A/N
Yaaa! Kembali lagi dengan Ell disini! Setelah chapter 4 yang sebelumnya sempat di-delete, kali ini chapter 4 kembali lagi dengan cerita yang LEBIH GAJE, LEBIH GARING, LEBIH OOC, daaaan LEBIH PANJANG(3,723 kata, belum termasuk sambutan gaje diawal cerita+disclaimer). Alasan mengapa ch.4 yang kemarin di delete adalah, plotnya agak melenceng+dipaksakan+humor nyaris nggak ada! Jadi, saya buat lagi yang baru. Dan ch.4 yang sekarang 360 derajat BERBEDA dengan ch.4 yang dulu itu. Yak, cukup sekian 'sambutan'nya. HAPPY READING~

Important note before read:
1. Ending nge-gantung
2. Diksi yang terlalu dipaksakan
3. Penataan kata pada ending sungguh jelek
4. Ya, itu saja 8D

ELLAUDEZETTA PRESENTS

Vocaloid owned by Yamaha corp. and Crypton Future corp.

We are Vocaloid family!
Chapter 4(Remake)

"Kare, salesman, and roadroller"

1

2

2,5

3

A C T I O N!

CUIT! CUIT! CUIT!

Satu lagi pagi musim panas yang cerah di Crypton Town. Satu persatu kawanan burung mulai terbang melanglangbuana ke seluruh penjuru kota Jepang. Beberapa mobil dan angkutan umum mulai berlalu-lalang di jalan-jalan protokol, menandakan sebagian penduduk sudah memulai aktivitasnya pagi ini. Begitupun juga dengan tokoh-tokoh kita yang tinggal di Yamaha Villa.

Teto yang sibuk dengan pekerjaan dapurnya, dan anak-anak kosnya yang sibuk dengan urusannya di kamar masing-masing. Entah itu mandi, menyiapkan buku pelajaran, atau menata seragam mereka.

Mangkuk-mangkuk nasi dan gelas yang terisi penuh dengan air susu sudah tertata rapih diatas meja. Tidak lupa dengan sajian buah-buahan yang melengkapi tatanan meja makan pagi ini. Lalu, dimana menu sarapan utamanya?


Teto mengangkat ujung tutup panci keatas, menyebabkan uap mengepul keluar secara bersamaan dengan aroma harum kuah Kare yang sedap. Kemudian, Teto mengambil sebuah sendok dan mencelupkannya kedalam panci agar cekungan sendok terpenuhi dengan kuah Kare.

SLUURRP!

Teto mencicipi kuah Kare yang panas dengan sendok, lalu mengecap-ngecapkan lidahnya sejenak untuk menambah kepekaan lidahnya dalam mengecap rasa asin dan pedas yang bersatu dalam Kare hasil karya kedua tangannya pagi ini.

"Hmm, kurasa sudah cukup." Ucap Teto sambil mematikan kompor, lalu menuangkan Kare kedalam sebuah mangkuk keramik besar. Terlihat beberapa gelembung meletup-letup di permukaan kuah Kare, menandakan keadaan Kare yang masih setengah mendidih. Setelah kuah Kare sudah mengisi penuh mangkuk besar, dengan hati-hati, ia pindahkan mangkuk berisi Kare itu untuk bergabung bersama perabotan makan lainnya yang sudah ditata sedemikian rupa diatas meja makan.

"Gakupo, Kaito, Meiko, Miku, Dell, Len, Rin, cepat kemari! Sarapannya sudah siap!" Panggil Teto layaknya seorang guru yang mengabsen satu persatu anak murid-nya. Tanpa harus menunggu lama, mereka langsung berhamburan keluar dari biliknya masing-masing dengan mengenakan seragam sekolah. Kecuali Dell, Len, dan Rin yang masih memakai baju sehari-hari.

"Kareeee!" Mereka semua serempak berlarian menuju meja makan ketika melihat dari jauh semangkuk besar Kare sudah tersaji diatas meja makan dengan uap yang masih mengepul diatasnya. Tak ada yang tidak suka dengan Kare. Rasanya yang gurih dan sedikit pedas mampu membuat ketagihan siapapun yang pernah mencobanya, tak terkecuali dengan tokoh-tokoh kita di Yamaha Villa ini.

