SUPPOSED

.

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

And OCs

.

ChanBaek (GS)

Drama, Romance, Hurt/Comfort

.

BACKSOUND: ACOUSTIC COLLABO - DON'T DO THAT (VERY RECOMMENDED)

.

.

DON'T LIKE DON'T READ!


Happy Reading!


.

Ada hal yang selalu Baekhyun yakini, bahwa tidak semua orang yang mempunyai kekayaan dan kuasa memiliki sifat arogan yang berlebihan sehingga membuat mereka bisa berlaku sesuka hati, meskipun ia dan Kyungsoo kerap kali mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari teman-teman sekolahnya yang kebanyakan dari mereka adalah anak-anak orang kaya. Ya, keyakinannya itu ia dapat dari sosok kecil berusia dua belas tahun yang tak pernah lekang dari benaknya selama tujuh tahun ini.

Bocah lelaki yang selalu ia anggap sebagai malaikat.

Pada awalnya Baekhyun yakin bahwa bocah lelaki itu akan tumbuh menjadi seseorang yang tetap berbeda, akan tetap menjadi sosok yang baik hati selayaknya malaikat bagi Baekhyun, sehingga membuatnya akan selalu mendapatkan tempat istimewa di hati gadis itu. Namun, keyakinannya itu kini terpatahkan. Baekhyun tidak tahu apa yang dilalui bocah lelaki itu sehingga kini ia tumbuh menjadi orang yang sangat berlawanan, sorot matanya tampak selalu mengerikan, seperti sebuah Blackhole yang telah menghisap seluruh kemarahan dan memendamnya di sana.

Tidak ada lagi suara dingin yang sebenarnya mengandung kehangatan. Tidak ada perlakuan sederhana namun terkesan begitu melindungi. Bahkan sosok yang pernah memayunginya ketika hujan itu kini seolah lenyap. Tergantikan oleh sosok yang begitu berbeda. Begitu asing. Begitu—

Jahat.

Mengapa demikian?

Baekhyun menatapnya dengan sorot dingin. Ia tahu, perlahan kebencian mulai tumbuh di dalam hatinya. Bukan tanpa alasan, jika lelaki di hadapannya tidak dengan kurang ajar menciumnya. Kini di mata gadis itu semua orang yang memiliki kuasa sama saja, mereka akan berperilaku seenaknya. Tidak ada lagi pengecualian.

Menyedihkan.

Aku membencimu.

Dan Baekhyun yakin tidak akan keberatan mengulang kalimat yang sama.

Gadis itu mengulurkan kedua kakinya ke lantai sebelum melangkah. Bungkam, ia meninggalkan ruang kesehatan tanpa berkata sedikitpun, meninggalkan Park Chanyeol yang siap memuntahkan seluruh amarahnya.

Lelaki itu memejamkan matanya sejenak, mengatur helaan napas yang kian memburu. Mengutuk dirinya sendiri atas apa yang ia perbuat sesaat lalu.

"Jadi benar dia gadis itu?"

Tangan Chanyeol perlahan mengepal kuat, tak perlu kemampuan khusus untuk tahu siapa pemilik suara itu. Tentu, Chanyeol sangat mengenal dengan baik suara bocah yang terlambat masuk pada hari pertama saat mereka menginjak sekolah menengah pertama, dulu.
Chanyeol selalu ingat ketika entah darimana bocah bernama Oh Sehun itu datang dan membantunya menghajar preman-preman jalanan yang sempat meminta uang Chanyeol ketika ia tengah berolahraga di malam hari. Seharusnya satu ucapan seperti 'Terimakasih' terlontar dari mulutnya saat itu, namun dengan angkuhnya Chanyeol berkata bahwa ia tidak membutuhkan bantuan, ia bisa menanganinya sendiri. Dan yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tak pernah ia duga-duga, sejak saat itu mereka sering bertemu dalam keadaan babak belur, entah itu karena preman dan seputar palak memalak, atau karena perkelahian sederhana antara anak muda. Hingga akhirnya tanpa keduanya ketahui siapa yang pertama memulai kebiasaan menyapa khas anak laki-laki dalam sebuah pertemanan, semua terjadi begitu saja, menjadi kawan sepermainan hingga menginjak tingkat pertama sekolah menengah keatas.

Hingga suatu hari, tidak seperti persahabatan mereka yang terjalin tanpa diketahui dengan jelas kapan awal mula dan penyebabnya, keretakan hubungan mereka memiliki penyebab yang menurut Chanyeol sangat masuk akal.

Dan Chanyeol semakin membenci gadis itu, semua seolah karenanya. Karena gadis itu.

Chanyeol berbalik, dilihatnya sosok Sehun yang tengah memangku tangan seraya menyandarkan punggung pada daun pintu, melempar tatapan itu, mencemooh. Dengan sangat jelas.

Chanyeol tidak menyahut sedikit pun pertanyaan Sehun, lelaki itu lebih memilih melangkahkan kakinya keluar, namun sesaat ia kembali terhenti.

"Bukankah kau sudah sangat keterlaluan, Park Chanyeol?"

"Aku rasa ini bukan pada tempatnya untuk kau mencampuri urusanku." Sahut Chanyeol dingin, kemudian melanjutkan langkahnya setelah menghela napas pelan.

Sehun mengangkat bahu. Ya, itu memang bukan urusannya. Seharusnya ia tetap pada perannya, sebagai Oh Sehun seperti sediakala. Dan mencampuri urusan orang lain yang sama sekali tidak ada kaitan dengannya bukanlah hal yang bagus.

Ya. Orang lain.

Terang saja, hubungannya dengan Chanyeol bukan lagi sepasang kawan dalam balutan seragam sekolah menengah pertama yang kerap kali membolos untuk sekedar menghisap beberapa batang rokok di atap gedung sekolah.

Kini tidak lagi sesederhana itu.

Semua mulai terasa rumit ketika apa yang Chanyeol utarakan tidak satu pemikiran dengan Sehun.

Berselisih paham tentang seorang gadis berwajah lugu yang ternyata adalah anak seseorang yang tak lain adalah pembunuh ayah kandung Chanyeol. Saat itu Sehun tidak setuju dengan niat balas dendam Chnayeol pada gadis itu yang dianggapnya sangat konyol, mengingat si pelaku pembunuhan sudah mendapatkan hukuman setimpal dan bahkan telah meninggal dunia. Bukankah itu sudah cukup? Lantas mengapa Park Chanyeol harus menyia-nyiakan waktunya untuk membalas dendam kepada gadis yang mungkin saja tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi?

Oh jangan salah paham, Sehun sangat setia kawan. Ayolah, meskipun nyaris setiap waktu yang mereka habiskan tak luput dari kelakuan-kelakuan nakal khas anak muda dan bahkan tidak pernah sekalipun dari merekan berdua melibatkan sisi lemah untuk berkeluh kesah tentang urusan pribadi, namun ada kalanya Sehun harus siap berperan sebagai seorang sahabat atau bahkan saudara yang lebih banyak mendengar daripada berbicara. Meskipun ia tipe orang yang tidak handal mengutarakan perasaan dan lebih memilih menemani Chanyeol minum hingga setengah mabuk sebagai bentuk kesetia kawanannya terhadap Chanyeol yang kala itu sangat terpukul mengetahui fakta tentang sang ayah.

Meski itu kali pertama dan terakhir Chanyeol menunjukan sisi lemahnya dalam sebuah keluh kesah.

Dan semua tak lagi sama, seolah ada sebuah benteng tinggi yang membuat jarak tak kasat mata antara kedunya setelah beradu argumen dan tidak menemui titik terang mengenai ambisi balas dendam Chanyeol yang lelaki itu utarakan dalam keadaan setengah mabuk, serta keyakinan Sehun bahwa balas dendam tidak akan mengubah apapun.

Marah. Merasa dikhianati. Chanyeol pun menghadiahi pukulan telak di rahang Sehun dan pula sebaliknya. Dan setelahnya Chanyeol yang pertama meninggalkan atap sekolah yang kala itu menjadi tempat untuk sarana membolos yang ia lakukan untuk terakhir kalinya bersama Sehun.

.

.


-Supposed-


.

Baekhyun masih saja terfokus pada selembar kertas dan pulpen di tangannya. Hebatnya, otaknya tidak berhenti berpikir untuk menemukan jawaban-jawaban dari soal ulangan yang ia kerjakan, meski pada kenyatannya nyaris seluruh pasang mata yang berada di kelas tertuju padanya. Memicing. Tajam. Seolah seperti puluhan belati yang siap menghujamnya secara bersamaan.

Namun yang menjadi pusat perhatian sama sekali tidak terkecoh, hingga beberapa menit kemudian ia bangkit, menyampirkan tasnya di punggung, berjalan menuju depan kelas dan menyerahkan lembar jawaban kepada guru.

Ia melirik sekilas pada Kyungsoo untuk sekedar izin meninggalkannya terlebih dahulu meski hanya dalam gestur mulut tak bersuara, namun ternyata respon yang ia dapat dari sahabatnya itu tidak pernah sekalipun terlintas di benaknya. Baekhyun tidak tahu jenis tatapan apa yang Kyungsoo lemparkan kepadanya, yang jelas ia menghempas jauh-jauh pikiran terburuk bahwa mungkin saja Kyungsoo sudah termakan gosip tentang dirinya, sehingga gadis bermata bulat itu menatapnya dengan tatapan marah.

