"Pulanglah. Malam akan tiba."
Tao menarik tangannya, merasa bodoh sendiri. "Ah, ya. Malam." Tao tersenyum kikuk. Ketika berbalik, hujan turun dengan derasnya. "Hu-hujan…" Dan dengan begini ia tak bisa pulang begitu saja.
Tao tersentak kaget saat tiba-tiba saja sosok bertopeng itu menggenggam tangannya dan menariknya menuju ke hutan yang paling dalam.
Dan sekali lagi Tao merasakan familiar akan sentuhan ini.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Never Leave You
Story By : Haren Sshi
Warn: Boys Love
Disclaimer:
EXO © SM. Ent
Inspired By:
Uragiri Wa Boku no Namae wo Shitteiru© Odagiri Hotaru
Hotarubi no Mori E © Yuki Midorikawa
Vampire Knight © Matsuri Hino
…
Don't Like Don't Read
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Tao tidak tahu kemana sosok ini akan membawanya. Apakah ia akan berniat menyantap darahnya sampai habis lalu membuang mayatnya di tengah-tengah hutan dan tidak ada seorang pun yang akan mendapatkan mayatnya? Tao masih bersyukur kalau ia dibunuh dengan seperti itu. Tapi bagaimana jika ia diperkosa lalu dibiarkan telanjang di tengah hutan dalam keadaan lapar dan tersiksa? Tao lebih tidak mau hal-hal mengerikan seperti itu terjadi pada dirinya.
"K-Kris, kumohon—" Tanpa sempat menyelesaikan perkataannya, Kris menghentikan langkahnya diikuti dengan Tao. Di hadapannya terdapat sebuah pondok tak berpenghuni tanpa penerangan sedikit pun.
"Berteduhlah sementara di sini."
Melihat kondisi pondok yang gelap membuat nyali Tao ciut seketika. Ia bahkan lebih takut pada gelap daripada takut sakit karena hujan. "Tidak, terima kasih. Aku lebih baik—"
Suara petir menggelegar.
Tao seketika memejamkan matanya dan merapatkan tubuhnya pada Kris. Kris pun menarik tangannya dan membawa Tao masuk ke dalam pondok itu. Tao menurut. Karena baginya sekarang suara petir lebih mengerikan daripada kegelapan sekalipun.
Ketika mereka sudah di dalam pondok dan berteduh, Tao melepaskan tautan tangan mereka dan merosot jatuh dengan bersandar pada dinding. Ia memeluk lututnya dengan tubuh yang gemetar hebat.
Kris yang melihat kondisi Tao terenyuh. Ia melepaskan jaket hitam miliknya dan berniat untuk menyelimuti tubuh Tao.
"Ku-kumohon—" Tubuh Tao meringsut menjauh dari Kris. Ia merasa hidupnya makin terancam karena kehadiran Kris di dekatnya, "—menjauhlah dariku. Aku—" perkataan Tao terhenti ketika Kris mendekat dan menyampirkan jaketnya ke tubuhnya. Aroma Kris yang seperti aroma mint langsung membaur dalam penciumannya.
Kris berniat ingin meninggalkan Tao di sini karena terlihat sekali bahwa remaja itu takut padanya. Namun ketika ia membalikkan tubuhnya dan suara petir makin menggelegar, ia bisa melihat Tao makin terpuruk pada ketakutannya. Kris takkan tega meninggalkannya di sini.
Ia pun kembali mendekat pada Tao dan memberinya sebuah pelukan hangat. Ia akan melindungi remaja ini dari apapun yang mengancam hidupnya.
Tao tersentak kaget saat Kris memeluknya tiba-tiba seperti ini. Ia ingin memberontak, tapi ketika suara petir terdengar lagi, ia makin mengeratkan pelukannya pada Kris. Ia merasa bahwa pelukan pemuda bertopeng ini dapat menenangkannya.
