-00-

The Last Train

BTS Fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon. Misteri!

-00-

"Chim, Chim, oh Chim, aku menyarankan padamu untuk bolos kelas terakhir dan tidur di perpustakaan. Ini hari kedua aku melihatmu begitu berantakan."

Jimin menekan tombol power ponselnya. Layarnya menyala. Angka 13.42 tertera di sana. Ini tengah hari, dan kelas terakhir akan dimulai jam setengah 3 nanti. Masih cukup lama. Karena itu Taehyung mengajaknya makan siang dahulu di kantin. Tapi, Jimin tak begitu berselera. Entah mengapa. Sejak tadi makanannya hanya dia tusuk-tusuk dengan sumpit. Paling-paling es kopinya yang ia sedot sekali-kali.

"Tae, aku tak tidur tapi aku bahagia."

"Kau seperti berubah menjadi Shrek dan kau bahagia."

"Bukan seperti itu…" Jimin mengelus dahinya sendiri, sambil memasang wajah berseri-seri. Ini jelas mengundang rasa heran dari Taehyung yang melihatnya. Si rambut platina yang kantung matanya semakin tebal itu jadi seperti orang gila, batinnya. "Aku…"

"Kau dapat sesuatu tadi malam?"

"…hehe." cengiran lebar Jimin langsung membuat Taehyung mengerti. Jimin menunjuk dahinya sendiri. "Aku dapat kecup. Di sini."

Tehyung hampir tersedak. Ia tak percaya kawannya yang kadang seperti orang bodoh itu bisa mendapat kecupan dalam tempo yang begitu singkat. Dalam tiga kali pertemuan? Wah. Taehyung tak tahu kalau ternyata Jimin punya kebolehan mengambil hati orang dengan cepat.

"Kau sudah tahu di mana dia turun?"

"Stasiun S." jawab Jimin setelah meminum kopinya.

"Tempat kerjanya?"

"Zahl."

"Zahl?" ulang Taehyung bertanya.

"Kau tahu 'kan?"

Taehyung sedikit mengerutkan dahi.

"Aku tahu. Itu kantor konsultan keuangan."

"Wah, sungguh?"

"Dia kerja di sana?"

"Iya, katanya begitu."

"Ooh…" Taehyung mengangguk-angguk. Ia menggigit apelnya. Diam agak lama sambil mengunyah. Jimin di depannya juga terlihat tenggelam dalam lamunan yang indah. "Tapi kusarankan kalian tetap bertemu di stasiun saja seperti biasa."

"Lho? Kenapa? Kemarin kau meyuruhku untuk menjemputnya ke kantor makanya kutanya dia di mana ia bekerja."

Taehyung mengetuk-ngetukkan jari ke meja. Ia gigit apelnya. Tak langsung dikunyah, tapi disimpan dalam rongga pipinya. Seperti hamster.

"Tempatnya agak jauh. Lebih jauh lagi dari rumahku. Jalannya memutar untuk sampai ke sana. Lebih baik bertemu di stasiun saja, Chim."

Jimin nampak agak kecewa. Tapi kemudian ia mengangguk mengerti.

"Nanti aku ikut pulang ke rumahmu lagi, ya?"

"Oh, Chim. Kenapa aku harus selalu menerima tamu sepertimu,'sih?" sebal Taehyung. Tapi Jimin hanya tertawa.

"Sepulang kuliah akan kubelikan seloyang kue untukmu. Aku baru dapat kiriman uang dari Ibu."

.

Taehyung entah sejak kapan sudah tertidur pulas. Laki-laki pirang itu tidur menelungkup sambil menekuk tangannya, seperti bayi yang meringkuk terbalik. Film yang ditontonnya bersama Jimin bahkan belum habis. Ia meninggalkan Jimin yang menonton sendirian. Hening. Yang menggema di ruang keluarga rumah itu hanya suara televisi. Tambahan bunyi patahan kreker yang dimakan Jimin.

