Disclaimer : Masashi Kishimoto - sensei

Warning : AU, Semi-hurt, T* untuk bahasa dan tema yang digunakan, SasuHina.

.

.

.

Chapter 4

Mereka sempurna, harta, pangkat dan kehormatan seakan berada dalam genggaman keduanya. Namun mereka sama sekali tak tahu, semuanya hanya alur skenario yang diatur. Kehidupannya hanya sebuah pentas Opera. Dan pernikahan ini, hanya gagasan dari sebuah drama. Hinata ditarik masuk dalam kehidupan baru.

.

.

.

Hinata kecewa, wajahnya merengut mendeklarasikan ketidaksukaannya, memperhatikan banyak dari tanaman miliknya mengering bahkan membusuk mati di atas tanah. Padahal ia tidak merasa dirinya salah dalam merawat perkebunan kecil di rumah ia dan Sasuke itu. Tapi jika diperhatikan dari hari ke hari, bukannya tumbuh, tanaman-tanaman hias dan beberapa tanaman sayuran justru layu dan menguning. Padahal setiap hari dirinya menyiram dan memupuki tanaman-tanaman tersebut, terutama tanaman tomat yang memang sengaja ia tanam untuk menambah persediaan tomat di dapur.

Lantas saja, seumur hidupnya sebagai puteri keluarga Hyuuga tak pernah mempertemukan tangan halusnya dengan tanah seperti ini. Uang bisa menggantikan jasa tukang kebun merawat banyak tanaman di halaman luas mansion Hyuuga. Uang bisa menggantikan seluruh kebutuhan dapur yang tak pernah sekalipun kurang, bahkan kelebihan. Hinata tidak pernah tahu kehidupan yang berada pada taraf di bawah itu, mengintip saja tidak pernah. Bagaimana dengan teman-temannya? Perlu kau tahu bahwa Hinata belajar dari play group hingga magister di tempat yang sudah ditentukan keluarganya. Hinata tidak pernah memiliki teman yang berasal dari 'kelas bawah' sehingga tak pernah sekalipun Hinata mengintip kehidupan 'orang bawah', meskipun pada kenyataannya Hinata tidak pernah memiliki teman dekat selain adiknya Hyuuga Hanabi. Bisakah hal itu dikatakan sebagai suatu keberuntungan? Sayangnya bagi Hinata tidak. Keberuntungan tidak akan menyulitkannya merawat tanaman saat ini.

Sedikit frustrasi dengan anggapan harusnya tanaman ini tumbuh -lebih lebih jika berbuah- Hinata melempar sekrup di tangannya hingga mematahkan satu dua tanaman yang masih berdiri. Wanita penyandang marga Hyuuga itu mendudukkan kasar tubuhnya di atas tanah.

"Bukan begitu cara menanam pohon."

Secara tiba-tiba Sasuke muncul dari samping Hinata. Hinata sedikit tersentak kaget, rona-rona merah mulai menjalari wajahnya betapa ia malu ketahuan bertingkah konyol oleh Sasuke. Pun mulai berpikir jika suaminya senang sekali muncul secara tiba-tiba seperti hantu.

Dilihatnya Sasuke dengan wajah tenang dan manik hitam yang tertutup sepasang kaca mata sedikit mengulum senyuman. Kita tegaskan, hanya sedikit senyuman yang bahkan jika jarak Hinata tidak begitu dekat saat itu mungkin ia tidak akan menyadarinya. Sasuke bergerak mengambil sekrup yang sempat menjadi korban baku hantam Hinata.

"Tanaman itu seperti hati manusia... Terlihat sederhana, tapi sebenarnya kompleks."

Sasuke memecah kembali tanah yang sudah agak padat bentuknya kemudian memberikan pupuk dan air secukupnya. Dibandingkan Hinata, Sasuke jauh lebih berpengalaman. Ibarat petualang, dokter berdarah bangsawan ini lebih banyak memahami pahit getirnya kehidupan. Pemberontakan Sasuke kepada takdirnya sendiri membuatnya tumbuh di bawah arus dunia luar. Membuatnya lebih menguasai banyak pekerjaan berbau fisik yang seharusnya bagi bangsawan sepertinya tak perlu bahkan sekedar mencium merasakan lelahnya.

