A Romantic School life
Previous Chap:
Draco terus menatap punggung Harry sampai masuk kedalam tempatnya bekerja itu tak lupa senyuman hangat yang terlihat tulus di wajahnya. "Aku tak tau rasanya akan sesulit ini... Kurasa aku benar-benar gila kali ini." Batin Draco masih dengan senyuman yang bertengger di wajahnya. Dan iapun langsung memacu mobilnya pergi meninggalkan tempat itu.
" Hah apa maksudmu?... K-kau bilang kalau Potter itu tak mendapat sangsi apa-apa?" Marah Astoria yang tadi sepulang sekolah mendengar berita itu langsung entah dari siapa.
"M-maafkan aku nona, kau tau sendiri siapa , bahkan kepsek sendiri tak bisa melawannya..." Ujar lelaki itu terbata.
"Rupanya kalian benar-benar ingin bermain-main denganku?... Baiklah kita lihat saja nanti..." Batin Astoria marah dan langsung pergi meninggalkan sekolah.
.
.
.
Cast: Draco Malfoy
Harry Potter
Ronald Weasley
Hermione Granger
Astoria Greengrass
Others
Genre : Drama/Romance; school life/
YAOI, BoyXBoy
Pairing : DRARRY
~J.K Rowling~ Harry Potter
Rated : T to M (maybe)
Warning : Typo berserakan, cerita ini asli dari pemikiran saya sendiri.
No flamers, No cry
Don't like, Don't read!
Just click X above and then leave this page
I've already warn you before
.
.
Chap : 3
~Happy Reading...~
.
.
.
"Kurasa kiita sendiri yang harus menanyakan semuanya pada Draco, dia pasti punya alasannya." Ujar Narcissa yang mencoba menenagkan sang suami. Tadi sore sebelum Lucius bersiap pulang, rupanya seorang dari yayasan meneleponnya melaporkan kejadian hari ini. Lucius sedang berfikir keras tentang kelakuan anaknya yang berani-beraninya mengamuk dan mengancam di ruang kepala sekolah, setidaknya itu yang tadi didengar oleh Lucius dari sambungan telefon kantornya.
"Sebaiknya kau jangan terlalu memanjakan anak itu, sekarang kau bisa lihat akibatnya." Lucius mencoba menyalahkan seseorang atas perlakuan anaknya yang kali ini dinilainya telah kelewatan batas.
"Hah. Kita kan belum menanyakan prihal kejadian itu, sebaiknya kita menunggunya pulang dulu, tak baik mengambil kesimpulan sepihak saja." Nampaknya wanita ini tak percaya tentang laporan tadi, lihat saja ia terus membela sang anak. Ia terus saja menghela nafas melirik kearah suami yang tak henti-hentinya memancarkan raut geramnya sedari tadi.
"Bukankah anak itu sudah keluar dari sekolah sejak siang tadi, kenapa sudah sesore ini dia belum pulang juga!" Tak habis-habisnya Lucius menggerutu marah. Dulu Draco adalah anak yang bisa dibilang baik, penurut, tapi semenjak hari itu, hari dimana dia mendengar kedua orang tuanya yang bertengkar hebat dengan melibatkan nama seorang wanita, sejak saat itulah ia mulai membentengi dirinya sendiri dan bersikap lebih dingin pada semua orang.
.
.
Flash back:
"Katakan apa itu semua benar Lucius?" Teriak Narcissa dari dalam kamarnya.
"Tak kusangka kau tega melakukan semua ini kau bilang kalau wanita itu telah meninggal. Lantas siapa yang kulihat tadi, hah. Kumohon jujurlah Lucius." Narcissa yang kedengaran marah dan terisak tak bisa menahan semua gejolak marahnya kali ini. Hari ini Narcissa pergi bebelanja dan begitu kagetnya ia saat melihat seorang wanita yang dikatakan telah meninggal oleh suaminya, terlihat sehat berjalan dihadapannya.
Wanita itu, wanita yang hampir saja membuat perkawinannya terancam hancur. Dan lebih mengejutkannya lagi ternyata wanita itulah yang telah melahirkan Draco. Lucius yang menginginkan seorang anak memutuskan mencari seorang wanita yang mau dibayar untuk mengandung anaknya, bisa dibilang Lucius tak pernah selingkuh, karena proses pembuahannya sendiri dipilih melelui jalur bayi tabung yang hanya menyuntikkan spermanya kedalam rahim wanita itu. Yang menjadi salah Lucius adalah yang tak menjelaskan tentang semua itu pada istrinya.
