Title: Accidental Love
Author: Yuka Yutaka and Near Kouyuu
Genre: YAOI! Romance, fluff, angst, comedy
Pairings: Kray/Krislay yah apapun kalian menyebutnyalah.
Chapter: 4
Disclaimer: EXO belong to God and themselves. No copast, no repost, no bashing… sankyuu~ ^^
Warning: GAK ADA FEEL! GAK ADA OC MAUPUN YEOJA DI SINI! *nyante aja kali?*
Notes: Huwaaa~~ mian untuk apdet lama… oke agak lama… cukup lama! Iya deh, LAMA BANGET! Btw, ada yang kangen sama FF ini? Atau sama authornya huakakakaka! LOL, anyway~ RCL as always… sangat mengaharap comment yang bermartabat(?) heheh^^ gomawo *teleport*
.
.
.
.
Tiba-tiba Kris merengkuh bahu kecil di depannya dan menariknya hingga bibir mereka bertemu. Lay membelalakkan matanya saat merasakan sesuatu yang lembut dan… manis menyentuh bibirnya. Dia menutup matanya perlahan saat Kris menariknya mendekat dan mengalungkan tangan besarnya di pinggang Lay. Beberapa detik kemudian mereka mulai menikmati kedekatan yang sangat intim itu dengan saling berpelukan di tengah guyuran hujan. Jantung mereka berpacu seirama, berdetak dan berdebar lebih kencang dari biasanya.
Lima menit. Lima menit sudah mereka berciuman dan akhirnya saling melepas. Kris menatap mata Lay dalam, dan Lay bisa merasakan pipinya sangat memanas. Dia menatap Kris tidak percaya kemudian tersenyum canggung, "Terima kasih…" katanya dan berlari ke dalam rumah tak peduli keadaannya yang basah kuyub.
Lay berlari ke kamarnya dan terburu menghambur ke atas ranjang empuknya menutup wajahnya yang dia yakin sudah semerah kepiting bakar, oh itu hitam… oh God! Apapun itu! Lay merasa seperti mimpi. Dia berciuman dengan lelaki itu… lelaki kejam itu… God! Perasaan lain itu mulai tumbuh kembali.
Kris mengusap rambut blond-nya yang basah. Sambil bersandar pada kursi mobil dia tersenyum sendiri. Ternyata anak itu sangat cantik. Sangat manis. Kris tidak ingin memungkiri kalau bibir Lay itu sangat manis dan membuatnya ketagihan. Dia akan mencium bibir itu setiap hari jika dia bisa.
Perasaannya semakin jelas…
Is it… called LOVE?
.
.
.
ACCINDENTAL LOVE
Chapter 4
.
.
.
.
Lay menatap cermin di depannya. Jam di dinding kamarnya memang masih menunjukkan pukul 01 pagi, tapi dia sudah terbangun. Dia menatap setiap inchi wajahnya sendiri. Putih, bersih, mulus, bibir kemerahan, hidung mancung yang lucu, sepasang mata hazel yang indah, ditambah rambutnya yang coklat kemerahan tampak sangat serasi.
Pantas Kris bilang dia cantik.
Tidak… dia itu namja! Dia itu tampan! Harusnya… ya, seharusnya. Tapi…. Kris bilang dia itu cantik. Lay memiringkan kepala dan menatap dalam cermin itu dalam-dalam dan mendapati bayangan Kris di depannya sedang tersenyum memiringkan kepalanya seolah sedang mempelajari raut wajah Lay.
"Haih!" Lay mengusap rambutnya frustasi lalu berjalan ke atas tempat tidur.
Dia membaringkan tubuhnya, dan menatap langit-langit kamarnya yang putih bersih. Kris sudah tidur belum ya? Dia sedang apa ya? Apa dia masih bangun? Kenapa dia tidak menelponku? Apa dia sedang sibuk? Atau dia memang sudah tidur?
"Haih! Kris! Keluarlah dari kepalaku… kau membuatku pusing!" teriak Lay frustasi.
