Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: AU, OOC, Typo, YAOI, INCEST, dan hal absurd lainnya.
Rating: M for Mature and maybe—Sexual Content
Pairing: NaruSasu, NaruIta ato ItaNaru, FugaMina, NaruMina, FugaSasu (Chap ini ada lemon FugaMina)
.
.
Complicated Relationship
.
~By: CrowCakes~
.: Enjoy :.
Minato sibuk mengiris beberapa sayuran untuk menjadi menu makan malamnya. Sesekali pria pirang itu bersenandung riang saat menumis atau merebus lauk pauknya. Iris mata Minato melembut saat pikirannya melayang kembali ke kejadian tadi siang di rumah Fugaku.
Sentuhan pria Uchiha itu membuat Minato bergerak senang layaknya seorang kucing penurut. Tatapan tajam Fugaku, suara berat dan dalamnya, serta sikap ramahnya. Minato yakin dia sudah jatuh cinta pada sang penulis novel. Mengingat hal itu, Minato terpekik senang, sesekali dia mengulum senyumnya agar tidak tertawa lebar dengan wajah merah merona.
"Oh astaga—jantungku benar-benar berdetak kencang." Pekik Minato sambil memeluk tubuhnya sendiri dengan senyum girang.
"Apa-apaan tingkahmu itu, Ayah?" Suara Naruto membuat Minato tersentak kaget dan berbalik untuk menatap anaknya itu.
"Ah—Naruto—" sapa Minato sambil menggaruk belakang kepalanya, salah tingkah. "—Kau sudah pulang rupanya."
"Ya—baru saja." Jawab Naruto singkat yang langsung duduk dimeja makan. "Apa makan malamnya?" tanya pemuda itu lagi.
Minato bersiul senang, "hanya sesuatu yang mudah untuk dimasak." Ucapnya penuh rahasia. Naruto sebenarnya tidak terlalu mempedulikan hidangan makan malam yang dimasak ayahnya itu, ia memilih menjatuhkan kepalanya di meja dengan suara -duk- kecil. Naruto mengerang keras saat mengingat tatapan marah Sasuke ketika bibirnya dicium Itachi.
Sebal. Kesal. Galau. Tiga kata yang mewakili perasaan Naruto saat ini. Kalau seandainya dia bisa memutar waktu, mungkin Naruto ingin kembali disaat Itachi menembaknya dan menjawab 'Maaf—aku menolak!', tetapi semua itu terlambat karena sekarang statusnya adalah pacar Itachi.
Naruto mengerang lebih keras dan menghantamkan keningnya ke meja dengan suara -DUK!- yang lebih nyaring. Minato bahkan harus menoleh ke arah Naruto agar anaknya itu berhenti menyakiti meja makan yang malang itu.
"Naruto, kau kenapa?" Tanya Minato heran dengan sikap ababil Naruto.
"Ayah—bagaimana cara untuk putus dengan pacar?" Kali ini Naruto mendongak untuk melirik Minato. Pria itu mengangkat satu alisnya tanda bingung.
"Putus? Ayah belum pernah memutuskan pacar. Selalu ayah yang diputuskan sepihak." penjelasan Minato membuat Naruto semakin mengerang kesal, "—dulu kau pernah putus dengan Hinata, bukan? Lakukan saja seperti sebelumnya." Lanjut ayahnya lagi.
Tubuh Naruto menegak, kemudian pikirannya kembali di waktu dia putus dengan gadis paling cantik di onoha Gakuen—Hinata Hyuuga.
.
.
"Hinata—aku ingin putus." Tukas Naruto tanpa basa-basi. Di depannya sang gadis terbelalak kaget.
"Kenapa?"
"Karena aku menyukai ayahku."
"Jangan memberi alasan tidak masuk akal seperti itu?!—katakan sejujurnya!" Desak Hinata keras kepala. Naruto menghela napas kemudian menatap gadis itu lebih serius.
"Sebenarnya, aku hanya tidak ingin menyakitimu. Aku tidak ingin perbuatanku sampai menghamilimu." Ucap Naruto bohong. Hinata terenyuh dengan perkataan Naruto kemudian memeluknya pelan.
"Oh Naruto—kau baik sekali. Aku mengerti, mungkin setelah kita lulus, baru kita pacaran lagi, bagaimana?"
"Ya—terserah kau saja." Jawab Naruto sambil memutar bola matanya malas.
.
.
Naruto menggeleng cepat sambil mengerang makin keras. Dia tidak mungkin mengatakan begitu pada Itachi. Bahkan membayangkan Itachi berbicara manis seperti itu membuat Naruto merinding geli. Bisa-bisa Itachi mengatakan 'Tidak apa-apa, Naruto. 'Hamili' saja aku.' Oh God Gay—jangan sampai Itachi mengeluarkan kata-kata menjijikan itu.
"Ayah—" Naruto memanggil lagi, "—bagaimana sikapmu kalau kau pacaran dengan seseorang tetapi kau malah lebih menyukai adik orang tersebut?"
"Tentu saja—putus dengan dia lalu pacaran dengan adiknya."
"Semudah itu?"
"Yup—semudah itu!" Jawab Minato penuh keyakinan.
Naruto kembali berpikir, otaknya dipaksa bekerja dua kali lipat dari biasanya. Di dalam pemikirannya, dia putus dengan Itachi lalu menyatakan cinta pada Sasuke. Lalu selanjutnya apa? Bukankah dia mengatakan bahwa ingin Sasuke berteman dengannya dan bukan pacaran? Lagipula Sasuke lebih menyukai ayahnya dari pada dirinya, batin Naruto dalam hati. Pemuda pirang itu kembali mengerang, kali ini ditambah dengan hentakkan tangan di meja dan jedotan keningnya berkali-kali.
Minato menatapanya kesal, "Naruto—hentikan menyakiti meja! Biaya reparasi nya mahal!"
"Arghhh—kau menyebalkan ayah." Keluh Naruto sambil memutar bola matanya, kesal.
"Kau itu yang menyebalkan. Sikapmu tidak bisa ditebak." Jelas Minato sambil terus mengaduk masakannya di dalam panci. Naruto meliriknya sekilas lalu bangkit untuk memeluk ayahnya itu dari belakang.
"Ayah, apa kau menyukaiku?" Tanya Naruto dengan suara menggoda di telinga sensitif Minato. Pria pirang itu hanya terkikik geli lalu mengacak-acak rambut Naruto.
"Tentu saja, kau itu harta peninggalan Kushina." Ucap Minato yang entah kenapa malah membuat hati Naruto nyeri. Pemuda pirang itu tidak mau disamakan sebagai 'anak' dia ingin dilihat sebagai seorang 'laki-laki'.
Naruto makin memeluk Minato kemudian menenggelamkan kepalanya di leher pria manis itu. Sesekali kecupan singkat dilandaskan Naruto ke leher Minato. Membuat pria itu harus bergerak gelisah karena geli.