Ia berpikir, mungkin akan membangunkan Taehyung nanti ketika ia akan pulang. Padahal sebetulnya ia tak pernah tega membangunkan orang tidur. Tapi kalau Taehyung tak dibangunkan, siapa yang akan mengunci pintu dan pagar? Taehyung hanya tinggal sendirian di rumahnya. Ayah ibunya tinggal sementara di kota lain karena urusan pekerjaan. Sementara Taehyung tak bisa ikut karena ia harus kuliah. Jadi, yang menjaga rumah dan memastikan semuanya terkunci aman ialah Taehyung seorang.

Jimin mendongak, melihat pada jam dinding. Masih jam 9. Mungkin satu jam lagi ia akan pulang.

Dalam lamunannya, selintas rutukan muncul. Andai saja ia menanyakan nomor ponsel Yoongi kemarin malam, mungkin ia bisa balas-berbalas pesan dengan laki-laki itu sekarang. Ah, bodoh sekali. Kenapa IQ-nya seakan hilang sebagian jika bersama Yoongi?

"Apa aku harus menjemputnya ke kantor Zahl?" monolog Jimin.

Tapi, Taehyung bilang kantor itu cukup jauh dari rumahnya. Belum lagi, jika tiba-tiba Jimin datang tanpa memberitahu, mungkin saja Yoongi akan marah sekali. Laki-laki bermata sayu itu bahkan mungkin akan semakin risih padanya. Mungkin dia akan dikatai maniak lagi.

Ah, Jimin bingung. Resah. Ingin rasanya waktu berjalan lebih cepat. Ia ingin segera pergi ke stasiun dan berjumpa dengan Yoongi.

Jimin merebahkan diri, ikut menyerahkan tubuhnya pada karpet bulu alas duduknya dan Taehyung di ruang keluarga ini. Ia melihat Taehyung begitu lelap. Bertahan dalam posisi yang menghimpit paru-parunya. Lantas sebuah ide muncul di kepala Jimin. Ia pun mengambil ponselnya, mengatur alarm di jam 10, dan ia memejamkan mata, untuk satu jam ke depan.

.

"Aku pulang ya, Tae."

"Hoaahhmmm… iya, iya. Hati-hati."

Taehyung menyandarkan kepalanya pada tralis pagar. Matanya membuka-tutup dengan lambat. Tidurnya terganggu, tapi ia memang harus mengunci pintu setelah Jimin pergi.

"Selamat malam!"

Mereka sama-sama menoleh ketika ada dua orang pria berpakaian polisi menghampiri. Dua polisi itu nampak tengah berpatroli dengan membawa senter. Tapi, rasa-rasanya Taehyung tidak pernah melihat polisi dari pos di kompleks tempat tinggalnya jalan-jalan jam 10 malam begini. Masih terlalu dini untuk patroli. Biasanya mereka keluar jam 2 pagi.

"Ada apa pak?" tanya Taehyung penasaran. Ia mengucek matanya kasar dan mencoba menghilangkan kantuknya.

"Apa kalian melihat anak kecil usia sekitar 9 tahunan lewat di sekitar sini?"

Jimin dan Taehyung saling memandang kemudian.

"Tidak." ucap mereka bersamaan.

"Ada apa pak? Apa ada anak hilang?" tanya Jimin.

"Iya, anaknya pak Jeon tidak juga kembali ke rumah sepulang sekolah. Kami dan yang lain sedang mencarinya. Kalian betul tidak melihat anak itu?"

Jungkook hilang.

"Dia diculik?"

"Kami belum bisa memastikan. Tapi menurut keterangan tetangganya, beberapa hari ini ia lebih sering diperlakukan tidak baik oleh ayahnya. Bisa saja ia kabur dari rumah."

Jimin dan Taehyung terdiam sejenak.

"Pak, kami memang tidak melihat Jungkook, tapi apa aku boleh membantu mencarinya? Aku kenal anak itu dan biasanya dia sering lewat sini." saran Taehyung. Jimin jelas sekali melihat raut cemas dari wajah laki-laki itu. Baru kemarin Jungkook lewat depan rumah Taehyung sambil menangis. Baru kemarin Jungkook diantar Taehyung ke rumahnya. Sekarang ia hilang?

"Apa aku juga boleh membantu?" usul Jimin. Ia juga merasa khawatir pada anak itu. Jungkook masih kecil, dan malam-malam begini ia ada di mana jika tak di rumahnya?