Narcissa yang divonis dokter tak bisa memiliki anak, hanya bahagia mendengar jika suaminya memutuskan untuk mengadopsi seorang bayi. Tapi tak begitu lama, sampai akhirnya rahasia itu terdengar ketelinganya. Berita bahwa anak yang diasuhnya kini bukanlah anak orang lain melainkan anak dari suaminya sendiri.
Draco yang pada saat itu berumur 2 tahun harus masuk rumah sakit karena terjatuh dari ayunan. Pelipisnya cukup banyak mengeluarkan darah dan harus segera mendapat transfusi dan setelah diperiksa ternyata Lucius memiliki golongan darah yang sama dengan anak yang diadopsinya itu. Dengan rasa penasaran yang besar, Narcissa pun pergi memeriksakan sendiri dengan mengambil sampel rambut keduanya. Setelah beberapa hari menunggu akhirnya kabar itu terdengar juga olehnya.
Narcissa yang mengira Draco adalah anak dari selingkuhan Lucius hanya bisa menangis haru. Lucius mulai menjelaskan semua pada sang istri, tapi salahnya lelaki ini berkata bahwa wanita yang melahirkan anaknya telah meninggal saat melahirkan.
"Ya, aku mengaku salah kali ini. Aku hanya takut kehilanganmu saat itu. Cissy kumohon maafkan aku." Nada memelas Lucius terdengar dari balik pintu."Ia memang masih hidup, aku hanya tak mau membuatmu cemas, aku melakukan semua ini demi mempertahankan keluarga kita. Kumohon mengertilah Cissy."
"Dengan mengatakan bahwa ibu Draco sudah meninggal, apa kau pikir aku bisa tenang. Apa kau tak mengerti Lucius, bagaimana kalau wanita itu menginginkan Draco lagi, bagaimana kalau wanita itu memberi tahu anakku kalau aku bukanlah ibu kandungnya, bagaimana, bagaimana Lucius?" Racau Narcissa terus.
"Kupastikan itu tak akan terjadi, percayalah Cissy. Wanita itu sudah mendapatkan keinginannya, aku sudah memberinya uang sesuai perjanjian kami,dan dia juga harus menepati janjinya untuk tak mengganggu kehidupan kita lagi, kumohon Cissy." Lucius tak henti-hentinya memohon pada tak menanggapi ucapan suaminya malam itu, yang dia inginkan hanya segera pergi dari sana.
Rupanya malam ini Draco terbangun karena merasa haus, jadilah dia memutuskan untuk mengambilnya sendiri, ia tak mungkin lagi menyuruh para maid dirumah itu, mengingat ini sudah tengah malam dan pastinya para maid telah terlelap.
Disinilah Draco, mendengar semua isi hati wanita yang dikiranya adalah sang ibu. Dracopun diam mematung tepat didepan pintu kamar orang tuanya dengan air mata yang tak berhenti mengalir dari manik kelabunya.
"Cklek" Narcissa keluar dari kamar dengan menarik sebuah koper hanya bisa terpaku melihat anaknya yang kini berada tepat dihadapannya.
"D-draco." Bisik Narcissa pelan, sedangkan Lucius yang berada dibelakang istrinya tertunduk dalam menyesali perbuatannya, karena perbuatannya ini menyebabkan dua orang penting dihidupnya merasa sedih, setidaknya itu yang tengah iya rasakan saat ini.
Dracopun hanya menatap kedua orang tuanya bergantian dengan raut wajah yang kecewa , tak begitu lama sampai ia mengambil langkah kembali ke kamarnya.
Narcissia langsung terduduk diikuti sang suami yang maju memeluk tubuhnya yang bergetar hebat. "Apa yang kini harus dilakukannya?. Bagaimana jika Draco membencinya setelah mengetahui yang sebenarnya? Bagaimana jika Draco tak lagi memanggilnya ibu?" Berbagai pertanyaan terus menghantui Narcissa malam itu.