Hinata terkejut menyadari tangan Sasuke kotor karena dirinya. Bagaimana bisa ia membiarkan tangan suaminya kotor oleh tanah, paling tidak, Hinata banyak belajar etika sebagai puteri Hyuuga.

"Sasuke-kun. Tanganmu..."

Hinata bergegas mencari sapu tangan dari sakunya, namun tak ditemukan. Ia hendak berdiri untuk mengambil sapu tangan ke dalam rumah tapi gerakannya tertahan. Sasuke menarik Hinata hingga kembali duduk di atas tanah. Langit selalu mendung, tanah yang menjadi alas Hinata lembap. Tapi Hinata tak terlalu mempedulikan bagaimana bajunya akan kotor. Fokusnya terlalu tertarik pada sosok tegap nan tampan yang meskipun dingin namun mempesona di hadapannya. Hinata mematung, persendian tubuhnya seperti meleleh tenggelam dalam suatu perasaan yang ia sendiri tidak mengerti apa.

"Jangan menyusahkan dirimu. Aku tak apa."

Sasuke, menggunakan tangan kirinya yang terbebas dari kotor menyentuh kening Hinata, menangkup dahi Hinata dalam rangkuman jari-jemari besarnya. Memberikan suatu sengatan kasat mata yang terasa mencubit-cubit isi perut Hinata. Tidakkah terlalu besar efek yang dirasakan Hinata hanya dari sentuhan tangan suaminya? Mustahil. Entah sengaja atau apa, tangan kanan Sasuke pun masih dengan ria memegang tangan Hinata.

"Demammu sudah baikan. Masih pusing, hm?"

Seketika Hinata merasa udara di sekelilingnya habis tersedot waktu. Tubuhnya tak banyak merespon, terlalu berada di bawah tekanan gravitasi yang berat. Ah, Hinata harus menarik napas perlahan-lahan, tenangkan dirimu. Keadaan pun terasa jauh lebih tenang. Tiba-tiba sebuah perasaan rindu menyeruak dalam dirinya. Ia merindukan ibunya. Sewaktu kecil, pertanyaan seperti itulah yang sering Hinata dengar dari mulut ibunya ketika dirinya jatuh sakit. Air mata mengalir begitu saja dari manik lavender sang Hyuuga. Sasuke sedikit tersentak melihat Hinata menangis, meski kekagetannya hanya sedikit ketara dari ekspresi dinginnya.

Hinata cepat-cepat menunduk menghapus air matanya. Betapa bodohnya ia, saking bodohnya Hinata merawat tanaman saja tidak bisa. Kemarin saja Hinata nyaris membakar rumah mereka karena melupakan cakenya yang sedang dipanggang karena ketiduran. Kalau Sasuke tidak pulang cepat dari rumah sakit saat itu sudah dipastikan sekarang tempat ini sudah menjadi puing-puing abu. Hinata merasa sangat menyesal hingga tidak bisa tidur semalaman.

"Sasuke-kun. Gomen."

Hinata mendongak, menatap lurus ke dalam hitam mata suaminya. Menenggelamkan pikirannya pada kolam jernih yang terpancar dari kegelapan mata itu. Mungkin dalam kehidupan Sasuke, Hinata adalah yang paling bisa memahami seperti apa rasa sakit yang dirasakan ketika dahaga akan kebebasan memberontak. Hinata paling memahami batas-batas kehidupan seorang bangsawan yang selama ini menjerat setiap gerak-gerik dirinya. Ia tak bahagia. Mata di depannya pun tak memancarkan kebahagiaan. Hinata hanya ingin menyelami lebih dalam lagi, kehidupan Sasuke yang tak pernah tersentuh olehnya.

"Maaf karena membuatmu repot. Maaf."

