Title : Wizard Love (Between Wolf and Vampire) | Chap 4

Author : Lee Mico (Istrinya KaiD.O) *no protes* :P

Main Cast : -Huang Zi Tao a.k.a Tao

-Wu Yi Fan a.k.a Kris

Other Cast : Seperti biasa. Find By Your Self~

Genre : Fantasy, romance (Kalau berhasil._.)

Length : Chaptered

Rating : T

A/N : Ni Hao readerdeul^^ Kita kembali bertemu di FF baru Mico. kali ini Mico bawa FF dengan genre yg berbeda. Fantasy! Karena Mico rasa FF genre sad sudah terlalu mainstream. Terinspirasi dari kisah cinta/? RPnya Oppa Mico, akhirnya jadilah FF KrisTao ini. FF ini ngambil beberapa unsure dari Film Harry Potter, secara Mico juga HPF :3 Dicampur unsure dari Film Twilight juga^^ Harap dimaklumi kalau kurang greget, ini pertama kalinya Mico pake genre begini. Hope you like it! Okay, Lets Get Started!

Disclaimer : Kris punya Tao. Tao punya Kris. KrisTao saling memiliki. KrisTao juga milik Tuhan, SM, EXO dan juga orangtuanya masing-masing. Mico tetep milik Tao dan KaiD.O B))

Warning : Boy x Boy, Shounen-Ai, Gaje, Terjadi sedikit crack pair sesaat(?), Typo(s), abal, feel gadapet, OOC, tulisan berantakan dan banyak kekurangan lainnya-_-

DON'T LIKE? DON'T READ! PLAGIAT? GO AWAY FROM HERE!

DON'T BE SILENT READER!

The Story Is Begin

[Previous]

"Berhentilah menggombal ge. Lebih baik cepat katakan permintaan terakhir gege."

GREP

Ku rengkuh tubuh namja manis itu ke dalam pelukanku. Aku menyelipkan kepalaku di ceruk lehernya. Menyesap aroma vanilla mint memabukkan dari tubuhnya. Dapat kurasakan dada namja ini bergemuruh hebat seperti dadaku.

"G-gege, a-apa yg kau lakukan?" Aku mengacuhkan pertanyaan namja manis itu. Ku kecup lehernya. Ia menggelinjang kecil dalam pelukanku.

"Gege sedang apa? Itu geli~" Ucapnya. Tapi tetap tak kuperdulikan. Aku mulai berani menciumi leher namja ini.

"Emmhhh, g-geeh gelihhh~" Ia melenguh pelan karena perbuatanku. Namun masih tak ada penolakan darinya. Ku hisap dan ku gigit kecil leher Tao hingga tercipta sebuah tanda berwarna keunguan disana.

"Gege, sebenarnya gege mau apa?" Tao mendorong tubuhku hingga pelukanku terlepas. Menatap lembut mataku dengan matanya yg terlihat agak sayu.

"Kau mau tau permintaan terakhirku?" Ucapku. ia hanya mengangguk. Ku tarik dagunya dan mendekatkan wajah kami. Sangat dekat. Bisa kurasakan deru nafasnya menerpa wajahku. Wajahnya sudah sangat merah seperti tomat. Manis sekali. Aku menyunggingkan seringai kecilku. Ku tiup dan ku kecup daun telinganya. Tao bergidik pelan.

"Tao~" Aku berbisik seduktif ditelinganya.

"N-ne?"

"Jadilah milikku~"

[Chapter 4]

*Author P.o.V

"Maksud gege ap-" Pertanyaan Tao terhenti, ia merasakan sebuah benda kenyal menempel di bibirnya. Kris MENCIUMnya! Tao hanya diam, mencoba memproses semua yg terjadi. Merasa tak ada penolakan, Kris mulai melumat bibir Tao. Tao yg mulai menikmati kemudian memejamkan matanya, mengalungkan tangannya dileher namja tampan itu. Kris menyeringai dalam ciuman itu. Lumatan-lumatan lembut itu berubah menjadi ciuman liar dan menuntut. Kris menahan tengkuk Tao, memperdalam ciuman mereka. Tao yg mulai kehabisan nafas memukul dada Kris. Kris mengerti, kemudian melepas tautan bibir mereka. Wajah namja manis itu memerah sempurna, Tao mencoba meraup udara sebanyak mungkin. Namun itu tak berlangsung lama. Kris kembali melumat bibir Tao 5 detik setelah ia melepas tautan mereka. Kris menghisap pelan bibir bawah Tao, membuat namja manis itu melenguh pelan. Lidah mereka beradu, membuat suara decakan-decakan yg memabukkan. Tao kembali memukuli dada bidang namja pirang itu. Namun tampaknya Kris masih enggan melepas tautan itu. Dengan sekuat tenaga, Tao mendorong tubuh Kris sampai akhirnya tautan itu terlepas.

"Hosh.. hosh.. kauh.. mau membunuhkuh.. gehh?" Kesal Tao disela nafasnya.

"Dimana kamarmu?" Bukannya menjawab, Kris malah balik bertanya. Tao mendongakkan kepalanya, lalu menunjuk pintu berwarna putih lantai 2 kastil itu. Kris langsung menggendong tubuh namja manis itu menuju ruangan tersebut.

