Mau tau kemaren knp ga saya apdet? Nyokap lage marah2, ga boleh buka laptop... T___T Che, padahal liburan panjang~
Setelah meneliti semua ruangan yang ada di tempat itu, Matt dan Mello keluar dengan beberapa foto dan catatan yang nanti akan diselidiki lebih lanjut. Mereka langsung menaiki motor dan pulang ke markas.
"Cetak semua foto." Mello memerintahkan.
"Oke." Matt langsung melakukannya sedangkan si blonde hanya duduk, membaca dan memakan coklat. Tidak ada satupun kata-kata di catatan itu yang masuk ke kepala Mello. Rasanya seperti ada cermin yang memantulkannya. Mello sibuk memikirkan kejadian di dalam pabrik televisi itu, ketika bibirnya menyentuh Matt... Ia terus memegangi bibirnya sendiri layaknya orang aneh, tidak menyadari Matt memperhatikan gerak-gerik Mello dan ikut memerah.
Matt menyalakan televisi dan melihat sebuah berita.
"Pembunuhan di pabrik televisi terjadi lagi, sepertinya oleh orang yang sama dengan kemarin. Pukul 9 malam tadi, dikabarkan seluruh pegawai sudah meninggal dengan luka sayatan. Jejak yang ditinggalkan adalah setoples selai stroberi."
"A-apa?!" Matt berteriak kaget.
"Matt, we got a job to do." Kata Mello sambil mengambil jaketnya, menyisipkan sejumlah coklat dan berjalan pergi.
OoOoOoO
"Lagi-lagi di dapur." Matt berkata. "Jendelanya pecah, pasti seperti sebelumnya, ia-"
"Bukan, perhatikan baik-baik." Mello menyentuh meja di dekat tempat itu. "Basah."
"Ada tali."
"Yup. Ini adalah sebuah trik untuk mengecoh para detektif. Kuncinya adalah balok es." Mello membuka freezer dan mengambil tempat es dengan satu es yang menghilang. "Balok es ditaruh disini ketika ia berhasil masuk, dikaitkan dengan tali dan pasti diujungnya ada benda tajam. Ketika esnya mencair, talinya lepas dan bam. Jendelanya pecah. Sang pelaku hanya harus mengambil alat tajam itu."
OoOoOoO
"Sudah jam 1 pagi..." Matt berkata dengan pelan.
"We still got a job to do. Teliti semua catatan ini." Mello melempar beberapa kertas.
"Haaah????"
Matahari pagi telah bersinar, Matt telah tertidur di meja dan Mello masih sibuk membaca semua catatan tersebut. Tiba-tiba Matt terbangun dan melihat jam tangannya, "hampir jam 11!!!!" Ia berteriak dan langsung berlari ke dapur untuk menyediakan sarapan, err... Lunch sih sebenernya.
"Ok, I'm done." Mello berkata sambil berdiri, meregangkan tubuhnya dan menyalakan televisi. Tidak ada apa-apa yang menarik, ia hanya menonton acara yang ada sambil menunggu Matt membuat sarapan. Eh, makan siang deh. Seseorang mengetuk pintu masuk ke tempat itu. Dengan malas, ia membuka pintu itu, tidak menemukan siapa-siapa tapi selembar kertas.
'I'm looking forward for you to catch me. Excite me. Arrest me before anyone else could.' -StrawberryJam
Dengan kemarahan, Mello meremas surat itu. "Sial. Kau menantangku ya? Lihat saja, StrawberryJam or whatever your name is, I'll catch you, even before L could." Ia langsung membuka laptopnya dan mencari informasi tentang kasus ini.
"Pembunuhan di pabrik televisi kembali terjadi pada, diperkirakan pada pukul 11 tadi."
"Lagi." Mello berusaha mencari pattern pembunuhan itu. "9 pagi, 10 malam, 11 siang... Selanjutnya... 12 malam, di pabrik televisi terakhir di daerah ini."
"Mello, lunch's ready!"
"Matt, aku pergi sekarang."
"Eh? Mau kemana?"
"Pabrik televisi yang baru saja dihancurkan."
"A-aku ikut!"
"Tidak usah, kamu istirahat saja." Mello berkata dan langsung pergi.
"MELLO!!!!" Matt berteriak namun, pintu telah tertutup. "... Apa dia selalu seperti itu?" Ia duduk dan memakan makan siangnya.
