Hola Minna. Ini first fic request yang saya buat. Masih gaje sih.
.
DISCLAIMER : TITE KUBO
.
Adaptation From Endless Love
.
RATE : T
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, ceritanya persis sama yang ada di cerita aslinya. Jadi kemungkinan ending akan sama sesuai dengan permintaan.
.
Attention : Fic ini adalah adaptasi dari Drama Korea yang berjudul sama, 'Endless Love' yang saya bikin versi Bleach sesuai permintaan Kina Echizen.
.
.
.
Semoga gak ada bosennya ya dengan fic saya yang gaje, ancur, beraMasaki akhirnya pulang dengan putus asa. Bibi yang mengasuh Momo sejak kecil itu tidak mau memberikannya kesempatan.
Memang tidak adil jika Masaki bersikap begitu egois. Tapi ini juga tidak akan adil untuk Rukia yang sejak kecil sangat dicintainya tiba-tiba harus berpisah karena keadaan yang tidak memungkinkan ini. Pasti berat untuk diterima Rukia sekarang ini.
"Sayang, kau darimana?" Isshin menemukan Masaki yang terduduk lemas seraya menopang dahinya dengan satu tangannya. Isterinya terlihat begitu lelah. Entah apa yang dikerjakannya di luar sana sampai membuatnya terlihat begitu depresi.
"Hanya berjalan-jalan sebentar…" sahut Masaki.
"Kau mau istirahat?" tawar Isshin.
"Sayang, bisakah kita segera pindah ke luar negeri? Amerika, Eropa, terserah saja. Asal tidak di sini. Kita akan membawa Ichigo, Momo… juga Rukia. Bagaimana?" desak Masaki.
Isshin tentu saja tidak percaya dengan kata-kata isterinya itu. Rasanya ini tidak benar. Mana mungkin Isshin bisa membiarkan isterinya bertindak nekat begini. Masaki juga terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehat.
"Sayang, mana mungkin kita membawa mereka berdua. Salah satunya, harus kembali kepada yang benar. Aku tidak berharap keduanya berpisah dari kita. Tapi… ini jelas tidak mungkin. Bagaimana kalau walinya melapor bahwa kita menculik anaknya?" nasihat Isshin.
"Aku tidak peduli! Aku tidak mau memberikan Rukia pada siapapun! Sayang… Rukia adalah anak kita. Anak yang kita besarkan sejak kecil. Anak yang kita bawa ketika dia masih sangat merah! Bagaimana mungkin kita bisa meninggalkannya seorang diri di sini?" lirih Masaki putus asa.
"Aku tahu sayang, aku tahu. Lalu kita harus bagaimana? Tidak ada jalan lain."
Masaki menangis sejadinya di pelukan Isshin. Kenapa di saat semua kebahagiaan sudah begitu lengkap di tangannya harus berubah jadi begini. Padahal, Masaki mengira, dengan memiliki Rukia, maka keluarganya adalah keluarga paling bahagia di muka bumi ini. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan keluarga mereka saat ini. Tidak ada.
Tapi bagaimana sekarang…
Apa yang bisa dilakukan Masaki saat kebahagiaannya terancam terenggut paksa?
Tanpa dua orang itu sadari, Rukia mengintip orang tuanya yang tengah menangis sambil berpelukan itu. Seluruh kata-kata yang mereka berdua lontarkan membuat dada Rukia sesak sekali.
Tidak seharusnya Rukia ada di rumah ini sejak awal. Tidak seharusnya Rukia menjadi anak di rumah ini. Dan tidak seharusnya… Rukia keras kepala untuk tinggal di sini. Tidak seharusnya.
"Kau lihat? Tempatmu bukan di sini. Kalau kau terus di sini, kau hanya membuat orang tuaku menderita. Jadi… cepat pergi sebelum kau membuat seluruh rumah ini jadi semakin menderita!"
Tiba-tiba Rukia ingat apa yang dikatakan oleh Momo tadi siang setelah pulang sekolah.
Awalnya Rukia tidak menanggapinya dan tetap bersabar. Tapi kini… ternyata itu sulit.
Saat seluruh anggota keluarganya sudah tertidur, termasuk Momo yang hingga kini masih menempati kamarnya, Rukia berjalan menuju lemari kaca di dapur. Mengeluarkan sebuah kotak besar yang berisi empat cangkir yang pernah dihias oleh Ichigo saat ulang tahun ibunya.
