"And why mess up a good thing, baby?
It's a risk to even fall in love
So, when you give that look to me
I better look back carefully
Cause this is trouble, yeah this is trouble"
Sleeping with a Friend – Neon Trees
Donghae POV
Donghae tengah menduga, kalau dia telah menjalani masa-masa pubertas yang dialami para pria seperti biasanya—lebih cepat dari yang dia perkirakan. Dia tidak lagi merasakan kepakan kupu-kupu sewaktu pria lajang lainnya memberikan sekadar tatapan nakal yang memancing sinyal erotis. Tidak, fase belia itu telah lenyap bersamaan dengan hilangnya Hyuk Jae dari kota yang kampungan dan menyesakkan ini. Yang cuma berisi sepertiga dari populasi provinsi dan sisanya dipenuhi oleh kaum konservatif yang malang, yang melewatkan prospek terbaik dalam hidup. Tentu saja mereka bukan bagian dari diri Donghae yang dulu. Pria yang dipujanya setengah mati itu dengan kejamnya menghilang bersama mimpi gemilang dan semangat muda. Salah satu sahabat terbaiknya, potensial sebagai seorang pacar dan pendengar yang cakap—sebelum dia menghilang menuju hiruk pikuk kota megapolitan yang kaya akan mimpi dan omong kosong belaka.
Jadi dia memutuskan untuk memantapkan diri bahwa Hyuk Jae tidak lagi bisa menawarkan sensasi yang sama seperti saat mereka masih orok dulu. Bahkan sehabis pria itu menyerah akan mimpinya mengenai misi menemukan jati diri di antara jutaan jiwa yang kehilangan diri mereka di Seoul. Hyuk Jae membawa kesedihan yang tidak berarti ke kota ini, yang tidak berefek lagi kepada dirinya, atau setidaknya Donghae meyakinkan dirinya apabila dia tidak terpengaruh sama sekali. Bermain aman di tengah kucing-kucingan yang menyiksa.
Pria itu tidak berubah, masihlah Hyuk Jae yang kikir, jangkung dan ceking, meski seleranya mengenai mode pakaian lebih maju sepuluh tahun dari penduduk di sini. Dia mengikuti perubahan, tidak melawannya, dan Donghae bersyukur akan ketidaksadaran Hyuk Jae mengenai sintingnya Donghae terhadap penampilan fisiknya. Pria itu tetap bangga menampilkan kejatuhannya, dan badai typhoon merendam kediamannya, dan seorang tunangan yang kabur sebab investasi menjadi seorang Hyuk Jae tidak lebih baik dari Banker yang dua puluh tahun lebih tua darinya. Masih panjang lebar, Donghae tenggelam dalam perasaan cinta dan jatuh bangun yang kelabu.
Yoona bilang ide mengenai malam yang panas bersama Hyuk Jae tidak akan membangkitkan gairah yang waras dalam dirinya, itu akan meningkatkan stres dan ambisi karena sabahat karib kecil kemungkinannya berkemampuan menjadi pacar yang monogamis. Malah mereka akan terlibat ke dalam percecokan tanpa henti—berujung kepada Donghae yang tersesat ke dalam gairah dan semangat untuk mendapatkan Hyuk Jae. Yoona cukup rasional, dia memahami dengan baik motif pribadi Donghae yang mendorongnya membekap Hyuk Jae ke dalam pesona bersetubuh yang alami; kalau aku tidak mendapatkan hatimu, setidaknya aku pernah merasakan setetes nikmat dari tubuhmu. Klise.
Karena seks adalah kegiatan alamiah yang tidak akan meninggalkan luka, tidak juga penyesalan, atau kecemasan, tetapi itu kan untuk pria normal, pria yang tergila-gila seperti Donghae akan menghadapi cinta seperti lapangan perang yang mencekam. Yoona meringis, mengamati wajah Donghae yang harap-harap takut menanti kedatangan pujaan hatinya. Dia memutar pinggulnya, seorang pelanggan mengharapkan segelas margarita, lalu menghampiri Donghae kembali sewaktu pria itu menghusap wajahnya yang berminyak untuk ketiga kalinya. "Mungkin mengajaknya berkencan di Bar milik kembaranmu bukan ide yang bagus, malah, meninggalkan kesan pertama sebagai teman kencan yang menyedihkan. Aku tidak menghakimimu, tetapi kau butuh kejujuran mengenai penampilanmu sekarang."
