Masih jelas diingatan Baekhyun saat ia berumur 12 tahun, ia sedang bermain bola ditaman dengan kawanan rumahnya pada satu hari sebelum natal tiba. namun ia terjatuh dan berakhir menangis karena darah yang ia keluarkan cukup banyak. Kebetulan Jessica berada dijalan pulang bekerja saat itu. Baekhyun menatap Jessica yang juga menatapnya saat itu. Namun Jessica tak berani mendekat dan lebih memilih meninggalkan Baekhyun disana diiringi ejekan yang di lontarkan oleh teman-temannya..

Namun saat Baekhyun tiba dirumah, remaja berumur dua belas tahun itu langsung disambut Jessica yang sedang bertolak pinggang didepan pintu kamarnya. Untuk sekedar penghormatan, Baekhyun membungkuk dan bergegas berjalan memasuki kamarnya. Langkah mungilnya terhenti saat suara nyaring sang ibu membentak dan merasuki telinganya. "Aku melihatmu menangis lalu teman-temanmu mengelilingimu dan kemudian mengejekmu. Kenapa kau diam saja?!"Baekhyun maih terdiam dan tak bisa menjawab."Apa kau ingin tumbuh menjadi pria yang lemah?"Jessica maju satu langkah. Kemudian menggeram marah saat anak satu-satunya itu sama sekali tak menanggapi omelannya."Byun Baekhyun, Jawab aku!"

"APA PEDULIMU!"Untuk pertama kalinya sejak dua belas tahun, Baekhyun berani membentak ibunya dengan lantang saat itu."Kalau kau sudah melihat anakmu diejek, dipermalukan lalu terluka parah mengapa kau tak mendatangiku saat itu?"raut wajah Baekhyun berbanding terbalik dengan bentakannya. Ucapannya begitu lantang namun wajahnya sudah sembab oleh air mata dan menahan raut ketakutan."bukankah saat kau pulang kau hanya perlu menyambutku dengan pelukan atau setidaknya ucapan selamat natal?"Jessica masih menatap putranya dengan raut angkuh kebanggaannya. Berjalan bergerak menjauhi Baekhyun dengan kedua tangan yang wanita itu lipat dibawah dadanya.

"Untuk apa aku mengucapkan hal yang tidak perlu..."

Jessica memutar tubuhnya. Menatap tubuh ringkih putranya yang membelakanginya. Tatapannya sedikit melembut saat melihat bahu anaknya bergetar pelan."Cepat mandi dan ganti baju. Aku akan mengobatimu."Jessica telah berbaik hati menawarkan pengobatan."Yeah, kau keluar rumah dengan membawa namaku jadi, aku tidak ingin orang-orang berprasangka buruk padaku"

Baekhyun terkekeh dan kemudian tertawa prihatin."Orang-orang tidak mengenalku sebagai anakmu. Teman-temanku saja selalu mengejekku kalau aku tidak mempunyai ibu yang selalu datang saat mengambil hasil ujian anaknya..."Baekhyun mengusap pelan matanya. Dan kemudian memutar tubuhnya. Berhadapan dengan ibunya namun matanya menatap lantai marmer rumahnya."... Aku bisa mengobatinya sendiri, Jess..."

Baekhyun kembali bergerak untuk segera memasuki kamarnya. Namun langkahnya terhenti begitu saja."Selamat Natal, Ibu... Aku sangat mencintaimu..."lalu kemudian pintu kamar remaja itu tertutup rapat. Meninggalkan Jessica yang mengusap sudut matanya yang mulai mengeluarkan airmatanya.

.

.

...

From The Darkest Side

Remake from Santhy Agatha Novel's

Main Cast: Byun Baekhyun & Park Chanyeol

Genre: Romance, Thriller, Hurt

Word Count : 9.736 Words

Rating: M [For Blood, Sex Scene etc]

Copyright; Story Belong to Adorable Author, Santhy Agatha. Tapi DILARANG KERAS untuk mengopy hasil remake aku tanpa sepengetahuanku~

Warning! BOY X BOY, YAOI!

...

..

A/N : Big Thanks untuk semuaa readers yang udh mau repot2 follow+fav+review buat ff remake abal-abal ini:) Ada rated M-nya di chap ini dan aku harap kalo ga suka yaoi atau gay, homo dll harap klik close tab ya~ aku ketar-ketir/? Pas ngetik bagian chap ini.. takut ada kata yg ga sesuai atau gimana... sempet ga pede juga tapi ga mau php ke readers jadi, Jangan Lupa Review di chapter ini! Kalo aku da typo atau bahasa yg kurang enak silahkan dituang direview yaa! Jangan lupa jelasin typo-nya itu ada di scene yg mana'-' Maaf kalo ga sreg... maaf kalo feelnya kurang tapi ttp ga nerima BASH ya.. tapi kritik saran membangun sangat diperbolehkan

...

..

.

"Junsu sangat senang membaca buku, karena itu aku senang ketika siang itu kau memilih duduk di perpustakaan. Aku sangat senang, karena kau sangat mirip dengannya."

Mereka duduk sambil minum kopi dan kue yang disediakan di kebun belakang rumah. Chanyeol sudah menyelesaikan pekerjaannya dan mengajak Baekhyun duduk dan bercerita. Tentu saja Baekhyun tidak menolak, jantungnya berdegup kencang, menanti cerita tentang Junsu, ayah yang selama ini tidak pernah dikenalnya. Tetapi Chanyeol mengenalnya. Dan lelaki itulah satu-satunya penghubung Baekhyun dengan ayahnya.

Lelaki itu menyesap kopinya, lalu menatap Baekhyun dengan alis diangkat, "Aku lupa menanyakannya. Kata Jessica kau bekerja di sebuah Cafe di Distrik Gangnam... apakah mereka tahu kenapa kau tidak bisa masuk kerja?"

"Aku sudah menelepon mereka dan mengambil cuti besarku.. aku punya dua puluh hari cuti besar... tapi kalau lebih dari itu, tidak bisa... jadi beberapa hari lagi aku harus masuk kerja."

Mata Chanyeol berkilat mendengarkan keterangan Baekhyun, tetapi Baekhyun tidak melihatnya. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri, matanya menatap ke arah album foto keluarga itu dengan sangat tertarik.

Chanyeol begitu baik, dia menunjukkan album foto keluarga kepada Baekhyun, di sana ada foto Junsu dan dengan rinci Chanyeol menjelaskan masing-masing kisahnya,

"Ini foto Junsu waktu wisuda..." Chanyeol menunjukkan jarinya ke foto lelaki muda yang tampak begitu bahagia dan mengenakan toga yang terpasang rapi, senyumnya lebar, dan sangat mirip dengan Baekhyun. "Dia sangat gugup pagi itu... karena di hari yang sama dia diwawancara oleh perusahaan besar yang sudah memesannya jauh-jauh hari. Kau tahu, Junsu mahasiswa jenius, jadi banyak yang mengejarnya ketika lulus. Dia memilih penghasilan terbesar meskipun dia harus bekerja keras. Lebih dari separuh gajinya dia kirimkan kepada kakek dan nenekmu, untuk membantu biaya perawatanmu."

Baekhyun membelalakkan matanya, "Ayahku melakukan itu?"

Chanyeol menganggukkan kepalanya, "Keluarga angkatku tidak kaya dan ayah Junsu tidak tahu tentang dirimu, jadi Junsu harus bekerja keras demi bisa mengirimkan uang untukmu... Mereka dulunya sahabat ayahku, ayah Junsu sempat satu sekolahan dengan ayahku di London. Mereka terus menjalin persahabatan ketika ayah Junsu ditugaskan kesalah satu cabang perusahaan di Jepang, di dekat rumah ayahku. Ketika kedua orangtuaku meninggal, ayahku menunjuk ayah Junsu sebagai waliku sampai aku berusia dua puluh satu tahun dan bisa menerima warisan sah secara hukum. Dan kemudian ayah Junsu harus kembali ke negaranya, sehingga aku dibawanya. Dan disinilah aku sekarang. Aku cukup bahagia dengan keluarga angkatku, mereka menyayangiku dan tidak pernah menganggapku sebagai orang luar. Ketika usiaku dua puluh tahun, mereka semua meninggal karena kecelakaan dan itu merupakan pukulan yang sangat besar untukku. Karena masih kurang dari usia wajibku untuk menerima warisan, Aku mengajukan gugatan ke pengadilan dan dikabulkan, dan mereka akhirnya memberikanku warisanku. Yang ternyata sangat besar, ditambah dengan bunga dan pengembangan saham selama bertahun-tahun, membuatku luar biasa kaya. Aku akhirnya mengembangkan perusahaan dan di sinilah aku." Chanyeol tersenyum menyesal, "Aku menyesal keluarga angkatku pergi begitu cepat karena aku belum membalas budi kepada mereka.. dan aku menyesal karena kau tidak sempat bertemu Junsu.."

Baekhyun mendengarkan kisah Chanyeol dan termenung. Kisah lelaki ini hampir sama dengannya, mereka sama-sama kehilangan orangtuanya dan bertahan hidup dari kasih sayang orang lain yang mencintai mereka. Ada perasaan empati yang berkembang untuk Chanyeol di hati Baekhyun, membuat dadanya terasa hangat.

Chanyeol menyesap kopinya dan mengalihkan pandangannya kembali ke album foto, "Mari kita bahas lagi tentang Junsu, ini fotonya ketika dia merayakan ulang tahun ke dua puluh. Kau tahu apa doanya? Dia ingin waktu cepat berlalu dan kau segera berumur tujuh belas tahun..."

.

Baekhyun membawa album foto itu ke kamarnya. Ada kekosongan besar yang dirasakannya atas kematian Jessica. Kekosongan itu menciptakan palung yang dalam di hatinya. Karena ibunya telah tiada. Tetapi palung itu juga menyisakan goresan menyakitkan, karena sekrang dia baru sadar, sebenci-bencinya Jessica padanya, pasti ibunya itu juga mencintainya dan menyayanginya walau hanya sedikit.

Perasaannya terhadap ayahnya berbeda. Dia hanya mengenal Junsu, Ayahnya, dari cerita-cerita Chanyeol dan dari foto-foto keluarga yang sekarang dibukanya di atas ranjangnya. Tetapi hatinya terasa sedih, mengetahui bahwa ayahnya mencintainya, tetapi tidak pernah bisa menemuinya. Mengetahui bahwa kecelakaan itu telah merenggut ayahnya bahkan sebelum dia sempat mengetahui bahwa dia memiliki seorang ayah yang selalu menjaganya diam-diam. Rasanya seperti sesuatu direnggut dari jantung dan dihantamkan ke tanah.

Mata Baekhyun terasa panas, dan tanpa tertahankan air matanya menetes jatuh, mengenai wajah ayahnya yang sedang tersenyum di foto. Diusapnya air matanya dan tangisnya semakin terisak. Tangis yang terlambat, atas kematian ayahnya, atas kesempatan untuk bertemu yang tidak pernah tersampaikan, atas penyesalannya karena tidak pernah sempat mengatakan bahwa dia juga mencintai ayahnya dan selalu memikirkannya.