"Hinata, jangan bicara begitu."

Hinata menggeleng. "Tidak. Aku memang harus mengatakan ini. Harusnya aku mengatakannya sejak awal. Mungkin aku salah karena tidak menolak perjodohan ini. Maaf Sasuke-kun. Aku tidak bisa menjadi isteri yang baik seperti Mikoto-sama."

Tak tahu dari mana asalnya keberanian Hinata datang, ia mengangkat kedua tangannya. Menyentuh kedua pipi Sasuke. Sasuke sendiri bingung, tapi tak menolak. Membiarkan jari-jari lentik Hinata menyusuri wajah tampannya.

'Kau mengingatkanku pada Kaa-sama.'

"Aku mengerti..." kalimat ambigu itu meluncur dari mulut Hinata. "Aku mengerti seperti apa sakitnya saat kau haus akan kebebasan. Sasuke-kun, maaf karena mengikatmu pada ikatan ini." Suara Hinata bergetar menahan isak. Sial. Kenapa dirinya cengeng sekali.

"Sasuke-kun aku.. Aku tidak mengerti, bukankah semua ini palsu?" Hinata menarik napas. Ingin mengatakan sesuatu. Tapi urung. 'Tapi perasaanku terasa begitu nyata. Aku selalu merasa nyaman berada di dekatmu.'

Paling tidak itulah yang hati Hinata katakan. Tapi sulit bagi dirinya untuk mengucapkan. Mulutnya terkunci. Ia hanya merasa terlindungi dan merasa dicintai. Sama halnya seperti ketika Hinata berada dekat dengan ibunya. Sasuke berbeda dengan ayah Hinata, meskipun dingin dan kaku, Sasuke begitu lembut merawat dan memperhatikannya, menjaga dirinya. Hinata hanya tidak bisa memahami secara logika, bukankah pernikahannya dengan Uchiha Sasuke tidak benar-benar nyata? Lalu debaran apa yang dirasakannya itu? Lalu desiran apa yang dialaminya itu? Haruskah ia terus meyakini bahwa semua itu hanya sandiwara? Ia bodoh karena banyak membiarkan dirinya terperosok jatuh, hanyut ke dalam pesona seorang Sasuke. Hinata hanya tidak mau jauh terlarut dalam perasaan samar yang dirinya sendiri tidak mengerti.

Sasuke menggenggam kedua tangan Hinata yang berada di wajahnya. Sasuke seperti hendak mengatakan sesuatu, namun urung. Mulutnya tertutup rapat kembali, ia pun melepaskan tangan Hinata. Sesuatu dalam diri Hinata seperti menggaungkan kekosongan. Terasa sangat hampa.

Tapi kemudian kedua tangan kekar itu menarik tubuh mungil Hinata ke dalam dekapannya.

"Jangan dipikirkan. Jika kau menginginkan bahwa semua ini nyata. Maka mulailah berpikir bahwa ini bukan sandiwara."

"Apa aku egois, Sasuke-kun?"

"Hn, tidak. Kau hanya perlu belajar lebih jujur pada dirimu sendiri."

Hinata membalas pelukan suaminya. Bagaimana kau tahu mereka hanya korban peputaran roda takdir. Tak ada yang tahu seperti apa kelanjutan kisah mereka. Yang jelas tanpa keduanya sadari, sesuatu dalam diri mereka mulai tumbuh.

"Kenapa hanya Sasuke-kun yang selalu ada di saat-saat seperti ini?"

"Aku tidak tahu."

"Perasaan apa ini?"

Sasuke ingin membalas kalimat Hinata. Tapi sulit sekali menggerakan mulutnya untuk berucap.

"Hn."

"Mungkin ini aneh." Hinata menjauhkan diri melepaskan pelukannya. "Tapi aku ingin mengatakannya Sasuke-kun. Tetaplah seperti ini. Untukku." Egois. Itulah yang terbesit ketika Hinata mengatakannya.

"Hn."

Sasuke bangkit tatkala melihat siluet seorang mendekat.