Rupanya mereka sudah tak sabar untuk mencicipi Kare masakan Teto. Mereka semua ingin menjadi yang pertama untuk memakan Kare. Namun, tak mungkin semuanya menjadi yang pertama, 'kan? Akhirnya, terjadilah adegan saling berebut sendok sup yang digunakan untuk menuang kuah Kare kedalam mangkuk nasi.

"Aku duluan!" -Gakupo-
"Hoi! Ladies first, bodoh!" –Meiko-
"Orang dewasa yang sibuk harus didahulukan!" –Dell-
"Yang lebih tua harus mengalah kepada anak-anaaak!" –Len dan Rin-

Teto yang sudah terbiasa dengan hal seperti ini hanya bisa melipat tangannya didepan dada sambil menonton aksi anak-anak kosnya yang ricuh hanya gara-gara sebuah sendok sup. Namun, Teto merasa ada yang janggal dengan jumlah mereka. Ia menghitung kembali jumlah anak-anak kosnya yang berkumpul di meja makan. Ya, kurang dua orang. Kemana dua orang itu?


PO-PI-PO-PI-PO-PO-PI-PO! PO-PI-PO-PI-PO-PO-PI-PO!

Dengan kelopak mata yang masih setengah terbuka, tangan Miku meraba-raba, mencari handphone-nya yang telah menjerit sejak beberapa detik lalu untuk membangunkan Miku dengan ringtone 'berisik nan heboh' yang sengaja Miku setting agar ia lebih mudah untuk bangun.

PIP!

Miku menekan tombol merah yang terletak di sisi kanan handphonenya, mematikan alarmnya yang bernada ringtone 'berisik nan heboh'. Namun biar begitu, ringtone 'berisik nan heboh' itulah yang selalu berjasa membangunkannya setiap pagi.

"Ngg—"
Miku mengangkat kedua tangannya keatas untuk merilekskan otot tangannya yang terasa kaku akibat tidak melakukan aktivitas sama sekali dalam 8 jam terakhir(baca: TIDUR). Tak lupa, Miku menoleh ke arah teman sekamarnya, Kaito yang ternyata masih tertidur nyenyak dalam balutan selimut.

"Ck. Belum bangun dia." Miku beranjak dari Futon(kantung tidur), lalu dengan malas mengguncang-guncangkan bahu Kaito yang 'roh' nya masih asyik bertamasya di alam mimpi.

"Kaito, ayo bangun!" Perintah Miku dengan malas-malasan. Kaito tetap tak bergeming. Miku pun mempercepat guncangan tangannya pada bahu Kaito agar laki-laki baka ini cepat bangun.

Namun pemirsa, secepat apapun guncangannya, Kaito TAK KUNJUNG BANGUN. Miku pun mulai memutar otaknya, siapa tahu saja ia bisa menemukan ide terselubung dalam lekak-lekuk struktur daging kenyal dikepalanya itu(baca: OTAK).

"Ka— i— tooo— " Bisik Miku dengan suara yang dibuat-buat se-sexy mungkin di telinga kanan Kaito. Namun pemuda ini tetap tidak tergoda dengan bisikan Miku. Jangankan tergoda. Bergerak saja tidak sama sekali. Mungkinkah Kaito sudah terbang bersama Shinigami di langit luas?

Miku mulai sedikit putus asa untuk membangunkan Kaito. Akhirnya, ia memutuskan untuk berteriak sekeras-kerasnya.

"BAKAITO, LET'S WAKE UP, DUDE!"

Naas, sungguh naas. Kelopak mata Kaito tak kunjung terbuka. Miku mengira Kaito sudah mati. Bulir-bulir airmata sedikit demi sedikit mulai menggenang di sudut mata Miku. Namun..Hey! Bukan Miku kalau mudah putus asa! Akhirnya, Miku memutar otaknya kembali, mencari cara yang lain untuk membuat Kaito terbangun.

Entah kerasukan apa, sebuah ide mulai memasuki otak Miku, lalu memerintah saraf-saraf Miku untuk melakukan 'ide' ini. Kalau sampai 'ide' ini gagal, berarti saat itu juga Miku harus pergi ke toko kelontong untuk membeli beberapa lembar bendera kuning.