Rukia mensejajarkan keempat cangkir itu dan menatapnya dengan sedih. Lukisan kakaknya… wajah ayah dan ibunya.
"Kaa-chan… maafkan aku. Aku sayang Kaa-chan, aku juga sayang Tou-chan. Aku juga… sangat menyayangi Nii-chan. Aku sayang kalian semua. Tapi… aku tidak boleh begini. Aku ingin kalian bahagia di sini. Karena itu… maafkan aku. Semoga kalian bahagia…"
Rukia mengusap air matanya yang mulai menganak sungai di pipinya. Dadanya semakin sesak karena Rukia terus menahan air matanya.
"Karena itu… boleh kan aku membawa diriku? Aku akan baik-baik saja. Sampai jumpa… Kaa-chan…"
Rukia menciumi satu persatu cangkir itu dengan penuh perasaan. Karena mungkin… ini terakhir kalinya.
Rukia kembali memasukkan ketiga cangkir itu dan membawa cangkir miliknya sendiri.
.
.
*KIN*
.
.
Setelah bicara dengan Nyonya kaya itu, sama sekali tidak membuat Yoruichi senang atau pun sedih. Kalau Yoruichi egois dan bisa berpikir dengan akal sehat, tentu saja kesempatan bagus kalau ada yang mau berbaik hati merawat keponakannya itu dengan fasilitas mewah. Dia tidak perlu repot-repot menghidupinya lagi. Tidak ada yang menjadi tanggungannya lagi.
Tapi sayang, amanat tetap amanat. Dia harus memenuhi janjinya pada mendiang sang adik untuk menjaga putrinya. Jadi apapun yang terjadi, Yoruichi tidak boleh begitu.
Baru saja Yoruichi akan membuka kedainya, dirinya tertegun kaget ketika melihat sesosok gadis mungil berdiri di depan kedai makannya dengan mimik bingung. Yah, wajahnya memang mirip dengan Hisana, adiknya. Kondisinya tidak terlalu baik. Tapi begitu melihat Yoruichi, gadis itu memaksakan seulas senyuman dan menyapanya dengan sopan.
Yoruichi masih tidak bisa menemukan ada apa sebenarnya di sini. Tapi gadis itu sudah berlari memeluknya dengan hangat dan penuh rindu.
"Aku pulang…" lirihnya.
Astaga… Yoruichi tak tega. Sungguh tak tega.
Apakah dia tega membiarkan gadis ini terancam hidup sengsara bersamanya? Padahal dia dibesarkan dari keluarga berada yang kayar raya. Tapi dia kembali kemari atas kemauannya sendiri. Dia datang ke tempat Yoruichi dengan sendirinya tanpa perlu dipaksa.
.
.
*KIN*
.
.
"Lihat, sekarang Putri Mahkota sudah diasingkan. Tahta yang baru sudah ditempati oleh Putri Mahkota yang sah!"
"Jadi itu artinya sekarang kau anak orang kaya Momo? Dan si penipu itu jadi miskin kan?"
"Sudah seharusnya dia tahu diri. Kalau tidak tahu diri, yah… berarti tidak tahu malu kan?"
Tawa membahana meledak di dalam kelas itu.
Rukia langsung menunduk dan berwajah merah padam karena malu. Tapi dia berusaha untuk tetap semangat dan bersikap seperti biasa. Seisi kelas sudah tahu masalah mereka. Dan masing-masing dari mereka kini begitu bahagia bisa mengejek Rukia.
Tidak apa-apa. Itu tidak akan berlangsung lama. Semua akan baik-baik saja.
Untungnya ada Nozomi yang masih mau berteman dengan Rukia dan menyemangatinya. Jadi Rukia tetap ceria seperti biasanya dan tidak menghiraukan apa yang membuatnya bersedih. Lagipula, ini bukanlah hal buruk. Rukia sekarang berusaha untuk bahagia kembali. Bukankah dia sudah kembali kepada keluarga kandungnya. Sebahagia apapun hidup bersama orang lain, tapi tidak akan sebahagia hidup dengan keluarga sendiri sesulit apapun. Harus berusaha.
"Kita bicara?"
Rukia agak kaget ketika kakak―mantan kakaknya sudah berdiri di depan pintu kelasnya seusai pulang sekolah. Merasa tak ada alasan untuk menghindar, Rukia mengiyakan permintaan Ichigo untuk bicara dengannya.
"Ada apa, Nii-chan?" tanya Rukia.