Kris tahu mengapa remaja bernama Tao ini terlihat begitu ketakutan pada kegelapan dan juga petir. Dan Kris merasa ini semua adalah kesalahannya karena tak bisa menolong Tao saat ia dikunci di sebuah gudang oleh teman-temannya sendiri saat masih berusia delapan tahun. Ia dibully karena perbedaan yang begitu mencolok di antara teman-teman lainnya.
Kris tidak mungkin muncul begitu saja saat di sana masih ada beberapa manusia yang menjaga pintu gudang atas perintah salah satu dari anak-anak yang mengunci Tao. Alhasil, ia hanya bisa memandangnya dari kejauhan. Tapi setidaknya, manusia-manusia itu takkan membiarkannya mati meskipun rasa trauma mulai muncul dan hinggap di diri Tao.
Tao tertidur dalam pelukannya saat hujan sudah berhenti membasahi bumi. Kegelapan semakin pekat, dan Kris bisa memprediksi bahwa hari sudah menjelang malam, bahkan bisa jadi makan malam telah lewat.
Kris takkan membiarkan Tao terbangun. Ia tahu kalau remaja ini bangun maka ia akan histeris karena kegelapan mengarungi pandangannya. Kris mengangkat Tao pelan-pelan dan tetap membuatnya nyaman hingga ia bisa mengantarkannya pulang kembali ke rumah neneknya.
Pemuda bertopeng itu tidaklah gila untuk membawa Tao di muka umum. Ia memilih untuk melewati jalan pintas dimana manusia-manusia itu jarang melewatinya. Kris begitu berhati-hati agar Tao tidak terbangun dari tidurnya.
Ketika Kris berada tepat di depan rumah Tao, seorang nenek tengah berdiri di depan pintu dalam keadaan cemas dan gelisah. Ketika mata nenek itu memandang Kris yang tengah membawa Tao, seketika matanya terbelalak.
"Omo! Si-siapa kau?"
Kris berhenti, tepat sekitar satu meter di depan nenek tersebut. Menunggu sang nenek merespon atas kedatangannya ini.
"Tapi—" sang nenek perlahan mendekat pada Kris. Tangannya mulai terangkat dan menyentuh bagian wajah yang tidak tertutupi topeng, "—aku mengenali struktur wajah ini," Tangannya masih meraba-raba wajah Kris, "—bukankah struktur wajah ini milik Tuan Kris?"
Kris terdiam sejenak. Ia meneliti sejenak wajah sang nenek dari remaja ini. "Kau adalah keturunan dari salah satu manusia pengabdi keluarga Huang."
"Ya, Anda benar, Tuan Kris." Sang nenek tersenyum cerah. "Nenek moyangku mengubah marganya menjadi Huang agar melestarikan marga Huang yang kala itu hanya Tuan Edison satu-satunya pemilik marga Huang yang terakhir." Tangan sang nenek beralih ke helai rambut Tao dan mengusapnya. "Dan aku tak menyangka kalau cucuku begitu mirip dengan Tuan Edison. Tapi, apa yang terjadi pada cucuku?"
"Dia hanya kelelahan."
"Omo… mari Tuan Kris, baringkan Tao di kamarnya."
Kris hanya menurut dan mengikuti sang nenek untuk menuju kamar Tao. Rumah ini begitu sederhana, tapi terdapat banyak kehangatan di dalamnya. Setidaknya Kris bersyukur, dikehidupan Tao yang sekarang, ia telah mendapatkan kasih sayang, meskipun hanya dari sang nenek.
Kris membaringkan Tao dengan hati-hati di ranjang miliknya. Menyelimuti remaja itu agar hawa dingin tak mengganggu kegiatan tidurnya. Ia menatap Tao sebentar sebelum beralih pada sang nenek dan membuka topeng rubah miliknya.