Begitu terkejutnya Narcissa yang melihat reaksi Draco pada pagi itu. Bagaimana tidak, Draco yang harusnya marah malah bersikap seperti biasanya, seperti tak terjadi apa-apa. Ciuman selamat pagi dipipi dan tak bertanya apa-apa tentang kejadian malam itu.
Narcissa berfikir mungkin setelah menenangkan dirinya, Draco akan meminta penjelasan kepada kedua orang tuanya, tapi setelah 6 tahun berlalu, tak sedikitpun Draco menyinggung kejadian itu. Memang ibunya menganggap tak ada yang berubah, sampai saat ini Draco masih menyayanginya dan tetap memanggilnya ibu. Namun Narcissa bisa melihat manik kelabu yang terlihat teduh dan perubahan sikap sang anak dari hari ke hari. Draco yang terlihat tak peduli pada orang lain, Draco yang menganggap orang lain seperti musuh dan Draco yang menutup rapat dirinya dari semua orang.
End Of Flashback
.
.
.
"Kemarilah son." Draco yang baru saja memasuki mansionnya mendengar sang ibu berujar dan dapat dilihatnya sang ayah yang juga berada di sebelah Narcissa tengah memandang tajam kearahnya.
Draco pun mengambil langkah mendekat kearah keduanya dan langsung mengambil duduk di sofa berhadapan dengan kedua orang tuanya.
"Ayahmu mendengar sesuatu terjadi disekolah hari ini, son. Dan kau dikatakan terlibat didalamnya. Apa kau ingin mengatakan sesuatu son?" Narcissa memutuskan memulai pembicaraan ini, sepertinya tak ingin membuat Lucius semakin membuncah amarahnya.
Draco yang ditanya hanya terdiam sebentar "Aku hanya tak ingin membuat yayasan melakukan kesalahan, karena orang itu tak bersalah." Terdengar tegas ditelinga keduanya.
"Mmm Maksud ibu, dari mana kau mengetahui kalau orang itu tak bersalah?. Apa dia temanmu son?. Kudengar kau cukup membelanya tadi." Tambah Narcissa merasa bingung dengan sikap anaknya yang terlihat berbeda kali ini. Bukankah Draco anak yang tak terlalu memperdulikan dengan hal disekelilingnya, jadi wajar saja jika kelakuannya kali ini membuat keduanya tak mengerti.
"Teman?. Kurasa aku tak pernah menganggapnya seperti teman, mom." Ucap Draco menjawab sang ibu. "Dan kalau tentang hal lainnya, aku sangat yakin kalau dia tak bersalah dengan yang dituduhkan padanya tadi." Raut wajah Draco terlhat serius kali ini.
"Tapi kau tak mungkin membelanya seperti itu jika kau tak mengenalnya son. " Narcissa masih sangat penasaran dengan jawaban Draco.
"Aku tak mengatakan kalau aku tak mengenalnya mom, aku hanya berkata bahwa aku tak menganggapnya sebagai temanku" Ujar Draco
"Bukankah tadi kau mengatakan bahwa dia bukan temanmu!. Ibu tak mengerti son " Cissy semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan Draco ini. Ia terus saja menatap lekat sang anak dihadapannya kini.
"Apa ada yang lainnya mom? Bisakah aku kekamar sekarang?" Tanya Draco yang tak tau harus berkata apa lagi pada keduanya.
"Kalau bukan orang itu, lantas siapa yang harusnya bertanggung jawab dengan kejadian tadi." Kali ini Lucius mulai angkat bicara. "Dan harusnya kau tak bersikap seperti tadi, apa kau tak tau, kalau kau sudah membuat kami malu." Tambahnya.
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan dad, aku tak merasa sedikitpun membuat kalian malu." Draco yang kini terlihat mulai tak bisa mengontrol emosinya.
"Tak membuat kami malu? Heh.. Apa kau tak ingat siapa kita son? " Lanjut Lucius. "Dan bukankah orang itu bukan siapa-siapamu belum lagi dia bahkan bukan temanmu juga, apa kau tak sadar son? Kau membantu orang tak jelas itu." Dengan nada bicara yang sedikit meremehkan Lucius mulai terlihat marah.
" Aku akan bertanggung jawab dengan ucapanku tadi dan membawa orang yang harusnya bertanggung jawab atas kejadian ini. Jadi kumohon jangan berkata buruk tentangnya dad, setidaknya jangan dihadapanku. Aku keatas sekarang dad,mom." Setelah mengatakan itu Draco langsung beranjak pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang merasa aneh dengan sikap anaknya ini.