"Ayah..." Baekhyun mengusap foto itu sambil menangis, "Ayah..." Air matanya tak terbendung. Dan dia terisak-isak di kamar itu.

Di luar kamarnya, Chanyeol berdiri membeku. Meresapi kepedihan Baekhyun. Ada kepedihan yang sama di matanya. Sebuah penyesalan yang tak tertahankan.

"Maafkan aku Baekhyun." Chanyeol menggumam dalam hati dan mengusap wajahnya dengan frustasi.. Kalau saja dia bisa menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya, mungkin dia masih bisa mengharapkan Baekhyun mengerti. Tetapi kekejaman Chanlie lah yang menyebabkan Baekhyun tidak bisa bertemu dengan ayahnya, dan kehilangan seluruh keluarganya, dan Chanlie melakukannya dengan tangan dan seluruh raga Chanyeol.

.

"Bakar Cafe itu nanti malam." Chanlie memberikan instruksi dengan dingin di telepon, "Buat seperti kecelakaan."

Suara Sehun di sana menyahut dengan patuh, "Baik tuan. Saya akan laksanakan sebaik mungkin."

Chanlie meletakkan gagang teleponnya dan tersenyum. Dia memang tak segan-segan mengotori tangannya dengan darah kalau perlu. Tetapi untuk hal-hal semacam ini, dia punya Sehun untuk melaksanakannya, pegawainya yang setia dan bersedia melakukan apapun demi dirinya.

Begitu Cafe tempat Baekhyun bekerja terbakar habis. Baekhyun tidak punya alasan untuk masuk kerja karena cutinya sudah habis.

.

Berita di koran itu membuat mata Baekhyun terbelalak. Sebuah kawasan ruko terbakar habis dilalap api, tidak ada korban jiwa, tetapi kerugian uangnya luar biasa. Ruko itu menampung banyak usaha niaga, seperti salon, bank perkreditan rakyat, toko elektronik, dan cafe kecil tempat Baekhyun bekerja.

Baekhyun mencoba menelepon atasannya. Tetapi selalu terhubung dengan mailbox. Mungkin atasannya sedang sibuk ... siapa yang tidak sibuk kalau lahan bisnisnya terbakar habis seperti itu? Baekhyun membayangkan atasannya dengan sedih, atasannya lelaki setengah baya yang baik dengan keluarga besar dan anak-anak yang baik pula. Tidak terbayangkan betapa sedihnya mereka kehilangan bisnis keluarga seperti itu. Semoga semua sudah diasuransikan, Baekhyun membatin.

Dan sekarang dia harus memikirkan pekerjaan, karena sudah jelas dengan kejadian ini, dia tidak punya pekerjaan lagi.

.

"Kau bisa menjadi asistenku." Chanyeol mengusulkan ketika Baekhyun menceritakan kebakaran yang menimpa biro hukum tempatnya bekerja.

Baekhyun mengernyitkan alisnya, "Tidak Yeol... aku akan mencari pekerjaan lain, segera."

"Oh ayolah, kau bahkan belum bisa keluar dari rumah ini, Para wartawan masih berkerumun di sana, mengendus sana dan sini. Aku juga mengalami nasib sama, tidak bisa keluar, aku harus menjalankan perusahaanku dari rumah...akan sangat membantu kalau aku mempunyai asisten."

Baekhyun menatap Chanyeol ragu. Jalan keluar yang diberikan oleh Chanyeol memang membantu mereka berdua, tetapi Baekhyun merasa tidak enak, dia telah begitu banyak memanfaatkan kebaikan hati Chanyeol. Dan sekarang bahkan lelaki itu memberinya pekerjaan. "Terimalah. Dan jangan merasa tidak enak. Aku keluargamu bukan? Keluarga saling membantu." Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum.

Bagaimana Baekhyun bisa menolak kalau menerima penawaran seperti itu?

.

Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah hampir satu bulan Baekhyun tinggal di rumah itu. Hubungannya dengan Chanyeol berlangsung dengan baik karena mereka berinteraksi dengan intens hampir setiap hari.

Secara aktual. Hanya Chanyeol yang ditemui oleh Baekhyun setiap harinya, hanya Chanyeol teman bicara dan berbaginya, dan hanya Chanyeol satu-satunya orang yang bisa diajaknya berkomunikasi.

Menjadi asisten Chanyeol sangat rumit dan Baekhyun harus belajar banyak. Mengerjakan pekerjaan di perusahaan internasional tentu saja berbeda dengan mengerjakan pekerjaan sekedar mengantarkan makanan dari dapur ke meja pelanggan. Tetapi Chanyeol dengan sabar membantu dan membimbingnya sehingga dia lancar mengerjakan semua pekerjaannya.

Dan perasaan Baekhyun berkembang kepada Chanyeol. Oh ya, lelaki itu sangat tampan bagaikan pangeran-pangeran kerajaan. Dengan warna rambutnya yang unik, matanya yang dalam dan garis wajahnya yang keras. Penampilan fisik lelaki itu pastilah bisa menaklukkan wanita manapun, termasuk Baekhyun. Tetapi bukan itu yang utama, sikap Chanyeol yang lembut dan perhatian kepadanyalah yang membuatnya terpesona. Chanyeol selalu membantunya, menjadi teman bicaranya yang baik, lelaki itu mendengarkannya dan bersedia memberikan solusi yang baik. Baekhyun merasa nyaman bersama Chanyeol, dan mulai merindukan lelaki itu ketika mereka tidak bersama.

Apakah dia mulai mencintai Park Chanyeol?

Pipi Baekhyun memerah. Oh Astaga, dia tidak boleh menumbuhkan perasaan itu. Lagipula Chanyeol pasti tidak punya perasaan apapun kepadanya. Lelaki itu baik kepadanya karena dia adalah putra Junsu. Bahkan lelaki itu pernah mengatakan bahwa Baekhyun boleh menganggapnya sebagai pamannya, sebagai keluarganya. Baekhyun sangat bodoh jika mengharapkan lebih. Apalagi jika Chanyeol bukanlah gay sepertinya. Buktinya saja, Chanyeol masih tertarik pada ibunya, kan? Penghalang lainnya adalah usia mereka terpaut jauh, dua belas tahun. Baekhyun yakin Chanyeol akan mencari wanita berpengalaman seperti Jessica daripada melirik pria yang sudah jelas tidak bermartabat seperti dirinya.

Dengan tegas Baekhyun berusaha mematikan perasaan cinta yang mulai bertumbuh itu.

.

Chanlie merasa bosan. Sangat bosan. Dia menuruti permintaan Chanyeol, diam dan menunggu di sudut gelap dan mengamati. Seperti yang biasa dia lakukan. Dia bersedia menunggu bukan karena ingin menuruti permintaan Chanyeol, tetapi lebih karena dia melihat bahwa usaha Chanyeol dengan sikap halus dan lembutnya berhasil menahan Baekhyun di sini.

Tetapi lama kelamaan dia merasa gemas dan tak sabar. Chanyeol terlalu lambat. Dia bersikap seperti keluarga, memperlakukan Baekhyun dengan penuh kasih sayang. Dan tak segera bertindak.

Kalau dia bisa keluar, dia akan segera memiliki Baekhyun, menguasai tubuh mungil itu dan menjadikannya miliknya. Chanlie tidak sabar menanti semua itu terjadi.

Tetapi dia memang harus bersabar. Chanyeol sedang kuat dan lelaki itu bisa menahan kemunculannya. Chanlie hanya tinggal menunggu Chanyeol lengah, lalu dia akan muncul dan bertindak.

Dengan rasa haus yang amat sangat untuk menguasai Baekhyun, lelaki itu menjilat bibirnya.

Tunggu Baekhyun, kau akan sangat menikmati ketika aku memilikimu..

.

"Maafkan aku, aku baru sadar, apakah kau merasa bosan? Kau hampir tidak pernah keluar dari rumah ini. Aku menyesal." Chanyeol meletakkan serbet makannya dan menatap Baekhyun penuh permintaan maaf, "Wartawan-wartawan itu sudah tidak berkumpul di depan, tetapi mereka menyebarkan mata-mata untuk mengawasi diam-diam... Aku baru sadar kalau kita tidak pernah keluar dari rumah ini."

"Tidak apa-apa Chanyeol, aku cukup sibuk di rumah ini." Baekhyun tersenyum tipis, berusaha meredakan rasa bersalah yang ada di mata Chanyeol, "Aku bekerja, aku membaca koleksi bukumu yang luar biasa, aku menonton televisi dan aku mendengarkan musik."

Chanyeol terkekeh, "Sungguh Baekhyun, aku harus mengajakmu keluar dari rumah ini kapan-kapan." Lelaki itu mengangkat alisnya, "Omong-omong tentang musik, kita bisa berdansa." Lelaki itu berdiri lalu mendekati pemutar musik di rak samping meja makan. Setelah musik berputar, dia berdiri di dekat Baekhyun, mengulurkan tangan sambil setengah membungkuk elegan,

"Tuan Putri, maukah anda memberi kehormatan kepada saya untuk mengajak anda berdansa?"

Baekhyun terkekeh dan membalas uluran tangan Chanyeol, "Bodoh, aku ini seorang pria, jika kau tak lupa" Chanyeol terkekeh. "Hn. Aku selalu sadar namun, wajah manismu terkadang meragukanku..." Chanyeol mengusap pelan pipi pria yang lebih muda hingga Baekhyun memejamkan matanya. Menikmati sentuhan mantan calon ayah tirinya itu.

Chanyeol melangkah mundur, mengajak Baekhyun ke area kosong di ruang makan yang besar itu. Diletakkannya kedua tangan Baekhyun di pundaknya dan kemudian Chanyeol mengeratkan pegangannya pada pinggang Baekhyun yang begitu melekuk, dibimbingnya Baekhyun mengikuti langkah dansanya.

Baekhyun terkekeh lagi sambil dengan susah payah mengikuti gerakan kaki Chanyeol, "Aku akan menginjak kakimu, aku tidak pernah berdansa sebelumnya."

Chanyeol ikut terkekeh dan mereka tertawa bersama-sama. Lalu tiba-tiba saja mata mereka bertatapan dengan dalam, dan sesuatu terjadi begitu saja. Suasana penuh canda berubah menjadi sensual.

Dan ketika Chanyeol menundukkan kepala untuk mencium bibir Baekhyun. Baekhyun memejamkan mata.

[WARNING! 17+ CONTENS]

Bibir itu mulanya terasa dingin, menyentuh bibir Baekhyun yang lembut. Mengecupnya dengan lembut. Lalu sisi bibirnya mulai membuka bibir Baekhyun, dan memagut bibir bawah Baekhyun. Chanyeol menyesapnya dengan lembut, menikmati kemanisan yang ada di sana. Setelah yakin Baekhyun menerimanya, lelaki itu menggerakkan tangannya dan membimbing lengan Baekhyun supaya merangkul lehernya, lalu memeluk Baekhyun erat-erat dan melumat bibirnya.