Miku menarik telinga kanan Kaito, mendekatkannya pada mulut Miku. Dan Miku pun mulai menyanyikan sebuah lagu ditelinga Kaito dengan frekuensi suara yang tinggi. Kali ini, ia yakin akan berhasil untuk membangunkan Kaito.

"Ima suguni yo! Ah! Check, one, two! AAAAAAAAAAHHHHH—!"

BATS!

Kaito mendadak terbangun ketika mendengar Miku bernyanyi tepat di daun telinganya.

"Miku! Apa-apaan suaramu itu! Mengerikan!" Omel Kaito sambil memegangi telinga kanannya yang merasa 'pengang' akibat gelombang suara Miku yang merusak gendang telinganya. Pemirsa, rupanya Miku menyanyikan lirik 'AAAAAAHH—!' dengan memakai oktav 4 yang memiliki frekuensi gelombang suara tinggi. Kalau saja Kaito tak kunjung bangun dalam waktu 5 menit, mungkin telinga kanannya sudah tuli terlebih dahulu.

"Kau mau mendengarnya sekali lagi?" Tawar Miku dengan wajah innocent.

"TIDAAAAK!"


Mandi sudah, seragam sudah rapih, dan keperluan sekolah sudah siap. Hanya tinggal sarapan dan mereka berdua –Kaito dan Miku- akan berangkat ke sekolah. Bersama, mereka berdua melangkah menuju ruang makan layaknya William dan Kate berjalan diatas karpet merah gereja Westminster Abbey.

"Wah, tumben sekali pagi ini kalian bangun lebih telat dari biasanya. Sungguh 'mencurigakan'" Sapa Gakupo kepada Miku dan Kaito yang baru saja keluar dari kamarnya. Terlihat handuk putih masih menggantung di leher Kaito yang rambutnya masih setengah basah.

Kaito dan Miku yang tidak merasa telah melakukan hal 'mencurigakan' hanya diam, tak menggubris sapaan Gakupo.

"Nee~ kuharap kalian tidak melakukan hal-hal aneh kemarin malam." Timpal Meiko dengan nada bicara yang terdengar mengintimidasi mereka berdua, tak lupa dengan menaikkan sebelah alisnya layaknya seorang detektif yang sedang mengorek informasi dari seorang tersangka.

"Jangan bodoh! Kami tidak melakukan apa-apa! Sungguh!"

JIIIIITT—

Semua yang ada di meja makan serempak memandangi Kaito dan Miku yang mencoba mengelak dari pernyataan Meiko dengan tatapan yang seolah-olah mengatakan, 'Oh, yaaa?'.
"Tch, sudahlah. Lupakan saja." Tukas Kaito sambil mengambil posisi duduk disebelah Miku yang sedang menyantap semangkuk Kare yang suhunya sudah mulai mendingin.


KRIIIING!

Ketika semua sedang sibuk melahap Kare-nya masing-masing, tiba-tiba telepon di ruang tamu berdering. Teto refleks beranjak dari kursi makannya, meninggalkan delapan anak kosnya. Yah, sudah kodrat bagi Teto sang pemilik Villa untuk mengangkat telepon itu.

"Kasane Teto disini. Ada yang bisa kubantu?" Ucap Teto yang memulai percakapan di telepon lebih dahulu.
"Pemilik Yamaha Villa, ya?"
'Hah...pasti penghuni baru.' Batinnya sambil memutar kedua bola matanya dengan malas. Mengurus 'mereka' saja sudah repot, ini mau bertambah lagi.
"Benar."
"Nama saya Ted. Saya adalah guru privat dari Len dan Rin Kagamine yang baru saja pindah ke Villa anda kemarin. Apakah anda berkenan untuk mengijinkan saya mengajar mereka berdua pagi ini?"

'Guru privat dua bocah itu? Jadi..Len dan Rin—'

"Silahkan saja. Saya tidak keberatan." Jawab Teto. Selama ini Teto tidak menyangka kalau Len dan Rin mempunyai guru privat. Apakah mereka tidak sekolah?
"Kalau begitu, saya akan tiba disana jam 10. Rin dan Len sudah memberikan denah Villa anda beberapa hari sebelumnya. Jadi, saya tidak akan kesulitan untuk menuju Villa anda. Terima kasih atas ijinnya."
"Sama-sama."