"Kenapa kau pergi dari rumah? Ayo pulang bersamaku," ajak Ichigo seraya menggenggam tangan Rukia untuk menariknya pergi.
Tapi Rukia segera menepisnya dan menunduk sedalamnya. Tidak berani melihat ekspresi Ichigo saat ini.
"Maafkan aku. Tapi kurasa itu bukan rumahku lagi sekarang. Aku sudah memutuskan untuk tinggal bersama keluarga kandungku," kata Rukia lembut tapi tegas.
"Apa? Aku belum mendengar apapun mengenai ini. Jangan khawatirkan soal itu. Kau bisa pulang, Tou-san dan Kaa-san akan mengurus semuanya, jadi ayo pulang bersamaku…" pinta Ichigo.
Rukia tetap menggeleng, memberanikan mengangkat wajahnya dan tersenyum lembut pada orang yang dianggapnya kakak selamanya ini.
"Sekali lagi maafkan aku. Aku tidak bisa… salah satu dari kami harus mengalah. Dan aku memutuskan untuk mengalah. Lagipula, aku tidak mau jadi anak yang tidak berbakti dengan tidak mengakui keluargaku sendiri. Maafkan aku, Nii-chan. Tapi… selamanya kita tetap keluarga kan? Walau aku…"
"Tidak bisa begitu! Kenapa kau yang harus mengalah! Pikirkan Kaa-san Rukia, Kaa-san sangat menyayangimu…"
"Karena itu Kaa-chan harus menyayangi Momo juga. Maaf Nii-chan, Ibuku memerlukan bantuanku sekarang…"
Rukia cepat-cepat pergi sebelum Ichigo membujuknya lebih jauh lagi. Dia harus… kalau dia tidak begini, tentunya akan sulit untuk semua orang. Lagipula, apa yang sebenarnya dia cari?
Rukia bisa…
Rukia melakukan ini karena dia menyayangi semuanya. Rukia harus bersikap adil. Sudah cukup baginya dirawat, dibesarkan dan disayangi oleh keluarga itu. Jadi sekarang, giliran Momo yang harus mendapatkan semua itu. Bukankah ini adalah takdir? Takdir bahwa seharusnya Rukia… begini?
.
.
*KIN*
.
.
Yoruichi masih kaget mendapati anak itu pulang kembali ke tempatnya. Momo saja tidak mau kembali lagi kemari.
Anak gadis bernama Rukia itu, katanya dia sudah memutuskan akan tinggal di sini karena dia harus kembali kepada keluarga kandungnya. Tapi Yoruichi sangsi anak itu akan bertahan di sini. Bukankah dia biasa hidup mewah?
Sangat tidak menyenangkan bukan dari kehidupan yang begitu kaya raya tiba-tiba harus hidup sengsara di sini?
Yoruichi tak sekali pun membiarkan Rukia ikut membantunya. Dia hanya menyuruh Rukia masuk ke kamarnya dan belajar. Tapi tetap saja anak itu akan memaksa membantu meski hanya mencuci piring. Berbeda sekali dengan Momo yang tidak pernah mau membantu dan harus diteriakan dulu baru mau membantu. Itu pun hanya membantu sekadarnya saja.
"Istirahatlah, kau baru pulang sekolah," ujar Yoruichi saat mendapati gadis itu sudah mencuci tumpukan piring bahkan sebelum dia mengganti seragam sekolahnya.
"Tidak apa-apa, Kaa-san, aku belum begitu lelah. Biarkan aku membantu," kata Rukia lembut.
"Tapi, kau tidak terbiasa melakukan hal ini."
"Tidak juga, aku sering melakukan hal ini. Jadi kalau Kaa-san butuh bantuanku, katakan saja hm? Jangan bekerja sendirian. Karena aku pasti akan membantu…"
Yoruichi segera berbalik.
Malang sekali nasib anak ini. Kenapa Tuhan begitu jahat padanya. Seharusnya dia layak mendapatkan kebahagiaan seperti sebelumnya. Tapi kenapa harus dia?
Sambil menahan airmatanya, Yoruichi segera membersihkan beberapa meja yang masih berantakan itu.
"Kalau kau bersikeras, setelah piring itu, kau harus memanaskan lauk yang ada di panci dan menyapu halaman depan. Jangan lupa bersihkan sampah yang ada di dapur," perintah Yoruichi.
"Baik," sambut Rukia penuh antusias.
Ini sudah harus ketiga Rukia berada di rumah ini. Awalnya dia memang tidak terbiasa. Sungguh sulit memang, tapi dia akan segera terbiasa. Sebentar lagi semua akan baik-baik saja.