" Konnichiwa Uchiha-sensei." Orang itu mendekat ke pagar rumah, "Maaf mengganggu, saya ingin anda memeriksa Chojuro." Seorang wanita berambut pirang panjang menggandeng tangan seorang anak kecil berkacamata. Mereka berojigi ketika mengucapkan salam. Wanita itu merupakan tetangga rumah Hinata dan Sasuke.

"Konnichiwa, Suiren-san. Tidak masalah. Mari masuk.."

Sasuke membukakan pagar rumah mempersilakan wanita bernama Suiren tersebut masuk. Suiren sempat menoleh pada Hinata yang masih duduk di atas tanah. Hinata menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata.

"Kau kenapa Chojuro?" tanya Sasuke. Sungguh nada suara lembut dan akrab dari seorang Uchiha yang untuk pertama kalinya Hinata dengar.

"Semalam aku muntah-muntah." Jawab Chojuro.

Begitu saja, seperti angin yang berlalu, seolah tidak terjadi apa-apa. Sasuke melenggang pergi meninggalkan Hinata.

.

.

.

.

Ruangan itu luas bak istana yang desain secara modern. Dengan perpaduan warna putih yang elegan dan warna merah marun yang klasik serta rak yang menempel ke dinding berisi ratusan buku meberikan kesan yang mewah. Di tengah ruangan terdapat meja kerja yang sangat besar, Uchiha Fugaku tengah berdiri memandang ke luar halaman melalui jendela kaca super besarnya. Sore yang sunyi. Derap langkah seorang terdengar memasuki ruangan diikuti suara pintu terbuka kemudian tertutup kembali. Fugaku berbalik, menghadap sang asisten, Uchiha Shisui.

"Sudah di mulai Tuan. Hyuuga Group dari Konoha mengalami krisis ekstrim, kepergian Hinata-sama membuat sebagian sistem yang beroperasi lumpuh, proyek yang ditinggalkan oleh Hinata-sama berantakan. Banyak beberapa investor mundur. Tidak akan lama sampai Hyuuga membuat keputusan dari rapat pemegang saham."

Fugaku menarik sedikit sudut bibirnya. Meskipun di bidang yang berbeda, Hyuuga dan Uchiha merupakan perusahaan terbesar di masing-masing kota yang bersaing dalam pasar publik. Itachi sebagai pemegang perusahaan cabang di Konoha pun mampu mengembangkan dengan baik hingga Uchiha memiliki hubungan yang cukup erat dengan Hyuuga. Dengan begitu, kemajuan Hyuuga yang tengah dalam masa terombang-ambing badai krisis berada di tangan Uchiha. Tapi tunggu dulu, bukannya Uchiha berniat tertawa di atas penderitaan Hyuuga. Fugaku hanya ingin sedikit 'menguji' putera keduanya yang sedikit merepotkan.

"Beli sebanyak mungkin saham pada pelelangan saham nanti. Tingkatkan sampai di titik tertinggi dan buat Hyuuga terdesak."

Shisui sedikit terkejut mendengar penuturan tuannya. Kalau tidak salah, mungkin memang tidak salah, setahunya Uchiha memiliki hubungan besan dengan Hyuuga. Tapi apa yang dikatakan tuannya...

"Tapi Tuan. Terlalu besar resiko jika kita mendominasi grafik saham." Shisui sedikit ragu menanyakan, "Bukankah hal itu bisa menjatuhkan... Hyuuga Group?"

Fugaku berjalan mendekati tempat duduknya. Duduk menyamankan punggungnya pada sandaran kursi.

"Aku sebut ini sebagai gertakan. Untuk mengeluarkan ular dari lubangnya, bukankah kita harus mempersembahkan tikus?"

Shisui mulai mengerti maksud dari tindakan Fugaku. Kepala keluarga ini hanya berniat mengeluarkan Sasuke dari kandang tempat persembunyiannya. Dan untuk menarik seorang Sasuke, Fugaku harus mengulur Hinata sebagai umpan.

.

.