Ahh, mungkin Kyungsoo sedikit kesulitan menjawab soal ulangan sehingga membuat suasana hatinya tidak bagus. Ya, Baekhyun yakin pasti itu alasannya.

Sadar tidak ingin membuang waktu percuma, Baekhyun mulai melangkahkan kakinya keluar kelas, ia berjalan di koridor sekolah yang tampak sepi, langkahnya terseret hati-hati karena sedari tadi seluruh tubuhnya seolah meneriakkan kesakitan yang teramat, sesekali ia meringis ketika luka memar di wajahnya kembali menyengat.

Oh, hari ini tidak bagus. Pikirnya kemudian.

Well, sebenarnya tidak pernah ada satu hari pun yang dirasanya sedikit bersahabat. Hanya saja, Baekhyun tidak ingin melebih-lebihkan kesehariannya yang terkadang tak pernah luput dari incaran orang-orang yang tidak menyukainya. Tentang bagaimana lokernya selalu di penuhi oleh sampah, atau mendadak buku-buku pelajarannya berubah menjadi sobekan kertas yang bertebaran di lantai, oh bahkan Baekhyun masih mengingat kejadian beberapa bulan lalu ketika ada yang memasukan bangkai tikus ke dalam tasnya. Dan semua itu ia lalui dengan berperan sebagai seseorang yang tak pernah mempermasalahkannya, sebab setidaknya ia memiliki Kyungsoo. Satu-satunya orang yang selalu dapat membuat keluh kesahnya menguap begitu dalam sekejap.

Namun hari ini, alasan itu seolah tidak berlaku. Pikiran Baekhyun terpusat pada satu titik, tatapan yang Kyungsoo lemparkan padanya ketika di kelas tadi perlahan mulai terasa mengganggu, bukan tanpa alasan jika ia tidak mengingat jenis tatapan itu.

Ya. Sebenarnya itu bukan pertama kalinya Kyungsoo menatap Baekhyun dengan sorot dingin menusuk, dulu hal tersebut pernah terjadi satu kalu saat keduanya menginjak bangku sekolah menengah pertama. Kala itu ada seorang pria paruh baya kaya raya yang telah menjadi donatur tetap di panti asuhan mereka, pria itu begitu menyukai Baekhyun dan Kyungsoo, sehingga tak jarang ketika ia mengunjungi panti asuhan selalu menghabiskan waktu bersama keduanya, sebenarnya itu adalah langkah untuk melakukan pendekatan karena ia menginginkan salah satu dari mereka untuk diadopsi, intensitas pertemuan ketiganya yang tak jarang sontak membuat Baekhyun dan Kyungsoo seolah menemukan sosok ayah, karena pria paruh baya itu begitu baik hati dan membuat mereka nyaman. Namun kedua gadis itu sadar bahwa sampai kapan pun janji yang mereka buat untuk selalu bersama-sama tidak boleh ternodai. Hingga suatu hari pria paruh baya itu datang mengunjungi panti, membawa hadiah yang ternyata sebuah boneka untuk Baekhyun karena sewaktu itu gadis tersebut memenangkan kejuaraan menyanyi antar sekolah . Dan pada saat itu Baekhyun merasa ada yang salah, Kyungsoo menatapnya asing, iris mata bulat itu di penuhi oleh rasa iri dan seolah menegaskan bahwa dirinya tidak pantas menerima hadiah tersebut, sorot dingin yang Kyungsoo lemparkan untuk pertama kali dalam hidupnya membuat Baekhyun tersadar bahwa hati Kyungsoo mulai terkecoh.
Oleh sebab itu Baekhyun tak heran ketika keesokan harinya boneka yang ia dapatkan sebagai hadiah telah rusak oleh sayatan pisau di seluruh bagian. Sejak saat itu pula Baekhyun tahu bahwa Kyungsoo adalah orang yang payah dalam mengontrol emosi.

Kaki Baekhyun sedikit tersandung karena ia berjalan sembari melamun dan akibatnya ia meringis pelan. Oh apa sebenarnya yang ia pikirkan? Itu adalah masa lalu, Kyungsoo tidak akan berbuat hal semacam itu lagi bukan? Tentu saja. Kyungsoo adalah gadis yang baik, buktinya dulu Kyungsoo sangat menyesal karena telah merusak boneka Baekhyun, dan gadis bermata bulat itu berjanji tidak akan mengulangi perbuatan tercela seperti itu lagi. Ya. Baekhyun meyakini itu.

Seharusnya Baekhyun terus berjalan lurus mengingat beberapa puluh meter di depannya adalah gerbang asrama, namun seolah mengabaikan seluruh persendiannya yang menjerit meminta untuk diistirahatkan, gadis itu justru lebih memilih menginjak satu persatu anak tangga sebelum beberapa menit kemudian ia membuka pintu yang menghubungkannya dengan atap gedung sekolah. Ia berjalan menuju sebuah kursi usang dan kemudian duduk menghadap pada bagian utama gedung sekolah, dari ketinggian seperti itu ia bisa melihat beberapa siswa yang sedang berebut bola basket di tengah lapangan. Gadis itu menghela napas pelan, bolehkah ia meminjam tempat ini untuk mengasingkan diri sejenak? Karena sungguh terlalu banyak hal-hal yang ia lalui hari ini. Dimulai dari sebuah gosip yang sangat keterlaluan, lantas pengeroyokan, sikap asing Kyungsoo, dan—

—sebuah ciuman.

Napas Baekhyun mendadak tercekat. Bohong jika sesuatu yang terjadi di ruang kesehatan itu tidak memberikan efek apa pun, karena sebenarnya nyaris separuh dari kerja otaknya tidak berfungsi dengan baik dan terus memutarkan kejadian itu. Ia perlahan menyentuh bibirnya, meringis karena tidak sengaja menyentuh luka yang berada di sana. Kemudian ia menurunkan tangannya dan meletakkannya di dada, entah mengapa ia merasa tidak suka ketika jantungnya mendadak berpacu tanpa kendali. Itu membuatnya sedikit sesak, Baekhyun tidak menyukainya. Napasnya mulai memburu, matanya bermain tak tentu arah, ia sedikit meremas dadanya seiring dengan bahunya yang mulai naik turun.

Tidak, tidak boleh seperti ini!

Baekhyun sedikit tersentak ketika mendengar suara pekikan pelan, dari jenisnya Baekhyun bisa tahu bahwa itu suara anak anjing. Ia mengedarkan pandangannya namun tak menemukan apapun, perlahan gadis itu bangkit dan berjalan menuju sisi lain dari atap gedung, kembali ia mengedarkan pandangannya dan beberapa saat kemudian netranya menangkap sosok lelaki yang tengah berjongkok di hadapan anak anjing seraya mengelus lembut bulu tengkuknya.

"Sudah kubilang jangan mengganggu tidurku bukan? Anak nakal." Kata si lelaki terdengar sedikit menggerutu namun masih telaten mengelus bulu anak anjing sembari memberinya makan.

Baekhyun masih bertahan di posisinya ketika kepala si lelaki tertoleh dan iris coklat gelap mengantuk itu menatapnya kemudian. Sehun, lelaki itu lantas berdiri sembari memasukkan kedua tangan pada saku celana, oh beruntunglah Baekhyun karena ia tak dapat melihat lebih banyak keindahan seperti rambut berantakan khas bangun tidur karena itu tertutupi oleh Snapback yang lelaki itu pakai secara terbalik, namun tetap saja wajah mengantuk itu membuatnya terpaku dan seolah menerobos masuk ke dalam daftar hal-hal yang disukai oleh Byun Baekhyun.

"Aku tidak tahu bahwa Sunbae bisa berbicara dengan anak anjing." Kata Baekhyun memulai percakapan, gadis itu berjalan mendekat, tangannya terulur pada si anak anjing dan beberapa detik kemudian anak anjing tersebut sudah berada dalam dekapannya. Gadis melangkah pada sebuah kursi usang dan duduk setelahnya.

Sehun, berjalan mendekat diiringi oleh decakan malas. Lelaki itu kemudian duduk di samping Baekhyun yang sebelumnya dengan sigap menggeser posisi duduknya.

Untuk sejenak Baekhyun mengalihkan atensinya dari si anak anjing, kemudian ia memperhatikan sosok di sebelahnya dengan seksama, bagaimana Sehun menyalakan pemantik api, membakar sebatang rokok sebelum akhirnya gumpalan asap keluar dari mulutnya dan kemudian melambung di udara.

Oh bagaimana bisa hal sesederhana itu tampak terlihat begitu menarik?

Baekhyun menggeleng pelan seraya mengalihkan pandangannya, ini karena ia terlalu banyak menghabiskan waktu di perpustakaan yang tak jarang berubah fungsi menjadi sebuah sarana yang digunakan sebagian siswi untuk membiacarakan seberapa tampannya Oh Sehun.

Hening.

Hanya helaan napas yang memenuhi udara, Kedua pasang bola mata itu kini terpusat pada angkasa, menatap langit sore yang mulai menguarkan semburat jingga.