-Tao's Room-

Kris menghempaskan tubuh Tao ke ranjang besar itu dan menindihnya. Bibirnya kini mendarat dileher namja bermata panda itu. Mencium, menghisap dan menggigitnya pelan, menciptakan banyak tanda kepemilikan disana. Sedangkan tangannya sudah bergerilya masuk kedalam kemeja putih milik Tao.

"Gehh kauh.. mau apah eohh?" Tanya Tao. Kris menghentikan aktivitasnya, mensejajarkan wajahnya dengan namja bermata panda itu.

"Aku ingin menjadikanmu milikku seutuhnya."

"Tapi, haruskah begini ge?" mata kelam Tao menatap manic elang milik Kris. Kris mengecup singkat bibir Tao.

"Kau takut hm?" Kris melihat rasa khawatir didalam mata kelam itu. Tao mengangguk. Mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Ini pertama kalinya untuk Tao." Kris terkekeh pelan.

"Ini juga pertama kalinya untukku." Tao kembali memandang manic elang itu.

"Jjinja?" Kris mengangguk.

"Apa kau melihat kebohongan dimataku?" Tao menelusuri manic indah itu. Ia tak menemukan secercah kebohongan, yg ia temukan hanya tatapan lembut penuh kasih sayang dari namja bernama Kris itu.

"Baiklah, Tao percaya." Kris tersenyum lalu mengecup kembali bibir namja manis itu.

"Jadi boleh aku melakukannya?" Tanya Kris memastikan. Tao mengangguk pasti. Kris meniup telinga Tao.

"Wo ai ni Tao~" Bisik Kris.

*SKIP (Adegan selanjutnya bayangin sendiri. Mico gak sanggup ngetiknya._. #dirajamreader)*

*Tao P.o.V

Aku mengerjapkan mataku. Sudah pagi ternyata. Ku lihat namja tampan yg tertidur dan memelukku posesif di sampingku. Ingatanku kembali ke malam tadi. Aku menyerahkan seluruh diriku pada namja tampan ini. pipiku rasanya memanas mengingat kejadian semalam. Ku tatap lekat wajah tampan itu. Tetap tampan walau sedang tertidur.

"Aku tau kalau aku tampan, tak usah memandangiku seperti itu." Tiba-tiba ia bangun dan tersenyum lebar. aku ketahuan memandanginya.

"Ish kau terlalu percaya diri ge." Aku menundukkan kepalaku, aku yakin wajahku sangat merah sekarang.

"Haha kenapa kau begitu manis dan menggemaskan baby?" Kris menarik daguku dan melumat bibirku singkat.

"Gomawo." Ucapnya dengan senyum menawan.

"Gomawo? Untuk apa ge?"

"Karena kau telah memberikannya padaku." Aku kembali menunduk mendengar jawabannya.

"Cheonma ge." Ia mengusak pelan rambutku.

"Kau sekarang milikku. Jangan pernah berdekatan dengan namja lain. Awas saja kalau kau sampai dekat dengan namja lain." Kris ge mencubit hidungku.

"Kalau Tao dekat dengan namja lain memang gege mau apa?" Ia tiba-tiba menatapku tajam.

"Ia akan mati ditanganku." Aku menelan kasar salivaku.

"Gege tak usah menatap Tao seperti itu. Tao tak akan macam-macam dengan yg lain." Ucapku cemberut. Ia terkekeh.

"Baiklah. Aku percaya padamu baby panda." Ia meraih tanganku dan meletakannya di dada bidangnya.

"Kau bisa merasakannya? Kau bisa mendengarkan detak jantungku yg cepat itu? Ini hanya terjadi saat aku bersamamu. Ku mohon, jangan pernah pergi dari sisiku. Karena tanpamu, ku rasa benda ini akan memilih berhenti berdetak." Tatapannya sangat lembut dan penuh kasih sayang. Membuatku terperosok jauh lebih dalam pada pesonanya.

"Tao tak akan pergi kemanapun ge." Ia tersenyum hangat.

"Ku titipkan hatiku padamu. Kau mau berjanji untuk menjaganya? Apapun yg terjadi, sesulit apapun keadaan kita nanti. Aku mohon tetap jaga hatiku dan jaga hatimu agar tak berpaling pada siapapun. Yaksok?"

"Yaksok ge." Ia merengkuh tubuhku ke dalam dekapan hangatnya.

"Saranghae baby panda. Jeongmal saranghae." Ia menciumi dan mengelus sayang puncak kepalaku. Aku hanya bisa tersenyum dalam dekapannya.

"Nado gege~" Ia melepas pelukannya lalu mengecup bibirku singkat.

"Sekarang jja kita mandi bersama."

"Bersama?" Tanyaku, ia mengangguk.

"Wae baby?"

"Tao bisa mandi sendiri. gege mandi setelah Tao saja nanti." Ucapku. mana mungkin aku mandi dengan namja ini. aku kan malu-.-

"Kau yakin bisa mandi sendiri?" Ia menatapku sambil menyeringai kecil. Menurutku itu menakutkan.

"Tentu saja Tao bis- aaaaa~"

DUGH!