TUT!
Koneksi telepon terputus. Sepertinya orang diseberang telepon sudah bergegas pergi menuju Villa.

"Dai siafha, Teho?*" Tanya Meiko kepada Teto yang baru saja kembali memasuki ruang makan. Ia berbicara dengan mulut yang penuh dengan nasi Kare, membuat bicaranya kurang jelas.

"Telan dulu makananmu, dasar gegabah!" Omel Dell. Sementara Meiko hanya merespon dengan raut wajah cemberut ke arah Dell dan tentu saja, ia segera menelan makanannya.

"Guru privat Len dan Rin. Ia akan datang pagi ini jam 10."
"KAK TED!" Seru Len dan Rin bersamaan. Senyum bahagia langsung merekah di bibir mereka berdua ketika mendengar guru favorit mereka akan bertandang ke Villa pagi ini.

"Hei! Jadi kalian berdua tidak sekolah?"

Len dan Rin menggeleng. Senyum yang tadinya merekah kini memudar kembali, lenyap begitu saja dari wajah mereka berdua.

"Bagaimana mau mendaftar sekolah? Akte kelahiran saja kami tidak punya!"

Meiko, Gakupo, Teto, Miku, dan Kaito langsung tercengang mendengar pernyataan Len dan Rin. Apakah orangtua mereka tidak membuatkannya? Atau mungkin, mereka tidak punya orangtua? Mengapa Dell tidak membuatkan akte kelahiran untuk mereka? Mungkinkah Dell bukan orangtua mereka? Ah..terkadang kenyataan yang ada di depan mata memang mengejutkan.

"Kalian tidak mempunyai akte kelahiran? Bagaimana bisa?" Tanya Meiko dengan perasaan yang bercampur aduk antara penasaran, terkejut, dan kasihan. Len dan Rin hanya diam seribu bahasa. Bingung dengan kata-kata apa yang akan mereka gunakan untuk menjawab pertanyaan Meiko.

"Hei lihat! Limousin-nya Madonna berhenti di depan halaman Villa kita!" Seru Dell yang sebenarnya bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan. Sontak, mereka semua -minus Dell- langsung berlarian menuju jendela ruang makan yang mengekspos halaman Villa secara langsung, kemudian mencari-cari sosok ratu pop sedunia di halaman Villa tercinta.

"AGUSTUS-MOB :P" ucap Dell sambil menjulurkan lidahnya. Ya pemirsa, satu lagi tipuan bodoh dari Honne Dell.
"DEEEELLL! TIDAK LUCU!"

Nah..pada akhirnya mereka semua –minus Teto, Miku, dan Kaito- yang tadinya berebut sendok sup, kini berebut giliran untuk menghajar Dell.


"Buku tulis siap?"
"SIAP!"
"Alat tulis siap?"
"TENTU!"
"Meja belajar?"
"ADA!"
"Bantal duduk sudah?"
"SUDAH!"
"Perabotan untuk jamuan minum teh? Toples kue?"
"TAK USAH KHAWATIR!"
"Tinggal satu lagi.."

Rin dan Len memijit dagunya sejenak, memikirkan satu 'hal' lagi yang rasanya masih kurang.

"WAJAH CERIA UNTUK MENYAMBUT TED! YEAAAA~!" Seolah terhubung oleh kontak batin, Len dan Rin menemukan 'hal yang kurang' dan bersorak secara bersamaan. Kekompakan yang berlebihan.

TING TONG!

Ketika mendengar bel pintu berbunyi, Len dan Rin langsung berlarian menuju pintu depan Villa. Mereka yakin itu adalah orang yang mereka tunggu, Ted. Dengan wajah yang berseri-seri, Len dan Rin menarik gagang pintu secara bersamaan. Lagi, kekompakan yang berlebihan.

"KAK TEEEEED!"