Ichigo tak lagi mengunjunginya setelah Rukia mengatakan hal itu. Itu bagus. Dengan begitu ini akan lebih mudah.
Kadang Rukia memang merindukan saat-saat bersama keluarganya yang dulu. Seperti… makan malam bersama…
Rukia segera mengenyahkan perasaan itu. Dia tidak mau memikirkannya lagi.
Rukia selesai dengan tugas lainnya dan bersiap akan membereskan sampah yang ada di dapur. Setelah menumpuk semuanya dalam satu kantong besar, Rukia menggeret sampah-sampah itu menuju bak yang ada tak jauh dari kedai makan mereka. Suasananya memang cukup sepi. Mungkin karena hari sudah mendung.
Selesai, sekarang tinggal―
"Rukia…"
Mendengar suara itu, membuat Rukia tertegun kaget. Rasanya… perasaannya kembali menguap tanpa disadarinya.
"Kaa… chan…" gumamnya lirih.
Wanita yang dilihat Rukia, yang berdiri tak jauh darinya itu tampak aneh. Wajahnya pucat dan matanya sembab. Masaki segera berlarian memeluk putri yang dibesarkannya dengan cinta dan kasih sayang itu. memeluknya begitu erat sampai takut kalau saja Rukia akan lepas atau pergi darinya lagi.
"Kaa-chan menunggumu sayang, kenapa kau tidak pulang? Kaa-chan merindukanmu…" lirih Masaki dengan derai airmata yang tak tertahankan lagi.
Rukia masih bingung dan mematung tanpa berani membalas pelukan ibu yang sudah merawatnya sejak kecil ini. Pelukannya… benar-benar membuat Rukia sangat rindu.
Rukia segera melepaskan pelukan Masaki dan segera mengambil jarak.
"Maaf, tapi rumahku di sini…" lirih Rukia.
"Bicara apa kau sayang? Ayo ikut denganku. Kita pulang…" bujuk Masaki.
"Aku sudah pulang, Kaa-chan. Di sini rumahku," ulang Rukia. Mencoba bersikap jelas pada Masaki dan berusaha untuk tidak membuat Masaki bertambah sedih.
"Apa yang kau sebut rumah?! Kau tidak mungkin bisa hidup di sini! Kaa-chan akan memberikan segalanya untukmu, sayang. Ayo pulang sekarang…" mohon Masaki.
"Apa yang kau lakukan dengannya! Lepaskan dia!"
Yoruichi muncul dari belakang Rukia. Membentak Masaki yang berusaha mengambil putrinya lagi. Tentu saja Rukia terkejut bukan main mendengar suara keras dari ibunya itu. Perasaan takut kembali melingkupinya.
"Tidak akan! Dia putriku!" pekik Masaki.
"Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Kalau kau ingin dia, kembalikan Momo padaku! Dan aku akan mengembalikannya. Kalau kau belum mengembalikan Momo, itu artinya aku tidak akan mengembalikan gadis ini!"
"Itu tidak adil! Kumohon pikirkan lagi semuanya, apa kau tega membiarkan Rukia hidup seperti ini selamanya? Apa kau tega membiarkannya bekerja seperti ini? Aku janji akan merawatnya dengan sungguh-sungguh. Karena itu aku mohon padamu―"
"Seperti itu kebiasaan orang kaya? Mengambil apa yang mereka inginkan dan membuang apa yang mereka tidak inginkan? Apa menurutmu orang miskin sepertiku tidak layak untuk memiliki putri sepertinya?"
"Bukan seperti itu sungguh. Maksudku, kalau kau memberikannya padaku, aku akan memberikan kebutuhan yang layak untuknya," Masaki masih bersikeras.
Yoruichi mulai kesal. Orang ini sepertinya memandang terlalu rendah padanya. Jadi seperti ini rupanya?!
Pasti gadis itu juga terpaksa tinggal bersamanya. Bagus sekali!
"Kalian orang kaya memang memuakkan! Ambil! Ambil saja dia! Dengan begitu aku tidak perlu bekerja membanting tulang untuk menghidupinya! Kau bisa menghidupinya dengan layak, tidak sepertiku! Kuserahkan dia padamu! Seperti aku menginginkannya saja!" pekik Yoruichi dengan penuh emosi.