"Omo… wajah Tuan Kris tidak berubah sama sekali ketika dulu ibuku menunjukkan lukisan Tuan Kris dan juga Tuan Edison padaku. Ini adalah pertama kalinya saya melihat rupa Tuan Kris yang bahkan ibuku tidak pernah melihatnya langsung seperti ini." Sang nenek kembali mengangkat tangannya dan meraba-raba struktur wajah Kris. "Saya tak menyangka Tuan Kris masih hidup. Saya mengira Tuan Kris telah tiada saat peperangan antara vampire dan manusia yang mengakibatkan kepunahan kaum vampire di masa lampau." Tiba-tiba sang nenek tersentak dan menjauhkan tangannya. "Ah, apa yang telah saya lakukan? Saya telah lancang menyentuh wajah Tuan Kris."
Kris tersenyum tipis. "Tak apa." Sekali lagi ia memandang wajah Tao yang tidur dalam damai. "Rahasiakan semua ini pada Tao kalau kau mengenalku. Ini belum saatnya dia tahu segalanya." Kris memegang pundak sang nenek dan mengusapnya. "Aku harus pergi. Jaga Tao baik-baik."
Sang nenek mengangguk, "Ya, Tuan Kris." Tapi pada saat itu pula Kris telah menghilang dari pandangan…
.
.
.
.
.
Jam pelajaran telah dimulai sekitar lima belas menit yang lalu. Tao memandang ke arah papan tulis untuk membaca beberapa kalimat di sana, lalu kemudian beralih pada buku tulis di mejanya sendiri untuk mencatat kalimat-kalimat tersebut. Sang guru menerangkan beberapa materi tentang sejarah dunia yang membuat sebagian murid merasa bosan, termasuk Tao tentunya. Tapi karena ia adalah murid beasiswa, mau tidak mau ia harus memahami semua materi yang diberikan.
Tao sedikit melamun mengingat kejadian kemarin. Ia sangat yakin bahwa sebelumnya ia berada di senuah pondok yang gelap bersama dengan seorang vampire yang bernama Kris. Tapi entah mengapa pagi-pagi sekali ia sudah terbangun di tempat tidurnya. Neneknya mengatakan bahwa ia memang ketiduran semenjak sore hingga sampai pagi keesokan harinya menjelang. Tao juga menceritakan keadaannya yang pada saat itu berada di pondok. Tapi neneknya tak percaya dan berdalih bahwa itu semua hanya bunga tidur.
"Apa benar kalau kemarin aku bermimpi? Rasanya benar-benar seperti nyata." Tao bergumam pelan. Lamunannya terganggu ketika suara ketukan terdengar dari luar pintu kelas. Ia bisa melihat salah satu guru sastra datang dan berbicara dengan sebentar dengan guru sejarah setelah kemudian ia berbalik pergi dan membawa seorang murid baru.
"Ah, sepertinya kalian mendapatkan teman baru."
Tao memperhatikan bagaimana rupa murid baru itu yang terlihat rupawan dan juga manis secara bersamaan. Sanggup membuat gadis-gadis di kelas ini memekik tertahan melihat rupa murid baru itu. "Wajahnya… tidak terlihat seperti seorang manusia. Dia seperti terlalu indah untuk ukuran manusia." Gumam Tao lagi.
"Nah, silakan perkenalkan dirimu, Anak Muda."
Murid baru itu tersenyum manis dan menampilkan dimple yang terdapat pada pipinya. "Kamsahamnida, Saem." Sang murid berdehem sebentar. "Perkenalkan, namaku Zhang Yi Xing. Aku pindahan dari China. Kalian bisa memanggilku Lay."
"Ah, baiklah, Lay-sshi." Sang guru terlihat mengedarkan pandangan ke seluruh kelas sebelum kemudian menjatuhkan pandangannya pada satu titik objek. "Kau bisa duduk di samping Lee Sang Yeon."
Murid yang bernama Lee Sang Yeon itu pun mengangkat tangannya agar mempermudah Lay menemukan dirinya. Tapi Lay hanya menatapnya sekilas dan kembali beralih memandangi guru sejarah itu. "Saem, bisakah saya memilih tempat dudukku sendiri?"
Guru sejarah itu mengernyit heran mendengar perkataan Lay. "Memilih sendiri?"
Lay mengangguk.
"Baiklah. Tidak masalah jika kau ingin memilih sendiri. Tapi, kau ingin duduk dimana?"