Aku terjatuh saat mencoba bangkit dari tempat tidur. Aigoo~ Bagian bawahku rasanya sakit sekali.

"Yak baby, gwaenchana?" Kris ge menghampiriku dengan tatapan khawatir.

"Sakit ge~ Tao tidak bisa berjalan. Kenapa ini ge?" Tanyaku. Kris hanya tersenyum aneh sambil menggaruk tengkuknya.

"Mian baby. Itu pasti gara-gara semalam."

BLUSH!

Pipiku kembali memanas mendengar jawabannya. Aish, aku tak menyangka rasanya akan sakit begini sesudah 'itu'.

"Sudah gege bilang, lebih baik kita mandi bersama. Jja baby kita mandi~" Kris ge menggendongku ala bridal ke kamar mandi. Mungkin kali ini aku memang harus menurut padanya.

*Author P.o.V

Seorang namja berkulit pucat dengan surai dark brown tampak sedang memejamkan matanya dibawah pohon maple besar ditengah hutan. Membiarkan hembusan angin awal musim semi itu menerpa wajah tampannya.

"Tao.. sampai kapan aku harus menahan semua perasaan ini padamu? Haruskah aku mengungkapkannya? Tapi aku takut Tao." Gumamnya terdengar lirih.

"Apa kau mempunyai perasaan yg sama padaku? Apa kau juga merasakan apa yg aku rasakan dan aku pendam selama ini? Aku harap kau bisa mendengar dan merasakan seluruh hatiku ini Tao. Aku mencintaimu Tao. Sangat mencintaimu." Lanjutnya lagi, masih dengan mata terpejam. Tanpa ia sadari, seorang namja mungil yg memperhatikannya sedari tadi sedang menahan isakan tangis karena perkataannya.

"Aku salah mencintaimu Sehun-ah." Ucap namja itu lirih, dan berlari menjauh dari tempat tersebut.

"Sehun-ah!" Namja berkulit pucat itu membuka matanya, menengok ke arah suara yg memanggilnya. Ia melihat seorang namja tan dan seorang namja bermata bulat sedang berjalan ke arahnya. Matanya memicing melihat namja bermata bulat yg jalan dengan sedikit terpincang itu.

"Kau sedang apa disini Sehun?" Tanya namja berkulit tan itu saat sudah berada didepannya. Bukannya menjawab, Sehun malah bangkit dan menatap aneh namja bermata bulat disebelah namja tan itu.

"Siapa dia kkamjong?"

"Kau selalu mengabaikan pertanyaanku dan memanggilku dengan nama itu, namja susu." Kesal Kai.

"Ku bilang siapa dia?" Sehun kini menatap Kai.

"Dia Do Kyungsoo. Namjachinguku. Wae?"

"Dia kah yg membuatmu tak pulang 2 hari ini?" Sehun menatap tajam ke arah Kyungsoo. membuat namja manis itu ketakutan dan bersembunyi dibelakang tubuh Kai.

"Jonginieee~ Siapa dia? kenapa dia menatapku begitu?" Ucap Kyungsoo pelan. Takut namja susu itu mendengarnya.

"Yak! Sehunnie berhenti menatap kekasihku dengan pandanganmu itu. Kau membuatnya takut pabo!" Bentak Kai.

"Ternyata orang sepertimu juga bisa jatuh cinta ya." Sehun kembali menatap namja tan itu dengan wajah dinginnya.

"Tentu saja. Memangnya aku seperti kau? Yg bahkan tak punya ekspresi apapun dalam hidup." Ejek Kai.

"Hei kau namja mungil, bagaimana caranya kau bisa berhubungan dengan namja berotak yadong seperti dia? apakah tanda merah dilehermu dan jalanmu yg terpincang itu ulahnya?" Ucap Sehun yg berhasil membuat mata namja bernama Kyungsoo itu bertambah bulat.

"Yak! Untuk apa kau bertanya seperti itu namja susu?!" Teriak Kai.

"Hanya memastikan keadaan Elf ini sadar atau tidak." Jawab Sehun datar.

"Ish, apa maksudmu hah? lagipula untuk apa kau ada disini? Pulanglah sana. Kau tak bisa berburu Elf disini. Ingat."

"Siapa juga yg mau berburu Elf? Kau yg seharusnya pulang. Baekhyun dan Chanyeol ajushi mencarimu pabo."

"Aku akan pulang setelah urusanku selesai. Arra?"

"Cih, punya urusan apa kau disini kkamjong?"

"Mengantar namjachinguku menemui temannya. Sekarang lebih baik kau pulang Sehun."

"Siapa kau berani memerintahku?"

"Yak Kau! Aku kakak sepupumu!"

"Jonginie, sudahlah. Jangan marah begitu." Kyungsoo terlihat khawatir dengan perdebatan dua vampire didepannya ini.

"Lebih baik kau dengarkan apa kata kekasihmu itu 'kakak sepupuku'." Ucap Sehun dengan penekanan pada kata terakhirnya.

"Ish, awas kau Oh Sehun!"