Setelah mengoleskan beberapa tetes BB cream ke wajahnya, Kris berbaring di tempat tidurnya yang nyaman. Menyandarkan kepalanya di atas tangannya yang terlipat dia menatap langit-langit kamarnya yang dipenuhi bintang-bintang berwarna hijau yang bersinar dari lampu tidur yang dia beli karena lampu utamanya telah dimatikan.
"Lay… I miss you…" desahnya nyaris tak bersuara.
Lay sudah tidur belum ya? Dia sedang apa ya? Apa dia masih bangun? Kenapa dia tidak menelponku? Apa dia sedang sibuk? Atau dia memang sudah tidur?
Kris mengacak-acak rambutnya, "Laaayyy~~ keluarlah dari pikiranku, aku mohoooonn… aku tidak bisa tidur! Wajahmu selalu berputar-putar dalam otakku, please! Get out of my head and come into my arms instead… Eh?! APA YANG BARU SAJA AKU KATAKAN?!"
Kris kemudian mengambil handphone touch screennya di samping bantal dan mulai menggeser layar benda kotak berwarna hitam itu mengunlocknya sebelum berpikir, "Apa aku telepon saja ya?! Hah… aku tidak akan bisa tidur kalau aku belum mendengar suaranya…" katanya lalu dengan hati yang mantap, dia membuka contact-nya dan menemukan nama yang akan dia tuju.
Lay merasakan handphonenya bergetar tanda panggilan masuk. Dengan malas karena masih berbaring di tempat tidur, dia membaca caller ID dan menemukan 'Naughty Kris is calling…' di layarnya. Dengan hati berdebar dia menarik napas, lalu dengan jantung yang mau meledak dia mengangkat telepon itu.
"H-Hallo?!" katanya.
"Lay?" kata suara di seberang sana. Lay terkesiap dan tersenyum canggung mendengar suara Kris.
"Eng~ ya?!" tanyanya.
"Aku…" kata mereka tiba-tiba bersamaan.
"Kau duluan…" Kris kemudian berkata membuat Lay mengernyitkan dahi, "Kau saja…"
Kris membalas, "Kau saja…" Lay tidak mau kalah, "Kau!"
"Kau Lay!" Lay mengerang, "Baiklah aku duluan~"
"Tidak aku!" kata Kris, "Aku!" kata Lay.
"Aku Lay~" Lagi-lagi Lay mengerang, "Baiklah… apa yang akan kau katakan?" tanya Lay akhirnya.
"Eng… a-aku… hanya… eng~ selamat tidur."
'Tuuutt… tuuuttt… tuuutttt….'
Kris mendekap gulingnya seraya menutup teleponnya dan menghantamkannya ke bantal. Dia tidak percaya apa yang dia lakukan. Dia memejamkan mata dan menarik nafas, menetralisir detak jantungnya yang mulai tidak normal.
"Ahhh… kenapa aku hanya bilang selamat tidur?" kata Kris frustasi. Tak lama kemudian dia mendapat pesan masuk dari seseorang.
[From: LoveLay
To: Kris Naga Ganteng
Kenapa kau tutup? Tidak punya pulsa? Gayanya… :P
Heuuh… padahal aku ingin mengatakan…
"Mimpi indah"
Hihii… :D]
Kris tersenyum-senyum sendiri meski ada rasa kesal terselip dihatinya saat membaca kata 'tidak punya pulsa'. Dia kemudian membalas pesan itu secepat yang dia bisa.
Lay mendekap handphonennya dan memejamkan mata saat menyadari pesannya telah terkirim. Dia merasa tidak sabar untuk membaca balasan dari Kris, kalau dia belum tidur. Kenapa jantungnya berdebar-debar lagi? Bahkan lebih cepat! Di sela-sela waktunya, handphonenya bergetar dan satu pesan masuk diterimanya.
