Chuck, Chuck, Chuck,
Satu kata untukmu, sweetheart: nekat
You know you love me
XO XO
Gossip Girl
-3-
Stolen Kiss
Sosok tinggi tegap itu diam termangu di kegelapan. Sorot mata coklat tuanya terfokus pada gadis yang kini tengah terbaring di hadapannya, tertidur dengan lelap. Dengan jarak hanya beberapa senti dari ranjang gadis tersebut, memudahkan sosok itu untuk lebih leluasa menyelami kegiatannya—mengamati sang gadis yang tengah tertidur. Ini menjadi kebiasaan rutinnya semenjak menginjakkan kaki di Manhattan. Mengamati sang Putri—
Blair.
Entah sudah berapa lama Chuck Bass terdiam di posisinya tanpa berniat melakukan hal lain. Ini malam keduanya mendatangi kamar Blair, dan ia yakin malam-malam selanjutnya pun akan ia lalui dengan cara serupa—mengamati Blair dalam diam. Kegelapan malam menyembunyikan sosoknya, perisai tersebutlah yang membuatnya lebih rileks dalam melakoni aksi ilegal seperti ini.
Kemarin Blair berhasil mengkonfrontasinya atas perbuatannya ini—salah Chuck juga sebenarnya karena meninggalkan jejak nyata berupa seikat mawar putih. Tapi itu tak membuat sang Pangeran Plaza jera, ia masih tetap nekat mendatangi kamar tidur sang putri. Area pribadi Blair yang selama ini tak sembarang orang pernah menjamahnya.
Pintu kamarnya saja dijaga oleh dua pengawal. Chuck masuk lewat jendela, asal tahu saja.
Ia mempertaruhkan nyawa dan harga dirinya dengan melompat dari jendela satu ke jendela lain hanya demi mencapai kamar Blair. Bahkan resiko terpeleset dan jatuh hingga mati rela Chuck ambil. Hanya demi satu tujuan; mengamati Blair.
Well, Blair itu beda. Dari awal melihatnya, Chuck sudah tahu bahwa Putri Manhattan ini berbeda dari gadis yang lain. Berbeda dengan gadis-gadis mainannya selama ini, gadis-gadis murahan yang berlomba-lomba mencari perhatiannya hanya agar bisa tidur dengannya. Memuakkan.
Tapi Blair tidak seperti itu. Dengan segala keangkuhan yang dimiliki anggota kerajaan, sang Putri memandangnya. Ia tidak bereaksi norak seperti gadis-gadis Plaza pada umumnya, Blair terlihat tak tersentuh tangan. Berada di zona yang berbeda dengan Chuck, membuatnya sulit sekali untuk meraihnya.
Walau penolakan sudah jelas sang putri tunjukkan, tapi Chuck tak peduli. Ini pertama kalinya ada seorang gadis terang-terangan mengatakan membencinya, ini pertama kalinya seorang gadis tidak bertekuk lutut setelah ia merayunya.
Blair itu beda.
Hal itulah yang membuat Chuck semakin penasaran.
Ia adalah laki-laki, sudah kodratnya jika tertarik dengan seorang gadis. Terlebih gadis itu kini tengah tertidur hanya beberapa senti darinya. Godaan untuk menyentuhnya pasti ada. Merengkuh Blair ke pelukannya, merasakan tiap inci tubuh gadis itu, mencumbunya—itu yang selama ini terus berkecamuk dalam pikiran Chuck.
Tapi selama ini ia cukup kuat untuk menahan segala hasrat dan godaan itu. Hingga kemudian terdengar—
"Nate...Nate..."
Chuck membeku seketika. Ia sama sekali tak mempercayai pendengarannya saat ini. Blair mengigau memanggil nama Nate di tidurnya! Darah Chuck langsung berdesir. Perasaan aneh yang sama sekali tak bisa dijelaskan mendadak menjalar di tubuhnya. Tidak terima, sebut saja begitu.
Ia yang ada di sini. Ia yang selama ini menemani Blair di tidurnya. Ia yang selalu memperhatikan Blair. Tapi kenapa justru nama Nate yang terucap dari mulut Blair dan bukannya Chuck!
Sambil mengepalkan tangannya menahan rasa cemburu absurd yang membakar tubuhnya, Chuck dengan kaku berjalan mendekati ranjang. Pandangan dinginnya menatap sosok yang tengah terbaring tak berdaya di tempat tidur. Wajah Blair terlihat sangat tenang dan damai, tidurnya pasti lelap sekali—dan mimpi indah pastinya.
Memimpikan Nate.
Chuck kembali meradang tanpa suara.