Ciuman Chanyeol sangat luar biasa, semula dingin lalu panas membakar. Lelaki itu melumat bibir Baekhyun dengan kehausan, mencecap seluruh sudutnya dengan bibirnya. Ketika bibir Baekhyun membuka, lidahnya menelusup masuk, mulanya hati-hati kemudian masuk semakin dalam, bertemu dengan lidah Baekhyun dan berjalinan di sana, mulut mereka berpadu dan tubuh mereka menjadi semakin rapat.

Ketika Chanyeol melepaskan kepalanya, matanya yang dalam bertatapan dengan mata Baekhyun, penuh gairah,

"Aku ingin memilikimu, Baekhyun." Bisiknya dengan suara parau. Logat asing terdengar kental di suaranya, membuktikan kalau lelaki itu sedang terbawa gairahnya. Namun ketika Chanyeol bergerak ingin meraup bibirnya, Baekhyun menjauhkan wajahnya. "Aku pria, Yeol.. aku tidak ingin melakukannya ketika tidak ada cinta didalamnya.."

Chanyeol menarik Baekhyun kedalam pelukan hangatnya. Memberikan tanda bahwa pria berusia 36 tahun itu sangat menginginkannya. "Aku mencintaimu..." Chanyeol mengecup sensual leher pemuda mungil dihadapannya. Baekhyun mengepalkan tangannya didepaan dada Chanyeol. Berusaha memberi jarak. "Kau masih normal, Yeol... Kau menyukai ibuku.. kita tidak bisa.." Baekhyun memukul pelan dada Chanyeol untuk menjauhi tubuh raksasa itu. "ngh..." satu desah halus mulai keluar dari lidah pria yang lebih muda. Baekhyun dengan segera mengutuk bibirnya yang lancang itu.

"Aku mencintaimu.." Chanyeol melepas pelukannya. Menatap dalam Baekhyun yang sedang memandangnya dengan tatapan yang sangat menggemaskan lalu pria jangkung itu mengecup bibir Baekhyun singkat. Lalu merendahkan kepalanya menuju telinga Baekhyun dan berbisik. "Aku piir... cinta tak hanya diantara pria dengan wanita..." Baekhyun merasakan bulu kuduknya berdiri. Dan bagaimana mungkin Baekhyun menolak ajakan sensual itu? Mata Chanyeol begitu dalam, menghipnotisnya, dan Baekhyun seolah tenggelam di sana, kehilangan daya dalam jebakan sensual yang luar biasa panas.

Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun seolah Baekhyun sangat ringan, lalu membawanya menaiki tangga menuju kamarnya.

.

Kesan pertama Baekhyun atas kamar Chanyeol adalah kamar itu begitu gelap. Nuansanya hitam, cokelat, dan abu-abu. Sangat lelaki. Tubuhnya dibaringkan dengan lembut di atas seprai sutra berwarna hitam pekat. Dan lelaki itu lalu berbaring di sebelahnya, memeluknya.

"Aku tidak akan memaksamu kalau kau tidak mau." Chanyeol mengangkat dagu Baekhyun supaya menatap matanya yang dalam, "Kau bisa pergi kalau kau berubah pikiran. Tetapi kalau kau memutuskan iya. Maka kau tidak bisa mundur lagi."

Baekhyun menatap Chanyeol dan berpikir. Chanyeol begitu baik kepadanya selama ini. Hanya Chanyeol yang ada dalam hidupnya sebulan terakhir ini, dan Baekhyun hampir yakin kalau dia mencintai lelaki ini. Suasana malam ini begitu mistis, dan Baekhyun ternggelam ke dalam godaan sensual. Dia siap. Meskipun mungkin dia akan menyesal keesokan harinya, tetapi malam ini dia siap.

Chanyeol sepertinya membaca penerimaan dari mata Baekhyun, lelaki itu mengerang, lalu melumat bibir Baekhyun lagi dengan bergairah, lumatannya tidak ditahan-tahan lagi. Lelaki itu melahap seluruh bibir Baekhyun, menjilat dan memainkannya dengan lidahnya, mencecap rasanya.

"Ah ya Ampun, akhirnya aku memilikimu sayang." Chanyeol mengerang parau. Jemarinya bergerak dan dengan perlahan melepas kancing kemeja berwarna putih Baekhyun, setelah seluruh kancing terlepas, dengan perlahan Chanyeol terus menurunkannya sampai ke pinggang, merobek kaus dalam yang dipakai oleh pemuda yang lebih pendek darinya melemparnya entah kemana dan kembali menyesap dalam bibir tipis yang mulai menjadi candu baginya, "Ah... indahnya.. Baekhyun yang indah.. aku akan memujamu, aku akan membuatmu merasakan kenikmatan sayang..." jemari Chanyeol bergerak lembut dan menyentuh puting didada Baekhyun, lalu bibirnya menyusul dan menyesapnya lembut. Baekhyun mengerang, merasakan keintiman baru yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.

"Chanyeol... jangan... jangan disitu." Baekhyun mengerang merasakan rasa panas menyerangnya, di puting kecoklatannya yang sekarang menegak kaku dan bagian selatannya yang mulai mengeras, rasa panas itu membakarnya, membuatnya hampir kehilangan kesadaran.

Chanyeol mengangkat kepalanya dan tersenyum menggoda, "Jangan di sini katamu?" senyumnya polos dan sensual. Lelaki itu menjilat puting Baekhyun sambil lalu kemudian meniupnya lembut, "Apa Baekhyunie? Katakan lagi... kau bilang jangan di situ?" Chanyeol mulai menurunkan kecupannya, terus turun kebawah hingga sampai pada bagian selatan Baekhyun. Masih terbungkus rapih dibalik celana bahannya namun kejantanan pria mungil itu sudah sangat mendesak Chanyeol untuk membuka kain yang sangat mengganggu itu.. " –Argh!" Jemari Chanyeol bergerak dan menuju pusat gairah Baekhyun, tempat di mana rasa panas itu terus muncul ketika putingnya dihisap dengan penuh gairah oleh Chanyeol. Jemari itu menelusup menyingkap celananya dan menyusup ke balik celana dalamnya, dan mulai menyentuh kejantanannya yang sudah menegang sedari tadi. Dengan ahlinya Chanyeol menggerakkan jarinya, menelusuri hati-hati dan mengocoknya dengan perlahan.

Baekhyun mengerang saat merasakan daging tak bertulang yang sebelumnya menyesap habis putingnya kini telah mengecupi kejantanannya yang masih tertutupi celana dengan begitu dalam. Menjilatnya dengan penuh hasrat memuaskan dan Baekhyun merasakan bulu kuduknya meremang ketika Chanyeol mulai menarik celananya dan kembali melemparnya seperti pakaiannya. "Oh.. ya Chanyeol.. yaa... di situ Chanyeol." Baekhyun mengerang putus asa, penisnya mengencang dan mendamba. Mendambakan bibir Chanyeol yang panas dan lidahnya yang menggoda.

Dan Chanyeol mengabulkan permintaannya, tidak mau membuat Baekhyun tersiksa lama-lama, setelah Chanyeol membuka celananya, Chanyeol menunduk. Lelaki itu menundukkan kepalanya lagi, lalu mengisap kejantanan Baekhyun dengan penuh gairah, kepalanya naik-turun secara berirama, membuat tubuh Baekhyun menggeliat dan melengkungkan punggungnya hingga ranjang ikut mendecit mengiringi desahan Baekhyun yang tak kunjung usai.

Jemari Chanyeol mengusapnya pelan dan tubuh Baekhyun seakan disetrum oleh listrik, dia mengigit bibirnya dan mengerang. Mata Chanyeol mengamati setiap reaksi Baekhyun dengan penuh gairah. Jemarinya menggoda lagi, kali ini jemari nakal itu mulai merembet kebagian bokong sintal pria yang sedang berada dibawah kungkungannya itu. menggesek jemarinya disekitar lubang Baekhyun dan kemudian melakukan usapan memutar. Erangan Baekhyun makin kencang, membuat mata Chanyeol berkabut penuh gairah.

"Baekhyunie yang tidak pernah disentuh sebelumnya…." Lelaki itu menunduk ke telinga Baekhyun dan berbisik parau, "Biarkan aku memuaskanmu." Dicumbunya telinga Baekhyun membuat pemuda itu menggeliat penuh gairah. Chanyeol tak tahan lagi, kepalanya pening oleh gairah. Tapi dia tahu bahwa dia harus berhati-hati. Ini adalah pengalaman pertama Baekhyun dan Chanyeol harus menjaga supaya Baekhyun terus larut dalam godaan gairahnya. Chanyeol akan terus menggoda Baekhyun sampai tiba saatnya tubuh candu itu tidak akan mampu menolaknya dan otaknya tidak mau bekerjasama lagi.

Dengan penuh gairah dan keahlian, Chanyeol mencumbu Baekhyun, bibirnya ada di mana-mana, meninggalkan jejak panas dan basah di seluruh tubuh Baekhyun, di lehernya, pundaknya, dadanya, perutnya, pinggulnya, dan... Baekhyun menjerit ketika bibir yang panas itu menyentuh lubang anusnya.

Lelaki itu mencumbu lubang miliknya tanpa ampun, memujanya. Menggunakan bibir dan lidahnya untuk menggoda Baekhyun. Lidah Chanyeol mengusap titik paling sensitif di lubang Baekhyun dan kemudian lelaki itu menghisapnya, membuat Baekhyun memekik atas sensasi yang dirasakannya.

Ketika Chanyeol memutuskan bahwa Baekhyun sudah sangat basah dan siap untuknya, lelaki itu melepaskan pakaiannya hingga telanjang di depan Baekhyun. Baekhyun menatap Chanyeol dengan malu, pipinya merona, menyebar dengan cepat ke tubuhnya, Chanyeol tampak sangat... jantan... oh Astaga... Baekhyun sedikit iri saat melihat tubuh itu berkembang dengan baik sedangkan tubuhnya yang ama sekali tak dapat berbentuk walaupun ia sudah workout di gym sekalipun. Baekhyun mengerucutkan bibirnya. Chanyeol menyernyir bingung. "Kenapa, Sayang?" dan semakin bingung saat lelakinya hanya menggeleng pelan lalu menarik leher pemuda yang lebih tinggi dan mengusak wajahnya diceruk leher Chanyeol. "aku cukup iri dengan bentuk tubuhmu..."dan kemudian Chanyeol tertawa pelan. Tidak ingin suasana sensual mereka menghilang begitu saja.

"Hn. Bentuk tubuhku memang ditakdirkan untuk menyatu dengan bentuk tubuhmu..." dan kemudian Baekhyun memejamkan matanya saat Chanyeol melepas celananya. Baekhyun tidak pernah melihat kejantanan lelaki sebelumnya dan dia.. perasaan di dalam dirinya tidak bisa dijelaskan... tiba-tiba Baekhyun merasa takut.

Chanyeol rupanya melihat rasa takut di mata Baekhyun. Lelaki itu menunduk dan mengecup bibir Baekhyun dengan lembut, kemudian bergantian mengecup mata, dahi, dan pucuk hidung Baekhyun dengan tak kalah lembutnya,

"Jangan takut sayang... aku... aku tahu ini pengalaman pertamamu dan aku mungkin akan menyakitimu.. tapi kau harus percaya kalau aku tidak akan menyakitimu..."