.
.
.
"Disebelah sana Ron." Kata Mione menunjuk kearah rak buku palng atas.
"Baiklah, tunggu sebentar, Urgh ini tinggi sekali." Ron yang mencoba menggapai sebuah buku tepat diarah tunjuk Mione, hanya bisa mengeluh tertahan. Ron yang harusnya tadi sedang asyik bergulung diatas tempat tidurnya kini hanya bisa pasrah melewatkan acara tidurnya yang terganggu dengan deringan telefon Mione yang dinilainya tak mengenal waktu itu.
Memang sudah kebiasaan Mione menelfon mengajaknya menemani gadis itu pergi keluar, seperti saat ini, gadis ini ingin pergi mencari bahan tugas kelompok mereka berdua, dan tak tangung-tanggung pukul 21:00Pm, yang artinya waktu tidur untuk anak sekolah seperti mereka berdua ini.
"Cepatlah Ron." Keluh Mione sedari tadi melihat Ron yang tak bisa mencapai buku ditunjuknya itu.
"Sebentar, ini ambillah, apa masih ada yang lain?" Tanya Ron ingin memastikan lagi.
"Sudah, kurasa ini sudah semuanya. Huh hampir saja aku lupa tentang tugas ini. Dan berhenti memasang wajah itu, Ron. Ini adalah pekerjaan kelompok kita, kalau kau lupa." Mione yang melihat wajah kusut Ron yang menahan kantuknya.
"Ini sudah hampir jam sepuluh malam Mione, kita kan masih bisa mencari semua ini besok sewaktu pulang sekolah." Kesal Ron yang tak bisa menahan kantuknya.
Mione hanya memutar matanya malas "Ini sudah harus dikumpulkan besok, aku juga baru mengingatnya tadi, kau bisa pulang duluan kalau kau mau." Kesal Mione langsung meninggalkan Ron dan berjalan kemeja kasir.
"Kenapa wanita sungguh sulit dipahami." Batin Ron melihat Mione yang kini terlihat mengacuhkannya.
.
.
.
"Ya, hallo. Apa kalian sudah menemukan orangnya? aku ingin kau lakukan semuanya dengan cepat." Kata Draco dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Draco membanting dirinya di atas tempat tidurnya dan tak henti-hentinya menatap layar telepon dihadapannya. Ia terlihat sedang menunggu telepon seseorang "Hah apa dia lupa?" membanting ponsel ditanganya sembarang, tapi masih berada di king bed nya juga.
"Drrttt. Drrrttt." Draco tersentak dan meraih cepat ponsel disampingnya "Y-ya!" Draco mencoba bersikap seperti biasanya.
"H-hallo?" Ujar Harry gugup, setelah mendial satu-satunya nomor ponsel yang ada di gadget barunya itu.
"Kenapa baru menghubungiku?" Draco yang rupanya agak kesal mulai terdengar ketus.
"M-maafkan aku, kedai hari ini cukup ramai, jadi aku baru bisa menelepon sekarang." Harry yang terdengar agak takut mendengar suara dingin Draco.
"Baiklah. Mmm apa yang sedang kau lakukan sekarang?" Tanya Draco yang terdengar lebih melembut kali ini.
"Aku?" Harry terdiam menatap kesekelilingnya sebentar." Aku sedang ingin membereskan kedai dulu."
"Kau masih di kedai Potter?" Draco bertanya memastikan melihat lagi jam yang terpampang didindingnya."Ini 21:30pm dan kau belum pulang? Apa yang kaulakukan dikedai, tidur?" draco dengan nada menyindir, terus berbicara diteleponnya. Sebenarnya Draco hanya merasa khawatir mendengar Harry yang masih berada dikedai sampai saat ini, tak tau kenapa malah terdengar kasar di telinga Harry.
"A-aku hanya tinggal membereskan sedikit lagi, setelah itu kami sudah bisa pulang." Harry mulai terbata menjawab perkataan Draco itu.
"Kami? Kau bersama siapa disana?"Draco yang lebih penasaran mengambil posisi duduk sekarang.
"Aku bersama Cedric, kau ingat teman kerjaku dikedai ini. Mmm kau pernah melihatnya di Livingston mall lalu." Ujar Harry seadanya.