"Kyungie!" Ketiga namja itu menoleh mendengar teriakan seseorang yg memanggil Kyungsoo. Terlihat seekor naga mendarat tak jauh dari mereka. Kemudian turunlah seorang namja tampan dengan rambut pirang dari punggung naga itu, diikuti seorang namja manis dengan mata panda yg lalu berjalan ke arah mereka.

"Tao!" Pekik Kai dan Sehun saat namja manis itu telah berada dihadapan mereka.

"Kau tak apa eoh?" Tanya Sehun dengan nada khawatir saat melihat Tao yg berjalan terpincang seperti Kyungsoo tadi.

"Eum, Tao tak apa kok." Namja panda itu tersenyum manis.

"Kau!" Sehun dan Kai memandang tajam ke arah Kris.

"Kris, kenapa kau lama sekali eoh?" Tanya Kyungsoo.

"Baby, kau mengenalnya?" Kai memandang Kyungsoo penuh tanya.

"Dialah yg ku tunggu dari tadi Jonginie."

"Hei pirang. Apa yg kau lakukan pada Tao? Kenapa dia bisa bersamamu?" Tanya Sehun. Matanya menatap Kris dengan tatapan tak suka.

"Aku tak melakukan apapun. Tak bolehkan jika ia bersamaku?" Jawab Kris enteng.

"Apa hubunganmu dengannya?" Kini Kai yg bertanya. Kris terkekeh kecil.

"Hei, siapa yg menyuruhmu tertawa? Jawab! Ada hubungan apa kau dengan Tao?" Sehun menarik kerah baju namja pirang itu.

"Tak bisakah kau sedikit santai namja pucat? Memang apa hubunganmu dengan Tao sampai kau menarik kerah bajuku begini hm?" Kris tersenyum sinis, membuat amarah Sehun memuncak.

"Aku sahabatnya! Dan kau siapa orang asing?" Sehun memandang sengit pada Kris.

"Orang asing? Lucu kau menyebutku begitu." Kris terkekeh.

"Kau minta mati eoh?!" Ucap Sehun dingin, aura hitam terlihat dari tubuh namja itu. Kai bergidik ngeri melihat aura negative dari tubuh Sehun.

"Silahkan kalau kau bisa membunuhku." Kris tersenyum remeh.

"Sialan kau!" Sehun bersiap melayangkan tinjunya, namun..

"Sehunnie! Jangan!" Tao mendorong tubuh namja susu itu hingga cengkramannya dibaju Kris terlepas.

"Kenapa kau Tao?! Kau mau membelanya? Apa otakmu sudah dicuci namja pirang ini eoh?!" Sehun benar-benar murka. Ia menatap tajam ke arah Tao yg berusaha melindungi Kris.

"Hei namja pucat! Jangan berani membentaknya bajingan!" Kris mulai murka melihat Sehun yg membentak Tao.

"Hei kalian, sudahlah hentikan. Kenapa kalian saling membentak begitu?" Kai mencoba mencairkan suasana penuh amarah tersebut. Sedangkan Kyungsoo? dia hanya bersembunyi dibelakang Kai karena ketakutan. Baru kali ini ia melihat Kris marah. Begitu juga dengan Kai yg sebenarnya agak segan melihat kemarahan Sehun yg tak biasa.

"Diamlah kkamjong. Ini urusanku dengannya." Sehun mendelik pada Kai.

"Aku hyungmu Oh Sehun! Apapun yg terjadi padamu itu masih urusanku! Ingat pabo!" Kai ikut-ikutan murka melihat kelakuan Sehun yg menurutnya sudah diambang batas.

"Cih, hyung? aku tak pernah punya keluarga didunia ini. Kau hanya kakak sepupu dari seseorang yg sangat tak pantas ku panggil Umma dan Appa."

"Jaga bicara mu Tuan Oh! Aku bisa murka juga terhadap sikapmu namja susu!" Amarah Kai benar-benar tersulut oleh Sehun.

"Hei kau namja pucat! Apa kau tak pernah diajarkan sopan santun oleh orang tuamu?! Bersikaplah lebih sopan pada kakak sepupumu itu!" Ucap Kris.

"Apa pedulimu namja pirang? Siapa kau berani memerintahku? Dan kau perlu tau aku tak pernah punya orang tua. Mengerti?"

"Cih, pantas saja kelakuanmu begini. Hei kau yg bernama Kai, kenapa kau mau menjaga orang yg tak punya rasa terima kasih seperti dia? kalau aku jadi kau, walau dibayar sekalipun aku tak akan sudi mengurus orang brengsek yg tak punya tatakrama seperti dia."

"Hei, jaga mulutmu pirang!"

"Kau yg harusnya menjaga mulutmu namja pucat!"

"Kau benar-benar cari mati rupanya bajingan!"

"Kris, berhentilah mendebatnya, dan kau Oh Sehun! Jaga ucapanmu! Tak bisakah kau mendengarkanku sebagai hyungmu hah?!"

"Kau bukan hyungku! Bahkan kau ada dipihak namja pirang itu!" Ketiga namja itu kini berdebat sengit.

"KALIAN HENTIKAAAAAAANNNN! ARGHHHHHHH!" Tao terpuruk dan memegangi lehernya. Tanda berbentuk jam pasir dilehernya itu kembali terasa terbakar dan sakit akibat aura negative tiga namja itu.