"Aku," Desisnya, membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke telinga sang Putri. "Aku yang kini berada di sampingmu, menjagamu, mengamatimu—bukan dia!" Tangannya tak kuasa ia hentikkan untuk bergerak menyentuh lembut rambut Blair. "Jangan sebut namanya, sebut namaku!"
Dan dengan didorong amarah serta hasrat yang tak bisa ia tahan, Chuck menempelkan bibirnya pada bibir merah merekah Blair. Menekannya dengan lembut. Peduli amat bila Blair terbangun dengan aksi nekatnya ini, ia hanya tidak terima dikalahkan. Dikalahkan oleh Nate!
.
.
Blair terbangun di pagi hari dengan kepala pusing.
Semalam ia bermimpi indah, bermimpi tentang Nate. Ya, bagi Blair memimpikan Pangeran Archibald itu jelas dikategorikan sebagai mimpi indah penghias tidur. Mengingat mimpinya semalam membuat Blair tersenyum kecil, betapa indah saat itu.
Tapi mendadak, Blair menyentuh ujung bibirnya. Dan tiba-tiba ia diserang perasaan aneh. Ada yang menciumnya semalam, ia yakin itu. Blair belum pernah berciuman dengan pria manapun, tapi entah kenapa ia bisa merasakan bahwa tadi malam memang ada seseorang yang menciumnya di saat ia tidur.
Tapi siapa?
Dan sosok Nate langsung terbayang di pikiran Blair.
Ia memimpikan Nate semalam, dan semalam juga lah ia yakin ada seseorang yang mencuri ciuman pertamanya. Jadi, jika dihubung-hubungkan maka berdasar analisisnya, Nate lah sosok yang menciumnya malam itu.
Wajah Blair merah padam.
.
.
"Kau kenapa, Chuck? Tampangmu suntuk sekali,"
Teguran Nate dibalas dengan tatapan dingin oleh Chuck. Suasana di ruang makan pagi ini terasa sangat panas sekali dan kental dengan aroma permusuhan yang secara nyata terang-terangan ditunjukkan Chuck. Ia masih marah, jelas.
"Bukan urusanmu, Archibald." Balas Pangeran Plaza itu dingin. Nate bisa dibilang adalah sahabatnya selama ini, tapi jika sudah menyangkut tentang Blair—pemuda di hadapannya ini jelas adalah ancaman terbesar.
Nate menanggapi balasan kasar Chuck dengan santai. "Kenapa sih? Sensitif amat." Gelaknya. Lalu sambil menggelengkan kepala geli, Nate kembali menyantap sarapannya. Ia sudah seumur hidup mengenal Chuck dan menjadi sahabatnya, tingkah uring-uringan seperti ini bukan pertama Nate lihat.
Chuck kembali mendengus. Repot juga bila berlama-lama marah dengan Nate, bagaimanapun juga Pangeran Upper East Side itu adalah sahabatnya, teman satu-satunya. Jadi, Chuck akhirnya menyerah juga dengan keputusannya untuk mendiamkan Nate seharian ini. "Aku sedang kesal," Ujarnya.
"Oh, itu sudah jelas."
"Kesal padamu."
Nate mengangkat alis mendengar lanjutan ucapan Chuck. Chuck jarang marah padanya. Sesekali pertengkaran antar lelaki sering sih mereka lakukan, tapi hanya sebatas itu. Hari ini tonjok-tonjokkan, esoknya sudah kembali tertawa bersama. Marah yang benar-benar marah belum pernah terjadi. "Kenapa kau kesal padaku?" tanya Nate hati-hati.
Karena Blair menyukaimu, dan bukannya aku! Itu yang ingin Chuck ucapkan, tapi ia hanya menahannya di ujung lidah. Dan menggantinya dengan ucapan lain, "Karena kau menjengkelkan!"
Nate memutar matanya, "C'mon, Chuck, bicaramu berputar-putar terus. Apa intinya?"
"Intinya adalah; aku marah padamu, Nathaniel!"
"Dan apa alasannya, Charles?"
Mereka berdua saling menatap tajam, melotot. Chuck memandang Nate dengan tatapan dingin, Nate balik memandangnya dengan sorot ingin tahu. Akhirnya, ketimbang menjawab pertanyaan Nate—yang tak mungkin ia jawab—Chuck memutuskan beranjak dari kursinya. Sarapannya belum habis, tapi mendadak ia kehilangan nafsu makan.
"Jauhi saja aku, oke?"
Dan Pangeran Plaza itu segera meninggalkan ruang makan.
.
.
Serena memandang Blair dengan wajah terkejut luar biasa. "A-apa kau bilang? Semalam Nate menciummu?" Ulangnya tak percaya.
Blair menganggukkan kepalanya dengan wajah gembira. "Yeah, S, Nate menciumku...," Terlihat sekali sinar bahagia terpancar di air mukanya.