[From: Naughty Kris
To: Laynicrono :P
Hm… have a nice dream too my lovelay… /]
"Akh.. hahahah~ hiyahahahah~" tawa Lay menutup wajahnya dengan bantal ungunya. Dia yakin wajahnya sudah semerah buah cherry. Dia kemudian membalas pesan itu.
[From: LoveLay
To: Kris Naga Ganteng
Thanks my eemhh~ naughty kris~ :P]
"Jiah… dasar kuda gila.." kata Kris menahan tawa lalu menutupi tubuhnya dan tidur dengan senyum di bibirnya.
.
.
.
Lay merapikan buku-bukunya. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 3 sore tanda waktu belajar sudah berakhir. Sekarang ini Lay sudah selesai merapikan bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah selesai dia mengangkat beberapa buku referensinya dan berjalan keluar kelas. Tapi saat dia hendak berlalu dari ambang pintu dia terhenti karena melihat Kris sedang berdiri bersandar pada dinding pintu sambil melipat tangan di depan dadanya.
"Ada apa?" tanya Lay. Kris mengubah posisinya, memasukkan tangan kirinya di kantung celananya, sedang tangan kanannya mengendorkan dasinya.
"Hari ini kau pulang denganku…" katanya. Lay mengernyitkan dahi, "Aku pulang dengan Sehun…" katanya dan Kris memutar kedua bola matanya.
"Dia sedang ada 'tugas' dengan Tao. Sudahlah, aku menunggumu hampir membeku kau tahu? Ayo…" ajak Kris dan mereka berjalan bersama keluar sekolah diiringi umpatan kecil Lay.
Sesampainya di mobil, Lay sudah bisa menyesuaikan diri untuk duduk di kursi depan bersama Kris yang sedang meletakkan tasnya. Kris kemudian masuk lalu mem-play MP3 player-nya. Mengemudikan mobilnya keluar dari tempat parkir lalu berlalu lalang di jalanan kota.
"Kita mau ke mana Kris?" tanya Lay menyadari Kris tidak mengendarai mobilnya ke arah rumahnya maupun rumah Kris.
"Suatu tempat." Jawab Kris singkat.
"S-Suatu tempat? Tempat apa?!" tanyanya curious.
Kris menyeringai, "Ke suatu tempat di mana kau akan merasakan… engh… kenikmatan.." kata Kris dan menambah kecepatan mobilnya.
"Ha?!"
"Tempat di mana kita bisa 'melakukannya'…" jawab Kris lagi.
"Haa? Hentikan benda ini sekarang juga!" teriak Lay spontan merasa dirinya dalam bahaya.
"Eh?"
.
.
.
Setengah jam kemudian mereka sampai di sebuah tempat yang sukses membuat darah Lay berdesir dengan sangat cepat. Dia hanya melongo di tempatnya saat Kris membuka pintu mobilnya untuk keluar.
"Kris… kau yakin?" Tanya Lay.
Kris mengangguk mantap, "Aku kan sudah bilang, ini adalah tempat yang akan memberi kita kenikmatan… sudah! Ayo turun!" suruh Kris, dan Lay pun menurutinya. Dia turun dari mobil dan menatap bangunan besar itu.
"Kau yakin?" Tanya Lay ragu mengingat Kris adalah orang paling malas bergerak di seluruh dunia.
"Seyakin-yakinnya Lay…." Jawab Kris mantap.
Lay menelan ludah saat Kris berkata lagi, "Ini adalah alasan kenapa aku mengajakmu…" katanya dengan seringai kecil.
"Sebuah… MALL?!" Tanya Lay dan Kris mengangguk mantap sambil tetap mempertahankan giginya yang terus terpamerkan oleh senyumannya.
Mereka kemudian memasuki bangunan itu dengan sedikit umpatan Lay karena dia merasa telah dibodohi oleh pria kejam ini.