"Boleh saja jika kalian ingin membantu mencari."

"Tidak, Chim. Pulanglah. Kau akan ketinggalan kereta." tapi Taehyung mencegahnya. Jimin jelas bertanya mengapa.

"Tapi aku juga –"

"Chim, dia masih kecil, dia tidak mungkin pergi jauh kalau memang dia kabur dari rumah."

"Tapi kalau dia diculik?"

"Berharap saja dia hanya sedang merajuk dan bersembunyi di suatu tempat."

Jimin tak bisa bicara lagi. Ia memang bisa saja ikut Taehyung mencari Jungkook. Tapi ia akan ketigalan kereta. Ia sebetulnya tidak ingin egois dengan meninggalkan masalah ini. Hanya saja, Taehyung nampak jelas tidak mau dibantu.

"Pulanglah Chim. Nanti akan ku kabari kalau Jungkook sudah ketemu." Taehyung mengunci pagar rumahnya dengan mengabaikan pintu yang hanya ditutup tanpa dikunci juga. "Pak, aku ikut."

Dua polisi itu langsung melanjutkan pencariannya, berjalan dengan tergesa sambil menyisir sekitar. Taehyung mengekori mereka dari belakang. Jimin, hanya terpaku di depan rumah Taehyung tanpa bisa apa-apa.

Mereka ditelan gelap jalan yang tak lagi berlampu.

Kemudian Jimin mendengus. Beranjak dari rumah itu dan berharap Jungkook baik-baik saja dan hanya sedang merajuk. Semoga.

.

Jimin pulang dengan membawa keresahan dan kehawatiran yang besar dalam benaknya. Sepanjang jalan menuju stasiun, ia mengedarkan pandangannya ke mana pun yang kemungkinan Jungkook ada di sana. Beberapa toko yang masih buka bahkan Jimin tanyai tentang anak itu. Tapi hasilnya nihil. Lagipula daerah pertokoan yang Jimin lewati sudah cukup jauh untuk dijangkau seorang anak kecil seperti Jungkook.

Ia, yang tiba di stasiun kemudian mengeluarkan kartu e-ticketnya dari saku, hendak menempelkannya pada mesin scanner. Namun belum sempat kartu itu tertempel, ia menoleh ke arah sebuah bangku yang diisi seorang laki-laki dan anak kecil.

Matanya membola. Ah, itu–

"Yoongi?!"

Yoongi, laki-laki yang tengah tidur di bangku dengan seorang anak kecil yang juga tidur di pangkuannya. Dari tas ransel merah yang tergeletak di sampingnya, Jimin mulai curiga bahwa itu adalah Jungkook yang dicari-cari.

"Jungkook-ah!" segeralah ia berlari menghampiri mereka. "Yoongi, Jungkook!"

Jimin berlutut di depan Yoongi, mengguncang-guncang lengan laki-laki itu dengan panik.

Yoongi kemudian terbangun. Ia sempat nampak terkejut saat mengira yang menyentuhnya adalah orang asing, tapi setelah tahu itu Jimin, wajahnya mengendur.

"Jimin?"

"Yoongi kenapa Jungkook bisa–"

"Kau mencari anak ini?" sela Yoongi sebelum Jimin sempat menyelesaikan pertanyaannya. Jimin mengangguk. Jungkook masih tidur dengan pulasnya dengan bersandar di dada Yoongi. Tak terganggu sama sekali. "Aku melihatnya duduk sendirian di bangku ini ketika aku datang. Dia menangis. Aku memberinya makanan dan dia tidur. Kelihatan lelah sekali."

Yoongi bertutur bahkan sebelum Jimin bertanya. Tapi Jimin jadi mengerti. Tadinya ia sempat memikirkan yang tidak-tidak. Tapi jika kejadiannya memang begitu, ia harus bersyukur.

"Dia kabur dari rumah. Orang-orang mencarinya kesana-kemari. Syukurlah jika dia baik-baik saja." Jimin lega sekali. Sungguh. Ia menundukkan kepala dan menaruh keningnya di lutut Yoongi.