Baekhyun percaya. Kelembutan di mata Chanyeol membuatnya percaya, karena itu, ketika lelaki itu menempatkan diri di antara kedua pahanya, Baekhyun membuka dirinya untuk Chanyeol, lelaki itu setengah menindihnya. Baekhyun bisa merasakan kejantanannya yang besar dan keras menggesek lubang bagian bawahnya, membuatnya menggeliat oleh sensasi asing yang aneh.

Chanyeol menatap Baekhyun lembut, tapi ada api di sana, api yang penuh gairah, nafasnya sedikit terengah, sementara pinggulnya bergerak lembut, memperkenalkan bagian dirinya yang keras dan bergairah kepada Baekhyun.

"Rasanya akan sakit.." Chanyeol berbisik parau, "Kau boleh mencakarku atau mengigitku untuk melampiaskan sakitmu, tetapi kau harus tahu, betapapun sakitnya itu, aku tidak akan berhenti... bukan karena aku ingin menyakitimu, tetapi karena aku harus melakukannya... kau mengerti Baekhyun-ah?"

Baekhyun menganggukkan kepalanya, menatap sayu Chanyeol karena menahan ereksi penisnya yang selalu bergesekan dengan penis Chanyeol. Lelaki itu lalu mendesakkan pinggulnya pelan-pelan, berusaha membuka pintu untuk memasuki lubang anal Baekhyun yang terasa begitu sesak. Tetapi Baekhyun terasa sangat sempit sehingga Chanyeol harus mendesakkan dirinya berkali-kali dengan kewalahan. Sampai kemudian dengan menggertakkan giginya, Chanyeol menekankan dirinya dengan kuat, membuat Baekhyun merasakan rasa nyeri yang amat sangat di lubang analnya.

Baekhyun menjerit, mencakar lengan Chanyeol meminta lelaki itu berhenti. Tetapi Chanyeol tidak bisa berhenti. Akhirnya dengan satu tekanan kuat, diiringi erangan kesakitan Baekhyun.

Mereka berbaring bersama dalam diam. Chanyeol sudah membenamkan dirinya dalam-dalam di diri Baekhyun, menyatu sepenuhnya, tetapi lelaki itu tidak bergerak, memberi kesempatan Baekhyun untuk menyesuaikan diri dengan tubuhnya. Dikecupnya air mata yang keluar dari sudut mata Baekhyun,

"Maafkan aku... aku tidak bermaksud menyakitimu." Chanyeol berbisik pelan sambil mengecup bibir Baekhyun lembut.

Baekhyun membuka matanya dan menatap Chanyeol, menemukan kelembutan dan penyesalan di sana. Air matanya turun dan Chanyeol mengecupnya lagi.

"Aku akan bergerak lagi." Suara Chanyeol serak, "Mungkin pada awalnya akan tidak nyaman.." lelaki itu menggerakkan pinggulnya, membuat Baekhyun mengernyit.

"Apakah rasanya begitu sakit, sayangku?" Chanyeol memandang Baekhyun cemas. Tetapi Baekhyun sudah tidak begitu merasakan sakit lagi, tubuhnya menerima tubuh Chanyeol di dalamnya, membungkusnya dalam kehangatan yang rapat dan panas, dia menggelengkan kepalanya. Chanyeol tersenyum menerima jawaban Baekhyun, dia menggerakkan tubuhnya. Semula pelan, lalu dengan ritme yang makin cepat, sesuai dengan gairah mereka yang makin cepat dan napas mereka yang makin tersengal,

"Oh ya ampun, kau sempit sekali Baekhyun... kau membungkusku dengan begitu rapat..."

Chanyeol berbisik parau penuh gairah, ketika mereka sudah hampir mencapai puncak. Pinggul Baekhyun bergerak berlawanan dengan pinggul si dominan. Mengikuti Chanyeol membiarkan lelaki itu membawanya ke puncak yang belum pernah dia datangi sebelumnya. Sensasi gerakan tubuh Chanyeol pada penyatuan tubuh mereka luar biasa nikmatnya. Baekhyun akhirnya memejamkan mata ketika dia mencapai puncak itu, meledakkan dirinya dalam kenikmatan yang tak bisa dia ungkapkan, membuatnya melayang dan meleleh sekaligus. Dan samar dia mendengar Chanyeol mengerang, lelaki itu meledak di dalam tubuhnya dan memeluknya erat-erat. Sedangkan cairan miliknya dengan kurang ajarnya, keluar dan mengotori perut sixpack milik Chanyeol. Melihatnya membuat Baekhyun merona lucu

Setelahnya mereka berbaring berpelukan, dipengaruhi oleh sensasi euforia dan orgasme yang luar biasa dasyat. Chanyeol memeluk Baekhyun erat-erat, jemarinya menelusuri punggung Baekhyun yang telanjang, merapatkan tubuh pemuda mungil itu ke dalam rengkuhan dada bidangnya.

Baekhyun menenggelamkan kepalanya ke dalam rengkuhan dada Chanyeol, menikmati debaran jantung mereka yang makin lama makin tenang. Orgasme membuatnya mengantuk, sebelum jatuh ke dalam tidurnya, dia mendongakkan kepalanya dan menatap Chanyeol penuh cinta, "Aku mencintaimu, Chanyeol."

Tatapan Chanyeol kepadanya tampak lembut dan penuh haru, "Aku juga Baekhyun-ah, aku mencintaimu."

Dan mereka tertidur bersama, dalam pelukan penuh cinta,

.

Baekhyun terbangun ketika merasakan pundaknya dikecupi dengan penuh gairah. Kejantanannya diremas dengan penuh hasrat. Suasana kamar itu gelap karena lampu-lampu sudah dimatikan, hanya cahaya bulan yang menembus jendela kaca yang belum ditutup memancarkan cahaya temaram memasuki kamar.

Pria yang mencumbunya ini sangat bergairah. Jemarinya menggoda Baekhyun, dari dada turun ke penisnya dan memainkan jemari itu di sana dengan sangat ahli, dengan sangat bergelora. Bibirnya yang panas mencumbui sisi telinga dan leher Baekhyun. Membuat Baekhyun makin terjaga, dan kemudian tersadar bahwa dia sedang bersama Chanyeol yang dicintainya.

"Chanyeol?" Baekhyun mengelus punggung Chanyeol yang sudah mulai menindihnya. Lelaki itu menempatkan dirinya di antara paha Baekhyun dan menyentuhkan kejantanannya yang sudah sangat keras ke sela paha Baekhyun.

Chanyeol tampak terlindungi bayangan gelap dalam temaramnya kamar. Dalam pengelihatannya yang masih mengantuk, Baekhyun melihat Chanyeol tersenyum samar. Tatapan lelaki itu tampak tajam, membuat Baekhyun ketakutan sekejap, tetapi ditepiskannya ketakutannya itu. Mungkin kegelapan yang meliputi Chanyeol membuat lelaki itu tampak menakutkan, tetapi Baekhyun yakin Chanyeol tidak akan menyakitinya. Chanyeol mencintainya juga, dan lelaki itu akan menjaganya. Di pejamkannya matanya, dan ia melingkarkan kedua kakinya dipinggang Chanyeol lalu memandang Chanyeol sayu sehingga terlihat begitu mengundang nafsu.

Chanyeol tersenyum dengan penuh gairah sambil menatap Baekhyun yang memejamkan matanya. Bayangan gelap melingkupi tubuhnya.

"Kau akan menikmatinya sayang... dan kita baru saja mulai." Bisiknya parau, lalu menenggelamkan dirinya dalam-dalam di tubuh Baekhyun. Pemuda yang sangat diinginkannya.

Baekhyun sedikit mengernyit ketika menatap Chanyeol yang tiba-tiba berbeda. Lelaki itu tampak begitu bergairah, tatapan matanya seolah akan melahapnya hidup-hidup dan meskipun kegelapan meliputi sosok lelaki itu, Baekhyun bisa merasakan nafsunya yang meluap-luap.

Dengan penuh nafsu, Chanyeol memposisikan dirinya di tengah paha Baekhyun, kemudian meluncur masuk tanpa permisi, menyatukan dirinya. Baekhyun mencengkeram pundak Chanyeol, sejenak menahan perasaan tidak nyaman, karena meskipun ini adalah yang kedua kalinya Chanyeol memasukinya, namun tetap saja terasa sakit. Tetapi lelaki itu tidak mau menunggu, dia menggerakkan tubuhnya dengan penuh gairah, seakan begitu kehausan dan akan mati kalau tidak dipuaskan.

Gerakan Chanyeol sedikit kasar, lelaki itu mengecupi seluruh wajah Baekhyun, lalu bibirnya melumat bibir Baekhyun dengan penuh gairah, melahapnya tanpa batas. Bibirnya melumat bergantian bibir atas Baekhyun dan bibir bawah Baekhyun, menyesapnya, menghisapnya, mengulumnya dan menikmatinya sesukanya. Lalu lidahnya menelusup masuk begitu dalam dan inten. Ciuman itu menyatukan bibir dan lidah mereka, lalu bergerak menggoda, seiring dengan gerakan pinggul lelaki itu yang semakin cepat di bawah sana.

Percintaan itu keras dan cepat. Chanyeol tidak lembut lagi, tetapi setidaknya dia membawa Baekhyun ke puncak kenikmatan dengan cepat dan meledak, hingga Baekhyun hampir tak sadarkan diri ketika akhirnya Chanyeol mencapai puncak kepuasan, sekali lagi meledakkan dirinya dalam-dalam jauh di dalam tubuhnya.

Napas mereka terengah-engah dengan tubuh yang berkeringat. Baekhyun membuka matanya dan bertatapan langsung dengan mata tajam itu. Chanyeol menatapnya seakan menembus hatinya. Lelaki itu tampak berbeda... tiba-tiba perasaan takut itu datang lagi, membuat Baekhyun begidik dan merasakan dorongan untuk menjauh. Tetapi Chanyeol tiba-tiba saja meraih pinggangnya dan membalikkannya supaya membelakanginya. Lelaki itu menempelkan kejantanannya yang mengeras di bagian belakang pinggul Baekhyun. Jemarinya menelusur penuh gairah, menyentuh paha Baekhyun dan mengangkatnya ke atas...

"Chanyeol...?" Suara pemuda mungil itu sedikit teredam bantal yang mulai dibasahi oleh keringatnya itu. "Aku belum puas sayang, malam ini belum selesai untuk kita..."

Lelaki itu menyelipkan dirinya dari belakang dan menyatukannya lagi dengan lubang anus Baekhyun. Dia menggerakkan tubuhnya lagi penuh gairah. Membawa Baekhyun kembali naik ke dalam pusaran yang makin lama makin membawa kesadarannya.

Chanyeol benar, malam itu seakan tidak ada ujungnya, gairah Chanyeol seakan tidak ada habisnya untuk Baekhyun.

Yang tidak Baekhyun sadari... sepanjang sisa malam itu, dia bercinta dengan Chanlie.

.

