Halo semuanyaaaaa ~
Selamat membaca
.
.
Karakter ini adalah milik Masashi Kishimoto dan saya hanya menggunakan nama-namanya sebagai karakter imajinatif saja
.
.
.
Chapter 4 : The Island
Ini pertama kalinya aku pergi begitu jauh dari rumah, tapi entah kenapa rasanya seperti aku sedang pulang kerumahku sendiri. Seperti ajakan Naruto saat kami di kapal, aku dan Sasuke menumpang tinggal dirumah mereka, rumahnya memang tak terlihat semegah gedung-gedung di London hanya saja suasana hangat langsung memelukku begitu memasuki rumah itu.
"Maaf mengatakan ini, tapi apakah kalian keluarga bangsawan disini ?" tanyaku malu-malu saat melihat betapa besarnya pekarangan rumah itu, belum lagi pagarnya yang tinggi dan tebal. Naruto dan Hinata tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaanku, "Aku lupa mengatakannya padamu Sakura-san" ujar Hinata yang berusaha menahan tawanya, aku mengernyit, 'San' ? Apa itu ?
"Pertanyaanmu begitu blak-blakan, sebenarnya keluarga kami adalah keturunan orang-orang kepercayaan kaisar negeri ini, jadi sebenarnya kami bukan bangsawan, tapi orang terpandang, begitulah bahasa halusnya" jawab Naruto sambil mengeratkan gendongannya pada Shion, aku masih bingung dengan negeri ini, semua rumah terbuat dari kayu yang berwarna hitam gelap, atapnya pun kebanyakkan berwarna merah delima.
"Sakura, ini adalah pelayan kami. Nona Izumi" Hinata menunjuk seorang wanita tua yang berdiri menunggui kami didepan pintu, "#&%& + + ( () +#&]°¢°¢{£}£" wanita tua itu sepertinya berbicara dalam bahasa Jepang karena tak satupun kalimatnya dapat kupahami, aku hanya mengangguk kecil sambil menatapnya bingung.
"Izumi bilang anakmu cantik sekali, Sakura" Hinata menerjemahkan untukku, "Dia laki-laki, kok" jawabku sebal, enak saja dia bilang keponakanku yang tampan ini cantik. Hinata menerjemahkan kata-kataku pada Nona Izumi, beliau mengangguk lalu berbicara dalam bahasa Inggris "Sorry." ucapnya agak tak fasih, aku hanya menjawab dengan senyum tipis "Its okay".
Aku duduk diatas kasur yang sudah mereka sediakan di kamarku, kata mereka namanya futon, aku tak begitu terbiasa tidur dilantai seperti ini, sementara aku sedang sendirian disini Sasuke kecil sedang disusui oleh Hinata dikamarnya. Bahkan aku harus tidur dengan kimono yang tadi Izumi bantu pakaikan, kenapa pakaian disini susah sekali dikenakan sih ?
Lama termakan hening, aku kembali merenungkan yang telah terjadi, bagaimana kalau sebenarnya Ino masih hidup kalau aku berusaha lebih keras memberinya nafas buatan, atau tiba-tiba Sai pulang dan kaget melihat Ino sudah tiada dan bayinya raib. Atau... Bagaimana jika karena aku menekannya terlalu keras saat melahirkan Sasuke itulah penyebab Ino meninggal ? Mungkin saja ia kehabisan tenaga karena aku memaksanya melahirkan dalam keadaan terjepit kan ?
Astaga... Tanpa sadar airmataku jatuh, pikiranku benar-benar kalut, aku kehilangan keluargaku dan sahabatku, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tak bisa terus tinggal disini dan membebani keluarga Hinata, tapi siapa yang akan menyusui Sasuke kalau kami pergi ?
Tok tok tok
Pintu diketuk lalu digeser oleh seseorang, aku segera menghapus airmataku dan melihat siapa orang itu, ternyata itu Naruto. "Sakura, maaf mengganggu mu malam-malam" sapanya sambil menggaruk kepalanya, yang kuyakini sebenarnya tidak gatal, "Sebenarnya, aku sudah menemukan guru bahasa Jepang untukmu" lanjutnya.