"Tao, Kau kenapa?!" Kai dan Kyungsoo yg panik langsung menghampiri Tao. Namja manis itu tak menjawab.

"Arghhh, s-sakiiiit.." Ia terus mengerang kesakitan.

"Tao-ah, kau kenapa? Apa yg terjadi padamu?" Sehun terlihat bertambah pucat saat melihat namja manis itu mengerang.

"Tao-ie, kau baik-baik saja?!" Kris merengkuh tubuh namja mungil itu, mengusap pipi Tao lembut.

"Apa yg kau lakukan namja pirang?!" Sehun kembali membentak Kris.

"Aku hanya berusaha menenangkannya! Ada denganmu pucat?!"

"Apa hak mu eoh? Siapa kau sampai harus berusaha menenangkannya?!"

"Aku? Apa hak ku? Aku namjachingunya sekaligus calon suaminya! Puas kau?!"

DEG!

Tubuh Sehun mematung. Namjachingu? Calon suami? Namja pirang itu kekasih Tao.

"Cih, aku tak percaya."

"Maumu sebenarnya a-"

"Gege, hentikan. Tao mohon hentikan ge, jangan mendebat Sehun lagi." Tubuh Tao yg lemah itu memeluk Kris. Butiran kristal bening itu berlomba keluar dari matanya.

PRANG!

Mungkin begitulah suara hati Sehun yg kini hancur berkeping-keping melihat namja yg ia cintai memeluk namja pirang itu.

"Mian baby, gege tidak akan mendebat Sehun lagi. Uljimayo, jebal. Gege tak mau melihatmu menangis." Kris memeluk Tao posesif, mengusap punggung namja manis itu, berusaha menenangkannya.

Sehun tertegun melihat kejadian didepannya ini. hatinya benar-benar remuk sekarang. Tak hanya Sehun, Kyungsoo dan Kai pun sama-sama tertegun melihat dua namja yg kini sedang berpelukan tersebut.

"Gehh.. sakit.. hiks.." Rintihan pilu itu kembali terdengar. Sehun menatap nanar pada kedua namja itu.

CHU~

Kris mendaratkan bibirnya pada bibir namja manis itu. Menghentikan semua rintihan dan isakan yg keluar dari bibir Tao. Melumatnya lembut. Kemudian melepas tautan itu.

"Apa sudah baikan? Maaf gege membuatmu sakit baby." Kris kembali merengkuh tubuh namja manis itu dalam dekapannya.

"Cih menjijikan sekali." Sehun bangkit, lalu berbalik dan berjalan menjauh.

"Kau mau kemana Oh Sehun?!" Teriak Kai. Sehun menghentikan langkahnya.

"Pergi. Aku muak melihat adegan terenovela menjijikan seperti itu. Tak usah repot-repot mencariku kkamjong." Jawab Sehun dingin tanpa sedikitpun menoleh. Ia kembali melanjutkan langkahnya dan bayangannya menghilang dibalik pohon-pohon tinggi.

*Sehun P.o.V

Aku melangkahkan kaki ku menjauh dari orang-orang menjijikan itu. Ku cengkram erat dadaku. Sakit. Ini terlalu sakit. Sejahat itukah aku Tuhan, sampai kau membuatku merasakan rasa sakit seperti ini? hatiku remuk melihat orang yg ku cintai berciuman dengan orang yg ku benci di depan mataku sendiri. apa salahku sampai Kau menghukumku seperti ini Tuhan?

TES!

Setetes butiran kristal bening itu jatuh dari mataku. Aku menangis. Ini tangisan pertamaku setelah terakhir kali aku menangis 10 tahun yg lalu saat kedua orang tuaku pergi meniggalkanku. Kenapa aku harus merasakan sakit lagi Tuhan? Apa aku salah mengenal cinta? Kenapa semua orang yg ku cintai menyakitiku? Umma, appa, dan sekarang Tao. Apa aku bukan orang yg pantas untuk dicintai?

Aku sudah tak sanggup lagi berjalan, seluruh persendianku terasa lemas. Ku dudukan diriku dibawah pohon ash yg cukup besar. Aku memeluk lututku. Entah kenapa rasanya kini aku merasa begitu rapuh. Ayolah Oh Sehun, kemana dirimu yg dingin yg biasa kau tunjukan? Kemana sosokmu yg tegar dan selalu acuh terhadap apapun? Kenapa kau menjadi namja yg rapuh seperti ini?!

"Hiks.. hiks.." Samar-samar ku dengar suara isakan. Itu bukan suaraku. Lalu suara siapa?

Aku mengedarkan pandanganku. Retinaku menangkap sesosok bayangan seseorang yg duduk ditepi sungai. Ah tapi apa peduliku? Kurasa ia tidak penting untuk dihampiri.

"Hiks.. kau jahat.. kenapa kau jahat begini padaku?" Ku dengar ia terisak lirih lagi. Baiklah aku mulai simpati dan peduli mendengar suara orang itu. Aku memutuskan bangkit dan berjalan mendekat ke arah namja itu.