"Apa keluarganya bermasalah? Kupikir anak kecil tidak akan berani pergi dari rumahnya jika tidak ada alasan yang betul-betul serius." Yoongi membelai pelan rambut Jungkook. Jimin menengadah untuk memandang laki-laki cantik itu.

"Ya, temanku bilang dia sering dipukuli oleh ayahnya. Tapi jujur, aku tak menyangka Jungkook akan pergi sejauh ini."

"Hum. Mungkin dia sudah betul-betul tak tahan."

Jimin melihat Yoongi memeluk anak itu dan mencium keningnya. Menciumnya dengan lembut. Dia layaknya seorang ibu yang menimang anaknya dengan kasih. Entah mengapa, Jimin merasa hatinya menghangat. Ia terhanyut.

Rupanya ada sisi tersembunyi yang baru saja ia sadari dari laki-laki yang biasanya dingin dan ketus itu. Yoongi seorang penyayang.

"Antarlah anak ini kembali ke rumahnya."

"Ya, kupikir aku memang harus mengantarnya pulang. Apa kau juga akan pulang?"

"Ya."

"Kalau begitu kita… tidak bisa pulang bersama malam ini." Jimin memasang senyumya dengan terpaksa.

"Mengapa kau begitu kecewa?"

Jimin hanya bisa meringis tanpa menjawab dengan kata-kata.

"Hei, hei, Kookie, ayo bangun, ada yang menjemputmu." panggil Yoongi pelan pada anak itu. Ia mencubiti pipi gembil Jungkook."Ayo, bangunlah."

Jimin menunggu. Ia tersenyum simpul melihat dua orang di depannya itu. Manis kelihatannya. Salahkah jika ia berangan bila suatu hari nanti ia bisa melihat Yoongi yang seperti ini lagi? Sebagai anggota dari keluarga kecil yang ia bangun kelak.

"Unnghhh… Aku tidak mau pulanng…" cumam Jungkook sambil meronta, menggeliat dan menyembunyikan wajahnya di ketiak Yoongi. Tangannya mengalung ke leher laki-laki itu. "Aku tidak mau pulang… Aku tidak mau bertemu ayah…" rengeknya. Sepertinya ia belum sepenuhnya bangun dari tidurnya.

"Ayo pulang Jungkook-ah, Taehyung mencarimu, ia cemas sekali. Aku akan membawamu padanya kalau kau tidak mau bertemu ayahmu." Jimin mengacak pelan rambut cokelat madu Jungkook. "Ayo, aku akan mengantarmu pada Taehyung."

Merasa mengenal suara Jimin, akhirnya Jungkook menoleh.

"Kakak yang rambutnya beruban!" seru Jungkook pada Jimin. Yoongi menutup mulutnya menahan tawa. Jimin memberenggut. Rasa-rasanya rambutnya yang dicat platina itu cukup keren bagi Jimin, lantas mengapa malah sebut uban oleh Jungkook?

"Ini bukan uban, Jungkook-ah…" bela Jimin sambil menyisir rambutnya asal.

"Kookie, kau pulang dengannya ya? Aku juga harus pulang ke rumahku, dan sepertinya kita harus berpisah di sini."

Jungkook nampak tak rela ketika Yoongi berdiri dan melepaskan anak itu dari gendongannya. Jimin yang kemudian meraih Jungkook dan gantian menggendongnya.

"Terima kasih, Yoongi." ucap Jimin. Ia juga sebetulnya tak rela harus berpisah dengan Yoongi di stasiun itu.

"Untuk apa?"

"Karena sudah menjaga Jungkook."

Yoongi tertawa renyah, menyisakan senyumnya yang terukir manis di wajah itu. Lantas Jimin mengamit tangannya, kemudian menatap mata Yoongi yang kian lembut tiap harinya.

Ia beri satu kecupan di kening laki-laki itu.

"Hati-hati." ucapnya terakhir kali, sebelum Yoongi pergi dengan sedikit berlari.

Terdengar peringatan bahwa kereta di peron 2 akan segera berangkat. Jungkook memandang Jimin dengan mata besarnya yang jernih ketika Yoongi sudah tak terlihat. Oh, Jimin baru sadar kalau mungkin anak itu melihatnya mengecup Yoongi tadi.