"Benarkah ?" tanyaku agak kaget, cepat sekali kerjanya. "Iya, dan kalau kau mau, kau bisa kerumahnya malam ini untuk sekedar berkunjung, lagipula ini masih belum terlalu malam kan ?" sarannya, aku mengangguk mengiyakan. "Naruto, maaf mengatakan ini, tapi kenapa kau selalu tampak sungkan padaku ? Harusnya aku yang sungkan padamu bukan ?" tanyaku, seketika kulihat mata Naruto membulat kaget lalu kembali melembut. "Kau, mengingatkanku pada sesuatu yang luar biasa, Sakura" ia lalu duduk didepanku.
"Apa itu ?" tanyaku penasaran, "Kau mau dengar sebuah dongeng?", aku mengedikkan bahuku "Tentu."
"Kau tahu?", " Tidak, aku tidak tahu, Naruto" sahutku cepat, "Ish, aku belum mulai. Begini ceritanya, 28 tahun yang lalu ibuku menyeberangi lautan bersama 10 orang pria pemberani untuk mencari tempat yang bisa ditempati. Tempat tinggal lama ibuku mengalami peperangan saudara yang saling berebut wilayah, ayahku gugur dan meninggalkan ibuku dalam keadaan hamil, peperangan semakin memburuk setelahnya. Ibuku berusaha membujuk orang-orang untuk pergi bersamanya mencari daratan baru untuk ditempati, dan mereka tiba disini." Naruto behenti lalu menarik nafas panjang. " Ia tiba disini, berusaha mempelajari bahasa orang-orang disini sambil bekerja untuk membesarkanku, lalu saat usiaku 5 tahun dia menikah dengan seorang pria dari klan Uzumaki. Pria keturunan nelayan yang senang berpetualang berkeliling dunia, mengarungi lautan, bahkan ia sudah mendengar semua rahasia yang disimpan laut. Begitulah yang mampu kuingat darinya." lalu kembali hening, kurasa Naruto sedang berusaha menata pikirannya.
"Namanya Yamato, ia tampan dan sangat baik, dia bilang dia sangat menyayangiku karena mataku berwarna biru. Warna favoritnya, warna laut yang sangat disukainya. Suatu hari saat usiaku 19 tahun ia pergi melaut bersama ibu untuk melihat hasil mutiaranya, langit menghitam dan air datang setinggi dinding yang bergelombang menghancurkan semua yang diterpanya. Lalu ayah dan ibuku tak pernah kembali. Sejak itu aku sangat benci lautan, tapi entah kenapa setelah dua tahun kematian mereka aku mendengar dari pamanku bahwa ayah selalu menulis bukun harian. Aku ingin tahu apa yang selalu ia pikirkan, jadi aku mencari buku harian itu keseluruh penjuru rumah ini." ada jeda disana, aku langsung menanyai Naruto "Lalu ? Apa isi buku itu?"
"Hmm... Haruskan aku memberitahumu ?" godanya, "Ayolah, beritahu aku" pintaku.
"Isinya adalah... Saat ia bertemu ibuku, dia bilang itu adalah hal paling luar biasa dalam hidupnya," Naruto mengeratkan sabuk kimononya sambil tersenyum malu-malu. Apa semua pakaian disini disebut kimono ya?
"Aku baru tahu, kalau sebenarnya ayah tidak begitu suka disuruh kakekku belajar melaut, apalagi jadi petani mutiara, dia lebih suka kerja di rumah menulis segulung laporan tebal. Tapi, saat akan pergi ke laut, tana sengaja ia berpapasan dengan kapal ibu yang akan merapat ke pelabuhan. Dia bilang sosok ibu sangat gagah, keren, dan hebat saat berdiri diatas kapal. Saat mendekati ibuku, ibu berkata kalau ia suka lautan, jadi ayahku juga ikut-ikutan suka pada lautan. Dia melamar ibuku dan bersumpah bahwa ia akan menganggap dan memperlakukanku selayaknya anaknya sendiri. Karena itulah, entah bagaimana caranya sikapku jadi mirip dengan ayah. Keren kan!?" Naruto mengakhiri ceritanya dengan cengiran lebar, aku mengangguk kagum.