Lay tersenyum kembali. "Saya ingin duduk di samping seseorang yang memiliki rambut perak di ujung belakang sana."
Mendengar ada seseorang yang menyebutkan ciri-cirinya, membuat Tao menegakkan kepalanya dan memandang Lay terkejut. Pasalnya dia adalah murid baru. Dan ia pasti akan mendapatkan perlakuan buruk kalau ia dekat dengan dirinya.
Guru sejarah itu pun memandang Lay heran. "Bukankah di sana terlalu jauh? Kau adalah murid baru. Setidaknya kau harus duduk lebih ke depan agar kau bisa fokus pada pelajaran dan mengejar ketinggalan."
"Tak apa, Saem. Aku butuh ketenangan. Kurasa duduk di belakang adalah pilihan yang tepat."
Sang guru mengusap tengkuknya. "Ya… kalau kau ingin duduk di sana. Aku tidak bisa melarangmu."
"Terima kasih, Saem." Lay menunduk sebagai tanda hormat.
"Tapi kau akan terkena sial jika duduk di dekatnya, Lay-sshi." Salah satu seorang murid perempuan yang duduk di bangku barisan nomor dua berkata. "Lihat saja rambutnya yang berwarna perak. Bukankah dia keturunan monster?"
Lay menatap gadis berambut coklat sebahu itu. "Kalau begitu, apakah kamu mau bertukar tempat duduk denganku?"
Gadis itu terdiam di tempat duduknya saat Lay mengajukan penawaran.
"Ah, sudah-sudah." Sang guru meleraikan. "Pelajaran akan segera dimulai kembali. Dan untuk Suho-sshi?"
Pemuda yang bernama Suho itu pun mengangkat tangannya. "Ya, Saem?"
"Karena kau ketua kelas di sini, bisakah kau antarkan Lay-sshi berkeliling sekolah kita ketika istirahat nanti?"
Suho pun mengangguk mengiyakan. Karena memang tugasnya lah yang membawa murid baru dan memperkenalkan lingkungan sekolah padanya. Sedangkan Lay pun melanjutkan langkahnya menuju tempat duduknya di samping Tao.
Tao memperhatikan bagaimana rupa si murid baru. Wajahnya putih, kulitnya terlihat mulus, dan rupanya seperti boneka. Kenapa orang ini lebih memilih duduk di sampingnya? Bukan di samping Lee Sang Yeon yang jelas-jelas bisa lebih fokus terhadap pelajaran?
"Ada sesuatu di wajahku?"
Tao tersentak saat ia ketahuan memperhatikan rupa Lay.
"Ah, tidak." Tao meremas jari jemarinya. "Kau seharusnya mendengarkan gadis itu untuk tak berdekatan denganku."
"Kenapa?"
Tao menumpukkan dagunya pada tangannya. "Karena kau pasti akan terkena sial."
Hening melanda cukup lama, sampai Lay memulai percakapan kembali. "Namaku Zhang Yi Xing."
Tao sedikit tergagap saat Lay memilih memperkenalkan dirinya daripada membalas kata-katanya tadi. "Aku Tao. Huang Zi Tao."
"Zi Tao, ya? Senang berkenalan denganmu."
.
.
.
.
.
Lay memandang bagaimana pemuda-pemuda di sana bermain basket dengan begitu riangnya padahal cuaca cukup terik siang ini. Beberapa perempuan memilih untuk bersorak, menyemangati jagoannya masing-masing di tepi lapangan.
"Apakah kau tertarik pada basket, Lay-sshi?"
Lay menoleh saat Suho berbicara di sampingnya.
"Jika kau tertarik, kau bisa mendaftar klub basket. Kebetulan sekali salah satu temanku adalah ketua klubnya."
Lay menggeleng. "Kurasa tidak. Aku hanya melihat-lihat saja."
"Begitu." Suho mengangguk. "Lagipula sekolah ini mewajibkan para muridnya untuk masuk ekskul, setidaknya satu ekskul. Kecuali jika kau ingin menjadi anggota OSIS."