"Apa kau tak bisa mengerti perasaanku? Hiks.. kenapa kau sama sekali tak melihatku? Hiks.." entah kenapa hatiku rasanya tertohok oleh isakan dari mulut namja itu. Kasihan sekali, sepertinya ia benar-benar tersiksa. Eh tunggu, sejak kapan aku mulai peduli pada orang lain kecuali Tao dan si kkamjong bodoh itu? Tidak-tidak. Aku tidak peduli. Aku yakin, aku hanya penasaran karena mendengar tangisannya. Ya, hanya sekedar penasaran dan kasihan. Tapi kenapa rasanya aku ingin sekali menenangkan namja itu? Bahkan aku saja tak tau bagaimana wajah namja yg sedang menangis sambil terisak memeluk lututnya itu.

"Hei, kau tak apa?" Tanyaku seraya menepuk pundak namja bersurai pirang itu. Namun ia tak bergeming. Masih asik dengan tangisannya.

"Heiii, apa kau mendengarku? Kenapa kau menangis?" Namja itu menoleh.

"Luhan-ssi?" Aku menatap heran namja yg kemarin Tao kenalkan padaku itu. Matanya sayu, sembab dan memerah, jejak-jejak air mata itu masih terlihat di kedua pipi mulusnya. Neomu yeoppeo. Syaraf-syaraf ditubuhku menegang. Ingatanku kembali melayang pada kejadian 10 tahun lalu. Mungkinkah ia?

#Flashback On (Author P.o.V)#

"Hiks.. umma.. appa.. hiks.. aku takut." Seorang anak lelaki manis bersurai cokelat menangis terisak sambil memeluk lututnya.

"Hei, kau tak apa?" Seorang namja kecil berkulit pucat menepuk pelan bahu namja manis yg sedang menangis terisak itu. Namja manis itu tak merespon dan masih terisak.

"Heiii, apa kau mendengarku? Kenapa kau menangis?" Tanya namja berkulit pucat itu. Namja manis itu menoleh. Matanya sayu, sembab dan memerah. Jejak-jejak airmata terlihat jelas dikedua pipi chubbynya. Namja berkulit pucat itu tertegun melihat paras si namja manis.

"Neomu yeoppeo~" Gumamnya pelan.

"Kau siapa? Hiks.." tanya si namja manis itu.

"Em, aku Hunnie. Kau siapa? Kenapa menangis disini?" Si namja pucat itu balik bertanya.

"Aku lulu.. hiks.. aku kehilangan umma dan appaku..hiks..huaaa.." Namja manis itu menangis lagi.

"Hei.. jangan menangis." Namja pucat itu mengusap jejak air mata dipipi si namja manis.

GREP

Si namja pucat itu membawa sang namja manis kedalam pelukannya.

"Uljima eoh." Si namja pucat mengelus surai cokelat namja manis itu sayang.

"Aku takut hunnie. Aku takut. Aku mau umma dan appaku." Si namja manis itu balik memeluk namja yg dipanggil Hunnie tersebut dengan erat.

"Tenanglah lu, nanti kita akan mencari umma dan appamu. Kau jangan menangis eoh, aku akan menemanimu sampai kau bertemu umma dan appamu." Ucap Hunnie.

"Jjinja hunnie? Yaksok?" Namja manis itu menatap si namja pucat dengan pandangan yg sangat menggemaskan.

"Ne yaksok."

"Gomawo hunnie.. hiks.." namja manis itu masih sedikit terisak.

CHU~

Si namja pucat itu menempelkan bibirnya pada bibir si namja manis. Hanya menempel. Dan ciuman singkat itu berhasil membuat isakan si namja manis berhenti.

"Nah sudah berhenti kan? Sudah lebih baik?" Namja manis itu mengangguk.

"Kenapa hunnie mencium lulu?"

"Karena hunnie tak ingin melihat lulu menangis. Dan sekarang lulu sudah tidak menangis lagi bukan? Jangan pernah menangis. Hunnie tak mau melihat lulu menangis." Namja pucat itu memeluk si namja manis erat.

"Gomawo hunnie. Lulu tidak akan menangis lagi karena kini ada hunnie." Kedua namja itu tersenyum.

"Hunnie punya dua buah kalung. Ini pemberian dari umma dan appa hunnie. Mereka bilang hunnie harus memberikan kalung ini pada orang yg berharga untuk hunnie. Apa lulu mau memakainya?" Namja pucat itu menunjukan 2 buah kalung berbentuk kunci dan hati pada si namja manis.

"Hunnie mau memberikan itu untuk lulu?"

"Ne, lulu mau memakainya kan?" Namja manis itu mengangguk antusias.

"Tentu saja hunnie. Jja pakaikan~" Namja pucat itu tersenyum hangat, membuat wajahnya terlihat begitu tampan.

"Lihatlah sudah hunnie pasangkan kalung kuncinya pada Lulu. Dan kalung hati ini untuk hunnie. Lulu harus menjaganya ne? karena kata umma dan appa, hanya kunci itu yg bisa membuka hati ini."

"Lulu akan menjaganya untuk hunnie. Gomawo ne hunnie." Namja manis itu mengecup pipi si namja tampan.

"Cheonma lulu`"

"Aaaaa~ hunnie lihat, ada rusa!" Si namja manis memandang takjub seekor rusa besar yg tak jauh dari mereka berdua.