"Naruto, hentikan, kau membuatku tidak nyaman."
"Hm—tapi aku nyaman."
"Aku tidak!—jadi lepaskan aku."
"Tidak mau, ayah." Jawab Naruto keras kepala. Dia semakin gencar mencumbui tengkuk leher Minato. Tangannya bergerak menuju perut dan pinggul pria dihadapannya, membalikkan tubuh kecil itu agar mereka bisa bertatapan muka.
"Cium aku—" pinta Naruto sambil menggesek-gesekkan keningnya di dahi Minato.
"Ha?—Tidak boleh, kau sudah dewasa." Tolak Minato sambil berusaha mendorong Naruto.
"Oh ayolah—sedikit saja." Kali ini hidung Naruto menyentuh hidung Minato dengan gesekkan jahil. Mau tidak mau, Minato harus terpesona juga dengan sikap menggoda Naruto. Wajah dewasanya, tatapan tajamnya, dan nada suaranya yang manja namun penuh paksaan itu.
Seandainya saja Naruto adalah Fugaku, mungkin sekarang aku akan berteriak girang layaknya orang idiot—eh? tunggu—apa yang baru saja aku pikirkan?! jerit Minato dalam hati dengan wajah memerah.
Naruto menatap ayahnya yang bergerak gelisah, kemudian tanpa aba-aba, Naruto langsung menempelkan bibirnya di mulut pria manis itu. Untuk sepersekian detik Minato terkesiap kaget dengan serangan kecupan Naruto. Minato mencoba untuk mendorong tubuh anaknya, tetapi tenaganya tidak cukup kuat ketika tangannya dikunci oleh Naruto.
"Ayah—" Panggil Naruto dengan napas tersengal-sengal. "—Buat aku nyaman." Pinta pemuda itu yang malah membuat Minato terbelalak kaget.
Demi Jashin-sama!—apa maksud Naruto dengan 'nyaman' itu?! Teriak Minato dalam hati. Tidak berani memikirkan hal kotor yang ada di dalam otaknya.
Naruto menatap Minato sekali lagi. Wajah pria dihadapannya terlihat bingung dan memerah... Ah—merah. Naruto ingat kalau wajah Sasuke juga memerah seperti ayahnya ini, hanya saja lebih—erotis. Pandangan Naruto mengabur dan malah menatap Minato sebagai Sasuke.
Wajah cantik pemuda itu. Erangannya. Desahannya. Naruto bahkan hampir gila memikirkan Sasuke.
Tanpa sadar Naruto mencium bibir Minato dengan lebih panas. Pergulatan lidah dilakukan pemuda pirang itu yang membuat ayahnya semakin panik kelabakan.
.
Sasuke, Sasuke, Sasuke—Naruto merapalkan nama itu berulang kali di dalam hati. Ia sudah tergila-gila pada pemuda raven itu sekarang.
.
Minato mencoba berontak. Mendorong kuat tubuh anaknya agar menjauh. Nihil!—Naruto bahkan kembali menjatuhkan pagutan dan hisapan di leher ayahnya itu. Tangan nya bergerak lincah menuju perut dan celana Minato.
Pria berumur 38 tahunan itu makin meronta-ronta saat bagian bawah tubuhnya digenggam oleh Naruto. Oh tidak—Oh tidak—Kushina bakal mengutukku kalau Naruto berbuat lebih jauh lagi, Jerit Minato dalam hati.
"Naruto!—Dengarkan ayah! Hentikan sekarang juga!" Seru Minato lagi. Tubuhnya berusaha menahan serangan-serangan nikmat yang dilancarkan Naruto di bagian sensitifnya di bawah sana. Menyentuh. Mengelus. Bahkan mencubit gemas.
Seandainya Minato boleh melenguh nikmat. Mungkin sekarang dia sudah berteriak meminta lebih dari darah dagingnya ini. Jashin-sama, kirimkan malaikat maut untuk mencabut nyawaku sekarang, Jerit Minato dalam hati.
.
.
PRANG!—
.
"Astaga!—" Seruan kaget Kiba membuat Minato dan Naruto menjauh dengan cepat. Pemuda penyuka anjing itu menghempaskan piring berisi kue tart yang dipegangnya ke lantai. Padahal niat awalnya, ia ingin memberikan kue ini pada Minato sebagai ucapan terima kasih dari ibunya, tetapi tidak menyangka malah mendapati tontonan gratis didepan matanya secara langsung.
"Ki—Kiba-san." Minato bergerak panik sambil menjauh. Dia menatap cemas ke arah pemuda bertato segitiga itu. "Ka—kau melihatnya?"
"Oh My Goddness, Yes—I Mean No!—Tadi pintu depan terbuka. Aku masuk. Dan—dan—" Kiba berbicara dengan gugup. Naruto lagi-lagi menggeram kesal sambil mendelik ke arah temannya itu dengan murka.
"Ikut aku—" Desis Naruto dengan nada mengancam sambil menarik Kiba ke lantai dua kamarnya.
.
Pemuda penyuka anjing itu dibanting oleh Naruto ke kasur, membuat Kiba langsung meringkuk ketakutan di pojok ranjang, "Nar—Naruto—aku tidak melihat apapun, sumpah! Jadi jangan perkosa aku—aku mohon!" Cicit Kiba layaknya seekor tikus yang ketakutan karena sudah ketahuan mengutil makanan.
"Seriously, Kiba!—aku tidak akan memperkosamu, berhentilah ketakutan seperti itu!"
"Kau—yakin?" Tanya Kiba ragu-ragu karena masih melihat kemarahan di mata sahabatnya itu.
"Yakin—setidaknya untuk saat ini." Terang Naruto lagi sambil duduk di tepi ranjang. Tangannya menekan-nekan keningnya yang berdenyut sakit.
Kiba merangkak pelan ke arah Naruto, "Kau marah padaku?" Tanya nya takut-takut.
"Ya—sangat marah!"
"Karena aku mengganggu 'kesenangan'mu tadi?"
"Tentu saja!—memangnya apa lagi?!" Sembur Naruto sambil meliriknya dengan tatapan membunuh. Kiba mundur perlahan tetapi langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Naruto.
"Kau sakit?—sikapmu aneh sekali." Ucap Kiba yang heran melihat Naruto uring-uringan seperti ini. Pemuda penyuka anjing itu yakin pasti bukan karena dia memergoki Naruto berciuman dengan Minato, sebab dia pernah beberapa kali memergoki mereka berciuman dan tidak terlalu di ambil pusing oleh pemuda pirang dihadapannya ini. Pasti ada alasan lain yang membuat Naruto gelisah seperti ini, pikir Kiba dalam hati.
"Aku menyentuh Sasuke—"
"Tuh kan, pasti karena ada alasan la—APA?!" Kiba terlonjak kaget dan hampir terjungkal dari ranjang.
Naruto mendeliknya tajam, "Aku bilang, aku menyentuh Sasuke."