Seru Len dan Rin layaknya seorang anak kecil yang dihujani ratusan permen dari Pinata. Namun, mereka terkejut ketika melihat sosok yang sama sekali tidak memberi tanda-tanda kalau itu adalah Ted. Yang mereka temui adalah sosok pria tua bertubuh gemuk dan berkulit hitam, serta memakai seragam biru muda dengan tas besar yang terselempang di bahu kirinya. Mari kita sebut beliau dengan, Tukang Pos.

"Ma-maaf adik-adik. Sepertinya kalian salah orang. Ini, ada surat untuk Kasane Teto. Harap diserahkan secepatnya, ya."Ucap tukang pos itu sambil menyodorkan sebuah surat berlabelkan 'Tagihan Listrik Bulanan'. Dengan lesu dan raut wajah kecewa, Rin mengambil surat itu, lalu melangkah kembali kedalam rumah bersama Len yang tak kalah kecewanya dengan Rin.

"Ah..kukira Ted!" Keluh Rin sambil melemparkan begitu saja amplop tagihan listrik ke sofa. Rupanya Rin melupakan amanat yang sudah pak pos berikan beberapa detik yang lalu.

TING TONG!

Bel kedua berbunyi. Kali ini, Len dan Rin yakin kalau itu adalah Ted.

"KAK TEEEEED!"Seru Len dan Rin untuk yang kedua kalinya, namun tak semeriah yang pertama tadi. Dan pemirsa, Len dan Rin lagi-lagi terkejut untuk yang kedua kalinya ketika melihat siapa yang ada dibalik pintu.

"Aku ingin mengembalikan tangga lipat ini. Sampaikan terima kasihku untuk Teto, ya." Ucap nenek tua itu yang ternyata adalah tetangga sebelah Yamaha Villa. Karena iba melihat nenek-nenek tua yang membawa beban berat, tanpa diminta Len langsung mengambil tangga lipat itu, lalu meletakannya di garasi.

"Ah, terima kasih karena sudah mau mengembalikan, nek." Rin membungkukkan badannya dengan sopan sebagai tanda penghormatan, lalu kembali masuk kedalam rumah bersama Len yang lagi-lagi tak kalah kecewanya dengan Rin.

"Uuugh! Ted kemana, sih! Janjinya jam 10, kan!" Gerutu Rin sambil memeluk erat bantal yang menjadi aksesoris pelengkap sofa di ruang tamu. Len yang tak bisa berbuat apa-apa untuk meredam kekesalan Rin, hanya bisa menepuk bahu temannya ini sambil berkata, "Sabar.."

TING TONG!

"Pokoknya itu HARUS Ted yang datang!"
Dan pemirsa sekalian, bel kembali berbunyi untuk yang ketiga kalinya. Dengan wajah yang masih menyimpan seberkas cahaya 'keantusiasan dan kepercayaan' kalau itu adalah Ted yang datang, Rin dan Len berlari menuju pintu, seraya menyorakkan nama guru mereka untuk yang ketiga kalinya. Namun tentu saja tak semeriah sambutan yang pertama dan yang kedua.

"KAK TEEEEEEED!"
"Pagi adik-adik yang manis. Saya adalah seorang salesman yang ingin mempromosikan produk baru perusahaan ka—"

BLAM!

Tanpa memperdulikan perasaan sang salesman, dengan lancang Len membanting pintu sekeras-kerasnya. Lagi-lagi sosok yang tak diharapkannya lah yang datang. Sungguh mengecewakan.

"Yang datang malah salesman! Menyebalkan! Kalau sudah begini, rasanya aku ingin surfing di Fanfiction." Gerutu Len dengan raut wajah kesal. Ia segera mengambil laptop dan modem yang tersimpan di lemari kamarnya, lalu mulai surfing di fanfiction website bersama Rin.

TING TONG!

Karena yakin itu pasti bukan Ted, Len dan Rin hanya diam saja. Niat untuk membukakan pintu sama sekali tak terlintas di benak mereka.

TING TONG!

"Len, Rin! Tolong bukakan pintunya! Aku sedang sibuk!" Perintah Teto disela-sela kesibukannya menguras akuarium ikan Lohan kesayangannya yang mempunyai tonjolan a.k.a jenong berukuran super di kening bersisiknya. Entah sejak kapan jenong itu bersarang di kening ikannya. Mungkinkah ikan Lohan kesayangannya bertambah cerdas?