Donghae tidak bergeming, dia menenggelamkan wajahnya ke lipatan lengan di atas meja, dan mendesah menanti waktu membunuh hatinya, karena Hyuk Jae yang meninggalkan luka di hatinya yang tercabik tidak lagi semanis dulu. Donghae menginginkan komitmen dan kejelasan, Hyuk Jae memuja tantangan, pernikahan adalah mitos yang sama menyeramkannya dengan kehadiran seorang anak, dan Donghae tidak dapat menjanjikan apapun selain peternakan sapi yang luasnya 100 hektar. "Aku ingin martini Yoong, bukan ocehanmu."
Yoona tidak terkesan, tetapi tetap melakukan tugasnya. Terlepas dari Donghae yang adalah kakak kembarnya—dan mereka telah bersama sebelum terwujud seperti sekarang—Donghae tetaplah seorang pelanggan yang keberadaannya dia hargai, dan keinginannya adalah doa yang mesti terkabulkan. Menuang gelas keempat. Yoona berharap kalau Donghae tidak mabuk sebelum kedatangan Hyuk Jae, meski mustahil kedengarannya.
"Donghae, sebagai sosok yang paling punya peran dalam hidupmu, terkadang aku mempertanyakan keputusanmu untuk jatuh cinta kepada Hyuk Jae. Maksudku, kau tidak kekurangan apapun, kalau materialah yang diincar Hyuk Jae dari seorang pria. Dia sendiri tidak meninggalkan kesan yang positif dalam masa kanak-kanakku, selain caranya mengunyah permen karet dan meludah. Dan kau benci main denganku kalau ada sekumpulan teman laki-lakimu yang diketuai oleh Hyuk Jae." Yoona mencoba menarik perhatian Donghae dengan memukul punggung pria itu, dan terhenyak ketika rambut lurus yang tebal dan pirang mengintip di balik pintu masuk. Tidak bisa menahan senyum riangnya, dia memberi kode agar Hyuk Jae mendekat. "Dengar, kau memang dikenal sebagai pria yang pecundang, tetapi bukan berarti kau harus menjadi seorang pecundang sungguhan."
"Aku tidak tahu apa yang tidak kumiliki yang dimiliki pria lain yang pernah dikencaninya. Dan Yoong, kau tidak memilih untuk mencintai, kau dipilih untuk melakukannya."
Yoona mencoba menahan tawanya, tetapi tidak menyerah untuk mendikte Donghae. Menutup mulutnya, dia mengerling kepada Hyuk Jae. "Klasik, aku tidak akan mengerti posisimu kalau aku bukan kau, tetapi brengsek, berbaliklah dan jangan memekik!" Yoona menggeram, yang sederhananya adalah ancaman, dan dalam hitungan yang singkat, Donghae membalikkan tubuhnya, tergagap karena eksistensi Hyuk Jae.
Pria itu selangkah mendekat, dan bau parfumnya yang dikuasai aroma kayu dan karang-karang di laut membangunkan otot hidungnya yang lemas. Hyuk Jae mengenakan kaos oblong putih yang menyiratkan kalau dia tidak sedang bertemu dengan pasangan kencannya, tetapi persetan, peduli apa Donghae dengan simbol kolot itu. Yang ada di pikirannya adalah Hyuk Jae berada di sini, yang terpenting dari segalanya adalah Hyuk Jae menyetujui progres baru yang Donghae tawarkan padanya, mengenai ide mengagumkan tentang sepasang sahabat lama yang terlalu klop, berakhir pada mereka yang gulat-gulatan di ranjang. Donghae merasa otot-ototnya rontok, Hyuk Jae yang tersenyum dan bersama keyakinannya, merupakan fantasi terliar yang hidup dalam benak Donghae.