Masaki begitu senang mendengar hal itu, tapi tidak dengan Rukia. Gadis itu menangis sejadinya dan segera menyusul Yoruichi yang meninggalkannya begitu saja. Rukia tampak begitu… entahlah. Dia memeluk Yoruichi dari belakang dengan begitu sedih. Begitu erat.
"Jangan begitu Kaa-san, jangan begitu…" mohon Rukia.
"Dia benar! Kalau kau ingin hidup enak kembali ikut saja dengannya! Di sini aku hanya memberikanmu kesusahan!"
"Jangan begitu… ini adalah rumahku. Kenapa Kaa-san ingin mengusirku dari rumahku sendiri? Kalau Kaa-san mengusirku… lalu aku harus tinggal dimana? Keluargaku hanya Kaa-san…" lirih Rukia sambil menangis tersedu-sedu.
Yoruichi akhirnya menangis pula. Rasanya bebannya jauh lebih berat dari sebelumnya. Melihat Rukia yang memeluknya dengan begitu erat, menangis di punggungnya… membuat Yoruichi tak tega.
Masaki yang melihat adegan itu jadi merasa bersalah sekali.
Apa yang dipikirkannya sampai dia memisahkan Rukia dari keluarga kandungnya karena sikapnya yang egois?
Pasti saat ini Rukia benar-benar merasa sedih.
Karena akhirnya, Masaki memilih meninggalkan Rukia…
.
.
*KIN*
.
.
Momo masih tidak percaya. Rumah ini begitu besar namun begitu dingin.
Momo pikir dengan pindah kemari, dirinya akan merasakan kehangatan keluarga yang selalu dia irikan dari Rukia. Memang setelahnya Momo mendapatkan apa yang dimiliki Rukia, tapi tidak seluruhnya.
Makan malam bersama yang begitu canggung dan terkesan begitu dingin.
Hanya ayahnya yang memperhatikannya dan memperlihatkan kasih sayangnya. Berbeda dengan ibunya yang masih terlihat enggan untuk memanggilnya. Ibunya selalu menjauhkan diri dari Momo dan menganggap Momo tidak ada.
Kakaknya juga begitu. Selalu mengurung diri di dalam kamarnya setelah pulang sekolah. Kerjanya hanya melukis seharian tanpa mau bicara dengan Momo.
Momo seperti diasingkan di rumah ini. Padahal ini rumahnya. Tapi kenapa sepertinya… Momo hanya menumpang di sini?
Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ayahnya sudah membelikannya kado yang begitu mahal.
Namun ibunya tidak menyiapkan apa-apa. Mengucapkan selamat saja tidak.
"Oh, kupikir kau sudah pergi," Ichigo tiba-tiba masuk ke dalam kamar Momo.
"Ada apa, Nii-san?"
"Aku hanya ingin mengambil jam tangan yang kuberikan pada Rukia dulu. Jam tangan itu sangat disayanginya. Makanya aku ingin memberikannya. Sepertinya dia tidak sempat membawanya dulu."
Ichigo bergerak untuk mengambil jam tangan yang berada di lemari kaca Rukia dulu. Momo sempat melihat itu adalah jam tangan dengan hiasan kelinci.
"Bagaimana kalau aku saja yang memberikannya?" tawar Momo.
"Kau mau memberikannya?"
"Iya, aku kan sekelas dengan Rukia, biarkan aku yang memberikannya nanti."
Ichigo tak melihat adanya niat buruk dari Momo. Mungkin dia sudah berubah?
Ichigo lalu memberikannya jam tangan itu pada Momo untuk kembali diberikan kepada Rukia.
Ichigo ingin memberikan hadiah untuk Rukia karena ini adalah ulang tahunnya. Setiap tahun selalu ada yang Ichigo berikan. Tapi kini… ulang tahun Rukia terasa sangat sepi.
Padahal dulu, baik ayah ibu mau pun dirinya sangat antusias dengan ulang tahun Rukia.
Sejak dia pindah…
.
.
*KIN*
.
.
"Lihat, ini adalah jam tangan yang diberikan Nii-san untukku…"
Momo mamerkan sebuah jam tangan yang dipakainya hari ini di depan kelas.
"Wah, bagus sekali… pasti itu mahal kan?" celetuk Senna.
"Tentu saja ini mahal, kan hadiah ulang tahun dari Nii-san untungku…"
Rukia baru saja memasuki kelas. Hmm, seperti biasanya suasana kelas ini. Selalu ramai karena Momo selalu memamerkan sesuatu yang dia dapat dari kedua orangtuanya.
Ah ya, ini juga ulang tahunnya.