Baekhyun mengalihkan netranya yang berubah menjadi binar ketika si anak anjing mulai tertidur di pangkuannya.

Melihat hal itu Sehun nyaris mendecih, gadis itu unik. Bagaimana bisa ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa hari ini?

Hisapan terakhir, kemudian Sehun mematikan rokok yang hanya tinggal seperempat dan kemudian menyentil puntung rokok itu ke sembarang arah. Lelaki itu kembali menoleh ke samping dan memperhatikan Baekhyun lamat-lamat dari kaki, tangan, hingga wajah yang berhiaskan lebam keunguan. Sejenak hatinya bertanya-tanya, bagaimana bisa gadis selugu ini harus melalui hal-hal yang begitu sulit di hidupnya? Apakah dia sanggup menghadapi itu semua?

Merasa diperhatikan Baekhyun akhirnya menoleh, sesaat ia menyesal melakukan itu dan setengah mengutuk dirinya sendiri karena saat ini ia setuju dengan mereka yang mengatakan bahwa tatapan Oh Sehun mampu membuat gadis mana pun lupa caranya bernapas.

"Kau, jelek." Tutur Sehun datar.

Baekhyun melongo karenanya.

"Ini membuatmu terlihat jelek." Kata Sehun lagi seraya mengulurkan tangannya dan mengusap pelan luka memar yang berada di sudut bibir Baekhyun. "Bekasnya tidak akan hilang." Lanjutnya dengan tawa hambar.

Baekhyun menggeleng tidak setuju, kemudian tangannya terulur, ikut menyentuh luka tersebut "Ini memar biasa dan akan sembuh serta tidak akan meninggalkan bekas" Ucapnya polos tanpa mengindahkan jantungnya yang berdegup kencang akibat sentuhan tangan hangat Sehun.

Tidak, ini bukan tentang luka memarmu. Sesuatu lain yang akan selalu mengingatkanmu pada Park Chanyeol. Batin Sehun menyahut.

Ia mengangkat bahu, sebelum akhirnya atensinya berlabuh pada punggung tangan Baekhyun. Lelaki itu kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil sesuatu, dari bentuknya Baekhyun bisa tahu bahwa itu adalah kemasan plester luka.

Gadis itu nyaris terpekik ketika Sehun mempersempit jarak di antara mereka.

"Tangan seorang wanita tidak boleh cacat karena bekas luka." Kata lelaki itu sembari meniup luka yang cukup parah di bagian punggung tangan Baekhyun sebelum akhirnya menempelkan plester di atasnya. "Pastikan setelah ini kau memberinya antiseptik" Lanjutnya.

Setelah selesai, Sehun bangkit dari duduknya. Namun sesaat kemudian ia mencondongkan tubuh, membuat wajahnya sejajar dengan wajah Baekhyun. Menatap gadis itu beberapa saat, menelisik kedua irisnya, seolah mencoba mencari celah cacat yang setidaknya membuat gadis itu pantas untuk dibenci oleh Park Chanyeol . Namun Sehun tidak menemukannya, Baekhyun seolah menghalau siapa pun untuk menyelami pikirannya, meskipun di balik sorot mata yang selayaknya bocah lugu itu Sehun sekilas dapat melihat kesedihan mendalam yang terpendam.

Lelaki itu kembali menegakkan tubuhnya, tanpa banyak kata ia mengusak pelan rambut Baekhyun seraya melangkahkan kakinya, berlalu.

Baekhyun masih mematung di posisinya sementara punggung Sehun semakin menjauh. Gadis itu kemudian tertunduk, menyembunyikan rona merah di wajahnya yang sedari tadi menghangat. Kemudian netranya terfokus pada plester luka yang menempel di punggung tangannya. Sungguh, tidak ia sangka bahwa Sehun mampu memperlakukan seseorang selembut itu, padahal Baekhyun masih ingat betapa galak dan ketus seniornya itu kemarin-kemarin. Oh ya, bahkan Sehun tidak menyahut sedikit pun ketika Baekhyun mengembalikan jas sekolah yang sempat pinjamkannya malam itu. Selama sejenak Baekhyun seperti melihat kilas balik bayangan sosok bocah berusia dua belas tahun di masa lalunya. Mereka sedikit mempunyai persamaan, bertampang dingin namun mampu membuat hangat hanya dengan perlakuan sederhana.

Ah, mendadak Baekhyun mengingat sesuatu. Gadis itu membuka resleting tasnya, merogoh ke dalam dan mengambil sesuatu.

Sebuah sapu tangan berinisial dengan warna yang masih sama seperti beberapa tahun lalu diterimanya.

Haruskah ia membuangnya? dan haruskah ia mencoba melupakan bocah berumur dua belas tahun itu?

.

.


-Supposed-


.

Biasanya Kyungsoo akan merasa senang jika ia meluangkan waktunya untuk pulang ke panti, karena selain bisa melepas rindu dan bermain bersama anak-anak panti yang sudah ia anggap adiknya sendiri, setidaknya gadis itu juga dapat mengistirahatkan otaknya dari pelajaran sekolah untuk sejenak. Namun alasan kepulangannya kali ini ialah untuk menghindari Baekhyun, ia tidak mampu menghadapi kedua sisi dalam dirinya yang menyerukan berbagai pendapat, di satu sisi ia merasa sedikit bersalah kepada Baekhyun, namun di sisi lain ia merasa tidak ada yang salah dengan apa yang ia perbuat. Karena ia akan melakukan apapun untukbisa menjadi bagian dari perkumpulan Hyeri yang populer dan tentu saja akan membuatnya terjauh dari segala macam perlakuan tidak mengenakkan seperti yang selama ini ia terima. Namun hal itu sedikit membuat suasana hatinya tidak bagus dan memunculkan tanda tanya dari ibu panti karena sejak kepulangangannya kemarin sore yang tentu saja tanpa ditemani Baekhyun, gadis itu terus berwajah muram dan bahkan lebih banyak mengahabiskan waktu di kamarnya, seperti saat ini.

Kyungsoo masih mengamati pohon oak yang dapat ia lihat dari jendela kamarnya. Bukan karena gadis itu tidak mempunyai hal yang lebih penting untuk dilakukan, hanya saja pohon itu sudah menjadi sandaran punggungnya bersama Baekhyun selama belasan tahun.

Sejak kecil, mereka berdua sering menghabiskan waktu di bawah pohon itu, di sana mereka melakukan hal-hal sederhana seperti membaca buku dongeng yang tak pernah lepas dari kisah seorang puteri dan pangeran, bertukar cerita tentang berapa banyak anak yang ingin mereka miliki di masa depan, hingga melakukan hal yang paling membekas seperti menandai persahabatan keduanya dalam ukiran nama di permukaan pohon tersebut.

Kyungsoo menghela napas.

Tidak. Tidak hanya itu, mereka melakukan banyak hal dan selalu bersama-sama. Meninggalkan bekas yang sulit untuk dihapus, membuat Kyungsoo membenci itu.

Gadis itu masih terhanyut dalam pandangannya ketika suara ketukan pintu terdengar pelan, ia tersadar dan kemudian berjalan menuju pintu dan membuka kunci.

Itu ibu panti, beliau membawa sebuah nampan yang diatasnya terdapat segelas susu dan roti isi.

Hal lain yang membuat Kyungsoo tidak berpikir dua kali untuk pulang ke panti ialah ia bisa mendapatkan kehangatan sosok ibu dari ibu panti. Membuatnya selalu merindukan sosok tersebut. Jika sudah seperti itu, Kyungsoo akan bertanya-tanya dalam hati, bagaimana rasanya memiliki ibu sungguhan?

"Apakah kau baik-baik saja? Bagaimana dengan Baekhyun?"

Tanpa harus membaginya dengan orang lain, terkadang Kyungsoo tidak suka jika ibu panti membagi perhatiannya kepada orang lain. Setidaknya saat ini, bisakah wanita paruh baya itu tidak menanyakan Baekhyun? Nyaris semua orang menanyakan keberadaan Baekhyun sejak kemarin. Dan itu membuat Kyungsoo muak.

Kyungsoo masih bungkam ketika ibu panti duduk di samping Kyungsoo setelah sebelumnya meletakkan nampan yang ia bawa keatas meja. Tangan ibu terulur mengelus rambut Kyungsoo penuh kasih sayang. "Apakah ada masalah di antara kalian berdua?" Tanyanya kemudian. Beliau mengetahui dengan jelas, bahwa persahabatan kedua gadis itu tidak selalu dalam kondisi baik-baik saja, ada kalanya Baekhyun dan Kyungsoo terlibat selisih paham yang membuat keduanya saling berjauhan, dulu hal itu sering terjadi. Hanya saja Kyungsoo cenderung lebih sering menghindar dan Baekhyun yang mencoba menyelesaikan masalah keduanya.

Kyungsoo menggeleng pelan, terlalu malas membahas sesuatu yang menyangkut Baekhyun untuk saat ini. Karena jika ibu sudah membicarakan Baekhyun maka selanjutnya hanya tentang Baekhyun, segala sesuatu yang baik dan membanggakan tentang Baekhyun akan selalu terontar dari mulut wanita paruh baya itu. Dan jujur Kyungsoo tidak pernah menyukainya.

