My Pride (part 4)

Shiki © Fuyumi Ono

Fanfic by BlackKiss'Valentine 2011

Summary : Ritsuko, pekerjaan, desa Sotoba dan cinta yang kandas…


Esok paginya, Setsuko-san dinyatakan meninggal.

Tidak seperti sebelumnya, Ozaki-sensei tidak terlihat seperti akan mengamuk karena telah gagal menyelamatkan nyawa warga desanya. Hari itu aku melewati tangga dimana ia berdiri dengan tegak, menatap lurus kearahku yang berada di lantai bawah, namun tidak melihatku dan seperti melamun saat kupanggil. Tentunya ia sedang memikirkan sesuatu...yang sangat penting.

Hanya tersisa Mutou-san selaku Kepala Administrasi dan para perawat di kliniknya, sehingga semuanya makin terasa berat. Di pertemuan para perawat dimana aku menyampaikan keanehan Ozaki-sensei itu pada perawat lain, Sawada-san yang bekerja di bagian administrasi menelepon dan berkata akan mengundurkan diri. Ia berkata dengan nada yang datar dan dingin, 'aku takut' yang mengingatkanku pada kejadian tak lazim semalam. Tapi aku urungkan niatku yang ingin memberitahukannya kepada Ozaki-sensei mengingat kondisinya yang seperti bom siap ledak, selain karena aku masih belum bisa percaya pada apa yang kulihat saat itu …

Beberapa hari kemudian, saat kami sibuk dengan suami Setsuko-san yang turut jatuh sakit setelah kepergian istrinya, juga pada krisis tenaga kerja bersaman dengan kemunculan tiba-tiba klinik pesaing di ujung Sotoba, Nyonya Ozaki berseru pada Ozaki-sensei bahwa Kyoko-san ambruk diruangannya. Kejadian ini menjadi tontonan menarik, mengingat terjadi di dalam klinik dan pada istri sang dokter sendiri. Dalam hatiku, itu adalah kesenangan yang lain, walau berikutnya aku yakin tak memasang wajah yang baik saat melihat Ozaki-sensei dengan sigap menolong Kyoko-san.

Ah, bicara apa aku ini… Bukankah Ozaki-sensei memang selalu begitu? Sigap kapan pun, dimana pun, dan kepada siapa pun? Bukankah yang seperti itu Ozaki Toshio yang aku banggakan dan aku cintai?

Tapi kurasa tak berlebihan jika aku kembali terluka dengan perhatian khususnya yang terasa berlebihan dengan memisahkan ruang perawatan istrinya di lantai dua dan tidak mempersilakan siapa pun membantunya bahkan untuk melakukan hal-hal sepele seperti mengecek infus, dan yang bersifat pribadi seperti mengganti pakaiannya.

Ya, aku paham saja Kyoko-san adalah istri Ozaki-sensei yang jelas lebih sah untuk membuka pakaiannya, lebih dari semua perawat disini; tapi bukankah dia tak perlu bertindak seegois itu...? Apalagi ia kelihatan sangat tidak peduli pada yang lain semenjak istrinya sakit, dan bahkan mengabaikan Satoko yang kebingungan saat Yuki menghilang dengan berkata, 'oh, iya…' yang sangat tak berperasaan.

Ah, tidak… Ini pastilah perasaan cemburuku saja. Cemburu yang semakin menggila sejak hubungan mereka yang seperti permainan terlihat 'mesra' saat Kyoko-san jatuh sakit. Kiyomi juga berkata, bahwa istrinya sudah mencapai kondisi yang tak tertolong saat ditemukan, sehingga semua ini wajar membuatnya begitu 'tak berperasaan'.

Hari demi hari, malam dan malam, Ozaki-sensei seperti menghilang dari pekerjaannya untuk meluangkan lebih banyak waktu berada di sisi istrinya…


"Tidak bisa! Kalian yang tidak memiliki status takkan kubiarkan memasuki rumah milik Ozaki ini, apapun yang terjadi! Pergilah membantu di dapur saja!" usir Nyonya Ozaki padaku dan perawat yang lain saat diadakan acara persemayaman Kyoko-san. Yah, aku bisa menduga ucapan tak rasional seperti itu keluar dari bibir Nyonya Ozaki, dulu dan sekarang. Kalau tidak, pasti aku bisa menikah dengan Ozaki-sensei… Ah, mikir apa, sih aku ini?