.

Yang pertama Jimin harus lakukan adalah memberitahu Taehyung bahwa Jungkook sudah ditemukan dan aman bersamanya. Ia pun mencoba menelpon kawannya itu, tapi tak kunjung diangkat bahkan setelah panggilan ke-10. Lalu Jimin mulai berpikir bahwa mungkin saja Taehyung tidak membawa ponselnya saat ia ikut polisi-polisi tadi. Lagipula, pencariannya tidak direncanakan sama sekali. Jimin juga agak cemas mengingat pintu rumah Taehyung yang tak terkunci. Rumah itu masih aman atau tidak, entah.

"Jungkook-ah, aku akan mengantarmu langsung ke rumah Taehyung saja." ucap Jimin. Tapi tak ada respon. Rupanya bocah yang masih ia gendong itu tengah tidur. Jimin tak mau mengganggu. Benar kata Yoongi, mungkin anak ini memang kelelahan.

Akhirnya Jimin berjalan kembali ke rumah Taehyung dengan membawa serta Jungkook dalam gendongannya.

Tiba di depan rumah Taehyung, Jimin menekan bel satu kali. Kemudian ia memandang rumah itu dengan selidik. Pagarnya terkunci tapi lampu-lampunya masih menyala. Jangan-jangan Taehyung belum kembali, pikirnya. Ia pun memutuskan untuk mencari pos polisi terdekat untuk melapor. Meski tak tahu di mana, tapi ia yakin pos itu tak akan sulit ditemukan.

Jimin berjalan mengikuti arah di mana dua polisi yang sebelumnya mencari Jungkook itu datang. Mereka datang dari arah timur. Tapi baru berapa rumah ia lewati, sayup terdengar suara Taehyung memanggil.

"Jim! Jimin!"

Laki-laki itu hapal dengan jaket bomber yang Jimin kenakan. Taehyung berlari-lari. Jimin berjalan cepat menghampirinya.

"Tae, Jungkook ada bersamaku." Taehyung sadar kalau anak yang tidur dalam gendongan Jimin adalah Jungkook yang hilang.

"Hahh… hahhh… di mana kau menemukannya?" ia mencoba mengatur napasnya yang memburu habis berlari. Belum lagi ia telah berkeliling kompleks dan itu cukup menguras tenaga.

"Di stasiun."

"Heh?! Bagaimana dia bisa sampai ke situ?!" Taehyung terkejut bukan main. Tak menyangka Jungkook akan sampai ke tempat itu.

"Aku tak tahu, tapi aku memang menemukannya di sana, bersama Yoongi."

"Yoongi?"

"Ya, Yoongi bersamanya. Sampai ketika aku tiba, ia menyerahkan Jungkook padaku." Jimin membetulkan posisi Jungkook yang sempat agak merosot. "Yoongi bilang ia menemukan Jungkook yang sedang menangis, lalu ia memberinya makanan dan menjaganya."

"Ah… begitukah?"

"Ya. Tae, kupikir kita harus melapor dahulu pada polisi-polisi itu. Dan juga, mungkin lebih baik kalau Jungkook diamankan di rumahmu dulu."

"Ya, kau benar. Aku bisa pergi ke pos nanti. Sekarang bawa dia ke dalam." Taehyung membuka gembok pagar rumahnya.

"Mungkin esok, katakan juga pada polisi untuk menghubungi dinas sosial. Mereka harus tahu, kalau memang keadaan keluarga Jungkook tidak layak untuk anak ini tinggali."

Taehyung menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap Jimin dalam diam. Hanya sejenak sebelum ia mengangguk setuju.

"Kau benar."

Saat hendak membuka pintu, lagi Taehyung berbalik.

"Kau sudah ketinggalan kereta. Bagaimana dengan Yoongi-mu?" masih sempat ia memikirkan itu. Jimin tertawa renyah.

"Masih ada esok hari untuk pulang bersamanya." muncul dalam ingatannya ketika ia mengecup kening Yoongi di stasiun tadi. Lagi ia tertawa renyah. "Malam ini aku menginap, ya?"

-00-

TO BE CONTINUED