.

.

Itachi menutup kesal laptop di depannya. Ia bukan tidak mengerti maksud ayahnya. Terang saja Itachi lahir dengan intelektualitas yang tinggi. Jadi hal seperti ini sudah bukan hal yang rumit untuk dimengerti. Itachi menopang wajahnya dengan kedua tangan. Yang menjadi pikirannya saat ini, ayahnya sudah memulai peperangan. Mustahil bagi Itachi untuk menghentikan laju bursa efek pasar yang terus berjalan.

Yang jelas skenario rancangan ayahnya adalah, desak Hyuuga hingga ke akar-akarnya, maka Uchiha dapat memperoleh kartu trufnya yang selama ini tersimpan begitu rapi. Uchiha akan sedikit memberi tekanan pada Hyuuga sehingga Hyuuga yang separuh lumpuh akan memanggil bagian vital yang lama pergi, Hyuuga Hinata. Dengan memanggil Hyuuga Hinata, secara otomatis Uchiha Sasuke sebagai pendamping hidup Hinata akan ikut muncul ke permukaan. Lebih-lebih jika Sasuke turut andil dalam masalah perusahaan, hal itu benar-benar akan menjadi kemenangan telak bagi Fugaku ayahnya. Hanya dengan cara itulah Fugaku dapat tetap mempertahankan aset Uchiha dan membuatnya bertambah besar dengan sedikit bumbu dari Hyuuga. Itachi sangat tahu jika ayahnya sedikit 'gila' jika itu menyangkut Uchiha Group.

"Uchiha Sasuke, mainan paling menarik bagi ayah." Itachi tersenyum, sesaat kemudian senyumannya lenyap.

.

.

.

.

Ah suasana Kota Kiri begitu tenang. Tanpa ketegangan seperti yang sedang terjadi di kubu Uchiha dan Hyuuga. Dua insan bermarga Uchiha dan Hyuuga ini justru menikmati kenyamanan yang tiada tandingnya. Tanpa kerumitan, tanpa kesulitan dan tanpa hiruk pikuk permasalahan. Tanpa Hinata duga, setelah peristiwa pagi tadi, malamnya Sasuke tiba-tiba memberikan Hinata sebuah kimono indah. Sasuke mengajak pergi Hinata ke festival musim dingin yang biasa digelar setiap tahunnya untuk melepas musim gugur dan menyambut datangnya musim dingin.

Malam yang indah. Pohon-pohon ginkgo yang sudah tak berdaun dililiti lampu kerlap-kerlip. Lampion-lampion beraneka warna menggantung menerangi sepanjang jalanan kota. Sejauh mata memandang rumah-rumah di sekitar tempat festival dihias bercahaya di kegelapan malam. Satu-satunya pasar tradisional di Kota Kiri dipadati pengunjung festival yang bergumul membeli makanan-makanan tradisional yang dijual.

Belum pernah Hinata melihat Kota Kiri seramai ini. Jika dipikir-pikir pun selama Hinata dan Sasuke menikah, belum pernah mereka bepergian sekedar rekreasi seperti ini.

"Kau sering datang ke acara seperti ini Sasuke-kun?" Tak dapat disembunyikan kekaguman Hinata menyaksikan betapa meriahnya sesuatu yang disebut Festival. Hinata sering mendengarnya, tapi belum pernah secara langsung menghadiri acaranya.

"Naruto sering membawaku." Sasuke menyerahkan setusuk dango pada Hinata. "Makanlah, ini manis." Hinata menerima dengan senang hati.

"Membawamu ke banyak tempat?" Hinata menggigit satu bulatan kue berbahan beras tersebut, merasakan rasa manis saus yang meleleh di lidahnya.

"Hn."

"Kemana saja?" Hinata mulai antusias. Pasalnya, belum pernah Hinata mengetahui cerita dibalik sifat diam seorang Sasuke. Lagipula Sasuke bukan tipe orang yang akan banyak bercerita kecuali jika ditanya.