Ibu masih mengelus rambut Kyungsoo ketika seseorang lain muncul di balik pintu kamar gadis itu, salah satu perawat panti memberitahukan bahwa ada tamu penting yang datang.

Selama beberapa saat Kyungsoo terhanyut oleh beberapa pertanyaan tentang siapa orang penting yang membuat ibu langsung berhambur keluar dari kamarnya untuk menemui orang tersebut.

Merasa penasaran, gadis itu akhirnya bangkit dari ranjang dan melangkahkan kakiknya keluar kamar. Gadsi itu berjalan pelan di lorong panti, sesekali ia menghela napas tatkala bayangan dua gadis kecil saling berkejaran di lorong tersebut, diiringi canda tawa. Tentu saja, itu adalah Baekhyun dan dirinya.

"Bibi, siapa tamu penting yang berada di ruangan ibu saat ini?" Tanya gadis itu pada salah satu perawat yang berpapasan dengannya.

"Ahh, itu.. Do sajangnim dari D.O corporation. Kau tahu bukan?" Sahut sang perawat dengan suara pelan.

Kyungsoo mengangguk terbata, tentu ia tahu, bahkan semua orang. Do Minjoon, salah satu pengusaha ternama Korea Selatan. Bahkan beberapa bulan yang lalu pria paruh baya itu sering muncul di televisi karena berita kematian putri tunggalnya yang menjadi Headline bahkan di berbagai media. Rasa penasaran Kyungsoo semakin membuncah, untuk apa pria paruh baya itu datang ke panti asuhannya?

Gadis itu sampai di depan pintu ruangan ibu, namun sebaris kalimat yang dapat ia dengar dari dalam ruangan tersebut membuatnya mematung seketika.

"Lantas kapan Byun Baekhyun bersedia untuk saya adopsi?"

Apa ini? Mengapa Baekhyun?

Kyungsoo masih mematung tidak percaya, bagaimana bisa Baekhyun tidak memberitahukan hal tersebut kepada dirinya? Apakah gadis itu mencoba untuk mengkhianatinya?

Mata Kyungsoo perlahan memanas, gadis itu kemudian berlari menuju taman di halaman depan. Ia menangis seorang diri di sana. Hatinya merasa teriris, tak percaya bahwa Baekhyun akan melakukan ini kepadanya.

Oh ya tentu saja, menjadi anak adopsi seorang pengusaha kaya raya tentu sangat menggiurkan. Kyungsoo yakin Baekhyun akan menerimanya dengan senang hati, karena dengan begitu kehidupan Byun Baekhyun akan berubah drastis, tidak akan ada yang berani mencemooh dan menghinanya mulai sekarang. Dengan begitu..

Dengan begitu gadis itu akan mudah bergabung dengan anak-anak orang kaya popular di sekolah.

Kau senang Byun Baekhyun?

Kyungsoo menggeleng keras.

Tidak. Ini tidak bisa dibiarkan. Apa istimewanya Byun Baekhyun? Dia hanya..

Dia hanya..

Anak seorang pembunuh!

Ya. Gadis itu hanyalah anak seorang pembunuh. Tidak ada yang lebih buruk dari itu.

Gadis itu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga terhormat mana pun.

Dan Kyungsoo lah yang pantas menjadi bagian dari keluarga Do.

Bukan Byun Baekhyun.

Kyungsoo mengusap kasar air matanya, raut wajahnya di penuhi amarah yang mendalam. Dan beberapa saat senyuman licik terpatri ketika ia melihat sesosok pria paruh baya berstelan jas mahal keluar dari panti asuhannya. Gadis itu kemudian berjalan mendekat.

"Do sajangnim?" Tutur Kyungsoo dengan nada sopan.

Sementara pria paruh baya bernama Do Minjoon menghentikan langkahnya dan kemudian menoleh.

"Ahh, ternyata memang benar anda." Seru Kyungsoo dengan nada antusias. "Saya penggemar berat anda." Lanjutnya kemudian.

Well, pria paruh baya itu memang terkenal di setiap kalangan, perjalanan hidupnya yang luar biasa membuatnya menjadi panutan bagi setiap orang. Bahkan tak sedikit yang mengidolakan sosok tersebut.

"Oh benarkah?" Sahut paruh baya itu. "Wah.. aku sangat tersanjung diidolakan oleh nona muda yang sangat cantik sepertimu." Lanjutnya dengan gelak tawa khas.

Kyungsoo tersenyum manis. "Ahh beruntung sekali Baekhyun.." gadis itu berbicara pelan seolah ia tengah bergumam pada dirinya sendiri.

"Ya?" Pria paruh baya itu mengerutkan dahinya. "Apakah kau baru saja menyebut nama Baekhyun?" Lanjutnya bertanya dengan nada antusias.

Kyungsoo berpura-pura tak mengerti, gadis itu mengerjapkan mata pelan. "Y-ya.." Sahutnya terbata.

"Ah tentu saja kau mengenal Byun Baekhyun, apakah kau juga tinggal di sini bersamanya?"

"Ya, sajangnim. Saya bahkan satu sekolah dengannya, kami sangat dekat." Gadis itu berpikir sejenak dan kemudian membulatkan matanya. "Oh apakah anda orang itu? yang akan mengadopsi Baekhyun?" Lanjutnya bertanya.

Sementara tuan Do kembali mengerutkan keningnya.

"Ahh, maafkan saya. Sebenarnya tadi saya mendengarkan percakapan anda dengan ibu panti." Kyungsoo meringis, berucap dengan nada menyesal yang dibuat-buat."Saya tidak sengaja mendengarnya, sungguh. Maafkan saya, sajangnim" Gadis itu menunduk dalam.

Tuan Do tersenyum hangat, "Tidak apa-apa, nak." Pria itu mengelus bahu Kyungsoo pelan. Ia hendak berlalu namun Kyungsoo segera menahannya.

"Bolehkah saya meminta waktu anda sebentar?" Kata gadis itu kemudian.

Pria paruh baya tampak berpikir, kemudia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan setelah itu ia melirik pada sekretarisnya sejenak, memberikan isyarat untuk menunggu. Ia kembali menoleh kearah Kyungsoo lantas ia mengangguk sembari tersenyum. "Apa yang ingin kau bicarakan, nak?"

Kyungsoo diam beberapa saat, memberikan kesan dramatis. "Umm.. Jika nanti Baekhyun menerima tawaran anda, kumohon jaga dia dengan baik. Dia satu-satunya sahabat yang saya punya, jangan sampai terjadi apa-apa denganyya." Ucap Kyungsoo."Sejujurnya saya sangat mencemaskannya, mengingat akhir-akhir ini dia kerap kali membuat masalah di sekolah." Lanjutnya diiringi helaan napas berat. Gadis itu kembali menunduk seolah tengah menyembunyikan kesedihan yang mendalam.

"Masalah?" Tuan Do mengerutkan dahinya.

"Ahh seharusnya aku tidak mengatakannya." Gumam Kyungsoo pelan, seolah tidak ingin ucapannya terdengar.

"Tidak, nak. Coba kau jelaskan, masalah apa yang diperbuat oleh anak itu?" Desak tuan Do. "Sebaiknya kita duduk di sana saja." Ajak pria paruh baya itu sembari menunjuk salah satu kursi yang berada di taman.

Kyungsoo mengangguk setuju.

"Sekarang kau jelaskan padaku, nak" Desak pria paruh baya itu setelah keduanya duduk.

Kyungsoo tampak berpikir sejenak, namun sesaat setelahnya ia menghelas napas pasrah. "Sebenarnya Baekhyun mengalami banyak hal sulit dalam hidupnya. Statusnya sebagai anak seorang pembunuh—

"Pembunuh?A-pa maksudmu, nak? Kau bilang dia anak seorang pembunuh?" Tanya tuan Do dengan diiringi raut wajah terkejut.

Kyungsoo mengangguk terbata. "Gadis itu selalu dicemooh oleh semua murid. Saya sangat tahu Baekhyun tidak bisa mengontrol emosi, karena jika sudah begitu, dia akan berkelahi dengan murid-murid yang mencemoohnya." Kyungsoo mulai terisak. "Saya.. saya tidak tahu mengapa Baekhyun seperti itu. Bahkan.." Kyungsoo semakin terisak. "Bahkan kemarin dia tertangkap basah tengah berkencan dengan beberapa pria dewasa di sebuah rumah makan. Dia memang sering melanggar aturan asrama dan keluar pada malam hari. Sebagai sahabatnya saya merasa sangat terpukul dengan kelakuannya yang memalukan tersebut." Tangisnya semakin pecah, mengiringi setiap kalimat penuh dusta yang ia lontarkan pada pria paruh baya di sampingnya.

Rahang tuan Do seketika mengeras, sama sekali tidak menyangka bahwa anak gadis yang ia pikir baik-baik dan bahkan ia anggap pantas menggantikan sosok putrinya yang telah meninggal ternyata berkelakuan sangat buruk. Pria paruh baya itu memperhatikan Kyungsoo yang tengah menangis, tangannya secara spontan mengelus rambut gadis itu.