"Lulu suka rusa? Mau bermain dan memberi makan mereka?"

"Bolehkan hunnie?"

"Tentu Lu. Bagaimana?" Namja manis itu mengangguk antusias.

"Jja kita kesana!"

#Flashback off#

*Sehun P.o.V

"Sehun-ssi?" Suara lembut itu membuyarkan sehun dari lamunannya.

"Ah, Luhan-ssi? Kau kenapa? Kenapa menangis disini?" Tanya Sehun. Nada bicaranya tak dingin seperti biasanya.

"Aku kehilangan hiks.. orang yg ku sayangi..hiks..huaaa.." Luhan kembali menangis. Sehun menatap lembut namja manis itu.

"Hei.. jangan menangis." ia itu mengusap jejak air mata dipipi Luhan.

GREP

Entah perintah dari mana, Sehun membawa Luhan kedalam pelukannya.

"Uljima eoh." Ia mengelus surai pirang Luhan sayang. Nyaman. Kedua namja itu merasakan perasaan yg sama saat ini.

"Aku takut Sehun-ssi. Aku takut kehilangan orang yg ku cintai lagi.. hiks.." Luhan balik memeluk Sehun dengan erat. Pernyataan Luhan barusan membuat hati Sehun yg beku itu terasa mencair. Ia tahu, ia tahu sekarang bahwa namja manis itu adalah Luhan. Cinta pertamanya yg tak pernah mau ia ingat.

"Tenanglah. Kau jangan menangis eoh, aku berjanji kau tak akan kehilangan dia lagi." Ucap Sehun menenangkan.

"Jjinja Sehun-ssi? Yaksok?" Luhan menatap dengan pandangan yg sangat menggemaskan.

"Ne yaksok."

"Gomawo Sehun-ssi sudah baik padaku.. hiks.." namja manis itu masih sedikit terisak.

CHU~

Sehun menempelkan bibirnya pada bibir si Luhan. Melumatnya sebentar. Luhan terdiam, SEHUN MENCIUMNYA. Apa ini mimpi? Ciuman ini serasa Dejavu untuk Luhan yg sepertinya masih memproses kejadian ajaib yg dilakukan Sehun padanya. Sehun melepas ciumannya dan menatap Luhan dengan senyuman manis. Senyuman yg sudah 10 tahun ini tak terlihat di wajah namja tampan itu.

"Nah sudah berhenti kan? Sudah lebih baik?" Luhan mengangguk. Namun ia terus menundukan kepalanya. Semburat merah itu muncul dipipinya.

"Kenapa kau menciumku Sehun-ssi?"

"Karena aku tak ingin melihatmu menangis. Dan sekarang kau sudah tidak menangis lagi bukan? Jangan pernah menangis. Aku tak mau melihatmu menangis." Sehun kembali memeluk Luhan erat. Sedangkan Luhan kembali membelakakan matanya, ucapan itu? Memorinya dengan seorang anak lelaki berkulit pucat 10 tahun lalu itu terputar kembali diotaknya. Mungkinkah namja yg ia sukai sekarang ini adalah Hunnie?

"Hunnie.. apa ini kau?" Luhan bergumam kecil dalam pelukan Sehun.

"Akhirnya kau menyadarinya Lu. Ini aku Hunnie. Ku mohon jangan menangis lagi. Aku benci melihat airmatamu."

"Hunnie.. Gomawo hunnie. Lulu tidak akan menangis lagi karena kini ada hunnie." Kedua namja itu tersenyum. Sehun mengecup puncak kepala namja manis itu.

"Lu apa Kau masih menyimpannya?" Tanya Sehun. Luhan menganggukan kepalanya.

"Tentu saja Hunnie. Lulu selalu memakainya." Namja manis itu memperlihatkan kalung pemberian Sehun dulu. Sehun tersenyum hangat.

"Ternyata benar. Hanya orang yg memiliki kunci itu yg bisa membuka hati ini. aku kembali menemukanmu Lu. Maaf aku lambat. Terimakasih kau sudah mencairkan kembali hatiku yg membeku. Gomawo Lu." Sehun mengecup kening Luhan, membuat namja manis itu kembali tersenyum dengan pipi memerah.

"Cheonma Hunnie."

"Lu, maukah kau berjanji satu hal padaku?" Luhan mendongak menatap mata namja tampan itu.

"Berjanji apa hunnie?"

"Jadilah milikku. Dan jangan pernah lagi pergi dari Sisiku." Sehun menatap dalam manic indah milik Luhan. Luhan tersenyum manis seraya menganggukan kepalanya.

"Gomawo Lu~ Saranghae." Sehun memeluk tubuh itu erat.

"Nado saranghae hunnie~"

*Author P.o.V

"Kai, apa kau yakin Sehunnie baik-baik saja?" Tao bertanya dengan nada khawatir.

"Sudahlah panda, aku yakin ia akan baik-baik saja. Ia mungkin hanya kesal dan perlu menenangkan dirinya. Kau tau kan ia memang tidak suka pada orang baru."

"Tapi kenapa dia kelihatan sangat membenci Kris ge Kai?"