Kris kembali memperhatikan sepatu berwarna putih dengan corak hitam yang saat ini sedang ada di tangan besarnya. Lay hanya duduk sambil membaca majalah bercover Big Bang yang meluncurkan album barunya. Suasana mall sore itu sangat ramai dengan banyak pengunjung yang tampaknya berpasangan mengingat malam ini adalah akhir pekan.
"Lay menurutmu bagaimana?" Tanya Kris sambil menunjukkan sepatu itu pada Lay yang masih membaca buku.
Lay menjawab tanpa mengalihkan pandangannya pada majalah itu, "Hmm… bagus…" katanya malas membuat Kris geram. Dia kemudian mengambil majalah itu dari hadapan Lay membuatnya mengerang.
"Lihat dulu!" suruh Kris dan Lay berhenti mengerang tapi mendengus kesal, "Huh! Mana?!" tanyanya.
Lay mengamati sepatu itu kemudian berkomentar, "Tidak. Lihatlah, ini jahitannya kurang rapi… biar aku carikan!" Lay kemudian bangkit dari posisi duduknya dan mulai bergerak mengamati setiap rak sepatu yang ada.
Kris hanya duduk mengamati tingkah lucu calon tunangannya itu. Berlarian kecil ke sana kemari hanya untuk mencarikan sepatu yang cocok untuknya. Tubuh fragile-nya terhenti di sebuah rak dan menemukan sebuah sepatu. Dia tersenyum sendiri kemudian berjalan kearah Kris.
"Ini…" katanya tersenyum. Kris mengamati sepasang sepatu berwarna putih dengan corak hitam dan merah itu dengan tersenyum kecil.
"Bagus…" kata Kris spontan dan membuat Lay tersenyum lebar.
"Terima kasih…" kata Lay lalu memberikan itu pada Kris.
Setelah membayar, mereka pun berjalan lagi ke sekeliling mall. Mengamati begitu banyak pasangan yang saling bercanda, tertawa, dan yah… bersenang-senang. Kemudian Kris menunjuk satu store yang menjual gaun pesta. Dia menggandeng tangan Lay dan menyuruhnya memilih gaun.
"Kenapa?" Tanya Lay risih karena ruangan itu hanya di penuhi dengan perempuan.
Kris memutar bola matanya, "Untuk seseorang. Cepat pilih… harus yang bagus dan karena ukuran badannya sama denganmu, jadi pilihlah yang pas denganmu…" suruh Kris membuat Lay mengernyitkan dahinya.
Lay kemudian mengendikkan bahu, dan berjalan ke dalam. Kris hanya tersenyum saat melihat Lay memilih dan memilah gaun yang dia sukai. Saat itu juga Kris baru menyadari, betapa sempurnanya lelaki di depannya itu. White pale skin, cherry lips, hazel eyes, nice and cute shapes nose, cute and gentle voice, brown caramel hair, and another part his body are so… perfect.
Kris ingin dia ada di dekapannya. Bersandar di dadanya dan memeluknya erat. Menyerahkan hati dan cintanya pada Kris. Menggumamkan kata-kata cinta dengan suara lembutnya. Mendesahkan namanya saat mereka bercinta. Tenggelam saat mereka berciuman dan…
"Kris… bagaimana menurutmu?" Tanya Lay membuyarkan lamunan nakal Kris.
"Ah? Oh.. iya bagus. Eng… kau benar-benar menginginkannya eoh?" Tanya Kris dan Lay mengangguk.
Kris mengamati gaun pilihan Lay itu dari ujung hingga ujung yang lain. Sebuah gaun putih dengan renda di bawah. Tidak terlalu mewah dan cukup simple, gaun yang kurang lebih 15 cm di atas lutut. Kris tersenyum tanda puas lalu membayar gaun itu.
Mereka pun berjalan keluar kembali sembari sesekali berbicara mengenai sekolah dan lai-lain. Sesaat mereka selalu melihat ke arah pasangan lain yang saling menyuapi, saling bercanda, tertawa, bermain bersama… sepertinya menyenangkan.
