ORE MONOGATARI!!! - My Love Story!!!

(NejiTen Version)

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: Neji Hyuuga x Tenten

Rated: T

Genre: Romance

Terinspirasi dari Film

ORE MONOGATARI!!! ( J-Movie )

WARNING:

Typo(s), AU, OOC, Alur berantakan, EYD amburadul, Garing. dilema joness dll.

Don't like don't read!

Summary:

The story begin about Tenten, a simple girl, tomboy, kind hearted, loving helpless, singles, versatile, sports and martial arts champion who doesn't have much luck with man, as every man she likes ends up falling for his best friend, Hyuga Hinata and Haruno Sakura, who is charming and beautifull. This all changes when she meet Hyuga Neji, a handsome man who, above all other expectations, falls in love with Tenten, beginning a unique love story

Happy Reading ~~

-000-

Chapter 04 - Sleepwalking Syndrome

Tenten terkantuk. dirinya benar-benar kelelahan dan dirinya butuh istirahat untuk memulihkan tenaganya besok.

Satu kata itu mencerminkan semua yang melanda dirinya, ngantuk.

Tenten tersaruk-saruk menghampiri kasurnya. Langit-langit gymnasium tidak terlihat begitu jelas lagi ketika dia berbaring.

Gymnasium ? Oh ya, dia lagi menginap di sana dan menggagalkan rencananya liburan bersama hinata dan sakura gara2 gagal move on sama bang neji. Dia menginap bersama anggota tim lain dalam rangka latihan neraka yang dicetuskan ketua baru mereka sendiri.

Dia sih senang-senang saja, malah itu impiannya. Dua hari ototnya terus bekerja hampir setiap detik. Melompat, berlari, memukul—lama-lama yang diingatnya cuma jurus karate, bukan lagi rumus matematika yang harus digunakannya untuk tugas yang dikumpulkan minggu depan.

Selain itu, gedung olahraga kini sepi bukan main. Orang-orang terlelap bagaikan bayi polos, terkecuali bunyi dengkuran Rock Lee yang mirip sirine mobil.

Tenten mengerjap pelan, menyeka air matanya dan menoleh ke samping. Futon tempat Neji tidur masih kosong.

Kemana ketuanya itu? Pergi makan? Tapi ini sudah larut malam.

Apa jangan-jangan masih berlatih? Bukannya tadi Neji bilang sudah mau berhenti?

Rasa lelah membuatnya malas untuk beranjak menuruti rasa penasarannya. dia tertidur kembali.

1 jam kemudian...

"Egghhh" Erang seorang gadis sembari melempar selimutnya, beranjak ke gymansium kedua tanpa membuat suara berarti.

Sesampainya di gedung nomor dua, gedung yang sering dipakai tim karate untuk berlatih, lampu masih bersinar terang.

Dan Hyuga Neji masih tegap berdiri melancarkan jurus2 karate dengan tangan dan kakinya hingga desingan samar terdengar.

Pemuda itu tidak menyadari seorang gadis mendekati nya antara alam bawah sadarnya. Ya, Tenten si gadis pujaan hatinya mendekat. Inilah satu kelemahan tenten, ketika dirinya cukup lelah, syndrom sleepwalkingnya akan kambuh dimanapun tempatnya.

Neji memang keras kepala kalau sudah menyangkut pertandingan itu. Mungkin yang bisa menghentikan kegiatannya itu cuma rasa lelah atau luka permanen.

"Nejiiikuun..." Katanya mendorong pintu.

Yang dipanggil berjengit, bulu romanya berdiri, matanya terbelalak syok.. secepat kilat menoleh dan berangsur tenang menemukan sosok nyata, bukannya melayang-layang seram.

Ia berdehem menghilangkan dahaknya dan menyeka keringat. "Belum tidur?"

Gadis itu masih diam, pandangannya kosong sembari mengucek matanya. "Nejiiikuuunn..."

Matanya sudah setengah terpejam. Lantas duduk bersandar ke dinding, menguap lagi.

Padahal biasanya Tenten yang punya cadangan energi semangat, tapi kali ini dia malah tumbang duluan.

Namun, berkebalikan dengannya, Neji si ketua baru justru mengalahkannya dengan energi yang seolah tak pernah habis. Kira-kira jika diilustrasikan, Tenaga Neji lebih banyak memproduksi sendi-sendi ototnya. Terbukti dari konsen Neji yang lebih memilih melatih semua kemampuannya untuk pertandingan minggu depan.

Yah, tidak salah sih, toh Neji salah satu pelatih terbaik di KHS. Malah aneh kalau tidak pakai segala pertimbangkan sebelum bertanding.

Balik ke kenyataan, Tenten yang bersih dari keringat dan memakai baju tidur cuma bisa duduk memandang kosong pemuda itu berlatih.

"Hehe,"

Tawa aneh Tenten sontak menghentikan lompatan Neji. Bola bersamaan dengan kakinya yang mendadak menapak tanah.

"Apanya yang lucu?"