Dilihat dari bagaiman Kyungsoo mencemaskan sahabatnya membuat tuan Do berpikir bahwa gadis itu adalah gadis yang sangat baik.

"Maafkan saya mengatakan ini, saya hanya berharap setelah Baekhyun menjadi putri anda, dia bisa berubah menjadi lebih baik." Ucap Kyungsoo dengan suara parau.

Dan semua kebohongan yang gadis itu ucapkan sepertinya membuat tuan Do harus menata ulang niatnya. Kini ia harus berpikir dua kali sebelum benar-benar menjadikan Baekhyun sebagai putrinya.

Tidak.

Baekhyun tidak akan menjadi putrinya. Ia tidak bisa membiarkan nama baik keluarga Do tercemar oleh kelakuan buruk gadis itu. Terlebih latar belakang Baekhyun yang ternyata anak seorang pembunuh.

Tuan Do bangkit dari kursinya, kemudian berlalu tanpa kata. Meninggalkan Kyungsoo yang tengah tersenyum penuh kemenangan.

Gadis itu mengusap kasar air mata kebohongannya, nyaris tidak ada hal baik yang terlintas di benaknya saat ini. Ya, hanya tinggal memikirkan cara agar ia bisa merebut posisi Baekhyun sebagai calon putri dari konglomerat itu.

Kyungsoo menajamkan matanya, hatinya dipenuhi amarah, iri dan dengki. Mengapa selalu Byun Baekhyun yang diinginkan mereka semua untuk diadopsi? Sementara hanya sebagian kecil dari mereka yang menginginkan dirinya? itu pun bahkan bukan dari keluarga kaya raya yang selalu Kyungsoo idam-idamkan.

Well, Kyungsoo memang selalu mengidamkan-idamkan mempunyai keluarga terpandang, kaya raya, dan memiliki segalanya. Tentu saja, karena ia sudah sangat muak menjadi bahan cemoohan teman-teman sekolahnya hanya karena ia seorang yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Perasaan iri tidak pernah luput menyertai Kyungsoo ketika mereka semua memamerkan barang-barang mahal di hadapannya.

"Kyung.."

Kyungsoo tersentak dari lamunan, atensinya kemudian beralih pada sosok gadis yang berdiri tak jauh darinya. Korneanya melebar seketika, rasa terkejut mulai menyusup masuk ke dalam dirinya. "B-baekhyun-a.." Ucapnya terbata pelan.

Baekhyun mengernyit dalam melihat raut terkejut di wajah Kyungsoo saat melihatnya. Gadis itu berjalan mendekat dan duduk di samping sahabatnya. Kernyitan di dahinya semakin bertambah tatkala melihat jejak air mata di pipi Kyungsoo. Tangannya terulur dan mengelus pipi sahabatnya itu dengan lembut. "Kau menangis?" Tanyanya dengan nada cemas. "Apa yang terjadi, hum?" Lanjutnya terdengar halus tanpa menanggalkan raut cemasnya sedikitpun.

Kyungsoo masih menatap Baekhyun dengan sorot terkejut yang perlahan memudar, bergantikan tatapan datar. Kyungsoo benci ketika Baekhyun seperti itu, ia benci ketika Baekhyun bersikap lembut kepadanya, itu hanya akan membuat rasa iba dalam dirinya bangkit. Namun ada sebersit rasa lega yang berpendar di dalam dadanya, kemungkinan bahwa Baekhyun tidak mendengar percakapannya dengan tuan Do beberapa saat lalu membuatnya merasa bersyukur.

Terkadang dalam suatu waktu sorot mata Baekhyun akan terasa sehangat mentari pagi, seperti sihir tatapannya seakan mampu meluluhkan hati siapa pun. Termasuk Kyungsoo, namun gadis bermata bulat itu tidak ingin terperdaya, oleh sebab itu kyungsoo mengalihkan atensi seraya menghentikan belaian tangan Baekhyun di pipinya. "Aku baik-baik saja." Sahutnya sedikit tidak ramah. "Sejak kapan kau di sini?" Lanjutnya bertanya, kembali memastikan bahwa baekhyun tidak mendengar percakapannya.

Baekhyun tersenyum cerah. "Aku baru sampai. Mengapa kau tidak pulang ke asrama, Kyung?"

Karena aku tidak mau bertemu denganmu.

Kyungsoo bangkit dari kursi, "A-aku harus pergi. Jangan menungguku, pulanglah lebih dulu." Katanya kemudian, dan detik berikutnya gadis itu berjalan tergesa tanpa mengindahkan seruan Baekhyun yang memanggil namanya berulang kali.

Baekhyun masih terduduk, memandangi punggung Kyungsoo dengan satu ekspresi khas yang terpancar di wajahnya.

Terluka.

Sungguh, Baekhyun tidak tahu menahu tentang pasal adopsi yang melibatkan dirinya tersebut.

Gadis itu mendongak, satu tangannya terkipas pelan di depan wajah, berharap ada sedikit angin yang dapat menyejukkan matanya yang sedari tadi memanas, kemudian tanpa ia sadari dirinya terkekeh pelan.

Lucunya, untuk sesaat ia masih bisa berpikir bahwa percakapan Kyungsoo dengan pria paruh baya itu tidaklah benar.

Kyungsoo tidak mungkin seperti itu.

Kyungsoo tidak membencinya sedalam itu.

Kyungsoo menyayanginya.

Baekhyun bangkit dari kursi, berjalan dengan satu tangan yang meremas bagian dadanya yang terasa dipenuhi rasa sesak.

Pilihan terbaik berputar di otaknya saat ini. Dan ia harus segera menemui ibu panti.

.

.


-Supposed-


.

Pagi ini Baekhyun bersiap memulai kembali aktifitasnya di sekolah. Gadis itu merapikan buku pelajaran sebelum akhirnya memasukannya ke dalam tas. Ia menoleh ke arah ranjang Kyungsoo.

Lagi-lagi Kyungsoo tidak pulang ke asrama.

Sebenarnya, sejak pertemuannya dengan Kyungsoo kemarin sore yang masih menyisakan rasa sesak, Baekhyun sudah tahu bahwa mungkin Kyungsoo tidak akan kembali ke asrama.

Ia cukup tahu watak sahabatnya itu.

Ah, sahabat.

Masih bolehkan Baekhyun menggunakan kata itu untuk memanggil Kyungsoo?

Baekhyun menghela napas, kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar. Ia berjalan hingga sampai pada gerbang utama sekolah, langkah kakinya tidak terkecoh meskipun lagi-lagi ia di sambut setiap pasang mata yang seolah membenci kehadirannya.

Binar di mata Baekhyun sedikit berpendar ketika melihat Kyungsoo dalam jarak puluhan meter darinya tengah berjalan menuju ruangan kepala sekolah, ia hendak melambaikan tangan kepada Kyungsoo namun seseorang berstelan jas rapi yang berjalan di belakang Kyungsoo menginterupsi niatnya.

Baekhyun kemudian berjalan menuju arah yang sama dengan Kyungsoo, langkahnya perlahan melambat ketika sampai di depan pintu ruang kepala sekolah. Gadis itu berdiri seraya menyandarakan tubuhnya pada dinding, ia berniat menunggu Kyungsoo keluar.

Baekhyun mulai teringat seseuatu ketika berdiri di sana, mengapa ia tidak dipanggil oleh pihak sekolah tentang gosip yang menimpanya kemarin?

Tidak. Bukan berarti ia berharap mendapat sanksi, karena ia tidak melakukan kesalahan apapun, namun mengapa pihak sekolah seolah tidak tahu menahu soal itu?

Jika dipikir lebih jauh, pihak sekolah memang tak pernah gagal membangkitkan kecurigaan gadis itu.

Baekhyun masih terhanyut dalam pikirannya ketika suara gaduh menyapa inder pendengarannya. Gadis itu tersadar dan kemudia sedikit berdecak malas ketika melihat sekawan murid lelaki yang berjalan kearahnya, bukan tanpa alasan jika itu bukanlah Jung Daehyun beserta teman-temannya.

Sebenarnya Baekhyun nyaris tidak pernah sinis terhadap siapa pun, meskipun hari-harinya tak pernah lepas dari orang-orang yang begitu tidak menyukainya. Namun seperti yang kebanyakan orang-orang tahu bahwa ia adalah gadis yang kaku, meski sebenarnya ia hanya bersikap netral dan tidak terlalu suka membesar-besarkan masalah.

Akan tetapi ada satu hal yang setidaknya selalu berhasil membuat gadis itu memutar bola matanya malas. Ya, ketika sosok Jung Daehyun menyapa indera penglihatannya.

Baekhyun tidak pernah menyukai lelaki itu, selain karena dia senang sekali menindas murid lemah, lelaki itu juga kerap kali bersikap kurang ajar terhadap murid perempuan. Nyaris tidak ada yang baik mengenai lelaki itu.