Baekhyun menggeliat ketika terbangun dari tidurnya. Dan langsung merasakan rasa tidak enak yang amat sangat. Bokongnya terasa tidak nyaman dan seluruh tubuhnya terasa pegal. Dia membuka matanya dan mengernyit. Kemudian baru menyadari bahwa Chanyeol masih ada di sebelahnya. Lelaki itu masih telanjang dengan selimut putih membungkus pinggangnya, dia berbaring miring dengan bertumpu siku dan telapak tangannya menopang kepalanya. Lelaki itu tampaknya sudah mengamati Baekhyun dari tadi, matanya tampak sedih.

Baekhyun berbaring diam, tiba-tiba merasa malu. Semalam mereka begitu intim dan diliputi gairah. Dan sekarang ketika mereka terbangun dengan logika. Baekhyun sangat malu dengan ketelanjangan mereka yang diterangi sinar matahari yang menyusup remang-remang dari jendela. Tetapi sepertinya Chanyeol tidak merasakan itu. Jemarinya menelusuri leher Baekhyun, lalu menurunkan selimutnya ke dadanya, jemarinya menelusur di sana, mengusap dengan lembut ke dada dan turun ke perutnya, selimutnya makin diturunkan ke bawah, ke pahanya... dan Baekhyun melihat, semakin jauh selimutnya turun, mata Chanyeol tampak semakin sedih.

"Maafkan aku." Akhirnya lelaki itu bersuara, pekat, penuh kepedihan. Membuat Baekhyun mengernyitkan dahinya. "Untuk apa?"

Chanyeol menghela napasnya dengan berat, dia lalu mengecup bibir Baekhyun lembut, dan mengelus pipinya, "Untuk semua kekasaranku... ini... bekas-bekas ini... Oh Astaga, aku minta maaf Baekhyun.."

Baekhyun menatap Chanyeol bingung, lalu dia menundukkan kepalanya dan menatap tubuhnya yang tadi di elus oleh Chanyeol. Matanya membelalak, ada bekas-bekas merah ciuman di tubuhnya, dan juga beberapa memar di lengan dan pahanya, mungkin akibat cengkeraman yang terlalu keras. Tetapi Baekhyun semalam tidak merasakannya, dia terlalu larut dalam gairah, hingga tidak menyadari kalau sentuhan dan ciuman Chanyeol terlalu keras sehingga menimbulkan bekas. Mungkin hal inilah yang menyebabkan tubuhnya terasa pegal dan tidak nyaman ketika bangun pagi tadi.

"Aku kasar dan melukaimu...kau memar-memar seperti ini." Chanyeol menarik Baekhyun ke dalam pelukannya, memeluknya dengan erat, "Maafkan aku Baekhyun."

Baekhyun membalas pelukan Chanyeol, "Tidak apa-apa Chanyeol, toh aku tidak menyadarinya semalam."

"Maafkan aku menyebabkanmu harus mengalami ini." Lelaki itu tampaknya tidak mendengar kata-kata Baekhyun. "Maafkan aku."

Baekhyun tertegun. Chanyeol tampak merasa sangat bersalah karena melukainya. Semalam memang lelaki itu tampak aneh. Dipenuhi dengan gairah yang sepertinya tidak bisa ditahankan lagi, mungkin gairah itu pula yang menyebabkan Chanyeol terlalu kasar, lelaki itu tidak sengaja... Tetapi sekarang Chanyeol tampak begitu membenci perbuatannya, tampak begitu jijik kepada dirinya sendiri. Membuat Baekhyun langsung memeluknya dengan lembut,

"Aku tidak apa-apa Chanyeol."

Dan Chanyeol terdiam. Tidak mengatakan apa-apa lagi.

.

"Kau brengsek." Chanyeol menatap bayangan Chanlie di cermin. "Kau memperlakukannya seperti pelacur."

Chanlie mengangkat alisnya, "Aku memang seperti itu kalau bercinta. Lagipula... kau tidak bisa menyalahkanku, aku sudah lama tidak bercinta. Apalagi aku sudah menunggu lama untuk memiliki Baekhyun, bukan salahku kalau aku terlalu bergairah dan sedikit melukainya."

"Sedikit katamu?" Chanyeol menggeram, mengernyit pahit ketika mengingat pemandangan tubuh Baekhyun tadi pagi. Hatinya langsung hancur, menyadari bahwa Baekhyun dilukai, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. "Seluruh tubuh Baekhyun memar dan merah penuh bekas ciuman dan cengkeramanmu, aku yakin lubangnya juga terasa sakit meski dia menutupinya darimu. Kau seperti binatang Chanlie! Ini adalah pengalaman pertamanya, Demi Tuhan!"

"Ah ya..." Chanlie tertawa, "Dan kau harusnya berterimakasih kepadaku, karena aku memberikan kesempatan untuk mengambil keperjakaan Baekhyun kepadamu. Aku hanya mendapatkan sisanya. Chanyeol. Jadi aku mengambil semuanya."

"Brengsek!" Chanyeol menggeram marah, tinjunya melayang ke arah kaca, menghancurkannya. Membuat bayangan Chanlie terpecah menjadi kepingan kecil-kecil. Tetapi Chanlie tidak terpengaruh. Lelaki itu tertawa terbahak-bahak, menertawakan luapan emosi Chanyeol,

"Hati-hati Chanyeol." Chanlie bergumam di sela tawanya, "Kau tahu kalau kau marah, aku akan menguasai tubuh ini."

.

"Tuan, melukai tangan Tuan begitu dalam." Leeteuk mencabut hati-hati serpihan kaca di buku jari Chanyeol, setelah yakin tidak ada kaca lagi, dia membasuh luka Chanyeol dengan alkohol dan antiseptic lalu membalut luka itu. "Anda tahu, anda harus menahan kemarahan anda."

"Aku tahu. Kalau aku marah atau tidak bisa mengendalikan emosi, aku akan lengah dan Chanlie menjadi kuat." Chanyeol mencoba menggerakkan tangannya yang diperban, lalu mengernyit ketika merasakan sakit, "Kemarin malam aku lengah... dan Chanlie melukai Baekhyun."

"Anda tidak bisa menyalahkan diri anda. Kehadiran Baekhyun membuat tuan Chanlie semakin kuat."

"Ya aku tahu. Seharusnya aku menjauhkan Baekhyun dari diriku... tapi aku.. aku mencintainya Leeteuk." Suara Chanyeol menjadi tersiksa. "Aku tahu kalau dia berada dekat denganku, dia akan ada dalam bahaya... tetapi aku begitu egois tidak bisa jauh darinya. Apa yang harus kulakukan Leeteuk?"

Leeteuk mengamati tuannya dengan sedih. Dia juga tidak tahu. Tuannya ini telah menanggung penderitaan sejak lama karena kehadiran Chanlie yang begitu kejam di dalam dirinya. Tetapi mereka adalah satu kesatuan. Satu tubuh, dua kepribadian yang bertolak belakang. Tuan Chanyeol sangat baik, sayangnya alter egonya... sangat jahat.

Chanyeol menghela napas panjang, menatap Leeteuk dengan hati-hati lalu berucap misterius kepada Leeteuk. "Lakukan apa yang harus kaulakukan pada saatnya nanti Leeteuk..."

.

Daehyun mengamati rumah Baekhyun dari dalam mobilnya. Dia sudah tahu bahwa rumah itu kosong dan dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Tetapi dia ingin datang hari ini dan mencoba menemukan petunjuk.

Kenapa Baekhyun menghilang setelah kematian ibunya di rumah milyuner itu? Apakah Baekhyun tahu identitasnya sudah terbongkar sehingga dia bersembunyi dari wartawan? Tetapi bersembunyi di mana? Daehyun sudah mencoba mencari di semua orang yang mungkin berhubungan dengan Baekhyun, tetapi hasilnya nihil. Tidak ada yang tahu di mana pemuda itu berada.

Ketika seorang lelaki tua penjual roti gandum keliling lewat, dan berhenti untuk beristirahat sambil berteduh di perempatan dekat rumah Baekhyun, Daehyun langsung turun dari mobilnya dan menghampiri.

"Saya ingin bertamu ke teman saya di rumah ini. Tetapi rumahnya kosong." Daehyun menunjuk ke arah rumah Baekhyun.

Pedagang roti itu menengok ke rumah Baekhyun dan tersenyum, "Maksud anda Tuan Baekhyun?"

"Ya. Apakah anda mengenalnya?"

"Saya sudah berdagang di kompleks ini lebih dari tujuh tahun. Saya mengenal Tuan Baekhyun bahkan saat kakek neneknya masih hidup. Dia pemuda manis yang sangat baik, ramah pada Semua Orang."Pedagang itu tersenyum mengenang Baekhyun. Daehyun meengangguk sedikit mensyukuri bahwa sifat Baekhyun tidak menuruni sifat ibunya yang begitu jelek. "Anda tahu dia kemana? Tidak ada kabar darinya, dan rumahnya kosong."

"Mungkin dia sedang bersama ibunya?"

Daehyun langsung mengejar, berharap kalau pedagang sayur itu tahu sesuatu, "Kenapa anda bilang begitu?"

Pedagang itu rupanya tidak mengikuti perkembangan berita artis dan hiburan, dan dia sepertinya tidak tahu kalau Jessica, artis yang sangat terkenal itu adalah ibu Baekhyun. Pria itu mengerutkan kening mencoba mengingat-ingat, "Terakhir saya bertemu Tuan Baekhyun dia berbelanja sedikit. Anda tahu dia selalu berbelanja roti gandum dagangan sayaa, saya menanyakannya, dan kata Tuan Baekhyun dia akan pergi beberapa lama bersama ibunya untuk berkenalan dengan calon ayahnya."

Itu informasi yang sangat membantu. Daehyun merenung setelah pedagang sayur itu pergi dan dia kembali ke mobilnya. Tidak ada yang pernah menebak hal itu. Bahwa Baekhyun pergi bersama ibunya untuk menginap di rumah milyuner bernama Park Chanyeol itu. Kalau hal itu benar-benar terjadi... berarti Baekhyun ada di dalam rumah itu ketika kematian ibunya terjadi? Tetapi kenapa tidak ada yang tahu kehadirannya? Bahkan di pemakaman dia tidak muncul. Para wartawan yang sempat berkemah di depan rumah Chanyeol pun tidak bisa menyadari kehadirannya. Sepertinya ada misteri yang tersembunyi di sini. Apakah Chanyeol menyembunyikan Baekhyun di balik rumah besarnya yang berpagar tinggi?

Daehyun menjalankan mobilnya, dan mengarahkannya ke rumah Chanyeol dengan penuh tekad. Dia harus bisa mencari tahu apa yang ada di balik pagar yang tinggi itu.

.

"Astaga... kau terluka." Baekhyun menyentuh jemari Chanyeol yang dibalut perban, "Kenapa?"

Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Luka ini tidak apa-apa, aku mengalami kecelakaan kecil tadi." Tatapannya berubah lembut ketika menelusuri seluruh tubuh Baekhyun, "Kau sendiri, bagaimana keadaanmu? Kau tidak apa-apa?"

