pandangan terkejut dan tatapan bersalah.
Oh sial!—mulutku ternyata lebih brengsek daripada otakku, Umpat Yunho dalam hati.
Pernyataan Yunho barusan membuat Jaejoong terdiam kaku. Tubuhnya menegang dan matanya terbelalak tidak percaya. Bahkan telinganya sempat mendengar beberapa bisikan dari siswa yang ada dikelasnya.
Jaejoong menunduk menahan gemetar. Wajahnya memanas. Matanya mengabur karena ada air yang menyelimuti doe eyesnya itu.
"Jae—Jaejoong—" Panggil Yunho dengan suara lirih. Dari sikap pemuda itu, terlihat dia sangat menyesal dengan perkataannya tadi. Tangannya terulur untuk mengelus pipi Jaejoong. Tetapi tatapan marah dan murka dari pemuda blonde itu menghentikan gerakannya.
Tanpa bicara pun Yunho tahu bahwa pemuda dihadapannya ini berusaha menahan tangisnya. Giginya menggertak mengancam pada Yunho. Tubuhnya gemetar menahan kepalan tinju ditangannya.
"Jaejoongie—aku menyesal." Ucapnya dengan nada tercekat, "oh astaga, maafkan aku."
"CUKUP!" Raung Jaejoong murka, beberapa siswa yang ada dikelas terlonjak kaget, begitu juga Junsu. Tetapi Yunho hanya menatapnya dengan pandangan terluka.
"Hentikan bersikap manis padaku, Jung Yunho." Desis Jaejoong lagi.
"Jaejoongie—aku sungguh-sungguh minta maaf." Yunho menyentuh pipi Jaejoong perlahan.
.
PLAK!—
.
Tamparan melandas dengan cepat dan keras di pipi kiri pemuda brunette itu. Sekali lagi seluruh siswa dikelas terkejut termasuk Junsu yang berlari mundur di pojokkan kelas karena ketakutan.
"Jangan. Berani. Menyentuhku. Lagi." Desis Jaejoong dengan gertakan gigi yang benar-benar murka.
Pemuda blonde itu berbalik lalu berjalan keluar dari kelas menahan luapan tangis dan emosinya. Meninggalkan Yunho yang terdiam menyesal di kelas.
"Yun—" Junsu memanggil dengan cicit kecil. Yunho tidak menanggapi panggilan sahabatnya itu dan terduduk lemas di kursi. Mata kelamnya yang tadi jernih kini berembun dengan air mata yang siap tumpah.
Junsu bingung harus melakukan apa selain menepuk pundak Yunho pelan, "Hei—" Panggilnya lagi, "—kalau kau menyukainya, cukup kejar dia. Percuma menangis. Kau tahu—pemuda tidak menangis tetapi bertindak."
Yunho menenggelamkan wajahnya di telapak tangan sebentar. "Ya—aku tahu." Ucapnya pelan.
Junsu tersenyum setelah melihat Yunho mendongakkan wajah dengan senyum yang penuh seringai bersemangat. Dan Junsu tahu apa artinya seringai itu. Dia selalu mengetahui sepak terjang pemuda itu dari kecil. Setiap Yunho tersenyum seperti itu berarti akan ada sesuatu yang ingin dicapainya tanpa kenal lelah dan putus asa. Tetapi untuk saat ini, Junsu yakin, Yunho ingin mengejar Jaejoong dan mendapatkannya kembali. Ah—kisser machine yang hebat. Bahkan kalau rusak pun dia akan memperbaiki dirinya sendiri.
.
.
.
_Kediaman Choi, Pukul 01.00 Siang_
Kyuhyun menegak teh hijau yang disediakan oleh tuan rumah, rasa haus di tenggorokannya sedikit terobati dengan rasa mint di minuman yang diseruputnya.
"Kau suka?" Tanya Siwon yang duduk berhadapan dengannya.
"Ya—kebetulan sekali aku sangat haus." Ucap Kyuhyun sambil tersenyum manis. Siwon bahkan harus menahan senyum tipis di bibir datarnya itu.
"Kau mau cemilan, Kyuhyunie?" tawar Siwon sambil beranjak untuk menuju dapur. Kyuhyun langsung menahannya dengan menarik hakama sang tuan rumah.