Baekhyun menatapnya malas ketika Daehyun mengerling nakal kepadanya, lelaki itu mulai berjalan mendekat kearah Baekhyun seraya menjilat bibir bawahnya dengan gestur yang menurut Baekhyun sangat menjijikan. Kontan gadis itu menegakkan tubuhnya ketika dirasa jaraknya dengan lelaki itu semakin menipis, namun keningnya seketika mengkerut ketika Daehyun menghentikan langkahnya dan justru membatalkan niat untuk mendekati dirinya dan memilih membalikkan badan lantas berlalu, disusul oleh ketiga temannya yang setengah berlari meninggalkan tempat itu.

Dan ketika Baekhyun menoleh kearah lain, seorang lelaki dengan tampangnya yang terlihat ketus dan galak berjalan kearahnya. Hal itu membuatnya seolah mendapatkan jawaban mengapa Daehyun dan kawan-kawannya urung mengganggunya.

Well. Tampang Oh Sehun yang tidak bersahabat seperti itu memang terlihat sedikit menakutkan.

Lelaki itu kini semakin dekat.

Mungkin ini satu dari sedikit moment yang jarang Baekhyun alami, melihat lelaki itu di pagi hari dengan wajah cerah tanpa sedikitpun terlihat mengantuk, rambutnya basah, meskipun seragam yang ia pakai jauh dari kata rapi karena jas sekolah yang seharusnya ia pakai tersampir di bahu. Baekhyun bahkan bertanya-tanya dimana Sehun kehilangan kancing kerah beserta dasinya?

Sehun melirik sekilas kearah Baekhyun tanpa menghentikan langkah, sebelah alisnya terangkat melihat gadis itu berdiri di depan ruang kepala sekolah. Mengangkat bahu, kemudian netranya kembali terfokus ke depan, melewati Baekhyun yang tengah sibuk menerka parfum apa yang seniornya itu pakai sehingga membuatnya mengenduskan hidung dua kali untuk mencium aroma khas tersebut.

Di sela-sela mengagumi aroma parfum Sehun, gadis itu akhirnya bernapas lega ketika pintu ruang kepala sekolah terbuka, menampilkan sosok Kyungsoo dengan seorang pria dewasa yang Baekhyun tebak berusia pertengahan tiga puluh tahun. Pria berwajah tenang itu tampak menenteng sebuah tas kerja berwarna hitam yang terbuat dari kulit. Sepertinya mahal.

Kyungsoo tampak sedikit terkejut mendapati Baekhyun berada di depan ruang kepala sekolah, dan gadis itu tahu Baekhyun mungkin tengah menunggunya.

"Pergilah terlebih dahulu dan tunggu di mobil, ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan." Ucap Kyungsoo.

Baekhyun dapat menangkap nada penuh perintah dari kalimat yang Kyungsoo lontarkan, meski pada awalnya Baekhyun tidak tahu Kyungsoo berbicara kepada siapa, akan tetapi ketika melihat pria dewasa tadi mengangguk patuh seraya menunduk dalam serta memanggil Kyungsoo dengan sebutan 'Nona muda' Baekhyun langsung tahu.

Kyungsoo memberi isyarat kepada Baekhyun untuk mengikutinya.

Dan di sinilah mereka, di belakang gedung sekolah yang tampak sepi. Kyungsoo memangku kedua tangannya di dada, memasang wajah angkuh yang tak repot-repot ia sembunyikan. "Ada apa?" Tanyanya datar.

Baekhyun tampak bingung, "Apa yang kau maksud 'Ada apa' Kyung?" Tanyanya seraya tersenyum.

Bola mata Kyungsoo berputar malas, "Untuk apa kau menungguku di depan ruang kepala sekolah?"

Baekhyun terkekeh ringan, "Eiyy tentu saja aku menunggumu, agar kita bisa pergi ke kelas bersama." Sahutnya dengan antusias. "Akh, akhir-akhir ini kita jarang pergi ke kelas bersama." Baekhyun melirik pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sebentar lagi masuk, sebaiknya kita bergegas." Ajaknya seraya menarik lengan Kyungsoo, namun sebelum ia sempat melangkah, Kyungsoo menghempas tangannya dengan kasar.

"Mengapa aku harus?" Tanya Kyungsoo dingin.

Baekhyun melempar tatapan bingung. "Apa maksudmu, hum?" Tanyanya kemudian.

"Mengapa aku harus bersamamu? Tidakkah kau tahu? Aku sudah sangat muak bersamamu." Sahut Kyungsoo dengan nada menusuk. "Mengapa aku harus terus menerus menuruti ucapanmu? Memangnya siapa kau?" Lanjutnya penuh penekanan. "Aku muak. Aku benci padamu! Keberadaanmu membuat mereka semua tidak pernah melihat kearahku!" Kyungsoo berteriak. "Aku benci selalu menjadi nomor dua, kau tahu? Aku benci melihatmu mendapatkan perhatian lebih, aku benci ketika kau berada di peringkat pertama!" Lanjutnya diakhiri dengan napas yang terengah-engah, matanya memerah, seolah siap memuntahkan kemarahannya kepada Baekhyun.

"A-da apa denganmu, hum?" Baekhyun berucap sekuat tenaga,"K-kyung.." Tanganya terulur pelan, berniat membelai wajah Kyungsoo namun dengan cepat di tepis kasar oleh Kyungsoo.

"Jangan sentuh aku!" Bentak Kyungsoo. "Aku tidak sudi disentuh oleh anak seorang pembunuh sepertimu!" Lanjutnya dengan tegas, menatap tajam Baekhyun.

"K-kyungie-a.." Ucap Baekhyun dengan raut wajah terkejut.

Ini mungkin adalah detik-detik tersulit bagi Baekhyun untuk berkata-kata, bahakn untuk untuk menghirup udara saja butuh sedikit perjuangan. Ucapan Kyungsoo seolah berhasil menyerangnya pada titik terlemah. Rasa nyeri mulai menjalar di dada sebelum akhirnya merambat pada netranya. Cairan bening ikut serta, membasahi iris serta menggenang di pelupuk matanya sebelum kemudian mengalir di pipinya.

"Aku Do Kyungsoo! Mulai sekarang aku adalah putri tunggal dari keluarga terhormat." Ucap Kyungsoo dengan nada angkuh. "Aku bukan lagi Kyungsoo si anak yatim piatu. Kini aku berasala dari keluarga terpandang! Tidak akan ada lagi yang berani menghinaku. Dan aku pastikan akan membalas semua kesakitan yang pernah kualami selama ini!" Teriak Kyungsoo dengan nada frustasi, matanya memerah marah. "Jadi, mulai sekarang jangan pernah menyebut namaku, menyentuhku atau bahkan menampakkan diri di hadapanku lagi. Berhenti membuatku muak! " Lanjutnya mutlak, tak terbantahkan seraya menunjuk tepat di depan wajah Baekhyun sebelum akhirnya ia berlalu, meninggalkan Baekhyun yang sudah tak mampu menahan beban tubuhnya.

Gadis itu terjatuh sebelum kemudian terduduk dengan tak elit pada permukaan rumput kering, seluruh tulangnya seolah lepas, terenggut begitu saja. Mata basahnya masih menatap sosok Kyungsoo yang semakin menjauh. Dan ketika Kyungsoo menghilang sempurna dari penglihatannya, Baekhyun menunduk. Gadis itu terisak pelan.

Tanpa ia sadari, bahwa sedari tadi ada seseorang lain yang mendengar percakapannya dengan Kyungsoo. Orang itu tersenyum licik, merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. Mengetikkan beberapa baris kalimat sebelum akhirnya mengirimnya sebagai pesan berantai pada seluruh muris SIHS.

.

.

Matahari perlahan meninggi, jarum jam pendek bertengger di angka sepuluh, namun Baekhyun masih bertahan di posisinya. Sedari tadi tak sedikit pun beranjak. Ia bahkan melewatkan jam pelajaran pertama.

Satu kalimat yang Kyungsoo lontarkan sangat membuatnya terpukul.

Kau adalah anak seorang pembunuh..

Salah satu orang yang selalu berada di barisan paling depan, membela dirinya ketika dulu anak-anak panti mencemoohnya dengan kalimat yang sama.

Kau adalah anak seorang pembunuh..

Kini dia ikut menghujatnya, menghakiminya dengan kalimat yang sangat menyakitkan tersebut. Salah satu alasan mengapa Baekhyun bertahan selama ini kini seolah sirna, menjauh, meninggalkannya.

Baekhyun memejamkan matanya erat. Namun beberapa detik kemudian kembali terbuka ketika mendengar gelak tawa beberapa anak laki-laki. Korneanya mulai melebar melihat Jung Daehyun bersama kawanannya yang Baekhyun yakini bahwasanya mereka tengah membolos kelas, mereka berjalan mendekati Baekhyun yang praktis membuat gadis itu berdiri dengan sisa tenaga yang ia punya.

"Daebak! jangan sampai kalian melewatkan berita ini! Byun Baekhyun si anak alim, siswi paling teladan dan favorit setiap guru ternyata adalah anak seorang pembunuh." Daehyun membaca sebaris pesan yang terpampang di layar ponselnya, lelaki itu kemudian tergelak bersama teman-temannya. "Whoa, dapat berita dari mana Hyeri?" Lanjutnya bertanya-tanya dengan ekspresi geli. Kemudian atensinya beralih pada sosok Baekhyun yang tengah mematung sembari memasang wajah terkejut. "Apakah kau benar-benar anak pembunuh?" Tanya Daehyun seraya mensejajarkan wajahnya dengan wajah Baekhyun.