Jarak mereka yang sangat dekat membuat Lay mengambil inisiatif untuk mempersatukan jemari mereka. Membuat Kris sedikit terkejut dengan perlakuan Lay yang terus berbicara mengenai Sehun dan Tao yang pernah tidak sengaja berciuman saat saling menabrak di perpustakaan. Tengannya terkait sempurna dengan tangan Kris memberikan sensasi hangat atau mungkin… panas? Dalam tubuh Kris. Dia tersenyum tiap Lay tertawa dan tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena hal yang terlalu lucu. Kris mencetak setiap lekuk wajah Lay dalam memorinya.
Jika dia harus kehilangan ingatannya… maka wajah orang inilah yang tidak akan pernah bisa dia lupakan.
Mereka mengakhiri traveling dadakan mereka dengan membeli ice cream rasa strawberry dan coklat yang mereka habiskan selama perjalanan keluar mall. Seperti biasa Kris yang mengemudi dan Lay yang menjadi penumpang tetap di sampingnya.
Lagi-lagi cuaca sedang tidak baik. Hujan yang sangat deras mengiringi perjalanan mereka pulang ke rumah. Sesampainya di depan rumah Lay mereka tidak serta merta turun. Kris menggenggam erat tangan Lay dan berkata, "Besok aku ada pertandingan basket. Kau nonton ya?" pintanya dan Lay tersenyum.
Senyum angelic itu…
"Ya…" kata Lay.
"Janji?! Kau harus mendukungku…"
"Ne…" Lay memamerkan dimple kebanggaannya dan membuat Kris membelai pelan dimple itu.
"Benar ya?!"
"Iya Kris…"
"Janji…"
"He'em…"
"Jangan bohong!"
"IYA! DASAR KAU BUJANGAN TUA!" teriak Lay memukul kepala Kris membuatnya meringis sakit tapi kemudian mereka saling tertawa.
Tatapan mereka beradu sangat lama sebelum Kris mendekatkan wajahnya demi menyatukan kembali dua pasang bibir itu. Tapi kali ini Lay tidak terkejut. Dia justru menikmati setiap kali Kris menggigit bibir bawahnya, menghisapnya, yang dia yakin akan menyisakan luka kecil di sana.
Rasa strawberry… rupanya sisa ice cream tadi mempengaruhi rasa manis dari sepasang bibir berwarna cherry itu. Saat itulah Kris ingin waktu terhenti. Ingin waktu tidak berjalan sehingga dia bisa seutuhnya mengklaim pria manis ini sebagai miliknya. Hanya miliknya…
.
.
.
Kris melirik setiap penonton yang ada di arena ini. Mencari sosok yang ditunggunya. Mencari sosok yang telah berjanji padanya. Tapi anehnya, yang dia lihat dari tadi hanyalah seorang mascot aneh yang terus saja meneriakkan namanya. Dia mengamati setiap lekuk wajah yang menyemangati team-nya untuk menang di pertandingan ini selama dia bergerak menuju ring.
Semakin dekat. Dia bisa merasakan detak jantungnya lebih cepat saat mendekati ring. Dengan kecepatan yang dia miliki, dia akan mencetak nilai sempurna. Melewati satu lawan… lalu lawan yang lain. Menghindari serangan, menghindari tangan-tangan yang akan merebut bola itu darinya. Berlari dan semakin berlari ke arah ring dan memasukkan bolanya ke dalam ring.
"YEAAAAHHHH!" seru hampir seluruh penghuni stadion itu. Semuanya berdiri dan bersorak atas kemenangan team favorit mereka.
Kris berlari dan melakukan toast dengan teman satu teamnya. Saling berpelukan dan saling bercanda atas kemenangan mereka. Hingga akhirnya sesuatu yang cukup aneh menarik perhatiannya. Dia melayangkan pandangannya ke arah sebuah atau seorang mascot berkostum boneka naga berwarna pink dengan membawa dua buah bendera bertuliskan, 'KRIS, I LOVE YOU!'