"Maksudmu, menciumnya? Bukankah kau sering berciuman dengan semua teman-temanmu?"
"Bukan!—Aku menyentuhnya!" Seru Naruto gemas, "Aku ingin mencium ayahku, tetapi dalam pikiranku malah ada bayang-bayang tubuh Sasuke yang erotis! Erangannya, desahannya dan rintihannya! Semuanya membuatku gila!" Teriak Naruto sambil bangkit dari duduknya. Kiba melotot pada Naruto dan menyentuhkan jari telunjuknya di bibir, sebuah tanda agar Naruto tidak berteriak keras dan tetap tenang.
"Oke—oke—tenangkanlah dirimu. Teriakanmu bisa terdengar oleh Minato-san." Jelas Kiba sambil menyuruh Naruto untuk kembali duduk. Pemuda pirang itu menurut dan berusaha mengatur napasnya.
"Jadi—" Kiba kembali menatap Naruto penasaran, "—katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi."
Naruto melirik sahabatnya itu dengan ekor matanya lalu mendesah lelah, "Aku sudah menyentuh Sasuke dengan tanganku dan mulutku."
"Tangan?—mulut? Oh ya ampun, jangan bilang kalau kau—" Kiba mempraktekkan tangannya didepan mulutnya yang membentuk 'O' lalu menggerakkan tangannya yang terkepal maju-mundur. Naruto menjitak kepala sahabatnya itu dengan keras.
"Tidak perlu dipraktekkan seperti itu, menjijikan tahu!"
"Kau itu yang menjijikan, bodoh!" Bentak Kiba yang membalas jitakan Naruto. "Aku sih maklum dengan sifat abnormal mu pada ayahmu, tetapi pada Sasuke? Astaga—demi apapun juga, itu sudah terlalu abnormal!"
"Ah—dan juga, sekarang aku pacaran dengan Itachi."
Kiba terbelalak makin kaget," Itachi?! Oh God—" pemuda itu hampir menjambak rambutnya kesal. "Kau merahasiakan padaku kalau kau pacaran dengan Itachi?! Kau benar-benar keterlaluan Naruto. Jadi seorang playboy pun ada batasnya."
"Ayolah Kiba, kau mirip tante-tante penggemar gosip saja. Seharusnya kau bantu aku."
"Membantu apa?" Tanya Kiba malas.
"Aku menyukai Sasuke dan aku ingin putus dari Itachi. Tapi aku tidak tahu caranya."
"Putus? Memangnya sejak kapan kalian pacaran?"
"Tadi siang." Jawab Naruto enteng. Kiba yang mendengar ingin sekali menampar bolak-balik pipi cowok tidak tahu diri dihadapannya ini.
"Kau Pacaran Tadi Siang Dan Sekarang Ingin Putus?! Cowok Macam Apa Kau Ini?!"
"Oh ayolah, bantu aku." Rengek Naruto lagi sambil memeluk pundak Kiba.
"Baiklah, akan ku coba." Erang Kiba pasrah. Naruto menampilkan senyum lebarnya.
"Kiba, aku mencintaimu."
"Yeah—yeah—aku juga membencimu."
.
.
.
.
_Konoha Gakuen, 08.00 Pagi_
Kiba selalu merasa bahwa suasana pagi hari di kelas merupakan sesuatu rangkaian pemandangan yang indah. Bangku dan meja yang tersusun rapi, papan tulis yang bersih dan—Oh, jangan lupa vas bunga yang selalu diganti setiap harinya. Sayang pemandangan sempurna itu harus rusak ketika mata polos Kiba melirik aura hitam di sekeliling Naruto dan Sasuke.
Tanpa ditebak pun Kiba yakin mereka bermusuhan sejak 1 jam yang lalu.
.
.
_FlashBack_
.
Naruto yang tumben pagi itu masuk pagi hanya duduk malas di kelas. Awalnya Kiba hanya terkikik geli ketika Naruto melambai senang pada Sasuke yang juga baru masuk ke dalam kelas.
Ekor mata Kiba terus melirik Naruto yang mendekat dengan gaya tebar pesonanya, "Sasuke, selamat pagi." Sapa Naruto sambil mengecup bibir pemuda raven itu pelan.
"Pagi—" Jawab Sasuke yang ikut membalas pagutan bibir Naruto. Kiba bahkan harus menampar pipinya untuk menyadarkan bahwa Sasuke baru saja MENERIMA ciuman Naruto. Padahal biasanya pemuda itu paling jijik kalau disuruh berciuman dengan Naruto.
"Kau sudah mengerjakan tugas dari Kakashi-sensei?" Tanya Naruto basa-basi. Sasuke tersenyum manis.
"Sudah—mau lihat?" Tawar Sasuke yang sekali lagi membuat Kiba harus menampar pipinya lagi. Oh tuhan—apa kiamat sebentar lagi akan datang? Sebab sifat Sasuke berubah, yang tadinya dingin menjadi ramah pada Naruto, batin Kiba dalam hati.
Naruto duduk dimeja Sasuke sambil tertawa renyah, "Tidak perlu, aku juga sudah mengerjakannya." Ucap Naruto yang disambut anggukan paham Sasuke.
Pemuda pirang itu kembali melirik Sasuke kemudian menyentuh leher Sasuke perlahan, membuat cowok raven itu mendongak kaget.
"Ada apa?" Tanya Sasuke bingung.
"Tidak—" Kata Naruto, "—aku hanya berpikir kalau kemarin kau terlihat—sangat sensual."
Kiba melongo ketika Sasuke tiba-tiba berpaling muka sambil menyembunyikan rona merah diwajahnya. Samar-samar, pemuda penyuka anjing itu dapat mendengar Naruto mengatakan hal yang berkaitan dengan 'kemarin' dan 'sensual'. Serius!—Apa maksudnya itu? Jerit Kiba dalam hati.
Naruto mencondongkan tubuhnya ke arah Sasuke lalu berbisik pelan, "Sasuke—bolehkah aku menciummu lagi?" seperti terkena setruman listrik, Sasuke langsung berdiri panik dari kursinya lalu menggeleng cepat.
"Apa maksudmu?!" Ucap Sasuke gugup. Mata onyx nya melirik Kiba yang duduk tidak jauh dari mereka. Pemuda yang dilirik terlihat berpura-pura menatap arah lain sambil bersiul tenang.
"Sebentar saja, Sasuke—aku janji." Pinta Naruto dengan nada 'lirih' andalannya.
"Tapi—kita bisa dilihat orang." Tolak Sasuke lagi sambil melirik gelisah ke luar kelas.
"Tidak ada yang melihat, ini masih pagi. Cuma ada kau, aku dan Kiba dikelas ini. Untuk dia—" Naruto menujuk Kiba dengan cuek, "—jangan pedulikan. Anggap saja Kiba itu patung." Lanjutnya lagi. Kiba yang menguping hampir saja melemparkan tong sampah terdekat ke arah sahabat yang menganggapnya patung itu.