"Apa kalian hanya berdua saja disana?"
"I-iya, uncle Hagrid dan yang lainnya sudah pulang duluan." Jawab Harry masih bingung dengan arah pembicaraan Draco.
"Apa kau ingin membuatku jantungan Potter?" Tanya Draco dengan meningkatkan volume suaranya. Draco yang makin tersulut amarahnya mendengar seorang yang kini tengah bersama dengan Harry di kedai itu. Draco sendiri tak mengerti kenapa dia bisa merasa takut seperti sekarang ini, jika mendengar Harry berdua dengan orang itu. Seperti takut jika barang berharga miliknya direbut oleh orang lain.
"Jantungan? Ada apa Malfoy? Apa kau baik-baik saja?" Harry kian tak mengerti dengan maksud Draco merasa takut dengan kata Draco barusan, Harry yang mengira mungkin saja Malfoy saat ini tengah merasa sakit hanya terdiam menunggu Draco membalas pertanyaannya itu.
"Jangan kemana-mana, tunggu aku kesana sekarang." Kata Draco dan langsung memutus sepihak sambungan telepon. Dengan cepat menyambar kunci mobilnya dimeja nakas samping tempat tidurnya, lalu berjalan cepat keluar dari mansion mewah itu. Jangan lupakan wajah menyeramkan Draco saat ini, yang terlihat geram menahan amarah.
.
.
.
"Apa kau masih marah Mione?" Tanya Ron yang kini mengemudikan mobil Lamborghini Miura'nya menyusuri jalanan yang lenggang malam ini. Ron memberanikan diri bertanya setelah merasa Mione hanya diam tak berbicara sedari tadi mereka keluar dari toko buku itu.
"Aku tak apa-apa Ron. Cepatlah mengemudi, bukankah kau ingin cepat pulang. Atau aku bisa turun disini saja dan mencari taxi mungkin!." Hermione mulai berbicara menyindir Ron tapi dengan memasang wajah yang biasa saja.
"A-aku tak bermaksud seperti itu, Mione... Maafkan aku." Ron benar-benar merasa bersalah sekarang.
"Sudahlah Ron." Mione masih memperhatikan arah jalanan yang mereka lewati, tanpa sedikitpun menoleh kearah Ron berbicara.
.
.
"A-apa kau bilang, CCTV sekolah sudah diambil?... Bukankah tadi sudah kuperintahkan kau untuk melenyapkan CCTV hari ini... Shit.. Argh... Pokoknya aku tak mau tau, secepatnya kalian harus menemukan CCTV itu... Aku tak mau tau caranya, kalian pikkirkan sendiri." Astoria mematikan sambungan telepon digenggamannya, begitu kesalnya ia dapat terlihat dari raut wajahnya saat ini.
"Hallo, kumpulkan informasi tentang Harry Potter untukku, ingat aku ingin secepatnya dan tak ada yang boleh tertinggal." Seru Astoria kepada orang diseberang telepon.
"Aku tak akan membiarkan ini, kalian lihat saja nanti."
.
.
.
"Keluarlah sekarang, aku sudah didepan." Draco yang baru saja sampai didepan kedai langsung menyambar ponselnya menelepon seseorang.
Terlihat Harry dengan tas sekolah dipunggungnya berlari kecil kearah mobil sport hitam itu.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Harry begitu membuka pintu mobil mewah Draco. Rupanya Harry merasa takut dengan ucapan Draco tadi, bagaimana tidak, Malfoy junior ini mengatakan bahwa dia terkena penyakit jantung yang ternyata salah diartikan oleh Harry ini.
"Masuklah." Hanya kata itu yang keluar dari bibir pemuda bersurai platina ini, tanpa sedikitpun menoleh kearah Harry. Harrypun mengangguk diam menduduki kursi disebelahnya.
"A-apa kau baik-baik saja?" Kali ini giliran Harry memberanikan diri 'lagi' bertanya,merasa khawatir dengan keadaan Draco. Memang pemuda ini lebih sering terdiam jika tengah bersamanya, tapi kali ini dia merasa Draco mulai mengacuhkannya lagi dan Harry hanya tak ingin peristiwa lalu terulang lagi, dia tak ingin Draco mengacuhkannya seperti beberapa waktu lalu.