Nozomi baru saja mengucapkan selamat. Tapi sekarang ulang tahun menurut Rukia tak begitu istimewa lagi. Dia harus segera pulang untuk membantu ibunya di kedai.
Semua anak sudah kembali dari lapangan. Hari ini pelajaran olahraga yang begitu terik.
Rukia selesai mengganti pakaian dan kembali ke kelasnya. Ada satu dua anak yang sudah ada di dalam sana. Begitu akan memasukkan beberapa buku ke dalam lacinya, Rukia terkejut melihat ada jam tangan yang dulu sering dipakainya. Jam tangan motif kelinci yang sangat disayanginya.
Hadiah dari Ichigo.
Rukia mencari-cari kalau saja masih ada seseorang yang memberikan hadiah ini padanya. Mungkin sudah pergi?
Kakaknya memang selalu memberikan hadiah kejutan seperti ini.
Yah, setidaknya ulang tahunnya tidak begitu buruk kan?
Ah ya Rukia lupa, Nozomi memintanya untuk mengambil pakaian gantinya. Sebaiknya Rukia segera turun.
Sebelum itu, dia sudah memasukkan jam tangannya ke dalam tasnya.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia selesai mengganti pakaian dan bertemu Nozomi yang baru akan masuk ke kelas. Mereka langsung bercengkerama dan tertawa satu sama lain.
Namun, begitu masuk ke dalam kelas, keadaan jadi aneh.
Anak-anak banyak yang mengerumuni meja Momo.
Langsung saja Nozomi dan Rukia berpandangan satu sama lain. Apa ada sesuatu yang menggemparkan?
Rupanya Momo tengah menelungkupkan kepalanya dan terdengar isakan tangis dari sana. Suara tersedu-sedu yang dibuat Momo menambah perhatian beberapa teman sekelasnya. Tentu saja baik Rukia dan Nozomi bingung bukan main. Ada apa sebenarnya dengan gadis itu sampai dia menangis seperti itu?
Karena tidak mungkin untuk ikut bertanya, akhirnya Rukia dan Nozomi kembali duduk di bangku mereka dan menyiapkan pelajaran berikutnya.
"Hei, hei ada apa ini? Kenapa kelas jadi ramai begini?"
Wali kelas mereka masuk ke dalam dan menemukan kegaduhan yang terjadi. Semua anak sudah kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Namun hanya Momo yang masih terisak di bangkunya sambil sesegukkan.
"Momo, ada apa denganmu?" tanya sang guru begitu mendekati tempat duduknya.
Wajah Momo begitu merah karena menangis. Air matanya juga masih basah di wajahnya. Sambil menahan tangisnya, Momo mengangkat wajahnya dan menunduk menatap sang wali kelas.
"Jam… jam tanganku… hadiah dari… Nii-san… hilang…" jelasnya di sela-sela isak tangisnya.
"Hilang? Hilang dimana?" terdengar nada panik dari wali kelas itu.
"Sebelum jam olahraga, aku menaruhnya di dalam tasku. Itu hadiah dari Nii-san untukku… dan sekarang… sudah hilang…"
Semua anak mulai berpandangan satu sama lain.
Rukia tertegun di mejanya seraya menunduk dalam. Jam tangan yang dipakainya tadikah?
Rukia tidak melihat jam tangan milik Momo tadi. Tapi… ada jam tangan yang memang miliknya di mejanya tadi… jadi…
"Apa di kelas ini sudah ada pencuri? Ini bisa memalukan. Baiklah, semuanya naik ke atas meja dan keluarkan tas kalian. Kalian sudah tahu kan hukuman untuk yang mencuri?"
Rukia mulai berubah gugup. Entah kenapa perasaannya sekarang tidak enak sekali.
Saat semua murid sudah duduk dengan melipat kaki di atas meja mereka, masing-masing tas mereka di letakkan di atas pangkuan sehingga sang guru bisa memeriksa tas mereka. Satu persatu selesai di periksa tanpa ada bukti.
Kini sampai pada giliran Rukia.
Ketika guru itu mulai mengambil tasnya, Rukia menahannya sebisa mungkin. Entah kenapa… Rukia jadi takut…
"Rukia, perlihatkan isi tasmu," kata guru itu berusaha lembut.
Rukia menggeleng pelan-pelan seraya mengeratkan pelukannya.
"Perlihatkan isi tasmu! Kau mau dituduh mencuri?"
Akhirnya, tas itu direbut paksa dan membuat isi tas Rukia berceceran di lantai.