Serena sudah seumur hidup bersahabat dengan sang putri, dan selama ini ia tak pernah meragukan kebenaran yang disampaikan Blair padanya. Tapi kini, saat ini—ketika Blair mengatakan bahwa Nate tadi malam memasuki kamarnya dan menciumnya—rasanya itu terasa sangat... mengada-ngada.
Ukh.
"Well," Serena memulai, masih dengan rasa heran yang belum hilang. "Kau benar-benar yakin? Maksudku, mungkin saja itu hanya—err mimpimu." Kelihatan sekali Serena benar-benar mencoba mengatakan teorinya itu dengan hati-hati. Takut bila memikirkan kemungkinan Blair tersinggung dan malah berbalik ngambek dengannya.
Nanti kan Serena juga yang repot.
Benar saja, sinar-sinar gembira di wajah Blair langsung meredup begitu mendengar lanjutan perkataan Serena. Blair melipat tangannya di dada, ia menatap Lady Van der Woodsen itu dengan ekspresi sebal. "Enak saja, aku yakin dengan pasti semalam memang ada seseorang yang menciumku!" tandas Putri Manhattan itu penuh determinasi, "Dan itu jelas bukan mimpi!"
Serena meringis, memasang ekspresi permohonan maaf. "Tapi apa memang yang menciummu itu Nate?" tanyanya. "Kau melihatnya memasuki kamarmu?"
"Tidak, sih," gumam Blair lambat. Tapi kemudian nada suaranya berubah cepat, "Tapi aku yakin itu dia! Memangnya siapa lagi?"
Serena mengangkat bahu. "Entahlah, B, menyusup ke kamar seorang putri dan menciumnya diam-diam tidak terdengar sangat-Nate-sekali. Mungkin saja itu orang lain—" Serena diam sejenak, memikirkan lanjutannya, "—hmm, yang lebih nekat, mungkin?"
Putri Manhattan itu mengerutkan kening mendengar teori lain yang diungkapkan Serena. Memang, Blair rasanya cepat sekali berasumsi bahwa Nate lah orang yang menciumnya semalam. Tapi jika dipikir-pikir dengan akal sehat—bukan dengan hatinya yang memang sudah kelwat berharap bahwa itu Nate—pemuda gentle macam Nate mana mungkin melakukan hal-hal yang melanggar aturan seperti masuk ke kamarnya diam-diam.
Prince Charming macam Nate jika memang ingin menciumnya untuk apa harus menunggu Blair tidur dahulu? Akan lebih romantis jika itu dilakukan di saat Blair sadar, bukan?
Yeah, kecuali jika orang yang menciumnya adalah orang yang nekat. Seperti, Ch—NOO, tidak! Bukan dia! Berpikir bahwa pemuda yang menciumnya adalah si begundal pun tidak boleh! Walau menyusup dan menguntit memang terdengar sangat-Chuck-sekali, tetap saja Blair tidak terima jika ciuman pertamanya harus direbut Pangeran Plaza bajingan itu!
"Blair?" Serena mengibaskan tangannya tepat di hadapan sang putri. Merasa bingung melihat Blair yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Blair tersadar. Maniknya menatap Serena, lalu berucap. "Kurasa—aku perlu mencari udara segar."
.
.
Dan Humphrey berjalan malas menelusuri halaman White Palace.
Serius, agenda yang ia lakukan sejak tiga hari terakhir setelah menginjakkan kaki di Manhattan rasanya hanya berjalan-jalan tak tentu arah. Jujur saja, ia tidak pandai berbaur dengan masyarakat di sini. Apalagi berniat melakukan pendekatan pada sang putri seperti yang gencar dilakukan pangerna lain. Noes, sayang sekali Dan tidak tertarik.
Pertama, alasannya berada di Manhattan hanya demi melaksakan tugas negara. Kedua, Blair bukan tipenya.
Ayahnya berpikir, jika Dan dan Blair menikah, maka Brooklyn pun akan tertolong dari keterpurukan krisis moneter. Jadi bisa dibilang Dan itu tumbal. Silahkan, kalian bisa mentertawakan nasib sialnya, kok. Dipaksa untuk memikat hati gadis yang bahkan tidak ia cintai—Dan juga ragu jika Blair ada rasa dengannya—hanya untuk menyelamatkan kerajaan, kurang tragis apa coba nasibnya?
Tapi sebagai Putra Mahkota—calon Raja Brooklyn—sudah sewajarnya kepentingan kerajaan di atas kepentingan pribadi, bukan?
"Ck," ia berdecak sebal sambil menendang batu dengan keras. Bosan, sumpah!
"Ouch!"