"Terimakasih Yoong, itu adalah kesan yang manis mengenai aku." Hyuk Jae mencium pipi Donghae, jemarinya yang lentik bertengger di punggung Donghae yang kokoh. Memusatkan pandangannya kepada Yoona, Hyuk Jae kembali mencuri ciuman di pipi kirinya.
"Duh, kalian itu brengsek, Hyuk Jae jangan patahkan semangat hidupnya, aku adalah adik yang protektif, dan Ibu menginginkan acara pernikahan yang diselenggarakan olehnya sendiri, dia tidak akan berhenti sampai kalian benar-benar siap."
Yoona permisi pergi dengan cara yang tidak biasa, suara tawa Hyuk Jae yang gemilang menghilangkan amukan hak dan permukaan lantai kayu yang dihasilkan Yoona sewaktu wanita itu berjalan menuju gudang, Donghae tidak bisa meluruskan hatinya, dan memantapkan keteguhan yang telah terbangun karena sedetik dia memandang wajah Hyuk Jae yang berkilau, dia kehilangan separuh kata-katanya. Dia mungkin pernah merasakan hal yang sama mengenai Hyuk Jae sepuluh tahun yang lalu, tetapi gejolak intens yang menghisapnya menuju dunia yang sesungguhnya memberikan rasa mual dan kesenangan yang gagah, yang bahkan masih ada ketika Hyuk Jae mencuri ciuman ketiga.
Donghae menghusap kursi dengan kedua tangannya yang dingin, mempersilahkan pria itu duduk dan Donghae terhenyak akan suara tawanya. Bunyi yang satu-satunya melekat di telinganya. Pria itu mengomentari cara berkencan Donghae yang canggung dan kolot, dan bagaimana semuanya kedengaran lucu kalau Hyuk Jae saja terlibat di dalamnya?
"Kupikir kau tidak akan datang, aku hampir menghabiskan gelas keempatku dan aku bersiap mendobrak pintu rumahmu karena aku tidak sabaran."
"Ya tentu saja," Hyuk Jae menyapa pandangan matanya, sepasang mata kecokelatan itu menariknya menuju ruang imajinasi di tengah tata surya yang terpusat kepadanya saja, dan Donghae telah merasa bahwa dirinya membutuhkan beberapa cek personal. "Aku melewatkanmu dulu, aku tidak akan menyia-nyiakanmu untuk kedua kalinya. Tentu saja, kalau kau pikir kita tidak hanya cocok jadi kawan lama yang rupawan, tetapi calon pasangan yang memuaskan."
Donghae meraih dagu Hyuk Jae menuju bibirnya, meninggalkan sentuhan yang hangat dan basah di bibir bawah Hyuk Jae. Dorongan yang menyengat itu menjalar menuju area Selatannya, dan Donghae menyadari bahwa Hyuk Jae lebih dari calon pasangan yang memuaskan. Hyuk Jae tidak berusaha memenuhi standar untuk menjadi pria yang berkompeten, dia membuat standar baru dengan memperlihatkan kepada Donghae bahwa dia lebih dari Hyuk Jae yang dulu. "Aku mencintaimu, aku ingin menikah denganmu."
Hyuk Jae kegirangan, memompa Donghae untuk jadi lebih liar dari sebelumnya. "Aku tidak masalah, sayang."
.
.
.
END
.
.
.
Author Note:
Jadi selain UN dan persiapan buat nyari kuliah, ada hal yang bikin kami gak bisa post ff sesuai waktu. Laptop tiba-tiba rusak dan data eunhae/suju/ff yang udah dikumpulin sejak delapan tahun yang lalu hilang semua, termasuk series dari ff ini yang sebenernya cuma tinggal post doang. Sebenernya gak percaya diri sama yang satu ini, selain dibuat buru-buru, diproofread sekali, sebenernya versi lamanya lebih memuaskan, tapi apa daya kan?
So, any feedback?
