Disclaimer: ATLUS…

Author: Yak, minna! Dengan rajinnya, kali ini saya meng apdet chap 4!! Hehe, akan ada banyak kejutan di chappie ini and chappie ke depan!

Minato: Stop talking you crazy author!! *pake kacamata item, breakdance gaje dilantai.* let's start the review reply!! First! Otomo Minato!! Wah, kok namanya sama kayak saia yah? Wew, author!! Katanya, genre mystery nya jangan diganti! Biar penasaran!

Author: Ok deh! Nah, dari Reishi Del Riservatto, ada apa Reishi-san? Kaget ya? Kenapa?

Minato: meneketehe!! Wew, dari Mocca-Marocchi… Betul itu!! Ryoji pembawa sial!! Dia itu ******, *****, ***** ama *****!!! (maklum lah, lagi agak nge gaje sejak ikutan ini fic) Yupz!! Yang ngelepas infus gue adalahh…

Hikari: adalah?

Minato: adalahh…

Naoto/Hikari: adalah?

Minato: Adalah personil strega!!

All (kecuali Naoto –jaim dia…-): GOBLOK!!!

Minako: Ehm… dari MelZzZ… Yah, saya sendiri juga nggak tahu kenapa bisa nyempil disono… *blushing sambil ngeliat Shinjiro* Ehm, pengen meluk Naoto? Ntar biar author yang nyuruh… Hint pairing? Well, saya nggak tau… *liat Shinjiro lagi*

Shinjiro: *buang muka sambil blushing*

Minato: Lanjoooeett!! Dari heylalaaaaaaa!!!(maklum yah… lagi stress….) Weks… Deskripsinya makin bagus?? Dan soal nge ba--umpphh!! *diselotip mulutnya*

Author: makasih ya… Nggak papa kok nge bacot juga, saya seneng selama bisa ngebuat saya a better writer!! Dan di terakhir itu… adalah rahasia author… ^^

Naoto: Oke, lastly, Lucielle Michaelis… Genrenya? Ntar author yang mutusin… Nih, udah dateng chap 4 nya…

Author: Nah minna… Saya bakalan janji!! Nanti di later chapter, akan saya bikin khusus untuk Shinjiro Minako (Whups, SPOILER…) Karena saya sendiri lagi ketularan virus ShinjiXMinako hardcore fan!! (ada gitu?) Sempet loncat pas liat event Minako confess ke Shinji…

Minako: *blushing nggak kira-kira*

Author: Ntar saya bikin fic ShinjiXMinako tapi kemungkinan ratingnya M… Jadi yang nggak siap mental, silakan menyingkir dari depan computer anda pas saya publish, okay?

Minato: Mpphh!! Mpph mph!! mph mppphhhhh!!! *breakdance gaje* (dia bilang, Okay!! Nah Minna!! Now, lanjooooeeeeettttt!!!!)

All –kecuali Naoto n Shinji yg jaim-: *sweatdrop + jawdrop*


-Shinjiro's POV-

Aku membuka mataku. Yang aku ingat sebelum aku tertidur adalah kepulan asap putih yang tampaknya dalah gas tidur. Aku menyadari kalau ikatanku terlepas. Namun tak banyak yang bisa kulakukan. Pintu kamar itu terbuat dari besi. Dan hanya ada lubang kecil berjeruji yang hanya sekecil pintu masuk untuk anjing, yang hanya untuk sirkulasi udara. Aku memegang bahuku yang dilukai oleh orang brengsek itu. Luka itu tidak dalam. Namun disana aku menemukan segulung perban. Aku mengambil perban itu, lalu membalut lukaku. Aku juga melihat kalau ada dua piring makanan diatas meja kecil di samping tempat tidur Minato.

"Makanan?" Gumamku pelan. Piring itu berisi Nasi kare. Sebenarnya aku khawatir, apakah makanan itu beracun atau tidak. Tapi, kalau kuingat kasus orang tuaku, Ryoji bukanlah orang yang senang membunuh dengan racun. Dia lebih memilih kematian tragis dan berdarah daripada cepat dan tidak menyakitkan. Harusnya aku sadar lebih cepat kalau dia seorang psycho.

Aku mengambil sepiring makanan, lalu melahapnya sambil menunggu Minato terbangun. Selesai makan, aku siap menghadapi apapun yang akan terjadi beberapa detik setelah makan kalau memang dibubuhi racun. Tapi tampaknya aku terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak. Aku baik-baik saja. Saat itu aku percaya kalau makanan ini aman.