"Tidak ada." Kata Tenten, masih setengah sadar. Senyum mengembang di wajah manisnya, yang sayangnya terhalang lutut.

Lalu hening.

Hening yang lama sekali.

Karena kelopak Tenten mulai turun setengah bola, Neji pikir anak itu ngigau dan hendak melanjutkan latihannya.

"Bodoh—"

"Lenganmu..." Tiba-tiba Tenten menjulurkan tangan, menyentuh lengannya. "Lenganmu kuat, aku sukaa"

Pemuda itu terlonjak kaget pada sentuhan itu. Kepalanya mendadak kosong, terpana pada wajah Tenten yang polos tersebut. Dia memang tidak pintar mendeskripsikan sesuatu, tapi Tenten saat ini benar-benar menggemaskan.

" Nee , Neji-kun , temani aku tidur." Rengeknya, merentangkan tangan ke udara seperti anak kecil minta gendong. Lalu nyengir polos, memberi efek manjanya berkali-kali lipat.

Nyatanya, tubuh mungilnya mendukung kiasan itu.

Dan nyatanya lagi, Neji siap mimisan kalau saja punya daya tahan tubuh di bawah rata-rata.

Pemuda itu menghela napas kalem, menutupi semburat merah di pipi. Dia tidak suka yang imut-imut, tapi fakta Tenten menguap lebar dan terus-terusan merengek membuatnya ingin segera merengkuhnya tanpa mau melepaskannya sedikit pun.

"Lama!" Belum sempat Neji mencerna artinya, tahu-tahu gadis itu menerjangnya dengan lompatan andalannya. Sukses menindihnya tanpa ampun.

"Tenten! Apa yang kauu—" Neji yang hendak mendorong Tenten terhenti mendengar dengkuran damai gadis itu.

Iris lavendernya melebar lucu merasakan lingkaran tangan Tenten berada di pinggangnya. Suara kecap-kecap bibir mengiringi dengkurannya.

"Neji kun, baumu mirip aroma tanah sehabis hujan." Lenguh Tenten lirih, mengelus-elus pipi kanannya ke dada Pemuda itu yang basah akibat keringat. " Aku menyukaimu nejikuun"

Anggap itu lelucon. Ayo, anggap linduran itu lelucon dan pukul dirinya sampai sadar! Tapi Hyuga Neji tidak bisa. Dia malah gelagapan, wajahnya memerah tanpa sebab, bahkan tangannya terangkat bingung di udara.

Kamisama, degup jantungnya yang tidak stabil justru makin membuat gadis itu lengket. Tersenyum tanpa dosa dalam tidurnya.

Pemuda itu mengambil napas, membuangnya, mengambilnya lagi kemudian menghembuskannya. Terus begitu sampai dia mampu mengontrol degup jantungnya dan mampu menatap Tenten dari atas.

Sejujurnya, pahanya mulai kesemutan menahan bobot gadis ini. Belum lagi punggungnya yang harus dia tegakkan agar tidur Tenten tidak terasa menyakitkan.

Menghela napas gusar, Neji menyeret tubuhnya mendekati dinding. Menumpukan bagian belakangnya dan mendesah lega. "Begini lebih baik."

Ia mendongak tinggi-tinggi ke langit-langit gymnasium, bertanya-tanya opsi mana yang sebaiknya ia pilih. Saat asik menimbang-nimbang, mulutnya menguap lebar. Rasa kantuk perlahan menyerangnya.

Ia mendesah pasrah, pemuda itu membalas pelukan tenten, semata-mata menyamankan posisi kakinya yang jadi bantalan duduk gadis itu. Kemudian, segera saja dia menutup matanya dalam mimpi indah.

Keesokan paginya,

"Tenten, bangun—" Kening Shion mengerut heran, menyibakkan selimut Tenten untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. "Hei, apa ada yang melihat Tenten?"

"Neji senpai sepertinya juga hilang." Kata Kiba mengamati kedua futon kosong tersebut.

"MINNA!" Teriakan khas Rock Lee menggema dashyat dari celah pintu. "Aku menemukan sesuatu yang menarik di gymnasium sebelah!"

Semuanya saling melempar tatapan bingung, tapi tetap mengekori langkah Rock Lee.

Ketika pintu kembar itu digeser, sepuluh anggota senior cengo melongo dengan bibir terbuka.

"Ha... Haha... HAHAHA APA-APAAN ITU?!" Tawa Kiba meledak, yang langsung ia sumpal sendiri pakai dekapan tangan.

Shion kedip-kedip tidak percaya.

Temari rahangnya nyaris menyentuh tanah.

Shikamaru matanya membulat

shock.

Sai tangannya menggerayang di udara dan mulai berdoa.

Sementara Iruka dan Kakashi bertukar pandang,

Neji sama Tenten masih mempertahankan posisi romantis mereka dari semalam.

"Hei, Neji, Tenten..." Kakashi berjongkok di samping mereka, tusuk-tusuk pakai jari. Ia bersiap menonton reaksi mereka. Dan ia siap mengeluarkan tawa bahana bagaikan jurus petir andalannya.