Sasuke menggigit bibirnya gelisah, dia memikirkan perkataan Naruto, kemudian kepalanya mengangguk tanda setuju, "tapi hanya sebentar." Tegasnya yang disambut anggukan girang dari Naruto.
Tangan Naruto terulur untuk menarik leher Sasuke mendekat. Kening mereka beradu dengan deru napas yang hangat juga gugup. Onyx Sasuke terpejam ketika bibir Naruto menekan mulutnya perlahan. Menyalurkan sensasi menggelitik disekitar wajahnya ketika pemuda pirang itu mendengus penuh nafsu.
Kiba melototkan matanya kaget. Bahkan kalau ada perlombaan pelotot-pelototan, sudah dipastikan kalau pemuda penyuka anjing itu akan menjadi juara pertamanya. Tapi sungguh—Kiba benar-benar terkejut melihat pemandangan didepannya itu. Demi Kami-sama!—sebenarnya apa yang sudah terjadi diantara mereka berdua, jerit Kiba yang hampir menjambak rambutnya hingga botak.
Dua pasangan 'merpati' itu sepertinya tidak mempedulikan tatapan kaget Kiba, bahkan sekarang mereka semakin panas untuk melumat bibir masing-masing. Sasuke membuka mulutnya sedikit hanya untuk menggigit bibir bawah Naruto dengan gemas. Dan ternyata kelakuan Sasuke membuat Naruto tersenyum disela ciumannya. Dengan nakal, Naruto kembali menyapu lidahnya di bibir kecil pemuda raven itu. Menggoda dan mengajaknya untuk bertarung saliva.
.
"Wow—Naruto, kau tidak selingkuh kan?" Suara Itachi membuat Naruto dan Sasuke tersentak kaget dan memisahkan diri mereka dengan canggung. Di ambang pintu berdiri Itachi sambil bersender malas dengan seringai jahilnya.
"Itachi-san, sedang apa di kelasku?" Tanya Naruto sambil menyeka saliva di bibirnya. Sedangkan Sasuke memilih kembali ke bangkunya dan duduk tenang.
Itachi terkekeh pelan, "Hanya memastikan bahwa pacarku baik-baik saja dan tidak selingkuh." Ucapnya sambil melirik Sasuke yang entah kenapa membalas tatapan kakaknya dengan kesal.
Naruto tidak menjawab dan hanya menggaruk tengkuknya dengan malas, "Sudahlah, kembali saja ke kelasmu sana." Usirnya dengan nada bosan.
"Kau jahat sekali padaku—" Ucap Itachi sambil menyentuh dadanya sambil berpura-pura sakit hati. Naruto memutar bola matanya kesal.
"Sudahlah Itachi, sana menjauh." Kali ini Naruto bermaksud mendorong tubuh pemuda berambut panjang itu untuk keluar dari kelas, tetapi Itachi lebih hebat dalam berkelit dan malah menarik lengan Naruto untuk mendekat ke arahnya.
Salahkan gravitasi yang membuat tubuh Naruto menjadi condong kedepan, dan salahkan juga Itachi yang tidak menghindar ketika kepala mereka saling bertabrakan. Seringai tipis terbentuk di wajah pemuda berambut panjang itu ketika dengan cepat dia menangkap bibir Naruto dengan mulutnya.
Kiba dan Sasuke terbelalak kaget saat sang Uchiha tertua memerangkap mulut Naruto dalam kecupan panjangnya. Mulut Itachi memagut penuh nafsu bibir pemuda pirang itu, belum sempat berontak, Naruto sudah merasakan lidahnya di gigit oleh Itachi. Pemuda pirang itu mengerang sakit.
"Ini hukuman karena kau berselingkuh didepanku." Desis Itachi dengan seringai khasnya. Kemudian kembali mencumbu mulut Naruto lebih panas lagi. Erangan dan decakan basah terdengar hingga menggema di kelas yang masih kosong itu. Bahkan Sasuke harus menahan getar amarahnya melihat percumbuan yang ada didepan matanya.
BRAK!—Sasuke menggebrak meja. Dia menggeram murka menatap kakaknya.
Itachi yang merasa di tatap penuh nafsu membunuh oleh sang adik, hanya berbalik malas sambil bersender manja di pundak Naruto.
"Oh—pagi adikku." Sapa Itachi dengan senyum tipisnya. "Aku tidak melihat kau ada disana." Sambungnya yang kentara sekali ada nada berbohong dalam suaranya.
Sasuke mengepalkan tangannya penuh emosi, "Untuk apa kau kesini? Pergi sana ke kelasmu!" Seru pemuda raven itu.
"Oh—kau cemburu melihat kemesraanku dengan Naruto?" Goda Itachi yang malah memperkeruh suasana kelas.
"Cemburu?! Untuk apa aku cemburu dengan pasangan bodoh seperti kalian?!" Tukas Sasuke lagi. Naruto yang mendengar perkataan pemuda itu hanya berdecak kesal.
"Kau tidak perlu mengataiku bodoh, Sasuke. Itu keterlaluan." Kata Naruto berusaha menahan amarahnya. Sayangnya, jawaban dari Naruto makin membuat Sasuke mengamuk.
"KAU MEMANG BODOH!—SIFATMU!—SIKAPMU!—SEMUANYA!" Jerit Sasuke.
"HENTIKAN OCEHANMU, TEME!—KATAKAN SAJA KAU CEMBURU KARENA TIDAK PUNYA PACAR!" Balas Naruto yang tak kalah emosinya.
Itachi yang tadinya tersenyum jahil berubah menjadi raut ngeri saat Sasuke mengeluarkan aura hitam diseluruh tubuhnya. Sepertinya aku kelewatan bercandanya, Sial! Rutuk Itachi dalam hati.
"BAIK!—AKAN KUBUKTIKAN BAHWA AKU BISA PUNYA PACAR JUGA!" Teriak Sasuke sambil menggebrak meja malang itu dengan kepalan tangannya.
.
_End Of Flashback_
.
.
Dan begitulah nasib Kiba. Menjadi saksi bisu tentang pernyataan terang-terangan Sasuke bahwa dia akan mencari pacar. Pemuda bertato segitiga itu berharap dia bisa menengahi pertarungan 'debat pendapat' antara Sasuke dan Naruto. Nyata nya, dia malah ketakutan dan gemetaran di pojok kelas saat melihat perkelahian dua temannya itu. Sedangkan Itachi? Oh Bitch Please—Jangan tanyakan pemuda jahil itu, karena Itachi memilih berlenggang keluar kelas sambil tertawa geli meninggalkan adiknya dan Naruto yang masih perang pelotot-pelototan.
Kiba berjalan pelan menuju Sasuke, mencoba menyembunyikan senyum takut-takutnya, "Sasuke—mau ke kantin? Sepertinya para guru sedang rapat kepengurusan sekolah." Ajak pemuda itu.
Sasuke mendengus, "Tidak perlu—" Ucapnya kasar, "aku masih ingin belajar disini." Katanya seraya terus membaca buku ajar Fisika nya.