Tak lama kemudian, Minato bangun. "Hey, sudah bangun? Dia menatapku kaget seakan mengatakan 'apa kau memutuskan tali itu seperti monster yang mengamuk?' Aku hanya menghela napas. "Aku tak tahu. Tapi, saat aku sadar, tali itu sudah terlepas. Kau mau makan?" Tanyaku. Dia menatapku kaget. Tampaknya aku benar soal monster yang mengamuk itu.

"Ini tidak beracun. Aku sudah menghabiskan sepiring." Ujarku, membaca pikirannya lagi. Ia lalu tersenyum dan agak mengangguk. Aku meposisikan badannya sedikit duduk, lalu mulai menyuapinya.

Seusai makan, aku menidurkannya lagi. Dan tiba-tiba, kepulan asap itu muncul lagi. Aku berusaha menahan napas, namun tidak bisa. Aku terjatuh kelantai dan kesadaranku memudar.


"Anak anda menunggu diluar." Seorang wanita menghadap seorang laki-laki yang tampaknya adalah bosnya.

"Bagus, suruh dia masuk." Kata sang pria paruh baya. Wanita itu meninggalkan bosnya, lalu seorang pemuda berwajah tampan masuk.

"Ayah, ada yang harus kuberitahu pada ayah…" Kata pemuda itu. Pria paruh baya itu langsung memperhatikan putranya. "Sebenarnya…"


Hospital, 15.30 p.m-

-Naoto's POV-

Sudah lama sekali Hikari-san pingsan. Aku dan gadis bernama Minako itu menidurkannya di sofa. Masih beruntung kami bisa menidurkannya di sofa kamar Minato-san. Karena kamar itu sekarang sedang diperiksa polisi.

"Mm…" Aku mendengar sebuah suara. Aku menoleh, dan melihat bahwa Hikari-san sudah sadar. Aku berjalan kearahnya. "Shirogane-kun?" Panggilnya.

"Apa kau baik-baik saja, hikari-san?" Tanyaku. Dia mengangguk pelan. Dia menatap sekeliling. Tapi dia diam. Dia tahu apa yang terjadi. Dia ingat.

"Jadi… Yang melakukannya?" Tanya Hikari-san. Dia berpaling ke arahku. Aku hanya bisa menggeleng. Dia menghela napasnya. "Kukira kau tahu…" Aku dapat mendengar kekecewaan dari suaranya.

"Aku janji." Kataku. Dia menatapku. "Aku berjanji kalau aku akan menemukan mereka, dan menangkap pelakunya." Kataku sambil membetulkan topiku.

-Normal POV-

Mendengar janji Naoto, Hikari terkejut. Dia berbalik, lalu tersenyum kecil. "Terima Kasih…" Katanya. Naoto mengangguk di belakangnya. "Naoto-kun…" Bisiknya pelan. Tapi tampaknya Naoto mendengarnya. Sekarang dia terkejut. Minako hanya tersenyum, walau dia juga khawatir tentang keadaan Shinjiro dan Minato.

Hikari berjalan keluar kamar. Untuk memastikan pendengarannya tadi, Naoto mengejarnya. Dia memegang pergelangan tangan Hikari. Hikari berbalik.

"Tadi, barusan… Kau memanggilku apa?" Tanya Naoto. Hikari hanya menatap Naoto yang sekarang salah tingkah.

"Aku memanggilmu Naoto-kun. Apa itu salah?" Sekarang Hikari balas bertanya. Naoto semakin salah tingkah.

"T-tidak, Hikari-san…" Jawabnya sambil membetulkan posisi topinya. Sebenarnya dia menyembunyikan wajahnya yang agak memerah.

"tolong jangan panggil aku Hikari-san. Kita ini kan bukan atasan dan bawahan. Kita ini teman yang akan memecahkan kasus ini bersama kan?" Tanya Hikari lagi. Dalam hati sebenarnya dia merasa senang sekaligus geli. Senang karena dia akhirnya bisa lebih dekat dengan Naoto, geli karena melihat Naoto salah tingkah.

"U-u-umm… B-baiklah… H-hikari…" Jawab Naoto. Hikari tersenyum.

"Hikari!" Seseorang memanggilnya dari belakang.

"Eh?" Hikari menoleh. "Lho, Aigis nee-chan?" Dia melihat seorang gadis berbando aneh bernama Aigis.