"Ibumu pasti keren sekali, bahkan seorang pria langsung jatuh cinta padanya saat pandangan pertama. Seperti apa dia?" tanyaku, Naruto terlihat berfikir sebentar "Rambutnya merah, dia agak lucu, dan masakannya lezat, dia sangat bersemangat, gigih, dan kuat. Karena itulah, kau mengingatkanku pada ibuku. " jawabnya menggantung, "Para wanita harus belajar darinya" sahutnya lagi, lalu kami mengangguk dan tertawa bersama. Kurasa pikiranku sudah lebih tenang sekarang.
"Sakura, bagaimana kalau kau jadi adik angkatku saja ?" aku tidak tahu itu pertanyaan atau ajakan, yang pasti wajah Naruto sangat bersemangat, "Aku ? Jadi adikmu?" tanyaku, Naruto mengangguk.
"Heee ?"
"Iya, ayo ! Aku akan memberitahu Hinata soal ideku ini, dia selalu ingin memiliki adik ipar." Naruto menarikku keluar berlari menuju kamarnya dan Hinata. Tapi satu hal yang ingin kuketahui, lalu apa alasan Naruto berhenti membenci lautan ? Tidak mungkin benci akan hilang begitu saja setelah mendengar cerita ayahnya kan, berhenti membenci selalu memerlukan banyak alasan, dan alasan itu harus datang dari dalam dirinya. Kurasa ada hal lain yang mempengaruhinya.
Hei...
Sebentar...
Jadi aku akan mengganti margaku !?
Menjadi Uzumaki Sakura ?
"Sayaaanggggg!" teriak Naruto sambil menggeser pintu kamarnya, "Kyaa!" Hinata terlihat kaget dan segera merapikan selimut futonnya, "Naruto!? Kau ini kenapa sih?" omelnya tapi langsung terdiam saat melihatku.
"Sakura ? Ada apa ?" tanyanya, Naruto melepaskan pegangannya padaku lalu duduk disamping Hinata, aku melirik pada Sasuke dan Shion yang tidur bersebelahan, enaknya jadi bayi, tidurnya lelap tanpa beban pikiran.
"Sayang, aku punya ide menjadikan Sakura sebagai adikku, aku tadi menceritakan tentang Ibu dan Ayah padanya. Dan aku semakin yakin dia mirip dengan Ibuku, hehehe" ia menggenggam tangan Hinata lembut, matanya berbinar cerah sekali, aku bahkan bisa melihat ada bintang-bintang keluar dari matanya.
"Kau menceritakan tentang Ibu dan Ayah padanya ? Kalian pertamakali bertemu 3 bulan lalu, aku bahkan perlu bertahun-tahun menunggumu mau bercerita padaku!" Hinata setengah berbisik, suaranya terdengar kesal. Bahaya, kurasa dia cemburu.
"Tenang Hinata, aku tidak suka laki-laki yang cengengesan, aku lebih suka yang terlihat serius tapi humoris dan manis." tegasku jelas, Hinata dan Naruto memandangku tertegun, lalu tiba-tiba Hinata berdiri dan memelukku erat.
"Selamat datang dikeluarga ini adik ipar, aku senang bahwa bukan hanya aku yang tidak menyukai sifat Naruto itu" ucapnya lantang, aku tertawa kecil mendengar ucapannya sedangkan Naruto sudah meringis manja.
Diam-diam aku merasa ada kehangatan muncul dalam hatiku, "Emm... Anu Hinata" aku mundur beberapa langkah membuat Hinata melepaskan pelukannya dariku, "Kurasa aku harus pergi ke rumah guru bahasa Jepangku, benarkan Naruto ?" aku menoleh pada Naruto.