"Sehun tak membencinya, hanya saja ia perlu waktu menerima kehadiran Kris."

"Sudahlah baby panda, jangan terlalu difikirkan. Mungkin Sehun memang butuh waktu." Kris mengusak surai hitam itu membuat si empunya kembali tersenyum.

"Arraseo ge~"

"Hei Yifan, kau belum menjelaskan kepadaku kenapa kau bisa bersama dia." kyungsoo yg diam sedari tadi mulai membuka suara.

"Tanpa kuceritakan pun kau sudah seharusnya tau Kyungie."

"Ish, kau itu cari mati atau apa sih? Kalau ayah dan ibumu tau kau bi- aaauuu!" Kyungsoo meringis karena kakinya diinjak tiba-tiba oleh Kris.

"Tenanglah Kyungie. Mereka tidak akan marah kok." Kris menatap tajam Kyungsoo, seolah tatapannya itu berkata –berhenti-bicara-atau-kau-mati-juga-

"Ayah dan ibu gege marah kenapa eoh? Apa Kyungsoo kenal dekat dengan ayah dan ibu gege? Jadi maksud Kyungsoo tadi apa?" Tao memandang Kris bingung.

"Emm.. Mungkin Kyungsoo takut ibu dan ayah gege marah karena gege tidak pulang. Tapi gege sudah minta izin kok. Jadi mereka tidak akan marah. Benarkan Kyungsoo?" Kris menyikut namja bermata bulat itu.

"Ish, ne."

"Apa kalian kenal sangat dekat?" Kai menyelidik.

"Kurasa kita bisa membicarakan ini ditempat lain. Aku rasa ada yg mengintai keberadaan kita dari tadi." Ucap Kris. Ia memandang sekekeling dengan tatapan yg tak bisa diartikan.

"Kau jangan mengalihkan pembicaraan Kris."

"Aku tak bercanda Kai. Baby panda, apa kau merasakannya juga?" Kris menatap namja manis itu.

"Kai, bisakah kita ke rumahmu? Perasaanku tak enak. Kita harus pergi sekarang juga." Kai hanya mendengus kesal.

"Baiklah, ku rasa kita bisa berjalan sekarang."

"TIDAK!"

"Kau kenapa panda?" Kai menatap aneh pada Tao yg bertingkah tak biasa.

"Bisakah kita berteleportasi menggunakan kekuatanmu Kai? Kumohon." Tao mengeluarkan puppy eyesnya.

"Ish kau aneh panda. Tapi yasudahlah, semuanya berpegangan padaku." Dan didetik berikutnya, tubuh keempat namja itu hilang ntah kemana.

"Katakan apa yg kau lihat Minho." Seorang namja yg masih terlihat tampan berdiri membelakangi namja yg sedang berlutut hormat padanya.

"Aku melihat tuan muda Kris yg mulia. Dia bersama 3 namja disana. Dan yg mencengangkan adalah, salah satu dari ketiga namja itu adalah penyihir keturunan Kim Joon Myeon yg menghilang saat peperangan dahulu." Jelas namja bernama Minho itu.

"Bagaimana dengan dua namja lainnya?"

"Ada namja bermata bulat dari klan Elf yg sering keluar bersama tuan muda Kris, dan seorang lagi seorang namja berkulit tan yg ku ketahui bernama Kim Jong In yg mulia."

"Kim Jong In? apa dia anak dari Kim Chanyeol si ketua klan Vampire?"

"Menurut info yg saya dapat, dia memang anak Kim Chanyeol yg mulia."

"Yeobo, kau dengar sendiri bukan? Ku rasa anak kita salah jalan." Namja bernama Jongdae itu menatap istrinya. Minseok menatap sendu kepada suaminya itu.

"Bawa Yifan kembali." Ucap Minseok pada Minho. Namja bernama Minho itu mengangguk patuh.

"Baik yg mulia."

"Jika Yifan tak ingin pulang, bunuh teman-temannya dan seret dia kembali. Ku harap kau mau membawa bangkai anak keturunan Joon Myeon itu kehadapanku untuk dijadikan makanan para naga."

"Dengan senang hati yg mulia. Saya mohon diri." Minho bangkit dan berjalan keluar meninggalkan istana.

"Yeobo, ku harap kau tak serius dengan ucapanmu itu." Minseok memandang ngeri pada suaminya itu.

"Aku tak pernah main-main dengan ucapanku Yeobo. Jika mereka ingin bermain, akan ku tunjukan cara mainnya." Ucap Jongdae dengan seringaian mengerikan.

TBC..

Akhirnya ini FF dipost lagi. Mianhae ngaret seperti biasanya-_- Idenya jadi ngawur kemana-mana. Semoga chapter ini bisa memuaskan/? Dan semoga masih ada yg mau nungguin FF ini :''

Maaf kalo semakin lama makin ngawur, Mico pusing ngatur jadwal nulis FF sama ngerjain tugas yg mulai bertumpuk /derita itu mah-_-/

Yasudahlah, yg baca jangan lupa tinggalkan jejak. Yg baca gak ninggalin jejak, ntar darahnya diisep vampire yg mirip om Sooman :v

Sampai ketemu dichapt selanjutnya^^

Lee Mico^^