"Ti—tidak perlu repot-repot, Siwon." Jawab Kyuhyun dengan kikuk. Dia merasa tidak nyaman kalau pekerjaan Siwon harus terganggu karena dirinya.
"Tidak repot—lagipula semua naskahku sudah hampir selesai kok." Balas Siwon lagi.
Kyuhyun terdiam gelisah kemudian dia mengangguk setuju. "Baiklah—" Kata pria itu dengan terpaksa. Mata jernih Kyuhyun menatap sosok Siwon yang memasuki dapur, sedikit geli melihat sikap ramah namun terkesan dingin dari sosok seorang pria Choi. Ah—mungkin Kyuhyun ingin melihat sosok lain dari Siwon sendiri. Misalnya saja cara senyumnya, seringainya atau cara dia menggoda.
PRANG!—Suara piring pecah membuat tubuh Kyuhyun menegak.
"Siwon? Ada apa?" Seru Kyuhyun yang berjalan khawatir ke arah dapur. Langkahnya terhenti ketika melihat Siwon tenggelam dalam tepung putih yang mengotori wajahnya. Sedikit menahan gelak tawa, Kyuhyun bergerak ke arahnya untuk membantu pria itu membersihkan diri.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan sih?" Tanya Kyuhyun penasaran. Siwon hanya diam, berusaha menyembunyikan rona merah dari rasa malunya, dan ternyata cukup berhasil melihat dia tetap memasang wajah stoic-nya.
"Aku hanya ingin mencoba membuat kue. Soalnya cemilan di kulkas tidak ada. Tetapi ternyata, aku malah menumpahkan tepungnya. " Jawab Siwon lagi dengan nada seolah-olah berbisik, sebab dia sangat malu harus memberitahu pria brunette itu kejadian sebenarnya. Kyuhyun bahkan harus menutup mulutnya agar tidak memekik girang seraya berteriak 'IMUTNYA!'.
Kyuhyun berdehem pelan, mencoba menahan rasa ingin memeluk beruang besar yang imut namun berbahaya seperti Siwon ini, "Kalau begitu, biar aku saja yang membuatkan kue untukmu, oke?"
Siwon menatap Kyuhyun kaget, "Tidak perlu. Tidak usah." Tolaknya secara halus.
"Sudahlah—tidak apa-apa. Duduk dan tunggulah di meja makan." Tunjuk Kyuhyun pada kursi yang ada disampingnya. Siwon terlihat enggan namun akhirnya menuruti keinginan sang editor yang merangkap menjadi koki dadakan itu.
Kyuhyun mengambil celemek yang ada di salah satu lemari dapur kemudian memakainya dengan cepat. Tangannya bergerak lincah untuk mengambil beberapa butir telur dan segelas air. Tepung yang tersisa diambil untuk di kocoknya dalam sebuah mangkuk besar yang sudah diberi gula dan sedikit pengembang kue.
Siwon yang duduk dimeja bahkan harus tercengang melihat kegesitan dan kelincahan pria manis itu. Bergerak kesana, mengocok adonan, bergerak lagi kesini, mengukur takaran adonan. Astaga—Kyuhyun bahkan mengalahkan koki paling handal di kota ini. Hingga—
BRAK!—Tanpa sengaja Kyuhyun jatuh terguling saat kakinya tidak sengaja tersenggol sisi meja. Mangkuk adonan melayang diudara selama beberapa detik kemudian meluncur cepat di kepalanya. Membuat cairan lengket putih itu jatuh di wajah dan menciprati baju serta celemeknya.
Siwon yang kaget langsung bergerak untuk membantu Kyuhyun berdiri. Tubuh pria brunette itu gemetaran dan tangannya terkepal di kedua sisi.
"Kyuhyun—?" Tanya Siwon heran melihat kondisi pria itu yang aneh.
Kyuhyun tidak merespon ataupun menjawab, dengan sedikit khawatir Siwon menarik dagu pria itu untuk memandang wajahnya.
Siwon terdiam kaku ketika melihat wajah Kyuhyun. Matanya terlihat sedih dengan airmata siap tumpah, bibir digigit untuk menahan isak tangis dan tatapan 'aku-gagal-buat-kue-maafkan-aku' yang terpancar dari pandangannya, membuat Siwon harus menahan degup jantungnya yang langsung terpompa lebih cepat.
Siwon mengalihkan pandangannya dari pandangan Kyuhyun, badannya bergetar menahan hasrat ingin memeluk kucing manis dihadapannya ini.