Bercinta dengan Chanyeol sangat menguras energi. Pipi Baekhyun memerah ketika mengingat itu, dan memang memar-memar dan bekas ciuman di sekujur tubuhnya membuatnya bingung, tetapi Chanyeol sudah meminta maaf bukan pagi itu?

"Aku baik-baik saja Chanyeol."

Tatapan Chanyeol kembali sedih, lelaki itu menyentuhkan jemarinya di pipi Baekhyun, mengelusnya lembut, "Aku jadi takut bercinta denganmu lagi, aku takut menyakitimu."

"Apakah kau selalu sekasar itu kalau bercinta?" Baekhyun mengernyit. Chanyeol berkata seolah-olah bercinta dengan kasar itu ada di luar kendalinya.

Pertanyaan Baekhyun membuat Chanyeol tertegun. Lelaki itu menggelengkan kepalanya, "Tidak... bukan begitu.. aku hanya terlalu bergairah, jadi mungkin aku tidak bisa menahan diri." Dikecupnya bibir Baekhyun lembut. "Kau harus tahu Baekhyun, hal terakhir yang ada di pikiranku adalah menyakitimu."

Baekhyun mendongakkan kepalanya dan tersenyum kepada Chanyeol, "Aku percaya, yeol.."

.

Ketika Daehyun sedang mengamati rumah Chanyeol di sudut yang tak terlihat, jendela kacanya diketuk. Dia menoleh dan mengernyitkan keningnya melihat sosok lelaki tua berpakaian rapi berdiri di sana. Diturunkannya kaca jendelanya.

"Ya? Ada apa?"

Lelaki tua itu tampak serius, dia melirik ke arah rumah mewah milik Chanyeol Leonidas dan menundukkan tubuhnya supaya jelas melihat Daehyun, "Anda Daehyun wartawan investigasi yang saya tahu punya reputasi bagus. Maaf, saya menyelidiki anda sebelumnya." Leeteuk menghela napas panjang, "Saya adalah kepala pelayan di rumah Tuan Chanyeol... saya punya informasi untuk anda. Tetapi sebagai gantinya saya ingin meminta tolong anda melakukan sesuatu."

"Melakukan apa?", Daehyun langsung tertarik ketika mengetahui ada orang dalam yang ingin memberikan informasi.

Leeteuk melirik ke kanan dan kiri, tampak tak nyaman berdiri di luar mobil Daehyun, "Boleh saya masuk? Tidak aman bagi saya untuk berdiri di sini dan bercakap-cakap dengan anda."

Sejenak Daehyun ragu. Dia menatap Leeteuk lagi, tetapi kemudian menyimpulkan bahwa lelaki itu adalah lelaki baik-baik. Dia membuka kunci pintu mobilnya. Bunyi 'klik' terdengar dan Leeteuk melangkah masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah Daehyun. "Sekarang bagaimana?", tanya Daehyun kemudian.

"Mohon jalankan mobil anda menjauh dari rumah ini. Saya akan menjelaskan semuanya kepada anda di perjalanan."

.

Leeteuk tidak menjelaskan semuanya kepada Daehyun, informasi yang diberikannya kepada Daehyun hanyalah kebohongan yang bisa memberikan alasan kepada Daehyun untuk membantunya. Tuan Chanyeol telah menyuruhnya mencari orang yang dipercaya untuk membawa Baekhyun kabur kalau tiba waktunya Chanlie menguasai tubuhnya. Dia harus menyelamatkan Baekhyun dari Chanlie. Tetapi Chanyeol melarangnya memberitahukan semua rencananya kepadanya. Leeteuk harus merencanakan semuanya sendiri, dan menjaga jangan sampai Tuan Chanyeol tahu, karena kalau Chanyeol tahu, Chanlie kemungkinan besar juga tahu.

Rencana ini mengancam nyawanya, Leeteuk tahu itu. Tetapi dia tidak peduli. Anak, menantu, dan cucunya sudah dimintanya pindah jauh ke tempat yang semoga tidak terdeteksi oleh Chanlie. Leeteuk telah memutuskan hubungan dengan mereka. Dia telah mengucapkan selamat tinggal dalam perpisahan yang haru. Toh usianya tidak akan lama lagi, dia sudah tua dan siap mati demi kesetiaannya kepada Tuan Chanyeol.

Sekarang tinggal meyakinkan Daehyun untuk membantunya. "Tuan Muda Baekhyun terjebak di rumah Tuan Chanyeol, dia menahannya. Karena Tuan Chanyeol ingin menjadikan Tuan Baekhyun sebagai pengganti Ibunya." Leeteuk menyelesaikan kebohongannya, "Saya meminta bantuan anda untuk membantu Tuan Baekhyun melarikan diri, Karena saya tidak bisa melakukannya, saya sudah terlalu tua dan Tuan Chanyeol pasti akan bisa melacak saya. Bawa Tuan Baekhyun menjauh dari rumah ini. Dari kota ini kalau perlu. Saya tahu anda mempunyai banyak koneksi yang bisa membantu anda, dan anda bisa pergi kemana saja tanpa ketahuan, karena itulah saya meminta bantuan anda untuk membantu Tuan Baekhyun kabur ke luar negeri kalau perlu."

Ini akan menjadi berita yang luar biasa bagus. Daehyun menghela napas panjang. Merasa senang, "Kalau aku melakukan itu. Apa yang akan kudapatkan?"

"Anda tidak boleh memuat berita tentang pelarian Baekhyun atau obsesi Tuan Chanyeol untuk membuatnya menjadi pengganti ibunya." Leeteuk tampak serius, "Kalau anda melakukannya, saya akan menyangkal semua pemberitaan anda, dan Tuan Chanyeol bisa membuat anda kehilangan kredibilitas dengan menuntut anda atas pencemaran nama baik."

"Lalu aku dapat untung apa?" Daehyun mengernyit mendesah kesal, mulai merasa bingung atas kesepakatan ini.

"Anda akan mendapatkan berita ekslusif mengenai siapa ayah kandung Baekhyun. Siapa lakilaki yang menghamili Jessica di masa mudanya. Berita itu akan menguntungkan anda."

Wah. Itu baru luar biasa. Daehyun tidak bisa menahan diri untuk tidak menyeringai, " Oke deal. Jadi siapa ayah kandung Baekhyun?"

Leeteuk menggelengkan kepalanya. "Seseorang akan mengirimkan semua berkasnya ke kantor anda. Nanti setelah anda berhasil membantu Tuan Baekhyun. Sebelumnya anda harus membantu Tuan Baekhyun melarikan diri dulu dan menolongnya ke luar kota, kalau perlu ke luar negeri. Anda bisa meminta bantuan koneksi anda yang banyak." Lelaki itu mengeluarkan amplop cokelat yang besar dan tebal dari dalam jasnya. "Saya tidak bisa menggunakan cek atau rekening bank karena itu akan terlacak, jadi maafkan saya menggunakan uang tunai. Ini uang untuk proses membantu Tuan Baekhyun melarikan diri. Semoga cukup." Leeteuk meletakkan amplop itu di dekat perseneling di antara kedua kursi.

Koneksiku memang banyak dan pekerjaan ini tampaknya mudah, dia tinggal meminta bantuan teman-temannya untuk menyembunyikan Baekhyun dan kemudian membantunya kabur ke luar negeri, itu gampang. Apalagi amplop cokelat itu tampaknya sangat tebal, uang akan memuluskan sehalanya... Daehyun membatin sambil melirik amplop cokelat itu. Tapi Leeteuk tampak begitu ketakutan seakan kabur dari Chanyeol Leonidas adalah hal yang sangat sulit,

"Apakah Park Chanyeol sebegitu hebatnya?" Daehyun bertanya.

Dan Leeteuk mengangguk tanpa ragu. "Dia sangat hebat. Anda harus sangat berhati-hati. Kalau menginginkan sesuatu dia akan mengejarnya sampai dapat. Saya mohon lindungi Tuan Baekhyun sampai dia bisa kabur, surat berisi berkas-berkas tentang ayah kandung Tuan Baekhyun sudah saya siapkan di brankas rahasia di sebuah bank. Orang kepercayaan saya akan mengirimkannya kepada anda segera setelah anda berhasil menyelamatkannya." Leeteuk mengisyaratkan Daehyun untuk menepi dan lelaki itu melakukannya, dia meminggirkan mobilnya di tepi trotoar dekat kawasan perdagangan, Leeteuk tersenyum kepada Daehyun, mengulurkan tangan dan Daehyun menjabatnya, "Terima kasih atas kerjasama anda Daehyun. Nanti kalau ternyata terjadi sesuatu kepada saya sehingga saya tidak bisa bertemu andalagi, anda tahu betapa saya menghargai bantuan anda."

Lalu lelaki tua itu keluar mobil dan melangkah pergi. Daehyun memandang sampai Leeteuk menghilang di keramaian. Dahinya mengernyit ketika dia melirik amplop cokelat itu. Diambilnya, dan diintipnya.

Semuanya dalam dolar amerika. Dan mengingat banyaknya tumpukan di dalamnya, jumlahnya mungkin ada puluhan ribu dolar...

.

Chanyeol merasakannya. Dia sudah tidak mampu menahannya. Chanlie begitu kuat, mendesak untuk menguasai tubuhnya. Chanyeol sudah sekuat tenaga menahannya. Dia tidak mau Baekhyun menghadapi sosoknya yang mengerikan ini. Sosok kejam Chanlie. Baekhyun pasti akan langsung membencinya.

Jauh di dalam sana Chanlie tertawa mengejek. "Kau bodoh karena terperangkap perasaan Chanyeol, cinta hanya akan memberatimu. Sekarang kau makin lemah karena kau jatuh cinta."

"Diam kau!" Chanyeol mencoba menghilangkan bisikan-bisikan Chanlie di dalam sana. "Aku tidak akan membiarkan kau menyakiti Baekhyun."

"Baekhyun milikku..." Chanlie mengucapkannya dengan yakin seakan itu sebuah kebenaran absolut. "...Kau tidak akan bisa menyingkirkannya dariku Chanyeol, apapun rencanamu, aku akan mendapatkannya. Aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu dibantu oleh si Tua Leeteuk, kalian tidak akan berhasil. Baekhyun akan menjadi milikku."

"Dia mencintaiku. Bukan dirimu." Chanyeol menggeram marah.

"Aku tidak membutuhkan cinta dari Baekhyun, silahkan. Miliki saja cintanya..." Chanlie terkekeh, "..Aku butuh tubuhnya untuk memuaskanku, aku butuh dia tak berdaya di tanganku, jatuh di bawah kuasaku dan tidak berdaya."

"Kau gila!"

"Itu sudah bukan rahasia Chanyeol..." Chanlie tersenyum kejam. "Kegilaanku, dan hasrat ingin membunuh ini sebenarnya milikmu juga. Apa kau sudah lupa? Kita ini satu. Dan mengingat kita ini satu... apakah Baekhyun masih bisa mencintaimu kalau tahu bahwa kitalah yang membunuh seluruh keluarganya? Kakek dan nenek dari pihak Jessica, kakek dan nenek dari pihak Junsu, dan kedua orang tuanya, Jessica dan Junsu. Baekhyun pasti akan sangat membencimu dan kehilangan cintanya kepadamu seketika kalau dia tahu."Chanyeol mengernyit, merasakan kepalanya berdentam-dentam. "Kau yang melakukan semua kejahatan keji itu. Bukan aku, dasar Iblis!"