"Menghadiri festival, mendaki gunung, liburan ke pantai, memancing, berkemah, bermain ski dan outbond."

"Oh.." Mata Hinata berbinar mendengar penjelasan Sasuke. Seumur hidupnya, olahraga yang paling Hinata kuasai adalah golf. Kakeknya sempat mengatakan jika golf itu merupakan olahraga berkelas, oleh karena itu ia sering melakukannya bersama Neji dan Hanabi. Ia pikir tak ada lagi yang menyenangkan selain itu. Tapi sepertinya persepsi itu salah besar. "Terdengar menyenangkan." pekiknya.

"Hn."

Sasuke memandang lega wajah bahagia Hinata. Jarang sekali Sasuke dapat melihat wajah Hinata seringan ini. Sasuke mengangkat tangannya sekedar menghapus jejak saus yang tersisa di mulut Hinata. Spontan membuat Hinata tertegun, merasakan detakan jantungnya bak genderang perang yang siap meledak. Ia tak tahu mengapa Sasuke senang melakukan hal yang tak terduga.

Malam terus beranjak menuju puncaknya. Suara angin bergilir, begitu lembut dan menenangkan. Tak terhitung toko yang telah dikunjungi Hinata dan Sasuke, macamnya pun beragam. Kadang Sasuke membawa Hinata menuju tempat penjualan makanan, kadang Hinata menarik Sasuke agar mau bermain permainan tradisional yang sengaja diadakan. Sayangnya, keberuntungan Hinata tak semulus semangatnya. Tak satu pun dari permainan yang ia dan Sasuke ikuti dapat ia menangkan. Alhasil tangan kosong selalu menjadi hasil dari jerih payahnya mengikuti permainan.

Bintang-bintang yang biasanya bercahaya kini bersembunyi dari balik awan. Sebagai gantinya, cahaya lampion-lampion yang diterbangkan dari jembatan menerangi hitamnya langit malam. Air sungai mengalir tenang memantulkan beragam cahaya di atasnya. Menjadi saksi kemeriahan malam festival itu. Bunga mapple masih berjatuhan tersentuh terpaan angin. Musim gugur siap berakhir menjemput datangnya musim dingin. Di penghujung acara, Hinata dan Sasuke memilih duduk-duduk berdua di tepian sungai beralaskan dedaunan kering. Di bawah naungan kegelapan, namun justru dari tempat itu, keduanya dapat melihat lebih jelas pemandangan bercahaya dari atas langit Kiri. Kembang api turut menutup malam festival dengan lebih bercahaya.

"Indahnya..." Hinata bergumam.

Lebih dari itu, jantungnya tak bisa ternetralisir dengan baik sejak ia memasuki kawasan festival ini. Sampai saat ini Sasuke tak mau melepaskan pagutan tangannya pada tangan Hinata. Merangkumnya penuh protektif seolah akan pergi jika Hinata tak dipegangi. Tentu saja, bergandengan tangan sepanjang jalan mau tak mau membuat kulit dan hati Hinata berdesir-desir entah karena apa. Rasanya geli seperti ada sesuatu yang menggelitiki perutnya. Begitu geli. Sampai Hinata tak mau berhenti tersenyum.

Tapi sesaat kemudian senyuman dari wajahnya lenyap. Hinata mulai menyadari posisinya. Hinata mulai memahami, mungkinkah, Hyuuga Hinata mulai menyukai suaminya? Sungguh ini diluar dari jalur yang selama ini Hinata anut. Sepanjang hidupnya Hinata tak mau terjerat dengan apa pun yang berhubungan dengan perasaan. Hal itu akan membuatnya terluka. Lebih dari itu, bermain dengan perasaan bisa membuatnya hancur. Hinata tidak mau terjerat dalam lingkaran itu. Ya. Ia tidak mungkin... Menyukai Sasuke. Itu tidak mungkin. Cepat-cepat Hinata melepaskan genggaman tangan Sasuke pada tangannya. Sasuke sendiri tidak menyadari karena terlalu asik menatap kembang api di langit.