"Katakan alamatmu dimana?" Draco tak menjawab pertanyaan Harry, ia malah bertanya balik pada Harry. Harry yang disampingnya malah tetunduk takut, takut kalau Draco malah membencinya lagi, dan parahnya Harry sama sekali tak mengerti dimana letak kesalahannya itu.
" JL. XXXX." Kata Harry dan Dracopun melajukan mobilnya kealamat itu.
"Disitu, kau bisa menurunkanku disini saja." Harry menunjuk arah sebuah gang kecil dikawasan itu.
"A-aku turun sekarang. Terima kasih tumpangannya." Harry terus menundukkan kepalanya takut dan membuka pintu mobil sport hitam itu pelan, tak terdengar sedikitpun suara Draco disebelahnya.
"Brak." Harry langsung menoleh kearah suara mobil yang sedang ditutup dan ia masih terkejut melihat Draco yang tengah berjalan kearahnya itu.
"Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu? Aku akan mengantarmu, jadi mulailah berjalan." Draco sontak mengeluarkan kata-kata itu melihat Harry yang tak berhenti menatapnya tak berjalan mendahului Harry setelahnya.
"Kita sudah sampai. Mmm Apa kau tak keberatan mampir sebentar? Aku bisa membuatkanmu hot chocolate." Harry yang melihat Draco malam ini tanpa mengenakan jaketnya, berniat menawarkan Draco segelas minuman hangat, ingin berterima kasih mungkin. Tak taukah Harry semua ini karena dirinya sampai-sampai Draco tak mengganti pakaian rumahnya yang hanya selutut itu.
Draco hanya tersenyum melihat kepolosan Harry kali ini, c'mon hot choc? Apa Draco kelihatan seperti anak kecil.
"Baiklah, tapi aku tak mau hot chocolate. Apa kau bisa menyediakan yang lain selain itu?" Tanya Draco dengan menahan kuat tawanya yang mendesak ingin keluar sedari tadi.
"T-tentu." Harry hanya menatap Draco malu.
.
.
"Silahkan." Harry menaruh lemon tea hangat buatannya diatas meja ruang tamunya.
"Terima kasih, kau benar-benar tinggal disini sendirian?" Tanya Draco sambil menyesap sedikit minuman hangat ditangannya.
"Ya, aku hanya tinggal sendiri disini. A-apa kau merasa baik-baik saja?" Harry yang hanya takut dengan ucapan Draco ditelepon tadi, merasa ingin memastikan keadaan Draco lagi.
"Maksudmu?" Kali ini giliran Draco yang tak paham pertanyaan Harry barusan dan iapun menaruh gelas yang dipegangnya keatas meja dihadapannya.
"Tadi bukankah kau bilang kalau kau sakit. M-maksudku jantungmu."Harry berkata dengan sedikit takut kearah Malfoy.
"Hmpft, hmpft. Hahahaha." Rupanya kali ini Draco tak bisa menyembunyikan tawanya lagi. Bagaimana bisa Harry menanggapi ucapannya tadi seperti itu.
Harrypun hanya tercengang menatap Draco ragu, tak tau kenapa Draco malah tertawa lepas, atau lebih tepatnya menertawakannya. "Apa aku salah bicara?" Batin Harry lagi. Harry tak sedikitpun merasa tersinggung dengan itu, malah ia tengah tersenyum senang melihat Draco yang menurutnya sangat berbeda, terlihat lebih lepas kali ini.
"Kau kenapa Malfoy?" Tanya Harry bingung masih menatap aneh Draco.
Draco yang ditanya mencoba menenangkan dirinya sendiri dan membalas tatapan Harry lagi. "Apa kau tak mengerti Harry? Kurasa pilihanku memang tak pernah salah... Aku tak pernah mendapati orang sepertimu ini." Draco terus berujar dengan senyuman yang sedari tadi tak henti-henti tersungging diwajahnya. Entahlah dia ingin berkata pada Harry, atau dia hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri.
Harry yang mendapat tatapan intens Draco hanya bisa tersenyum canggung "A-aku mandi dulu. Tunggulah aku tak akan lama." Harrypun langsung berjalan cepat setelah mengatakan itu.