Naruto yang tidak jauh berada disana hanya medengus pelan, "Bilang saja kalau kau sebenarnya ingin bersamaku di kelas ini." Ucapnya dengan nada mencemooh yang kentara sekali. Bahkan Kiba harus melotot marah ke arah Naruto untuk mengunci bibirnya itu.
BRAK!—Sasuke menggebrak meja sambil berdiri menantang Naruto. "Kau bilang apa?!"
Naruto mendengus kesal, dia menendang meja dihadapannya kemudian bangkit dari kursinya. Mata birunya menatap tajam pada Sasuke. "Katakan sejujurnya!—kau sebenarnya menyukaiku kan?!" Serunya lantang yang membuat beberapa siswa dikelas menatap Naruto dan Sasuke bergantian.
Sasuke mengepalkan tangannya, "Apa?! Menyukaimu?!—JANGAN MIMPI, DOBE!" Raungnya murka.
Naruto mendengus makin keras dengan tawa meremehkan, "Oh benar juga!—kau kan menyukai ayahmu sendiri!" Seperti tersadar dengan perkataannya, Naruto menatap Sasuke dengan pandangan terkejut dan tatapan bersalah.
Oh sial!—mulutku ternyata lebih brengsek daripada otakku, Umpat Naruto dalam hati.
Pernyataan Naruto barusan membuat Sasuke terdiam kaku. Tubuhnya menegang dan matanya terbelalak tidak percaya. Bahkan telinganya sempat mendengar beberapa bisikan dari siswa yang ada dikelasnya.
Sasuke menunduk menahan gemetar. Wajahnya memanas. Matanya mengabur karena ada air yang menyelimuti onyx pekatnya itu.
"Sa—Sasuke—" Panggil Naruto dengan suara lirih. Dari sikap pemuda pirang itu, terlihat dia sangat menyesal dengan perkataannya tadi. Tangannya terulur untuk mengelus pipi Sasuke. Tetapi tatapan marah dan murka dari pemuda raven itu menghentikan gerakannya.
Tanpa bicara pun Naruto tahu bahwa pemuda dihadapannya ini berusaha menahan tangisnya. Giginya menggertak mengancam pada Naruto. Tubuhnya gemetar menahan kepalan tinju ditangannya.
"Sasuke—aku menyesal." Ucapnya dengan nada tercekat, "oh astaga, maafkan aku."
"CUKUP!" Raung Sasuke murka, beberapa siswa yang ada dikelas terlonjak kaget, begitu juga Kiba. Tetapi Naruto hanya menatapnya dengan pandangan terluka.
"Hentikan bersikap manis padaku, Uzumaki Naruto." Desis Sasuke lagi.
"Sasuke—aku sungguh-sungguh minta maaf." Naruto menyentuh pipi Sasuke perlahan.
.
PLAK!—
.
Tamparan melandas dengan cepat dan keras di pipi kiri pemuda pirang itu. Sekali lagi seluruh siswa dikelas terkejut termasuk Kiba yang berlari mundur di pojokkan kelas karena ketakutan.
"Jangan. Berani. Menyentuhku. Lagi." Desis Sasuke dengan gertakan gigi yang benar-benar murka.
Pemuda raven itu berbalik lalu berjalan keluar dari kelas menahan luapan tangis dan emosinya. Meninggalkan Naruto yang terdiam menyesal di kelas.
"Naruto—" Kiba memanggil dengan cicit kecil. Naruto tidak menanggapi panggilan sahabatnya itu dan terduduk lemas di kursi. Mata birunya yang tadi jernih kini berembun dengan air mata yang siap tumpah.
Kiba bingung harus melakukan apa selain menepuk pundak Naruto pelan, "Hei—" Panggilnya lagi, "—kalau kau menyukainya, cukup kejar dia. Percuma menangis. Kau tahu—cowok tidak menangis tetapi bertindak."
Naruto menenggelamkan wajahnya di telapak tangan sebentar. "Ya—aku tahu." Ucapnya pelan.
Kiba tersenyum setelah melihat Naruto mendongakkan wajah dengan senyum yang penuh seringai bersemangat. Dan Kiba tahu apa artinya seringai itu. Dia selalu mengetahui sepak terjang pemuda pirang itu dari kecil. Setiap Naruto tersenyum seperti itu berarti akan ada sesuatu yang ingin dicapainya tanpa kenal lelah dan putus asa. Tetapi untuk saat ini, Kiba yakin, Naruto ingin mengejar Sasuke dan mendapatkannya kembali. Ah—kisser machine yang hebat. Bahkan kalau rusak pun dia akan memperbaiki dirinya sendiri.
.
.
.
_Kediaman Fugaku, Pukul 01.00 Siang_
Minato menegak teh hijau yang disediakan oleh tuan rumah, rasa haus di tenggorokannya sedikit terobati dengan rasa mint di minuman yang diseruputnya.
"Kau suka?" Tanya Fugaku yang duduk berhadapan dengannya.
"Ya—kebetulan sekali aku sangat haus." Ucap Minato sambil tersenyum manis. Fugaku bahkan harus menahan senyum tipis di bibir datarnya itu.
"Kau mau cemilan, Minato?" tawar Fugaku sambil beranjak untuk menuju dapur. Minato langsung menahannya dengan menarik hakama sang tuan rumah.
"Ti—tidak perlu repot-repot, Fugaku." Jawab Minato dengan kikuk. Dia merasa tidak nyaman kalau pekerjaan Fugaku harus terganggu karena dirinya.
"Tidak repot—lagipula semua naskahku sudah hampir selesai kok." Balas Fugaku lagi.
Minato terdiam gelisah kemudian dia mengangguk setuju. "Baiklah—" Kata pria itu dengan terpaksa. Mata jernih Minato menatap sosok Fugaku yang memasuki dapur, sedikit geli melihat sikap ramah namun terkesan dingin dari sosok seorang pria Uchiha. Ah—mungkin Minato ingin melihat sosok lain dari Fugaku sendiri. Misalnya saja cara senyumnya, seringainya atau cara dia menggoda.
PRANG!—Suara piring pecah membuat tubuh Minato menegak.
"Fugaku? Ada apa?" Seru Minato yang berjalan khawatir ke arah dapur. Langkahnya terhenti ketika melihat Fugaku tenggelam dalam tepung putih yang mengotori wajahnya. Sedikit menahan gelak tawa, Minato bergerak ke arahnya untuk membantu pria itu membersihkan diri.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan sih?" Tanya Minato penasaran. Fugaku hanya diam, berusaha menyembunyikan rona merah dari rasa malunya, dan ternyata cukup berhasil melihat dia tetap memasang wajah stoic-nya.