Kris yang merasa terganggu pun mendatanginya, "Heh… sebenarnya siapa kau ini?! Aku tahu aku punya banyak fans, tapi kau itu mengganggu pertandingan kau tahu?" tanyanya ketus.
Mascot di depannya pun terdengar sedang mengerang lalu membuka kepala kostum itu, "Urrghh! Kau ini menyebalkan sekali sih Kris?! Tadi bilang suruh mendukung… malah dimarahi! Dasar bujangan tua jelek!" katanya membuat Kris membulatkan matanya karena melihat siapa sebenarnya mascot di depannya ini.
"L-Lay?!" tanyanya melihat Lay yang berdiri mengenakan kostum besar berbentuk naga berwarna pink sambil mengomel ria. Tangan kanannya memegang kepala kostum itu sementara yang lainnya membawa bendera. Kris tersenyum perlahan.
"Kau itu… dasar! Bukannya berterima kasih! Aku-" perkataan Lay terpotong saat Kris menariknya dalam sebuah pelukan. Kepala Lay menempel dengan sukses di dada bidang Kris sementara Kris membelai pelan helai rambut Lay yang lembut.
"K-Kris?" Lay serasa terkena serangan jantung karena perlakuan mendadak Kris yang langsung memeluknya begitu saja.
"Ssst…" suruh Kris sambil masih memeluk Lay.
"Terima kasih ya…" bisik Kris sangat pelan di sela rambut Lay dan Lay hanya bisa tersenyum menanggapinya.
.
.
.
Keesokannya, Lay berlarian kecil ke tempat di mana dia akan menyatakan sesuatu pada seseorang. Perasaannya begitu menggebu. Seperti genderang mau perang rasanya, kalau saja perasaannya bisa bersuara, mungkin semua orang bisa mendengar detak jantungnya yang menggebu.
Dia berjalan dengan sangat semangat ke tempat yang dia tuju. Dengan membawa sebongkah kue coklat kecil berhias strawberry lucu di atasnya, dia sangat percaya diri untuk mengungkapkan perasaan yang sudha tak tertahan lagi ini. Dia tidak peduli jawabannya apa… yang dia pedulikan… bahwa perasaannya telah tersampaikan.
Kira-kira… bagaimana ya ekspresi Kris saat dia menerima ini? Lalu apa ya yang akan dia katakan? Lay tersenyum sendiri sebelum berhenti di depan ruang olah raga untuk menemui calon tunangannya itu. Dengan hati yang mantap dia membuka pintu besar itu berharap Kris ada di sana dan merasakan perasaan yang sama pula. Sehingga mereka bisa menjadi 'benar-benar' sepasang kekasih… bukan karena tuntutan dari keluarga.
'PLUK!'
Tik.
Tok.
Tik.
Tok.
Tidak ada suara setelah bongkahan kue berbentuk hati itu jatuh ke lantai. Lay membeku di tempatnya saat melihat Kris yang segera melepas ciumannya dengan seorang namja yang benar-benar dia tahu, "Lu-Luhan?" kata Lay terbata karena menahan sesak yang tiba-tiba menghambat laju suaranya dan terhenti di tengah tenggorokannya.
Kris yang melihat itu pun langsung berbicara, "Lay… ini tidak seperti yang kau-" kata Kris dan berusaha menemui Lay tapi tertahan oleh tangan Luhan yang dengan cepat membawa Kris ke pelukannya.
"Kris…" desah Lay dan air mata tak kuasa jatuh begitu saja ke lantai. Dia menggeleng cepat lalu berlari menjauhi tempat itu. Menjauh ke mana pun asal tidak melihat dua orang itu bersama. Apapun yang terjadi…
Kenapa saat perasaan tak terdefinisikan itu muncul… ada perasaan lain yang menghancurkannya…?!
Air matanya tak bisa berhenti…
I love you… you just don't know it yet…
.
.
.
.
*TBC*
Mind to review guys? :D