Draco yang hanya tersenyum sedari tadi, tak dapat memungkiri sesuatu yang kuat yang tengah dirasakannya saat ini "Terima kasih. Terima kasih untuk tetap bersamaku." Di dalam benak Draco ia merasa takut jika orang yang ia sayangi akan pergi meninggalkannya lagi.
.
.
.
20 menit setelah Harry berganti baju dan terlihat lebih segar, ia segera berjalan menuju arah ruang tamunya. Ia yang mendapati Draco tengah menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan tangan yang disilangkan dibawah dadanya, juga mata yang telah terpejam terlihat damai dimatanya.
"Malfoy, Malfoy." Harry kini membungkuk didepan Draco, berniat membangunkan Draco. Harry menyentuh pelan bahu Draco, mengguncangnya perlahan.
Draco yang merasa terganggu tidurnya, membuka perlahan matanya dan balik menatap Harry intens.
Tak seperti sebelumnya, kali ini Draco menarik pelan tangan Harry hingga terduduk tepat disebelahnya. Dracopun mengubah posisinya sendiri, ia meletakan kepalanya diatas paha Harry dengan menyampingkan sedikit badannya pada arah perut Harry dan memeluk erat pinggang Harry.
"Rasanya lebih nyaman sekarang." Gumam Draco pelan seraya menutup lagi matanya.
"Apa kau belum makan Harry?" Draco yang masih menutup matanya kini malah tersenyum mendengar sesuatu yang mulai protes dalam perut Harry.
"Mmmm s-sebenarnya aku tak sempat makan tadi di kedai sangat ramai . Apa kau lapar? Kalau kau mau aku bisa memasakkan sesuatu untuk kita makan. Bagaimana?" Harry menunduk menatap Draco.
"Kau bisa memasak Potter?" Draco terdengar seperti meragukan perkataan Harry barusan.
Harry hanya tersenyum manis kearah Draco "Aku sudah hidup sendiri selama beberapa tahun ini, jika tak memasak, mungkin aku sudah menyusul kedua orang tuaku sekarang." Harry yang bermaksud membuat lelucon malah membuat Draco terduduk sempurna sekarang dan Draco kini malah menatap tajam Harry.
"Apa kau pikir itu lucu Potter?" Draco yang kian menatap tajam Harry dihadapannya kini.
"Maaf." Harry hanya menunduk takut melihat perubahan sikap Draco 'lagi' menurutnya. Draco memang sering berubah-ubah sikapnya(ini menurut versi Harry loh).
"Jangan membuat lelucon seperti itu lagi Potter, kau mengerti?" Draco yang nada suaranya lebih melembut melihat Harry yang tengah menunduk takut.
Harry mendongak menatap Draco dan mengangguk mengiakan perkataan Draco barusan.
"Aku pulang sekarang." Ujar Draco berdiri melangkah keluar rumah Harry, ia tak menunggu Harry membalas perkataannya,sebenarnya Draco hanya tak ingin membuat Harry lebih takut padanya. Atau Draco sendiri merasa takut dengan ucapan Harry itu.
.
.
.
"Kalian sudah mendapatkan hasilnya?" Tanya Draco pada seseorang diseberang sehabis Draco pulang dari rumah Harry, tiba-tiba saja orang suruhannya menelepon memberitahukan hasil yang mereka dapatkan, tentu saja dari kamera CCTV yang sudah mereka amankan duluan itu.
"Baguslah, rupanya mereka ingin bermain-main denganku!" Tambah Draco masih dengan senyum mengejeknya. "Kupastikan kalian akan mendapatkan balasannya." .
.
.
.
TBC
Balasan Review:
989seohye: Maksih n salam kenal, nih dah lanjut, moga- moga gak ngecewain.
Guest, Uzumaki Naa Chan: Masih advice'nya, saya emang gak begitu tau tntg penulisan crta, jadinya malah bnyk kesalahan yang muncul. Jangan kapok baca fic ini ya.
Guest,heyoyo: Hi jg salam kenal *Waves* Thx dah ninggalin jejak, sarannya jg...
A/N: Sy gak bisa banyak bacot disini, sy jg berasa crta ini bnyk kekurangannya dan sepertinya crta ini krng menarik, tp gpp bagi yg sdh ngefollow fic ini, sy jnji bakalan nyelesaiin fic ini sampai tamat. Yasudah segitu aja dulu. Maksih buat all reders... Tampakkan diri kalian siders...
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya...
R & R Please