.

.

Jika mengingat sejarah masa lalu. Mungkin kau dapat mengerti jika mengetahui perjalanan apa yang membuat seorang Hinata hidup bagaikan robot tanpa perasaan. Hinata sangat menyayangi ibunya, lebih dari apa pun di dunia ini. Dan ibunya, tentu saja ibunya sangat menyayangi ayahnya. Tapi dua cinta itu telah karam terkhianati. Ayah Hinata yang hidup berprinsip teguh pada kebangsawanan tak pernah memiliki perasaan apa pun pada isterinya bahkan hingga mereka memiliki tiga orang anak. Jelas, cinta bertepuk sebelah tangan ibu Hinata membuatnya mengalami depresi akut. Ibu Hinata mudah sekali jatuh sakit. Begitu pula ketika Hinata mematok dirinya untuk menyayangi ibunya lebih dari apa pun, justru sang ibu pergi untuk selama-lamanya dari dunia. Rasanya begitu sakit hingga mengingatnya saja seakan membelah dua tubuh Hinata.

Oleh karena itu Hinata mengikuti jejak ayahnya yang hidup berprinsip teguh pada kebangsawanan. Hal itu jauh lebih memudahkan perjalanan Hinata sampai di kehidupan pernikahan. Tak ada pertentangan, tak ada kesakitan.

Hinata membuka kelopak matanya, suara derit pohon bambu meyambut Hinata di pagi yang bisa dibilang cukup terang. Semalaman menghabiskan waktu bersenang-senang di acara festival cukup membuatnya kelelahan. Hinata sadar betul saat ini dirinya bangun terlambat. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, lebih jelasnya, ruang kosong pada tempat tidur di samping Hinata sudah tidak ada yang menempati lagi. Sasuke telah bangun mendahului Hinata.

Bergegas Hinata membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah dirasa penampilannya sudah cukup rapi, ia keluar kamar. Awalnya berniat langsung mengenakan apron dan langsung memasak untuk sarapan, tapi sepertinya Hinata harus mencari tahu di mana keberadaan suaminya terlebih dahulu.

Dari ruang tengah Hinata melenggang ke ruang tamu di depan. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Hinata berpikir untuk menyerah saat kemudian matanya menangkap siluet seseorang di teras yang berada di belakang rumah mereka. Teras yang tersusun dari lantai kayu tinggi itu cukup luas, berhadapan langsung dengan perkebunan di belakang rumah. Terasa sangat nyaman dan menentramkan. Hinata melihat Sasuke seperti sedang duduk bersemedi di tempat tersebut. Ia melangkahkan kaki memasuki ruangan sedikit ragu, takut-takut suaranya bisa mengganggu kegiatan Sasuke.

"Kemarilah. Duduk di sini, Hinata."

Hinata berjalan mendekati kemudian duduk menurut seperti yang Sasuke minta. Di depan Sasuke terdapat satu buah poci porselen beserta beberapa gelas kecil yang satu terisi cairan menyerupai teh dan yang lainnya menelungkup di atas sebuah nampan. Rupanya Sasuke bukan sedang bersemedi, hanya bersantai ria sambil meminum teh.

Sasuke menuangkan satu untuk Hinata.

"Minumlah."

"T-tapi bukankah Sasuke-kun harus ke rumah sakit? Aku harus membuatkan sarapan."

"Hn. Sebentar. Temani aku. Aku ke rumah sakit sore nanti."

Entah apa yang membuat udara di sekeliling tempat ini terasa begitu menyesakkan. Hinata tidak suka berada di tengah-tengah atmosfir seperti ini. Sasuke sedikit agak menakutkan pagi ini, terlepas dari sifat lembutnya beberapa hari terakhir. Hinata seperti melihat sosok Sasuke saat pertama kali mereka bertemu sebagai sepasang suami isteri di dalam kamar mansion Uchiha.

Dibandingkan hanya duduk di bawah tekanan berat seperti ini, Hinata memilih beranjak turun menuju perkebunan kecilnya.