"Aku hanya ingin mencoba membuat kue. Soalnya cemilan di kulkas tidak ada. Tetapi ternyata, aku malah menumpahkan tepungnya. " Jawab Fugaku lagi dengan nada seolah-olah berbisik, sebab dia sangat malu harus memberitahu pria pirang itu kejadian sebenarnya. Minato bahkan harus menutup mulutnya agar tidak memekik girang seraya berteriak 'IMUTNYA!'.
Minato berdehem pelan, mencoba menahan rasa ingin memeluk beruang besar yang imut namun berbahaya seperti Fugaku ini, "Kalau begitu, biar aku saja yang membuatkan kue untukmu, oke?"
Fugaku menatap Minato kaget, "Tidak perlu. Tidak usah." Tolaknya secara halus.
"Sudahlah—tidak apa-apa. Duduk dan tunggulah di meja makan." Tunjuk Minato pada kursi yang ada disampingnya. Fugaku terlihat enggan namun akhirnya menuruti keinginan sang editor yang merangkap menjadi koki dadakan itu.
Minato mengambil celemek yang ada di salah satu lemari dapur kemudian memakainya dengan cepat. Tangannya bergerak lincah untuk mengambil beberapa butir telur dan segelas air. Tepung yang tersisa diambil untuk di kocoknya dalam sebuah mangkuk besar yang sudah diberi gula dan sedikit pengembang kue.
Fugaku yang duduk dimeja bahkan harus tercengang melihat kegesitan dan kelincahan pria manis itu. Bergerak kesana, mengocok adonan, bergerak lagi kesini, mengukur takaran adonan. Astaga—Minato bahkan mengalahkan koki paling handal di kota ini. Hingga—
BRAK!—Tanpa sengaja Minato jatuh terguling saat kakinya tidak sengaja tersenggol sisi meja. Mangkuk adonan melayang diudara selama beberapa detik kemudian meluncur cepat di kepalanya. Membuat cairan lengket putih itu jatuh di wajah dan menciprati baju serta celemeknya.
Fugaku yang kaget langsung bergerak untuk membantu Minato berdiri. Tubuh pria pirang itu gemetaran dan tangannya terkepal di kedua sisi.
"Minato—?" Tanya Fugaku heran melihat kondisi pria itu yang aneh.
Minato tidak merespon ataupun menjawab, dengan sedikit khawatir Fugaku menarik dagu pria itu untuk memandang wajahnya.
Fugaku terdiam kaku ketika melihat wajah Minato. Matanya terlihat sedih dengan airmata siap tumpah, bibir digigit untuk menahan isak tangis dan tatapan 'aku-gagal-buat-kue-maafkan-aku' yang terpancar dari pandangannya, membuat Fugaku harus menahan degup jantungnya yang langsung terpompa lebih cepat.
Fugaku mengalihkan pandangannya dari pandangan Minato, badannya bergetar menahan hasrat ingin memeluk kucing manis dihadapannya ini.
"Fugaku—" Panggil Minato lirih, "—kuenya gagal." Sambungnya yang menunduk penuh sesal. Fugaku tidak tahu harus melakukan apa selain tersenyum tipis.
"Ya—tidak apa-apa." Jawab pria Uchiha itu tenang.
"Maaf—" kali ini suara Minato semakin lirih dan penuh rasa menyesal.
"Sudah kubilang, tidak apa-apa Mina—" Ucapan Fugaku terhenti saat melirik Minato yang terisak dalam diam. Oh astaga—jangan menangis, aku sangat tidak tahan melihat orang yang menangis, jerit Fugaku dalam hati.
Pria Uchiha itu mengelus wajah Minato kemudian mendekatkan bibirnya untuk menjilat pipi kenyal sang Namikaze. Kelakuan sang tuan rumah sontak membuat Minato kaget dengan wajah memerah.
"Fu—Fugaku?" Ucap Minato pelan. Yang dipanggil hanya tersenyum tipis.
"Manis. Adonan buatanmu manis." Jawab Fugaku yang langsung membuat Minato hampir menghantamkan kepalanya ke tembok karena girang.
"Te—terima kasih." Balas Minato yang berusaha menyembunyikan rasa panas di wajahnya.
"Boleh aku menjilatnya lagi?" Pinta Fugaku yang mendapat tatapan terkejut dari sang Namikaze.
"Ja—jangan! Adonannya kotor."
"Tidak apa-apa. Aku suka adonan kue buatanmu. Boleh kan?" paksa Fugaku lagi yang mulai mencondongkan tubuhnya ke arah pria pirang dihadapannya.
Belum sempat Minato menjawab, sebuah jilatan langsung mampir di keningnya dan kelopak matanya. Pria manis itu harus menahan getar tubuhnya saat hembusan napas Fugaku menyentuh kulit wajahnya.
"Fuga—Hmmphhh—" protesan Minato terhenti saat bibirnya dijilat dan dihisap oleh mulut sang pria Uchiha.
"Kau—manis." Pujian singkat dari Fugaku sanggup melelehkan jantung dan organ dalam tubuh Minato. Rasanya dia rela diperlakukan apapun juga oleh pria berambut gelap dihadapannya ini.
"Bajumu kotor Minato. Kita lepas saja ya?" Tawar Fugaku yang entah kenapa langsung disetujui oleh Minato. Pria pirang itu seperti terhipnotis oleh kelembutan dan suara bariton berat pemilik onyx.
Minato melepaskan celemeknya kemudian membuka kancing kemejanya satu persatu. Sedangkan bibirnya terus dibuat nyaman oleh hisapan lembut sang Uchiha. Tangan Fugaku merayap menuju leher Minato dan menariknya untuk memberi sebuah pagutan yang lebih panas. Jari Fugaku yang lain, menggerayangi bagian bawah Minato untuk melepas celana panjang sang Namikaze.
"Fugaku—aku malu." Kata Minato lirih sambil menutupi bagian bawah tubuhnya yang telanjang sempurna. Dan itu makin membuat tubuh Fugaku memanas karena nafsu.
"Tidak apa-apa." Sahut Fugaku lembut seraya memberi kecupan singkat dikening Minato, "Kita akan membuat kue dengan caraku sendiri." Lanjutnya yang membuat Minato bingung.
"Kue?—" Tanya Minato tidak yakin. Fugaku hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Ya—sekarang kau berbaring di atas meja." Tunjuk Fugaku pada meja makan dihadapan mereka. Pria pirang itu menurut dan tidur diatas bidang datar itu tanpa banyak protes.
Fugaku mengambil beberapa adonan yang tercecer dan melumurinya di atas tubuh Minato. Suara erangan dan dengusan terdengar dari bibir pria pirang didepannya saat tangan Fugaku mengelus area bawah tubuhnya dengan lembut.
"Kau suka?" Goda Fugaku sambil mencium bibir Minato.
"Hmphh—suka—mhhphh—" Tangan Minato menarik kerah hakama sang Uchiha untuk memberi kenikmatan lebih padanya. Fugaku menurut dan kembali mencumbui bibir manis itu dengan lebih intens.