Hal mengejutkan berikutnya, ada sebuah jam tangan yang jatuh di sana.
"Ah, itu milik Momo!" seru anak lainnya.
Guru tersebut mengambil jam tangan itu dan memperlihatkannya ke seisi kelas.
"Jadi ini milikmu Momo?"
Tanpa komando, seluruh anak yang melihat jam itu langsung menyetujuinya karena mereka melihat jam itu tadi pagi dipakai oleh Momo.
"Rukia, kenapa jam Momo ada padamu? Kau mencurinya?"
"Sungguh! Aku tidak mencurinya! Aku… aku bukan pencuri… aku tidak mencuri apapun…" isak Rukia. Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.
Rukia bahkan menangis sejadinya saat semua teman sekelasnya mulai memandanginya sebagai seorang pencuri.
Rukia ingin sekali membantah, tapi dia tidak punya bukti apapun.
"Ini bisa jadi masalah Rukia…"
"Sungguh Sensei, aku tidak mencurinya. Aku tidak mencuri apapun… aku bukan pencuri…"
Namun Rukia sadar, apapun pengakuannya, itu tidak akan jadi bukti apapun.
.
.
*KIN*
.
.
"Sayang, bisa kau cerita padaku apa yang kau pikirkan?"
Isshin duduk di sisi tempat tidur Masaki. Isterinya sudah beberapa hari ini tidak terlihat sehat. Nafsu makannya berkurang begitu drastis dan dia hanya berbaring di atas tempat tidur seharian tanpa melakukan apapun.
Isshin sudah berusaha membujuk isterinya untuk tidak memikirkan hal-hal buruk lagi. Tapi sepertinya itu juga percuma.
Isshin sempat mendapati isterinya mengunjungi tempat tinggal Rukia yang sekarang diam-diam. Masaki terlihat begitu terpukul.
Isshin juga tak bisa berbuat apapun. Meskipun semuanya sudah berjalan dengan lancar, tapi belum bisa sepenuhnya mengembalikan kondisi keluarganya dengan utuh.
Keluarganya jadi begini terbelah. Tidak ada kehangatan dan keceriaan seperti dulu. Semuanya sirna semudah itu. Seakan matahari yang menerangi mereka selama ini sudah menghilang perlahan-lahan.
Nama Rukia, mereka berikan karena memiliki makna seperti Lucia. Yang artinya cahaya. Rukia adalah cahaya dalam kehidupan mereka. Karena Rukia, adalah cahaya yang melengkapi keluarga mereka. Cahaya yang memberikan kehangatan di dalam hidup mereka.
Namun kini, mereka harus merelakan cahaya itu pergi untuk selamanya.
"Sayang..."
"Amerika… atau Eropa… aku tidak peduli. Yang penting… kita pergi…" lirih Masaki dengan wajah pucatnya.
"Apa? Kau… ingin pergi?"
"Ini tidak mudah, Isshin. Aku sudah berusaha merelakan Rukia. sungguh… tapi aku tidak bisa. Setiap kali melihatnya hidup menderita seperti itu, aku juga ikut menderita. Mungkin… jika aku tidak melihatnya lagi… hidup kita bisa berubah. Karena itu sebaiknya kita… pergi saja…"
"Kau yakin? Kau sudah yakin benar-benar ingin pergi?"
"Ya. Kita pergi. Kemana saja… aku sudah memutuskannya."
Isshin memberikan pelukan yang bisa menenangkan isteri tercintanya itu. Guncangan emosi yang dialaminya sudah membuat mentalnya begini melemah. Tidak ada cara lain.
"Baiklah. Kita pergi… kita pergi kemana pun yang kau inginkan. Hanya kau, aku, Ichigo… dan Momo…"
.
.
*KIN*
.
.
Sejak kasus pencurian itu, kini seluruh kelas memandang rendah padanya.
Rukia bahkan merasa benar-benar dikucilkan sekarang. Hidupnya sungguh terbanting bukan? Tapi Rukia tidak pernah merasa benar-benar menderita. Dia bisa menghadapi semuanya. Semua… bisa dia hadapi…
"Anak-anak… hari ini Momo dan keluarganya akan pindah. Karena itu, Momo tidak bisa masuk untuk hari terakhir ini. Kita doakan―"
Rukia berdiri dari kursinya dan pandangan tidak percaya.
Keluarga Kurosaki akan pindah?
"Rukia, kembali duduk."