"Tidak mau! Kau saja yang membukakan!" Balas Len dan Rin yang kedua matanya sama-sama sedang sibuk mencermati kata-demi-kata pada sebuah fic di Fanfiction website bersama Len.

Mendengar Len dan Rin yang menolak permintaan tolong Teto, akhirnya Dell yang sibuk dengan laptopnya dikamar berinisiatif untuk membukakan pintu.

TING TONG!

Ketika tangan Dell hendak menarik gagang pintu, bel kembali berbunyi untuk yang kelima kalinya.

"Kira-kira, siapa lagi yang Dell temui di depan pintu?" Tanya Rin penasaran tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop. Panjang umur. Belum sempat pertanyaan Rin terjawab, Dell kembali masuk kedalam rumah, lalu melangkah menuju kamarnya dengan wajah yang datar seolah-olah tak terjadi apa-apa.

"Siapa, Dell?" Tanya Len dan Rin bersamaan.
"Salesman."

Sweatdrop langsung bertengger di pucuk kepala duo Kagamine ini ketika mendengar orang yang ditemui Dell diluar adalah salesman. Mereka berdua yakin salesman yang Dell temui adalah orang yang sama ketika Len dan Rin temui beberapa waktu yang lalu.

TING TONG!

"Sudah waktunya kuusir salesman itu!" Umpat Rin yang tanpa ba bi bu lagi langsung meluncur ke arah pintu depan untuk mengusir salesman tukang paksa yang mengganggu ketentramannya pagi ini. Tak lupa, Len mengikutinya dari belakang, untuk berjaga-jaga jika Rin memerlukan 'kekuatan otot' nya untuk melawan salesman biadab itu.

Sesuai dugaan Rin dan Len, salesman biadab itu masih berdiri tegak di depan pintu. Benar-benar membuat jengkel.

"Kau ini salesman yang keras kepala, ya! Sudah kami bilang, kami tidak tertarik dengan produkmu!"Tanpa diberi aba-aba, Rin langsung mengomel sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah wajah salesman itu.

"Kapan kau berbicara 'kami tidak tertarik dengan produkmu'? Ketika aku datang kau langsung menutup pintu, begitupun juga dengan pria berambut putih itu! Aku tidak akan pergi sebelum kau membeli produk kami!"

Rin yang sudah geram atas kelakuan salesman yang tak hanya keras kepala, namun juga memaksanya untuk membeli produknya, akhirnya memutuskan untuk melakukan rencana 'S' a.k.a. 'SPESIAL'.

"Len, rencana S." Perintah Rin tanpa mengalihkan kedua bola matanya yang menatap tajam ke arah salesman biadab yang berada didepannya. Len mengerti. Sebelum pergi ia mengangkat tangannya sampai ke ujung alis, lalu menekukkan telapak tangannya seperti seorang tentara yang sedang memberi hormat untuk komandannya.

RRRRRRRRRR—!

Sejurus kemudian, bunyi mesin mulai menggema dipenjuru Villa. Bunyi itu berasal dari garasi besar yang terletak tepat disamping Villa. Sementara Rin hanya tersenyum licik, menunggu detik-detik dimana mesin itu keluar dari garasi.

Pintu garasi otomatis perlahan terbuka, perlahan menyingkap wujud benda yang mengeluarkan bunyi berisik itu.

JREEEEENG!

Setelah garasi terbuka sepenuhnya, tereksposlah sebuah mesin Roadroller besar keluaran terbaru plus Len yang memegang kemudi.

"READY FOR 'S' PLAN! ROADROLLER ROCK! BWUAHAHAHAHA—!" Seru Len dengan evillaugh yang membahana. Terlihat jelas diwajahnya tersirat nafsu yang besar untuk melindas salesman itu dengan roadroller kesayangnya.

Tanpa basa-basi, Len menginjak pedal gas nya, memutar kemudinya kearah salesman biadab yang mulai berlari tungggang langgang. Namun, Len yang kejam tak ingin begitu saja membiarkan pergi salesman itu. Ia menambah tekanan pada pedal gas nya, roda roadrollernya berputar makin cepat, membuat jarak antara roadroller dan salesman yang malang semakin menipis.