"Waah tanamannya tumbuh. Ini mustahil.. Padahal waktu itu sudah mati." Hinata ingat Sasuke lah yang saat itu membantunya merawat tanaman. Semua tanaman yang ditanamnya di halaman depan maupun halaman belakang. Mungkinkah, Sasuke memiliki semacam tangan ajaib yang bisa membuat tanaman yang mati kembali tumbuh seketika? Mustahil.

Hinata memperhatikan satu-persatu tanaman.

"Di musim dingin nanti, jika kau lurus ke sana Hinata." Sasuke menunjukkan arah jauh ke belakang Hinata, "Ada lapangan yang biasa digunakan sebagai tempat bermain ski."

Wajah Hinata sumringah mendengar kabar tersebut. "Benarkah?"

"Hn. Kita akan pergi ke sana nanti."

"K-Kau serius mengajakku, Sasuke-kun? Kenapa?"

Sasuke tersenyum. Sesuatu yang sangat jarang pria itu lakukan sedikit membuat Hinata terkejut. Terhitung jari Hinata bisa melihat senyuman Sasuke.

"Aku juga berniat mengajakmu berkemah, ke pantai dan memancing."

.

.

.

To be continued

Wind of change

Chapter 5

"Perasaan macam apa ini? Menyeramkan."

"Itu namanya... Cinta. Hinata."

"Cinta itu aneh Hinata. Semakin kau tidak mempercayainya, semakin kau akan diuji olehnya."

"Apa kau m-mencintaiku Sasuke-kun?"

"Kau harus belajar lebih jujur pada dirimu sendiri Hinata."

.

Author note :

Hay hay, Author kembali dengan fict abalnya. Wah mulai berkoar setelah berapa bulan ini? Haha Author timbul tenggelam seperti batu ambang di tengah gelombang. Mau gimana lagi, kehidupan nyata jauh harus lebih Author prioritaskan, berhubung Author sudah kelas dua belas nih (cie bentar lagi lulus ayeyey) kemarin Author harus memfokuskan diri untuk UAS. Gomennasai! (_) Terima kasih banyak untuk yang tetap setia menunggu fict ini. Ini memang jenis fict yang alurnya lambat gimana gitu. .. jadi mohon kesabarannya. Udah jadi kebiasaan saya kalo buat cerita pengennya lambat tapi kerasa feelnya.. haha.

Ya ampun kalo boleh jujur reader, selama masa 'Fokus belajar' juga Author susah kalo nggak ngelirik file cerita mwehehe yaa imbasnya, sedikit-sedikit Author tulis meski dengan susah payah... oke berhubung cerita yang Author tulis udah dikit-dikit keakumulasi, eh pas ngeh udah banyak banget. Cukup dua chapter lah.. jadi kabar bahagianya untuk menebus rasa bersalah Author bakal update dua chapternya yay.. tapi yang chapter 5 perlu sedikit direvisi jadi tunggu besok atau lusa yap ^^!

Oke Special thanks for : 6uchihyuu nagisa, dindachan06, Megami Yozora, 3Kimura Megumi, , kecoaidup2, 3Chikako Fujiki, ulvha, JojoAyuni, kumbangbimbang, keiKo-buu89, bitch, siskap906, hana37, semangart, Shiki, Shim Yeonhae, bylo, 3Clara Merisa, 5kirigaya chika, Haru3173, .5, sorry n goodbye, 4Chikako Fujiki, kensuchan, ann, virgo24, Katsumi, esuta, nn, Po chan, UName, hinatauchiha69, cika, Cahya Uchiha, re, Hikari No Aoi, hanhuw, winatabiyong, lolilo, Guest, Ajengg, Katsumi, Clara Merisa, rini andriani uchiga, re, nn, hana37, guiji, Katsumi, nay, Po, virgo25, kensuchan, dwi2, chipana, Ega EXOkpopers, dindachan06, Cahya Uchiha, nay, ANFaridha, kirigaya chika.

Jangan kapok buat riviu yap. .