Sementara gadis itu mulai menatap Daehyun dengan sorot dingin.

"Lihat, anak pembunuh ini berani sekali menatapku dengan cara seperti itu." Tutur Daehyun dengan nada geli yang di sambut gelak tawa dari teman-temannya. Namun beberapa detik kemudian semuanya bungkam ketika satu tamparan mendarat di pipi Daehyun.

Baekhyun yang melakukannya. "Aku bukan anak pembunuh!" kata gadis itu penuh penekanan. Menantang Daehyun secara terang-terangan melalui sorot matanya yang tajam.

Merasa terhina, rahang Daehyun perlahan mengeras. Lelaki itu membalas tamparan yang ia terima. Amarahnya sudah berada di puncak, ia kembali menampar Baekhyun hingga membuat gadis itu terhuyung nyaris jatuh namun teman-temannya Daehyun dengan sigap menahannya dan setelah mendapat aba-aba dari Daehyun, mereka menyeret Baekhyun menuju kawasan gudang sekolah.

Bunyi keras terdengar ketika tubuh Baekhyun terhempas pada permukaan lantai gudang yang berdebu, gadis itu beringsut pelan ketika Daehyun menghampirinya, ia meringis ketika satu pukulan yang Daehyun berikan mengenai rahangnya, selanjutnya beberapa tamparan serta cambukan diterima gadis itu. Wajahnya mulai mengeluarkan sedikit darah dari pukulan yang ia terima, gadis itu nyaris tidak dapat bergerak ketika teman-teman Daehyun meninggalkan gudang tersebut dan hanya menyisakan dirinya beserta Daehyun yang mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya.

Namun sebelum ia sempat memberontak, penglihatanya mulai memburam dan kesadarannya perlahan terenggut.

.

.

.

Sebenarnya Chanyeol bukanlah orang yang senang mengintimadasi. Hanya saja jika suasana hatinya sedang tidak bagus, sebisa mungkin ia akan mencari-cari kesalahan orang lain sebelum akhirnya membuat orang itu babak belur. Sejak kemarin, ditemani oleh dua orang teman satu kelasnya –yang sebenarnya lebih pantas disebut sebagai kacungnya— Chanyeol sudah membuat beberapa adik kelas menjadi sasaran kemarahannya.

Jujur, Ia marah pada dirinya sendiri. Berulang kali ia mengutuk tentang apa yang ia lakukan terhadap gadis itu, kemarin.

Bagaimana bisa ia mencium anak pembunuh itu?

Dan sialnya Chanyeol tidak bisa menemukan jawabannya. Hal itu membuat perasaannya tidak menentu.

Ini tidak bisa di biarkan terlalu jauh.

Ya. Karena Byun Baekhyun tidak boleh membuat seorang Park Chanyeol bingung seperti ini.

Lelaki itu kini tengah duduk menghadap salah satu mainannya yang setengah tak berdaya dengan beberapa luka memar di wajah. Chanyeol menatap dengan mata mabuk pada mangsanya yang sedari tadi tidak berhenti memohon untuk diampuni.

Well, beberapa botol minuman berkadar alkohol tinggi yang bisa dengan mudah ia dapatkan membuat kesadaran Chanyeol nyaris hilang.

Sebenarnya Chanyeol tidak pernah melewatkan satu pun jam pelajaran, berhubung suasana hatinya sedang tidak bagus, lelaki itu lebih memilih memerintah kedua kacungnya untuk menyeret mainan yang setidaknya dapat membuat suasana hatinya membaik.

Well, meski pesan yang ia terima dari Hyeri dua jam lalu cukup membuatnya menyeringai licik, namun pada kenyataannya membayangkan gadis itu dihujat oleh seluruh penghuni sekolah karena statusnya sebagai anak seorang pembunuh telah diketahui tidak cukup membuat Chanyeol merasa puas.

Justru ia harus kembali mengingat tentang ciuman terkutuk itu.

Rahang Chanyeol mulai mengeras ketika hal itu kembali berputar di otaknya, lelaki itu bangkit, satu pukulan terakhir ia layangkan pada mangsanya sebelum kemudian berjalan dengan langkah gontai, meninggalkan atap sekolah melalui tangga darurat yang menghubungkannya langsung dengan bagian belakang gedung tersebut.

Oh ya, ia hanya tidak ingin mengambil resiko kedapatan tengah mabuk berat. Siapa pun akan berpikir bahwa ia sinting karena mabuk pada pukul sepuluh pagi.

Persetan kau Byun Baekhyun!

Chanyeol menyeimbangkan langkah ketika penglihatannya sesekali memburam. Kemarahannya yang sudah di ubun-ubun setidaknya membantu lelaki itu untuk fokus pada tujuannya saat ini, yaitu memberi hukuman pada gadis bernama Byun Baekhyun.

Ah tidak. Akan lebih baik jika Chanyeol membunuhnya langsung.

Lelaki itu menaikkan penutup kepala dari Hoodie yang ia kenakan, kemudian berjalan melewati deretan gudang sekolah di belakang gedung. Chanyeol memang tengah mabuk berat, namun hebatnya telinganya tidak pernah melewatkan suara sepelan apapun. Sebuah pekikan tertahan seorang wanita terdengar dan praktis membuat langkah lelaki itu terhenti.

.

.

.

Kelopak matanya bergerak pelan selama beberapa detik sebelum kemudian matanya mengerjap hati-hati. Ia mengedarkan pandangannya.

Gudang, ia masih berada di gudang.

Baekhyun bangkit, namun seketika meringis pelan ketika rasa perih menyengat pada tubuh bagian bawahnya. Sesaat ia mematung, matanya bergerak pelan, terlalu takut untuk menelisik keadaannya sendiri. Dan beberapa detik setelahnya korneanya melebar.

Tidak.

Gadis itu menggeleng pelan ketika melihat nyaris dari seluruh kancing seragamnya terlepas dan berserakan di lantai berbaur dengan jas dan pakaian dalam miliknya, sepatunya terlepas, rok yang ia kenakan tersingkap hingga atas paha dan ada bagian yang koyak.

Tidak.

Kembali gadis itu menggeleng keras, tubuhnya perlahan bergetar. Gadis itu bangkit sekuat tenaga, menahan rasa perih yang semakin menjalar pada selangkangannya.

"T-tidak…" Gumamnya dengan nada bergetar, mulai terisak. Gadis itu merangkak pelan seraya meraih jas dan pakaian dalamnya yang berserakan di lantai dan mengenakannya kembali.

Matanya semakin basah, Baekhyun menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit itu.

Tidak. Ia baik-baik saja, tidak ada yang terjadi.

Baekhyun terus merapalkan kalimat itu di dalam hatinya. Meskipun pada kenyataannya air mata terus berlomba-lomba membasahi wajahnya.

Matahari yang sudah berada di puncak menyinari langkahnya yang tertatih. Kedua tangannya terkepal erat, menghalau rasa takut yang kian menyusup masuk dalam dirinya.

Gadis itu kemudian melewati lapangan utama, suasana yang pada mulanya ramai karena memang bertepatan dengan jam istirahat kini mendadak hening karena kehadiran gadis itu, penampilannya sangat berantakan, rambut dan pakaiannya terlihat kusut.

"Pembunuh!" Sekawanan gadis menghalau langkah Baekhyun.

Tentu saja Hyeri dan teman-temannya.

"Kau anak pembunuh!" Teriak Hyeri yang di susul oleh kalimat yang sama dari semua orang yang berada di sana.

"Enyahlah!"

"Pembunuh!"

"Menjijikan!"

"Kau hanya sampah!"

Baekhyun mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan waspada, menelisik satu persatu mereka yang seolah tengah menunjukkan jari pada dirinya dengan sorot mata tajam.

Omma..

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Baekhyun menyerukan nama itu di dalam hatinya. Berharap mendapatkan kekuatan.

Baekhyun menunduk dalam, kedua tangannya semakin terkepal. Hatinya terus menyerukan satu nama sedari tadi, ia bahkan tak mengindahkan tubuhnya yang mulai kotor karena dilempari berbagai macam sampah oleh mereka semua.

Omma..

Namun sepertinya satu nama itu tidak mampu memberi lebih banyak kekuatan pada dirinya.

"Pembunuh!"

"Enyahlah kau!"

"Kau tidak pantas berada disini."

Sekarang Baekhyun mengerti mengapa ia merasa sudah tak mampu mengahadapi mereka semua. Karena bukan hanya dirinya yang membutuhkan kekuatan, mereka juga menghujat ibunya.

Ibunya jauh lebih membutuhkan kekuatan.

Gadis itu semakin terisak, sebelum akhirnya seluruh tubuhnya terasa ringan seperti kapas.

.

.


-Supposed-


.

Entah sejak kapan ia tidak menyukai sinar matahari, tirai di kamarnya selalu dibiarkannya tertutup. Dan Ia suka ketika kamarnya berubah menjadi lembab.

Biasanya ia benci gelap, namun saat ini hal itu seolah menjadi favoritnya.