"TERIMALAH HUKUMAN DARI LEN KAGAMINE, SANG DEWA KEMATIAN YANG AGUNG, BWAAAAHAHAHAHAHA-!"


Sudah lebih dari setengah jam Ted berkeliaran di komplek Yamaha, namun tempat yang dicarinya di denah belum juga ditemukan. Nyaris puluhan orang yang sudah Ted repotkan untuk menjawab pertanyaan guru privat muda ini. Dan mereka yang ditanya Ted selalu menjawab "Tidak tahu".

"Kau tahu dimana tempat yang ditunjukkan di alamat ini?" Tanya Ted kepada seorang ibu rumah tangga yang kebetulan lewat didekat Ted dengan menenteng sebuah kantung belanja. Ibu itu mencermati denahnya dengan seksama. Terlihat bola matanya yang bergerak-gerak mengikuti arah jalur yang terpapar di denah.

"Ah..maaf. Aku tidak mengetahuinya. Coba tanya kepada yang lain." Jawab wanita itu sambil pergi meninggalkan Ted. Ah, lagi-lagi jawaban yang sama, Tidak tahu.

RRRRRRRR—!

Di sela-sela kegiatannya mencari orang lain untuk ditanyakan mengenai denah, Ted mendengar dengungan suara mesin yang berasal dari arah utara. Ia sepertinya mengenal suara ini. Karena penasaran, Ted berjalan menuju asal suara.

Dan sesuai dugaan Ted, ternyata murid privatnya lah yang membuat suara berisik itu dengan mesin roadroller yang mengejar seorang salesman. Salesman itu terus berlari dan berlari, melewati jalan yang searah dengan Ted. Otomatis, roadroller yang Len kemudikan bergerak ke arah dimana Ted berdiri.

"Eh? Kak Ted?" Pekik Len heran ketika melihat guru privatnya dengan sengaja berdiri di tengah-tengah jalur lintas roadroller Len. Tentu saja Len segera mematikan mesin roadroller agar rodanya tidak melindas guru privat kesayangannya ini.

"Wah..wah..kau ini nakal sekali, Len. Kalau begitu, lembar kerja Matematika-mu akan kuberikan dua kali lipat dari yang biasanya. Bersiaplah, ya?" Ujar Ted sambil membetulkan letak kacamatanya yang melorot.

"Apa? TIDAAAAAAK! INI RENCANA RIN! Aku hanya menuruti perintahnya saja!"

"Kalau begitu, Rin juga akan kena hukumannya. Kembalikan mainanmu itu kedalam garasi dan duduklah dengan manis di meja belajar bersama Rin."

JDEEERR—!

Nah, kalau sudah begini, Len tidak bisa membantah lagi. Niat hati untuk mengelak dari hukuman, eh..malah 'terciprat' ke orang lain.

Ralat. Niat hati ingin menghindar dari hukuman Ted, eh..Rin pada akhirnya juga kena. Kagamine yang malang.


Sesuai dengan perintah Ted, Len dan Rin kini duduk manis di depan meja belajar mereka. Air mata mulai berlinangan di kulit pipi bocah Kagamine ini karena Ted akan memberikan hukuman horror untuk mereka. Jantung mereka semakin berdebar tak karuan ketika melihat tangan Ted pergi 'menjelajahi' isi tasnya, lalu 'kembali' dengan setumpuk tebal lembar kerja.

"Ted, apa kau akan memberikan hukuman kepada ka—"

PRAAAAKK!

Belum selesai berkata-kata, dua tumpuk lembar kerja dengan ketebalan delapan senti sudah bertengger dengan manis diatas meja belajar. Raut wajah ketakutan yang menghiasi wajah Len dan Rin semakin jelas terlihat. Ia tidak menyangka guru sebaik Ted bisa menjadi se-killer dan se-tega ini.

"HUWAAAA..TED KAU JAHAT SEKALIII!"

Percuma Len, Rin. Sekeras apapun kalian menangis, Ted tak akan memperdulikannya. Selamat mengerjakan soal! 8D


"Ngomong-ngomong..kenapa kalian berniat untuk melindas salesman itu?" Tanya Ted kepada Len dan Rin yang penuh dengan linangan airmata mengerjakan lembar demi lembaran soal matematika pemberian Ted. Rupanya Ted yang kejam tidak menggubris berbagai protes maupun keluhan Len dan Rin atas hukuman yang diberikan.