"Siwon—" Panggil Kyuhyun lirih, "—kuenya gagal." Sambungnya yang menunduk penuh sesal. Siwon tidak tahu harus melakukan apa selain tersenyum tipis.
"Ya—tidak apa-apa." Jawab pria Choi itu tenang.
"Maaf—" kali ini suara Kyuhyun semakin lirih dan penuh rasa menyesal.
"Sudah kubilang, tidak apa-apa Kyu—" Ucapan Siwon terhenti saat melirik Kyuhyun yang terisak dalam diam. Oh astaga—jangan menangis, aku sangat tidak tahan melihat orang yang menangis, jerit Siwon dalam hati.
Pria Choi itu mengelus wajah Kyuhyun kemudian mendekatkan bibirnya untuk menjilat pipi kenyal sang Jung. Kelakuan sang tuan rumah sontak membuat Kyuhyun kaget dengan wajah memerah.
"Si—Siwon?" Ucap Kyuhyun pelan. Yang dipanggil hanya tersenyum tipis.
"Manis. Adonan buatanmu manis." Jawab Siwon yang langsung membuat Kyuhyun hampir menghantamkan kepalanya ke tembok karena girang.
"Te—terima kasih." Balas Kyuhyun yang berusaha menyembunyikan rasa panas di wajahnya.
"Boleh aku menjilatnya lagi?" Pinta Siwon yang mendapat tatapan terkejut dari sang Jung manis.
"Ja—jangan! Adonannya kotor."
"Tidak apa-apa. Aku suka adonan kue buatanmu. Boleh kan?" paksa Siwon lagi yang mulai mencondongkan tubuhnya ke arah pria dihadapannya.
Belum sempat Kyuhyun menjawab, sebuah jilatan langsung mampir di keningnya dan kelopak matanya. Pria manis itu harus menahan getar tubuhnya saat hembusan napas Siwon menyentuh kulit wajahnya.
"Si—Hmmphhh—" protesan Kyuhyun terhenti saat bibirnya dijilat dan dihisap oleh mulut sang pria Choi.
"Kau—manis." Pujian singkat dari Siwon sanggup melelehkan jantung dan organ dalam tubuh Kyuhyun. Rasanya dia rela diperlakukan apapun juga oleh pria berambut gelap dihadapannya ini.
"Bajumu kotor Kyuhyun. Kita lepas saja ya?" Tawar Siwon yang entah kenapa langsung disetujui oleh Kyuhyun. Pria itu seperti terhipnotis oleh kelembutan dan suara bariton berat pemilik onyx.
Kyuhyun melepaskan celemeknya kemudian membuka kancing kemejanya satu persatu. Sedangkan bibirnya terus dibuat nyaman oleh hisapan lembut sang Choi. Tangan Siwon merayap menuju leher Kyuhyun dan menariknya untuk memberi sebuah pagutan yang lebih panas. Kyuhyun.
"Siwonie—aku malu." Kata Kyuhyun lirih sambil menutupi bagian bawah tubuhnya yang telanjang sempurna. Dan itu makin membuat tubuh Siwon memanas karena nafsu.
"Tidak apa-apa." Sahut Siwon lembut seraya memberi kecupan singkat dikening Kyuhyun, "Kita akan membuat kue dengan caraku sendiri." Lanjutnya yang membuat Kyuhyun bingung.
"Kue?—" Tanya Kyuhyun tidak yakin. Siwon hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Ya—sekarang kau berbaring di atas meja." Tunjuk Siwon pada meja makan dihadapan mereka. Pria itu menurut dan tidur diatas bidang datar itu tanpa banyak protes.
Siwon mengambil beberapa adonan yang tercecer dan melumurinya di atas tubuh Kyuhyun. Suara erangan dan dengusan terdengar dari bibir pria brunette didepannya saat tangan Siwon mengelus area bawah tubuhnya dengan lembut.
"Kau suka?" Goda Siwon sambil mencium bibir Kyuhyun.
"Hmphh—suka—mhhphh—" Tangan Kyuhyun menarik kerah Siwon untuk memberi kenikmatan lebih padanya. Siwon menurut dan kembali mencumbui bibir manis itu dengan lebih intens.