"Rumahnya melewati sebuah kedai teh diujung jalan, ada sebuah rumah dengan papan nama Senju, warna atapnya coklat. Satu satunya rumah dengan atap coklat. Mengerti ?" aku mengangguk cepat, "Jangan bicara pada siapapun Sakura, kau belum bisa berbahasa Jepang" Hinata mengingatkanku, "Tentu saja kaka ipar."
.
.
Aku berusaha berjalan lurus walau sebenarnya susah sekali, kimono ini sangat berat, dan sandal kayu ini aneh sekali bentuknya, aku kesusahan mengimbangi berat tubuhku dengan pakaian ini, belum lagu rambutku disanggul ketat begini. Tapi biarlah karena lumayan hangat, mungkin karena ini sedang musim dingin dan salju akan segera turun, kalau ini musim panas ? Aku pasti sudah jadi sup ayam.
Baru saja aku akan melewati kedai minuman, lima orang pria yang terlihatnya sedang mabuk berat menghalangi jalanku. "- -$(#(#+#+#82)+ -#" ucapnya, aku menggeleng tak paham, dia bicara apa sih ? Tiba-tiba temannya yang mengenakan topeng seperti labu menarik tanganku, aku berusaha menyentaknya agar melepaskanku, tapi teman-temannya yang lain ikut-ikuta berusaha menyentuhku. "Tolong!" teriakku sekuat tenaga, orang-orang itu hanya lewat tanpa menggubrisku, lalu seorang pria yang bergigi runcing berusaha menarikku menjauh dari jalanan, aku semakin kencang berteriak tapi orang-orang itu tampaknya semakin senang.
"7? -?#+#: -+#-*+ )°€{¢!" seorang wanita cantik dengan kimono hitam tiba-tiba menendang pria berkalung bintang dan bergigi hiu, sementara pria-pria itu kaget ia segera menarikku menjauh dari sana.
"Hei, tunggu, mau kemana kita ?" tanyaku setelah berlari cukup lama dan jantungku sudah tak bisa diajak kompromi. "Kau orang asing ?" tanyanya dalam bahasa Inggris, aku mengangguk, "Terimakasih sudah menolongku tuan" aku membungkuk padanya (Naruto yang mengajariku). "T-tuan ?" ia terlihat kaget, "Ya, pakaianmu dan wajahmu memang seperti perempuan. Tapi cara larimu, tanganmu, dan jakunmu agak terlihat saat kau berlari tadi. Apa itu tren disini ? Berpakaian agak feminin ?"
.
.
.
Bersambung~
Note :
Halo semuanya, sekedar informasi nih, ada readers (maaf ya Claves lupa namanya siapa) yang tanya apa pairing ini jatohnya ke Ibu-Anak, sebenarnya sih mau Claves jawab, tapi takutnya malah spoiler. Jadi, Claves akan beri petunjuk aja, dan petunjuknya adalah...
1. Karakter dalam cerita ini romancenya mengimitasi dongeng-dongeng di dunia, jadi bisa Indonesia, China, Thailand, Arab, Inggris, atau India, dan lain-lainnya. Jadi silahkan ditebak ya (atau follow cerita ini, jadi gak usah capek nebak alurnya ok? /Author promosi) ~.
2. Pasti ada kok romance Sakura sama Sasukenya, tapi sabar ya, perlahan tapi pasti kok.
3. Jaman sekarang kan ada yang bilang soal cinta, usia pun bukan halangan. (Apalagi kalo yang ditaksir mukanya awet muda) Sejenis sangkuriang gitu mah bisa aja kan ? Tapi tenang, Sakura sama Sasuje gak punya hubungan darah, bahkan yang menyusui Sasuke juga Hinata.
Baiklah kurang lebih begitu yaa. Oiya, terimakasih untuk reviewnya, karena Claves baru disini, review kalian sangat membantu Claves untuk memperbaiki cerita ini.
Salam hangat
Claves Luca