"Apa… apa Momo… dan keluarga… akan pindah? Kemana?" tanya Rukia.
"Mungkin ke luar negeri. Mereka bilang tentang Eropa atau Amerika―"
Rukia menutup mulutnya tidak percaya.
Kakinya berlari begitu saja keluar dari kelasnya tanpa menghiraukan panggilan gurunya.
Napasnya terasa terputus-putus karena kakinya dipaksa melangkah secepat yang dia inginkan. Rukia terus berlari, menyusuri jalanan yang dulunya biasanya dia lewati bersama sang kakak. Bersama sang kakak tersayang yang selalu melindunginya dan menyayanginya. Selalu…
Begitu tiba di persimpangan, Rukia terkejut karena mobil yang dia kenali sebagai mobil keluarga Kurosaki melintas begitu saja di depannya.
"NII-CHAN! KAA-CHAN!" pekik Rukia.
Rukia kembali berlari semampunya untuk mengejar mobil hitam itu.
"Tunggu dulu! Tunggu sebentar! Berhenti!" teriak Rukia.
Dia ingin mengucapkan selamat tinggal. Rukia ingin…
"Berhenti! Kumohon… berhenti sebentar saja…" lirih Rukia.
Begitu tiba di depan terowongan menuju perbatasan tempat tinggalnya, mobil itu melaju cepat dan meninggalkan Rukia sendirian di belakang.
"Aku ingin… mengucapkan selamat tinggal… pada… Kaa-chan… Nii-chan… Tou-chan…"
Kini benar-benar…
"Aku sangat menyayangi kalian… aku mencintai kalian…"
Setelah menghapus air matanya, Rukia berusaha tersenyum lembut.
"Selamat tinggal…"
Tangan mungilnya terangkat ke atas dan melambai dengan kaku…
Mengucapkan selamat tinggal pada mobil yang tak mungkin kembali lagi…
.
.
TBC
.
.
Hola minna akhirnya bisa ada yang diupdate, maaf ya ini jadi terlantar. Saya usahakan sisa fic menyusul. Tapi maaf kalo telat soalnya sekarang kayaknya saya udah kena virus flu. Takut jadi parah. gak mau banget idung basah… hiks…
Ah ya, chap depan udah jadi versi dewasanya. Saya takut kalo fic ini jadi panjang… tapi gimana yaa… kalo mau adaptasi kan memang harus sesuai alur meski banyak scene yang gak sama…
Ok deh galaunya nanti balas review dulu…
Naruzhea AiChi : makasih udah review Eva… heheeh iya Momo nyebelin, kan mesti dibikin mirip hihihih yap kira-kira begitu sih ehehhee
Shouju ji dae : makasih udah review senpai… hehehe ya kira-kira diusahainlah beda hehehe tapi gak bakal banyak. Kan adaptasi…
Seo Shin Young : makasih udah review senpai… ehehehe saingan Ichi… hmmm jadi surprise aja yaa? Hihihii
Hendrik widyawati : makasih udah review senpai… sama, saya juga nangis banget ampe pilek hiksss…
Chappy : makasih udah review senpai… iyaa ini udah lanjut.
Gui gu : makasih udah review senpai… eheheh saya lupa kakak mau review apa ini, soalnya ini kemarin salah review yaaa? Tapi makasih yaaa udah review eheheheh
Miss Devil A : makasih udah review senpai… gak usah senpai gak papa kok eheheh, panggil Kin aja. Makasih udah suka ini lanjut loh ehehhe
Liekichi chan : makasih udah review senpai… makasih eheheh iyaa ini udah lanjut…
Uzumaki kuchiki : makasih udah review senpai… mmm, saya adaptasi soalnya. Jadi belum kepikiran mau sama banget apa gak. Mungkin beberapa scene ada yang sama ehehehe iyaa ini udah lanjut ehehehe
Hina chan : makasih udah review senpai… iyaa ini udah lanjut eheheh
Life s really hard : makasih udah review senpai… ini udah update, maaf lama yaa ehehhe
Ok, makasih banyak yang masih tetep mau baca fic ini apalagi sampe review… semangat banget buat saya untuk tetep lanjut semua fic saya yang terlantar eheheheh.
Mm, apakah semua tahu? Kalo review memang kasih sayang dari setiap pembaca, makanya saya bersyukur masih ada review yang sayang sama saya ehehehe meskipun saya lama updatenya.
Makasih banyak minna…
Jadi ada yang mau lanjut? Bolee review?
Jaa Nee!