"Dia memaksa kami untuk membeli produknya. Sungguh menyebalkan!" jawab Rin yang mengerucutkan bibirnya karena kesal. "Kau juga, janjinya datang jam 10. Dan kau baru datang jam 11! Pembohong!" Lanjut Rin.

"Ah, aku kesulitan membaca denahnya. Jadi, aku harus berkeliling kesana-kemari untuk bertanya. Maaf, ya." Jelas Ted.
Len dan Rin hanya ber-'oh' ria mendengar penjelasan singkat Ted. Kali ini mereka tidak banyak bicara, karena harus konsentrasi dengan jejeran soal yang menunggu untuk segera dikerjakan.

"Tapi, aku tahu siapa salesman itu." Sambung Ted.

Bocah Kagamine ini langsung antusias ketika mendengar Ted mengetahui siapa salesman yang mengacaukan pagi hari mereka. Mereka pun berhenti mengerjakan lembar kerja mereka sejenak, lalu memfokuskan pendengarannya.

"Dia tetanggaku yang baru saja memulai debut pertamanya sebagai orang gila hari ini. Mungkin beberapa minggu kedepan kita akan melihatnya dijalanan dengan kemeja yang sudah lusuh dan compang-camping."

'Orang gila? Jadi—'

Bulu kuduk Rin dan Len langsung berdiri ketika tahu salesman yang mereka temui tadi pagi adalah orang gila yang masih 'newbie'. Pantas saja bajunya masih bersih, tak seperti kebanyakan orang gila professional lainnya yang ber outfit kotor, lusuh dan berantakan. Bahkan tak jarang bisa kita lihat orang gila yang shirt+bottom less di beberapa tempat tertentu.


"Dell, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Teto yang dengan lancangnya masuk kedalam kamar Dell dan Meiko tanpa ijin. Dell yang sibuk dengann laptopnya berhenti sejenak, mengangkat kepalanya untuk memandang Teto yang berdiri di depan pintu.

"Hm? Tentu. Bicara soal apa?"

"Len dan Rin. Tadi pagi, sewaktu Meiko menanyakan mengapa Len dan Rin tidak mempunyai akte kelahiran, kau bersikap aneh dan tiba-tiba mengubah jalur pembicaraan. Yah, kau tahu..ini sangat ganjil. Aku yakin kau dan mereka berdua menyembunyikan sesuatu."

"Bicaralah dengan jelas dan tidak berbelit-belit, Teto. Apa yang mau kau sampaikan?"

Teto mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya. Ia menguatkan hatinya yang masih ragu untuk menanyakan hal ini pada Dell.
"Sejak awal, aku penasaran dengan hubungan antara kau, Len, dan Rin. Itu saja."

Dell terdiam sejenak, berpikir apakah ia akan benar-benar memberitahu hal yang sebenarnya kepada Teto. Setelah lama berpikir, menimbang-nimbang keuntungan dan kerugian yang akan didapatkannya jika menceritakan hal ini kepada Teto, akhirnya Dell memutuskan untuk membeberkan semuanya.
"Jadi, kau ingin tahu siapa aku, Len dan Rin yang sebenarnya?"

Teto mengangguk.

"Aku adalah Honne Dell. Seperti yang bisa kau lihat, aku adalah mahasiswa dari Universitas X. Dan, Honne Dell adalah seorang mahasiswa yang nekat memungut dua bocah jalanan, lalu mengajak mereka berdua untuk tinggal bersama sampai detik ini. Jelas?"

Teto diam seribu bahasa. Ia sibuk mencerna kata-kata yang Dell katakan, sampai akhirnya..

"Dua anak kecil..maksudmu—"

To be continued...

Ya, chapter 4 selesai! Nah, bagaimana? Tambah ancur kan? Haha sudah diperingatkan dari awal kalau fic ini akan tambah ancur. Dan..ada apa dengan endingnya? Oh, saya kehabisan kata untuk membuat ending asdasdasdasdasd.

Alright, REVIEW?