Tangan Fugaku menggenggam erat benda keras milik Minato yang berdenyut. Membuat tubuh putih kecil itu tersentak kebelakang dengan punggung yang melengkung. Lenguhan kembali terdengar saat Fugaku mengocok batang kejantanan Minato dengan cepat.
"Ahhh—Fugaku—Hgghhh—" Tubuh Minato bergetar hebat. Dia tidak pernah merasakan nikmat seperti ini sejak Kushina meninggal. Dan Fugaku bisa memberi kenikmatan yang melebihi istrinya.
"Suka?" Tanya Fugaku yang mendapat anggukan pelan dari sang penerima. "Kalau begitu, kita akan mulai dari resep yang pertama." Ucap Fugaku misterius. Minato meliriknya bingung.
"Resep? Memangnya kau ingin membuat apa?"
"Kau akan tahu. Sekarang berbaliklah dan taruh kedua lututmu diatas meja." Jelas Fugaku sambil membantu Minato berbalik dan menyuruh tubuh itu untuk merangkak layaknya bayi.
"Begini?" Tanya Minato yang disambut anggukan kecil dari sang Uchiha.
"Pintar. Sekarang biarkan aku memerah 'susu' nya."
"A—Apa?! Su—Ahhkkk!" Belum sempat Minato protes, Fugaku sudah terlebih dahulu menyentuh batang kejantanan Minato kemudian mengocoknya dengan sangat cepat dan keras. Membuat bunyi becek yang terdengar di dapur yang sepi itu. Fugaku menyeringai.
"Ah—susunya belum keluar juga. Mungkin sedikit perahan yang sangat keras?" Goda Fugaku dengan senyum tipisnya.
"Ahhkk!—Fugaku—Ahhhk—penisku—Stop—ahhkk!" Minato mencengkram meja lebih keras. Tubuhnya tersentak beberapa kali saat Fugaku 'memerah' batang kejantanannya makin keras. Tubuhnya bergetar hebat, sedangkan mulutnya terbuka dengan air liur yang terus menetes dari ujung lidah. Matanya terbalik dengan penuh kenikmatan.
Fugaku yang melihat hanya menyeringai senang. Dia semakin mengocok penis Minato dengan cepat—dan semakin cepat. Membuat sang Namikaze terengah-engah kehabisan napas.
"Hgghh—Fugaku—Agghh! Perah aku lagi!—Ahhhhkk—Enak—" Racau Minato yang tidak tahan menerima sengatan kenikmatan di bagian penisnya. Batang kemaluannya berdenyut saat suara becek itu semakin terdengar makin keras.
Fugaku merasakan bahwa batang kejantanan Minato berkedut-kedut ditangannya siap menembakkan lahar putih. Sang Uchiha menyeringai.
"Ah—sepertinya susunya akan segera keluar." Ucap Fugaku lagi.
"Ahhhkk!—Keluar—Hgghhh—Susunya keluar! Ahhhhkk!" Tubuh Minato mengejang, dia melebarkan kakinya dan siap menembakkan sperma miliknya ke atas meja. "Agghhh!—" Erangannya membuat sentakan cairan lahar putih terciprat di sisi meja dan tangan Fugaku. Tubuhnya tersengal-sengal kemudian jatuh di atas meja.
Fugaku menjilat sperma Minato di telapak tangannya lalu menyeringai, "Adonannya masih belum selesai. Kita harus mengocoknya dulu." Kata Fugaku yang membuat mata Minato melebar.
Seperti mengerti maksud dari perkataan sang Uchiha, Minato menatapnya dengan terbelalak, "Fugaku jangan—" pria pirang itu berusaha beringsut dari meja, tetapi kakinya ditahan oleh tangan Fugaku. Pria berambut gelap itu tersenyum.
"Jangan lari—" Fugaku membuka celananya, "—kita harus membuat 'kue' sampai selesai." Sambungnya lagi dengan batang kejantanannya yang sudah berdiri menantang.
Minato meneguk air liurnya. Tubuh sempurna dihadapannya membuat pria pirang itu pasrah ketika Fugaku membalikkan tubuhnya untuk telentang di atas meja. Pahanya dibuka lebar dan lubang bagian bawahnya disentuh oleh Fugaku.
"Fugaku—Hngghhh—" Tubuh Minato menggeliat pelan ketika jari sang dominan menyeruak masuk ke dalam lubangnya.
"Bagaimana? Enak?" Goda Fugaku sambil mengecup wajah Minato yang sangat sensual.
"Enak—Ahhh—Ahhh—" Tubuh pria itu kembali tersentak saat jari-jari nakal Fugaku menyentuh prostat miliknya.
Fugaku bersiul takjub saat batang kejantanan Minato kembali berdiri dengan gagahnya. Dia menjilat bibirnya senang.
"Sepertinya kita sudah memiliki 'susu'—" Fugaku menyentuh ujung penis Minato, "—dan 'dua telur'—" Jari Fugaku bergerak untuk mencengkram dua buah bola dibawah kejantanan sang Namikaze, "—kalau begitu, kita tinggal mengocoknya." Fugaku menyeringai senang sambil mengelus lubang anal Minato.
Fugaku memposisikan kejantanannya di depan lubang Minato, kemudian memasukkan miliknya secara perlahan. Minato mengerang keras ketika merasa bagian tubuh bawahnya dirobek secara paksa.
"Fugaku—Ahhhkk! Stop!—Ahhh—"
"Tidak akan. Aku ingin membuat kue." Jawab Fugaku sambil kembali mendorong kejantannya untuk masuk ke lubang kenikmatan itu kemudian mendiamkannya sebentar disana. Setelah tubuh Minato tenang, Fugaku kembali mendorong miliknya hingga sang Namikaze tersentak kaget.
"Fuga—Ahhhkk—" Minato merasakan Fugaku bergerak maju-mundur dibawah tubuhnya. Dorongan dan hentakan. Kali ini Minato harus menahan air matanya yang siap tumpah ketika rasa perih menjalar dari bagian analnya.
"Kau suka Minato? Ahhh—aku ingin mengocokmu lebih cepat lagi." Ucap Fugaku sambil terus menyodok bagian lubang virgin itu dengan keras.
Minato tidak sanggup berontak. Tubuhnya pasrah dan menerima sodokan penuh nafsu sang pendominan. punggungnya melengkung ke atas ketika rasa nikmat menghajar prostatnya. Dia mengerang pelan, melenguh kecil dan bernapas pendek-pendek. Minato tidak sanggup menerima semua kenikmatan sakit ini. Tubuhnya lemah.
"Minato—ahhh—tetap sadar. Jangan pingsan." Pinta Fugaku yang memeganggi pinggang pria itu kemudian mengocok lubangnya semakin cepat. Tubuh Minato terhentak berkali-kali. Mulutnya terbuka dengan saliva yang menetes. Matanya terbalik nikmat dengan air mata. Ah—betapa Fugaku menyukai wajah penuh keerotisan dan nafsu itu.