"Tunggu sebentar," Sela Rock Lee mendatangi kumpulan orang-orang bodoh itu dan memotret pasangan baru itu tanpa dosa. Lumayan buat koleksi bahan ejekan.

"Apa-apaan kalian ini?" Iruka, sebagai bapak yang baik, melerai dua orang tidak berkepentingan itu dari TKP dan berjongkok mengamati.

"Ada apa, Iruka? Kenapa tidak dibangunkan?" Tanya Kakashi heran.

"Begini saja," Iruka akhirnya berdiri, berbisik misterius pada Kakashi.

"Uhm..." Lenguh Tenten. Ia menarik diri tapi punggungnya tertahan sesuatu. Apa? Apa ini? Ia spontan mendongak, terkejut setengah mati mendapati wajah Neji berjarak lima senti darinya. Hanya lima senti.

Ia celingak-celinguk. "Di mana ini?"

"Argh,... Aduh!" Neji mendongak dan ubun-ubunnya menabrak dinding. Kesadarannya berkumpul dalam sekejap.

"N-neejii senpaaì?" Tenten terbata-bata, merangkak menjauhi pemuda itu kaget. "K-Kenapa kau di sini?!"

"Seharusnya itu yang jadi pertanyaanku, Kau duluan yang mendatangiku" Tapik Neji.

"Hah? Kapan?"

"Kau tidak ingat? Makanya jangan jalan sambil tidur"

"Aku sudah sembuh kok, dan kambuh kalau... " kata

kata tenten terhenti, dia baru sadar... penyakitnya belum sepenuhnya sembuh.

Karena pengalamannya yang sering menginap di apartemen sakura menjernihkan ingatannya kalau syndrom itu kambuh kalau dirinya mencapai kelelahan tingkat akut. Dia menatap horor kearah neji mencoba mengingat apa yang dilakukannya semalam, tapi hasilnya nihil hanya sakit kepala yang dirasakannya.

"Tadi malam kau jalan ke sini sambil merengek 'neji senpai.. neji senpai..."

"B beenarkah? Maafkan aku, neji senpai!"

"Ya, kau memang begitu!"di iringi seringai aneh pemuda berambut panjang itu.

"Wah, wah! Cocok sekali! Coba lihat kemari sebentar!"

Saat Neji dan Tenten menengok bersamaan, mendadak terlihat kilatan cahaya lampu. Membutakan mata mereka sesaat.

"Kalian!" Keduanya terperangah.

Gadis bernama Temari menyeringai lebar, dengan tangan memegang kamera. Tepat di sebelahnya, berdiri anggota-anggota lainnya. Mereka juga tersenyum setan sambil memegang kamera serta kertas yang siap ditulis.

"Hehe, bersiap-siaplah mendapat gelar pasangan termesra di KHS" Tutur Temari, memotret lagi.

Raut Neji dan Tenten memucat.

"TIDAK!"

"Bagaimana ini... Bagaimana kalau orang-orang menganggap kita sepasang kekasih?!" Panik Tenten sewaktu berjalan pulang ke rumah sore itu. Suara tawa teman-teman satu tim masih terngiang.

Apa yang akan dikatakan teman-teman sekelasnya nanti? Terlebih lagi, perasaannya dengan neji?!

mungkin gara2 ini neji akan berpikir dia aneh dan menganggap dia gadis agresiff...

Tenten pengen dunia runtuh sekarang juga.

Lalu tiba-tiba Neji bersuara mengagetkannya yang tengah gundah gulana., "Aku tidak peduli tapi kau harus bertàngungjawab."

Ucapan neji seolah menerjang dirinya. Tangannya tersimpan dalam saku sementara tangan lain menggigit bakpao isi kacang, bikin tenten iri setengah mati karena kalah suit sebelumnya untuk mendapatkan bakpao tersebut.

Tenten pasang tatapan memelas. "Tapi kau juga yang salah! Kenapa tidak membangunkanku?"

"Kau yang tidak mau bangun!" Tukas Neji, jelas-jelas bohong.

"Neji san, aku tidak merasakan dorongan apapun saat aku tidur."

"Perasaanmu saja kali."

"Serius! Tubuhku sensitif!"

"Sensitif, apanya" Ungkap neji, menghabiskan bagian terakhir bakpaonya. "Oke, begini saja."

"Huh?" Tenten menghentikan langkahnya, menoleh tepat ke raut serius Neji. "Apa?"

"Yang kemarin jujur atau bohong?"

"Kemarin?" Tenten memutar otaknya, berusaha mengingat-ngingat apa yang dimaksud Neji. Namun tidak ada satupun yang nyangkut di kepalanya.

Tenten mengangkat bahu. "Memangnya apa?"

"Kau mau jawaban dariku?"

Alis kirinya menukik dalam. "Ya?"

" R..A..H..A..S..I..A"

Jangan heran kalau besok mereka anteng-anteng saja menanggapi rumor itu.

To be continued ...

..

Review Pleasee...