OoOoOoO
"..." Mello membanting pintu terbuka sebelum kembali menutupnya dengan kasar.
"Mell-" Mata Matt terbelalak. "Kamu kenapa?!" Badan Mello penuh dengan luka.
"The murderer set me up." Katanya. "Aku terjebak dan beberapa pisau mengenaiku. Untung saja aku berhasil menghindari beberapa."
"Dasar ceroboh!" Matt mengambil box first aid dan langsung membasuh luka-luka di badan Mello. "Kamu benar-benar ceroboh!" Ia mengambil kapas dengan obat diatasnya untuk dioleskan ke luka Mello.
"Ah..." Ia mengerang kesakitan.
"Mello..." Matt terdiam di dekat wajah Mello. Tiba-tiba ia menciumnya.
"N-nnh!" Reflek, sang cowo blonde itu mendorong Matt jatuh, menghantam meja kaca hingga hancur. "Ma-maaf...!!"
Darah mengucur dari kepala cowo yang sudah tidak mengenakan google-nya itu.
"MATT!!!!!"
OoOoOoO
Matt membuka kedua matanya, melihat sekelilingnya. Ia ada di kamar, Mello ada disampingnya.
"Mello...." Ia terlihat kaget.
"Kamu sudah tidak apa-apa? Maaf tadi aku mendorongmu... Tiba-tiba kamu menciumku begitu, aku kaget..."
"Menciummu? Ka-kapan?"
"Yang tadi itu, bodoh. Aku benar-benar kha-" Mello terdiam. "Matt? Kamu... Jangan-jangan..."
"Ke-kenapa aku ada disini? Seharusnya aku ada diluar kan... Go-google ku!" Ia merasakan googlenya tidak ada di dahinya.
"Ingatanmu telah kembali..." Sulit untuk mengakuinya, Mello kecewa Matt telah kembali seperti semula. Ia mau Matt yang dulu... Matt yang terlihat lebih menyayanginya. "Lupakan itu. Ikut denganku, jam 12 malam hari ini. Lebih baik kau telah sembuh."
"..." Matt memeluk selimutnya. Lagi-lagi tempat dingin ini, dengan Mello yang sama. Mello yang tidak pernah peduli dengannya. "Aku tidak bisa."
"Hah?"
"Aku tidak mau mendengar perintahmu. Aku ini bukan pelayanmu."
Beberapa saat, semuanya terdengar hening, tidak ada jawaban. "Baiklah. Kau boleh pergi." Suara Mello terdengar parau. Ia menutup pintu kamar.
Pukul 9 malam, Matt membereskan barangnya dan beranjak keluar tanpa bicara dengan Mello. Ia yakin, toh Mello tak akan peduli.
Tiba-tiba ia melihat sebuah kertas di depan pintu masuk, ia membacanya.
'I'm looking forward for you to catch me. Excite me. Arrest me before anyone else could.' -StrawberryJam
"S-strawberry Jam..." Matt terlihat kaget. "Tidak mungkin, tidak mungkin."
OoOoOoO
Pukul 11 malam, Mello keluar dari tempat dimana dia berdiam dan langsung menaiki motornya menuju ke pabrik televisi yang lumayan dekat. Namun... Macet menjebaknya. Dengan tidak sabar, ia terus mengklakson. "Jam 12... Sial!!!!" Setelah struggling dengan kemacetan itu, Mello membelok ke sebuah gang dan mengambil jalan pintas. "12.15" Jam terus berdetik.
"12.30, SIAL AKU TERLAMBAT!!!" Dengan kasar, Mello mendobrak pintu masuk dan melihat darah dimana-mana. Ia memasuki dapur, satu-satunya tempat dimana pelakunya selalu mengecoh atau memberi hint.
Ia membuka pintu itu dan melihat seseorang sedang berdiri.
Semuanya gelap. Sinar dari rembulan hanya membuat sosok manusia ini semakin gelap. Dengan tangannya, ia meraih seseorang yang sedang berlutut, memohon agar tidak dibunuhnya, dengan tangannya. Dan secepat kilat, sebuah pisau menembus dahi orang itu. Just a matter of second sebelum orang tersebut dilempar kelantai, menggelepar, dan mati.
"Selamat datang." Pembunuh itu tertawa. Petir menyambar dan menunjukan sosok seorang...
"BE-BEYOND BIRTHDAY!!" Mello menganga.
To be continued