Tangan Siwon menggenggam erat benda keras milik Kyuhyun yang berdenyut. Membuat tubuh putih kecil itu tersentak kebelakang dengan punggung yang melengkung. Lenguhan kembali terdengar saat Siwon mengocok penis Kyuhyun dengan cepat.
"Ahhh—Siwon—Hgghhh—" Tubuh Kyuhyun bergetar hebat. Dia tidak pernah merasakan nikmat seperti ini sejak Victoria meninggal. Dan Siwon bisa memberi kenikmatan yang melebihi istrinya.
"Suka?" Tanya Siwon yang mendapat anggukan pelan dari sang penerima. "Kalau begitu, kita akan mulai dari resep yang pertama." Ucap Siwon misterius. Kyuhyun meliriknya bingung.
"Resep? Memangnya kau ingin membuat apa?"
"Kau akan tahu. Sekarang berbaliklah dan taruh kedua lututmu diatas meja." Jelas Siwon sambil membantu Kyuhyun berbalik dan menyuruh tubuh itu untuk merangkak layaknya bayi.
"Begini?" Tanya Kyuhyun yang disambut anggukan kecil dari sang Choi.
"Pintar. Sekarang biarkan aku memerah 'susu' nya."
"A—Apa?! Su—Ahhkkk!" Belum sempat Kyuhyun protes, Siwon sudah terlebih dahulu menyentuh penis Kyuhyun kemudian mengocoknya dengan sangat cepat dan keras. Membuat bunyi becek yang terdengar di dapur yang sepi itu. Siwon menyeringai.
"Ah—susunya belum keluar juga. Mungkin sedikit perahan yang sangat keras?" Goda Siwon dengan senyum tipisnya.
"Ahhkk!—Siwon—Ahhhk—penisku—Stop—ahhkk!" Kyuhyun mencengkram meja lebih keras. Tubuhnya tersentak beberapa kali saat Siwon 'memerah' penisnya makin keras. Tubuhnya bergetar hebat, sedangkan mulutnya terbuka dengan air liur yang terus menetes dari ujung lidah. Matanya terbalik dengan penuh kenikmatan.
Siwon yang melihat hanya menyeringai senang. Dia semakin mengocok penis Kyuhyun dengan cepat—dan semakin cepat. Membuat sang Jung terengah-engah kehabisan napas.
"Hgghh—Siwon—Agghh! Perah aku lagi!—Ahhhhkk—Enak—" Racau Kyuhyun yang tidak tahan menerima sengatan kenikmatan di bagian penisnya. Batang kemaluannya berdenyut saat suara becek itu semakin terdengar makin keras.
Siwon merasakan bahwa penis Kyuhyun berkedut-kedut ditangannya siap menembakkan lahar putih. Sang Choi menyeringai.
"Ah—sepertinya susunya akan segera keluar." Ucap Siwon lagi.
"Ahhhkk!—Keluar—Hgghhh—Susunya keluar! Ahhhhkk!" Tubuh Kyuhyun mengejang, dia melebarkan kakinya dan siap menembakkan sperma miliknya ke atas meja. "Agghhh!—" Erangannya membuat sentakan cairan lahar putih terciprat di sisi meja dan tangan Siwon. Tubuhnya tersengal-sengal kemudian jatuh di atas meja.
Siwon menjilat sperma Kyuhyun di telapak tangannya lalu menyeringai, "Adonannya masih belum selesai. Kita harus mengocoknya dulu." Kata Siwon yang membuat mata Kyuhyun melebar.
Seperti mengerti maksud dari perkataan sang Choi, Kyuhyun menatapnya dengan terbelalak, "Siwon jangan—" pria brunette itu berusaha beringsut dari meja, tetapi kakinya ditahan oleh tangan Siwon. Pria berambut gelap itu tersenyum.
"Jangan lari—" Siwon membuka celananya, "—kita harus membuat 'kue' sampai selesai." Sambungnya lagi dengan penisnya yang sudah berdiri menantang.
Kyuhyun meneguk air liurnya. Tubuh sempurna dihadapannya membuat pria brunette itu pasrah ketika Siwon membalikkan tubuhnya untuk telentang di atas meja. Pahanya dibuka lebar dan lubang bagian bawahnya disentuh oleh Siwon.
"Siwon—Hngghhh—" Tubuh Kyuhyun menggeliat pelan ketika jari sang dominan menyeruak masuk ke dalam lubangnya.