"Aku melakukannya dengan tanganmu, Chanyeol. Ingat itu. Kita ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua."

Chanlie tertawa. Dan saat itulah Chanyeol merasakan semuanya menjadi gelap. Ia berusaha menggapai dan menahan, tetapi Chanlie terlalu kuat dan mendesaknya hingga dia menyerah.

"Baekhyun.." Nama itu terucap di bibirnya sebelum kesadarannya hilang...

.

Chanyeol mengurung dirinya di ruang kerjanya sejak tadi. Lelaki itu bahkan tidak turun untuk makan siang. Baekhyun mengernyit. Ada apa sebenarnya? Tiba-tiba saja Baekhyun merasa sangat cemas. Chanyeol tampak pucat dan aneh di pertemuan mereka terakhir tadi. Lelaki itu menatap Baekhyun seolah mereka akan berpisah lama.

Baekhyun hendak melangkah dan mengetuk pintu ruang kerja Chanyeol ketika dia berpapasan dengan Leeteuk. Lelaki itu mengenakan baju biasa, bukan seragam pelayannya. Tampaknya dia baru pulang dari berpergian.

"Tuan Baekhyun..." Leeteuk membungkukkan badannya dengan sopan. "Apa kabar. Kenapa anda sendirian? biasanya Tuan Chanyeol menemani anda siang-siang begini?"

Baekhyun melirik ke arah ruang kerja Chanyeol, kemudian menatap Leeteuk dengan bingung. "Itulah yang ingin kutanyakan Leeteuk, Chanyeol mengurung dirinya sejak tadi di ruang kerjanya, apakah mungkin dia sakit? Tangannya tadi terluka dan aku mencemaskannya."

Leeteuk tertegun, tampak waspada. Matanya melirik ke arah pintu ruang kerja tuannya. Apakah sudah saatnya? Tuan Chanyeol bilang dia berusaha mengendalikan Chanlie sekuat tenaga meskipun dia tidak yakin akan menang. Chanlie bertekad kuat memiliki Baekhyun dan dia semakin kuat. Tuannya bilang dia akan mengurung diri dan mencoba menahan Chanlie. Apakah sekarang Tuan Chanyeol sedang melawan Chanlie di dalam sana? Jantung Leeteuk berdebar kencang. Ini lebih cepat dari perkiraannya. Dia belum menyiapkan Tuan Baekhyun untuk rencana melarikan dirinya. Well, Leeteuk harus bertindak cepat kalau ingin semuanya lancar.

"Tuan Baekhyun." Leeteuk berbisik lirih, memandang cemas ke arah pintu ruang kerja tuannya lagi, "Kalau boleh saya ingin berbicara dengan anda. Penting."

Baekhyun mengernyitkan dahinya. "Tentang apa Leeteuk-ssi?"

"Silahkan anda ikut saya." Leeteuk mengajak Baekhyun ke arah dapur. Di sana ada ruang bawah tanah untuk menyimpan persediaan anggur. Lebih aman di bawah sana, karena Tuan Chanyeol dan Chanlie hampir tidak pernah ke area dapur.

.

Mata Baekhyun membelalak kaget. Wajahnya pucat pasi.

"Kepribadian ganda? Apakah kau serius Leeteuk?"

Sang kepala pelayan sudah tidak mampu mempertahankan ekspresi datarnya. Raut wajah yang biasanya sangat datar itu berubah menjadi panik. Keningnya mulai mengeluarkan bulir-bulir keringat. Dia sudah menceritakan semua kepada Baekhyun, mengenai Chanyeol dan alter egonya yang jahat, yang bernama Chanlie.

"Anda tentunya menyadari bahwa kadang-kadang Tuan Chanyeol tampak begitu berbeda. Alter egonya...Tuan Chanlie sangat kejam dan dia membawa aura menakutkan itu ke sekelilingnya."

Baekhyun tertegun. Ingatan pertamanya adalah ketika Chanyeol tiba-tiba muncul di kamar mandi, ketika Baekhyun sedang berendam, itulah pertama kali Baekhyun merasakan bahwa Chanyeol membawa aura menakutkan... Kemudian malam itu di ruang makan, ketika Chanyeol meminta maaf dan mengatakan bahwa dirinya mungkin sedang mabuk... dan terakhir... kemarin malam, ketika mereka bercinta. Chanyeol berubah menjadi sosok yang begitu bergairah dan kasar, paginya lelaki itu tak henti-hentinya meminta maaf karena tidak bisa mengendalikan dirinya... Wajah Baekhyun menjadi pucat pasi ketika menyadari kenyataan itu, Apakah itu berarti semalam dia telah bercinta dengan Chanlie? Apakah Chanlie yang meninggalkan bekas memar dan kemerahan di tubuhnya ?

"Tuan Chanlie terobsesi kepada anda. Anda tahu. Begitu tuan Junsu meninggal, ketika anda berumur delapan tahun. Tuan Chanyeol hendak menemui anda, beliau menyusul anda ke taman hiburan, karena dia mendapatkan informasi bahwa nenek anda membawa anda ke sana. Tetapi kemudian ada insiden seorang penodong berusaha merampoknya, dan karena bersedih atas kematian keluarga angkatnya, Tuan Chanlie menjadi kuat dan mengambil alih seketika itu juga... saat itulah Tuan Chanlie pertama kali bertemu dengan anda." Leeteuk menjelaskan kisah yang pernah dikatakan Tuan Chanlie kepadanya, kisah pertemuan pertamanya dengan Baekhyun.

Baekhyun mengernyitkan dahinya makin dalam. "Aku pernah bermimpi di taman hiburan... oh astaga.. mungkinkah itu bukan mimpi? Mungkinkah aku benar-benar bertemu dengan Chan... Chanlie di usiaku yang ke delapan?"

"Itu benar-benar terjadi." Leeteuk mengangguk meyakinkan Baekhyun. "Dan entah apa yang anda lakukan, anda membuat Tuan Chanlie terobsesi kepada anda sejak saat itu."

Dalam mimpinya Chanlie sudah hampir membunuh dirinya yang masih kecil. Baekhyun bergidik mengingat betapa tidak ada belas kasihan dan penyesalan di mata Chanlie ketika dia membunuh penodong itu... juga ketika dia akan membunuh Baekhyun kecil, tidak ada keraguan sedikitpun di matanya. Lelaki itu hampir tidak punya emosi menyangkut pembunuhan... tetapi kemudian, Chanlie mengurungkan niatnya untuk membunuh Baekhyun karena..

"Aku menawarkan plester untuk menutup lukanya akibat percobaan penodongan itu." Baekhyun mencoba menguak ingatannya yang berkabut.

"Mungkin itu pemicunya. Tidak pernah ada orang yang seberani itu kepada Tuan Chanlie, semua orang ketakutan kepadanya dan menghindarinya. Saya mengikuti Tuan Chanyeol dan Tuan Chanlie sejak beliau kecil, dulu saya adalah pelayan pribadi ayah Tuan Chanyeol. Ketika Tuan Chanlie ada, semua orang kabur ketakutan menghindarinya." Leeteuk menghela napas panjang. "Plester itu bahkan masih tersimpan di kotak kaca di brankas Tuan Chanyeol. Anda benar-benar membuat Tuan Chanlie terobsesi kepada anda karena itu.

Karena sebuah plester? Baekhyun merasakan tubuhnya gemetar. Tidak! Bukan karena sebuah plester. Perbuatannya itu mempunyai arti yang sangat dalam bagi Chanlie. Baekhyun satu-satunya orang yang tidak takut padanya. Oh Astaga, mimpi apa dia sehingga monster menakutkan seperti Chanlie terobsesi kepadanya?

"Saya mungkin menyakiti anda dengan apa yang akan saya katakan kepada anda." Leeteuk menatap Baekhyun sungguh-sungguh. "Tetapi saya mohon, setelah anda tahu, jangan anda membenci Tuan Chanyeol, dia sudah berusaha mencegahnya, tetapi kadang-kadang Tuan Chanlie terlalu kuat.."

Jantung Baekhyun berdebar, entah kenapa. "Mengetahui tentang apa?"

"Bahwa Tuan Chanlielah yang bertanggung jawab atas kematian seluruh keluarga anda, kakek dan nenek anda... keluarga angkatnya, termasuk ayah anda, Junsu... dan yang terakhir... ibu anda, Nona Jessica..."

Kata-kata Leeteuk bagaikan petir yang menyambar dirinya dengan keras dan tanpa ampun. Baekhyun sampai terhuyung dan harus berpegangan kepada rak anggur di belakangnya, "Apa?"

"Yang pertama Tuan Chanlie bunuh adalah keluarga angkatnya. Ayah dan Ibu Junsu mengetahui bahwa Tuan Chanyeol mempunyai kepribadian ganda ketika anjing mereka dibunuh dengan kejam dan mayatnya digantung di pohon, hanya Tuan Chanyeol yang ada dirumah waktu itu, tetapi tuan Chanyeol mengaku tidak ingat apapun... sejak ikut keluarga angkatnya dia telah berhasil menekan Tuan Chanlie supaya tidak bangkit, anjing itu dibunuh Tuan Chanlie, tentu saja dia mengambil kesempatan ketika Tuan Chanyeol lengah, dan berusaha menunjukkan kalau dia masih eksis. Keluarga angkat Tuan Chanyeol lalu mengirimkan Tuan Chanyeol ke psikiater ... dan psikiater itu melakukan usaha hipnotis untuk berkomunikasi dengan Tuan Chanlie. Sebuah kesalahan bodoh, karena Tuan Chanlie pada akhirnya bangkit setelah sekian lama. Dulu Tuan Chanlie hanya bangkit sebentar-sebentar ketika Tuan Chanyeol lemah, hipnotis itu memberinya kekuatan." Leeteuk melanjutkan kisahnya sambil beberapa kali menatap ke arah pintu ruang bawah tanah di atas.

Sementara itu Baekhyun menahan napasnya mendengar cerita itu. Oh ya ampun.. " Lalu apa yang terjadi?"

"Tuan Chanlie bangun dan pulang ke rumah. Berpura-pura seperti Tuan Chanyeol. Keluarga angkatnya tidak ada yang menyadari bahwa dia adalah pribadi yang berbeda... lalu pada suatu hari, ketika kedua orang tua angkatnya dan Tuan Junsu sendiri mengendarai mobil untuk suatu urusan... mereka menabrak truk besar karena rem mereka blong." Leeteuk tampak ketakutan, "Tuan Chanlie telah merusak rem mobil mereka."