"Fhugha—Nikhmat—Ahhhh—Ahhh—" Erang Minato yang membiarkan tubuhnya tersentak karena lubangnya dihajar penis Fugaku dengan kasar dan cepat.
"Ahkk—Minato—Ahhh—Aku tidak tahan—" Fugaku mengangkat pinggang Minato. Membuat tubuh kecil itu melengkung ke atas dengan tangan yang terkulai di meja. Dia tidak sanggup berpegangan lagi dan membiarkan tubuhnya di gagahi oleh Fugaku yang memperlakukannya layaknya mainan sex.
"Mina—Agghhh!—" Otot perut Fugaku mengejang, penisnya tersentak beberapa kali kemudian menyemprotkan cairan putihnya di dalam tubuh Minato. Sedangkan Minato sendiri, menggigit bibirnya ketika rasa nikmat hampir memuncak. Kaki sang Namikaze terbuka lebar, napasnya tersengal-sengal kemudian—
"AARGHHH!—" Minato berteriak keras saat tubuhnya gemetaran dan mengejang ketika rasa panas cairan putih mulai tumpah dari ujung batang kejantanannya. Terciprat di wajahnya yang erotis.
Minato menjilat spermanya sendiri yang ada di pinggir bibirnya.
Senyuman Minato membuat Fugaku hampir menyeringai senang.
Ah—mungkin Fugaku akan dikutuk Tuhan karena membuat pria polos dihadapannya ini menjadi lebih erotis dibandingkan seorang—pelacur.
.
.
.
_Konoha Gakuen, Pukul 02.00 Siang_
Naruto berlari tidak tentu arah untuk mencari sang bungsu Uchiha. Mata birunya berusaha mencari sosok angkuh itu di seluruh penjuru sekolah. Derap langkahnya terus menggema di lorong koridor kelas. Sesekali dia mengumpat kesal saat orang lain mengganggu jalannya.
Naruto mencari Sasuke dikerumunan kantin. Nihil! Di perpustakaan—tidak ada! Di ruang Uks—tetap tidak kelihatan!
Hampir saja pemuda pirang itu menyerah dan memilih kembali ke kelas saat tanpa sengaja, matanya tertumbuk pada sesosok bayangan Sasuke di dekat tangga.
Pemuda raven itu berdiri disana dalam diam.
Naruto menampilkan senyum lebarnya, ia berlari untuk menemui sang pemikat hatinya. Cowok pirang itu juga berencana untuk menyatakan cintanya pada Sasuke. Sekarang. Dan saat ini juga. Persetan dengan Itachi!—yang ada di otaknya hanya Sasuke. Sasuke. Dan Sasuke.
"SASUKE!—" Naruto memanggil penuh semangat. Pemuda raven itu menoleh sebentar. Matanya tidak menunjukkan sinar terangnya, hanya tatapan sayu dan sendu.
Naruto memperlambat larinya karena bingung. Ada apa? Kenapa? Pikirnya dalam hati. Apakah Sasuke masih marah padaku? Atau...
Lalu detik selanjutnya, Sapphire nya terbelalak kaget ketika melihat seorang pemuda yang merangkul bahu Sasuke penuh kemesraan.
Pemuda itu ikut memandang ke arah Naruto dan melambai girang, "Hoi Naruto!—Sepupu kesayanganku! Sekarang aku pindah ke sekolah ini!" Teriaknya antusias.
Naruto membelalakan matanya, "Ku—Kurama?!"
Pemuda yang dipanggil Kurama hanya terkekeh kecil sambil menggaruk rambut merah terangnya. "Yooo!—sekarang aku punya pacar." Tunjuk Kurama pada Sasuke. Sedangkan orang yang ditunjuk hanya terkejut dan tidak menyangka bahwa orang yang ditembaknya merupakan 'sepupu' dari Naruto. Entah kesialan atau keberuntungan, yang pasti Sasuke ingin Naruto mengakuinya bahwa dia juga bisa punya pacar.
"Dia menembakku beberapa menit yang lalu, dan aku menerimanya." Ucapnya lagi tanpa melihat keterkejutan di mata sang Sapphire.
"Lagipula, cowok ini cantik." Lanjut Kurama sambil mencium pipi Sasuke. Pemuda raven itu menunduk saja.
Naruto terhenyak kaget. Apa dia salah dengar? Tadi Kurama bilang apa?
"Kau mencintaiku kan, Sasuke?" tanya Kurama penuh nada menggoda yang ditanggapi Sasuke dengan anggukan pelan.
Apa?—mencintai?—Naruto yakin telinganya memang salah dengar. Bagaimana bisa dua orang yang baru bertemu langsung mengatakan 'cinta'? Mustahil!—Kurama dan Sasuke pasti bercanda.
Sasuke mendongak menatap Naruto tajam. Bukan tatapan angkuh dan marah. Melainkan hanya tatapan—terluka?
"Ya—Aku mencintai Kurama dan sekarang pacaran dengannya." Ucap Sasuke tegas dengan nada getir yang disembunyikannya.
.
Naruto terdiam kaku. Tubuhnya seakan-akan dipahat oleh batu keras. Pikirannya menghitam karena shock. Kemudian mulutnya terbuka perlahan. "Sasuke—" pemuda pirang itu memanggil dengan nada lirih dan parau.
.
"Selamat ya—" Naruto memaksa senyum tipis di bibir getirnya.
.
Selamat, karena kau sudah berhasil menghancurkanku—
.
—Terima kasih banyak, Sasuke.
.
.
.
TBC
.
Ok! Aneh?—Yup Sangat Aneh! Maafkan author ababil ini *bungkuk sedalam-dalamnya*
Ohohohoho—Kali ini Kurama akan membuat hidup mereka semakin complicated. Well, untuk chap ini hanya ada lemon FugaMina. Chap depan lemon siapa ya? Muahahahaha *tawa keji* (author dibantai masa #Tabok)
.
RnR Please ^^
.
Special Thanks: Yama-chan Naru-S, uki si lily putih, Nitya-chan, RichiMichi , Subaru Abe, pingki954, yuufujoshi, ash, NaruSasuNaruMina, yhanie tea 5, MORPH, Black LIly, GanymedeSeth, Lumina Lulison, Naarusuke, lopheu, Nia Yuuki, Aicinta, amidesu, Viviandra Phanthom, yuharu kouji, Ottobre II, Collin Blown a.k.a AnakYunJae, yume edogawa, Akasaka Kirachiha, BakaFujo, dan semua yang udah baca n review. ^^
uki si lily putih, Nitya-chan, RichiMichi , Subaru Abe, pingki954, yuufujoshi, ash, NaruSasuNaruMina, yhanie tea 5, MORPH, Black LIly, GanymedeSeth, Lumina Lulison, Naarusuke, lopheu, Nia Yuuki, Aicinta, amidesu, Viviandra Phanthom, yuharu kouji, Ottobre II, Collin Blown a.k.a AnakYunJae, yume edogawa, Akasaka Kirachiha, BakaFujo