"Ah, akan aku pikirkan. Lagipula aku murid baru di sini, dan belum mengenal sekolah ini secara rinci." Lay kembali tersenyum, membuat orang-orang sekitar yang melihat senyumannya terpesona. "Bisa kita lanjutkan mengeksplorasi sekolah ini, Suho-sshi?"
Suho memandang ke arah jam tangannya yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. "Kau benar. Sebentar lagi jam istirahat akan berakhir." Suho menengok ke kanan lalu ke kiri. "Sepertinya hanya tinggal sebelah barat saja. Dan—" sembari melangkah kembali Suho melanjutkan, "—panggil aku Suho saja biar lebih akrab."
"Kalau begitu panggil aku dengan Lay, Suho."
Suho tertawa pelan. "Ah, baiklah, Lay." Suho berjalan sembari menjelaskan tempat-tempat yang berada di hadapan mereka. "Ini adalah gedung olahraga. Kami biasa mengadakan pertandingan di sini. Seperti basket, voli, futsal, bahkan bulutangkis. Kami akan mengadakan pertandingan olahraga setiap akhir semester setelah ujian sekolah."
Lay mengangguk paham mendengar penjelasan Suho. "Ah, begitu rupanya. Gedungnya cukup luas."
"Ya, begitulah. Bahkan sekolah sering menyewakan gedung ini untuk pertandingan olahraga dari sekolah lain."
"Aku tak begitu heran. Mengingat sekolah ini adalah sekolah terbaik."
Suho hanya tersenyum menanggapi perkataan Lay. "Kita pindah ke tempat terakhir." Mereka kembali melangkah setelah menutup pintu gedung olahraga. Beberapa meter dari tempat mereka berpijak, ada sebuah gedung yang terlihat sepi dari jangkauan murid-murid sekolah ini. Bahkan Lay tak merasakan kehadiran satu pun manusia di sana. "Ini adalah gudang. Seperti yang kau lihat, tak ada satu pun murid yang ingin bersantai di sini. Karena memang kami menyimpan persediaan peralatan sekolah di sini. Hanya orang-orang berkeperluan saja yang memasuki tempat ini."
"Apakah gudang ini menyimpan sebuha rumor tertentu hingga orang-orang jarang ke sini?"
"Kurasa tidak." Suho menjawab santai. "Tak ada rumor apapun karena memang tempat ini kurang sesuai dijadikan tempat santai anak-anak. Yah, kecuali ada murid yang bandel dengan merokok bahkan bermesraan di sini."
"Apa mereka akan dikeluarkan bisa ketahuan?"
"Jika mereka adalah penerima beasiswa, maka beasiswanya akan dicabut. Kalau bukan, mereka hanya terkena skorsing 1 minggu."
"Aku mengerti."
Mereka terdiam sejenak selama beberapa menit. Setelah itu Suho memilih untuk berdiri di hadapan Lay dan memandang pemuda itu tepat di matanya. "Lay."
Lay membalas tatapan Suho. "Ada apa, Suho."
"Aku ingin mengatakan hal ini sedari awal. Tapi aku tahu bahwa ini adalah rahasiamu." Suho memperhatikan sekitarnya, memastikan bahwa tak ada yang menguping pembicaraan mereka. "Aku tahu kau bukanlah manusia sepertiku."
Lay sedikit terbelalak sebelum ia merubah ekspresinya menjadi dingin. "Apa maksudmu?"
"Kau… ada seorang vampire."
Hening melanda dan seketika Lay tertawa. "Kau ingin bercanda denganku, Suho?"
"Aku sedang tidak bercanda, Lay." Suho tetap menampilkan ekspresi tenangnya. Tak terpengaruh dengan sikap Lay. "Kau mungkin bisa menipu orang-orang di sini dengan ilusi yang kau lakukan." Suho mendekat selangkah. "Rambutmu berwarna pirang, dan matamu berwarna oranye. Tak banyak vampire yang memiliki ciri-ciri sepertimu mengingat banyak vampire yang memiliki iris mata berwarna abu-abu."