"A-apa kau sudah tahu?" Tanya Aigis. Hikari memberikan tatapan tidak mengerti padanya. "Itu, katanya orang tuamu akan dimakamkan 2 hari lagi." Jelas Aigis.

"O-oh… Aku akan datang…" Jawab Hikari.

"Dan katanya, 'dia' juga akan datang…" Ujar Aigis.

"Eh? 'Dia' juga?" Tanya Hikari. Aigis mengangguk. Hanya Naoto yang tidak mengerti.

"'Dia'? Siapa?" Tanya Naoto.

"Oh, 'dia'… 'Dia' adalah tunanganku." Jawab Hikari.

"T-tunangan?" Tanya Naoto tak percaya.

"Ya, tunanganku. Walau sebenarnya pertunangan kami hanya sebatas politik. Kami tidak mempunyai perasaan terhadap satu sama lain. Dia hanya temanku sejak kecil. Ayahnya memiliki perusahaan besar." Jelas Hikari.

"Perusahaan besar? Jangan-jangan perusahaan yang menyaingi Kirijo Corp. itu…" Kata Naoto.

"Ya, perusahaan…"


"Sebenarnya, aku baru saja mengetahui kalau pasangan suami istri pemimpin Kirijo Corp. Sanada Akihiko dan Kirijo Mitsuru, sudah meninggal. Mereka terbunuh. Pemakamannya akan diadakan 2 hari lagi…" Jelas pemuda tampan itu.

"Hmm… Lalu, apa 'dia' baik-baik saja?" Tanya ayahnya.

"Ya, dia tak apa. Hanya saja, katanya Shinjiro-san dan Minato-san, anak pertama dan kedua mereka, sekarang diculik." Ujar pemuda itu.

"Hoo, benarkah? Baiklah, kita akan menghadiri upacara pemakaman mereka…" Ayahnya menarik napasnya sesaat.


"Perusahaan Seta…" Kata Hikari.

"Seta… Jangan-jangan tunanganmu adalah anak tunggal keluarga Seta?" Tanya Naoto lagi. Hikari mengangguk.

"Iya… Seta Souji…"


"…Souji…" Ujar ayahnya, menyelesaikan kalimatnya. Pemuda bernama Souji itu mengangguk.

"Baik, Ayah…" Lalu dia berjalan keluar.

~TBC~

Author: Nah, gimana Minna? Kaget gak? Tiba-tiba Souji muncul dan nyempil disonoh… Kaget nggak hayo?

Souji: Kok aku bisa muncul yahh??

Minato: meneketehe!!

Author: Kok selotipnya lepas?!

Minato: Tadi dilepasin ama SS… Katanya supaya gue bisa ngumumin..

All (kecuali yg jaim): ngumumin??

Minato: Kalo… Kok Question corner nya kosong??

All (kecuali yang jaim): YAELAH!!!

Shinji: Kirain kita rame-rame pada mau nyeburin author ke sungai gitu…

Author: Awasin tuh mulut lu!! Ntar lu tak pairing ama Metis, ato lebih parah… R…

Shinji: R?

Naoto: *gulp* jangan bilang huruf selanjutnya adalah I…

Souji: *gulp* Lalu S….

Author: Pinter juga loe berdua… E….

Sou/Nao: UWAAAHH!!! Not Her!!

Shinji: Rise? Siapa tuh?

Author: Shinji, Shinji… prihatin gue ama loe.. coba deh.. loe masuk kamar junpei, ntar kalo loe liat poster cewek yang mirip Chihuahua, itu rise…

Shinji: Oohh, Ok deh…

Author: makanya jangan nempel mulu ama Aki… Ntar jadi pasangan Yaoi favorit gue loh…

Shinji: Hoeks!! Amit-amit jabang bayi! Mending gue yaoi-an ama Junpei dah!

All: OMG!! WTF?!

Minato: Serius lo?!

Minako: Shinji-senpai… jahaaattt!!! Huweeeeehhh!!

Author: Bener ya?

Shinji: Eh, nggak deh, jangan…

Author: Yo wess lah… Nah, readers, RnR pliiisss??


Marukyu Tofu

Rise: Huaaaacchhhiiiiihhhmmm!!! Ah, jangan-jangan senpai lagi ngomongin Rise nih.. Jadi malu..

Minna!! Plis di ripiu dengan penuh semangat!! –Lee mode: on-

\/

\/

\/