Dan sukses kaget begitu mendengar rintihan seorang gadis. Ekspresinya makin pucat begitu tahu bahwa gadis itu sudah menjadi korban tendangan batunya. Dengan gugup, Pangeran Brooklyn itu berjalan mendekat.
"Ma-maaf, aku..." Terdiam, mengamati sejenak sosok itu. "...B-blair?"
Blair Waldorf menatapnya dengan angkuh, walau ekspresi kesakitan masih terekam jelas di wajahnya. Di saat ingin menenangkan pikiran dari kemungkinan bahwa Chuck adalah pemuda yang menciumnya, sekarang malah muncul pangeran lain yang menendang dirinya dengan batu!
Blair sedang sial atau bagaimana sebenarnya?
"Aku tahu kampung halamanmu adalah kerajaan yang hobi berperang, tapi apa perlu di kerajaanku yang damai ini kau seenaknya main tendang batu dan mengenai orang, hm?" Blair berbicara dengan nada sarkastis. Maniknya menatap tajam entitas bertitel Humphrey itu.
Dan meringis, ia sudah belajar untuk tidak mudah terprovokasi oleh lawan—bahkan yang memiliki mulut sepedas Blair. "Maaf, salahku. Tidak sengaja."
Blair membuang muka. Ia sejujurnya mengharapkan pertengkaran—di saat mood sedang jelek begini jauh lebih mudah jika ia terlibat adu mulut dengan seseorang. Tapi Dan yang ia kira bisa menjadi teman bertengkar malah dengan gentle meminta maaf tanpa tersinggung dengan ucapannya.
Makin bad mood saja jadinya!
"Yeah, whatever~" balas Blair.
Dan bukan pemuda yang tidak peka, ia jelas bisa melihat sang putri sedang gundah. Maka mengikuti insting 'pangeran' miliknya, ia beranikan diri untuk duduk di samping Blair. "Ada sesuatu yang mengganggumu?"
Sang putri menoleh, tak menyangka Dan bisa peduli juga padanya. Karena sejauh yang Blair tahu, selama tiga hari terkahir ini Dan bisa dibilang sama sekali tak melakukan aksi yang bertujuan untuk mendekatinya—mendapatkan hatinya. Dan hanya cuek saja sambil mengamati dari jauh. Tapi sekarang—
"Aku hanya kecewa," Jauh lebih mudah mencurahkan isi hatinya dengan orang yang tidak ia kenal. "Aku merasa senang untuk hal yang bahkan tidak terjadi...,"
Dan mengangguk. Cukup melihat wajahnya saja ia sudah tahu bahwa Blair sedang kecewa. "Mau menceritakannya?"
Blair mendengus. "Terlalu memalukan! Kau pasti akan tertawa. Aku bahkan tidak menceritakannya pada Serena," aku Blair.
Pangeran Brooklyn itu tertawa kecil mendengarnya. "Oke, terserah." Ia bangkit dari posisi duduknya, berdiri dan bersiap melangkah. "Satu hal saja yang ingin kukatakan; jangan bersedih."
Dan setelah itu ia pergi begitu saja. Meninggalkan Blair seorang diri yang hanya bisa memandangnya takjub.
Untuk pertama kalinya, Blair bisa merasakan ketulusan Dan.
.
.
TBC
Hola :) akhirnya diapdet, yeey~ CB, NB dan DB sekaligus lhoo, ahay B-) saya jadi makin bingung mau berakhir dengan pairing apa -,- CB kan OTP saya, tapi NB kan manis banget tuh pas di season 1, trus DB juga imut-imut gimanaaa gitu =)) #halah
Review Reply:
J0e: sabar ya sayaaang, saya kan hidupnya gak cuma buat nulis fanfic -,- bisa ngapdet multichap aja udah syukur, kalo pendek ya maafkan saja ==' dan asal kamu tau, 5 bulan bisa apdet tuh udah cepet banget bagi saya. Ada fanfic saya yang udah setahun lebih dianggurin lho :)
Nyonyit: haha kenapa sama Dan emang :)) Dan keren tau~ emang rada culun sih, tapi karakternya menarik kok =))
Rasputin: Huwee, putin~ #peyukpeyuk kau bikin aku semangat lagi nih, makasih ya tayaang =)) yep DB udah tuh, dan lemon CB o.O err.. #plak :p
marLawaldorf: masalah pairing liat nanti aja ya, saya sendiri masih bingung nih ==' Serenate saya suka, Darena juga suka #jah
Niz Nessie Cullen: rikues ditampung, liat nanti aja deh jadinya gimana 8D #plak ho oh, di season 1 kan NB sweet banget ya -,- di season 2 rada ke akhir ada secuil NB lho =))
Yak, makasih yang udah ripyu chapter lalu. Bersedia ripyu lagi? Biar bikin saya semangat nerusin fic ini :)