"Bagaimana? Enak?" Goda Siwon sambil mengecup wajah Kyuhyun yang sangat sensual.
"Enak—Ahhh—Ahhh—" Tubuh pria itu kembali tersentak saat jari-jari nakal Siwon menyentuh prostat miliknya.
Siwon bersiul takjub saat penis Kyuhyun kembali berdiri dengan gagahnya. Dia menjilat bibirnya senang.
"Sepertinya kita sudah memiliki 'susu'—" Siwon menyentuh ujung penis Kyuhyun, "—dan 'dua telur'—" Jari Siwon bergerak untuk mencengkram dua buah bola dibawah penis Kyuhyun, "—kalau begitu, kita tinggal mengocoknya." Siwon menyeringai senang sambil mengelus lubang anal Kyuhyun.
Siwon memposisikan kejantanannya di depan lubang Kyuhyun, kemudian memasukkan miliknya secara perlahan. Kyuhyun mengerang keras ketika merasa bagian tubuh bawahnya dirobek secara paksa.
"Siwon—Ahhhkk! Stop!—Ahhh—"
"Tidak akan. Aku ingin membuat kue." Jawab Siwon sambil kembali mendorong kejantannya untuk masuk ke lubang kenikmatan itu kemudian mendiamkannya sebentar disana. Setelah tubuh Kyuhyun tenang, Siwon kembali mendorong miliknya hingga sang Jung tersentak kaget.
"Wonie—Ahhhkk—" Kyuhyun merasakan Siwon bergerak maju-mundur dibawah tubuhnya. Dorongan dan hentakan. Kali ini Kyuhyun harus menahan air matanya yang siap tumpah ketika rasa perih menjalar dari bagian analnya.
"Kau suka Kyuhyunie? Ahhh—aku ingin mengocokmu lebih cepat lagi." Ucap Siwon sambil terus menyodok bagian lubang virgin itu dengan keras.
Kyuhyun tidak sanggup berontak. Tubuhnya pasrah dan menerima sodokan penuh nafsu sang pendominan. punggungnya melengkung ke atas ketika rasa nikmat menghajar prostatnya. Dia mengerang pelan, melenguh kecil dan bernapas pendek-pendek. Kyuhyun tidak sanggup menerima semua kenikmatan sakit ini. Tubuhnya lemah.
"Kyuhyunie—ahhh—tetap sadar. Jangan pingsan." Pinta Siwon yang memeganggi pinggang pria itu kemudian mengocok lubangnya semakin cepat. Tubuh Kyuhyun terhentak berkali-kali. Mulutnya terbuka dengan saliva yang menetes. Matanya terbalik nikmat dengan air mata. Ah—betapa Siwon menyukai wajah penuh keerotisan dan nafsu itu.
"Shiwhonie—Nikhmat—Ahhhh—Ahhh—" Erang Kyuhyun yang membiarkan tubuhnya tersentak karena lubangnya dihajar penis Siwon dengan kasar dan cepat.
"Ahkk—Kyuhyun—Ahhh—Aku tidak tahan—" Siwon mengangkat pinggang Kyuhyun. Membuat tubuh kecil itu melengkung ke atas dengan tangan yang terkulai di meja. Dia tidak sanggup berpegangan lagi dan membiarkan tubuhnya di gagahi oleh Siwon yang memperlakukannya layaknya mainan sex.
"Kyu—Agghhh!—" Otot perut Siwon mengejang, penisnya tersentak beberapa kali kemudian menyemprotkan cairan putihnya di dalam tubuh Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun sendiri, menggigit bibirnya ketika rasa nikmat hampir memuncak. Kakinya terbuka lebar, napasnya tersengal-sengal kemudian—
"AARGHHH!—" Kyuhyun berteriak keras saat tubuhnya gemetaran dan mengejang ketika rasa panas cairan putih mulai tumpah dari ujung penisnya. Terciprat di wajahnya yang erotis.
Kyuhyun menjilat spermanya sendiri yang ada di pinggir bibirnya.
Senyuman Kyuhyun membuat Siwon hampir menyeringai senang.
Ah—mungkin Siwon akan dikutuk Tuhan karena membuat pria polos dihadapannya ini menjadi lebih erotis dibandingkan seorang—pelacur.
.
.
.