Satoko berteriak dari tempatnya, "Kami bukan pembantumu!" dan dimulailah pertengkaran antara dirinya dan Nyonya Ozaki. Pasti ia sudah tak tahan dengan kelakuan 'para Ozaki' yang membuatnya merasa terhina. Hari itu kami tak bisa membantu apa-apa, bahkan tak bisa mendekati ruang persemayaman untuk ikut berdoa… Tapi aku merasa ada celah kecil yang lega di sudut terdalam perasaanku.

Apakah aku telah menjadi sosok yang jahat dan tak tulus selama ini?

Esoknya Satoko mengundurkan diri. Staf di Klinik Ozaki hanya tersisa 5 orang termasuk Ozaki-sensei, tapi epidemi musim panas itu belum juga menghilang atau jelas bagaimana bentuknya. Siang itu, Tae-san yang hanya tinggal berdua dengan Kanami anaknya, mendatangi klinik dengan gejala yang sama. Tapi Ozaki-sensei memeriksanya dengan tidak terlalu mendetail, membiarkanku mematung tak melakukan apapun. Kanami memberanikan dirinya bertanya dalam cemas,

"Sensei… Uhm, aku mendengar rumor… Apakah Ibu juga menjadi korban epidemi?"

Ozaki-sensei berdiri dan menatap Tae-san yang meringkuk dengan pucat. Ia berkata dengan cukup yakin, "Tidak. Ini bukan kasus seperti itu."

Apa? Jadi ini bukan epidemi? Jika bukan, apakah hal tak lazim yang kulihat malam itu…

"Sensei, apakah ibuku…"

Ozaki-sensei tak menjawab apa-apa. Ia hanya terdiam dan memunggungi kami dengan punggungnya yang lebar.


Berapa banyak lagi?

Berapa banyak korban lagi yang akan berjatuhan?

Berapa lama lagi aku harus menunggu?

Aku melewati jalan berumput menuju gazebo kecil di halaman klinik, tempat bersantai favorit Ozaki-sensei. Ia sedang berada disana, entah untuk merenung atau istirahat. Aku memanggilnya lirih, takut ia sedang menikmati tidur singkatnya. Tapi ia menjawabku dengan tegas,

"Ada apa?"

"Uhm, Anda berkata bahwa Tae-san bukan korban dari epidemi. Apa maksudnya?"

Ozaki-sensei terkejut, namun kemudian mengalihkan pandangnya. "Yah… Maksudnya…", ia terdiam. "Aku tidak bermaksud apapun dengan itu…"

"Sensei, apakah mungkin Tae-san telah…"

"Hm?"

Ah, tidak. Aku rasa tidak benar memberitahunya dengan sesuatu yang tidak masuk akal itu. Bukannya aku sendiri tak percaya? Apalagi Ozaki-sensei orang yang sangat ilmiah. Aku tidak boleh membebani pikiran Ozaki-sensei lebih jauh. Ia sudah berkorban banyak dalam usahanya, dan aku tidak tertarik berdebat dengannya atau membuatnya membenciku.

"Ritsuko?"

"Tidak, tidak ada apa-apa. Saya permisi dulu."

Hari beranjak sore. Aku pulang dengan membawa perasaan dan pertanyaan yang menggantung, meninggalkannya di kliniknya sendiri. Tapi, kurasa ini adalah hal yang tepat dan terbaik baginya. Bagi kami.

Benar, 'kan?


Kriiing.

"Selamat malam, Kunihara disini…"

"Ritsuko! Tolong!"

"Oh, Kiyomi?"

"Aku disandera oleh seseorang dirumahku!"

"Apa? Ditangkap? Kiyomi! KIYOMI!"