Baekhyun merasakan bulu kuduknya berdiri, Chanlie benar-benar kejam... dan dia... dia satu tubuh dengan Chanyeol, Chanyeol yang dicintainya. Apa yang harus dia lakukan? Chanlie telah membunuh kedua orang tua ayahnya yang berarti kakek dan neneknya juga, dia juga membunuh Junsu, ayahnya, sehingga tidak sempat bertemu dengannya. Chanlie telah merenggut kesempatan Baekhyun untuk bertemu ayah kandungnya. Dan Chanlie sama dengan Chanyeol... Chanyeol sama dengan Chanlie... hati Baekhyun berdarah oleh rasa sakit.

Tetapi Leeteuk rupanya belum selesai, masih ada lagi rasa sakit yang akan mengoyakkoyak hati Baekhyun. "Kemudian Tuan Chanlie mengejar anda... dia menemui kakek dan nenek anda, mengatakan akan mengambil anda untuk mengemban pesan dari ayah kandung anda, Tuan Junsu. Tentu saja kakek dan nenek anda menolaknya. Mereka melarang Tuan Chanlie mendekati anda selamanya, selain itu mereka takut akan terjadi skandal karena Jessica sedang berada di puncak ketenarannya..." Leeteuk menarik nafasnya kasar. Berusaha menenangkan suranya yang bergetar ketakutan. "...Kemudian, Tuan Chanyeol berhasil bangkit lagi, dia menenggelamkan Tuan Chanlie dan berusaha memperbaiki semuanya. Bayangkan kesedihan yang dirasakan Tuan Chanyeol ketika menyadari bahwa orangtua angkatnya, kakak angkatnya dibunuh dengan tangannya sendiri, dan dia tak kuasa mencegahnya." Leeteuk menarik napas panjang. "Saya ada di sisi Tuan Chanyeol waktu itu, beliau sangat menderita..."

Karena itulah Chanyeol tampak sangat menyesal. Baekhyun bisa merasakan betapa sayangnya Chanyeol kepada keluarga angkatnya. Memiliki monster tersebut di dalam dirinya dan tidak bisa mengendalikannya... rasanya pasti sangat menyiksa. "Tetapi ternyata Tuan Chanlie tidak kalah. Dia hanya memutuskan duduk dan menunggu hingga saatnya tepat. Dialah yang menyebabkan kakek anda meninggal..."

Baekhyun menunduk menatap lantai. Merasa ada yang mengganjal. "Tetapi kakekku meninggal karena sakit... dia meninggal di rumah... tidak mungkin Chanlie yang membunuhnya."

"Tuan Chanlie yang membunuhnya. Karena kakek anda mengancam agar dia tidak berurusan lagi dengan anda." Leeteuk menatap Baekhyun lurus-lurus, "Anda ingat pembantu rumah tangga di rumah anda, yang bersedia digaji murah untuk membersihkan rumah kakek dan nenek anda?"

Baekhyun ingat. Pembantu itu, perempuan setengah baya yang datang di pagi hari dan pulang ketika menjelang malam. Untuk memasak dan membersihkan rumah mereka, serta mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga.

"Pembantu itu adalah orang suruhan Tuan Chanlie. Dia jugalah yang memotret anda setiap saat tanpa ketahuan dan mengirimkannya secara berkala kepada Tuan Chanlie."

Baekhyun ingat album foto yang ditunjukkan Chanyeol kepadanya, hanya ada tiga dan semuanya berisi kumpulan foto masa kecilnya yang dikirimkan oleh kakek neneknya sendiri kepada Junsu, ayahnya.

"Kakek dan nenek anda berhenti mengirimkan foto setelah Junsu meninggal. Jadi Tuan Chanlie mengirimkan pegawainya untuk mengawasi dan mengirimkan foto-foto anda kepadanya. Dia punya delapan album besar berisi foto anda." Dan yang Chanyeol tunjukkan kepadanya hanya tiga album. Baekhyun membatin. Menunggu Leeteuk melemparkan bom yang lebih besar itu kepadanya.

"Pembantu anda yang memasukkan racun yang tidak terdeteksi kepada makanan kakek anda... dia memberikannya sedikit demi sedikit kepada kakek anda sehingga kondisi kakek anda menurun dan makin melemah, hingga pada akhirnya meninggal dunia."

Mata Baekhyun terasa panas mendengarkan informasi itu. Oh betapa kejamnya Chanlie, lelaki itu melindas nyawa siapapun yang menghalanginya dengan kejam, sangat kejam!

"Tuan Chanlie berpikir bahwa dengan meninggalnya kakek anda. Dia bisa membujuk nenek anda untuk menyerahkan anda di bawah perwaliannya. Tetapi nenek anda sama keras kepalanya dengan kakek anda, mungkin dia melihat ada aura jahat di dalam aura Tuan Chanlie, sehingga bahkan ia menawari nenek anda uang, tetapi nenek anda menolaknya mentah-mentah...bahkan nenek anda mulai mencari informasi tentang Tuan Chanlie, dan hampir menemukan kejanggalan atas kematian suaminya. Sayangnya, Tuan Chanlie sudah menginstruksikan untuk membunuh nenek anda juga. Tubuh nenek anda makin melemah, dan ketika dia menyadari bahwa kakek anda dan dia diracun, semua sudah terlambat, dia bahkan terlalu lemah untuk memperingatkan anda ..."

Baekhyun ingat neneknya terus menangis hening, tetapi kondisi neneknya sangat lemah sehingga jangankan berkata-kata, menelan ludahpun sangat sulit dilakukan neneknya. Waktu itu Baekhyun berpikir bahwa neneknya menangisi kakeknya, bahwa kondisinya melemah karena patah hati. Baekhyun tidak berpikir bahwa gejala penyakit kakek dan neneknya sama persis, kondisi tubuh yang menua diikuti kerusakan organ-organ vitalnya, ginjal, paru-paru, jantung, dan kemudian syarafnya... Apakah waktu itu neneknya menangisinya? Karena neneknya tidak bisa memperingatkannya? Air mata Baekhyun menetes di pipinya mengingat penderitaan neneknya di saat-saat terakhirnya. Chanlie sungguh kejam. Lelaki itu tak punya hati. Dia seperti iblis yang jahat dan tiba-tiba kebencian memuncak di hati Baekhyun. Lelaki itu telah merenggut seluruh keluarganya, seluruh keluarganya!

"Apakah Chanlie juga yang membunuh ibuku?"

Leeteuk menganggukkan kepalanya, "Nona Jessica berada di tempat yang salah dan waktu yang salah. Tuan Chanlie mengejarnya hanya untuk memasukkanmu ke rumah ini. Kemudian Nona Jessica menemukan album foto anda tanpa sengaja, membuat Tuan Chanlie marah..." Leeteuk menatap Baekhyun yang berurai air mata dengan sedih, "Tuan Chanlie... mendorong Tuan Jessica jatuh dari tangga."

Pemandangan mengerikan itu berkelebat di benak Baekhyun. Ibunya yang sudah menjadi mayat, terbaring dengan posisi aneh bersimbah darah di bawah tangga. Ekspresinya ketakutan... Chanlie benar-benar kejam dan menakutkan. Tiba-tiba Baekhyun menyadari bahwa dia terjebak di rumah ini bersama Chanlie.

"Kenapa Chanyeol mengurung diri di ruang kerjanya?" Baekhyun menyadari firasat buruk itu.

Leeteuk menghela napas panjang, "Karena Tuan Chanlie semakin kuat dari hari ke hari... dia..bisa saja bangkit dan mendesak Tuan Chanyeol... Tuan Chanyeol meminta saya mempersiapkan kalau ini semua terjadi."

Baekhyun gemetar. Dia takut, dia telah mendengar kisah kekejaman Chanlie. Dan sekarang dia hanya bergantung pada kekuatan Chanyeol. Bagaimana kalau Chanyeol kalah dan Chanlie menguasainya?

"Saya merencanakan pelarian anda. Seharusnya tidak secepat ini. Tetapi sepertinya kita harus bergerak cepat. Malam ini anda harus bersiap-siap." Leeteuk bergumam dengan gelisah. Baekhyun menyadari Leeteuk gemetar. Lelaki itu ketakutan. Sama seperti dirinya.

Takut kepada Chanlie yang mengerikan...

.

.

"Bantu aku lari, Leeteuk-ssi..."

.

.

"Aku sangat ketakutan..."

.

.

To Be Continued...

.

...

Thanks To:

Fks24: dua-duanya malah dikasihnya! :D lebih menikmati yang mana? *plak review lagi yah~

Tyanra Park: Nah iya, aku juga masih mikir yg pregnantnya gimana nanti.. dijadiin mpreg atau yng lain aja ya.. haha perjalanannya masih panjang sih xD udh diupdate nihyaa.. review yg paanjaang lagi gamau tau(?)

Love654: Nih udh secepat kilatnya ChenChen belum? *plak udh diupdate ya... semoga suka^^

Umroyaya: biar greget dong Ncnya aku lamain(?) biar kesannya misterius *muntah* gimana Ncnya? Semoga ga mengecewakan yaa^^ review lagi jangan lupa mumumu :*

Suci maryam: amin amin.. apalah arti sombong kalo cantik aja kalah dr baekhyun/? *plak udh kan Ncnya? Dua-duanya malah udh 'masukin' Baekhyun lebih suka yang mana nih(?) kalo ada yg ga enak di kalimat jangan sungkan buat komen yah... terimakasih~ ditunggu reviewnya lagi(?)

EXO12Love: Nih udh di update~ review lagi yaa

Enoanggraeni250712: ChanBaek? ChanyeolxBaekhyun atau ChanliexBaekhyun nih? Haha.. udh diupdate ya sayang semoga puas :*

Restikadena: give a big applause to adorable author Santhy Agatha^^ Novel ini emang keren banget dan aura-nya ChanBaek banget makanya bikin aku naksir dn cepet2 pengen posting! Terimakasih udh komen panjang-pnjng terharu nihh sini peluk *iyuwh ini udh dilanjut yaa.. review lagi jangan lupa :D

Cntyathalia: Yooni NC-an sama aku(?) plak. Udh terjawabkan? Gimana? Semoga suka yaa^^ jangan lupa review lagi!

Bungaapi: Baekhyun saking polosnya minta 'dipolosin' *plak udah dilanjut yah... jangan lupa review lagi^^

Kjung355: Gapapa shaay... terimakasih udh mau reeview:^ gakan update fast kalo responnya ga sebagus ini(?) terimakasih jangan lupa review lagi ya;)

Restyfatihah2806: Terimakasih:D udh di next ya.. review lagi jangan lupa :)

Sehunboo17: Coba tebak siapa yang bakalan hilang? :D yg antagonis blm tentu bener-bener jahat loh kkk~ pantengin trs yaa!

Dheacho: Semoga Chap ini lebih puas lagi ya.. apa perlu aku datengin Chanyeol buat bikin kamu puas/? *apa ini. Gaada yang bisa nolak pesona Baekhyun. Chanlie yg sadis gitu aja terpesona apalagi Daehyun yang ga tau apa-apa *smirk. Pantengin terus ya*kedip kedip* review jangaan lupa! :D

Imaintan343: udh di update nih~ cepet kan yah? Semoga suka dan dapat menghibur!

...

Thanks to All readers, Silent Reader, Favorite and Following!