_Shinki Gakuen, Pukul 02.00 Siang_
Yunho berlari tidak tentu arah untuk mencari sang Choi bungsu. Mata kelamnya berusaha mencari sosok angkuh itu di seluruh penjuru sekolah. Derap langkahnya terus menggema di lorong koridor kelas. Sesekali dia mengumpat kesal saat orang lain mengganggu jalannya.
Yunho mencari Jaejoong dikerumunan kantin. Nihil! Di perpustakaan—tidak ada! Di ruang Uks—tetap tidak kelihatan!
Hampir saja pemuda itu menyerah dan memilih kembali ke kelas saat tanpa sengaja, matanya tertumbuk pada sesosok bayangan Jaejoong di dekat tangga.
Pemuda blonde itu berdiri disana dalam diam.
Yunho menampilkan senyum lebarnya, ia berlari untuk menemui sang pemikat hatinya. Pemuda itu juga berencana untuk menyatakan cintanya pada Jaejoong. Sekarang. Dan saat ini juga. Persetan dengan Changmin!—yang ada di otaknya hanya Jaejoong. Jaejoong. Dan Jaejoong.
"JAEJOONG!—" Yunho memanggil penuh semangat. Pemuda blonde itu menoleh sebentar. Matanya tidak menunjukkan sinar terangnya, hanya tatapan sayu dan sendu.
Yunho memperlambat larinya karena bingung. Ada apa? Kenapa? Pikirnya dalam hati. Apakah Jaejoong masih marah padaku? Atau...
Lalu detik selanjutnya, mata nya terbelalak kaget ketika melihat seorang pemuda yang merangkul bahu Jaejoong penuh kemesraan.
Pemuda itu ikut memandang ke arah Yunho dan melambai girang, "Hoi Yunho!—Sepupu kesayanganku! Sekarang aku pindah ke sekolah ini!" Teriaknya antusias.
Yunho membelalakan matanya, "Ki—Kibum?!"
Pemuda yang dipanggil Kibum hanya terkekeh kecil sambil menggaruk rambut merah terangnya. "Yooo!—sekarang aku punya pacar." Tunjuk Kibum pada Jaejoong. Sedangkan orang yang ditunjuk hanya terkejut dan tidak menyangka bahwa orang yang ditembaknya merupakan 'sepupu' dari Yunho. Entah kesialan atau keberuntungan, yang pasti Jaejoong ingin Yunho mengakuinya bahwa dia juga bisa punya pacar.
"Dia menembakku beberapa menit yang lalu, dan aku menerimanya." Ucapnya lagi tanpa melihat keterkejutan di mata Yunho.
"Lagipula, pemuda ini cantik." Lanjut Kibum sambil mencium pipi Jaejoong. Pemuda blonde itu menunduk saja.
Yunho terhenyak kaget. Apa dia salah dengar? Tadi Kibum bilang apa?
"Kau mencintaiku kan, Jaejoong?" tanya Kibum penuh nada menggoda yang ditanggapi Jaejoong dengan anggukan pelan.
Apa?—mencintai?—Yunho yakin telinganya memang salah dengar. Bagaimana bisa dua orang yang baru bertemu langsung mengatakan 'cinta'? Mustahil!—Kibum dan Jaejoong pasti bercanda.
Jaejoong mendongak menatap Yunho tajam. Bukan tatapan angkuh dan marah. Melainkan hanya tatapan—terluka?
"Ya—Aku mencintai Kibum dan sekarang pacaran dengannya." Ucap Jaejoong tegas dengan nada getir yang disembunyikannya.
.
Yunho terdiam kaku. Tubuhnya seakan-akan dipahat oleh batu keras. Pikirannya menghitam karena shock. Kemudian mulutnya terbuka perlahan. "Jaejoongie—" pemuda itu memanggil dengan nada lirih dan parau.
.
"Selamat ya—" Yunho memaksa senyum tipis di bibir getirnya.
.
Selamat, karena kau sudah berhasil menghancurkanku—
.
—Terima kasih banyak, Jaejoong.
.
.
.
TBC
.
.
special thanks to : nunoel31, GanymedeSeth, Cherry YunJae, Keybin, Lady Ze, kikikyujunmyun, sarang, irengiovanny, NoNo, , diamond's, alwaysyunjae, jae sekundes, nickeYJcassie, uknowme2309, iloyalty1, jaejae :*
sorry for typo thx for reading ^^