Ibu selalu menegurnya ketika ia lupa mengunci pintu kamarnya sendiri, namun sekarang ia menjelma menjadi gadis yang selalu terkunci.

Ya. Setidaknya setelah satu minggu berlalu, Baekhyun berubah menjadi salah satu dari mereka yang senang mengurung diri di kamar.

Bukan hanya itu, ia selama satu minggu itu pula ia bahkan belum mengucapkan satu patah kata pun.

Ibu bilang, dua orang lelaki bernama Sehun dan Jongin yang membawanya pulang ke panti ketika gadis itu dalam kondisi tak sadarkan diri.

Baekhyun tidak menyahut.

Ia bahkan bungkam ketika ibu mengatakan bahwa Kyungsoo yang pindah ke sekolah seni milik keluarga barunya, ibu tidak tahu bahwa hubungan Baekhyun dengan Kyungsoo sudah tidak seperti yang beliau ketahui. Ibu hanya menepati janji kepada Baekhyun untuk selalu memberitahu keadaan Kyungsoo ketika dirinya kala itu memohon agar menjadikan Kyungsoo sebagai putri adopsi tuan Do. Baekhyun juga memohon kepada ibu untuk membenarkan semua tuduhan tuan Do tentang dirinya yang beliau dengar dari Kyungsoo.

Tentu saja Baekhyun melakukan itu. Ia tahu sudah sedari lama Kyungsoo ingin mempunyai nama lengkap, hati Baekhyun selalu teriris ketika mengingat fakta bahwa Kyungsoo hanya meminjam nama depan ibu panti. Dan karenanya Baekhyun hanya mencoba memikirkan yang terbaik untuk Kyungsoo, ia tahu gadis itu selalu mengidamkan sebuah keluarga, dan Baekhyun sadar ia tidak bisa seegois itu untuk terus membuat Kyungsoo tetap bersamanya, meski ia sangat menyayangi gadis itu. Menganggap Kyungsoo adalah satu-satunya harta berharga yang ia punya di dunia ini.

Dan meski pada kenyataannya Kyungsoo tidak menganggapnya seperti itu.

Waktu itu ibu bertanya, apa sebenarnya masalah yang terjadi antara dirinya dengan Kyungsoo?

Dan Baekhyun menjawab tidak ada, semuanya baik-baik saja.

Ya, ia pikir semua akan baik-baik saja.

Namun itu salah, semuanya tidak baik-baik saja.

Kyungsoo sudah tak mampu ia jangkau, gadis bermata bulat itu hanya meninggalkan kenangan dan jejaknya di sini, di sebuah kamar mungil yang gelap dan lembab.

Menyisakan Baekhyun seorang diri.

Ia terduduk lesu di sudut ranjang seraya memeluk kedua lututnya. Entah sejak kapan lipatan sprei yang sedikit berantakan, partikel debu di sudut jendela atau bahkan retakan-retakan kecil yang menghiasi dinding mulai menjelma menjadi hal-hal yang menyita perhatiannya satu minggu terakhir.

Hal-hal biasa tanpa makna tersebut selalu ia lakukan, seperti saat ini.

Baekhyun membawa jari telunjuknya menelusuri ukiran rumit pada sandaran tempat tidur, matanya sesekali berkedip pelan.

Ia mendengar suara ketukan pintu, biasanya ia akan bangkit kemudian berjalan menuju pintu dan membuka kunci, namun kali ini tidak karena ia tidak mengunci pintunya.

Ya, ia mulai mencoba membuka diri kepada orang lain.

Dan ketika pintu terbuka, Baekhyun pikir itu ibu. Namun sebuah suara yang baru pertama kali ia dengar memanggil namanya dengan lembut. Aneh, ada sesuatu yang hangat mengaliri dadanya ketika suara itu tertangkap oleh indera pendengarannya.

Gadis itu berbalik, mata yang telah kehilangan sisa binarnya itu menatap sayu seorang wanita paruh baya yang tengah tersenyum hangat kepadanya.

Baekhyun mengerjap pelan ketika wanita itu berjalan mendekat sebelum akhirnya duduk di ranjangnya.

Ia tidak tahu siapa wanita itu hingga detik berikutnya wanita tersebut memberinya sebuah kertas kecil.

Namamu Byun Baekhyun.

Kau lahir pada tanggal 6 mei 1993.

Aku berjanji akan menjemputmu kelak, ketika kau dewasa nanti.

Sampai hari itu tiba, jadilah anak baik-baik.

-Heechul-

Baekhyun menatap sosok di hadapannya dengan wajah terkejut sebelum kemudian wanita paruh baya itu memeluknya dengan penuh kasih sayang seraya mengelus rambutnya lembut.
Tanpa Baekhyun sadari cairan bening mulai menggenang di pelupuk mata sebelum akhirnya berjatuhan membasahi pipinya yang telah kehilangan rona sejak seminggu yang lalu.

Wanita paruh baya itu melepas pelukannya, menelisik wajah Baekhyun dengan raut cemas, tangannya terulur menghapus jejak air mata di pipi gadis itu. "Apakah sangat sulit?" Tanyanya dengan nada pelan, "Apakah kau melalui banyak waktu yang sangat sulit?"

Baekhyun mengangguk seraya terisak, helaan napas payah terdengar sebelum akhirnya ia menyahut dengan suara parau. "Aku sangat kesulitan.." Katanya kemudian menunduk, napasnya tercekat beberapa kali, "Aku banyak mengalami waktu yang sulit, kenapa kau.. kenapa kau baru datang sekarang?" Tangisnya semakin pecah. "Dia.. lelaki itu.. dia merenggutnya dariku, dia.. dia menyentuhku." Baekhyun semakin menjadi, gadis seolah itu mengalamai syok berat.

Heechul kembali memeluk Baekhyun, wanita paruh baya itu tak kuasa menahan tangisnya melihat keadaan Baekhyun yang sangat menyedihkan. "Maafkan aku, anakku. Maafkan aku." Ucapnya dengan nada menyesal.

Sementara Baekhyun balas memeluk erat Heechul, seolah tidak ingin ia pergi.

Ya, karena Baekhyun sudah sangat lama menunggu kedatangannya. Dan ia sudah sangat siap mendengar fakta bahwa ibunya bukanlah seorang pembunuh.

Karena dengan begitu, setidaknya ia memiliki satu alasan untuk tetap hidup.

Dan Baekhyun yakin wanita paruh baya yang saat ini tengah memeluknya penuh kasih sayang akan menariknya keluar dari dunia yang senantiasa membuat dadanya dipenuhi rasa sesak dan nyeri.

.

.

.

TBC

.

.

AN:
Kadang ide itu munculnya suka seenaknya. 8,5k yang 4,5k sisanya itu nyolong waktu tidur Raisa :") dan tentu berakhir dengan Raisa nya sendiri baru bisa tidur setelah shalat subuh huhu
Eitt tapi gak apa-apa jarang-jarang juga Raisa bergadang wkwkwk berhubung ini updatenya rada lama dan idenya lagi ngalir lancar banget aku kasih yang panjang/? Special buat kalian :* meski sebenarnya siang nanti orang-orang akan mengernyit melihat kantung mata Raisa yang bengkak dikarenakan nulis ininya sambil nangis, ditambah lagunya yang nusuk banget ke hati T.T jam setengah tiga pagi nangis sesegukan gegara part B nya di itu T.T gak kuat sebenarnya My Baby B digituin tapi yaaaa kalian juga suka kan kalo B nya dinistain dulu? Hayo ngaku haha :D

Btw ada tebak-tebakannya loh di Chapter ini :V

Alur mundur udah kelar ya sayang-sayangku, selanjutnya hanya ada enam tahun kemudian yeaaayyyyy Heechul nya udah bebas/? Salah satu Superhero nya Baekhyun selain Mas SehunQu #eh enaknya Baekhyun manggil Heechul apa ya? ada saran?

Chanyeol jahat banget? Haha tunggu aja, setelah bertambah usia enam tahun dia akan akan semakin menjadi-jadi apalagi ehemm dikolaborasikan dengan ehhmm Sojin dan Emak-emak antagonis itu akan muncul di chapter-chapter selanjutnya *Ngakaksyaiton*

Tenang aja Raisa gak bakal bahas kisseu scene ko hwehehheheheehe

Kyungsoo jahat banget ya? Kita sebenarnya kalo jadi dia juga pasti ngerti sih, soalnya sebagian dari kita juga pasti pernah punya rasa iri terhadap orang lain, atau seenggaknya pengen hidup berkecukupan. Bedanya mungkin Kyungsoo milih menghalalkan segala cara. hmm Kyungsoo lelah~ :V

Iya di sini Baekhyun sayang banget sama Kyungsoo, udah kayak saudara kandung dan wajarlah ya orang mereka dari bayi merah udah bareng-bareng ditambah lagi Baekhyun yang emang dari masih dalam perut juga udah ditakdirkan sebagai seorang yang sangat penyayang jadi ya, di sini dia gitu.. Angel banget bikin Raisa KZL ZBL sendiri :D

Jangan baper ke Hunbaek yaa cukup Raisa aja yang baper.

At last..

See you next chapt and Saranghamnidaaaaaa :*