Lay terdiam mendengar penjelasan Suho. Ekspresi ramah yang ia tampilkan berubah menjadi dingin. "Siapa kau sebenarnya?"
"Aku?" Suho menunjuk dirinya sendiri. "Aku hanya seorang murid biasa."
Lay menatap tajam saat Suho menjawab dengan santainya. Ia tahu bahwa Suho pasti memiliki jati dirinya yang lainnya.
"Baiklah, akan aku katakan semuanya." Suho menyandar pada dinding beton di sampingnya. "Aku hanyalah anak dari seorang pendeta. Dan juga… kakekku adalah seorang pembasmi vampire." Terdengar suara bel bahwa jam istirahat telah habis. Namun tampaknya keduanya tak terpengaruh oleh suara bel tersebut. Mereka tetap pada posisinya masing-masing. "Karena itulah aku tak terpengaruh dengan ilusimu karena darah dan kemampuan kakekku sebagai pembasmi vampire menurun padaku." Suho menatap Lay dan tersenyum kecil. "Aku juga tahu bahwa anak yang bernama Huang Zi Tao itu adalah setengah vampire."
Mendengar nama Zi Tao disebut membuat Lay merasa marah. "Kau—" Lay maju mendekati Suho dan mencengkram kerah seragamnya, "—jika kau ingin membasmiku, silakan saja! Tapi jangan pernah kau sentuh Tao dengan tanganmu!"
"Aku tak pernah bilang bahwa aku adalah pembasmi vampire, Zhang Yi Xing." Suho membalas cepat.
Lay yang mendengarnya pun mengernyit. "Apa?"
"Biar aku perjelas, Zhang Yi Xing." Suho melepaskan cengkraman tangan Lay di kerah seragamnya. Seragamnya yang terlihat kusut kini ia rapikan. "Aku hanya berkata bahwa aku memilik darah dan kemampuan pembasmi vampire dari kakekku. Tapi bukan berarti aku adalah pembasmi vampire." Matanya memandang mata Lay yang berpendar oranye. Ia tak terlihat takut sedikitpun. "Jika pun aku adalah pembasmi vampire, Huang Zi Tao sudah mati lebih dulu."
Lay mengepalkan tangannya, merasa bahwa Suho bisa saja orang yang berbahaya.
"Aku akui bahwa aku memang sering membunuh para vampire. Tapi aku membunuh mereka jika mereka mengganggu keluargaku." Suho yang semula bersandar pada dinding kini berdiri tegak. "Huang Zi Tao anak yang manis. Dia tak pernah menyakiti siapapun. Aku yakin dia tidak mengetahui jati dirinya yang setengah vampire." Suho pun berniat untuk meninggalkan Lay. Namun sebelum itu ia berdiri di samping Lay. "Tapi jika kau bahkan Zi Tao sekalipun menggangguku dan membahayakan keluargaku, aku tak akan segan-segan membunuh kalian dengan tanganku." Dan dengan begitu ia pergi meninggal Lay sendiri di gudang tersebut.
Lay hanya menatap Suho yang pergi begitu saja. Mulai sekarang ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melindungi Tao dengan seluruh kemampuan yang ia miliki. Takkan ada seorang pun yang boleh menyakitinya.
…
TBC
…
Hai hai~
Ini chapter 3 yang sebenernya ya~ Maaf kalau sebagian dari kalian ada yang merasa tertipu sama chapter kemaren. Seriously, cerita sebelumnya cuma buat seneng-seneng doang. Nga ada hubungannya sama cerita di sini. Yah, anggap aja cuma behind the scene lol
Perasaan Haren aja atau apa reviewnya berkurang ya? Padahal viewsnya lumayan banyak. Hmm… banyak silent reader nih. Mungkin next Haren bakal hiatus aja kali ya kalau reviewnya sedikit gini. Padahal Haren lagi semangat-semangatnya ngetik. Kalau kalian males review, Haren juga males update.
Oke, minta reviewnya ya~
